1 of 28

2 of 28

3 of 28

4 of 28

1957

Sekolah Ahli Diit berubah nama menjadi Akademi Pendidikan Nutrisionis (APN)

dipindahkan ke Bogor dan menjalin hubungan dengan Fakultas pertanian dan Kedokteran Hewan IPB

4 September 1950

Didirikan

Sekolah Ahli Makanan

1952

Sekolah Ahli Makanan berubah nama menjadi Sekolah Ahli Diit

Lama studi 1,5 tahun → 3 tahun

SEJARAH PENDIDIKAN GIZI DI INDONESIA

5 of 28

1968

Departemen IKK menyediakan spesialisasi Gizi dan Makanan

1963

Dibentuk Departemen Ilmu Kesejahteraan Keluarga (IKK) di bawah Faperta UI)

1959

Lulusan APN menyandang gelar BSc

1965

Seluruh akademi di bawah Departemen Kesehatan disatukan di Kampus Pendidikan Tenaga Kesehatan.

APN dipindahkan dari Bogor ke Jakarta.

1973

Dibentuk kurikulum 4 tahun bidang keahlian gizi. Lulusan diberi gelar sarjana pertanian dengan bidang keahlian gizi

1966

Akademi Pendidikan Nutrisionis berubah nama menjadi Akademi Gizi dan lulusannya disebut “Ahli Gizi”

SEJARAH PENDIDIKAN GIZI DI INDONESIA

6 of 28

1981

IKKP berubah menjadi Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK)

1982 - 1986

GMSK IPB membuka program S2, S3, dan D3

1976

IKK berubah nama menjadi Ilmu Kehidupan Keluarga Pertanian (IKKP) dan membina bidang keahlian gizi

2002

Akademi Gizi berubah nama menjadi Jurusan Gizi di bawah Politeknik Kesehatan Jakarta II

1982

Didirikan Akademi Gizi di berbagai daerah

1966 - 1974

Dilakukan kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan di Jakarta

Sekarang

Terdapat 132 Prodi S1 Gizi, dan 4 Prodi Dietisien dari Berbagai Universitas dan Sekolah Tinggi

Sekarang

Terdapat 40 Prodi D3, 19 Prodi Sarjana Terapan Gizi dan 5 Prodi Dietisien dari berbagai Perguruan Tinggi Vokasi

SEJARAH PENDIDIKAN GIZI DI INDONESIA

7 of 28

8 of 28

9 of 28

10 of 28

11 of 28

12 of 28

KOMPETENSI PROFESIONAL YANG HARUS DI MILIKI AHLI GIZI

13 of 28

14 of 28

15 of 28

16 of 28

17 of 28

18 of 28

MASALAH GIZI DI INDONESIA

24.4% balita

Mengalami Stunting**

21.8% usia Dewasa

>18 Tahun Obesitas*

7.1% balita mengalami wasting**

48,9% ibu hamil mengalami Anemia*

17% balita mengalami Underweight**

Sumber : *Riskesdas 2018, **SSGI 2021

32% remaja usia 15-24 tahun mengalami Anemia Gizi*

19 of 28

MASALAH LAINYA

Perkembangan teknologi dan arus informasi

Upaya perbaikan gizi tidak bisa hanya mengandalkan cara konvensional

Penduduk Indonesia menggunakan Internet (Kemenkominfo, 2017)

Indonesia negara pengguna smartphone

Terbesar ke-4 setelah Cina, India, dan Amerika

(Kemenkominfo 2018).

51.5%

Digitalisasi perlu dikembangkan

20 of 28

21 of 28

22 of 28

Gizi di sekolah mulai tingkat TK-SMA

Gizi seimbang (isi piringku dan piring T untuk obesitas) , kantin sehat, aktivitas fisik

Remaja putri di SMP-SMA

Anemia dan konsumsi TTD

Pondok pesantren / boarding school

Gizi Seimbang (isi piringku dan piring T untuk obesitas) , siklus menu, aktivitas fisik, konsumsi TTD (remaja putri)

PENYULUHAN GIZI

23 of 28

Calon Pengantin

1000 HPK, Anemia, konsumsi TTD, KEK, Gizi Persiapan Kehamilan

Keluarga

1000 HPK, Anemia dan konsumsi TTD pada ibu hamil, KEK pada ibu hamil, ASI Eksklusif, MP ASI, Suplementasi (vitamin A, taburia, obat cacing), imunisasi dasar lengkap, pemantauan pertumbuhan, tata laksana gizi buruk, pemberian PMT balita dan ibu hamil, Gizi seimbang (isi piringku dan piring T untuk obesitas), PHBS

PENYULUHAN GIZI

24 of 28

Melakukan Pelatihan dan

Penyegaran kader, PKK

1000 HPK, ASI Eksklusif, MP ASI, Gizi Seimbang, Gizi Bumil, Gizi Busui, Gizi Lansia, Pengukuran Antropometri, Pengisian buku KMS, Pencatatan SKDN, Gizi lansia, PHBS

Pekerja

Umum : Gizi seimbang (isi piringku dan piring T untuk obesitas) dan aktivitas fisik

Wanita: 1000 HPK, Anemia, konsumsi TTD, KEK, ASI Eksklusif

PENYULUHAN GIZI

25 of 28

Target

Intervensi Spesifik

58%

Remaja putri mengonsumsi Tablet Tambah darah (TTD)

90%

Ibu Hamil Kurang Energi Kronik (KEK) mendapat tambahan asupan gizi

80%

Ibu hamil mengonsumsi minimal 90 tablet TTD selama kehamilan

80%

Bayi usia < 6 bulan mendapat ASI Eksklusif

80%

Anak usia 6-23 bulan mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)

90%

Balita dipantau pertumbuhan dan perkembangannya

90%

balita gizi kurang mendapat tambahan asupan gizi

90%

Balita gizi buruk mendapat pelayanan tata laksana gizi buruk

90%

Balita memperoleh imunisasi dasar lengkap

Peraturan Presiden No 72 Tahun 2021

TARGET INTERVENSI SPESIFIK PADA TAHUN 2024

26 of 28

27 of 28

28 of 28