1 of 59

HUKUM ACARA�PERADILAN AGAMA

BERSUMBER KEPADA POWER POINTS

IBU WISMAR AIN, SH.,MH.

DIBUAT ULANG OLEH

NENG DJUBAEDAH, SH., MH., Ph.D.

RABU, 13 FEBRUARI 2014

2 of 59

KETENTUAN / SYARAT MENGIKUTI PERKULIAHAN

  • Berpakaian sopan dan bersepatu
  • Keterlambatan ditolerir paling lambat 15 menit.
  • Tidak ada ujian susulan bagi yang tidak mengikuti UTS dan UAS tanpa alasan yang sah.
  • Mahasiswa yang mengikuti UTS/UAS karena sakit wajib menyerahkan SURAT KETERANGAN DOKTER yang disahkan oleh PKM UI.
  • Mahasiswa yang tidak menyerahkan PAPER/TGAS pada waktu yang telah ditentukan diberikan NILAI PAPER 0 (NOL)).

3 of 59

KOMPONEN NILAI

  1. Kehadiran : 10 %
  2. Tugas (Paper) : 20
  3. UTS: 30%
  4. UAS: 40%
  5. Mahasiswa aktif di Kelas dapat menambah Nilai.

4 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN

  1. Gambaran Umum, Konsep Dasar Peradilan Agama, Sumber Hukum Peradilan Agama di Indonesia.
  2. Sejarah Peradilan Agama di Indonesia;
  3. Sejarah Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama diubah oleh Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang No. 50 Tahun 2009.

5 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN (Asas-Asas umum dan Khusus)

  1. Asas-asas Umum dan Khusus dalam Peradilan Agama dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama diubah oleh UU No. 3 Tahun 2006 dan UU No. 50 Tahun 2009, terdiri dari:
  2. Asas Personalitas Keislaman dan perkembangannya dalam Undang-Undang Peradilan Agama di Indonesia,
  3. Asas Kebebasan,
  4. Asas Wajib Mendamaikan (Mediasi),
  5. Asas, Sederhana, Cepat dan Biaya Ringan,

6 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN (Asas-Asas umum dan Khusus)

  1. Asas Persidangan Trbuka untuk umum(ps.59)
  2. Asas Legalitas
  3. Asas Ekualiti
  4. Asas Aktif Memebri Bantuan
  5. Khusus pada Kasus Cerai dengan Alasan Zina: Asas In Flagrante Delicto

7 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN (Asas-Asas Umum)

Asas-Asas UmumPeradilan Agama/Mahkamah Syar’iyah:

  1. Asas Bebas Merdeka sebagai Pelaksana Kekuasaan Kehakiman;
  2. Asas Pelaksana Kekuasaan Kehakiman
  3. Asas Ketuhanan (Bismilah, Demi Keadilan Berdasarkan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa)
  4. Asas Fleksibilitas (Speedy Administration of Justice): Asas Sederhana, Cepat, dan Biaya Ringan.
  5. Asas Non-Ekstra Yudisial: Tidak ada campur tangan dari pihak lain di luar Kekuasaan Kehakiman.
  6. Asas Legalitas meliputi: Asas Perlindungan Hukum dan Asas Persamaan hak di hadapan Hukum

8 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN (Asas-Asas Umum)

  1. Asas Legitima Persona Standi in Yudicio: orang yang terkait langsung dalam perkara, dibatasi oleh usia (dewasa menurut peraturan perundang-undangan)
  2. Asas Ultra Pertium Partem: dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak diminta / hakim mengabulkan lebih dari yang dituntut (Pasal 178 ayat (2) (3) HIR jo. Pasal 189 ayat (2) (3) R.Bg.
  3. Asas Audi et Alteram Partem: Hakim wajib menyamakan kedudukan para pihak yang berperkara di hadapan persidangan.
  4. Asas Unus Testis Nulus Testis(dibutuhkan lebih dari satu orang saksi untuk menjelaskan keterangan yang sama)

9 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN (Asas-Asas Umum)

  1. Asas Actor Squitur Forum Rei: Pengadilan berwenang memeriksa perkara di wilayah hukum tempat tinggal Tergugat (Pasal 118 (3) HIR jo. Pasal 142 (5) R.Bg), kecuali undang-undang menentukan lain seperti Pasal 66, Pasal 73 UU No. 7 Tahun 1989.
  2. Asas Actor Squitur Forum Rei Sitai: gugatan diajukan di wilayah tempat benda tidak bergerak itu berada (Pasal 118 (3) HIR jo. Pasal 142 (5) R.Bg).

