Standarisasi Rumah
Tahan Bencana di
Pulau Timor
Harmoni Arsitektur Vernakular
& Resiliensi Modern
“Tim Tuan Tanah”
OUTLINE
PENDAHULUAN
METODOLOGI
BENCANA DI PULAU TIMOR
UME KBUBU
UMA PANGGUNG
REKOMENDASI/KONSTRUKSI TAHAN BENCANA
CONTOH RUMAH MODERN MENGADAPTASI KONSEP RUMAH ADAT
REGULASI
PENDAHULUAN
Harmoni Rumah Adat
di Tengah Tantangan Alam
Tantangan Geografis
& Risiko Alam
Topografi Perbukitan Karst
yang Curam
Dominasi pegunungan lipatan dan lereng curam
memicu instabilitas tanah, erosi, serta
mempercepat aliran permukaan (run-off).
Iklim Tropis Muson &
Semi-Arid
Kapasitas retensi air yang rendah pada
batuan kapur menyebabkan
kerentanan terbadap kekeringan ekstrem
sekaligus banjir saat hujan lebat.
Variabilitas Curah
Hujan Ekstrem
Meskipun curah hujan tahunan
rendah (1.000-1.500 mm), intensitas
ekstrem sering tarjadi selama
musim hujan (November-April).
Tren Data Bencana
(2020-2024)
2021
Lonjakan Drastis
Tahun 2021
Tercatat 14 kejadian
banjir dan 6 kejadian
tanah longsor, dengan
Kabupaten Kupang
sebagai titik terdampak
paling parah.
2023
Puncak Bencana
Tahun 2023
Tahun dengan intensitas
tertinggi: 25 cuaca
ekstrem, 12 banjir, 5
gempa bumi, dan 10
kebakaran hutan/lahan.
Wilayah Hotspot
Bencana
Kabupaten Kupang (frekuensi
tertinggi), serta Belu dan Malaka
yang menjadi langganan banjir
luapan sungai.
Arsitektur Vernakular:
Kearifan Lokal yang Adaptif
Teknologi Adaptasi Alami
Bentuk dan material bangunan tradisional telah
teruji secara empiris selama berabad-abad
dalam menghadapi karakteristik alam Timor.
Rumah Panggung Belu &
Malaka
Adaptasi Ruvial dengan elevasi panggung
2-3 meter agar air banjir dapat mengalir bebas
di bawah rumah tanpa merusak struktur.
Ume Kbubu
(Rumah Bulat)
Masa Depan &
Regulasi Bangunan
Integrasi Teknologi
Tradisional
Pentingnya menggabungkan
kearifan lokal ke dalam desain
hunian modern untuk
meningkatkan ketangguhan
permukiman.
Kepatuhan terhadap
Standar Nasional
Upaya sinkronisasi teknologi
vernakular dengan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dan PP No. 16/2021.
Tipe Penelitian:
Library Research
Menggunakan pendekatan
konseptual yang lazim digunakan
untuk menganalisis atau
mengembangkan konsep dan
teori arsitektur berdasarkan
literatur.
Sumber Data Utama
Data bersumber dari penelitian
terduhulu yang dipublikasi dalam
bentuk buku, jurnal ilmiah, serta
dokumen laporan penelitian
lapangan mengenai rumah
tradisional di Pulau Timor.
Kategorisasi Data
Data yang telah diunduh
di-review dan dikelompokkan
berdasarkan tiga kriteria utama ::
bentuk rumah tradisional, lokasi
geografis, dan kaitannya
dengan bencana.
TAHAP 1:
FONDASI &
JENIS DATA
METODELOGI
Penelusuran
Database Akademik
Pengumpulan data dilakukan
melalul tigo pangkalon data
utama yaitu Google Scholar,
ScienceDirect, dan Jumbi Sinta.
Kata Kunci
Pencarian Khusus
Pencarian difokuskan poda
istliah spesifik: Rumah Adat, Suku Tetun, Suku Dawan, Suku Helong, Bencana, dan Pulau Timor.
Interpretasi dan
Penyajian Akhir
Tahap akhir melibatkan interpretasi
mendalam untuk menjawab tujuan studi,
yang kemudian disajikan dalam bentuk
narasi serta gambar atau infografik.
