1 of 31

GEDSI ( gender equality, disability and social inclusion )

2 of 31

Tujuan :

  • Peserta memahami apa itu GEDSI
  • Peserta memahami konsep kesetaraan gender(perbedaan gender dan jenis kelamin, stereotype gender, bias gender)
  • Peserta memahami konsep disabilitas

3 of 31

Apa GEDSI?

Apa yang Anda pahami tentang kata GEDSI saat ini? Silakan bebas berpendapat!

  • GEDSI : Kerangka kerja atau pendekatan yang mengintegrasikan dimensi penting dalam mempromosikan inklusi dan keadilan sosial, yaitu kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial.

  • Kesetaraan Gender: Ini adalah kondisi di mana semua gender menikmati hak yang sama, peluang, dan akses terhadap sumber daya memungkinkan setiap orang mencapai potensi penuh mereka.
  • Inklusi Disabilitas: menekankan pada memastikan peluang yang sama untuk semua, tanpa memandang kemampuan fisik atau mental, sehingga memungkinkan setiap orang untuk berpartisipasi dalam semua aspek kehidupan sebaik mungkin sesuai kemampuan dan keinginan mereka.
  • Inklusi Sosial: Ini menekankan pada upaya menangani ketidaksetaraan dan eksklusi di mayarakat, terutama di kalangan kelompok rentan. Mengatasi ketidaksetaraan ini perlu ada perbaikan syarat partisipasi ( sehingga tidak lagi berdasarkan kriteria tertentu, apalagi kriteria yang menghalangi kelompok tertentu untuk terlibat) dalam masyarakat, memperluas akses ke peluang dan sumber daya, dan mempromosikan penghargaan terhadap hak asasi manusia. Tujuannya adalah untuk memberdayakan individu dan membudayakan masyarakat dan institusi yang damai dan inklusif.

4 of 31

GENDER��disclaimer : �1. Dalam sesi ini akan ada Bahasa yang mungkin tidak berkenan. Hanya untuk kepentingan training ini. �2. Training ini juga tidak masuk ke ranah privat, tidak bermaksud untuk mempengaruhi atau memperkenalkan ideology yang mungkin bertentangan dengan nilai (value) masing-masing orang. Hanya untuk kepentingan pengetahuan tentang hak asasi manusia

5 of 31

GENDER

APA ITU GENDER

1

GENDER VS JENIS KELAMIN

2

BEBERAPA HAL DALAM GENDER

3

KETIDAKADILAN GENDER

4

6 of 31

Perhatikan kata-kata di bawah ini.

Mentrusasi

Melahirkan

Memasak

Menjahit

Hamil

Sperma

Rahim

Jakun

Berwibawa

Pemalu

Penakut

Kuat

Pemimpin

Energik

Lembut

Perasa

Sensitif

Bekerja

Mencuci

Menyapu rumah

Boneka

Pink

Kumis

Rambut panjang

Penis

Vagina

Testoteron

Progesteron

Kromosom XX

Kromosom XY

Bunga

Tanaman

7 of 31

Laki-laki

Perempuan

Dalam kelompok, tempelkan kartu kata yang Anda miliki dalam diagram ini menurut pengetahuan Anda

Jelaskan mengapa Anda menempelkan kartu di kolom tersebut

8 of 31

Kodrat/biologis

Non kodrat ( bisa berubah seusai dengan budaya,

konteks masyarakat, pembagian tugas, dsb)

Diskusikan dalam kelompok, mana yang bisa berubah dan mana yang tidak bisa berubah

( kodrat/biologis dan non kodrat/konstruksi social )

Dari kegiatan ini,

diskusikan apa perbedaan gender dan jenis kelamin!

9 of 31

Non kodrat

Kodrat/biologis

Jelaskan mengapa Anda menempelkan kartu di kolom tersebut, diskusikan kembali apa yang dipahami

tentang perbedaan gender dan jenis kelamin!

