1 of 19

TEKAD UNTUK TIDAK BERKATA YANG TIDAK BENAR

Upc. Ariya P.Candra., S.Kom., M.Ti

Published On : https://www.dhammaeveryday.cf/

2 of 19

Introduction

3 of 19

Name : Ariya P.C, S.Kom., M.Ti., M.Pd(c)

Address : Perum Taman Cibodas

Telp : 087777-164-999

Education

Master Of Buddhist Education ( S2 ) Sriwijaya State Buddhist College - Tangerang( On Progress )

Master Of Technical Information ( S2 )Rahrja University - Tangerang

Bachelor OF Technical Information ( S1 ) Buddhi Dharna University - Tangerang

4 of 19

My Occupation

  • Lecturer of Informatics Study Program At LIA University 2024 - Current
  • Instructor Cyber Learning Course Juni 2021 – Current
  • Teacher Multimedia Of Sekolah Bunda Mulia 2022-2023
  • etc

5 of 19

Musāvādā Veramaṇi Sikkhāpadaṁ Samādiyāmi

Aku bertekad akan melatih diri menghindarikan diri dari berbohong. Seorang umat awam hendaknya menghindari perkataan yang tidak benar dan selalu mengucapkan kata-kata yang sopan. Sehingga, di dalam hidup bermasyarakat akan tercipta suasana yang tenang, karena tidak ada kebohongan di antara semuanya. Musavada telah terjadi bila terdapat empat faktor yang terdiri dari:

  • Sesuatu atau hal yang tidak benar.
  • Mempunyai niat untuk menyesatkan.
  • Berusaha untuk menyesatkan.
  • Orang lain jadi tersesat.

6 of 19

Dalam Dhammpada

“Seseorang seharusnya mengucapkan hanya ucapan yang menyenangkan, ucapan yang disambut dengan gembira. Ketika diucapkan tidak membawa keburukan, apa yang diucapkan adalah menyenangkan bagi orang lain”.

(Saṁyutta Nikāya, 2010 : 287)

7 of 19

KAKACUPAMA SUTTA�Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya I,

“न चेव नो चित्तं विपरिणतं भविस्सति, न च पापिकं वाचं निच्छारेस्साम, हितानुकम्पी च विहरिस्साम मेत्तचित्ता, न दोसन्तरा। तञ्‍च पुग्गलं मेत्तासहगतेन चेतसा फरित्वा विहरिस्साम, तदारम्मणञ्‍च सब्बावन्तं लोकं मेत्तासहगतेन चित्तेन विपुलेन महग्गतेन अप्पमाणेन अवेरेन अब्याबज्झेन [अब्यापज्झेन (सी॰ स्या॰ पी॰), अब्यापज्‍जेन (क॰) अङ्गुत्तरतिकनिपातटीका ओलोकेतब्बा] फरित्वा�विहरिस्सामा’ति। एवञ्हि वो, भिक्खवे, सिक्खितब्बं।”

‘na ceva no cittaṃ vipariṇataṃ bhavissati, na ca pāpikaṃ vācaṃ nicchāressāma, hitānukampī ca viharissāma mettacittā, na dosantarā. Tañca puggalaṃ mettāsahagatena cetasā pharitvā viharissāma, tadārammaṇañca sabbāvantaṃ lokaṃ mettāsahagatena cittena vipulena mahaggatena appamāṇena averena abyābajjhena pharitvā viharissāmā’ti. Evañhi vo, bhikkhave, sikkhitabbaṃ.

