Terapi Oksigen pada PPOK
Oleh:
dr. Siti Salmia
Pembimbing:
dr. Windu Prasetyo Sp.P(K) FISR
Program Pendidikan Dokter Spesialis Pulmonologi dan
Ilmu Kedokteran Respirasi FK UNS / RSUD Dr. Moewardi Surakarta
2024
TINJAUAN KEPUSTAKAAN III
Pendahuluan
01
PENDAHULUAN
Penyebab utama masalah kesehatan di seluruh dunia dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi
Penyebab kematian terbanyak ke-3
3,23 juta jiwa pada tahun 2019
Berdasarkan WHO, penyebab ke-7 perburukan kesehatan masyarakat di dunia
44,3%
35,6%
Persentase jenis kelamin
PENDAHULUAN
Gejala PPOK dapat menurunkan dan menghambat kehidupan normal penderita
PPOK merupakan penyakit tidak menular pada usia paruh baya atau lebih
Ditandai dengan hambatan aliran udara yang persisten dan progresif
PENDAHULUAN
Faktor risiko : asap rokok (89%)
Gejala : sesak napas progresif, dipengaruhi aktivitas, batuk kronik, sputum, dan mengi
Prevalensi terbanyak :
PENDAHULUAN
O2 merupakan terapi dalam keadaan darurat untuk menyelamatkan jiwa
Terapi O2 juga dapat menyebabkan efek buruk 🡪 hipercapnia
Hipercapnia dapat terjadu bula pemberian O2 tidak terkontrol
dengan target O2 88-92%
PENDAHULUAN
Terapi oksigen penting untuk PPOK, terutama bagi pasien dengan hipoksemia berat.
namun efek pada stres oksidatif belum pasti.
Hipoksemia dalam 24 jam pertama memperburuk kondisi hiperoksia tidak berdampak buruk hingga 30 hari.
LTOT umum digunakan pada PPOK, meski efektivitasnya pada hipoksemia sedang masih diragukan.
TUJUAN
Penulisan tinjuan kepustakaan ini bertujuan untuk mengetahui terapi oksigen pada PPOK
Pembahasan
02
DEFINISI
GOLD 2023:
Penyakit heterogen yang ditandai oleh gejala pernapasan kronis yaitu sesak, batuk, produksi dahak, atau eksaserbasi karena kelainan pada saluran atau emfisema yang menyebabkan obstruksi aliran udara yang berlangsung terus menerus dan bersifat progresif
DEFINISI
Emfisema
Diagnostik patologik akibat kerusakan dinding alveolar dan pelebaran saluran napas distal
Diagnostik klinis sebagai akibat perubahan anatomis dari bronkus dengan gejala batuk produktif
Bronkitis
ETIOLOGI
Interaksi antara pengaruh genetik dan lingkungan
Lingkungan :
Pajanan partikel atau gas berbahaya (asap rokok)
Menyebabkan 🡪
Hipersekresi mukus
Genetik :
Defisiensi protein serum 𝜶1 🡪 penyebab emfisema
Berhubungan dengan
Penurunan fungsi paru dan peningkatan gejala respirasi pada usia dewasa
KLASIFIKASI PPOK
Gambar 1. Kalsifikasi PPOK stabil berdasarkan GOLD tahun 2023.
Keterangan :
CAT = COPD assessment tool; LABA = long acting bronchodilator agent; LAMA = long acting antimuscarinic agent; mmRC = modified medical research council; FEV1 = rasio forced expiratory volume in one second; FVC = forced vital capacity < = kurang dari; ≥ = lebih dari sama dengan; ICS = inhaled corticosteroids; eos = eosinophil; + = ditambahkan
PATOLOGI PPOK
hasil dari inflamasi kronik yang menyebabkan perubahan struktural di berbagai komponen paru
Saluran Napas Proksimal
Trakea dan bronkus (>2 mm) 🡪 hipersekresi lendir pada sel goblet, pembesaran kelenjar submukosa, dan metaplasia sel epitel skuamosa.
