PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL & PERUNDUNGAN DI TEMPAT KERJA
TINDAKAN DAN KOMITMEN
Pemahaman Dasar
Pendahuluan
OUTLINE PELATIHAN
Penanganan Kasus
Penutup
Deteksi & Pencegahan
Lingkungan kerja yang aman bukanlah sebuah kemewahan, melainkan sebuah tanggung jawab.
Azana Hospitality Learning & Development
01
02
03
MENGAPA HAL INI PENTING?
Industri perhotelan berfokus pada manusia.
Karyawan yang merasa aman → layanan lebih baik & tamu lebih loyal.
Pelecehan dan perundungan berdampak serius.
Meningkatkan turnover, risiko hukum, dan merugikan bisnis.
Peran manajer sangat penting.
Ciptakan lingkungan kerja yang aman dan berintegritas.
Peserta magang dan pekerja rentan lebih berisiko mengalami eksploitasi tanpa bimbingan yang tepat.
TAMU
Budaya profesional dan saling menghormati akan melindungi semua orang di dalam hotel termasuk tamu dan karyawan.
Melindungi Karyawan, Peserta Magang, dan Tamu
Setiap karyawan berhak atas lingkungan kerja yang aman dan saling menghormati.
KARYAWAN
PESERTA MAGANG DAN PEKERJA RENTAN
Membangun Kepercayaan dan Budaya Saling Menghormati
Lingkungan dengan tidak ada toleransi (zero tolerance) terhadap pelecehan dan perundungan, dapat membangun kepercayaan antara manajemen dan karyawan.
Ketika karyawan merasa dihormati, mereka akan lebih terlibat, termotivasi, dan loyal, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas layanan dan kepuasan tamu.
Budaya saling menghormati juga menjadi keunggulan kompetitif, hotel yang dikenal adil dan inklusif akan menarik talenta terbaik serta mendapatkan kepercayaan dari tamu.
Pemahaman & Definisi
Pelecehan seksual
Quid Pro quo:
Keuntungan kerja seperti jadwal, promosi, atau fasilitas dijadikan syarat untuk memenuhi permintaan bernuansa seksual. Contoh: Seorang atasan memberi isyarat bahwa "jadwal kerja yang lebih baik akan diberikan jika karyawan "menurut" atau “bersikap manis“.
Lingkungan Kerja yang Tidak Nyaman (Hostile Work Environment):
Perilaku seperti lelucon, komentar, atau sentuhan yang tidak pantas menciptakan lingkungan kerja yang tidak nyaman, meskipun sering dianggap “bercanda”.
Berteriak pada staff, menghina, atau mempermalukan mereka secara rutin di depan orang banyak.
Pemahaman & Definisi
Perundungan di Tempat Kerja (Workplace Bullying)
Penyalahgunaan Berulang
Intimidasi & Pengecualian
Dengan sengaja tidak melibatkan seseorang dalam briefing tim atau mengisolasinya dari rekan kerja.
Contoh Nyata di Hotel
Kerangka Hukum & Kebijakan
Implikasi bagi manajer: Anda memiliki tanggung jawab hukum untuk menegakkan upaya pencegahan dan penanganan pelecehan maupun perundungan di tempat kerja.
01. Undang-Undang dan Peraturan Ketenagakerjaan
di Indonesia
Undang-Undang No. 12 tahun 2022 (UU TPKS - Tindak Pidana Kekerasan Seksual) mengkriminalisası tindakan pelecehan seksual di tempat kerja.
Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 88/2023 mewajibkan setiap perusahaan untuk membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Tempat Kerja. Ketidakpatuhan terhadap aturan ini dapat dikenai sanksi administratif berupa teguran, penangguhan, atau pembekuan kegiatan usaha.
UU Ketenagakerjaan (13/2003.jo. 11/2020) mengatur kewajiban umum bahwa pemberi kerja harus menyediakan lingkungan kerja yang aman. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat dikenai sanksi oleh Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) atau Pengadilan Hubungan industrial (PHI)
02.
Kebijakan Perusahaan Tentang Kebijakan Tanpa Toleransi
Tantangan berikutnya:
Memastikan kebijakan ini tidak hanya tertulis di atas kertas, tetapi benar-benar dilaksanakan secara konsisten dalam operasional sehari-hari.
Sudah tercantum secara resmi dalam kontrak kerja setiap karyawan.
Telah diatur secara jelas dalam Peraturan Perusahaan (PP).
Diperkuat secara berkala melalui program pelatihan, termasuk pada sesi onboarding untuk karyawan baru.
Berlaku untuk semua orang - tanpa pengecualian, terlepas dari jabatan atau masa kerja.
03. Kewajiban Hukum Seorang Manajer
B. Penanganan (Sesudah Insiden Terjadi)
04. Konsekuensi bagi Pelaku Pelanggaran
Sanksi Internal
Dapat berupa peringatan, penurunan jabatan, skorsing, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).