10 of 31

Gender ��Perbedaan sifat, peran, fungsi, dan status antara perempuan dan laki-laki, bukan berdasarkan perbedaan biologis tetapi berdasarkan relasi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman

11 of 31

GENDER TIDAK SAMA DENGAN JENIS KELAMIN

11

JENIS KELAMIN

Tidak dapat dipertukarkan (kodrat)

Laki-laki

(ciri dan fungsi)

Perempuan

(ciri dan fungsi)

  • Penis
  • Jakun
  • Sperma
  • Membuahi
  • Vagina
  • Sel telur
  • Menyusui
  • Melahirkan

GENDER

Dapat dipertukarkan dan bentukan manusia

Laki-laki

(citra, jati diri, peran)

Perempuan

(citra, jati diri, peran)

  • Kuat
  • Rasional
  • Tampan
  • Kasar
  • Maskulin
  • Public
  • Lemah
  • Emosional
  • Cantik
  • Halus/lembut
  • Feminine
  • Domestic

12 of 31

PERBEDAAN SEKS DAN GENDER

SEKS

GENDER

Jenis kelamin biologis

Jenis kelamin sosial

Seks adalah alami

Gender bersifat sosial budaya dan merupakan buatan manusia

Laki-laki dan perempuan

Maskulin dan feminin

Bersifat biologis. Mengacu pada perbedaan yang kelihatan dalam alat kelamin dan perbedaan yang terkait dengan fungsi prokreasi

Gender bersifat sosial budaya. Mengacu pada kualitas feminin dan maskulin, pola, perilaku, peran, tanggung jawab dan lainnya

Bersifat tetap dan universal di semua tempat

Gender adalah variabel. Dapat berubah dari waktu ke waktu, dari satu budaya ke budaya yang lain. Setiap tempat bisa berbeda.

13 of 31

GENDER

Terminologi gender asal mulanya digunakan oleh para psikolog untuk menjelaskan konsep trans-seksual sampai tahun 1960an. Untuk menjelaskan hasil asesmen psikologi saat klien mengatakan bahwa dirinya terjebak di dalam tubuh yang keliru, pada tahun 1968 seorang psikolog bernama Robert Stoller menggunakan terminology “sex” dan “gender’ untuk membuat kliennya memahami bahwa tubuhnya tercipta sebagai hal biologis, sedangkan perasaannya merupakan tingkatan kefemininan dan kemaskulinan yang ada dalam dirinya.

Pembedaan ini kemudian digunakan oleh gerakan feminist.

14 of 31

Beberapa hal tentang gender

  • Isu gender: kondisi yang menunjukkan kesenjangan laki-laki dan perempuan
  • Gender responsive: perhatian khusus yang konsisten dan system terhadap perbedaan antara perempuan dan laki-laki dlm Masyarakat utk menciptakan kesetaraan dan keadilan gender
  • Gender sensitive: kemampuan memahami ketimpangan gender terutama dlm pembagian peran dan pengambilan Keputusan untuk kesetaraan partisipasi
  • Kesetaraan gender: kesetaraan, tanggung jawab, dan kesempatan

14

15 of 31

Stereotype gender dan Bias gender

16 of 31

Permainan Stereotype Gender

 

Laki –laki

Perempuan

Ekpresi

Maskulin, Feminin

 

 

Peran

Reproduksi, Produksi, dan Kemasyarakatan

 

 

Sifat/Kepribadian

a.l. ekstrovert, introvert

Posisi /status

Ranah Publik dan Ranah Domestik

 

 

Game 2: dalam 2 kelompok dikusikan hal berikut ini!

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan Anda, isilah kolom Laki-laki dan perempuan di bawah ini. Apa saja yang menjadi pandangan umum masyarakat tentang “ekspresi”, “peran”, sifat atau kepribadian, dan “posisi atau status” laki –laki dan perempuan

17 of 31

Pak Harun sedang dalam perjalanan mengantarkan Musa mendaftar di pendidikan Kopasus. Musa ingin menjadi anggota Kopasus. Sesampai di lokasi, telpon Musa berbunyi. Ketika melihat nama penelponnya, Musa menoleh kepada ayahnya meminta persetujuaan untuk menjawabnya. Sang ayah mengatakan, “angkatlah!”