Saluran Napas Perifer
Bronkiolus (<2 mm) dan parenkim paru 🡪 kerusakan dinding alveolus dan apoptosis sel epitel serta endotel.
PATOLOGI PPOK
hasil dari inflamasi kronik yang menyebabkan perubahan struktural di berbagai komponen paru
Emfisema
Sentriolobular : Dilatasi dan kerusakan bronkiolus, khususnya pada perokok.
Panacinar : Kerusakan pada alveolus dan bronkiolus, umum pada kekurangan α-1 antitripsin.
Pembuluh Darah Paru
Terjadi penebalan intima, disfungsi sel endotel, dan penebalan otot polos, yang mengakibatkan hipertensi pulmonal.
PATOLOGI PPOK
Gambar 2. Patologi PPOK
Keterangan :
COPD = chronic obstructive pulmonary disease
PATOGENESIS PPOK
inflamasi saluran napas adalah respons yang diperkuat terhadap iritasi kronis seperti asap rokok dan faktor genetik
Non perokok
Perokok
Mekanisme inflamasi belum sepenuhnya dipahami
PATOGENESIS PPOK
Gambar 3. Patogenesis PPOK
PATOFISIOLOGI PPOK
PPOK menyebabkan perubahan fisiologi :
Hiperinflasi
Hipersekresi mukus
Obstruksi jalan napas
Pertukaran gas abnormal
Meningkatnya volume residu dan merusak kontraktilitas otot pernapasan 🡪 mengakibatkan dada berbentuk "barrel" 🡪 insufisien
Air trapping mengurangi efektivitas asupan O₂ dan pengeluaran CO₂ 🡪 ketidaksesuaian ventilasi-perfusi (V/Q) dan gangguan pertukaran gas.
PATOFISIOLOGI PPOK
PPOK menyebabkan perubahan fisiologi :
Hiperinflasi
Hipersekresi mukus
Obstruksi jalan napas
Pertukaran gas abnormal
Epitel saluran napas 🡪 sebagai barrier imunologis dengan lendir kaya mucin 5AC untuk melawan iritasi
Asap rokok dan gas beracun 🡪 inflamasi 🡪 hipersekresi mukus, dan menurunkan clearance mukosiliar
Pada PPOK, mukus yang lebih asam karena berkurangnya peptide antimikroba 🡪 kolonisasi bakteri 🡪 memperparah inflamasi.
PATOFISIOLOGI PPOK
PPOK menyebabkan perubahan fisiologi :
Hiperinflasi
Hipersekresi mukus
Obstruksi jalan napas
Pertukaran gas abnormal
PPOk mengalami penurunan elastic recoil paru akibat proteolisis elastin, 🡪 menyebabkan penyempitan saluran napas dan peningkatan resistensi, terutama di bronkiolus kecil (<2 mm).
Elastisitas menurun 🡪 keterbatasan aliran udara dan air trapping 🡪 memperpanjang waktu pengosongan paru
Sehingga, outward recoil dari dinding dada > inward recoil dari paru, meningkatkan kapasitas residu fungsional
PATOFISIOLOGI PPOK
PPOK menyebabkan perubahan fisiologi :
Hiperinflasi
Hipersekresi mukus
Obstruksi jalan napas
Pertukaran gas abnormal
PPOK menyebabkan ketidaksesuaian ventilasi/perfusi (V/Q) akibat sumbatan mukus yang mengganggu distribusi aliran udara 🡪 berkontribusi pada hipoksemia arteri dan hiperkapnia
Gangguan pengeluaran CO2 🡪 meningkatkan dead space dan mengurangi efektivitas diafragma.
