1 of 26

�Tafsir Madura Sebagai Warisan Islam Nusantara: �Negosiasi Budaya, Ideologi, dan Identitas Keislaman�Oleh: Ahmad Zaidanil Kamil

2 of 26

Pentingnya Kajian al-Qur’an di Madura

“Tafsir lokal , terutama tafsir al-qur’an di Madura belum mendapat perhatian dari sarjana”

Islah Gusmian, Pakar Tafsir Nusantara

“Studi terhadap tafsir lokal telah menjadi tren dikalangan sarjana setidaknya sejak seperempat akhir abad 20. kajian ini akan dapat menggambarkan bagaimana dialog ulama Nusantara dengan al-Qur’an”

Jajang A Rahmana, Pakar Tafsir Sunda

“Tradisi penafsiran , produktifitas dan kreatifitas masyarakat Madura selama berdialog dengan Al-Qur’an tidak kalah dibandingkan dengan Kawasan-Kawasan lain, seperti Jawa, Bugis, Sunda, dan Aceh”

Ahmad Zaidanil Kamil

“Kami berharap dengan hadirnya Al-qur’an terjemahan Bahasa Madura ini bisa membumikan Al-qur’an, melestarikan bhs daerah, serta mencari titik temu tradisi daerah yang religious”

Muhammad Kosim, Rektor Iain Madura

“Penerjemahan Al-Qur’an ke Bahasa madura dalam rangka mempertahankan Bahasa madura dan bisa membantu orang madura memperkaya pengetahuannya tentang Al-qur’an”.

Moh. Zahid, Ketua Tim Penyusun Terjemahan

Penerjemahan Al-qur’an ke dalam Bahasa daerah dilakukan dengan tujuan untuk membumikan Al-qur’an , melestarikan Bahasa daerah, serta untuk melestarikan budaya yang ada di Indonesia

Lukman Hakim Syaifuddin, Menag RI

3 of 26

4 of 26

5 of 26

6 of 26

7 of 26

8 of 26

9 of 26

1

2

3

4

Abad 16-19:

Masa kelahiran Tafsir, dari Oral Menuju Tulisan

1

2

3

4

Naskah terjemahan surah al-Ma‘ārij ayat 1-10 bahasa Jawa Madura dari Sumenep-Madura. Ditulis antara abad ke-16 sampai dengan abad ke-18.

Terjemahan surah al-Ṣaff, al-Jumu‘ah, al-Munāfiqun, al-Mulk, dan lain lain. Menggunakan Bahasa madura, aksara pegon. Ditulis antara abad sekitar abad ke 17.

Naskah tafsir surah al-Baqarah ayat 1-7. di dalamnya terdapat terjemahan berbahasa Jawa-Madura. ditulis menggunakan serat kayu pada abad ke-18

Manuskrip al-Qur’an karya Abdul Karim yang diberi makna per kata oleh Syaikhona Khalil dengan bahasa jawa huruf pegon (akhir abad ke-19)

10 of 26

ABAD 20: PERIODE MODERN

1969

Mudhar Tamim (1916-200)

  1. Adalah Murid dari Hasyim ‘Asy‘Ari dan KH. Kholil Bangkalan
  2. Identitas sosial politikus sekaligus aktifis Muhammadiyah
  3. Bahasa Madura aksara Latin
  4. Metode Tahlili dengan corak fikih dan Ijtima’i

1980

Majid Tamim (1919-2000)

1986

Majid Tamim (1919-2000)

1980

Majid Tamim (1919-2000)

  1. Majid Tamim adalah Murid dari KH. Hasyim ‘Asy ‘Ari
  2. Identitas sosial Ulama
  3. Bahasa Madura aksara Pegon
  4. Metode Tematik corak Ijtima’i dan ‘Ilmi

11 of 26

1986

Majid Tamim

1988

1996

Muhammad ‘Arifun

(L. 1927)

  1. Pendidikan: Pesantren Bustanul Ulum al-Wafa Jember
  2. Identitas Ulama
  3. Bahasa Madura aksara pegon
  4. Metode dan corak: Ijmali corak lughawi