Konsekuensi Hukum
Kasus dapat dilaporkan ke Dinas Ketenagakerjaan, Pengadilan Hubungan Industrial (PHI), atau Kepolisian sesuai dengan ketentuan UU TPSKS (Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual).
Kebijakan tanpa Toleransi terhadap Pelecehan Seksual
Pelaku akan langsung diberhentikan dan dimasukkan dalam daftar tidak direkomendasikan untuk bekerja di jaringan hotel AZANA Hospitality.
MENGENALI TANDA-TANDA PERINGATAN
a. Perilaku Halus (Subtle Behaviours)
👉 Sering dianggap “bercanda” tapi bisa berkembang jadi pelecehan
b. Tanda Fisik dari Tekanan atau Ketakutan (Physical Signs of Distress)
c. Perilaku Tamu yang Melewati Batas (Guest Behaviour)
👉 Perlu diperhatikan sebagai tanda, bukan diabaikan
👉 Harus segera ditangani dengan tegas
Hadirlah di lapangan, amati situasi, dan cegah masalah sebelum terjadi
02
Memimpin dengan Teladan
01
03
TANGGUNG JAWAB MANAJER
TUGAS HARIAN UNTUK MEMBANGUN BUDAYA AMAN
Gunakan kata-kata profesional, bahasa tubuh yang sopan, dan perilaku yang beretika
Memimpin dengan Teladan Supervisi Proaktif
Pelapor Aman
Sediakan berbagai saluran rahasia (langsung, melalui HR, manajer, atau rekan/mentor terpercaya).
04
Tindakan Cepat
Tanggapi segera dengan langkah-langkah perlindungan, sambil meneruskan kasus untuk investigasi formal.
01
02
03
04
05
Catat dengan akurat
Menangani Keluhan (Handling Complaints)
Dengarkan tanpa menghakimi
Berikan rasa aman
Teruskan ke hr atau pihak yang berwenang
Jangan mencoba menjadi mediator untuk kasus serius
MELINDUNGI INTERN DAN
STAF RENTAN
01. TUNJUK MENTOR YANG DITENTUKAN
04. LIBATKAN PARA INTERN
03. HINDARI ISOLASI
02. JELASKAN PROSES PELAPORAN
03. HINDARI ISOLASI
01.
TUNJUK MENTOR YANG DITENTUKAN
Satu pengawas atau pembimbing terpercaya untuk setiap intern.
Setiap intern dan pekerja rentan wajib memiliki mentor/pendamping (supervisor/staf senior) yang melakukan pengecekan rutin.
Hal ini mencegah intern merasa kebingungan atau tidak mendapatkan dukungan.
Mentor menjadi kontak pertama jika muncul situasi tidak aman atau tidak nyaman.
01
02
03
Selama sesi orientasi atau onboarding, jelaskan secara jelas jalur pelaporan (misalnya: langsung ke manajer, ke Hr/corporate, atau ke tim khusus yang sudah dibentuk.
02. JELASKAN PROSES PELAPORAN
Pastikan para intern memahami proses pelaporan sejak hari pertama
Tekankan bahwa intern memiliki hak yang sama untuk melapor tanpa rasa takut.
01
02
Hindari kondisi di mana intern ditinggal sendirian bersama satu staff (terutama di area terpencil)
03. HINDARI ISOLASI
Batasi situasi satu lawan satu. Jangan biarkan intern sendirian dengan staf tanpa alasan yang jelas.
Gunakan sistem pendamping (buddy system) untuk shift malam, area belakang, atau tempat kerja yang sensitif.
Langkah ini melindungi intern dan mengurangi peluang terjadinya pelanggaran atau tindakan tidak pantas.
01
03
02
Pengecualian: intern tidak dilibatkan dalam rapat rahasia atau tidak relevan (mis. HR sensitif/strategi keuangan).
Libatkan intern dalam rapat tim dan briefing keselamatan yang relevan dengan pekerjaannya.
04. Libatkan Para Intern
Libatkan intern dalam rapat tim dan briefing keselamatan, kecuali yang rahasia atau tidak relevan.
Tegaskan hak kerja, perilaku saling menghormati, dan jalur pelaporan.
Membangun budaya inklusif agar intern merasa menjadi bagian tim, bukan orang luar.
01
02
03
04
PELATIHAN BERBASIS SKENARIO (SCENARIO-BASED TRAINING)
Seorang tamu pria melakukan check-in pada malam hari. Saat petugas front desk wanita menyerahkan kunci kamar, tamu tersebut memberikan komentar pribadi tentang penampilannya dan meminta nomor teleponnya. Petugas terlihat tidak nyaman, namun tetap berusaha tersenyum. Manajer berdiri tidak jauh dari sana dan menyadari situasi tersebut.