10 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN

  1. Hukum Acara Peradilan menurut Hukum Islam dan menurut Pasal 54 UU No. 7 Tahun 1989 dan Hukum Acara Khusus dalam UU No. 7 Tahun 1989:
  2. Pasal 66 (Cerai Talak )
  3. Pasal 73 (Cerai Gugat)
  4. Pasal 76 (Syiqaq)
  5. Pasal 87 dan Pasal 88 (Cerai dengan Alasan Zina) juncto Kompilasi hukum Islam

11 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN

  • TERKECUALI DI PROVINSI NAGGGROE ACEH DARUSSALAM ditentukan HUKUM ACARA KHUSUS yang berlaku di Aceh, seperti proses pelaksanaan hukuman cambuk bagi penduduk Aceh yang melakukan KHALWAT.�(ps.I angka 2 sisipan ps.3A UU no.3/2006 dan Penjelasan Umum UU no.3/2006 )

12 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN

  1. Susunan Peradilan Agama dan Aparatnya.
  2. Kompetensi Peradilan Agama: Pasal 66, Pasal 73, Pasal 49, Pasal 50 (Konpetensi Relatif: PN dan/atau PA menurut UU No. 7 Tahun 1989 diubah oleh UU No. 3 Tahun 2006 dan UU No. 50 Tahun 2009).
  3. Proses Administrasi dan Pengajuan Perkara (Permohonan/Gugatan) kepada Peradilan Agama.

13 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN

  1. Perkara Perdata Tertentu (Pasal 2 UU No. 7 Tahun 1989) dalam Pasal 49 terdiri dari:
  2. perkawinan;
  3. Kewarisan (hak optie [dalam penjelasan] bagi ahli waris yang berbeda agama: SEMA No. 2 Tahun 1991), wasiat, dan hbah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam);
  4. Wakaf dan shadaqah.

Pengangkatan Anak masih wewenang PN

  • Perkara Tertentu (Pasal I UU No. 3 Tahun 2006 perubahan atas Pasal 2 UU No. 7 Tahun 1989) Pengangkatan Anak masih wewenang PA

14 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN

Perkara Tertentu (Pasal I UU No. 3 Tahun 2006 perubahan atas Pasal 2 UU No. 7 Tahun 1989) terdiri dari:

  1. perkawinan;
  2. Waris;
  3. Wasiat;
  4. Hibah;
  5. Wakaf;
  6. Zakat;
  7. Infaq;
  8. Shadaqah; dan
  9. Ekonomi syari’ah.

15 of 59

POKOK-POKOK BAHASAN PERKULIAHAN

  1. Pembuktian menurut Hukum Islam dan Praktiknya/Ketentuannya dalam Peradilan Agama.
  2. Produk-Produk Peradilan Agama dan Pelaksanaannya
  3. Upaya Hukum: Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali
  4. Bantuan Hukum dan Yurispridensi Peradilan Agama.

16 of 59

GAMBARAN UMUM PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

  • Peradilan Agama di Indonesia sebelum Kolonial Belanda:
  • Peradilan: fardhu kifayah, jika tidak ada Qadhi atau Penguasa ketika terjadi permasalaha hukum antara orang Islam 🡺ber-tahkim kepada seorang muhakkkam yaitu penyerahan hukum kepada seseorang yang dinilai mengetahui hukum untuk menyelesaikan perkara yang terjadi di antara orang-orang Islam.
  • Dalam kelompok masyarakat yang sudah teratur, jabatan Qadhi/Hakim dilakukan dengan “pemilihan dan bai’at oleh ahlul hilli wal-’aqdi, yaitu “pengangkatan terhadap seseorang yang dipercaya oleh Majelis atau Kumpulan Orang Terkemuka dalam Masyarakat.