1988

  1. Pendidikan: Murid dari KH. Hasyim ‘Asy ‘Ari
  2. Bahasa dan aksara: Bahasa Madura aksara Pegon
  3. Metode dan corak: Tematik (1986) dan Tahlili (1988)

corak Ijtima’i

  1. Pendidikan: SD al-Islah, SMP Cokroaminoto, SMA Hang Tuah dan Yugoslavia
  2. Identitas Sosial Saastrawan- Budayawan
  3. Bahasa Madura aksara Latin
  4. Metode dan corak: Tematik corak ilmi

M Irsyad (1934-1994)

ABAD 20: PERIODE MODERN

12 of 26

1986

Majid Tamim

1988

1996

Muhammad ‘Arifun

(L. 1927)

  1. Pendidikan: Pesantren Bustanul Ulum al-Wafa Jember
  2. Bahasa dan Aksara: Bahasa Madura aksara pegon
  3. Metode dan corak: Ijmali corak lughawi

1988

  1. Pendidikan: Murid dari KH. Hasyim ‘Asy ‘Ari
  2. Bahasa dan aksara: Bahasa Madura aksara Pegon
  3. Metode dan corak: Tematik (1986) dan Tahlili (1988)

corak Ijtima’i

  1. Pendidikan: SD al-Islah, SMP Cokroaminoto, SMA Hang Tuah dan Yugoslavia
  2. Bahasa dan Aksara: Bahasa Madura aksara Latin
  3. Metode dan corak: Tematik corak ilmi

M Irsyad (1934-1994)

ABAD 20: PERIODE MODERN

13 of 26

ABAD 21: PERIODE KONTEMPORER

KH. Abd Basith (1944)

  1. Pendidikan: Darul Ulum Jombang, IAIN Malang
  2. Bahasa dan Aksara: Bahasa Indonesia aksara latin
  3. Metode dan corak: Tematik corak adabi Ijtima’i

KH. Abuya Busyro Karim (l. 1961)

  1. Pendidikan: S1 IAIN SUKA, S2 Universitas Merdeka, UNTAG
  2. Bahasa dan Aksara: Bahasa Indonesia Aksara Latin
  3. Metode dan corak: Tematik corak adabi Ijtima’i

KH. Taifur Ali Wafa (l.1964)

  1. Pendidikan:Ponpes Lasem (Rembang) dan Mekah
  2. Bahasa dan Aksara: Bahasa Arab aksara Arab
  3. Metode dan corak: Ijmali corak lughawi

KH. Ahmad Basyir AS (1930-2017)

  1. Pendidikan: Sidogiri
  2. Bahasa dan Aksara: Bahasa Arab aksara Arab
  3. Metode dan corak: Temtatik corak Lughawi

2007

2008

2009

2013

2013

2009

K. Munif Sayuthi (l.1958)

  1. Pendidikan:Ponpes Banyuanayar dan Sidogiri
  2. Bahasa dan Aksara: Bahasa Indonesia aksara Latin
  3. Metode dan corak: Tematik lughawi dan Ijtima’i

5

14 of 26

15 of 26

16 of 26

ABAD 16-19

  1. Tafsir masih berbentuk Manuskrip
  2. Penulisan Tafsir menggunakan Bahasa Jawa - Madura dengan aksara Pegon
  3. Menggunakan metode Ijmali
  4. Corak Tafsir adalah Corak Lughawi

DINAMIKA TAFSIR AL-QUR’AN DI MADURA

ABAD 20

  1. Tafsir Sudah Mulai dicetak
  2. Penulisan Tafsir menggunakan Bahasa Jawa- Madura dg aksara Pegon & Latin
  3. Menggunakan metode tahlili dan tematik
  4. Corak Tafsir bervariatif: Fikih, ‘Ilmi dan Adabi Ijtima’i

ABAD 21

  1. Tafsir Sudah Mulai dicetak
  2. Bahasa yang digunakan mulai bervariasi: bahasa Arab dan Bhs. Indonesia
  3. Digunakannya aksara latin
  4. Menggunakan metode tahlili dan tematik
  5. Corak Tafsir bervariatif: Fikih, ‘Ilmi dan Adabi Ijtima’i