Penelpon itu adalah Komandan Kopasus, yang terkenal tegas dan gagah berani dalam setiap pertempuran. Dia berhasil menyelesaikan misi perangnya di Afganistan. Komandan itu berpesan pada Musa, “ Musa, anakku tersayang, semangat, ya, Nak! Kamu pasti bisa!” Musa menoleh kepada ayahnya lagi sambil tersenyum.

Jika saya bertanya, apa hubungan Komandan Kopasus itu dengan Musa? Apa jawaban Anda?

Bias Gender yang Tersamar (Teka-Teki)

18 of 31

Refleksi :

  • Komandan kopassus adalah ibu Musa!
  • Apa pendapat Anda tentang cerita tersebut?

19 of 31

Stereotype dan Bias Gender

  • Stereotip gender : gambaran umum atau persepsi yang tidak akurat dan tidak tepat tentang karakteristik, peran, atau perilaku yang diasosiasikan dengan jenis kelamin tertentu. Stereotip gender dapat mempengaruhi cara kita memandang dan berinteraksi dengan individu berdasarkan jenis kelamin mereka. Contohnya laki-laki itu selalu kuat, tidak bisa menangis dan tidak bisa mengurus anak
  • Bias gender : Dari stereotype gender, kemudian ada kecenderungan untuk mendasarkan penilaian, sikap, atau perlakuan terhadap seseorang atau sekelompok orang berdasarkan jenis kelamin mereka. Bias gender dapat menyebabkan diskriminasi langsung atau tidak langsung terhadap individu atau kelompok berdasarkan jenis kelamin mereka. Perempuan tidak diterima dalam pekerjaan konstruksi karena dianggap tidak memiliki kekuatan dan teknik unbtuk melakukan pekerjaan konstruksi.

20 of 31

ISU KETIDAKADILAN�

SUBORDINASI

BEBAN GANDA

TERJADI KETIKA ADA KESENJANGAN DALAM HAL AKSES, PARTISIPASI, KONTROL DAN MANFAAT PEMBANGUNAN KARENA ADA PEMBAKUAN NILAI DAN KONSEP GENDER

21 of 31

Kekerasan

diskriminasi

Stereotyping/pelabelan

22 of 31

STUDI KASUS

BUDAYA YANG MENGUATKAN STEREOTIP GENDER

(Tebak Gambar)

Stereotip apa?

Dampaknya apa?

Apa yang bisa diubah?

23 of 31

24 of 31

25 of 31

PROSES KONSEP DIRI MENEMUKAN IDENTITAS GENDER

9 BULAN

KELAS 3 SD

KELAS 2 SMA

LANSIA

Nama : Tidak Tahu

Jenis Kelamin : Tidak Tahu

Nama : Dedi Yuliardi Ahadi

Jenis Kelamin : Laki-laki

Nama : Dorce Ashadi

Jenis Kelamin : Laki-laki

Nama : Dorce Gamalama

Jenis Kelamin : Perempuan

Gender : Tidak Tahu

Gender : Laki-laki

Gender : Transgender Perempuan

Gender : transgender perempuan (medis-transeksual)

Ekpresi Gender : Tidak Tahu

Orientasi Seksual : Tidak Tahu

Ekpresi Gender : rambut pendek, anggota musik Bambang Brothers

Orientasi Seksual : Tidak Tahu

Ekpresi Gender : Pelawak yang berdandan perempuan

Orientasi Seksual : Tertarik pada Laki-laki (Homosexsual)

Ekpresi Gender : Baju kurung, berkerudung, keibuan, highheel

Orientasi Seksual : Tertarik pada Laki-laki (Homosexsual)

26 of 31

GENDER EQUALITY�terjadi ketika semua jenis identitas gender mendapatkan pemenuhan atas hak asasinya

27 of 31

Studi Kasus �Ketidakadilan Gender �(Fatima, Mayora, Aprilia)��Ketidakadilan apa?�Dampaknya apa?�Apa yang bisa diubah?�

28 of 31

Kampong Ayun berada di kecamatan Seulimum Aceh Besar. Tidak ada sekolah, puskesmas pembantu ataupun fasilitas lainnya. Satu-satunya SD terdekat, membutuhkan waktu sekitar 45 menit dengan berjalan kaki di jalanan berlobang.

