MEDIA MENGAJAR
SEJARAH INDONESIA
Kelas X
Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia
BAB❸
Terbentuknya Jalur Perdagangan dan Budaya Maritim Nusantara
Ⓐ
4
1
Pengertian dan Budaya Maritim
Lautan di sekitar dan di antara pulau-pulau Indonesia tidak pernah menjadi penghalang, bahkan menjadi faktor pemersatu.
Relief di dinding Candi Borobudur yang menggambarkan bentuk kapal yang berbeda, yaitu relief perahu lesung, kapal besar bercadik, dan kapal besar tanpa cadik memperkuat pembuktian tentang kita sebagai bangsa bahari.
Hal ini membuktikan bahwa masyarakat kuno memang telah memiliki kemampuan membuat kapal.
2
Peran Selat Malaka dalam Jaringan Perdagangan Kerajaan Hindu-Buddha Nusantara
Masuknya Agama dan Kebudayaan Hindu dan
Buddha di Indonesia
Ⓑ
Teori Waisya
Salah satu pendukung teori ini adalah N. J. Krom.
Didasarkan pada alasan bahwa motivasi terbesar datangnya bangsa India ke Indonesia adalah untuk berdagang.
Mereka bermukim di Indonesia, bahkan menikah dengan orang Indonesia.
Teori Ksatria
Salah satu pendukung teori ini adalah F.D.K Bosch.
Pada masa lampau, di India, sering terjadi perang antargolongan.
Para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang lantas meninggalkan India.
Rupanya, di antara mereka, ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia.
Teori Brahmana
Salah satu pendukung teori ini adalah J.C. van Leur.
Para brahmana datang dari India ke Indonesia atas undangan pemimpin suku dalam rangka melegitimasi kekuasaan mereka.
Hanya golongan brahmana yang mengerti dan menguasainya kitab suci Weda.
Teori Arus Balik
Salah satu pendukung teori ini adalah G. Coedes.
Berkembangnya pengaruh dan kebudayaan India ini dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri.
Bangsa Indonesia mempunyai kepentingan untuk datang dan berkunjung ke India, seperti mempelajari agama Hindu dan Buddha.
Masuknya Agama dan Kebudayaan Buddha
Agama dan kebudayaan Buddha diperkirakan mulai dikenal di Indonesia sekitar abad V.
I Tsing melihat bahwa ajaran Buddha diterima luas oleh rakyat.
Sriwijaya pusat penting pembelajaran ajaran Buddha.
Kerajaan-Kerajaan Hindu dan Buddha di Indonesia
Ⓒ
Kerajaan Salakanagara
Sebenarnya, hingga saat ini, keberadaan mengenai kerajaan ini memang masih menjadi perdebatan para ahli
Dalam naskah Wangsakerta, disebutkan seseorang yang bernama Dewawarman.
Pada 132 M, Raja Dewawarman diberitakan telah membangun kompleks
candi Buddha di Batujaya yang berlanggam Hindu.
Kerajaan Salakanagara mengalami keruntuhan pada 362 M yang diperkirakan sebagai akibat serangan dari Kerajaan Tarumanegara.
Kerajaan Kutai
Kutai (Kutai Martadipura) merupakan salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Berdiri sekitar abad V, kerajaan ini berlokasi di daerah Kutai, Kalimantan Timur.
Perkiraan Letak Kerajaan Kutai
Bukti arkeologis keberadaan kerajaan ini adalah temuan prasasti yang ditulis di atas tujuh buah yupa (tugu batu).
Pusat pemerintahannya diperkirakan di hulu Sungai Mahakam.
Kerajaan Kutai
Nama–nama rajanya adalah Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman.
Raja Mulawarman melakukan upacara pengurbanan dan memberikan hadiah atau sedekah kepada para brahmana sejumlah 20.000 ekor sapi.
Kerajaan Kutai (bercorak Hindu) runtuh setelah diserang Kutai Kartanegara (kerajaan Islam).
Salah satu yupa peninggalan Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai
Kerajaan Tarumanagara diperkirakan berdiri sekitar abad IV dan V M.
Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh Jawa Barat, yaitu membentang dari Banten, Jakarta, Bogor, hingga Cirebon.
Kerajaan Tarumanagara
Nama-nama rajanya, antara lain Purnawarman dan Sri Maharaja Linggawarman (666–669 M).
Cap telapak kaki yang melambangkan Raja Purnawarman sebagai Dewa Wisnu (dewa pemelihara alam semesta), Kerajaan Tarumanagara telah menerapkan konsep dewa raja: raja yang memerintah disamakan dengan Dewa Wisnu.
