MEMAHAMI LITERASI
Direktorat Guru Pendidikan Dasar
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
2024
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN,
RISET, DAN TEKNOLOGI
Pembukaan
Capaian yang Diharapkan
Capaian:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
2
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Pembukaan
Mengapa kita perlu memahami konsep literasi dengan tepat?
Dasar Pemikiran:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
3
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi: Apakah Literasi?
7
7
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
4
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi: Apakah Literasi?
Pernyataan 1. Literasi tidak hanya baca-tulis.
TEPAT
Literasi tidak hanya membaca dan menulis dalam pengertian sempit, yaitu mengeja/membaca dengan fasih dan keterampilan menulis yang mekanistis. Literasi adalah kemampuan dan praktik seseorang dalam memahami, menganalisis, merefleksi informasi dalam teks, membuat koneksi antarinformasi, serta menyajikan gagasan secara terstruktur, analitis, kreatif, dan imajinatif.
Literasi juga mencakup kemampuan memahami pesan dalam tanda-tanda nonlinguistik lainnya, seperti gambar, gestur, bunyi, alam, dll.
9
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
5
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi: Apakah Literasi?
Pernyataan 2. Teks untuk kegiatan membaca/pembelajaran tidak hanya teks tulis.
TEPAT
Saat ini, bahan ajar dan media pembelajaran harus bersifat multimodal, yaitu menggunakan lebih dari satu mode/modalitas (tulis/cetak, visual, aural, audiovisual, gestural, spasial, dll) untuk mengoptimalkan stimulasi, pemahaman, dan kecerdasan majemuk peserta didik.
�
9
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
6
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi: Apakah Literasi?
Pernyataan 3. Program membaca di sekolah bisa menggunakan buku/bacaan apa saja yang tersedia di sekolah.
TIDAK TEPAT
Buku di sekolah perlu dipastikan sesuai dengan kemampuan membaca dan minat peserta didik. Pemilihan buku/bacaan yang ramah cerna dan sesuai kemampuan membaca peserta didik (buku berjenjang) menentukan keberhasilan program membaca. Buku-buku/bacaan yang mengandung inklusivitas, antiperundungan, toleransi, perubahan iklim, literasi kesehatan, dan literasi digital juga perlu digunakan untuk mengembangkan karakter peserta didik. Selain buku teks pelajaran, guru juga dapat menggunakan buku nonteks pelajaran yang sesuai dengan capaian pembelajaran.
��
9
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
7
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi: Apakah Literasi?
Pernyataan 4. Anak yang lancar membaca pasti dapat memahami isi bacaan.
TIDAK TEPAT
Kelancaran membaca berkaitan dengan pemahaman peserta didik akan bentuk, arah, dan bunyi huruf. Sementara itu, pemahaman isi bacaan terkait dengan makna kata dan maksud ujaran (kalimat). Karena kelancaran membaca dan pemahaman isi bacaan adalah dua aspek yang berbeda, peserta didik perlu membangun pemahaman mereka akan makna kata dan ujaran sambil terus melatih kelancaran membaca.
11
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
8
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi: Apakah Literasi?
Pernyataan 5. Kegiatan membaca dilakukan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia saja.
TIDAK TEPAT
Pada dasarnya, teks multimodal digunakan dalam semua mata pelajaran. Oleh karena itu, semua guru mata pelajaran perlu mengetahui berbagai strategi untuk memahami teks dan cara melatihkan strategi tersebut kepada peserta didik agar dapat memahami materi pelajaran.
11
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
9
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi: Apakah Literasi?
Pernyataan 6. Guru tidak perlu melakukan asesmen kemampuan membaca siswa secara berkala.
TIDAK TEPAT
Asesmen kemampuan membaca perlu dilakukan secara berkala untuk mengidentifikasi kesulitan membaca peserta didik. Guru (terutama guru kelas) membutuhkan informasi tentang kemampuan membaca peserta didik untuk menentukan jenis pendampingan yang perlu dilakukan agar efektif dan tepat sasaran.
