1 of 33

Standarisasi Rumah

Tahan Bencana di

Pulau Timor

Harmoni Arsitektur Vernakular

& Resiliensi Modern

“Tim Tuan Tanah”

2 of 33

OUTLINE

PENDAHULUAN

METODOLOGI

BENCANA DI PULAU TIMOR

UME KBUBU

UMA PANGGUNG

REKOMENDASI/KONSTRUKSI TAHAN BENCANA

CONTOH RUMAH MODERN MENGADAPTASI KONSEP RUMAH ADAT

REGULASI

3 of 33

PENDAHULUAN

Harmoni Rumah Adat

di Tengah Tantangan Alam

Tantangan Geografis

& Risiko Alam

Topografi Perbukitan Karst

yang Curam

Dominasi pegunungan lipatan dan lereng curam

memicu instabilitas tanah, erosi, serta

mempercepat aliran permukaan (run-off).

Iklim Tropis Muson &

Semi-Arid

Kapasitas retensi air yang rendah pada

batuan kapur menyebabkan

kerentanan terbadap kekeringan ekstrem

sekaligus banjir saat hujan lebat.

Variabilitas Curah

Hujan Ekstrem

Meskipun curah hujan tahunan

rendah (1.000-1.500 mm), intensitas

ekstrem sering tarjadi selama

musim hujan (November-April).

Tren Data Bencana

(2020-2024)

2021

Lonjakan Drastis

Tahun 2021

Tercatat 14 kejadian

banjir dan 6 kejadian

tanah longsor, dengan

Kabupaten Kupang

sebagai titik terdampak

paling parah.

2023

Puncak Bencana

Tahun 2023

Tahun dengan intensitas

tertinggi: 25 cuaca

ekstrem, 12 banjir, 5

gempa bumi, dan 10

kebakaran hutan/lahan.

Wilayah Hotspot

Bencana

Kabupaten Kupang (frekuensi

tertinggi), serta Belu dan Malaka

yang menjadi langganan banjir

luapan sungai.

Arsitektur Vernakular:

Kearifan Lokal yang Adaptif

Teknologi Adaptasi Alami

Bentuk dan material bangunan tradisional telah

teruji secara empiris selama berabad-abad

dalam menghadapi karakteristik alam Timor.

Rumah Panggung Belu &

Malaka

Adaptasi Ruvial dengan elevasi panggung

2-3 meter agar air banjir dapat mengalir bebas

di bawah rumah tanpa merusak struktur.

Ume Kbubu

(Rumah Bulat)

Masa Depan &

Regulasi Bangunan

Integrasi Teknologi

Tradisional

Pentingnya menggabungkan

kearifan lokal ke dalam desain

hunian modern untuk

meningkatkan ketangguhan

permukiman.

Kepatuhan terhadap

Standar Nasional

Upaya sinkronisasi teknologi

vernakular dengan UU No. 28/2002 tentang Bangunan Gedung dan PP No. 16/2021.

4 of 33

Tipe Penelitian:

Library Research

Menggunakan pendekatan

konseptual yang lazim digunakan

untuk menganalisis atau

mengembangkan konsep dan

teori arsitektur berdasarkan

literatur.

Sumber Data Utama

Data bersumber dari penelitian

terduhulu yang dipublikasi dalam

bentuk buku, jurnal ilmiah, serta

dokumen laporan penelitian

lapangan mengenai rumah

tradisional di Pulau Timor.

Kategorisasi Data

Data yang telah diunduh

di-review dan dikelompokkan

berdasarkan tiga kriteria utama ::

bentuk rumah tradisional, lokasi

geografis, dan kaitannya

dengan bencana.

TAHAP 1:

FONDASI &

JENIS DATA

METODELOGI

Penelusuran

Database Akademik

Pengumpulan data dilakukan

melalul tigo pangkalon data

utama yaitu Google Scholar,

ScienceDirect, dan Jumbi Sinta.

Kata Kunci

Pencarian Khusus

Pencarian difokuskan poda

istliah spesifik: Rumah Adat, Suku Tetun, Suku Dawan, Suku Helong, Bencana, dan Pulau Timor.

Interpretasi dan

Penyajian Akhir

Tahap akhir melibatkan interpretasi

mendalam untuk menjawab tujuan studi,

yang kemudian disajikan dalam bentuk

narasi serta gambar atau infografik.

