PERTN...
MIND SKILL DALAM KONSELING
PERTEMUAN III
Deskripsi MK
Dalam pelaksanaan konseling, konselor dituntut untuk memiliki keterampilan yang profesional terutama dalam melakukan layanan konseling. Salah satu kompetensi yang harus dibentuk agar konselor dapat menjalankan konseling dengan professional adalah kompetensi mengelola pikiran atau lebih dikenal dengan mind-skills (Jones, 2005).
Proses internal dalam diri konselor ini berkaitan erat dengan proses kesadaran diri terutama dalam mengelola kognitifnya. Proses kognisi ini terjadi ketika konselor melakukan monitoring dan refleksi pikiran pada saat melakukan suatu aktivitas, seperti bagaimana dan kapan akan menggunakan prosedur spesifik untuk memecahkan masalah konseli.
Oleh karena itu, keterampilan berpikir (mindskills) merupakan keterampilan dasar yang perlu dikuasai oleh konselor agar dapat menyelenggarakan layanan konseling profesional.
Urgensi dan Kedudukan Mind-Skill dalam Konseling
Dalam Istilah mind-skills (keterampilan berpikir) terutama dalam proses konseling pertama kali dipelopori oleh Jones (2005). Jones (2005) menjelaskan bahwa mind-skills adalah serangkaian tindakan yang harus dilakukan oleh konselor profesional supaya konseling yang dilakukan dapat berlangsung secara tepat dan efektif. Keterampilan ini dapat berkembang dengan baik jika konselor mampu memanfaatkan potensi-potensi pikiran yang mereka miliki.
Joni (2008) menyebut istilah mind-skills sebagai mind-competence, yang didefinisikan sebagai ketangkasan merespons secara kontekstual, dan bermuara pada problem solving dalam konseling.
Dawson (2008) menjelaskan bahwa secara lebih luas, mind-skills setara dengan istilah keterampilan metakognitif, yaitu keterampilan untuk memikirkan apa yang kita pikirkan (thinking of thinking).
Mengenal Konsep Mind-Skill
Metakognisi sendiri mencakup dua aspek, yaitu aspek pengetahuan metakognitif, dan aktivitas metakognitif (Hamilton & Ghatala, 1994 dalam Mulyadi, Basuki & Rahardjo, 2016).
.
Mengenal Konsep Mind-Skill
Pengetahuan metakognisi melibatkan usaha memonitoring dan refleksi pikiran seseorang. Ini termasuk pengetahuan faktual seperti pengetahuan tentang tugas, tujuan atau diri sendiri dan pengetahuan tentang bagaimana dan kapan akan menggunakan prosedur khusus untuk memecahkan masalah.
Aktivitas metakognitif terjadi saat individu secara sadar mengelola strategi pemikiran pada saat memecahkan masalah untuk mencapai tujuan (Santrock, 2007).
Metakognisi meliputi tiga ragam pengetahuan, yaitu:
Mengenal Konsep Mind-Skill
Pengetahuan Deklaratif
Pengetahuan Prosedural
Pengetahuan Kondisional
Tiga jenis keterampilan yang penting dalam metakognisi, yakni:
Mengenal Konsep Mind-Skill
Perencanaan
Monitor
Evaluasi
Jones (2003, 2005) menjelaskan bahwa mind-skills memiliki enam komponen. Enam komponen mind-skills yang dimaksud, yaitu:
Memahami Konsep Mind-Skills
Komponen Mind Skills
Peraturan
Persepsi
Wicara diri
Citra visual
Penjelasan
Pengharapan
Berikut ini akan diuraikan secara lebih mendalam upaya untuk melatih keenam komponen mind-skills.
