1 of 21

01\01\2030

ARSITEKTUR VERNAKULAR &

AMAN BENCANA

MENGGALI KEARIFAN LOKAL RUMAH AMAN BENCANA DI PULAU-PULAU KECIL NTT

(ALOR, LEMBATA, SABU, ROTE)

Kerangka Atap

Fleksibel

Struktur Tiang

Tahan Gempa

Sambungan

Tradisional

ALOR

LEMBATA

SABU

ROTE

2 of 21

Realitas Hidup di Cincin Api

Indo-Australian Plate

(Lempeng Indo-Australia)

Eurasian Plate

(Lempeng Eurasia)

Friction Point/

/Titik Gesekan

Konteks Geologis:

NTT berada di zona pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Manusia

tidak bisa memisahkan diri dari alam; keindahan berdampingan dengan bahaya.

Filosofi Adaptasi:

Leluhur tidak mencoba 'melawan' alam, melainkan 'berdamai' dengannya.

Tujuannya bukan sekadar surviving (bertahan hidup), tapi adapting (beradaptasi)

terhadap siklus alam yang tidak berkompromi.

Spektrum Ancaman:

1. Pergeseran Tektonik (Gempa)

2. Letusan Vulkanik

3. Anomali Iklim (Siklon Tropis Seroja & Kekeringan)

25

3 of 21

Peta Risiko: Empat Pulau, Beragam Ancaman

Alor

Dominan: Gempa Tektonik

& Kebakaran Lahan

-Interaksi Lempeng

(High Intensity)

- Risiko Kebakaran 93.17%

- Topografi Rawan Longsor

Lembata

Dominan: Multi-hazard &

Cascading Disasters

- Gempa & Gunung Api

(lle Lewotolok)

- Tsunami

(Ref: Waiteba 1979)

- Banjir Bandang Lahar Dingin

Sabu

Dominan: Iklim Ekstrem

-Kekeringan (Semi-arid)

-Angin Puting Beliung/Siklon

-- Gempa Tektonik

Rote

Dominan: Hidrometeorologi

Siklon Tropis

(Epicenter Seroja)

Banjir & Abrasi Pantai

Gelombang Pasang

25

4 of 21

Alor: Menjaga Harmoni dengan Gempa

Studi Kasus: Rumah Fala

Dunia Leluhur

(Lumbung/Atap)

Dunia Manusia

(Hunian)

Dunia Bawah

(Kolong Terbuka)

Rumah Fala of Suku Abui

Teknologi Ikatan (Lashing): Menggunakan simpul rotan dan

pasak kayu tanpa paku (nails). Ini menciptakan sambungan

fleksibel yang meredam getaran gempa melalui disipasi energi.

Struktur Panggung: Tinggi 8-16 meter. Kolong terbuka

mencegah resonansi langsung dari tanah ke struktur utama.

"Struktur yang fleksibel dan adaptif terhadap pergerakan

tanah."

Fleksibilitas

Ikat

5 of 21

Lembata: Benteng di Kaki Gunung Api

Studi Kasus: Korke (Ritual) & Lango (Hunian)

lle Lewotolok

Aerodinamika:

Bangunan Korke

dibuat terbuka

(tanpa dinding) dan

atap memiliki

sudut kemiringan

curam untuk

meminimalkan

beban angin badai

dan abu vulkanik.

Sejarah:

Pelajaran dari

Tsunami/Longsor

Waiteba 1979

mengajarkan

pentingnya zonasi aman.

Pondasi Umpak (Base Isolation):

Tiang tidak ditanam, tapi diletakkan di atas batu

pipih. Saat gempa, bangunan bergeser atau

bergoyang (rocking) di atas batu, memutus

transfer gaya geser tanah ke struktur utama.

- Tiang

Rocking

Umpak

6 of 21

Rumah adat Lembata Korke (atau Korke Bale),

sumber: www.lembata.pikiran-rakyat.com

Rumah adat Lango,

sumber: www.liputan6.com

Rumah adat Ebang, sumber: Bito, G. S. (2023)

7 of 21

Sabu: Aerodinamika Perahu Terbalik

Studi Kasus: Ammu Hawu / Ammu Roukoko

100

Konsep: Perahu Terbalik

-Duru: Bagian depan (Haluan)

-Wui: Bagian belakang (Buritan)

Respon Angin Siklon:

Atap menjulur sangat rendah

(hampir menyentuh tanah)

memecah tekanan angin.

Bentuk ini mencegah uplift force

(gaya angkat) yang biasanya

menghancurkan atap modern

saat siklon.