17 of 59

GAMBARAN UMUM PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

  • Dalam suatu negara yang berpemerintahan jabatan Qadhi/Hakim dilakukan dengan pemberian “TAULIYAH” yaitu pemberian kekuasaan (kehakiman) oleh Penguasa.
  • Disebut Pengadilan Serambi karena dalam menyelesaikan perkara dilakukan di serambi Mesjid.
  • Di antara Wali Sanga yang terkenal adalah Sunan Kali Jaga pada masa Kerajaan Islam Demak. Ia menjabat sebagai Hakim Agung. Nama “Kali Jaga” berasal dari bahasa Arab “Qadhi Zaka” artinya Penghulu atau Hakim Agama yang Suci.

18 of 59

GAMBARAN UMUM PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

  • Masa Pemerintahan Kolonial Belanda: Teori Receptio in Complexu🡺 dibentuk Raad Agama (S. 1882: 152, 19 Januari 1882) mulai berlaku 1 Agustus 1882 (S. 1882:153):
  • Di samping Landraad (Pengadilan Negeri) diadakan Pengadilan Agama yang mempunyai daerah hukum yang sama.
  • Pengadilan Agama terdiri dari Penghulu/Hakim yang diperbantukan pada Landraad sebagai Ketua, dan paling sedikit 3 orang dan paling banyak 8 orang Ulama Islam sebagai anggota.

19 of 59

GAMBARAN UMUM PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

  1. PA tidak boleh mengambil keputusan jika tidak ada minimal 3 orang anggota, termasuk ketuanya hadir. Dalam keadaan perimbangan suara (dalam memutus perkara), makaKetua yang memutuskan.
  2. Keputusan-keputusan PA harus dinyatakan dalam surat yang memuat pertimbangan-pertimbangan dan alasan secara singkat serta ditanda-tangani oleh anggota-anggota yang hadir, begitu pula dicatat biaya perkara yang dibebankan kepada yang berperkara.

20 of 59

GAMBARAN UMUM PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

  1. Regeeringsreglemen (R.R.) Stbl. 1855:2, Pasal 75 (3): Oleh hakim Indonesia hendaklah diberlakukan undang-undang agama (godsdienstige) dan kebiasaan penduduk Indonesia. Ayat (4): Undang-undang agama, instelling dan kebiasaan itu juga dipakai untuk mereka oleh Hakim Eropa pada Peradilan yang lebih tinggi jika terjadi banding (hoger beroep).

Pasal 78 RR:

Dalam hal terjadi perkara antara sesama orang Indonesia, atau dengan mereka yang dipersamakan dengan mereka, maka mereka tunduk kepada putusan Hakim Agama atau Kepala Masyarakat mereka menurut undang-undang agama atau ketentuan-ketentuan lama mereka”.

21 of 59

GAMBARAN UMUM PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

  1. R.R Stbl. 1907:204 Pasal 75 diubah: memperlunak memberlakukan menjadi mengikuti.
  2. Stbl. 1919:621, Pasal 75 diubah lagi: Diikui diganti dengan memperhatikan.
  3. Stbl. 1925: 415, 416, 417: Regeeringsreglement diubah menjadi Indische Staatsregeling
  4. Pasal 75 masih sama dengan Stb. 1919, tetapi menjadi Pasal 131 I.S.
  5. Pasal 78 menjadi Pasal 134 (2) IS.