BENTUK

RUMAH

TAHAP 2 : TEKNIK PENGUMPULAN DATA

TAHAP 3 : ANALISIS & INTERPRETASI

LOKASI GEOGRAFIS

KAITAN BENCANA

5 of 33

Lonjakan

Tanah Longsor

(5 kali di Kab. Kupang)

Bencana Alam Pulau Timor 2020-2024:

Tren, Risiko, dan Karakteristik Wilayah

Karakteristik Geografis & Iklim (Latar Belakang)

Didominasi perbukitan struktural

dan pegunungan lipatan, memicu

instabilitas tanah, limpasan air,

hujan cepat, dan risiko longsor

tinggi.

Iklim Tropis

Muson

Dua musim kontras, curah

hujan tahunan 1.000-1.300 mm;

kecapatan angin meningkat

di masa peralihan, memicu

cuaca ekstrem.

Tanah berbahan induk kapur,

kandungan organik rendah,

kapasitas simpan air terbatas,

memicu risiko kekeringan dan

kebakaran hutan.

2022

Garis Waktu Tren Bencana 2020-2024

2020

Banjir

Kebakaran

Hutan

TTU dan Malaka

Cuaca Ekstrem

Belu, Malaka, dan

Kotu Kupang

Awal Periode Pemantauan

Lonjakan signifikan tanah longsor

dan banjir merata di hampir

seluruh kabupaten/kota.

Dominasi Banjir di Kabupaten Kupang

Kabupaten Kupang

mencatat frekuensi tertinggi yaitu 10 kali kejadian banjir dalam satu tahun.

Variasi Bencana Tertinggi (Puncak Kerentanan)

Gempa

Bumi

Longsor

Banjir

11 kali

Kekeringan

Kebakaran

Hutan

Cuaca Ekstrem

di Kab. Kupang

Perbandingan Kejadian Bencana Puncak (2023)

Kabupaten/Kota

Cuaca Ekstrem

Kebakaran Hutan/Lahan

Lainnya

Kab. Kupang

7

11

4

Gempa, Longsor,

Kekeringan

Belu

2

8

5

Kota Kupang

0

1

Gempa

TTU

2

2

0

TTS

0

0

Gempa

Kelanjutan Risiko

Hidrometeorologi

Tanah Longsor dan Banjir

TTS dan Malaka

Cuaca Ekstrem

terus berlanjut di

Kabupaten Kupang

Kerentanan Spesifik

Tingginya angka kejadian dipengaruhi oleh kondisi

DAS dan kelerengan yang mempercepat erosi serta

limpasan permukaan saat curah hujan tinggi.

Karakteristik Tanah

Semi-Arid

Topografi Perbukitan

Kapur & Lereng Curam

2021

2022

Wilayah Paling Rawan: Kabupaten Kupang

Frekuensi Kejadian Tertinggi

Kabupaten Kupang konsisten menjadi wilayah

paling sering terdampak banjir, tanah longsur,

kebakaran lahan, dan cuaca eketrem.

Banjir

6 of 33

Tungku pusat (api abadi)/ penghangat ruang

Tempat berkumpul keluarga

Memasak

Tempat ibadah/aktivitas spiritual

Tempat istirahat/ tempat tidur di tepi dinding

Ruang Atas (Loteng/Para-para)

Penyimpanan jagung & hasil panen

Pengasapan alami

Proteksi dari kelembaban & hama

7 of 33

8 of 33

9 of 33

Resiliensi & Kosmologi:

Arsitektur Vernakular

Rumah Adat di Malaka

Uma Laran (Dunia Manusia)

Roang tengah, pusat kehidupan

saalal, musyawarah, ritual atlat,

dan tempat tinggal manusia.

Labis Leten

& Labis Kraik

Kakuluk/Kahal (Dunia Leluhur)

Loteng sakrel, penyimpanan benda

pusaka, loteng lumbung, simbui surga/

kediaman roh leluhur.

Ha'i Matan (Tungku Api)

Area dapur, pusat aktiaitas

domestik, dipisakkan oleh

sekat papan kayu rendah.

Ketahanan Gempa

(Seismic Resilience)

Sistem Sambungan Fleksibel (Ductility)

Menggunakan teknik sambungan kayo

dengan pen dan pengikat stap yang

bersifat flaksibal, meniungkinkan

bongunan bergerak elastis mengikuti

guncangan tanpa patah.