Prasasti Ciaruteun
Gambar tapak kaki gajah, yang disamakan dengan gajah Airawata, atau gajah kendaraan Dewa Wisnu.
Prasasti Kebon Kopi
Prasasti Tugu menyebutkan tentang pembangunan saluran air yang panjangnya 6.112 tombak (setara dengan 11 km) yang diberi nama Gomati.
Prasasti Tugu
Kerajaan Sunda atau Pajajaran eksis dari abad VII–XVI.
Wilayah kekuasaannya meliputi Provinsi Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah sekarang.
Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Nama-nama rajanya antara lain:
Kerajaan Sunda bercorak Hindu dan Buddha.
Memiliki dua kawasan pelabuhan utama di Sunda Kalapa dan Banten.
Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 669 M.
Tarusbawa merupakan menantu dari Sri Maharaja Linggawarman.
Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Kedua kerajaan ini kemudian dipersatukan oleh Sanjaya.
Kerajaan ini kemudian menjadi Kerajaan Sunda.
Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Prasasti Sang Hyang Tapak
Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Pada tahun 1579, Maulana Yusuf dari Kerajaan Banten menyerang Kerajaan Sunda yang ketika itu dipimpin Prabu Ratu Dewata (memerintah 1535–1543). Serangan itu menyebabkan runtuhnya Kerajaan Sunda.
Kerajaan Pajajaran (Sunda)
Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Sriwijaya
Dalam Prasasti Kedukan Bukit (berangka tahun 605 Saka atau 688 M), dapat diinterpretasikan bahwa Kerajaan Sriwijaya bukan berpusat di Palembang, melainkan di Muara Takus (Riau).
Pernyataan ini didukung temuan arkeologis berupa stupa di Muara Takus (Kabupaten Kampar, Riau).
Candi Muara Takus
Kerajaan Sriwijaya
Masyarakat Sriwijaya sebagian besar hidup dari perdagangan dan pelayaran (bercorak Maritim).
Pada akhir abad IX, Kerajaan Sriwijaya berhasil menguasai sebagian jalur perdagangan di Asia Tenggara, seperti Selat Sunda, Selat Malaka, Selat Karimata, dan Tanah Genting Kra (wilayah Thailand dan Myanmar).
Candi Muara Takus
Kerajaan Sriwijaya
Beberapa Peninggalan Kerajaan Sriwijaya:
Arca Buddha langgam Amarawati
Prasasti
Telaga Batu
Prasasti
Talang Tuo
Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya mengalami kemunduran sekitar abad XII, antara lain disebabkan:
Serangan Kerajaan Medang Kamulan, Jawa Timur, di bawah Raja Dharmawangsa pada 990 M.
Serangan Kerajaan Colamandala dari India pada 1023 M dan 1030 M.
Terdesak oleh Kerajaan Thailand yang mengembangkan kekuasaannya sampai Semenanjung Malaya.
Serangan Majapahit pada 1477 M dan berhasil menaklukkan Sriwijaya.
Kalingga adalah kerajaan bercorak Buddha di Jawa Tengah yang berdiri sekitar abad VII.
I Tsing yang menyebutkan ada kerajaan dengan nama Ho-ling (Kalingga) yang berlokasi di Cho-po (Jawa).
Raja yang terkenalnya adalah Ratu Sima.
Berita Tiongkok hanya menyebutkan kerajaan ini memiliki hasil bumi yang sangat laku diperdagangkan, seperti emas, perak, cula badak, dan gading gajah.
Sepeninggal Sima, Kalingga terbagi dua, yaitu Kalingga utara (dikenal dengan nama Bumi Mataram) di bawah Sanaha (cucu Ratu Sima) dan Kalingga selatan (Bumi Sambara) di bawah Dewasinga.
Kerajaan Kalingga
Kerajaan Mataram (Mataram Kuno atau Mataram Hindu atau Kerajaan Medang periode Jawa Tengah) adalah kelanjutan dari Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah sekitar abad VIII.
Lokasinya berada di pedalaman Jawa Tengah, di sekitar daerah yang banyak dialiri sungai, seperti Sungai Progo, Bogowonto, dan Bengawan Solo.
Nama-nama rajanya di antaranya Sanjaya, Rakai Panangkaran, Dharanindra, Samaragrawira, dan Rakai Pikatan.