22 of 59

GAMBARAN UMUM PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

  • Pasal 134 (2) IS isinya diubah oleh Stbl. 1929:221, bahwa: “Dalam hal terjadi perkara perdata sesama orang Islam akan diselesaikan oleh Hakim Agama apabila Hukum Adat mereka menghendakinya dan sejauh tidak ditentukan lain dengan suatu ordonansi”.
  • 🡺 HUKUM ISLAM tidak berlaku lagi di Indonesia kecuali jika dikehendaki oleh HUKUM ADAT.
  • 🡺 ditolak oleh Snouck Hurgronje melalui Teori Receptie

23 of 59

GAMBARAN UMUM PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

  • Masa setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945:
  • Kekuasaan Kehakiman menurut Pasal 24 UUD 1945; Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4, Pasal 29 ayat (1) UUD 1945 🡺 teori Receptio A Contrario: Hazairin, Sajuti Thalib 🡺 teori Receptio A Contrario Baru (Neng Djubaedah): Pengakuan Anak Luar kawin, Pengesahan Anak Luar Kawin tidak berlaku bagi orang islam.
  • UU No. 14 Tahun 1970 Tentang Pokok-Pkok Kekuasaan Kehakiman (belum dibentuk UU Peradilan Agama:,29 Desember 189: UU No. 7 Tahun 1989 ) 🡺 diubah UU No. 4 Tahun 2004 🡺 diubah oleh UU No. 48 Tahun 2009.

24 of 59

GAMBARAN UMUM PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

  • Pasal 24 UUD Tahun 1945:
  • Kekuasaan Kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakn peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
  • Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan , oleh sebuah Mahkamah Konstitusi (lihat perubahan ketiga UUD 1945 tahun 2001) .
  • Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakian diatur dalam undang-undang.

25 of 59

ALASAN PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG PERADILAN AGAMA

  1. Alasan Filosofis: Pembukaan UUD Tahun 1945 (PANCASILA: SILA KETUHANAN YANG MAHA ESA), Pasal 28I ayat (1) UUD Tahun 1945 (HAK Beragama), Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) UUD Tahun 1945.
  2. Alasan Sosiologis: masyarakat/penduduk Indonesia hampir 90% beragama Islam (lebih kurang 200 juta dari 240 juta penduduk Indonesia) memerlukan kewenangan PA untuk menyelesaikan perkara-perkara yang terjadi pada atau antar-orang yang beragama Islam.
  3. Alasan Psikologis: terkait dengan spiritual keagamaan bagi setiap penduduk yang beragama Islam terkait dengan HAM dalam “hak beragama” yang dijamin oleh Pasal 28I ayat (1) UUD Tahun 1945..
  4. Alasan Yuridis : tertuang dalam Konstitusi UUD Tahun 1945 (Pasal 24) dan Peraturan Perundang-undangan (UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

26 of 59

ALASAN PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG PERADILAN AGAMA (LANJUTAN)

Macam dan bentuk Hukum yang terkait dengan keberlakuan Hukum Islam di Indonesia berdasarkan:

  1. Aturan Peralihan II UUD Tahun 1945, bahwa: “Segala Badan Negara dan Peraturan yang masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini”. Termasuk “Hukum Produk Legislasi Kolonial”.
  2. Aturan Peralihan Pasal II diletakkan dalam Pasal 1 Aturan Peralihan amandemen ke-empat UUD Tahun 1945, bahwa: “Segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru menurut UUD ini”. (Jumly Ash-shiddiqie, Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat).

27 of 59

ALASAN PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG PERADILAN AGAMA (LANJUTAN)

  1. Aturan Peralihan II UUD Tahun 1945 amandemen ke-empat (tahun 2002) menentukan, bahwa:

Dengan ditetapkannya Perubahan UUD ini, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri dari UUD dan pasal-pasal”.

  • ALASAN YURIDIS berlakunya UU Produk Kolonial Belanda adalah berdasarkan ATURAN PERALIHAN Pasal I UUD Tahun 1945, bukan lagi berdasarkan Pasal II ATURAN PERALIHAN UUD Tahun 1945.