Pondasi Batu Umpak

Tinng kayu dilatakkan di atas batu umpak

(pondari permukaan), yang

memungkinkan terladinya pergeseran

laterai yang terkontrol untuk meredam

energi gempa.

Ha'i Matan

(Tungku Api)

Area dapur, pusat aktivitas

domestik, diplcafikan oleh

sehat papan kayu rendah.

Ohak/O'hak

(Dunia Hewani & Bawah)

Area kolong, penyimpanan

alat tam, kayu bakar, ternak;

simbol dunia bawah.

Penggunaan Kayu Ai Tasi (Bakau)

Kolom utama menggunakan kayu

Bebau yang songal tohan terhadap

kelambapan tinggi dan tidak mudah

busuk meskipun terendam air atau

ditanam di tanah rewa.

Adaptasi Banjir

(Fluviui Resilience)

Struktur Panggung Tinggi

(2-3 Meter)

Ketinggian bolong rumah yang mencapai

2-3 meter memungkinkan air panjir

mengalir bebas di bawah struktur

secara signifikan mengurengi beban

hidrostatik yang dapat merusak

bangunan.

Pengurangan Beban Hidrostatik

Area kolong yang terbuka berfungsi

sehapai ruang resapan air.

memhamsikan hahibatan laju air saat

terjadi luapan sungal.

10 of 33

Rumah Panggung di Malaka

Sumber : Bria dan Suartika (2022)

11 of 33

Pola pembagian ruang

Pola Ruang Uma

Proyeksi Axonometri Ruang dalam Uma

12 of 33

Matenkes

(Penjepit Atap Ilalang) (Silang Bambu Simbol

Kebangsawanan)

13 of 33

Uma di Nualain (Lamaknen-Kabupaten Belu)

Penzoningan vertikal tata ruang dalam rumah adat Nualain

Penzoningan horizontal tata ruang dalam rumah adat Nualain

Potongan rumah adat Nuallain

14 of 33

Uma di Duarato (Kabupaten Belu)

Sumber : Rema dan Bagus (2020)

15 of 33

Uma di Matabesi (Lidak-Atambua Kabupaten Belu)

Sumber : Debri dan Dima (2020)

Tata ruang secara horisontal rumah induk

Tata ruang secara vertikal rumah induk

16 of 33

17 of 33

Dissipasi Energi

(Bangunan Bergoyang

saat Gempa)

18 of 33

Perbandingan Konstruksi Vernakular Rumah Adat Tradisional

di Malaka dan Belu

Konstruksi Vernakular di Malaka (Uma)

Tiang Agung (Rih Hun)

✓ Mirplat

Tiang Penyangga dan lata & Las golett

(balok horizontal + siku diagonal)

Bubungan Rumah

Usuk

✓ Sistem Terpusat & Ikatan Melingkar

✓ Tahan Gempa

✓ Tahan Gempa

✓ Distribusi Beban Pusat

Konstruksi Vernakular di Belu

A. Uma Nualain

• Pondósi Batu alam

Kayu keras

Tiang & rangka

Dinding papan/bambu

Atap alang slang/tontar

B. Uma Duarato (11 Tiang Utama)

⚫ Rumah Panggung

Multi-Tiang

Perbandingan Utama

Malaka

Uma Duarato Belu

Rumah Panggung Multi-Tiang

✓ Pasak Kayu Tanpa Paku

✔Adaptif Terhadap Gempa dan Banjir

Rumah Panggung Multi-Tiang

✓ Pasak Kayu Tanpa Paku

✓ Adaptif Terhadap Gempa & Banjir

Belu

Aspek

Sistem Struktur

• Sistem Sambungan

• Resiliensi Gempa

Resiliensi Banijr

Terpusat (2 Tiang Agung + 8 Penyangga)

Ikatan & Pemaku Diagonal

Stabil, Core & Ikatan Melingkar

Panggung

⚫ Distribusi Beban

Terpusat

11 Tiang utama dan 4 tiang penopang 10 Tiang Utama

Pasak Kayu Tanpa Paku

Fleksibel, Banyak Titik Tumpu

Panggung Tinggi

Menyebar

Pasak Kayu Tanpa Paku

Fleksibel, Banyak Titik Tumpu

Panggung Tinggi

Menyebar

Kearifan Lokal untuk Ketahanan Bencana

Malaka →Stabilitas Terpusat Belu Fleksibilitas & Distribusi Beban

19 of 33

Potensi Adaptasi Rumah Adat untuk Hunian Modern

Model Tahan Angin & Gempa

Bentuk aerodinamis (bundar/perahu terbalik) dan struktur lentur dari

material kayu/bambu menciptakan hunian yang adaptif terhadap

guncangan dan tekanan angin ekstrem.

