1 of 35

1

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERIMAAN DAN PENOLAKAN PEMBERIAN TERAPI PENCEGAHAN TUBERKULOSIS (TPT)

TINJAUAN KEPUSTAKAAN IV

Oleh

dr. Devin Elsya Praditama

S602302001

​

Pembimbing

Prof. Dr. dr. Reviono Sp.P(K) FISR

PPDS PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2026

2 of 35

PENDAHULUAN

2

TBC termasuk 10 penyebab kematian tertinggi dan penyebab utama kematian akibat satu agen infeksius.

Tahun 2021 terdapat 10,6 juta kasus TBC dan >1,5 juta kematian global (termasuk ODHIV).

Mayoritas kasus berasal dari Asia Tenggara (45%), Afrika (23%), dan Pasifik Barat (18%).

Indonesia memiliki beban tinggi dengan 821.200 kasus baru TBC pada 2023 dan risiko infeksi 1,7–4,4%.

3 of 35

PENDAHULUAN

3

TPT dengan INH efektif menurunkan risiko TBC aktif dan mencegah penularan, termasuk pada individu dengan atau tanpa HIV.

Pengendalian TBC mencakup diagnosis cepat, pengobatan segera, serta identifikasi ILTB yang menginfeksi >2 miliar penduduk dunia.

Pencegahan TBC penting untuk menurunkan kematian, terutama pada ODHIV, dan mendukung target Sustainable Development Goals (SDG) 3.3

4 of 35

DEFINISI DAN KLASIFIKASI TUBERKULOSIS

4

TBC 🡪 penyakit menular akibat Mycobacterium tuberculosis complex, terutama menyerang paru tetapi dapat mengenai organ lain

Gejala TBC paru 🡪 batuk ≥2 minggu, batuk darah, penurunan nafsu makan & berat badan, demam, keringat malam, pembesaran KGB.

Terduga TBC 🡪 individu dengan gejala TBC, terutama batuk ≥2 minggu atau gejala sistemik lain.

Kasus TBC definitif 🡪 ditemukan MTBC dari spesimen (BTA/TCM/kultur positif).

5 of 35

DEFINISI DAN KLASIFIKASI TUBERKULOSIS

5

Pasien TBC dibagi menjadi 🡪 terkonfirmasi bakteriologis (BTA/TCM/kultur positif) dan terdiagnosis klinis (bakteriologis negatif, bukti klinis & radiologis mendukung)

Klasifikasi TBC dilakukan berdasarkan lokasi (paru/ekstraparu), riwayat pengobatan, dan uji kepekaan obat.

TB-HIV 🡪 ODHIV berisiko 20–30x lebih tinggi mengalami TBC aktif dan TBC menjadi penyebab kematian utama pada ODHIV.

6 of 35

IMUNOPATOGENESIS TUBERKULOSIS PARU

6

Infeksi bermula dari inhalasi droplet MTBC, mencapai alveoli, lalu difagositosis makrofag alveolar.

MTBC dapat bertahan dan bereplikasi di dalam makrofag, menyebar ke kelenjar limfa dan organ lain sebelum imunitas adaptif terbentuk.

Imunitas adaptif (CD4 Th1, CD8, sel B) terbentuk 2–8 minggu, menghasilkan IFN-γ dan TNF-α untuk menekan replikasi bakteri.

Granuloma terbentuk untuk “mengurung” bakteri; dapat bersifat solid, nekrotik, atau kaseosa.

7 of 35

IMUNOPATOGENESIS TUBERKULOSIS PARU

7

Bila imun melemah, granuloma mengalami nekrosis, mencair, dan membentuk kavitas → MTBC aktif kembali dan menjadi sangat menular.

Faktor pemicu reaktivasi 🡪 HIV, malnutrisi, DM tidak terkontrol, obat imunosupresif, kemoterapi, gagal ginjal, alkohol/obat, merokok, keganasan.

Penyakit aktif ditandai penyebaran bakteri, kerusakan paru, dan granuloma pada berbagai tahap perkembangan.

8 of 35

8

Gambar 1. Patogenesis Tuberkulosis Paru

Picchianti-Diamanti A, Aiello A, De Lorenzo C, et al. Management of tuberculosis risk, screening and preventive therapy in patients with chronic autoimmune arthritis undergoing biotechnological and targeted immunosuppressive agents. Front Immunol; 16. Epub ahead of print 2025. DOI: 10.3389/FIMMU.2025.1494283/PDF.