Kerajaan Mataram
Berdasarkan Prasasti Canggal (732 M) dan Prasasti Mantyasih, pendiri Dinasti Sanjaya (Hindu) adalah Sanjaya, anak dari Sannaha, cucu Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga dan Sena/Sanna/Bratasenawa, raja ketiga Galuh.
Ada dua dinasti (wangsa) yang berkuasa di Mataram, yaitu Dinasti Syailendra dan Sanjaya.
Pengganti Sanjaya adalah Rakai Panangkaran. Kuat dugaan pada masa pemerintahannya, Dinasti Syailendra (Buddha) dari Kerajaan Sriwijaya menguasai Mataram.
Model kapal Sriwijaya tahun 800-an Masehi yang terdapat pada candi Borobudur.
Model kapal Sriwijaya tahun 800-an Masehi yang terdapat pada candi Borobudur.
Sepeninggal Raja Samaragrawira, terjadi konflik antara Pramodawardhani-Rakai Pikatan dan Balaputradewa.
Mataram kemudian dikuasai Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya). Di bawah pemerintahannya, kekuasaan Mataram meluas sampai meliputi seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Beberapa Peninggalan Kerajaan Mataram:
Berdasarkan salah satu prasasti yang ditemukan di Situs Ratu Boko, Kawasan Situs Ratu Boko merupakan kawasan peninggalan sejarah yang bercorak Hindu dan Buddha yang dibangun sekitar abad VIII–IX M.
Unsur Hindu dapat ditunjukkan di antaranya melalui yoni, tiga miniatur candi, arca Ganesa, dan Durga, sedangkan unsur Buddha terlihat dari adanya temuan arca Buddha, reruntuhan stupa, dan stupika
Kerajaan Medang Kamulan
Kerajaan bercorak Hindu ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram. Pada abad X, kerajaan ini dipindahkan oleh Mpu Sindok ke Jawa Timur.
Menurut para ahli, pemindahan Kerajaan Mataram (Medang) ke Jawa Timur disebabkan terjadinya letusan Gunung Merapi. Faktor lain adalah adanya konflik perebutan takhta di dalam istana.
Ibu kota Kerajaan Medang, yakni Watugaluh, sekarang sebuah desa di dekat Jombang di tepi aliran Sungai Brantas.
Mpu Sindok adalah pendiri dinasti baru bernama Dinasti Isyana. Ia naik takhta pada tahun 929 M
Penguasa Medang setelah Mpu Sindok adalah (berturut-turut), yaitu Sri Isyanatunggawijaya, Sri Makutawangsawardhana, Dharmawangsa (punya saudari bernama Mahendradatta), dan Airlangga.
Airlangga dinobatkan sebagai raja oleh para pendeta pada tahun 1019 M dan membangun pusat kerajaan di Kahuripan, Sidoarjo.
Sejak tahun 1025, Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruhnya. Pada tahun 1037, semua wilayah Kerajaan Medang tunduk kepada Airlangga.
Patung Airlangga yang didewakan berupa Dewa Wisnu mengendarai Garuda.
Selama masa pemerintahannya, karya-karya sastra berkembang, contohnya kitab Arjunawiwaha yang ditulis Mpu Kanwa pada 1035 M.
Airlangga membagi dua kerajaannya kepada dua putranya: Kerajaan Jenggala kepada Mapanji Garasakan.
Airlangga membagi dua kerajaannya kepada dua putranya: Kerajaan Jenggala kepada Mapanji Garasakan dengan ibu kota Kahuripan, dan Kerajaan Panjalu atau Kediri kepada Sri Samarawijaya dengan ibu kota di Daha.
Patung Airlangga yang didewakan berupa Dewa Wisnu mengendarai Garuda.
Kerajaan Kediri adalah kerajaan agraris dengan raja pertama Sri Samarawijaya, yang kemudian digantikan oleh (secara berturut-turut) Sri Jayawarsa dan Bameswara.
Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan pada masa Jayabhaya. Ia berhasil menguasai Jenggala yang membuat Kediri menjadi satu-satunya kerajaan yang berdiri di Jawa Timur pada masa tersebut.
Ia terkenal dengan ramalan-ramalannya yang kemudian dibukukan dengan judul Jangka Jayabhaya.
Kerajaan Kediri
Sesudah Jayabhaya, ada seorang raja yang cukup terkenal, Raja Kameswhara (1182) karena pada masa pemerintahannya karya sastra Jawa berkembang pesat.