Adaptasi Kearifan Lokal

Masyarakat Belu dan Malaka memiliki tradisi rumah adat yang secara struktur sudah mengenal konsep pemisahan beban

Konsep Eco-Architecture

Material lokal (kayu, bambu, alang-alang) tersedia di sekitar lingkungan.

Proses konstruksi minim energi industri, jejak karbon rendah, selaras

dengan arsitektur berkelanjutan.

Mitigasi Banjir Luapan

Konstruksi panggung memberikan ruang bebas di bawah lantai (kolong) yang memungkinkan air mengalir tanpa merusak struktur utama hunian.

Sirkulasi Udara dan Kesehatan

Desain panggung meningkatkan ventilasi silang, mengurangi kelembapan lantai saat musim hujan, yang penting untuk kesehatan lingkungan di iklim tropis kering NTT.

Keunggulan Komparatif

Biaya konstruksi 40-60% lebih rendah dari rumah konvensional

Waktu pembangunan 2-3x lebih cepat

Perawatan dapat dilakukan oleh penghuni sendiri

Daur ulang material 80-90% dapat terdegradasi alami

20 of 33

Tantangan Adaptasi Rumah Adat untuk Hunian Modern

Kelangkaan Material Berkualitas:

Penggunaan kayu muda atau kualitas rendah berisiko pada daya tahan struktur jangka panjang.

Biaya Perawatan

Masalah Degradasi (Rayap & Lapuk):

Iklim di Belu dan Malaka yang fluktuatif (sangat kering ke sangat basah) mempercepat pelapukan kayu dan serangan rayap jika tidak ada proses pengawetan material yang tepat.

Mitigasi Banjir Luapan

Perubahan Budaya (Modernisasi): Ada persepsi di masyarakat bahwa rumah tembok (permanen) lebih menunjukkan status sosial lebih tinggi dibandingkan rumah panggung kayu yang dianggap "tradisional" atau "sementara".

Biaya Perawatan: Rumah tahan bencana berbahan alami membutuhkan perawatan berkala pada sambungan dan proteksi material.

21 of 33

22 of 33

23 of 33

Contoh Desain rumah panggung tahan banjir yang dirancang untuk Desa Fahiluka, Kabupaten Malaka

Mauritius Ildo Rivendi Naikofi, Azarya Bees, Yovinia Carmeneja Hoar Siki, Januarya Pangu Loda, Eugenius Yansen Nurak, Budy Benyamin Lily, Godefridus Alfredo Abnit, Rikardus Sabon Doni. 2024. Desain Bangunan Rumah Tinggal Sederhana Tanggap Bencana Banjir Di Desa Fahiluka Kabupaten Malaka JABB, Vol. 5 No. 2 2024, DOI: 10.46306/jabb.v5i2.

24 of 33

1. Bentuk Bangunan: Model Rumah Panggung: Desain ini mengadopsi bentuk rumah panggung tradisional khas Kabupaten Malaka yang disesuaikan dengan kebutuhan modern. Dimensi dan Luas: Bangunan dirancang dengan luas total 54 m². Berdasarkan denah, dimensi utama bangunan adalah 6,00 x 9,00 meter. Tinggi Panggung: Tinggi panggung ditetapkan sebesar 2,5 meter. Angka ini ditentukan berdasarkan hasil pemodelan banjir dengan kala ulang 25 tahun yang menunjukkan tinggi banjir maksimum di lokasi tersebut bisa mencapai 2,5 meter.