8 of 19

KAKACUPAMA SUTTA�Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya I,

Pikiran kami teguh dan tidak akan terpengaruh oleh Ucapan yang tidak luhur, Tidak pula berucap dikarenakan rasa takut ataupun karena berpikir bahwa hal itu menguntungkan diri sendiri [keterpihakan].

kami akan membiarkan batin ini senantiasa dalam kedamaian, rasa persahabatan serta keramahan, bukan sebaliknya didalam yang jahat dan tidak luhur. Biarlah batin ini sepenuhnya berdiam didalam cinta kasih, Sebuah kesadaran – pencerahan batin yang agung dan luhur didalam kasih sayang,�Yang dikembangkan dengan baik dalam batin ini, yang diarahkan kesegenap alam secara merata, luas tak terbatas

Tanpa adanya rasa permusuhan ataupun kedengkian yang tersisah,�Tanpa adanya kekejaman atau niat melukai sedikitpun.�Namun, sepenuhnya berdiam didalam kedamaian dan kebaikan.

Demikianlah O para bhikkhu, engkau sekalian seharusnya melatih diri.

9 of 19

KAKACUPAMA SUTTA�Sumber : Sutta Pitaka Majjhima Nikaya I,

Tetapi seorang bhikkhu mudah dikoreksi bila ia menghormat, memuja dan sujud pada Dhamma. Itulah sebabnya, para bhikkhu harus melatih diri: ‘Kami akan mudah dikoreksi karena menghormat, memuja dan sujud pada, Dhamma.’

Para bhikkhu, ada lima macam ucapan yang mungkin ditujukan orang lain kepadamu; mereka berbicara :

    • pada waktu tepat atau pada waktu tidak tepat.
    • benar atau tidak benar.
    • lembut atau kasar.
    • berhubungan dengan kebaikan atau mencelakakan.
    • disertai dengan pikiran cinta kasih atau benci.

10 of 19

Bila ada orang berbicara dengan lima macam ucapan itu, para bhikhu harus melatih diri mereka: ‘Pikiran kami tidak akan terpengaruh, kami tidak akan mengucapkan kata-kata buruk dan kami akan tetap penuh kasih sayang demi kesejahteraan (banyak orang) dengan pikiran diliputi cinta kasih tak ada kebencian. Kami akan memancarkan pikiran cinta kasih kepada orang itu; kami akan meliputi diri dengan cinta kasih yang banyak, penuh dan tak terbatas tanpa kejahatan atau iri hati untuk semua makhluk di alam semesta ini, sebagai obyeknya.’

Demikian pula, bila ada penjahat yang dengan buas memotong tangan dan kaki dengan gergaji, ia yang membangkitkan kebencian karena hal itu tidak akan dapat melaksanakan ajaranku. Inilah caranya kamu sekalian harus melatih diri: ‘Pikiran kami tidak akan terpengaruh, kami … untuk semua makhluk di alam semesta ini sebagai obyeknya.’�Para bhikkhu, ingatlah selalu uraian ini sebagai Perumpamaan Gergaji.

11 of 19

Musāvādā Veramaṇi Sikkhāpadaṁ Samādiyāmi��PENERAPAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI – HARI�DANLINGKUNGAN KERJA SEBAGAI PENDIDIK

12 of 19

Musāvādā Veramaṇi Sikkhāpadaṁ Samādiyāmi

Dalam kehidupan sehari-hari kita hendaknya berbicara dengan benar dan gembira. Suatu perkataan itu mengandung makna dan bermanfaat. Sehingga orang yang mendengar akan senang dengan ucapan kita. Dalam Kakacūpama Sutta, Majjhima Nikāya 1, Buddha mengatakan bahwa, ucapan benar dapat terjadi apabila terdapat lima syarat sebagai berikut:

  • Ucapan itu tepat pada waktunya.
  • Ucapan itu sesuai kebenaran.
  • Ucapan itu lembut.
  • Ucapan itu bermanfaat.
  • Ucapan itu penuh cinta kasih.

13 of 19

Dalam Suttapittaka

Abhaya Sutta (Majjhima Nikāya 58)

Dalam sutta ini, Buddha mengatakan:

“Perkataan yang benar adalah yang sesuai waktu, sesuai kebenaran, lembut, bermanfaat, dan diucapkan dengan cinta kasih.”