PATOGENESIS PPOK
Gambar 4. Patofisiologi PPOK
DIAGNOSIS PPOK
Pemeriksaan fisik :
Inspeksi
Fase awal : normal atau ekspirasi memanjang
Fase lanjutan : pink puffer / blue bloater, otot bantu napas, pursed lips breathing dan barrel chest
Palpasi
Emfisema : fremitus melemah, sela iga melebar
DIAGNOSIS PPOK
Pemeriksaan fisik :
Perkusi
Hipersonor, batas jantung mengecil, letak diafragma rendah, dan hati terdorong ke bawah
Aukskultasi
Suara napas vesikuler normal / melemah, ronki dan / atau mengi saat bernapas biasa atau ekspirasi paksa, ekspirasi memanjang atau bunyi jantung terdengar jauh
DIAGNOSIS PPOK
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan fungsi paru
Tujuan : Untuk menegakkan diagnosis, menentukan tingkat keparahn PPOK, dan mengkaji ulang kondisi PPOK
Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan echocardiography
Pemeriksaan laboratorium
Kuesioner mMRC
Kuesioner CAT
DIAGNOSIS PPOK
Gambar 5. Kuesioner mMRC
DIAGNOSIS PPOK
Gambar 6. Penilaian CAT
DIAGNOSIS PPOK
Tabel 2. Klasifikasi derajat keterbatasan aliran udara pada PPOK
Klasifikasi GOLD | Nilai FEV1 |
GOLD 1 (ringan) | FEV1 > 80% prediksi |
GOLD 2 (sedang) | 50% < FEV1 < 80% prediksi |
GOLD 3 (berat) | 30% < FEV1 < 50% prediksi |
GOLD 4 (sangat berat) | FEV1 < 30% prediksi |
TATALAKSANA FARMAKOLOGI
Tujuan utama : mengobati gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan mengurangi eksaserbasi dan mortalitas
Bronkodilator
Vaksinasi
TATALAKSANA FARMAKOLOGI
Bronkodilator
🡪 SABA : untuk bantuan langsung
🡪 LABA : untuk terapi pemeliharaan
🡪 SAMA : onset cepat, sesuai kebutuhan
🡪 LAMA : untuk terapi pemeliharaan
TATALAKSANA FARMAKOLOGI
Bronkodilator
🡪 sebagai terapi pemeliharaan setelah LABA / LAMA untuk bantuan tambahan
🡪 disebabkan oleh inhibitor PDE III dan IV
🡪 Contoh : kombinasi teofilin + salmeterol
TATALAKSANA FARMAKOLOGI
Bronkodilator
🡪 tidak untuk jangka panjang
🡪 Contoh : roflumilast
🡪 Contoh : azitromisin
TATALAKSANA FARMAKOLOGI
Vaksinasi
dan
PCV13 : Vaksin konjugat pneumococcuus 13-valen
PPSV23 : Vaksin polisakarida pneumococcus 23-valen
TATALAKSANA NON FARMAKOLOGI
Suplementasi O2: Langkah utama untuk manajemen eksaserbasi PPOK, harus dipantau ketat untuk mencegah asidosis respiratorik atau risiko kematian.
Analisis Gas Darah (AGD): Dilakukan 30–60 menit setelah pemberian O2 untuk memastikan oksigenasi tepat.
Long-Term Oxygen Therapy (LTOT): Diberikan pada pasien dengan PaO2 <55 mmHg atau SpO2 <88%, atau pada PaO2 55–60 mmHg dengan komplikasi seperti hipertensi pulmonal atau gagal jantung.
TERAPI OKSIGEN
Gambar 7. Berbagai metode pemberian oksigen
TERAPI OKSIGEN
Nasal Kanul
TERAPI OKSIGEN
Face Mask Sederhana
TERAPI OKSIGEN
Masker Wajah non-rebreathing
TERAPI OKSIGEN
konsentrasi oksigen yang tetap dan bercampur sekitar
Masker Venturi
TERAPI OKSIGEN
Non Invasive Ventilation
TERAPI OKSIGEN
Terapi Oksigen Emergensi
TERAPI OKSIGEN
Terapi Oksigen Emergensi
KESIMPULAN
KESIMPULAN
TERIMA KASIH