Struktur Independen:

Sistem rangka tiang saling

kait-mengait (Ammu Tuki)

yang tidak bertumpu pada

dinding, mirip rangka kapal.

8 of 21

100°

Udara sejuk

masuk melalui

dinding

berpori

Rote: Adaptasi Pesisir dan Material Lontar

Bentuk Atap

(Toka/Bohani):

Atap kerucut tinggi

mempercepat aliran

air hujan deras dan

membuang panas ke

atas (stack effect).

Material Lontar:

Dinding berpori (anyaman daun Lontar)

mengurangi tekanan angin pada bangunan

(wind load) sekaligus menjaga suhu

interior tetap sejuk di iklim pesisir.

100'

160'

Adaptasi Pasang:

Sistem panggung

melindungi hunian dari

banjir rob (pasang surut)

dan binatang melata.

Rumah Tradisional Rote (Fox, 2006)

Klasifikasi Skema Rumah Tradisional Rote (Fox, 2006)

9 of 21

Teknologi Jiwa: Budaya sebagai Pemeliharaan

4. Transfer

Pengetahuan

Bangunan hanya sekuat komunitas yang merawatnya.

1. Pembangunan

(Gotong Royong)

3. Pemeliharaan berkala

2. Ritual &

Simbolisme

Gotong Royong: Konstruksi adalah ritual

komunal. Pengetahuan transfer teknik

(seperti ikatan rotan) terjadi saat kerja

bersama.

• Peran Ahli (At'molan): Di Lembata,

arsitek tradisional memimpin pemilihan

kayu dan perhitungan kalender adat,

memastikan standar kualitas.

• Simbolisme Tubuh: Rumah dianggap

sebagai 'Tubuh' atau 'Miniatur Alam

Semesta'. Ini menciptakan insentif

spiritual untuk merawat lingkungan.

10 of 21

Archival Engineering

Prinsip Rekayasa I: Fleksibilitas di Atas Kekakuan

Physics Comparison

Side A

(Rigid)

Side B

(Flexible)

Sendi Fleksibel

(Rotan Tie &

Pasak Kayu)

Kekakuan (Rigid)

= Patah

Fleksibilitas (Rocking)

= Aman

Saat diguncang, beton yang kaku tidak dapat bergerak,

menyebabkan tegangan geser besar yang meretakkan struktur.

1. Base Isolation (Isolasi Dasar)

Penggunaan Umpak batu (Lembata/Sabu)

memungkinkan akselerasi tanah terjadi tanpa

merusak struktur utama. Batu berfungsi sebagai

bantalan gesek, memisahkan gerakan tanah

dari bangunan.

Struktur kayu 'menari' bersama gempa, dengan sendi dan

Umpak batu meredam energi melalui gesekan dan pergerakan.

2. Dry Joinery (Sambungan Kering)

Ikatan ijuk/rotan dan pasak kayu berfungsi

sebagai 'Sendi'. Energi gempa diredam melalui

gesekan antar elemen kayu (friksi), bukan

dilawan. Sambungan ini dapat meregang dan

kembali ke posisi semula.

Insight: Beton retak saat diguncang; kayu dan ikatan rotan 'menari'.

11 of 21

Prinsip Rekayasa II: Ringan dan Aerodinamis

Heavy Mass

Light Mass

Siklon Seroja

DOWNFORCE

Tekanan Turun

Permeable (Bernapas)

Penyetaraan

Tekanan

Hukum Newton (F=ma)

Massa bangunan kecil (kayu/jerami) = Gaya inersia

gempa yang lebih kecil. Risiko runtuhan fatal jauh

lebih rendah dibanding tembok bata.

Respon Angin (Siklon Seroja)

Atap curam dan bentuk ‘perahu terbalik' mencegah

gaya angkat (uplift). Atap rumbia bersifat permeabel

(bisa dilalui udara), menyetarakan tekanan udara

luar dan dalam sehingga atap tidak terlepas.

12 of 21

Ketahanan Pangan & Zonasi Ruang

Zonasi Vertikal (Safety):

Pemisahan area hunian dari

tanah melindungi aset dan

makanan dari banjir dan binatang

.

Lumbung di Atap (Food Security):

Integrasi penyimpanan pangan di

→ area paling kering dan sakral.

Menjamin survival saat gagal panen

atau isolasi pasca-bencana.

Safe Storage:

Penyimpanan benih

dan benda pusaka di

area struktur inti yang

paling terlindung.