9 of 35

DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PARU

9

TPT diberikan pada pasien ILTB berdasarkan hasil TST dan IGRA, disertai stratifikasi risiko kontak.

TST positif 🡪 indurasi ≥10 mm; pada imunokompromais (mis. HIV) ambang diturunkan menjadi ≥5 mm.

IGRA tidak direkomendasikan menggantikan TST di daerah dengan insidensi TB menengah–tinggi.

10 of 35

DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PARU

10

Skrining TBC harus murah, sensitif, mudah digunakan, dan idealnya dapat rule-out TBC pada tahap awal.

Mikroskopis BTA (ZN) masih digunakan di negara beban tinggi, sensitivitas sekitar 50%.

Kultur sputum 🡪 gold standard tetapi mahal dan rawan kontaminasi.

GeneXpert MTB/RIF direkomendasikan WHO untuk TBC paru/ekstraparu serta deteksi resistensi RIF, namun tidak dapat menilai resistensi INH atau memonitor terapi.

11 of 35

TATALAKSANA TUBERKULOSIS PARU

11

TB sensitif obat (TB-SO) 🡪 OAT standar 6 bulan: RHZE

TB-HIV 🡪 ART dimulai ≤2 minggu setelah mulai OAT.

TB Resisten Obat

12 of 35

EFEKTIVITAS TERAPI PENCEGAHAN TUBERKULOSIS

12

Skrining & Diagnosis ILTB

    • Dilakukan dengan TST atau IGRA. IGRA lebih spesifik pada negara dengan vaksin BCG.
    • Hasil positif → wajib rontgen dada untuk menyingkirkan TBC aktif.
    • ILTB = hasil TST/IGRA positif tanpa tanda TBC aktif.

Jenis Profilaksis

    • Primer: mencegah infeksi MTBC.
    • Sekunder: mencegah ILTB → TBC aktif (fokus utama TPT).
    • Tersier: mencegah komplikasi dan mortalitas.

13 of 35

EFEKTIVITAS TERAPI PENCEGAHAN TUBERKULOSIS

13

Efektivitas TPT

    • Lebih efektif di negara insidensi rendah; di insidensi tinggi efeknya sementara.
    • Sangat bermanfaat pada anak & ODHIV (turunkan TBC aktif dan mortalitas).

Regimen TPT

    • INH monoterapi: 6H
    • Regimen berbasis rifamisin: 3HR, 3HP, 1HP
    • Rifamisin dapat berinteraksi dengan obat ARV (mis. protease inhibitor).

14 of 35

EFEKTIVITAS TERAPI PENCEGAHAN TUBERKULOSIS

14

Isoniazid (INH)

    • Prodrug; diaktivasi oleh KatG → membentuk INH–NAD⁺, menghambat sintesis asam mikolat.
    • Mutasi KatG → resistensi INH.
    • Efek samping 🡪 neuropati → disarankan suplementasi vitamin B6.

Rifampisin (RIF)

    • Menghambat RNA polymerase (RpoB) → menghentikan sintesis RNA.
    • Resistensi: mutasi RpoB, peningkatan efflux pump, ADP-ribosilasi RIF.
    • Rifapentin/rifabutin memiliki interaksi obat lebih minimal.

15 of 35

15

Gambar 2. Mekanisme Kerja Isoniazid

Khan SR, Manialawy Y, Siraki AG. Isoniazid and host immune system interactions: A proposal for a novel comprehensive mode of action. Br J Pharmacol 2019; 176: 4599–4608.

16 of 35

16

Gambar 3. Mekanisme Kerja dan Resistensi Rifampisin.

Hardie KR, Fenn SJ. JMM profile: rifampicin: a broad-spectrum antibiotic. J Med Microbiol; 71. Epub ahead of print 2022. DOI: 10.1099/JMM.0.001566.

17 of 35

EFEKTIVITAS TERAPI PENCEGAHAN TUBERKULOSIS

17

Bukti Efektivitas Klinis

IPT menurunkan TBC & mortalitas pada ODHIV, meningkatkan CD4.

Regimen rifamisin (3HP/3HR) lebih efektif & lebih rendah hepatotoksisitas vs INH.