Skenario 1:
Tamu Melecehkan Petugas Front Desk
Bagaimana cara Manajer menangani situasi ini?
Di area pantry staff, seorang supervisor F&B senior melontarkan lelucon bernuansa seksual saat shift malam.
Beberapa staff tertawa, namun seorang karyawan baru terlihat tidak nyaman. Manajer kebetulan mendengar lelucon tersebut.
Skenario 2:
Staf Senior Membuat Lelucon yang Tidak Pantas
Apa yang Anda harus lakukan?
Skenario 3:
Rumor Perundungan di Dapur
Bagaimana langkah Anda pada kejadian ini?
Dua orang staff melaporkan bahwa seorang chef sering berteriak dan menghina trainee di depan tim,
Anda juga memperhatikan salah satu trainee tampak sedih dan menarik diri selesai bekerja.
Seorang staff datang ke bagian HR untuk menanyakan klarifikasi mengenai slip gajinya. Selama percakapan, petugas hr membuat komentar pribadi:”Apakah kamu single? Mungkin kita bisa makan malam bersama kapan-kapan.”
Staff tersebut merasa tidak nyaman, segera mengakhiri pembicaraan, dan kemudian mengatakan kepada rekannya bahwa ia tidak lagi mempercayai HR.
Skenario 4:
Di Departemen HR
Sebagai Manager, apa yang Anda lakukan?
Respons yang Disarankan untuk Manajer (Recommended Manager Response)
Skenario 1:
Tamu Melecehkan Petugas Front Desk
Kriteria Penilaian:
Benar jika: manajer bertindak cepat, melindungi staf, mendokumentasikan kejadian, dan melakukan eskalasi bila diperlukan.
Salah jika: manajer mengabaikan, menertawakan situasi, atau menyalahkan staf.
Tegur tamu dengan sopan namun tegas. Contoh: "Pak, mohon agar interaksi tetap bersifat profesional. Mohon hormati staff kami".
Lindungi staf & ambil alih tugas (jika perlu
Catat dan laporkan kejadian
Berikan dukungan & rasa aman pada staf
Skenario 2:
Staf Senior Membuat Lelucon yang Tidak Pantas
Kriteria Penilaian:
Segera tangani perilaku tersebut dengan tegas: “katakan seperti itu tidak dapat diterima di tempat kerja. Mohon untuk dihentikan”.
Setelah itu, ajak supervisor berbicara secara pribadi untuk menegaskan kembali kebijakan zero-tolerance (tanpa toleransi) terhadap perilaku tidak pantas.
Catat kejadian tersebut dan pantau apakah perilaku serupa terulang.
Lakukan pengecekan kepada karyawan baru untuk memastikan mereka merasa aman.
Benar jika: manajer segera menindak, menetapkan batas yang jelas, mencatat kejadian, dan melakukan tindak lanjut.
Salah jika: manajer diam saja, ikut menertawakan, atau berkata “hanya bercanda”.
Skenario 3:
Rumor Perundungan di Dapur
Kriteria Penilaian:
Jangan abaikan rumor - lakukan investigasi dengan tenang dan rahasia.
Ajak trainee berbicara secara pribadi: “saya ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Saya mendengar beberapa kekhawatiran. Apakah kamu tidak apa-apa?”
Catat hasil pengamatan dan eskalasi ke HR atau Tim Corporate untuk penanganan yang tepat.
Ingatkan tim dapur dalam briefing bahwa perundungan tidak akan ditoleransi di tempat kerja.
Benar jika: manajer menyelidiki dengan hati-hati, mendengarkan trainee, mendokumentasikan, dan melakukan eskalasi
Salah jika: manajer menganggap rumor hanya gosip, langsung memarahi chef tanpa prosedur, atau mengabaikan tanda-tanda ketidaknyamanan trainee.
Skenario 4: Di Departemen HR
Kriteria Penilaian:
Benar jika: manajer melindungi staf, melewati HR, mengeskalasi ke pihak Corporate, dan memastikan investigasi berjalan tanpa konflik kepentingan.
Salah jika: manajer meremehkan laporan (“hanya ajakan makan malam saja”), atau mengembalikan kasus ke petugas HR yang sama.
Tangani laporan dengan serius bahkan jika pihak yang dilaporkan adalah staf HR.
Jaga kerahasiaan: jangan biarkan tim HR yang sama menangani kasus tersebut
Segera eskalasi ke Corporate HR atau Corporate Regional: pastikan investigasi yang independen
Dukung staf yang melapor: yakinkan bahwa tindakan balasan tidak diperbolehkan
Langkah sementara: tunjuk kontak HR lain untuk mendampingi staf tersebut sampai kasus selesai ditangani.