13 of 21

Contoh adaptasi rumah adat

14 of 21

Contoh adaptasi rumah vernakular pada Rumah pastori di Alor

Transformasi fungsi

    • Pergeseran fungsi memicu perubahan kebutuhan ruang.
    • Fala foka: hunian + lumbung.
    • Pastori: hunian pendeta + pelayanan jemaat.
    • Perubahan fungsi ruang vertikal.
    • Pondasi memakai angkur untuk mengikat kolom.
    • Memberi toleransi gerak saat guncangan.
    • Respons terhadap gempa bumi.

Desain Tanggap Bencana

Desain Tanggap Bencana

Desain Tanggap Bencana

Desain Tanggap Bencana

    • Sistem panggung memberi ruang resapan tanah lebih luas.
    • Respons terhadap risiko banjir.

    • Sistem penyangga memperkokoh konstruksi.
    • Memperkuat hubungan kolom, balok, dan rangka atap.
    • Struktur lebih rigid dan tanggap terhadap angin kencang serta gempa.

    • Sistem regeling memperkuat hubungan kolom–balok.
    • Struktur lebih rigid dan responsif terhadap gempa.

15 of 21

8-1S

meters

Arsitektur Resilien: Sinergi Tradisi & Teknologi Modern NTT

Filosofi Struktur: Kepala-Badan-Kaki & Konstruksi Goyang untuk Resiliensi

ALOR

(Rumah Fala Foka)

SABU

(Ammu Hawu)

LEMBATA

(Lango/Ebang)

ROTE NDAO

(Uma Tutus / Raja Thie)

TRADISI: Sambungan

Pasak/faat Rotan

Dakli/Lantur, Tanpa

Paku Logam

MODERN:

Seismic-Resistant Joint

Prinsip Meredam Energi

Gempa

TRADISI:

Konsep 'Perohu Terbalik'

Memecah Tekanan

Angia Sikion

MODERN: Aerodynamic

Trapesoidal Roof

Desain Pasca-Sercja

untuk Stabilitas Badai

TRADISI:

Pondasi Umpak/Watu Laba)

Tiang 'Duduk' di Batu Lepes,

Bergeser Saat Gempa

MODERN:

Base Isolation Alami

Mencegah Gaya Geser Seismik

Tersalar ke Rangka Atas

TRADISI:

Dinding Anyaman Berpori

Angin Menembus,

Menyamakan Tekanan Udara

MODERN:

Ventijated Pacade

Resiliensi Ikiim &

Etisiensi Energi

Panggung Tinggi & Kolong

Memisahkan dari Getaran

Tanah & Banjir, tiang ditanam

dalam (2 meter)

TRADISI:

Zonasi Vertikal

Resilien

Lumbung

Pusaka (Atas)

Hunian

Kolong

(Bawah)

MODERN:

Base Isolation & Raised

Structural System

MODERN:

Safe Core Concept

- Vital Functions

Protected

TRADISI: Sistem 'Sandi'

Alami dari Serat Alam

Ikatan Serat Kelapa/Lontar

Menciptakan Sendi Geser

MODERN:

Flexible Joints

Maintain Integrity

Mitigasi Angin Kencang

Inspirasi Bentuk Peraltu

Membelah Angin & Ombak

TRADISI:

Struktur Modular Kayu

Sistem Rangka Penggung

Knock-Down

MODERN:

Teknologi RISHA (Rumah

Instan Sederhana Sehat)

Sistem Beton Pracetak

Tahan Gempa

dan Tahan Api

TRADISI:

Geometri Atap Limasan

Tinggi

Kemiringan 45-48 Derejat

untuk Shedding Abu Vulkanik

TRADISI:

Struktur Bingan

Fiekalhel

Massa Kecil Mengurangi

Gaya Inersia Gempa

MODERN:

Engineered Timber (CLT

-Cross Laminated Timber)

Knxt, Ringan, dan

Berkelanjutan

TRADISI:

Ventilasi Alami Pasif

Rangga Atap Tinggi

Menciptakan Ventilasi

Silang Etektff

16 of 21

Adaptasi Modern: Pelajaran dari Seroja

Pelajaran Seroja (2021): Banyak atap

seng modern terkelupas karena kaku

dan kedap udara (perbedaan tekanan

ekstrem), sementara atap tradisional

bersudut curam dan berpori tetap bertahan.

Potensi:

Pemanfaatan material alam yang

ramah lingkungan.

- Adopsi bentuk aerodinamis untuk

bangunan publik.

Tantangan:

- Kelangkaan tenaga ahli tradisional

(transfer of knowledge).

- Persepsi sosial (Beton = Status).

- Perawatan material alami yang intensif.