Tidak ada peningkatan resistensi signifikan antara regimen INH vs rifamisin.

Pertimbangan Klinisi

Pastikan TBC aktif disingkirkan sebelum TPT.

Pertimbangkan risiko progresi

Perhatikan toksisitas, usia, dan komorbid pasien.

18 of 35

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERIMAAN DAN PENOLAKAN PEMBERIAN TPT

18

Yuan et al. (2023) di China – 60,3% mahasiswa ILTB di Shandong menolak melanjutkan TPT meskipun awalnya setuju; menunjukkan kesenjangan besar antara penerimaan dan kepatuhan.

Shaare-Zedek Hospital di Israel (2021) – Hanya 16% tenaga kesehatan dengan TST positif bersedia memulai TPT; dari yang memulai, 87% berhasil menyelesaikan terapi.

Bidashimwa et al. (2024) di Kongo – Pada ODHIV dengan ILTB, penyelesaian TPT mencapai 61,5% (3.457 dari 5.625).

19 of 35

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERIMAAN DAN PENOLAKAN PEMBERIAN TPT

19

Assefa et al. (2022, Ethiopia) – Hambatan utama : stock-out obat, rendahnya kesadaran pasien, skrining rumit, pengetahuan tenaga kesehatan kurang, dan lemahnya monitoring.

Singh et al. (2017, India) – Kesadaran orang tua rendah, skrining sulit, pasokan INH tidak stabil, pemantauan lemah

Wambiya et al. (2018, Kenya) – Penerimaan TPT dipengaruhi faktor struktural, intervensi, tenaga kesehatan, pasien, dan organisasi.

20 of 35

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERIMAAN DAN PENOLAKAN PEMBERIAN TPT

20

Teklay et al. (2016, Ethiopia) – Implementasi TPT rendah; gangguan pasokan obat dapat memicu resistensi; perlu keterlibatan tenaga kesehatan dan penguatan sistem.

Hedges et al. (2024, AS) –Alasan penerimaan: regimen singkat (56%), cegah TB aktif (45%). Alasan penolakan: preferensi terapi standar (17%), tidak tertarik obat penelitian (13%), ketidaknyamanan pengawasan harian (12%).

21 of 35

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERIMAAN DAN PENOLAKAN PEMBERIAN TPT

21

Wang et al., 2023–2024 (Shenzhen) 🡪 Penerimaan: takut berkembang TB aktif (69%), ingin kurangi risiko (46%), rekomendasi dokter (43%). Penolakan: takut efek samping (9%), merasa risiko rendah (7%).

Stuurman et al. (2016) – Kepatuhan meningkat dengan regimen lebih singkat, konseling, pendampingan sosial, dukungan finansial, edukasi tenaga kesehatan, dan solusi digital.

22 of 35

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERIMAAN DAN PENOLAKAN PEMBERIAN TPT

22

Karakteristik Intervensi

Durasi terapi yang panjang menurunkan kepatuhan.

Long-acting injectable (LAI) bedaquiline menunjukkan efek antituberkulosis hingga >12 minggu (Kashik et al., 2020).

LAI berpotensi meningkatkan penyelesaian TPT.

23 of 35

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERIMAAN DAN PENOLAKAN PEMBERIAN TPT

23

Anamnesis dan monitoring laboratorium penting.

Status pekerjaan dan kunjungan berkaitan dengan uptake IPT (Tuwa et al., 2024).

Hambatan: kepatuhan rendah, beban obat banyak, tidak ada monitoring kepatuhan.

Gender: perempuan cenderung lebih menerima TPT; hasil berbeda antar studi.

Faktor Pasien

24 of 35

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERIMAAN DAN PENOLAKAN PEMBERIAN TPT

24

Pengetahuan rendah → persepsi risiko rendah → menolak TPT.

Sikap negatif terhadap terapi → ketidakpatuhan.

Dukungan sosial/keluarga penting; stigma masyarakat menghambat.

Akses layanan jauh → lebih mungkin menolak terapi.

Faktor Pasien

25 of 35

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERIMAAN DAN PENOLAKAN PEMBERIAN TPT

25

Faktor Tenaga Kesehatan

Kebijakan & Sistem: TPT terhambat oleh dukungan kebijakan yang lemah, pedoman tidak jelas, pelatihan kurang, dan layanan TB–HIV yang belum terintegrasi.