28 of 59

ALASAN PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG PERADILAN AGAMA (LANJUTAN)

Macam/Bentuk Hukum dan Sistem Hukum di Indonesia:

  1. Hukum Produk Legislasi Pemerintahan Kolonial;
  2. Hukum Adat;
  3. Hukum Islam; 🡺 ketiganya dapat dianggap sebagai sumber pembentukan hukum nasional (GBHN Tahun 1999, Teuku M. Radi (Ketua BPHN), M. Daud Ali, Ismail Suny (Guru Besar Hukum Tata Negara UI));
  4. Hukum Produk Legislasi Nasional setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945:
  5. Hukum Formil: UU Peradilan Agama, 29 Desember 1989, dll;
  6. Hukum Materiil: UU No. 22 Tahun 1946 juncto UU No. 32 Tahun 1954 Tentang Pencatatan NTCR (Nikah, Talak, Cerai, dan Rujuk), dll.

29 of 59

KONSEP DASAR PERADILAN AGAMA

  • Pengertian dari Beberapa Istilah yang terkait dengan HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA:
  • Peradilan: dalam KBBI: segala sesuatu mengenai perkara pengadilan. Menurut M. Daud Ali: peradilan adalah proses pemberian keadilan di suatu lembaga yang disebut Pengadilan.
  • Peradilan Agama di Indonesia: proses pemberian keadilan berdasarkan hukum Islam bagi orang/Badan Hukum Islam atau orang/Badan Hukum bukan Islam yang menundukkan diri kepada Hukum Islam di Pengadilan Agama sebagai pengadilan tingkat pertama, Pengadilan Tinggi Agama (PTA) sebagai pengadilan tingkat banding, menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

30 of 59

KONSEP DASAR PERADILAN AGAMA

Peradilan Agama, menurut Pasal 1 UU No. 7 Tahun 1989 adalah peradilan bagi orang-orang yang beragama Islam; diubah oleh Pasal I UU No. 3 Tahun 2006,

Peradilan Agama adalah salah satu pelaku Kekuasaan Kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini;

diubah lagi oleh Perubahan Kedua Pasal I UU No. 50 Tahun 2009 mengenai Pasal 1 UU No. 3 Tahun 2006, bahwa, Peradilan Agama adalah peradilan bagi orang-orang yang beragama Islam.

31 of 59

KONSEP DASAR PERADILAN AGAMA

  1. Pengadilan (al-Mahkamah, Raad): lembaga yang bertugas menerima, memeriksa, mengadili dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya (M. Daud Ali).

Pengadilan:

menurut Pasal 1 angka 1 dan angka 2 UU No. 7 Tahun 1989 juncto Pasal 1 angka 1 dan angka 2 UU No. 50 Tahun 2009 mengenai Pasal 1 angka 1 dan angka 2 UU No. 7 Tahun 1989 adalah Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama di lingkungan Peradilan Agama.

32 of 59

KONSEP DASAR PERADILAN AGAMA

Pengadilan Khusus:

adalah pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tertentu yang hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yang diatur dalam undang- undang (Pasal 1 angka 8 dalam UU No. 50 Tahun 2009)

Pasal 3A UU No. 50 Tahun 2009: Pembentukan Pengadilan Khusus di lingkungan Pengadilan Umum

33 of 59

KONSEP DASAR PERADILAN AGAMA

Pasal 3A UU No. 50 Tahun 2009:

  1. Di lingkungan Peradilan Agama dapat dibentuk pengadilan khusus yang diatur dengan undang-undang.
  2. Peradilan Syari’ah Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan agama sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan agama, dan merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan perdilan umum.

34 of 59

KONSEP DASAR PERADILAN AGAMA

(3) Pada pengadilan khusus dapat diangkat hakim ad hoc untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara, yang membutuhkan keahlian dan pengalaman dalam bidang tertentu dan dalam jangka waktu tertentu.

35 of 59

KONSEP DASAR PERADILAN AGAMA

  1. Hakim: pejabat ngara yang bertugas memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara di Pengadilan.
  2. Pegawai Pencatat Nikah adalah pegawai pencatat nikah pada Kantor Urursan Agama.
  3. Juru Sita/Juru Sita Pengganti adalah alat negara (orang/pegawai) Pengadilan Agama yang berwenang melakukan pengambilan harat kekayaan atau lainnya di bawah kekuasaan seseorang/Badan Hukum berdasarkan keputusan Pengadilan.
  4. Hukum Acara Peradilan Agama adalah hukum acara yang diterapkan dalam penyelesaian perkara di Pengadilan di lingkungan Peradilan Agama berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku: (a) Sebelum UU No. 7 Tahun 1989; (b) Setelah UU No. 7 Tahun 1989.

36 of 59

SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

Sumber Hukum Islam: An-Nisa ayat 59, hadis Mu’az bin Jabbal:

1. Al-Qur’an:

  1. Al-Fatihah : 6
  2. An-Nisa : 58, 65, 105
  3. Al-’Imran : 104
  4. Al-Maidah : 8, 42, 44, 45, 47, 49, 50

37 of 59

SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

As-Sunnah:

  1. Hadis diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abi Sa’ad: Apabila tiga orang bepergian, hendaklah salah satu di antaranya dijadikan penanggung-jawab.
  2. Hadis dari Amr bin ‘Ash: Hakim berijtihad, benar mendapat 2 pahala, jika ijtihad salah mendapat 1 pahala.
  3. Hadis riwayat Buraidah: Hakim yang benar masuk surga, hakim yang mengetahui hukum Allah tidak menetapkan hukum sesuai dengan hukum Allah maka ia masuk neraka.

38 of 59

SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

  1. Hadis diriwayatkan Imam Ahmad dari Ummu Salamah r.a., isteri Nabi SAW:

Pada suatu hari datang ke rumah Nabi dua orang lelaki yang mempertengkarkan masalah harta pusaka yang telah lama terbengkalai, (karena) tidak mempunyai keterangan yang nyata.jelas lagi. Maka Rasul SAW berkata kepada mereka: “Sesungguhnya kamu datang mengadukan perkaramu kepada Rasulullah, sedang saya ini seorang manusia. Boleh jadi sebahagian dari kamu lebih pandai menguraikan hujjahnya daripada orang lainnya. Hanya saja aku ini memutuskan perkara menurut apa yang aku dengar dari keterangan-keterangan yang kamu berikan.

39 of 59

SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

Maka barang siapa yang aku benarkan keterangannya dari karena pandainya memberi keterangan dan aku hukumkan untuknya sesuatu dari hak saudaranya, berartilah aku telah memberikan kepadanya api neraka. Dia akan letakkan yang aku hukumkan untuknya itu, di lehernya, menjadi alat penggerek api di hari kiamat”. Setelah Nabi SAW berkata demikian, kedua-dua orang itu pun menangis. Masing-masing mereka berkata: segala hakku aku berikan kepada saudaraku ini”. Mendengar itu Nabi SAW pun bersabda: Pulanglah kamu ke tempatmu dan bagilah harta itu sama adil antara kamu, kemudian setelah kamu bagi sama banyaknya, berundinglah kamu serta hendaklah kamu masing-masing menghalkan”.

(T.M. Habi Ash-Shiddiqy, Sejarah Peradilan Islam, Bulan Bintang, Jakatta, 1970, hal.13-14).

40 of 59

SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

3. Ijtihad: Baca tulisan Ibu Wismar Ain.

Hukum Acara yang Berlaku pada Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyyah:

  1. Hukum Acara Peradilan Agama:
  2. HIR
  3. R.Bg
  4. UU No. 7 Tahun 1989 diubah UU No. 3 Tahun 2006 dan UU No. 50 Tahun 2009
  5. UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrse dan Alternatif Penyelesaian Sengketa
  6. Yurisprudensi MA-RI
  7. PERMA dan SEMA RI
  8. Kompilasi Hukum Islam
  9. Peraturan Perundang-undangan yang berhubungan dengan Peradilan Agama.

41 of 59

  • RBg: ReglementTotRegeling van het Rechtswezen in de Gewesten Guiten Jawa en Madura (Stbl. 1027:227)
  • HIR: Stb. 1941:44 (Reglement Indonesia yang Dibaharui [RIB).

42 of 59

SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

b. Hukum Acara Mahkamah Syar’iyah:

  1. Hukum Acara yang berlaku di Peradilan Agama
  2. Hukum Acara yang berlaku di Peradilan Umum
  3. Qanun Aceh tentang Hukum Acara

43 of 59

UNSUR-UNSUR / RUKUN PERADILAN ISLAM

  1. Hakim: orang yang diangkat oleh Penguaa untuk menyelesaikan dakwaan-dakwaan dan persengketaan-persengketaan, karena Penguasa (eksekutif) tidak mampu melaksanakan sendiri semua tugas sebagaimana Nabi SAW (yang melaksanakan tugas eksekutuf, yudikatif, legislatif) pada masa beliau, beliau mengangkat qadhi (hakim) yang bertugas menyelesaikan sengketa di wilayah yang jauh, seperti Mu’az bin Jabbal di Yaman.
  2. Sumber Hukum;

44 of 59

UNSUR-UNSUR / RUKUN PERADILAN ISLAM

  1. Hukum: keputusan produk Hakim (Pengadilan) berupa: (i) Qadha ilzam menetapkan hak/hukuman kepada pihak Tergugat, atau menetapkan suatu hak dengan tindakan seperti pembagian harta pusaka/warisan; (ii) Qadha’ ut-tarki (penetapan berupa penolakan)
  2. Al-Mahkum Bih: HAK: Pada qadha’ ilzam: penetapan bagi Tergugat agar memenuhi tuntutan Penggugat; qadha’ ut-tarki (penolakan): diktum bagi Penggugat yang gugatannya ditolak. 🡺 Mahkum-Bih adalah HAK ITU SENDIRI, yang terdiri dari: hak Alla, h; hak manusia; hak Allah dan hak manusia.

45 of 59

UNSUR-UNSUR / RUKUN PERADILAN ISLAM

  1. Al-Mahkum ‘Alaih: Orang yang dikenakan/dijatuhi putusan; Imam Syafi’i: orang yang dikenakan putusan untuk diambil haknya, baik sebagai mudda’a ‘alaih (Tergugat) atau sebagai mudda’i (Penggugat), kadang-kadang terdiri dari seorang atau lebih.

46 of 59

UNSUR-UNSUR / RUKUN PERADILAN ISLAM

  1. Al-Mahkum Lah: : Penggugat atas sesuatu HAK yang bersifat hak manusia semata.

Mahkum lah harus melaksanakan sendiri atas gugatannya atau dikuasakan kepada Pengacara, dan ia harus datang sendiri persidangan atas gugatannya atau dapat juga dilakukan oleh wakilnya.

Apabila Mahkum lah itu merupakan hak Allah (hukum publik) semata, maka Mahkum Lah adalah Syara’ berdasarkan Syariat Islam dan dilakukan oleh Lembaga Penuntut Umum. (Muhammad Salam Madkur, Peradilan Dalam Islam (Al-Qadha Fi-l-Islam, Cairo 1964), Bina Ilmu, Surabaya tt, hal. 15-16)

47 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  1. KEDUDUKAN:
  2. Peradilan Agama merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu menurut UU No. 7 Tahun 1989 diubah oleh UU No. 3 tahun 2006 dan UU No. 50 Tahun 2009
  3. Mahkamah Syar’iyah merupakan peradilan bagi setiap orang yang beragama Islam dan berada di Aceh.

48 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  1. DASAR HUKUM:
  2. Pasal 24 ayat (2) dan (3) UUD 1945 beserta amandemennya;
  3. Pasal 18 juncto Pasal 25 (1) (3) UU No. 48 Tahun 2009
  4. Pasal 2, Pasal 3, Pasal 3A UU No. 7 Tahun 1989 diubah oleh UU No. 3 Tahun 2006 dan UU No. 50 Tahun 2009;
  5. Pasal 128 UU No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh.
  6. KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHAMAH SYAR’IYAH:

49 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  1. KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHAMAH SYAR’IYAH terdiri dari:
  2. Kewenangan Pengadilan Agama meliputi: memeriksa, mengadili, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang: (i)perkawinan; (ii) waris; (iii) wasiat; (iv) hibah; (v) wakaf; (vi) zakat; (vii) infaq; (viii) shadaqah; (ix) ekonomi syari’ah;