BENTUK
RUMAH
TAHAP 2 : TEKNIK PENGUMPULAN DATA
TAHAP 3 : ANALISIS & INTERPRETASI
LOKASI GEOGRAFIS
KAITAN BENCANA
Lonjakan
Tanah Longsor
(5 kali di Kab. Kupang)
Bencana Alam Pulau Timor 2020-2024:
Tren, Risiko, dan Karakteristik Wilayah
Karakteristik Geografis & Iklim (Latar Belakang)
Didominasi perbukitan struktural
dan pegunungan lipatan, memicu
instabilitas tanah, limpasan air,
hujan cepat, dan risiko longsor
tinggi.
Iklim Tropis
Muson
Dua musim kontras, curah
hujan tahunan 1.000-1.300 mm;
kecapatan angin meningkat
di masa peralihan, memicu
cuaca ekstrem.
Tanah berbahan induk kapur,
kandungan organik rendah,
kapasitas simpan air terbatas,
memicu risiko kekeringan dan
kebakaran hutan.
2022
Garis Waktu Tren Bencana 2020-2024
2020
Banjir
Kebakaran
Hutan
TTU dan Malaka
Cuaca Ekstrem
Belu, Malaka, dan
Kotu Kupang
Awal Periode Pemantauan
Lonjakan signifikan tanah longsor
dan banjir merata di hampir
seluruh kabupaten/kota.
Dominasi Banjir di Kabupaten Kupang
Kabupaten Kupang
mencatat frekuensi tertinggi yaitu 10 kali kejadian banjir dalam satu tahun.
Variasi Bencana Tertinggi (Puncak Kerentanan)
Gempa
Bumi
Longsor
Banjir
11 kali
Kekeringan
Kebakaran
Hutan
Cuaca Ekstrem
di Kab. Kupang
Perbandingan Kejadian Bencana Puncak (2023)
Kabupaten/Kota
Cuaca Ekstrem
Kebakaran Hutan/Lahan
Lainnya
Kab. Kupang
7
11
4
Gempa, Longsor,
Kekeringan
Belu
2
8
5
Kota Kupang
0
1
Gempa
TTU
2
2
0
TTS
0
0
Gempa
Kelanjutan Risiko
Hidrometeorologi
Tanah Longsor dan Banjir
TTS dan Malaka
Cuaca Ekstrem
terus berlanjut di
Kabupaten Kupang
Kerentanan Spesifik
Tingginya angka kejadian dipengaruhi oleh kondisi
DAS dan kelerengan yang mempercepat erosi serta
limpasan permukaan saat curah hujan tinggi.
Karakteristik Tanah
Semi-Arid
Topografi Perbukitan
Kapur & Lereng Curam
2021
2022
Wilayah Paling Rawan: Kabupaten Kupang
Frekuensi Kejadian Tertinggi
Kabupaten Kupang konsisten menjadi wilayah
paling sering terdampak banjir, tanah longsur,
kebakaran lahan, dan cuaca eketrem.
Banjir
Tungku pusat (api abadi)/ penghangat ruang
Tempat berkumpul keluarga
Memasak
Tempat ibadah/aktivitas spiritual
Tempat istirahat/ tempat tidur di tepi dinding
Ruang Atas (Loteng/Para-para)
Penyimpanan jagung & hasil panen
Pengasapan alami
Proteksi dari kelembaban & hama
Resiliensi & Kosmologi:
Arsitektur Vernakular
Rumah Adat di Malaka
Uma Laran (Dunia Manusia)
Roang tengah, pusat kehidupan
saalal, musyawarah, ritual atlat,
dan tempat tinggal manusia.
Labis Leten
& Labis Kraik
Kakuluk/Kahal (Dunia Leluhur)
Loteng sakrel, penyimpanan benda
pusaka, loteng lumbung, simbui surga/
kediaman roh leluhur.
Ha'i Matan (Tungku Api)
Area dapur, pusat aktiaitas
domestik, dipisakkan oleh
sekat papan kayu rendah.