10cm

Modern

(Kaku & Kedap)

LESSON LEARNED:

Aerodinamika

& Porositas

Vernakular

(Aerodinamis & Berpori)

17 of 21

Contoh adaptasi rumah vernakular pada Rumah Pastori di Alor

(Rumah Adat Fala Foka)

    • Fala foka awalnya ramping dengan susunan vertikal.
    • Berubah menjadi bentuk lebih melebar (susunan horizontal).

Transformasi Bentuk

Transformasi Bentuk

    • Geometri fala foka: kubus (bawah) + limas (atas).
    • Menjadi acuan transformasi bentuk rumah pastori.

    • Fasad dan warna fala foka natural sesuai material alami.
    • Rumah pastori bertransformasi dengan kombinasi material alami dan pabrikasi.

    • Kolom utama: 4–5 tiang → menjadi 9 kolom.
    • Grid struktur: 2 × 2 m → menjadi 6 × 6 m.

Transformasi Bentuk

Transformasi Bentuk

Penyangga digunakan untuk memperkaku struktur, khususnya pada konstruksi atap rumah fala foka.

Transformasi Bentuk

18 of 21

Kesimpulan: Masa Depan Berbasis Kearifan Lokal

Rumah Aman Bencana bukan

tentang melawan kekuatan alam

dengan kekakuan, tetapi

beradaptasi melalui fleksibilitas

dan harmoni.

Rekomendasi:

    • Adopsi prinsip Aerodinamika (atap curam/rendah) pada desain di zona siklon.
    • Pertahankan konsep Base Isolation (struktur panggung/umpak) di zona gempa.
    • Hormati Zonasi Tata Ruang leluhur (menghindari jalur longsor/banjir).

Desigmed for aerodinamica

destpnotse amor bo sowne

designewever ederal inat

antst een dinannis

100

Breathable,

adjustsbie

adjusiacs louvers

CROSS SECTION

Breathable,

aejustable and

aojustable vents

10cm

20cm

BASE ISOLATION:

Structural inschanierms

structural supports

10cm

30cm

2000

Modern Resilient House: Synthesis of Lessons Learned

19 of 21

Regulasi & Implementasi Rumah Aman Bencana

Indonesia memiliki kerangka regulasi komprehensif yang mengatur mitigasi bencana

dalam pembangunan hunian. Melalui integrasi undang-undang nasional dan teknologi

inovatif seperti RISHA, pemerintah berupaya mewujudkan prinsip "Build Back Better"

untuk melindungi masyarakat dari risiko bencana hidrometeorologi dan tektonik.

UU No. 24 Tahun 2007:

Payung Hukum Mitigasi

Mewajibkan integrasi analisis risiko

bencana dalam tata ruang dan

pembangunan wilayah nasional.

Implementasi & Teknologi di Lapangan

BI

Prinsip "Build Back Better"

melalui RISHA

Penggunaan teknologi Rumah Instan

Sederhana Sehat untuk membangun

hunian tetap yang lebih kuat.

Kerangka

Regulasi

Utama

Permen PUPR 05/2016:

Standar Teknis Bangunan

Mengatur izin dan persyaratan teknis

agar bangunan kuat terhadap gempa,

banjir, dan angin.

Mitigasi Khusus

Wilayah NTT

Fokus pada penguatan kapasitas

daerah terhadap ancaman banjir, longsor,

dan fenomena hidrometeorologi.

PP No. 21 Tahun 2008:

Kewajiban Daerah

Pemerintah daerah wajib menyusun dokumen

penanggulangan bencana sesuai profil

risiko wilayah masing masing.

Program Huntap

& Wilayah 3T

Pembangunan rumah tahan bencana di

daerah tertinggal, terdepan, dan terluar

sebagai langkah perlindungan.

SNI: PENETAPAN STANDAR NASIONAL INDONESIA 1726:2019 TATA CARA

PERENCANAAN KETAHANAN GEMPA UNTUK STRUKTUR BANGUNAN

GEDUNG DAN NONGEDUNG

20 of 21

Referensi

Sumber Data:

- Dokumen 'RUMAH AMAN BENCANA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI PULAU-PULAU

KECIL DI NUSA TENGGARA TIMUR (Alor, Lembata, Sabu, Rote)'

- Data Bencana: BNPB, KRB NTT (2022-2026), IRBI 2022

- Data Bencana: BNPB, KRB NTT (2022-2026), IRBI 2022

- Studi Kasus: Lapenangga et al., Atsari et al., Karmakani et al.

20cm

10m

10cm

10cm

70cm

Dom

21 of 21

TERIMA KASIH

© Christin Banase