1 of 44

SPRIN dalam konteks Kanker Serviks��

SELAMATKAN PEREMPUAN INDONESIA

DENGAN PENDEKATAN

TRANSFORMASI KESEHATAN

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

2 of 44

Urgensi Masalah

Kanker Serviks sebagai preventable disease (penyakit yang sangat bisa dicegah).

Momentum Transformasi Kesehatan sebagai "Golden Period" untuk mengubah paradigma dari kuratif ke preventif.

Dampak bukan hanya pada mortalitas, tapi catastrophic cost bagi keluarga dan hilangnya produktivitas perempuan sebagai pilar ekonomi keluarga.

Kesenjangan akses: Angka kejadian lebih tinggi pada populasi sosio-ekonomi rendah.

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

3 of 44

3

Photo source: Antara foto/M. Ayudha

Source: The Global Cancer Observatory (Globocan), 2024; Agustiyansyah et. al, 2021.

36.964

20.708

Kanker leher rahim merupakan kanker ke-2 yang paling sering diderita oleh perempuan di Indonesia, dengan ~ 56 kematian orang setiap harinya.

Indonesia (2022)

Dari ~408.661 kasus baru kanker di Indonesia pada tahun 2022, 16,3%nya adalah kanker payudara

Kasus baru kanker leher rahim

Kematian akibat kanker leher rahim

Kanker serviks di Indonesia dikaitkan dengan angka kematian yang sangat tinggi, terutama disebabkan oleh tingkat skrining yang tidak memadai

(~70% kasus biasanya terdeteksi pada stadium lanjut).

New cases, 2022

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

4 of 44

Indonesia menduduki Peringkat ke-3 Angka Kejadian dan Kematian tertinggi akibat kanker di South East Asian Region

Sumber : International Agency for Research on Cancer, 2022

4

Negara

Jumlah Kasus

ASR (World)

Jumlah Kematian

ASR (World)

Myanmar

77.603

135.5

54.841

97.1

Thailand

183.541

154.4

118.829

93.4

Indonesia

408.661

136.9

242.988

82.5

Bangladesh

167.256

105.6

116.598

74.7

Bhutan

638

87.6

480

67.2

India

1.413.316

98.5

916.827

64.4

Sri Lanka

33.243

106.9

19.145

59.0

Maldives

479

105.3

241

58.8

Timor-Leste

828

84.5

517

55.4

Nepal

22.008

81.6

14.704

55.3

Korea

61.533

166.1

42.789

113.9

ASR : Age-Standardized Rate

Per 100.000 penduduk

Pada tahun 2022 (IARC), diestimasikan terdapat:

408.661 kasus baru

242.988 kematian

Dan jika tanpa adanya intervensi, diperkirakan akan terjadi peningkatan 77% kasus kanker di tahun 2050

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

5 of 44

Kanker menduduki peringkat ke-2 pembiayaan tertinggi diantara penyakit katasktopik lain. Pada tahun 2023, kanker menghabiskan membiayaan ~5,9 T

5

  • Jumlah kasus (dalam juta)

Dalam Jutaan Rupiah

Tahun 2021

Tahun 2022

Tahun 2023

1

Penyakit Jantung

8.671.706

12.144.179

17.629.047

2

Kanker

3.500.655

4.500.645

5.979.918

3

Stroke

2.163.345

3.234.881

5.209.327

4

Gagal ginjal

1.781.135

2.155.722

2.919.190

5

Haemophilia

604.617

650.238

1.230.805

6

Thalassaemia

590.659

614.932

764.496

  • Biaya (dalam triliun)

Sumber : BPJS Kesehatan, 2023

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

6 of 44

Sekitar ~60-70% kanker leher rahim ditemukan pada stadium lanjut

Sumber : CONCORD-2; Andrae B, Andersson T M, Lambert P C, Kemetli L, Silfverdal L, Strander B et al. Screening and cervical cancer cure: population based cohort study BMJ 2012; 344 :e900 doi:10.1136/bmj.e900

6

Lambung

Kolon

Rektum

Hati

Paru

Leher rahim

Ovarium

Prostat

Leukemia dewasa

Leukemia anak

Indonesia (2005-2007)

Asia (2005-2009 )