Fasilitas & Tenaga Kesehatan: Stok isoniazid tidak stabil dan penerimaan TPT oleh tenaga kesehatan masih rendah.

Edukasi: Edukasi dan konseling tenaga kesehatan berperan besar dalam meningkatkan penerimaan TPT.

26 of 35

HEALTH BELIEF MODEL (HBM)

26

Dikembangkan tahun 1950-an untuk meningkatan efektivitas program kesehatan 🡪 menekankan bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi keyakinan, bukan sekadar faktor demografi.

Inti HBM 🡪 keyakinan 🡪 persepsi kerentanan, keparahan/konsekuensi, manfaat membentuk keputusan seseorang untuk bertindak/motivasi.

HBM efektif memprediksi perilaku preventif dan kepatuhan, serta digunakan >50 tahun untuk merancang intervensi dan memodifikasi keyakinan pasien.

27 of 35

HEALTH BELIEF MODEL (HBM)

27

Rosenstock tahun 1974 di Amerika Serikat

    • Penelitian pertama mengenai HBM mengenai partisipasi dalam pemeriksaan rontgen tuberkulosis.
    • Persepsi kerentanan terhadap tuberkulosis dan keyakinan bahwa penderita dapat tidak menunjukkan gejala sehingga skrining menjadi bermanfaat 🡪 alasan pasien melakukan pemeriksaan rontgen dada

28 of 35

HEALTH BELIEF MODEL (HBM)

28

Perceived Susceptibility

    • Persepsi tentang seberapa besar risiko diri/keluarga terkena penyakit
    • Semakin tinggi risiko yang dirasakan, semakin besar motivasi melakukan pencegahan.

Perceived Severity

    • Keyakinan tentang seberapa serius penyakit dan dampaknya
    • Dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman pribadi/lingkungan.

29 of 35

HEALTH BELIEF MODEL (HBM)

29

Perceived Threat

    • Kombinasi antara perceived susceptibility dan perceived severity
    • Semakin besar ancaman yang dirasakan, semakin besar kemungkinan seseorang mengambil tindakan preventif atau kuratif

30 of 35

HEALTH BELIEF MODEL (HBM)

30

    • Hambatan yang dirasakan untuk melakukan perilaku sehat (biaya, ketidaknyamanan, risiko).
    • Semakin besar hambatan yang dipersepsi, semakin rendah kemungkinan tindakan dilakukan.

Perceived Barriers

    • Keyakinan bahwa tindakan kesehatan memberi manfaat nyata dan mengurangi risiko.
    • Meningkatkan motivasi ketika manfaat jelas dan diyakini efektif.

Perceived Benefits

31 of 35

HEALTH BELIEF MODEL (HBM)

31

Self-efficacy

Keyakinan individu bahwa ia mampu melakukan perilaku sehat yang diperlukan.

Penting untuk keberhasilan perubahan perilaku dan mengatasi hambatan.

Cues to Action

Pemicu internal/eksternal yang mendorong seseorang bertindak (media, edukasi, pengalaman).

Efektif bila individu sudah yakin mampu dan memahami manfaat tindakan

32 of 35

32

Gambar 4. Health Belief Model.

Conner Mark and Paul Norman. Predicting and changing health behaviour. Research and practice with social cognition models 3rd edition. New York: McGraw-Hill; 2015. p. 30-69.

33 of 35

SIMPULAN

33

Terapi pencegahan tuberkulosis berperan penting dalam memutus rantai transmisi TBC laten menjadi TBC aktif terutama pada kelompok berisiko tinggi.

Tingkat kesediaan memulai TPT masih rendah ditambah adanya kesenjangan antara penerimaan awal dan kepatuhan terhadap TPT.

Penerimaan TPT dipengaruhi oleh faktor karakteristik intervensi, faktor tenaga kesehatan, faktor pasien, dan faktor struktural.

34 of 35

SIMPULAN

34

Integrasi TPT dengan program nasional penanggulangan TBC dan terapi HIV merupakan strategi efektif untuk mencapai target eliminasi TBC.

Health belief model merupakan model pendekatan psikologi yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas program promosi kesehatan berlandaskan sikap serta keyakinan individu dalam bertindak terutama dalam konteks kesehatan.

35 of 35

TERIMA KASIH

35