PSAK 56�LABA PER LEMBAR SAHAM�IAS 33 Earning Per Share.
Agenda
2
Tujuan dan Lingkup
1.
Laba Per Lembar Saham
2.
Perbandingan PSAK
3.
Contoh dan Ilustrasi
4.
Laba per lembar saham
Ruang Lingkup
4
Tujuan
5
LABA PER SAHAM DASAR
6
LPS dasar dihitung dengan membagi laba atau rugi bersih yang tersedia bagi pemegang saham biasa (laba bersih residual) dengan jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar dalam satu periode.
LPS Dasar = Laba Bersih Residual
Jumlah Rata-rata Tertimbang Saham Biasa
7
Laba Residual
LABA PER SAHAM DASAR
8
Jumlah Rata-rata Tertimbang
Saham Biasa yang Beredar
LABA PER SAHAM DASAR
9
Saham biasa dianggap sebagai saham beredar ketika:
Jumlah Rata-rata Tertimbang
Saham Biasa yang Beredar
LABA PER SAHAM DASAR
10
Jumlah Rata-rata Tertimbang
Saham Biasa yang Beredar
LABA PER SAHAM DASAR
LABA PER SAHAM DASAR
11
“Apabila dalam satu periode ada perubahan jumlah saham beredar yang tidak mengubah sumber daya, selain peristiwa konversi efek berpotensi saham biasa, maka jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar selama satu periode dan untuk seluruh periode sajian harus disesuaikan.” (par. 20)
Contoh :
PSAK 56 : Laba Per Lembar Saham
12
LPS Dasar = Laba Bersih Residual
Jumlah Rata-rata Tertimbang Saham Biasa
EPS
Laba Bersih Residual
Jumlah Rata-rata Tertimbang Saham Biasa
Penyesuaian atas Efek berpotensi saham biasa yang dilutif
=
+/+ atau
-/-
LPS Dasar
LPS Dilusian
13
Penyesuaian
Laba (setelah pajak)
Penyesuaian
saham biasa beredar
LABA PER SAHAM DILUSIAN
14
Diperlakukan sebagai penerbitan saham biasa tanpa penerimaan sumber daya.
Metode Metode Treasury Stock atau Treasury Share.
LABA PER SAHAM DILUSIAN - OPSI
CONTOH – METODE TREASURY SHARE
15
PT ABC memiliki 3.000 opsi beredar dengan harga exercise Rp 1.000.000,- dan harga wajar saham yang akan diterbitkan adalah Rp 1.200.000,-. Berapakah asumsi penambahan jumlah saham biasa?
Penambahan jumlah saham biasa yang beredar:
= Harga wajar – harga opsi x Jumlah lembar opsi
Harga wajar
= 1.200.000 – 1.000.000 x 3.000 lembar opsi
1.000.0000
= 600 lembar saham biasa
EFEK BERPOTENSI SAHAM BIASA ANTIDILUTIF
16
17
EFEK BERPOTENSI SAHAM BIASA ANTIDILUTIF
PENYAJIAN & PENGUNGKAPAN
18
- Penyajian -
Perusahaan harus mengungkapkan hal-hal berikut ini:
- Pengungkapan -
PENYAJIAN KEMBALI
19
Jika jumlah saham biasa atau efek berpotensi saham biasa naik dengan adanya penerbitan saham bonus (kapitalisasi agio saham), dividen saham (kapitalisasi laba) atau pemecahan saham, atau turun karena penggabungan saham (reverse stock split), maka penghitungan LPS dasar dan LPS dilusian untuk seluruh periode sajian harus disesuaikan secara retrospektif. Jika perubahan terjadi setelah tanggal neraca, namun sebelum laporan keuangan diterbitkan, maka angka-angka per saham untuk seluruh periode laporan keuangan yang disajikan harus didasarkan pada jumlah baru saham yang beredar. Jika perhitungan angka per saham mencerminkan perubahan dalam jumlah saham, maka hal ini harus diungkapkan. Di samping itu, LPS dasar dan dilusian untuk seluruh periode laporan keuangan harus disesuaikan dengan:
PSAK 56 (R 2010)
PSAK 56 (R 2010)
PSAK 56 (2010) vs PSAK 56 (1999)
| PSAK 56 (2010) | PSAK 56 (1999) |
Ruang Lingkup | Penyajian laba per saham hanya boleh disajikan pada laporan laba rugi tersendiri, jika entitas menyajikan komponen laba rugi pada laporan laba rugi tersendiri. | Tidak diatur |
LPS Dasar dan Dilusian | LPS Dasar dan Dilusian dihitung atas:
| Laba per saham dasar dan dilusian dihitung atas laba atau rugi yang dapat diatribusikan. |
PSAK 56 (2010) vs PSAK 56 (1999)
| PSAK 56 (2010) | PSAK 56 (1999) |
Kontrak yang dapat diselesaikan dengan saham biasa atau kas | Mengatur kontrak yang dapat diselesaikan dengan saham biasa atau kas pilihan entitas (at the entity’s option) dan pilihan pemegang kontrak (at the holder’s option).