�
11
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
10
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi: Apakah Literasi?
Pernyataan 7. Guru tidak perlu memodelkan/melatihkan cara/strategi membaca karena peserta didik yang diharapkan lebih aktif dalam pembelajaran.
TIDAK TEPAT
Pemodelan/pengajaran guru dalam kegiatan membaca sangat penting untuk membantu peserta didik menjadi pembaca yang efektif. Dalam pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, tidak berarti bahwa guru langsung dapat memberikan instruksi tanpa pembimbingan. Namun, guru melepaskan tanggung jawab secara bertahap kepada peserta didik, mulai dari guru memodelkan sebuah strategi, guru mengajak peserta didik melakukan sebuah strategi bersama-sama, hingga akhirnya peserta didik dapat mempraktikkan strategi tersebut secara mandiri. Proses ini disebut pelepasan tanggung jawab secara bertahap atau Gradual Release of Responsibility. �
11
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
11
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Penguatan Konsep: Model Pelepasan Tanggung Jawab Secara Bertahap
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
12
”Saya contohkan”
”Kita lakukan
bersama”
”Kamu lakukan bersama”
”Kamu lakukan secara mandiri”
Pemodelan guru
Instruksi Bersama
Praktik
Terbimbing
Praktik
Mandiri
Kolaborasi
Mandiri
Pengajaran
Saya contohkan (Kamu lihat)
Kita lakukan (bersama)
Kamu lakukan (Saya lihat/bimbing)
Kamu lakukan (Mandiri)
Peran Guru
Peran Peserta Didik
Sumber: Fisher, D., & Frey, N. (2008). Homework and the gradual release of responsibility: Making responsibility possible. English Journal, 98(2), 40-45.
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi: Apakah Literasi?
Pernyataan 8. Pembelajaran membaca dilakukan dengan melatih peserta didik menggabungkan bunyi huruf.
TEPAT
Sebelum peserta didik mampu membaca untuk belajar dan memahaminya, mereka harus berada dalam tahap “belajar membaca”, sebuah proses menguasai keterampilan dasar literasi, seperti: kesadaran fonem, pengetahuan fonik, dan kosa kata. Setelah keterampilan dasar ini dimiliki peserta didik, baru kemudian mereka perlu dilatih untuk meningkatkan keterampilan membaca untuk pemahaman. �
11
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
13
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi
Apa saja pemahaman Anda tentang konsep literasi yang telah terkoreksi?
Aktivitas 4. Refleksi Pehaman Diri
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
14
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi
Perubahan Pemahaman Terkait Literasi | |
Pemahaman Lama | Pemahaman Baru |
| |
| |
Setelah pemaparan materi dan diskusi tentang konsep literasi,
adakah pemahaman Ibu dan Bapak yang berubah?
Tuliskan hasil refleksi Bapak dan Ibu pada notes tempel yang telah disediakan.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
15
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Ruang Kolaborasi
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
16
Kami memberikan kesempatan kepada tiga peserta untuk membacakan hasil refleksi yang telah dituliskan di notes tempel.
Adakah yang ingin berbagi cerita?
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Penguatan Konsep
27
LITERASI
Kompetensi peserta didik dalam memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif di masyarakat.
Sumber : Asesmen Nasional
17
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
17
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Penutup
63
Bapak dan Ibu telah memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep literasi yang menjadi salah satu fokus dalam Kurikulum Merdeka.
Kini, Bapak dan Ibu telah siap untuk mengeksplorasi materi Konsep dan Budaya Literasi lebih lanjut, yaitu tentang Teks Multimodal, Penguatan Lingkungan Belajar Kaya Literasi, dan Asesmen yang Menguatkan Kecakapan Literasi Peserta Didik.
SELAMAT BELAJAR!
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
18
Pelatihan Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi dan Numerasi Indonesia
Terima kasih
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi