Memerdekakan Lahir dan Batin dari Penjajah Nafsu
BULETIN JUM'AT HAMZANWADI
Jangan dibaca saat khatib naik mimbar
Media Sinar LIMA
Edisi
299
Jum'at
07/8/26
Kemerdekaan merupakan anugerah yang sangat berharga. Bangsa yang merdeka terbebas dari penjajahan, memiliki hak menentukan masa depan, serta mampu membangun kehidupan yang lebih baik. Namun, di samping kemerdekaan lahir, setiap manusia juga membutuhkan kemerdekaan batin. Banyak orang hidup di negeri yang merdeka, tetapi jiwanya masih terjajah oleh hawa nafsu. Nafsu yang tidak dikendalikan akan menguasai hati, merusak akhlak, dan menjauhkan seseorang dari petunjuk Allah Swt.
Penjajahan nafsu tidak selalu tampak dari luar. Ia hadir dalam bentuk kesombongan, kemalasan, amarah, iri hati, cinta dunia yang berlebihan, serta keinginan mengikuti syahwat tanpa batas. Ketika nafsu menjadi pemimpin, akal sehat kehilangan arah dan hati menjadi keras. Seseorang mungkin tampak sukses di mata manusia, tetapi sesungguhnya ia menjadi tawanan hawa nafsunya sendiri.
Allah Swt. telah mengingatkan bahwa hawa nafsu dapat menyesatkan
manusia apabila diikuti tanpa kendali. Sebaliknya, orang yang mampu mengendalikan nafsunya akan memperoleh derajat yang mulia di sisi Allah. Rasulullah saw. Juga mengajarkan bahwa orang yang kuat bukanlah yang menang dalam perkelahian, melainkan orang yang mampu menahan amarahnya. Hal ini menunjukkan bahwa kemenangan terbesar adalah kemenangan atas diri sendiri.� Memerdekakan diri dari penjajah nafsu dimulai dengan memperkuat iman dan takwa. Hati yang selalu mengingat Allah melalui salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa akan menjadi lebih tenang sehingga tidak mudah dikuasai keinginan yang buruk. Selain itu, membiasakan diri berpuasa, bersabar, bersyukur, serta bergaul dengan orang-orang saleh akan memperkuat benteng jiwa dalam menghadapi godaan nafsu.
Kemerdekaan lahir juga harus diwujudkan melalui
perilaku yang baik. Orang yang merdeka dari nafsu akan jujur dalam perkataan, amanah dalam tugas, disiplin dalam bekerja, menghormati orang tua dan guru, serta peduli terhadap sesama. Ia tidak mudah diperbudak oleh kemewahan, pujian, maupun jabatan. Semua yang dimilikinya digunakan sebagai sarana beribadah dan memberikan manfaat bagi orang lain.
Bagi para pelajar, memerdekakan diri dari penjajah nafsu berarti melawan rasa malas, menolak ajakan berbuat maksiat, menjauhi perundungan, serta menggunakan waktu untuk belajar dan beramal saleh. Setiap keberhasilan menundukkan hawa nafsu akan membentuk pribadi yang tangguh, berakhlak mulia, dan siap menjadi generasi penerus bangsa yang bermartabat.
Jika lahir kita bebas dan batin kita juga merdeka, maka akan lahir pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Inilah kemerdekaan sejati yang mengantarkan manusia kepada kebahagiaan di dunia serta keselamatan di akhirat.
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS NAHDLATUL CQ SUHADI