Mengembangkan Mind-Skills yang Membantu
Peraturan yang Tidak Membantu |
Saya harus memberikan layanan konseling yang terbaik, tidak boleh melakukan kesalahan dan mampu menemukan solusi terbaik atas masalah yang dialami konseli. |
Peraturan yang Membantu |
Saya akan melakukan yang terbaik dalam setiap konseling yang saya berikan. Namun demikian, akan sangat dimungkinkan saya mengalami kesulitan dan menemui hambatan. Sebaiknya saya terus berupaya untuk mengembangkan kompetensi sehingga saya mampu melaksanakan konseling secara optimal. |
2. Menciptakan Persepsi yang Membantu
Mengembangkan Mind-Skills yang Membantu
Persepsi yang Tidak Membantu |
Saya adalah konselor bodoh yang tidak dapat memberikan layanan konseling dengan baik dan profesional. |
Persepsi yang Membantu |
Sepertinya saya adalah konselor buruk. Buktinya, konseli yang saya bantu melalui layanan konseling tidak dapat menyelesaikan masalahnya dengan tuntas. Namun demikian, saya rasa kejadian semacam ini merupakan suatu kewajaran bagi konselor pemula seperti saya. Jika saya berusaha lebih keras, besar harapannya saya dapat memperbaiki pada layanan selanjutnya. Sepertinya tidak benar bahwa saya adalah konselor yang bodoh. Mungkin apa yang saya alami juga dialami oleh konselor pemula yang lain, hanya saja saya kurang menyadarinya. Untuk saat ini mungkin saya belum bisa menjadi sebaik yang saya inginkan, tapi setidaknya saya sudah berusaha dan akan terus berusaha menjadi lebih baik lagi. |
3. Menciptakan Wicara Diri yang Membantu,
Mengembangkan Mind-Skills yang Membantu
Persepsi yang Tidak Membantu |
Self-talk Negatif “saya tidak yakin dapat membantu konseli saya” |
Persepsi yang Membantu |
Self-talk Positif “Stop! Fokus! Coba dengarkan apa yang Galih ceritakan, supaya jelas duduk permasalahannya” |
4. Menciptakan Citra Visual yang Membantu
Mengembangkan Mind-Skills yang Membantu
Persepsi yang Tidak Membantu |
Dahlia adalah seorang konselor pemula di sekolah, hari ini dia akan memberikan layanan konseling untuk pertama kalinya. Sebelum proses konseling dimulai, Dahlia membayangkan situasi ketika proses konseling sudah berlangsung. Dalam bayangannya, Dahlia melihat dirinya gugup dan terbata-bata dalam merespons konseli. Konseli tampak menangis tetapi Dahlia bingung dan tidak melakukan apa-apa. |
Citra Visual yang Membantu |
Baiklah Dahlia... pertama, tenangkan diri terlebih dahulu, ambil napas yang dalam. Apa yang dibayangkan tadi belum tentu benar. Coba dibayangkan bahwa nanti proses konseling berjalan dengan lancar, Dahlia dapat memberikan respons secara tepat dan konseli terdorong untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Sebaiknya, saat ini saya lebih mempersiapkan diri baik itu secara fisik dan psikis. Saya yakin dapat melakukan yang terbaik dalam konseling ini. |
5. Menciptakan Penjelasan yang Membantu
Mengembangkan Mind-Skills yang Membantu
Persepsi yang Tidak Membantu |
Delon, seorang konselor berpikir bahwa kurang efektifnya layanan konseling yang diberikan akibat konseli yang sulit diajak bekerja sama dan kurangnya dukungan fasilitas dari sekolah. |
Persepsi yang Membantu |
Konseling yang saya (Delon) berikan hampir selalu kurang optimal karena saya memang kurang bersungguh-sungguh. Saya terlalu terburu-buru dalam menyimpulkan dan ingin agar proses konselinng segera selesai. Jika demikian, akan lebih baik jika saya berusaha lebih giat lagi, sehingga pada kesempatan selanjutnya saya dapat memberikan yang terbaik |
6. Menciptakan Pengharapan yang Membantu
Mengembangkan Mind-Skills yang Membantu
Persepsi yang Tidak Membantu |
Hari ini Alvin akan melakukan layanan konseling untuk pertama kalinya sebagai seorang konselor sekolah yang baru menyelesaikan pendidikannya. Alvin berharap, konseling yang dilakukannya dapat selesai dalam satu kali pertemuan, semuanya lancar tanpa ada cacat, dan konselinya merasa terbantu, sehingga puas setelah melakukan konseling dengan Alvin |
Persepsi yang Membantu |
Saya (Alvin) harap, saya dapat menjadi konselor yang baik dalam praktik konseling kali ini. Namun, tidak menutup kemungkinan saya akan melakukan kesalahan, misalnya dalam penerapan teknik dasar konseling. Saya akan memperbaikinya seiring perjalannya waktu. Dengan demikian, saya akan terus melatih dan mengembangkan kompetensi dan keterampilan dalam menyelenggarakan konseling profesional |
PERTN...