Ketahanan Gempa
(Seismic Resilience)
Sistem Sambungan Fleksibel (Ductility)
Menggunakan teknik sambungan kayo
dengan pen dan pengikat stap yang
bersifat flaksibal, meniungkinkan
bongunan bergerak elastis mengikuti
guncangan tanpa patah.
Pondasi Batu Umpak
Tinng kayu dilatakkan di atas batu umpak
(pondari permukaan), yang
memungkinkan terladinya pergeseran
laterai yang terkontrol untuk meredam
energi gempa.
Ha'i Matan
(Tungku Api)
Area dapur, pusat aktivitas
domestik, diplcafikan oleh
sehat papan kayu rendah.
Ohak/O'hak
(Dunia Hewani & Bawah)
Area kolong, penyimpanan
alat tam, kayu bakar, ternak;
simbol dunia bawah.
Penggunaan Kayu Ai Tasi (Bakau)
Kolom utama menggunakan kayu
Bebau yang songal tohan terhadap
kelambapan tinggi dan tidak mudah
busuk meskipun terendam air atau
ditanam di tanah rewa.
Adaptasi Banjir
(Fluviui Resilience)
Struktur Panggung Tinggi
(2-3 Meter)
Ketinggian bolong rumah yang mencapai
2-3 meter memungkinkan air panjir
mengalir bebas di bawah struktur
secara signifikan mengurengi beban
hidrostatik yang dapat merusak
bangunan.
Pengurangan Beban Hidrostatik
Area kolong yang terbuka berfungsi
sehapai ruang resapan air.
memhamsikan hahibatan laju air saat
terjadi luapan sungal.
Rumah Panggung di Malaka
Sumber : Bria dan Suartika (2022)
Pola pembagian ruang
Pola Ruang Uma
Proyeksi Axonometri Ruang dalam Uma
Matenkes
(Penjepit Atap Ilalang) (Silang Bambu Simbol
Kebangsawanan)
Uma di Nualain (Lamaknen-Kabupaten Belu)
Penzoningan vertikal tata ruang dalam rumah adat Nualain
Penzoningan horizontal tata ruang dalam rumah adat Nualain
Potongan rumah adat Nuallain
Uma di Duarato (Kabupaten Belu)
Sumber : Rema dan Bagus (2020)
Uma di Matabesi (Lidak-Atambua Kabupaten Belu)
Sumber : Debri dan Dima (2020)
Tata ruang secara horisontal rumah induk
Tata ruang secara vertikal rumah induk
Dissipasi Energi
(Bangunan Bergoyang
saat Gempa)
Perbandingan Konstruksi Vernakular Rumah Adat Tradisional
di Malaka dan Belu
Konstruksi Vernakular di Malaka (Uma)
Tiang Agung (Rih Hun)
✓ Mirplat
Tiang Penyangga dan lata & Las golett
(balok horizontal + siku diagonal)
Bubungan Rumah
Usuk
✓ Sistem Terpusat & Ikatan Melingkar
✓ Tahan Gempa
✓ Tahan Gempa
✓ Distribusi Beban Pusat
Konstruksi Vernakular di Belu
A. Uma Nualain
• Pondósi Batu alam
Kayu keras
Tiang & rangka
Dinding papan/bambu
Atap alang slang/tontar
B. Uma Duarato (11 Tiang Utama)
⚫ Rumah Panggung
Multi-Tiang
Perbandingan Utama
Malaka
Uma Duarato Belu
Rumah Panggung Multi-Tiang
✓ Pasak Kayu Tanpa Paku
✔Adaptif Terhadap Gempa dan Banjir
Rumah Panggung Multi-Tiang
✓ Pasak Kayu Tanpa Paku
✓ Adaptif Terhadap Gempa & Banjir
Belu
Aspek
Sistem Struktur
• Sistem Sambungan
• Resiliensi Gempa
Resiliensi Banijr
Terpusat (2 Tiang Agung + 8 Penyangga)
Ikatan & Pemaku Diagonal
Stabil, Core & Ikatan Melingkar
Panggung
⚫ Distribusi Beban
Terpusat
11 Tiang utama dan 4 tiang penopang 10 Tiang Utama
Pasak Kayu Tanpa Paku
Fleksibel, Banyak Titik Tumpu
Panggung Tinggi
Menyebar
Pasak Kayu Tanpa Paku
Fleksibel, Banyak Titik Tumpu
Panggung Tinggi
Menyebar
Kearifan Lokal untuk Ketahanan Bencana
Malaka →Stabilitas Terpusat Belu Fleksibilitas & Distribusi Beban
Potensi Adaptasi Rumah Adat untuk Hunian Modern
Model Tahan Angin & Gempa
Bentuk aerodinamis (bundar/perahu terbalik) dan struktur lentur dari
material kayu/bambu menciptakan hunian yang adaptif terhadap
guncangan dan tekanan angin ekstrem.