50 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  • Mahkamah Syar’iyah berwenang memeriksa, mengadili, memutus, dan memutuskan (i) perkara yang diatur dalam UU No. 7 Tahun 1989 diubah oleh UU No. 3 Tahun 2006 dan UU No. 50 Tahun 2009; (ii) perkara ahwalusy-syakhsiyah (hukum keluarga); (iii) muamalah (hukum perdata); (iv) jinayah (hukum pidana) berdasarkan syari’at Islam yang diatur dalam Pasal 128 ayat (3) UU No. 11 Tahun 2006 dan Qanun No. 10 Tahun 2002 serta Qanun No. 11 Tahun 2002.

51 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  • Perincian jenis kewenangan Mahkamah Syar’iyah di bidang ahwalus-syakhsiyah meliputi (i) perkawinan; (ii) waris; (iii) wasiat (Penjelasan Pasal 49 huruf a Qanun No. 10 Tahun 2002 Tentang Peradilan Syari’at Islam).

52 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  1. Perincian jenis kewenangan Mahkamah Syar’iyah di bidang muamalah meliputi hukum kebendaan dan hukum perikatan terdiri dari
  2. jual beli,
  3. sewa menyewa;
  4. utang piutang;
  5. qiradh.
  6. musaqah;
  7. muzara’ah;

53 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  1. mukhabarah;
  2. wakalah;
  3. syirkah;
  4. ariyah;
  5. hajru;
  6. syuf’ah;
  7. rahnun;
  8. ihyaul mawat;

54 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  1. ma’din;
  2. luqathah;
  3. per-Bankan;
  4. takaful (asuransi);
  5. perburuhan;
  6. harta rampasan;
  7. wakaf;
  8. hibah;
  9. zakat;
  10. infaq;
  11. shadaqah;
  12. hadiah (Penjelasan Pasal 49 huruf b Qanun No. 10 Tahun 2002 Tentang Peradilan Syari’at Islam)

55 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  1. Perincian jenis kewenangan Mahkamah Syar’iyah di bidang jarimah hudud meliputi
  2. jarimah hudud (zina, qazf, pencurian, perampokan, minuman keras dan napza, murtad dan bughat;
  3. jarimah Qshash/Diyat terdiri dari (i) pembunuhan; (ii) penganiayaan);
  4. jarimah ta’zir terdiri dari maisir/perjudian, penipuan, pemalsuan, khalwat (Penjelasan Pasal 49 huruf c Qanun No. 10 Tahun 2002 Tentang Peradilan Syari’at Islam) .

56 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  1. HUKUM MATERIIL PENGADILAN AGAMA dan MAHKAMAH SYAR’IYAH:
  2. UU No. 22 Tahun 1946 juncto UU No. 32 Tahun 1954 Tentang Pencatatan NTCR;
  3. UU No. 1 Tahun 1974 dan PP No. 9 Tahun 1975;
  4. UU No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbanka diubah oleh UU No. 10 Tahun 1998;
  5. UU No. 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia;

57 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  1. UU No. 38 Tahun 1999 diubah oleh UU No. 23 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Zakat;
  2. UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf;
  3. UU No. 19 Tahun 2008 Tentang Surat Berharga Syari’ah Negara
  4. UU No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syari’ah
  5. KHI dan KHES

58 of 59

KEDUDUKAN, KEWENANGAN PERADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR’IYAH �DAN DASAR HUKUMNYA

  1. Peraturan Bank Indonesia yang berkaitan dengan ekonomi syari’ah;
  2. Yurisprudensi Mahkamah Agung;
  3. Qanun Aceh;
  4. Fatwa Dewan Syariah Nasional;
  5. Akad-akad Ekonomi Syariah;
  6. PP No. 28 Tahun 1977 Tentang Perwakafan Tanah Milik.

59 of 59

Wallahu ‘alam bishawab

  • Wassalamu ‘alaikum
  • Warahmatullahi wabarakatuh