Pada 1185, Kameswhara digantikan oleh Kertajaya (Prabu Dandang Gendis). Pada masa pemerintahannya, situasi Kediri penuh ketidakstabilan.
Kertajaya berselisih dengan para brahmana karena ia ingin disembah oleh para pendeta, baik Hindu dan Buddha (kaum brahmana).
Arca Wisnu, berasal dari Kediri, abad ke-12 dan ke-13.
Para pendeta kemudian bersekutu dengan seorang akuwu (bupati) dari Tumapel (bagian dari Kediri) bernama Ken Arok.
Ken Arok mengalahkan Kertajaya dalam pertempuran di Ganter (1222). Meninggalnya Kertajaya dalam pertempuran tersebut menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Isana di Jawa Timur.
Arca Wisnu, berasal dari Kediri, abad ke-12 dan ke-13.
Kerajaan Singasari (bercorak Hindu) didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222.
Kerajaan Singasari
Raja pertama Kerajaan Singasari adalah Ken Arok (memerintah 1222–1227).
Arca Prajnaparamita dipercaya sebagai perwujudan Ken Dedes.
Sebelum berkuasa, ia adalah seorang akuwu di Tumapel, daerah bawahan Kerajaan Kediri. Ia berhasil menjadi akuwu setelah membunuh akuwu sebelumnya, Tunggul Ametung, dengan keris buatan Empu Gandring. Bahkan ia memperistri istri Tunggul Ametung, Ken Dedes.
Ia menjadi raja setelah memenangkan pertempuran melawan Kertajaya (raja Kediri).
Ia membangun Kerajaan Singasari dan dianggap sebagai pendiri dinasti baru, Dinasti Girindra.
Setelah itu, situasi politik pemerintahan Kerajaan Singasari diwarnai konflik perebutan kekuasaan. Hal ini terjadi diperkirakan karena kutukan Empu Gandring.
Pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, ia bercita-cita meluaskan kekuasaannya ke seluruh Nusantara.
Raja terakhir Kerajaan Kediri, Kertanegara bercita-cita meluaskan kekuasaannya ke seluruh Nusantara. Untuk itu, Ia mengeluarkan kebijakan Ekspedisi Pamalayu.
Kertanagara kemudian tewas oleh Jayakatwang. Jayakatwang lalu menjadi raja dan memindahkan pusat kerajaan ke Kediri. Dengan meninggalnya Kertanagara, berakhir pulalah Kerajaan Singasari.
Candi Singhasari dibangun sebagai tempat pemuliaan Kertanegara.
Kerajaan Majapahit
Terdapat pejabat pemerintahan dan pejabat keagamaan.
Wilayah Kerajaan Majapahit terbagi menjadi tiga yaitu:
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, karya sastra mengalami kemajuan pesat.
Gapura Bajang Ratu salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit.
Pada tahun 1365, ditulis kitab Nagarakertagama oleh Mpu Prapanca, Sutasoma dan Arjunawijaya oleh Mpu Tantular.
Frasa “Bhinneka Tunggal Ika” berasal dari masa Majapahit, tepatnya dari kakawin Sutasoma.
Kehidupan masyarakatnya bertani, komoditas utamanya adalah lada dan garam. Pajak dan denda dibayarkan dalam uang tunai.
Arca Harihara perwujudan Kertarajasa
Pada masa pemerintahan Raden Wijaya, sebuah perubahan moneter penting terjadi: keping uang dalam negeri diganti dengan uang "kepeng" yaitu keping uang tembaga impor dari Tiongkok.
Celengan zaman Majapahit, abad 14-15 Masehi
Ukiran sejarah Indonesia di Monumen Nasional, Jakarta. Di sudut timur laut yang menggambarkan kemaharajaan kuno Indonesia, di bagian kanan terdekat adalah Gajah Mada, mahapatih Kerajaan Majapahit.
Kerajaan Bali
Kerajaan Bali merupakan kerajaan bercorak Hindu yang terletak di Tampak Siring dan Pejeng. Kerajaan Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada. Sejak itu, Kerajaan Bali menjadi wilayah kekuasaan Majapahit.
Struktur pemerintahan:
Pura Besakih peninggalan Keraan Bali yang masih ada hingga kini
Kerajaan Bali
Penduduk Kerajaan Bali hidup teratur dengan sistem caturwarna atau kasta. Sistem keluarga Bali mengenal pemberian nama. Mata pencarian penduduknya adalah bertani.
