ASTRONOMI POSISI
Endang Soegiartini
Program Studi Astronomi
FMIPA – ITB
2015
Sistem Koordinat
Astronomi Posisi - Endang Soegiartini
Geometri bidang datar dan geometri bola
Bidang Datar
Bidang Bola
Geometri bola
Segitiga bola dan �sudut bola
Segitiga bola ABC
Sifat segitiga bola
Formula segitiga bola
Formula Trigonometri untuk sudut kecil
Langit
TATA KOORDINAT ASTRONOMI
Tata Koordinat Astronomi
Komponen-komponen dasar pada Tata Koordinat Astronomi:
Tata Koordinat Bumi
Anggap Bumi berbentuk bulat sempurna dan berputar pada poros yang menghubungkan Kutub Utara (North Pole = N) dan Kutub Selatan (South Pole = S). Lingkaran besar yang tegak lurus garis hubung N-S disebut ekuator Bumi. Setiap setengah lingkaran besar yang melalui N dan S disebut meridian. Meridian yang melalui Greenwich Observatory disepakati sebagai meridian baku.
Untuk menentukan letak tempat di Bumi, digunakan dua besaran, yaitu bujur dan lintang.
Bujur adalah sudut antara meridian baku dengan meridian yang melalui tempat yang akan ditentukan.
Lintang adalah sudut antara jari-jari ke titik yang akan ditentukan letaknya dengan bidang ekuator.
Setiap lingkaran besar memiliki 2 buah kutub, yaitu:
Panjang lingkaran besar di permukaan bola dinyatakan dalam sudut (derajat), bukan dalam satuan panjang (km, miles, dan lain-lain).
Lingkaran besar adalah geodesik atau jarak terdekat antara 2 titik di permukaan bola, analog dengan jarak lurus pada bidang datar.
Astronomi Posisi - Endang Soegiartini
Tata Koordinat Bumi
Contoh soal:
Tata koordinat horison
Merupakan sistem koordinat astronomi yang pertama kita jumpai bila mengamat langit.
Karena pandangan kita dibatasi oleh horison, maka kita hanya melihat setengah bola langit.
Tata koordinat horison
Tata koordinat horison
Kelemahan sistem koordinat horison:
Hal ini yang menyebabkan mengapa sistem koordinat horison tidak dipakai sebagai sistem referensi untuk menentukan posisi benda langit.
Tata koordinat ekuator
Dalam sistem ini, posisi bintang akan sama walau diamati dari berbagai tempat di atas muka Bumi, yaitu dengan cara mengubah lingkaran dasar utama dari horison menjadi ekuator langit.
Kutub Selatan Langit (KSL)
Tata Koordinat Sideris Lokal (Ekuatorial I (HA-δ)
Tata Koordinat Sideris Lokal (Ekuatorial I)
Tata Koordinat Ekuatorial II (RA-DEC)
Tata Koordinat Ekuatorial II (RA-DEC)
Tata Koordinat Ekuatorial II (RA-DEC)
Waktu sideris lokal
Bumi mengitari Matahari
LST = GST – λ (bujur pengamat, diukur ke arah barat)
HA* = LST – α*
GHA* = GST – α*
HA* = GHA* – λ
Hubungan LST dengan Bujur
Contoh soal:
Latihan:
Waktu surya lokal dan waktu surya rata2
Waktu surya lokal dan waktu surya rata2
Waktu lokal
Tata koordinat ekliptika
Musim
... maksimum saat musim panas, dan minimum saat musim dingin
Hal itu disebabkan oleh kemiringan sumbu orbit Bumi terhadap bidang orbitnya. Besar sudut kemiringan ini adalah +23°26', yang kemudian disebut sebagai kemiringan ekliptika (diberi simbol epsilon, ε).
Tata koordinat galaksi
l
Transformasi koordinat
contoh
Gambarkan bola langit bagi seorang pengamat yang berada pada 55° LU yang sedang mengamati bintang X, perlihatkan posisi bintang X jika tinggi bintang adalah 40° dan azimut 130°. Dari gambar itu, tentukan sudut jam dan deklinasi bintang X!
Jarak meridian pengamat
Reduksi Posisi
Posisi benda langit yang tampak di langit sebenarnya berbeda dengan posisi fisiknya, misalnya:
Presesi dan Nutasi
Presesi Luni - solar
64
Presesi Planet
Nutasi
Paralaks
Contoh peristiwa paralaks: melihat dengan mata kanan saja atau mata kiri saja!
Pengamatan yang kita lakukan adalah di atas permukaan Bumi, tidak di pusatnya. Hal ini tidak akan menjadi masalah bila yang diamati objek jauh, misalnya bintang, tetapi untuk objek dekat, seperti sistem Tatasurya, maka koreksi harus dilakukan.
Paralakas geosentris atau diurnal
Paralaks tahunan
Gerak diri
◉S
μ
A
B
C
θ
D
d
⎞
Gambar 18.6 Gerak diri bintang, kecepatan tangensial dan paralaks.
Aberasi
Refraksi Atmosfer
Astronomi Posisi - Endang Soegiartini
Refraksi di dalam atmosfer :
Efek refraksi pada saat Matahari atau Bulan terbenam
Saat Matahari atau Bulan terbit/terbenam, jarak zenit dari
pusat benda-benda tersebut adalah 90°. Refraksi yang
terjadi saat itu disebut sebagai refraksi horisontal.
Refraksi horisontal saat benda langit terbit/terbenam
adalah 35′. Jika jarak zenit = 90°, maka jarak zenit benar
adalah 90°35′.
Misalkan H adalah sudut jam bila jarak zenit pusat
Matahari ≡ 90°, maka H+ΔH adalah sudut jam pusat
Matahari ketika pusat Matahari yang tampak, berada di
horison, jadi ξ = 90° , dan z = 90°35′.
Efek refraksi pada saat Matahari atau Bulan terbenam
Bila Matahari dianggap terbenam ketika tepi atasnya berada di horison, dan semi diameter Matahari adalah 16′, maka:
Lintang tampak dan sudut refraksi
Lintang pengamat Sudut refraksi
0° 35′21″
1° 24′45″
2° 18′24″
3° 14′24″
4° 11′43″
10° 5′18″
30° 1′41″
60° 0′34″
90° 0′00″
Koreksi Semi diameter
Matahari dikatakan terbit jika batas atas piringan mulai
muncul di horison, dan terbenam jika batas piringan sudah
terbenam di horison, maka z dan h harus dikoreksi oleh
semidiameter piringan Matahari S◉ , sehingga:
z = 90° + R(z=90°) + S◉
h = 0° − R(z=90°) − S◉
Jadi saat Matahari atau Bulan terbit atau terbenam:
h◉ = −0°50′
h⚪ = +0°08
Koreksi ketinggian di atas muka laut