Adaptasi Kearifan Lokal
Masyarakat Belu dan Malaka memiliki tradisi rumah adat yang secara struktur sudah mengenal konsep pemisahan beban
Konsep Eco-Architecture
Material lokal (kayu, bambu, alang-alang) tersedia di sekitar lingkungan.
Proses konstruksi minim energi industri, jejak karbon rendah, selaras
dengan arsitektur berkelanjutan.
Mitigasi Banjir Luapan
Konstruksi panggung memberikan ruang bebas di bawah lantai (kolong) yang memungkinkan air mengalir tanpa merusak struktur utama hunian.
8°
Sirkulasi Udara dan Kesehatan
Desain panggung meningkatkan ventilasi silang, mengurangi kelembapan lantai saat musim hujan, yang penting untuk kesehatan lingkungan di iklim tropis kering NTT.
Keunggulan Komparatif
Biaya konstruksi 40-60% lebih rendah dari rumah konvensional
Waktu pembangunan 2-3x lebih cepat
Perawatan dapat dilakukan oleh penghuni sendiri
Daur ulang material 80-90% dapat terdegradasi alami
Tantangan Adaptasi Rumah Adat untuk Hunian Modern
Kelangkaan Material Berkualitas:
Penggunaan kayu muda atau kualitas rendah berisiko pada daya tahan struktur jangka panjang.
Biaya Perawatan
Masalah Degradasi (Rayap & Lapuk):
Iklim di Belu dan Malaka yang fluktuatif (sangat kering ke sangat basah) mempercepat pelapukan kayu dan serangan rayap jika tidak ada proses pengawetan material yang tepat.
Mitigasi Banjir Luapan
Perubahan Budaya (Modernisasi): Ada persepsi di masyarakat bahwa rumah tembok (permanen) lebih menunjukkan status sosial lebih tinggi dibandingkan rumah panggung kayu yang dianggap "tradisional" atau "sementara".
8°
Biaya Perawatan: Rumah tahan bencana berbahan alami membutuhkan perawatan berkala pada sambungan dan proteksi material.
Contoh Desain rumah panggung tahan banjir yang dirancang untuk Desa Fahiluka, Kabupaten Malaka
Mauritius Ildo Rivendi Naikofi, Azarya Bees, Yovinia Carmeneja Hoar Siki, Januarya Pangu Loda, Eugenius Yansen Nurak, Budy Benyamin Lily, Godefridus Alfredo Abnit, Rikardus Sabon Doni. 2024. Desain Bangunan Rumah Tinggal Sederhana Tanggap Bencana Banjir Di Desa Fahiluka Kabupaten Malaka JABB, Vol. 5 No. 2 2024, DOI: 10.46306/jabb.v5i2.
1. Bentuk Bangunan: Model Rumah Panggung: Desain ini mengadopsi bentuk rumah panggung tradisional khas Kabupaten Malaka yang disesuaikan dengan kebutuhan modern. Dimensi dan Luas: Bangunan dirancang dengan luas total 54 m². Berdasarkan denah, dimensi utama bangunan adalah 6,00 x 9,00 meter. Tinggi Panggung: Tinggi panggung ditetapkan sebesar 2,5 meter. Angka ini ditentukan berdasarkan hasil pemodelan banjir dengan kala ulang 25 tahun yang menunjukkan tinggi banjir maksimum di lokasi tersebut bisa mencapai 2,5 meter.