Jadi, perkataan kasar dikategorikan sebagai ucapan salah (musāvāda), yang meliputi:

  • Ucapan tidak benar�
  • Ucapan memecah belah�
  • Ucapan kasar (pharusavācā)�
  • Ucapan sia-sia (samphappalāpa)

14 of 19

Dalam Suttapittaka

Vitakkasanthāna Sutta (Majjhima Nikāya 20)Dalam sutta ini, Buddha menjelaskan cara mengatasi pikiran-pikiran yang tidak bermanfaat, termasuk niat untuk berkata kasar.

15 of 19

Contoh Perkataan Kasar (Pharusavācā) dalam Konteks Sekolah SMP

Dalam konteks ini, kata-kata kasar yang sering dijumpai dan dikritik dalam ajaran Buddha bisa berupa:

  • Menghina teman: “Kamu bodoh!”, “Dasar pemalas!”, “Gak berguna banget sih kamu!”�
  • Mengolok secara fisik: “Ih, gendut banget kamu!”, “Kulit kamu hitam banget!”�
  • Ucapan penuh kemarahan: “Aku benci kamu!”, “Sana pergi, nyebelin!”�
  • Menyumpahi: “Semoga kamu jatuh besok!”, “Semoga nilai kamu jelek!”�

Perkataan seperti ini melukai hati, merusak hubungan, dan menciptakan konflik, serta bertentangan dengan sila ketiga dari Ucapan Benar dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhaṅgika Magga).

16 of 19

Musāvādā Veramaṇi Sikkhāpadaṁ Samādiyāmi

Penjelasan di atas merupakan syarat dari Ucapan Benar. Seorang umat Buddha sebaiknya melakukan suatu pengucapan sesuai lima syarat di atas. Ucapan benar akan menimbulkan Kebijaksanaan, menciptakan perdamaian, dan menjauhkan perpecahan.

Ucapan yang tidak benar ini akan menimbulkan Kamma buruk bagi pelakunya. Pelaku bisa tidak dipercayai oleh orang lain dan menderita karena dia telah mengucapkan perkataan yang tidak benar. Untuk itu hindarilah ucapan berbohong dan selalu mengucapkan kata-kata yang benar dan bermanfaat.

17 of 19

Nasihat Buddha untuk Anak-anak dan Remaja

Meskipun tidak spesifik kepada siswa SMP/SMA/K, ajaran Buddha kepada para anak muda, seperti dalam Mangala Sutta, menyarankan:

  • Berteman dengan orang bijak�
  • Berbicara dengan lemah lembut�
  • Memiliki pengendalian diri

18 of 19

HIPOTESA / Kesimpulan

Sebagi Pendidik hendaknya kita menyampaikan kata-kata atau kalimat – kalimat yang berguna bagi siswa/i seperti:

    • Ilmu yang kita telah pelajari atau mata pelajaran yang akan di berikan
    • Kalimat motivasi dan inovasi
    • Kalimat yang Tidak menyudutkan atau menjudges atau membuat kecewa atau mengintimidasi siswa/I

Sebagai umat awam kita hendaknya melakukan hal hal tersebut:

    • Ucapan itu tepat pada waktunya.
    • Ucapan itu sesuai kebenaran.
    • Ucapan itu lembut.
    • Ucapan itu bermanfaat.
    • Ucapan itu penuh cinta kasih.

Serta Menjalankan Pancasilla Buddhist dan Pancadharma atau Attasilla

19 of 19

Closing

Bila orang bodoh dapat menyadari kebodohannya, maka ia dapat dikatakan bijaksana; tetapi bila orang bodoh yang menganggap dirinya bijaksana, sesungguhnya dialah yang disebut orang bodoh.�( Dhammapada V, 4 )

Walaupun hanya sesaat saja orang pandai bergaul dengan orang bijaksana, namun dengan segera ia akan dapat mengerti Dhamma, bagaikan lidah yang dapat merasakan rasa sayur.�( Dhammapada V, 6 )

TERIMA KASIH