Perbandingan angka Kesintasan 5-tahun setelah diagnosa�antara Indonesia dengan Asia

Jika didiagnosis lebih awal,

9 dari 10 penderita bertahan hidup 5 tahun setelah diagnosis

Namun, jika ditemukan pada stadium lanjut

hanya 2 dari 10 penderita yang bisa bertahan hidup 5 tahun setelah diagnosis

Tahun setelah diagnosis

stadium saat terdiagnosis :

Padahal…

Hal ini menyebabkan …

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

7 of 44

Kurang dari 20% wanita berisiko* dilakukan skrining kanker leher rahim setiap tahunnya

7

Selain itu,

Rendahnya upaya deteksi dini ini berdampak pada temuan kasus pada stadium lanjut

Tingginya morbiditas, penemuan kasus pada stadium lanjut, dan mortalitas merefleksikan buruknya upaya penanggulangan kanker, termasuk upaya deteksi dini di suatu wilayah

Oleh karena itu, diperlukan upaya komperehensif untuk menanggulangi hal ini

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

8 of 44

Bagaimana kanker leher rahim dapat terjadi?

Lebih dari 99% kanker leher rahim disebabkan oleh infeksi persisten dari Human Papilloma Virus (HPV)

8

“Infeksi menetap dari HPV tipe onkogenik ini dapat menyebabkan kanker leher rahim”

Berdasarkan studi, diketahui bahwa 99,7% kanker leher rahim berhubungan dengan infeksi persisten Human Papilloma virus (HPV), yang merupakan salah satu virus penyebab Infeksi Menular Seksual (IMS) yang paling sering terjadi (Judson 1992; Walboomers et al. 1999).

Virus ini dapat menetap, berkembang menjadi kanker atau bahkan sekitar 10% dapat hilang dengan sendirinya.

Terdapat 14 tipe HPV yang dapat menyebabkan kanker yakni tipe HPV risiko tinggi (high risk-HPV) atau disebut tipe HPV onkogenik yaitu utamanya tipe 16, 18, dan 31, 33, 45, 52, 58.

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

9 of 44

Vaksinasi, Skrining, dan Tatalaksana menjadi intervensi kunci dalam upaya aksi eliminasi

Pilar

1

2

3

4

Pilar 1

TARGETS

TIMELINE

Semua wanita berusia antara 30 hingga 69 tahun menjalani skrining menggunakan tes DNA HPV sebagai metode skrining utama

70%

Fase 1�2023 - 2027

Semua wanita berusia antara 30 hingga 69 tahun menjalani skrining menggunakan tes DNA HPV sebagai metode skrining utama

75%�

Fase 2�2028 - 2030

TARGETS

TIMELINE

Semua wanita dengan lesi pra-kanker mendapatkan tatalaksana

Semua wanita dengan kanker invasif mendapatkan tatalaksana

70%

Fase 1�2023 - 2027

Semua wanita dengan lesi pra-kanker mendapatkan tatalaksana

Semua wanita dengan kanker invasif mendapatkan tatalaksana

90%

Fase 2�2028 - 2030

TARGET

TIMELINE

anak perempuan diimunisasi HPV pada usia 11 tahun (Kelas 5 SD/sederajat)

anak laki-laki diimunisasi HPV pada usia 11 tahun (Kelas 5 SD/sederajat)

anak perempuan yang belum diimunisasi, menerima imunisasi kejar pada usia 12 dan 15 tahun

anak perempuan yang belum diimunisasi, menerima imunisasi kejar pada usia 20-22 tahun (khusus kriteria eligible)

90%

Fase 1�2023 - 2027

anak perempuan diimunisasi HPV pada usia 11 tahun (Kelas 5 SD/sederajat)

anak laki-laki diimunisasi HPV pada usia 11 tahun (Kelas 5 SD/sederajat)

anak laki-laki yang belum diimunisasi, menerima imunisasi kejar pada usia 15 tahun

anak perempuan yang belum diimunisasi, menerima imunisasi kejar pada usia 20-25 tahun (khusus kriteria eligible)

90%�

Fase 2�2028 - 2030

Prioritas : Vaksinasi

1

Prioritas : Skrining

2

Prioritas : Tatalaksana

3

90%

anak perempuan

dan laki-laki diberikan vaksin HPV sebelum usia 15 thn

75%

Wanita usia 30 - 69 tahun dilakukan skrining dengan tes DNA HPV

90%

Perempuan dengan lesi prakanker dan kanker invasif mendapatkan tatalaksana

3 intervensi kunci sebagai target

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

10 of 44

3 Target Nasional intervensi Utama �untuk mencapai eliminasi kanker leher rahim tahun 2023

75%

90%

90%

90% anak perempuan dan laki-laki divaksinasi HPV sebelum usia 15 tahun

75% perempuanusia 30-69 tahun diskrining menggunakan tes DNA HPV

90% perempuan dengan lesi pra kanker dan kanker leher rahim mendapatkan tatalaksana

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

11 of 44

Rendahnya partisipasi masyarakat masih menjadi tantangan pencapaian target skrining kanker leher rahim

Capaian skrining Kanker Leher Rahim dengan Metode DNA HPV tahun 2024-2025

Capaian DNA-HPV

Estimasi capaian per tahun

Legend:

Sumber data 2025 : Dashboard ASIK CKG per 7 Maret 2025

Key Issue(s)

Key Action Plan

Dari sisi demand, Rendahnya kesadaran dari populasi sasaran untuk melakukan skrining untuk melakukan skrining karena takut akan prosedur dan hasil, malu, serta tidak ada dukungan dari lingkungan terutama keluarga

Pembuatan strategi promosi kesehatan yang efektif

  1. Implementasi RCCE+ sebagai strategi pendekatan ke masy. termasuk pemberdayaan kader
  2. Pertimbangan penggunaan self-sampling sebagai alternatif solusi

Rendahnya komitmen daerah untuk mencapai target

Monitoring mingguan berkala dengan KaKo dan pembuatan bulletin mingguan sebagai feed-back

Self-sampling

Tatalaksana

Skrining

Imunisasi

Jakarta

35 KaKo

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

12 of 44

Partisipasi masyarakat yang rendah telah menjadi tantangan di sisi permintaan

Gap

Perlu

Akselerasi

Rasa malu dikaitkan dengan kegiatan pergi ke fasilitas untuk skrining, pemeriksaan panggul itu sendiri, dan diperiksa oleh petugas kesehatan laki-laki atau muda

Hambatan1

Self-

sampling sebagai solusi 3

Sumber :

1 Petersen, Z., Jaca, A., Ginindza, T.G. et al. Barriers to uptake of cervical cancer screening services in low-and-middle-income countries: a systematic review. BMC Women's Health 22, 486 (2022). https://doi.org/10.1186/s12905-022-02043-y

2 Spagnoletti, et al. A Qualitative Study of Parental Knowledge and Perceptions of Human Papillomavirus and Cervical Cancer Prevention in Rural Central Java, Indonesia: Understanding Community Readiness for Prevention Interventions (2019) Asian Pac J Cancer Prev, 20 (8), 2429-2434

3 Wong, H.Y., Wong, E.Ly. Invitation strategy of vaginal HPV self-sampling to improve participation in cervical cancer screening: a systematic review and meta-analysis of randomized trials. BMC Public Health 24, 2461 (2024). https://doi.org/10.1186/s12889-024-19881-0

2025

Prioritas : Skrining

2

2025

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

13 of 44

Alur skrining kanker leher rahim - pengambilan sampel dan rujukan pengujian sampel

Komunitas

Puskesmas

Sampling

Lab rujukan

PCR test

Kab/Kota (A) – Jika Lab PCR tersedia

Sampling

PCR test

Kab/Kota (A) – Jika lab PCR tidak tersedia

Rujuk ke lab kab/kota terdekat/ labkes provinsi/ lab regional

Provider-sampling/Clinician-sampling

1

Bottleneck :

  • Kesadaran rendah,
  • Persepsi social dan norma kebudayaan
  • Takut akan prosedur dan hasil, malu
  • Rendahnya dukungan keluarga

Challenge :

  • Rendahnya partisipasi masyarakat

In demand side:

Untuk mengatasi hambatan ini, Kemkes dgn beberapa mitra melakukan proyek percontohan skrining DNA HPV dengan pengambilan sampel sendiri.

13

Komunitas

Puskesmas

Sampling

Lab rujukan

PCR test

Kab/Kota (A) – Jika Lab PCR tersedia

Sampling

PCR test

Kab/Kota (A) – Jika lab PCR tidak tersedia

Rujuk ke lab kab/kota terdekat/ labkes provinsi/ lab regional

Rencana : Self-sampling

2

Sample handling

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

14 of 44

TANTANGAN SKRINING

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

15 of 44

Diperlukan strategi yang komprehensif untuk melaksanakan program skrining kanker leher rahim

15

Pemeriksaan Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim yang terintegrasi

Layanan skrining dalam dan luar gedung

di dalam gedung : di Puskesmas

di luar gedung: di Posyandu, balai warga, dan RPTRA, dll.

Keterlibatan Pemangku Kepentingan

Layanan skrining kanker payudara dan kanker serviks dilakukan secara terpadu dan dalam waktu kunjungan yang bersamaan (one visit service)

  • Menetapkan peraturan dari pemerintah daerah untuk deteksi dini kanker payudara dan leher rahim;
  • Memasukkan skrining kanker payudara dan leher rahim ke dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Puskesmas;
  • Memasukan pembiayaan skrining dalam Jaminan Kesehatan Nasional;
  • Keterlibatan ibu negara dan istri menteri (OASE KIM) dalam mempromosikan skrining kanker payudara dan leher rahin

Kolaborasi Antar Program dan Antar Sektor

  • Berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga (Kementerian Agama, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, TNI/POLRI).
  • Integrasi dengan program kesehatan ibu dan anak di Puskesmas

Pelibatan Komunitas, Organisasi Masyarakat, organisasi Agama (Perempuan) dan Pemberdayaan Kader

Penguatan Infrastruktur, Teknologi, dan Sumber Daya Manusia Kesehatan melalui Sistem Transformasi Kesehatan

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

16 of 44

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

17 of 44

Pemeriksaan kesehatan gratis dibagi sesuai siklus hidup dan dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan Tingkat Pertama (FKTP)

17

Siklus Hidup

Jenis Pemeriksaan

Skrining pada Bayi Baru Lahir

  1. Kekurangan hormon tiroid bawaan
  2. Kekurangan enzim G6PD bawaan
  3. Kekurangan hormon kortisol bawaan
  4. Penyakit Jantung Bawaan Kritis
  5. Kelainan Saluran Empedu
  6. Pertumbuhan (Berat Badan, Tinggi Badan)

Skrining pada Balita dan Anak Prasekolah

  1. Pertumbuhan
  2. Perkembangan
  3. Tuberkulosis
  4. Telinga
  5. Mata
  6. Gigi
  7. Talasemia (Pemeriksaan darah pada usia 2 tahun saja)
  8. Gula Darah (Pemeriksaan darah pada usia 2 tahun saja)

Skrining pada Dewasa dan Lansia

  1. Merokok
  2. Tekanan darah
  3. Gula Darah
  4. Tuberkulosis
  5. Stroke, Jantung ( ≥ 40 thn)
  6. Ginjal (≥ 40 thn)
  7. Kanker Payudara (≥ 30 thn)
  8. Kanker Leher Rahim (≥ 30 thn)
  9. Kanker Paru (≥ 45 thn)
  10. Kanker Usus Besar (≥ 50 thn)
  11. PPOK
  1. Telinga
  2. Mata
  3. Gigi
  4. Hati (Hep B, C, Sirosis)
  5. Calon Pengantin (Hb, Sifilis, HIV)
  6. Gizi
  7. Jiwa
  8. Kebugaran
  9. Geriatri (≥ 60 thn)

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

18 of 44

Kemenkes berkomitmen untuk melakukan transformasi sistem kesehatan

6 pilar transformasi penopang kesehatan Indonesia

8

Visi

Sejalan dengan visi Presiden untuk mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, mandiri dan berkeadilan

Meningkatkan kesehatan ibu, anak, keluarga berencana dan kesehatan reproduksi

Mempercepat perbaikan gizi masyarakat

Memperbaiki pengendalian penyakit

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

Memperkuat sistem kesehatan & pengendalian obat dan makanan

6

kategori utama

Outcome

RPJMN

bidang kesehatan

Edukasi penduduk Penguatan peran kader, kampanye, dan membangun gerakan,

menggunakan platform digital dan tokoh masyarakat

Pencegahan primer

Penambahan imunisasi rutin menjadi 14 antigen dan perluasan cakupan di seluruh Indonesia.