2. Struktur Bangunan: Material Utama: Meskipun terinspirasi dari rumah tradisional, elemen struktur bangunan ini menggunakan beton bertulang untuk meningkatkan ketangguhan terhadap aliran air dan material yang dibawa banjir. Pondasi: Menggunakan pondasi telapak (footing foundation). Pemilihan ini sangat penting karena kondisi tanah di lokasi didominasi oleh material pasir (82,7%) dan cenderung lunak jika terendam air, yang berisiko menyebabkan penurunan pondasi jika tidak dirancang dengan kuat. Ketahanan: Struktur ini dirancang untuk mampu menahan kecepatan aliran banjir rata-rata sebesar 0,9 m/detik.
3. Desain dan Fungsi Ruang: Pembagian Ruang: Interior rumah dibagi menjadi beberapa area fungsional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, meliputi: Ruang Tamu, Ruang Keluarga/Ruang Makan, Kamar Tidur (dua ruangan), Dapur, Teras (depan dan belakang), KM/WC. Ruang Loteng: Desain juga mencakup ruang loteng di bawah atap yang bisa digunakan sebagai area tambahan. Akses: Dilengkapi dengan tangga di bagian depan dan belakang untuk mengakses lantai utama yang berada di ketinggian 2,5 meter.
Desain Rumah Tahan Banjir
Filosofi Desain: Desain ini merupakan hasil inovasi yang memadukan material modern dengan kearifan lokal, bertujuan untuk melestarikan budaya setempat sekaligus memberikan hunian yang aman dari bencana.
Contoh Desain Rumah Bulat Modern
Frion J. K. Pelang, Jakobis J. Messakh dan Roly Edyan. 2024. PENGEMBANGAN DESAIN RUMAH MODERN DENGAN MEMPERTAHANKAN KEARIFAN LOKAL RUMAH BULAT (UME KBUBU) TIMOR TENGAH SELATAN Jurnal Batakarang, Vol. 5, No. 1a, Edisi Maret 2024
Konstruksi Dasar dan dinding Rumah
Sub-struktur (Pondasi): Jenis: Menggunakan pondasi menerus. Material: Terbuat dari batu kali yang berfungsi sebagai penahan beban bangunan yang disalurkan dari struktur atas (dinding dan atap) ke tanah.
Super-struktur (Badan Bangunan)
Slof: Menggunakan slof beton bertulang dengan dimensi 15 cm x 20 cm. Fungsinya adalah untuk meratakan beban pondasi dan mengunci dinding agar tidak mudah roboh jika terjadi pergeseran tanah. Kolom: Menggunakan kolom beton bertulang dengan dimensi 15 cm x 15 cm. Kolom ini berfungsi sebagai penerus beban dari atap menuju pondasi. Ring Balok: Menggunakan ring balok berdimensi 15 cm x 20 cm sebagai pengikat susunan tembok dan meratakan beban dari struktur atap.
Contoh Desain Rumah Bulat Modern
Dinding: Material dinding menggunakan pasangan batako untuk menyokong atap, membagi ruangan, serta melindungi penghuni dari cuaca.
Contoh Desain Rumah Bulat Modern
Upper-struktur (Atap)
Rangka Atap: Menggunakan struktur baja ringan sebagai pengganti kayu tradisional. Baja ringan dipilih karena memiliki nilai muai-susut yang kecil, tahan api, tidak dimakan rayap, dan lebih ramah lingkungan.
Kemiringan: Atap didesain dengan kemiringan 45º.
Penutup Atap: Menggunakan alang-alang sintetis sebagai pengganti alang-alang alami. Material sintetis ini memiliki kelebihan berupa sifat tahan api, lebih rapat sehingga tidak bocor, tidak mengalami kelangkaan, dan lebih tahan lama,.
Deskripsi Interior
Material Finis dan Bukaan
Lantai: Menggunakan kombinasi keramik dan parket kayu untuk menghadirkan kesan natural,.
Kusen dan Pintu: Menggunakan kayu kelas II yang dikombinasikan dengan kaca.
Plafon: Terdapat ruang di atas plafon setinggi 6 meter yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar atau penyimpanan barang.
Ekosistem Tanah Bencana
Membangun Masa
Depan yang Berakar
Rumah yang selamat adalah rumah yang menghormati alam.
Standarisasi Kearifan Lokal untuk Kebijakan Formal NTT
Tim Tuan Tanah
2026