2. Struktur Bangunan: Material Utama: Meskipun terinspirasi dari rumah tradisional, elemen struktur bangunan ini menggunakan beton bertulang untuk meningkatkan ketangguhan terhadap aliran air dan material yang dibawa banjir. Pondasi: Menggunakan pondasi telapak (footing foundation). Pemilihan ini sangat penting karena kondisi tanah di lokasi didominasi oleh material pasir (82,7%) dan cenderung lunak jika terendam air, yang berisiko menyebabkan penurunan pondasi jika tidak dirancang dengan kuat. Ketahanan: Struktur ini dirancang untuk mampu menahan kecepatan aliran banjir rata-rata sebesar 0,9 m/detik.

3. Desain dan Fungsi Ruang: Pembagian Ruang: Interior rumah dibagi menjadi beberapa area fungsional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, meliputi: Ruang Tamu, Ruang Keluarga/Ruang Makan, Kamar Tidur (dua ruangan), Dapur, Teras (depan dan belakang), KM/WC. Ruang Loteng: Desain juga mencakup ruang loteng di bawah atap yang bisa digunakan sebagai area tambahan. Akses: Dilengkapi dengan tangga di bagian depan dan belakang untuk mengakses lantai utama yang berada di ketinggian 2,5 meter.

25 of 33

Desain Rumah Tahan Banjir

  1. Tampak depan
  2. Tampak samping kiri
  3. Tampak samping kanan
  4. Tampak belakang

Filosofi Desain: Desain ini merupakan hasil inovasi yang memadukan material modern dengan kearifan lokal, bertujuan untuk melestarikan budaya setempat sekaligus memberikan hunian yang aman dari bencana.

26 of 33

Contoh Desain Rumah Bulat Modern

Frion J. K. Pelang, Jakobis J. Messakh dan Roly Edyan. 2024. PENGEMBANGAN DESAIN RUMAH MODERN DENGAN MEMPERTAHANKAN KEARIFAN LOKAL RUMAH BULAT (UME KBUBU) TIMOR TENGAH SELATAN Jurnal Batakarang, Vol. 5, No. 1a, Edisi Maret 2024

27 of 33

Konstruksi Dasar dan dinding Rumah

Sub-struktur (Pondasi): Jenis: Menggunakan pondasi menerus. Material: Terbuat dari batu kali yang berfungsi sebagai penahan beban bangunan yang disalurkan dari struktur atas (dinding dan atap) ke tanah.

Super-struktur (Badan Bangunan)

Slof: Menggunakan slof beton bertulang dengan dimensi 15 cm x 20 cm. Fungsinya adalah untuk meratakan beban pondasi dan mengunci dinding agar tidak mudah roboh jika terjadi pergeseran tanah. Kolom: Menggunakan kolom beton bertulang dengan dimensi 15 cm x 15 cm. Kolom ini berfungsi sebagai penerus beban dari atap menuju pondasi. Ring Balok: Menggunakan ring balok berdimensi 15 cm x 20 cm sebagai pengikat susunan tembok dan meratakan beban dari struktur atap.

28 of 33

Contoh Desain Rumah Bulat Modern

Dinding: Material dinding menggunakan pasangan batako untuk menyokong atap, membagi ruangan, serta melindungi penghuni dari cuaca.

29 of 33

Contoh Desain Rumah Bulat Modern

Upper-struktur (Atap)

Rangka Atap: Menggunakan struktur baja ringan sebagai pengganti kayu tradisional. Baja ringan dipilih karena memiliki nilai muai-susut yang kecil, tahan api, tidak dimakan rayap, dan lebih ramah lingkungan.

Kemiringan: Atap didesain dengan kemiringan 45º.

Penutup Atap: Menggunakan alang-alang sintetis sebagai pengganti alang-alang alami. Material sintetis ini memiliki kelebihan berupa sifat tahan api, lebih rapat sehingga tidak bocor, tidak mengalami kelangkaan, dan lebih tahan lama,.

30 of 33

Deskripsi Interior

Material Finis dan Bukaan

Lantai: Menggunakan kombinasi keramik dan parket kayu untuk menghadirkan kesan natural,.

Kusen dan Pintu: Menggunakan kayu kelas II yang dikombinasikan dengan kaca.

Plafon: Terdapat ruang di atas plafon setinggi 6 meter yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar atau penyimpanan barang.

31 of 33

Ekosistem Tanah Bencana

32 of 33

33 of 33

Membangun Masa

Depan yang Berakar

Rumah yang selamat adalah rumah yang menghormati alam.

Standarisasi Kearifan Lokal untuk Kebijakan Formal NTT

Tim Tuan Tanah

2026