Di kampung tersebut ada satu keluarga petani miskin dengan 5 anak. Fatimah, putri sulung yang berusia 15 tahun tidak melanjutkan sekolahnya setelah tamat SD. Jarak sekolah yang terlalu jauh membuat orang tuanya mengkhawatirkan keselamatannya. Alasannya lainnya orang tua Fatimah tidak punya uang untuk menyekolahkan anak-anaknya, sehingga mereka memutuskan Ma’e adik laki-laki Fatimah yang mendapatkan prioritas untuk melanjutkan sekolah.

Untuk meringankan beban keluarga, anak-anak perempuan di kampung Ayun dinikahkan jika sudah berusia 15 tahun. Fatimah dilamar oleh Teungku Faisal (40 tahun), pimpinan dayah kampung yang memiliki 4 anak. Fatimah menolak lamaran tersebut dan melarikan diri ke rumah bibinya. Dalam perjalanan, ditengah-tengah perbukitan dan belukar, Fatimah bertemu sepasukan TNI yang sedang berpatroli mencari GAM. Mereka menahannya dengan tuduhan Inong Bale. Menjelang Posko, dia diperkosa oleh 3 anggota pasukan secara bergilir dan kemudian dilepaskan. Dengan terseok-seok ia sampai ke rumah bibinya. Setelah peristiwa itu bila melihat laki-laki berbaju loreng Fatima pingsan. Orangtuanya menganggap pemerkosaan itu sebagai “hukuman” karena tidak mau menuruti perintah orang tua. Andaikan patuh, tentu sekarang dia sudah bahagia dengan menjadi istri Teungku dan dihormati warga kampungnya.

Beberapa bulan kemudian, Fatimah hamil. Keluarganya menyembunyikannya karena malu dianggap tidak mampu menjaga dan mendidik anak perempuan. Ia tidak pernah keluar rumah memeriksakan kehamilannya. Saat kehamilan berusia 9 bulan, Fatima mengalami kesulitan melahirkan. Orangtua Fatimah tidak punya uang untuk membawanya ke Puskesmas. Mereka juga khawatir peristiwa ini akan diketahui masyarakat dan merusak nama baik keluarga. Fatimah mengalami pendarahan hebat dan akhirnya meninggal bersama bayinya.

29 of 31

Hendrika Mayora Victoria, atau akrab disapa Bunda Mayora, terpilih menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Ia disebut-sebut sebagai transpuan pertama yang menjadi pejabat publik di Indonesia. “Mungkin orang melihatnya ‘wah, keren!’, tapi tidak melihat sulitnya perjuangan yang saya lewati, perjuangan untuk jujur pada diri sendiri, pada keluarga, pada masyarakat, dan pada agama,” ujar Bunda Mayora.

Bunda Mayora menceritakan kesulitannya memerdekakan diri sendiri, atau bersikap jujur pada diri sendiri, yang menurutnya “jauh lebih sulit dibanding berjuang keluar dari kemiskinan atau dari pekerjaan yang dinilai orang hina seperti nyebong (pekerja seks transpuan).” Dia juga gigih menunjukkan jati dirinya, misalnya dengan datang ke gereja dengan berdandan layaknya seorang perempuan. Meski berkali-kali ditolak masuk ke gereja, Bunda Mayora bergeming.

Pengakuan Bunda Mayora sebagai transpuan membawanya ke kehidupan jalanan yang penuh kekerasan. Untuk bertahan hidup, Bunda Mayora sempat mengamen dan ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat mengamen, dirundung, dan dipukuli menjadi bagian kehidupannya.

30 of 31

Refleksi :

  • Apa refleksi Anda saat ini berkaitan dengan peran laki-laki perempuan dalam kehidupan sosial masyarakat?
  • Apakah masih menemukan ketidakadian dan ketidaksetaraan gender di masyarakat?

31 of 31

Terima Kasih