KEPUNAHAN SPESIES
LATAR BELAKANG
FAKTOR PENYEBAB ANCAMAN KEHIDUPAN SPESIES
PENGERTIAN
Ancaman terhadap kepunahan
Konsumsi yang semakin meningkat : Kebutuhan primer, sekunder, tersier dst.
BEBERAPA THEORI PENYEBAB KEPUNAHAN SPESIES
EVIL QUARTET
OVERKILL
INTRODUKSI SPESIES
CONTOH KASUS
Chain of extinction (rantai kepunahan)
PRIMACK (1999)
GASTON ( 1999)
KARAKTER ORGANISME YANG MUDAH PUNAH
Faktor internal
1. Spesies dengan penyebaran geografis yang sempit,
beberapa spesies hanya terdapat pada satu atau sedikit tempat di dalam sebaran geografis yang sempit. Sehingga apabila habitatnya dirusak oleh aktivitas manusia, spesies tersebut akan punah. Beberapa contoh adalah burung yang tinggal di pulau-pulau kecil, atau ikan yang ditemukan hanya di satu tempat.
2. Spesies yang hanya satu atau sedikit populasi.
Banyak spesies yang hanya mempunyai satu atau sedikit populasi di suatu tempat, apabila tempat tersebut rusak oleh bencana alam atau aktivitas manusia, maka spesies tersebut akan punah secara lokal, meskipun secara global masih dapat ditemukan. Contoh burung walet goa (Aerodromus adephagus) di Goa Pasir, Gombong, Kebumen yang mengalami kepunahan lokal karena terjadinya kerusakan habitat goa alam. Julang mas ( Buceros Sp.) di Gunung Slamet
3. Spesies dengan kerapatan populasinya rendah. Suatu populasi dengan jumlah individu per unit area rendah biasanya hanya menyisakan sejumlah kecil individu pada setiap fragmen habitat apabila daerah sebarannya terputus oleh aktivitas manusia . Sehingga pada setiap fragmen habitat akan terjadi populasi kecil yang tidak cukup untuk melanjutkan keberlangsungan populasi.
4. Spesies yang membutuhkan home range yang luas. Suatu organisme, terutama hewan yang secara individual maupun kelompok membutuhkan daerah edar yang luas akan mudah mati apabila bagian dari daerah edarnya rusak atau terfragmnetasi oleh aktivitas manusia.
4. Spesies hewan dengan ukuran tubuh yang besar.
Hewan besar cenderung membutuhkan daerah edar yang luas, makanan lebih banyak, dan sering dianggap sebagai pesaing manusia atau sebagai hama, dan mudah untuk diburu. Sehingga lebih mudah punah oleh aktivitas manusia dibanding hewan kecil.
5. Spesies yang mempunyai kemampuan penyebaran yang tidak efektif.
Di alam, perubahan lingkungan memaksa suatu organisme untuk beradaptasi, baik secara tingkah laku maupun secara fisiologis terhadap kondisi lingkungan atau habitat yang baru. Spesies yang tidak mampu beradaptasi terhadap kondisi lingkungan yang baru harus migrasi ketempat lain yang sesuai atau akan menghadapi resiko kepunahan. Sejumlah besar spesies organisme hutan yang tidak mampu melintasi lahan pertanian, perumahan dan habitat berbeda yang lain yang tercipta oleh aktivitas manusia akan punah apabila habitat aslinya berubah oleh penebangan, pencemaran, serangan spesies asing dan perubahan iklim global.
6. Spesies dengan populasi kecil (lihat paradigma populasi kecil).
Populasi dengan jumlah anggota yang sedikit cenderung lebih mudah punah dibanding dengan populasi dengan jumlah anggota yang banyak. Hal ini berkaitan dengan kepekaan terhadap masalah demografi dan variasi lingkungan serta penurunan variasi sifat genetik.
7. Spesies dengan populasi yang cenderung menurun (lihat paradigma penurunan populasi) .
Populasi yang pertumbuhannya terus menurun akan mengalami Migrasi musiman. Spesies yang melakukan migrasi musiman biasanya membutuhkan dua atau lebih habitat yang berbeda, apabila habitat lain rusak maka spesies tersebut tidak mampu bertahan dan cenderung punah.