| Tidak diatur |
Opsi jual yang diterbitkan (written put option) | Mengatur perlakuan kontrak yang mewajibkan entitas membeli kembali sahamnya (misalnya written put option, forward purchase contract) | Tidak diatur |
PSAK 56 (R 2010)
PSAK 56 (R 2010)
Efek Berpotensi Saham Biasa yang Bersifat Dilutif
PSAK 56 (R 2010)
Efek Berpotensi Saham Biasa yang Bersifat Dilutif
PSAK 56 (R 2010)
Efek Berpotensi Saham Biasa yang Bersifat Dilutif
PSAK 56 (R 2010)
Efek Berpotensi Saham Biasa yang Bersifat Dilutif
PERBEDAAN DENGAN IFRS
CONTOH - LPS DILUSIAN
CONTOH - LPS DILUSIAN
CONTOH - LPS DILUSIAN
CONTOH - LPS DILUSIAN
CONTOH 2 : PENERBITAN SAHAM BONUS
34
Laba bersih 20X0 | Rp 1.800.000.000,00 | |||
Laba bersih 20X1 | Rp 6.000.000.000,00 | |||
Saham biasa yang beredar sampai | ||||
| 30 September 20X1 | 2.000.000 saham | | |
Penerbitan saham bonus per | 2 saham bonus untuk setiap saham biasa | |||
| 1 Oktober 20X1 | Yang beredar pada 30 September 20X1 | ||
| | 2.000.000 x 2 = 4.000.000 saham | ||
Laba per saham 20X1 | Rp 6.000.000.000,00 | = Rp 1.000,00 | ||
| | (2.000.000+4.000.000) | ||
LPS 20X0 yang telah disesuaikan | Rp 1.800.000.000,00 | = Rp 300,00 | ||
| | (2.000.000+4.000.000) | ||
PSAK 56 : Laba Per Lembar Saham
35
Ilustrasi Laba Per Lembar Saham
PT. Melati memiliki income sebesar 210.000 untuk tahun 2014 dan rata-rata jumlah lembar saham beredar 100.000 saham. Perusahaan memiliki dua obligasi konversi.
Obligasi 6% dengan nilai total 1.000.000 yang dapat dikonversi menjadi 20.000 saham biasa. Bunga terkait dengan utang obligasi tersebut sebesar 62.000.
Obligasi 7% dijual dengan total 1.000.000 pada 1 april 2014 dan dapat dikonversi menjadi 32.000 saham. Bunga terkait dengan obligasi tersebut untuk tahun 2014 sebesar 80.000
EPS Dasar 210.000 / 100.000 = 2.1
Ilustrasi Laba Per Lembar Saham
Menghitung Diluted EPS, dimulai dari EPS Dasar 2,1
LO 7 Compute earnings per share in a complex capital structure.
210.000
100.000
=
+
62.000 x (1 – 0,40)
20.000
Basic EPS = 2,10
Pengaruh LPS= 1,86
+
+
+
$80,000 x (1 – 0,40) x 9/12
24.000
Pengaruh LPS = 1,50
LPS Dilusian = 1,97
6% Debentures
7% Debentures
Basic EPS
REFERENSI
38
TERIMA KASIH
Profesi untuk
Mengabdi padamu Negeri
Dwi Martani
081318227080
martani@ui.ac.id atau dwimartani@yahoo.com
http://staff.blog.ui.ac.id/martani/
Akuntan