Pencegahan sekunder

Skrining 14 penyakit penyebab kematian tertinggi di tiap sasaran usia, skrining stunting, &

peningkatan ANC untuk kesehatan ibu & bayi.

Meningkatkan kapasitas dan kapabilitas layanan primer

Revitaliasi network dan standardisasi layanan di Puskesmas, Posyandu, dan kunjungan rumah

Meningkatkan akses dan mutu layanan sekunder & tersier Pembangunan RS di Kawasan Timur, jejaring pengampuan 6 layanan unggulan, kemitraan dengan world’s top healthcare centers.

Memperkuat ketahanan tanggap darurat

Jejaring nasional surveilans berbasis lab, tenaga cadangan tanggap darurat, table top exercise kesiapsiagaan krisis.

Transformasi sistem pembiayaan kesehatan

Regulasi pembiayaan kesehatan dengan 3 tujuan: tersedia, cukup, dan berkelanjutan; alokasi yang adil; dan pemanfaatan yang efektif dan efisien.

mahasiswa, luar negeri,

kemudahan penyetaraan nakes lulusan luar negeri.

Transformasi SDM Kesehatan

Penambahan kuota beasiswa dalam &

Transformasi teknologi kesehatan

1 Transformasi layanan primer

2 Transformasi layanan rujukan

3 Transformasi sistem ketahanan kesehatan

4

Meningkatkan

ketahanan sektor farmasi & alat kesehatan

Produksi dalam negeri 14 vaksin rutin, top 10 obat, top 10 alkes by volume & by value.

5

6

a

b

c

d

a

b

Pengembangan dan pemanfaatan teknologi, digitalisasi, dan bioteknologi di sektor kesehatan.

a Teknologi informasi b Bioteknologi

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

19 of 44

19

Eliminasi Kanker Serviks tidak bisa menjadi program yang berdiri sendiri, melainkan menuntuk bekerjanya 6 Pilar Transformasi Kesehatan.

Mulai dari vaksinasi di hulu (Pilar 1), produksi vaksin lokal (Pilar 3), pengobatan canggih di hilir (Pilar 2), hingga pemantauan data digital (Pilar 6).

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

20 of 44

Eliminasi Kanker Serviks dalam transformasi sistem kesehatan

Pilar 1: Transformasi Layanan Primer (Pondasi Utama)

a. Edukasi Penduduk:

    • Pemberdayaan kader Posyandu dan PKK untuk mematahkan mitos seputar vaksinasi HPV dan ketakutan terhadap skrining.
    • Mengubah health seeking behavior perempuan dari "berobat saat sakit" menjadi "skrining saat sehat".
    • Mengatasi barrier sosbud

b. Pencegahan Primer:

    • Vaksinasi HPV kini masuk dalam program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) wajib untuk anak perempuan kelas 5 dan 6 SD. Ini adalah implementasi langsung dari poin ini.

c. Pencegahan Sekunder:

    • Kanker serviks adalah salah satu dari penyakit tersebut. Transisi dari metode IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) ke HPV DNA Testing sebagai standar emas baru skrining massal dilakukan di level Puskesmas.

d. Meningkatkan Kapasitas:

    • Melengkapi Puskesmas dengan alat Ablasi Termal agar lesi pra-kanker bisa langsung ditangani di tempat (strategies screen-and-treat), tanpa perlu rujukan yang berisiko loss to follow-up.

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

21 of 44

PERAN POGI DENGAN SPRIN

21

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

22 of 44

Eliminasi Kanker Serviks dalam transformasi sistem kesehatan

Kanker adalah satu dari layanan prioritas (KJSU-KIA: Kanker, Jantung, Stroke, Uronefro, KIA).