8. Spesies dengan variasi genetik yang rendah.
Variasi genetik antar suatu populasi menyebabkan suatu spesies mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Spesies yang tidak memiliki atau variasi genetiknya rendah mempunyai kecenderungan punah yang lebih besar pada saat berhadapan dengan penyakit atau predator baru atau perubahan yang terjadi pada lingkungan.
9. Spesies dengan kebutuhan relung ekologi (niche) yang khusus.
Banyak spesies yang hanya memiliki tipe habitat tunggal yang khusus yang sangat tersebar atau jarang seperti tumbuhan di pegunungan kapur atau goa. Apabila habitat tersebut rusak oleh aktivitas manusia, maka spesies tersebut akan punah. Demikian juga spesies yang mempunyai kebutuhan pakan yang sangat spesifik, seperti suatu spesies tungau (Acari) ektoparasit yang hanya makan bulu satu spesies burung, maka apabila burung tersebut punah, tungau tersebut akan ikut punah (lihat rantai kepunahan )
10. Spesies yang hanya ditemukan pada lingkungan yang sangat stabil. Beberapa spesies teradaptasi dengan baik pada lingkungan yang sangat stabil dimana hampir tidak ada gangguan seperti di hutan hujan tropis tua. Spesies-spesies tersebut mempunyai tingkat pertumbuhan yang sangat lambat, tingkat reproduksi yang rendah dan hanya menghasilkan anakan yang sedikit. Apabila hutan tersebut ditebang, terbakar atau berubah karena aktivitas manusia maka spesies-spesies asli tersebut tidak akan mampu mentolerir perubahan kondisi iklim mikro yang terjadi (meningkatnya intensitas cahaya, menurunnya kelembaban dan tingginya variasi suhu yang terjadi) dan kompetisi dengan spesies pioner dan spesies asing.
11. Spesies yang membentuk kelompok (permanen maupun musiman). Spesies yang dalam hidupnya membentuk kelompok pada tempat tertentu, cenderung akan lebih mudah mengalami kepunahan lokal. Misalnya pada burung Walet Goa ( Aerodromus ...........) yang hidup di goa-goa karang di Kawasan Karst Gombong Selatan yang dipanen sarangnya sebagai komoditas ekonomi yang tinggi. Pemanenan sistem rampasan diduga sebagai penyebab kepunahan lokal di Goa Pasir ( Widhiono, 2006).
12. Spesies yang diburu atau dipanen oleh manusia.
Kebutuhan dasar manusia seringkali menjadi penyebab awal terjadinya kepunahan spesies. Pemanenan berlebih secara cepat menurunkan populasi suatu spesies yang bernilai ekonomi tinggi. Apabila perburuan dan pemanenan sumber daya hayati liar tidak diatur berdasarkan aturan hukum spesies-spesies tersebut akan segera punah. Peraturan tersebut secara international dikenal dengan CITES dan di Indonesia berdasarkan pada Peraturan Pemerintah no 7 DAN 8 TH 1999
Kepunahan Sebagai Ancaman Bagi Keanekaragaman Hayati
Tingkah kepunahan :
Kepunahan massal
Kepunahan sebagai proses alamiah
Mengapa hilangnya spesies menjadi masalah ?
Habitat Orangutan Kian Terjepit
Tata kelola kawasan jadi benteng terakhir
Populasi Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaus pygmaus) khususnya di daerah Wajok Hilir kian terjepit. Kawasan yang seharusnya menjadi “rumah” bagi primata dilindungi itukini terkepung oleh sejumlah perusahaan.
Fakta Orang Utan di Kalbar
Populasi total 20 ribu individu
Subspecies :
Habibat terbesar :
Populasi di Wajok :
8-10 individu
Ancaman terhadap populasi
Terrapin Sungai Selatan
Manfaat kehati :
Berbagai contoh sumberdaya alam hayati
- pestisida
- Fertilizers
- Obat-obatan
Terima Kasih