ARAB PEGON

17 of 26

WACANA IDEOLOGIS TAFSIR AL-QUR’AN DI MADURA

  1. Peneguhan Islam Pesantren (Tradisionalis)
  2. Representasi Islam Modernis

Tafsir al-Qur’an sebagai

peneguhan Identitas: Islam Tradisionalis dan Islam

Modernis

  1. Mempertahankan Budaya Madura
  2. Kritik Terhadap Budaya Madura: Upaya Rekonstruksi

Tafsir al-Qur’an dan Budaya Madura: Sebuah Pergumulan dialektis

  1. Perspektif Tafsir Kritis: Penafsiran sebagai Strategi Kritik Sosial Politik

Tafsir al-Qur’an dan Ekspresi Politik

18 of 26

MEMPERTAHANKAN BUDAYA MADURA

  1. Metorot keterangan sa’id ibnu musajjab/ibnu abbaas: kabijasa’an oreng-oreng djahiliyah kalamon ampon ta’ sennneg ka binina, otaba lebur ka oreng bine’ lain ladju aompa ta’ adjima’a sataon, duwa taon, tello taon otaba saterrossa. pri-bahasa madura “e tjangtjang ta’ ealle”.
  2. Ungkapan lainnya yaitu malang sjara’ untuk menjelaskan orang yang tidak menjalankan perintah allah di hari kiamat (qs al-fatihah: 2), andap asor untuk sikap sopan dan rendah hati (qs al-fatihah: 4), mu’min gadungan untuk menunjukkan orang yang hanya beriman secara lisan (qs. al-baqarah: 5), ta’ tjapo’ pa’tompa’an untuk orang yang tidak bisa move on dari peraturan masa lalu/ketinggalan zaman (qs. al-baqarah: 141), totop birang digunakan untuk makna mut’ah (qs. al-baqarah: 236), kalowar dari tera’ entar ka petteng (qs al-baqarah: 257), dan lain-lain.
  3. Penggunaan tingkatan bahasa seperti “allah adabu, nabi adabu, rasul adabu, ulama adabu,”
  4. Ungkapan khas seperti pangeran, guste, kanjeng
  5. budaya mistis, penggunaan hadis-hadis mitologis, israiliyyat

19 of 26

KRITIK TERHADAP BUDAYA MADURA: SEBUAH UPAYA REKONSTRUKSI

Kritik Budaya Carok

Mudhar Tamim QS. al-Baqarah: 30

(Tafsir Alqur’anul Karim Nurul Huda, 18)

“Para malaikat mator, ponapa parlo epon mabadija chalifah e bumi: karana badana chalifah e bumi paneka tanto nombuwagi karosagan, tjarok, perrang se adaddijagi tada’ ka-amanan e bumi? Allah madaddi/mabannja’ manossa se deri katoronan chalifah gella’, enggi paneka Adam. Sa-amponna ana’ potona bennja’, e bakto gapaneka chalifah se aropa Adam, enjamae pemimpin, kepala negara, presiden otaba chalifah. Aponapa sabab-ba para malaikat oneng sabellunna kadaddijan, dja’ badana manossa paneka e bumi nombuwagi karosagan opama tjarok, perrang se lakar mangken kenjataan?”

Kritik Budaya Mistis

M. Irsyad Qs Yasin: 39

“Ba>d}a> sè ngangghep bula>n ka’d}into mahlok od}i’ sè bisa maraja> tor makènè’ bha>dha>n. è Madhura> èyangghep ba>d}a> Bu’ rand}ha> sè prappa’ èpon abha>t}ek. Manabi bula>n ghra>’a> rèng-orèng pad}a> makalowar prantè pekakas akadhi kaca, bed}d}ha>’ (=konyo), aèng sapennay tor laèn-laèn èpon, ma’ sè sossa è bula>n ghella>’ ènggha>lla> abhusana, akonyo tor maraddhin aba>’ èpon. Sadha>ja>na ka’d}into ta’ adha>sar “elmo pangaonengan”, jhugha>n ta’ adha>sar Kor-an tor Hadis. Manabi etegghor kakalebha>n epon ka’d}into, pas anakso makalowar ora’, ca’epon: “ba>ngoba> d}ha>buna ba>ngatowa!””