Hospitality berarti melayani tamu, namun tidak pernah dengan mengorbankan keselamatan staff.
ISU TERKAIT TAMU
01. Menangani Pelecehan dari Tamu
02. Kebijakan yang Jelas
03. Dokumentasi Setiap Insiden
01.
Menangani Pelecehan dari Tamu
Peringatan (Warn)
Tolak (Refuse)
Keluarkan (Remove)
Jika perilaku tamu bersifat verbal atau baru terjadi pertama kali, berikan peringatan dengan sopan namun tegas
Jika perilaku tamu berkelanjutan atau bersifat berat, keamanan atau pihak manajemen dapat mengawal tamu keluar dari area hotel
02. Kebijakan yang Jelas
Langkah 1: Peringatan
Langkah 2: Tolak Layanan
Langkah 3: Keluarkan Tamu
Jika tamu mengabaikan peringatan, layanan dapat ditolak (misalnya di bar atau restoran)
Manajer harus tahu kapan harus beralih dari sikap melayani menjadi tindakan demi keselamatan.
03.
Dokumentasi Setiap Insiden
MEMBANGUN BUDAYA YANG
SALING MENGHORMATI
01. Menerapkan Kebijakan Pintu Terbuka (Open - Door Policy)
03. Mengintegrasikan Sikap Hormat & Kerjasama dalam Penilaian Kinerja
02. Mengapresiasi dan Menghargai Perilaku yang Saling Menghormati
01.
Menerapkan Kebijakan Pintu Terbuka
(Open - Door Policy)
Ingatkan staff secara berkala: “kamu bisa berbicara dengan saya kapan saja, dan semuanya akan dijaga kerahasiaannya.”
Staf harus merasa aman untuk mendekati manajer tanpa rasa takut.
Tunjukkan sikap terbuka, baik melalui pintu kantor, bahasa tubuh, maupun cara Anda berbicara.
Langkah ini menegaskan bahwa sikap saling menghormati adalah bagian dari kesuksesan karier, bukan sekedar kepatuhan terhadap aturan.
02. Mengapresiasi dan Menghargai Perilaku yang Saling Menghormati
Jangan hanya menghukum perilaku salah, berikan penghargaan untuk perilaku yang benar. Contoh: 1) Berikan pengakuan terbuka kepada anggota tim yang mendukung rekannya. 2) Adakan penghargaan seperti “Rekan Kerja Paling Respektif Bulan Ini”
03. Mengintegrasikan Sikap Hormat & Kerjasama dalam Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja tidak seharusnya hanya berfokus pada kemampuan teknis atau pencapaian angka.
Tambahkan kriteria yang dapat diukur seperti “kerjasama tim, inklusivitas, dan sikap saling menghormati.
Hal ini memberikan pesan yang jelas: sikap saling menghormati bukan pilihan, tetapi bagian yang dinilai dalam kinerja.
PELATIHAN ULANG TAHUNAN & PEMBELAJARAN BERKELANJUTAN
01. Sertifikasi Ulang, Tahunan untuk Manajer
03. Survey Iklim Kerja
02. Pembaharuan Rutin (Perubahan Hukum & Studi Kasus)
01. Sertifikasi Ulang, Tahunan untuk Manajer
02. Pembaharuan Rutin (Perubahan Hukum & Studi Kasus)
03.
Survey Iklim Kerja
Staff ditanya langsung tentang keselamatan dan budaya kerja.
Respons non-anonim dapat ditindaklanjuti secara individual.
Membangun budaya keterbukaan dan kepercayaan, staff tahu bahwa suara mereka penting.
Hasilnya menjadi panduan untuk pelatihan dan perbaikan kebijakan di masa depan.
PENCEGAHAN PELECEHAN SEKSUAL & PERUNDUNGAN
Point Utama untuk Manajer:
Rasa hormat bukan sekedar kebijakan - tetapi sebuah budaya. Dan manajer adalah penjaga dari budaya tersebut.
Apabila Korban Tidak Puas dengan Penanganan Internal Hotel
Kirimkan bukti secara rinci kepada kami dan jangan laporkan secara anonim
(Kami Menjamin Kerahasiaannya)
CONTOH TEMPLATE REPORT PELECEHAN SEKSUAL
CONTOH TEMPLATE REPORT PERUNDUNGAN
Kirimkan Laporan Aduan ke:
hrdazana2@gmail.com
Head Office :
Azana Building
Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No.62 Mangkubumen, Banjarsari, Surakarta, Central Java 57139
Phone: 0271 - 6011888
Azana Hospitality
Azana Hospitality
@azanahotel.com
(0271) 601 1888
@azanahospitality
Jakarta Representative Office:
PSW Tower, 2nd Floor, Suite C -204
Jalan Pangeran Antasari, No.75, Cilandak, South Jakarta, 12430
Phone : (021) 3970 2141