Pura Besakih peninggalan Keraan Bali yang masih ada hingga kini
Bukti-Bukti Pengaruh Hindu dan Buddha dalam Masyarakat yang Masih Ada hingga Kini
Ⓓ
Bukti-Bukti Pengaruh Hindu-Buddha dalam Masyarakat yang Masih Ada hingga Kini
01
Bahasa dan Tulisan
Salah satu yupa dengan inskripsi
Politik dan Sistem Pemerintahan
02
Salah satu pengaruh Hindu di bidang politik muncul konsep dewa-raja. Dari konsep ini, Indonesia mulai mengenal sistem pemerintahan kerajaan.
03
Ekonomi dan Sistem Mata Pencarian
04
Agama dan Sosial Budaya
Dalam kehidupan sosial, pengaruh kebudayaan Hindu yang nyata adalah dikenalnya sistem kasta.
05
Seni Bangunan, Seni Pahat, dan Relief Candi
Perbedaan Candi Jawa Tengah dengan Jawa Timur
Candi Singasari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Candi Plaosan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah
Candi Jawa Tengah:
Candi Jawa Timur:
Jalur Rempah pada Masa Hindu-Buddha
Ⓔ
Terdapat beberapa jejak Jalur Rempah pada empat kerajaan kuno, yaitu Sriwijaya, Mataram Kuno, Singasari, dan Majapahit.
Pada periode kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, Jalur Rempah semakin berkembang pesat.
Apa peran keempat kerajaan tersebut dalam Jalur Rempah?
Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya
Sumber-sumber utama berasal dari prasasti, berita Tiongkok, berita Arab, dan catatan para pendeta Tiongkok, seperti I-Tsing (671 M).
Sriwijaya
Selain dengan wilayah Nusantara, Sriwijaya juga menjalin hubungan dagang dengan India, Tiongkok, Arab, dan Persia.
Lancarnya hubungan dagang dengan India, Arab, dan Tiongkok tidak terlepas dari penguasaan atas Selat Malaka.
Kerajaan Sriwijaya
Sriwijaya
Tanaman kapur barus
Ibn Hordadzbeh (844–848 M) (sumber Arab dan Persia) melukiskan maharaja Sriwijaya menguasai pulau-pulau di lautan timur dengan hasil negeri berupa kapur barus.
Komoditas lain yang dihasilkan dan diperdagangkan oleh Sriwijaya adalah rempah-rempah (cengkih, pala, lada, kapulaga, pinang, kayu manis, kayu gaharu, kayu cendana, kemenyan), besi, timah, perak, dan emas.
Kerajaan Sriwijaya
Kerajaan Mataram Kuno
Mataram
Bukti utama Jalur Rempah pada masa kerajaan ini adalah relief-relief pada Candi Borobudur (770–825 M).
Pada relief Candi Borobudur ditemukan 63 spesies tanaman kuno, yang sebagian di antaranya diyakini sebagai rempah-rempah cengkih, pala, dan cendana.
Ada pula relief Perahu Bercadik membuktikan nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut.
Kerajaan Singasari
Di bawah Kertanagara, kekuasaan Singasari meliputi seluruh Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Melayu, dan Semenanjung Malayu.
Jalur utama perdagangan, mulai dari Selat Malaka hingga Kepulauan Maluku, dikuasai Singasari.
Jejak Jalur Rempah pada era Singasari tampak jelas pada masa pemerintahan Kertanagara (berkuasa 1268–1292).
Singasari menjalin hubungan dagang dengan banyak mitra asing, terutama Tiongkok masa Dinasti Yuan (1271–1368).
Komoditas andalan Singasari adalah beras, emas, dan rempah-rempah.
Tiongkok menawarkan sutra dan porselen.
Kerajaan Singasari
Kerajaan Majapahit
Pada abad XIV, Majapahit menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara, yang berperan penting dalam jalur rempah.
Majapahit berhasil menguasai sumber rempah-rempah di timur Nusantara.
Di sebelah barat, Majapahit berhasil menguasai jalur pelayaran yang strategis seperti Semenanjung Melayu dan Selat Malaka.
Aktivitas perdagangan dengan daerah-daerah kekuasaan dan saudagar-saudagar mancanegara terpusat di Changku dan Bubat.
Kedua pelabuhan utama tersebut didukung banyak pelabuhan lain di kota-kota pesisir yang terhubung ke Jalur Rempah yang sudah terbentuk pada masa-masa sebelumnya: Malaka–Maluku
Kerajaan Majapahit
Sumber gambar:
freepik.com
shutterstock.com
pixabay.com
wikimedia.org