20 of 26

21 of 26

PENEGUHAN ISLAM TRADISIONAL

Orientasi Islam Ahlussunnah

Wa al-Jama’ah

Abd. Basith, Tafsir Surah Yasin: 59-68, hal. 38

“Pada saat ini telah banyak yang anti

terhadap ahlussunnah wa al-jama’ah. Kami bersyukur bahwa di Sumenep mereka masih sedikit. Kami ingatkan anda sekalian, berhati-hatilah dalam mendidik anak kita agar ahlussunnah wa al-jama’ah tetap lestaru di bumi Indonesia”

Kritik Terhadap Muktazilah

Taifurrahman Ali Wafa QS al-Maidah: 1

(Tafsir Firdaws an-Naim, Vol II, 2)

(إن الله يحكم مايريد) من التحليل وغيره وهذا

كالعلة لما قبله أي فالأحكام صادرة من الله

حسب إرادته فلا إعتراض عليه ولا معقب

لحكمه وهذا مما يرد على المعتزلة القائلين

بوجوب الصلاح و الأصلح

Pesantren sebagai pusat Keagamaan

Majid Tamim al-Baqarah/2: 185 (Terjemah

Tafsir al-Jalalayn, 10)

الْقُرْاَن اَرُوْفَاءَڮِيْ جُوْڮَ بَاتَسْ اَنْتَرَا حَقْ سَرَڠْ كَبَاطِلَنْ. مِيْلاَ ڊَرِيْ فَنِيْكَ كَوْلَا سَدَاجَ سَڠَتْ عِىْ اَنْجُوْرَاڮِىْ سُوْفَجَا اَبِيَسَأَڮِىْ اَوِرِدْ فَمَاُئوْسَنْ القران عِىْ سَبَّنْ اَرِيْه سَمْفِئْ بِسَا ڠَاتَمَاڮِىْ فَالِيْڠْ سَكُوْنِئْ سَاخَتَمَانْ ڊَالَمْ سَابُوْلَنْ. عَمَلَاْن فَنِيْكَ اُوْڠُڮُوْ-اُوڠْڮُوْ سَڠَتْ ڊَمَّڠْ, تَفِيْه سَكُوْنِئْ سِى فُوْرُوْن اَلَكُوْه, كَجَابَ عِى فُونْڊُوْك – فُوْنڊُوْك فَاسَنْتَرِيْنَ.

22 of 26

ISLAM MODERNIS

Mudhar Tamim,

QS. al-Baqarah ayat 165:

(Tafsir Alqur’anul Karim Nurul Huda, 71)

“Metorot pamanggina Sjaichul Islam Ibnu Taimiyah: bannja’ ahli tasawuf/trekat e bakto acher-acher paneka tjara ebadanna adasar tjinta, ta’ kalaban ngagguj partembangan elmo, al-Qur’an, Hadis; namong noro’ hawa napso, paneka tamasok sjirik”

M. Irsyad, (Tapser Sorat Yasin, iii)

Sè ta’ paham ka artè tor ma’na èpon Kor-an, tanto ghi’ langgheng ba>d}a> è longkang kapettengan èpon alam pèkkèran, jha>u d}a>ri kamajuwa>nna nagha>ra> laèn sè panjha>t ampon mokka’ otaba nyèngkap kapettengan ghella>’; d}u mogha> ta’ akadiya> è taon-taon nalèka sebelunna Revolusi Indonesia (ba>kto kaula> ghita’ dhiba>sa), margha> è ba>kto gha>panèka saba>giya>n orèng ghi’ aharamaghi ngartè’è Kor-an. Kay-cakayan pad}a> ulama Eslamma nalèka jha>man ka’d}into ampon da>ddhi kabiyasaan, marga> ba>d}a> orèng laèn (Bla>nda>) secara politik sengaja kèrngokèr, otaba> masang panyonyor ma’lè kaba>d}a>’a>n bisa kaobbha>r.

23 of 26

24 of 26

25 of 26

26 of 26

KESIMPULAN

  1. Diskursus Tafsir al-Qur’an di Madura telah Berlangsung sejak awal proses Islamisasi di Madura (Era Oral)
  2. Sejarah Tafsir al-Qur’an di Madura dapat dipetakan menjadi 4 Periode: Era Oral (14-15), Peridoe Klasik (Abad 16-19), Periode Modern (Abad 20) dan Periode Kontemporer (Abad 21)

3. Tafsir al-Qur’an di Madura ditulis dengan bahasa dan Aksara beragam. Dari segi bahasa, ada bahasa Jawa, Madura hingga Bahasa Indonesia. Dari segi Aksara, ada akasra pegon, Arab dan Aksara Latin

4. Tradisi penulisan Tafsir al-Qur’an di Madura melahirkan wacana dan ideologi beragam,

yaitu sebagai peneguhan identitas Islam, strategi kebudayaan hongga ekspresi politik