    • Sistem pengampuan (sister hospital). RS Rujukan Tersier mengampu RSUD di bawahnya agar mampu melakukan operasi radikal onkologi dan kemoterapi dasar, sehingga pasien di daerah tidak perlu antre radioterapi bertahun-tahun di pusat yang menyebabkan stadium lanjut.

Strategi

Pilar 3: Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan

Kemandirian produksi Vaksin HPV (NusaGard) oleh Bio Farma di dalam negeri, serta produksi reagen HPV DNA lokal untuk menekan biaya skrining.

Pilar 2: Transformasi Layanan Rujukan

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

23 of 44

KEPEMIMPINAN SOSIO MEDIS

23

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

24 of 44

KEPEMIMPINAN SOSIO MEDIS

24

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

25 of 44

KEPEMIMPINAN SOSIO MEDIS

25

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

26 of 44

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

27 of 44

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

28 of 44

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

29 of 44

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

30 of 44

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

31 of 44

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

32 of 44

Eliminasi Kanker Serviks dalam transformasi sistem kesehatan

Pilar 4: Transformasi Sistem Pembiayaan Kesehatan

Pergeseran alokasi anggaran dari kuratif (biaya kemo/radiasi kanker serviks stadium lanjut yang sangat mahal/katastropik) menuju pembiayaan preventif (subsidi vaksin dan skrining HPV DNA) yang secara cost-effectiveness analysis jauh lebih menguntungkan negara jangka panjang.

Pilar 5: Transformasi SDM Kesehatan

  • Memperbanyak jumlah Onkolog Ginekologi (Sp.O.G, Subsp. Onk) dan Patolog Anatomi.
  • Social Obgyn Perspective: Melatih Dokter Umum dan Bidan di layanan primer agar kompeten melakukan skrining HPV DNA dan tindakan ablasi termal, sehingga tugas ini tidak hanya menumpuk pada Sp.O.G.

Pilar 6: Transformasi Teknologi Kesehatan

  • Teknologi Informasi : Semua data vaksinasi (anak) dan hasil skrining (ibu) masuk ke dalam aplikasi ASIK (Aplikasi Sehat Indonesiaku) dan terintegrasi ke SatuSehat. Ini memungkinkan pemantauan real-time capaian target eliminasi by name by address.
  • Bioteknologi : Pemanfaatan teknologi molekuler (PCR/Genotyping) untuk deteksi virus HPV risiko tinggi, menggantikan metode visual mata telanjang (IVA) yang subjektif.

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

33 of 44

Transformasi kefarmasian

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

34 of 44

Terkait paliatif dalam transformasi kefarmasian

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

35 of 44

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

36 of 44

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

37 of 44

Tantangan yang dihadapi

Pada program skrining di Indonesia (pada sisi demand):

37

Rendahnya pengetahuan dan kesadaran

Persepsi masyarakat dan norma-norma budaya sehingga dianggap ‘tabu’

Takut akan prosedur, hasil pemeriksaan serta merasa malu

Kurangnya dukungan dari lingkungan dan keluarga (khususnya pasangan)

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

38 of 44

38

Tantangan Sosial & Budaya

  • Barrier: Rasa malu, takut (mitos prosedur menyakitkan), dan kurangnya izin suami.
  • Solusi Komunitas (Pilar 1 Transformasi Kesehatan):
    • Pelibatan Kader Kesehatan sebagai "Influencer Lokal".
    • Self-sampling HPV DNA (metode pengambilan sampel mandiri) untuk mengatasi hambatan budaya/rasa malu.
  • Edukasi Kesehatan Seksual yang komprehensif namun sensitif budaya.

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

39 of 44

39

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

40 of 44

40

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

41 of 44

41

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

42 of 44

42

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

43 of 44

43

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191

44 of 44

44

Eliminasi Ca Cx bukan mimpi, tapi strategi terukur.

Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor: Klinisi, Pemerintah, Tokoh Masyarakat, dan Perempuan itu sendiri.

"Menyelamatkan satu perempuan dari kanker serviks berarti menyelamatkan satu generasi."

75 0 45 0

20 0 100 0

74 0 21 0

58 50 51 19

45 38 39 3

3 52 100 0

100 31 46 8

17 11 100 0

69 0 68 0

244 247 194

192 0 0

191 191 191