1 of 24

MELACAK JEJAK LELUHUR ORANG SUMBA

Kapita Selekta Sumba

(MKW21 201)

Universitas Kristen Wira Wacana Sumba

Dr. Rambu L.K.R. Nugrohowardhani, S.E.,M.A

2 of 24

CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH

  • CPMK :
  • Mampu menghargai keanekaragaman budaya, pandangan agama, dan kepercayaan, serta pendapat atau temuan orang lain
  • Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, dan sistematis dalam konteks implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora
  • Mampu menjelaskan hasil-hasil penelitian ilmiah yang terkait dengan isu-isu dalam kehidupan masyarakat di Pulau Sumba
  • Mampu menemukenali (identifikasi) potensi sumber daya di Pulau Sumba sebagai bentuk kekayaan, sekaligus potensi masalah yang dapat menghambat pembangunan berkelanjutan di Pulau Sumba
  • Sub-CPMK: Mampu menjelaskan asal-usul nenek moyang orang Sumba berdasarkan hasil penelitian ilmiah dan perkembangan ilmu pengetahuan

3 of 24

MENGAPA PERLU BELAJAR TENTANG TOPIK INI?

Dengan mengetahui sejarah nenek-moyang maka kita dapat:

  1. Mengetahui corak-hidup leluhur di masa lalu
  2. Menghargai nilai-nilai, tradisi, dan kekayaan budaya yang kita miliki
  3. Mengenal keunikan keberadaan masing-masing sehingga dapat menerima perbedaan sekaligus menghormati perbedaan yang ada
  4. Menemukan jati diri melalui kearifan lokal

4 of 24

SUMBA?

“Pulau Marapu”

“Pulau paling indah di dunia”

(Focus Magazine, No. 17, February 2018)

“Pulau Cendana/ Pulau Kuda Sandalwood”

“Pulau Savana, Pulau Seribu Bukit”

5 of 24

TEORI TENTANG NENEK MOYANG ORANG INDONESIA

Teori tentang nenek moyang orang Indonesia

Berdasarkan ilmu genetika & temuan arkeolog

Teori Out of Africa

Berdasarkan ilmu linguistik & temuan arkeolog

Teori Out of Taiwan

6 of 24

TEORI OUT OF AFRICA

  • Teori mengenai asal geografis dan migrasi awal manusia modern (Homo sapiens). Teori ini bependapat bahwa manusia modern berasal dari Afrika yang kemudian melakukan migrasi keluar Afrika, menyebar ke seluruh dunia, dan menjadi nenek moyang dari manusia-manusia modern yang hidup saat ini
  • Bukti utama teori ini adalah data DNA yang menunjukkan persebaran dari benua Afrika, dengan melihat Mt-DNA (mitokondrial DNA) dan Y-DNA (DNA pada kromosom laki-laki).

7 of 24

  • Manusia modern (Homo sapiens) kemungkinan besar berkembang di Afrika Timur antara 300.000 dan 200.000 tahun yang lalu, kemudian menyebar dari Afrika ke benua lain sekitar 70.000 tahun yang lalu, di sepanjang pantai Asia dan mencapai Australia sekitar 65.000-50.000 tahun yang lalu. Sementara Eropa dihuni manusia modern dari migrasi cabang dari Asia Barat dan Eropa kurang lebih 55.000 tahun yang lalu.
  • Migrasi ini mengikuti migrasi manusia purba sebelumnya, yaitu oleh Homo Erectus dan kemudian Homo Neanderthalensis.
  • Teori ini berpendapat bahwa hanya ada satu asal Homo Sapiens, dan menolak teori bahwa manusia modern berkembang di berbagai tempat di daerah lain, tetapi tidak menolak kemungkinan pencampuran antara Homo Sapiens dan manusia purba di Eropa dan Asia, seperti manusia purba Neantherthal dan Denisova.

8 of 24

TEORI OUT OF TAIWAN

  • Teori tentang migrasi nenek moyang bangsa Indonesia dari Pulau Formosa, Taiwan, melalui Filipina, sekitar 2500 SM dan sampai di Indonesia sekitar 1500 SM.
  • Migrasi ini menjadi bagian dari migrasi rumpun bangsa (ras) Austronesia di Samudra Pasifik Timur hingga Madagaskar di Samudra Hindia bagian barat, yang meliputi wilayah Malaysia, Indonesia, Brunei, Timor Leste dan negara sekitarnya.
  • Bukti utama teori ini adalah persebaran bahasa-bahasa Austronesia, seperti Melayu, Jawa, Tagalog (Filipina), Maori (Selandia Baru), Bugis dan Aceh yang tersebar bersama migrasi rumpun bangsa ini.

9 of 24

  • Diperkirakan, ras Austronesia bercampur dengan populasi lain yang sudah ada sebelumnya, termasuk dengan kelompok yang sudah sampai di Indonesia saat migrasi sesuai teori Out of Africa. Contoh populasi yang berasal dari migrasi manusia modern sebelum bangsa Austronesia dari Taiwan ini adalah suku-suku di Papua dan Maluku, yang memiliki bahasa sendiri dan bukan termasuk rumpun bahasa Austronesia.
  • Ketika bermigrasi, para penutur Austronesia memperkenalkan kebudayaan kepada masyarakat setempat. Oleh karena itu, interaksi budaya dan percampuran genetika pun tidak dapat dihindari.
  • Para penutur bahasa Austronesia merupakan bangsa pelaut yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di lautan dan bermigrasi dari satu pulau ke pulau lainnya. Budaya ini kemudian menjadi sebuah ciri khas tersendiri di Indonesia, yang merupakan negara kepulauan. Selain budaya maritim, kebudayaan lain yang dibawa diantaranya: bercocok tanam (padi, jewawut, tebu, ubi, dan keladi raksasa), domestikasi ternak (babi, anjing, dan ayam),teknologi perkapalan, pembuatan gerabah, perhiasan dari kerang dan batuan, tenun, dan kebiasaan makan sirih-pinang. Selain itu, ditemukan pula adanya kesamaan linguistik di antara masyarakat di kepulauan Asia Tenggara.
  • Penanda identitas penutur bahasa Austronesia yang paling terlihat di Indonesia adalah pemujaan terhadap leluhur. Pemujaan terhadap leluhur ini tercermin dengan penggunaan bangunan megalitik sebagai sarana peribadatan.

10 of 24

�KESIMPULAN DARI TEORI OUT OF AFRICA & OUT OF TAIWAN :

  • Berdasarkan bukti-bukti penemuan, nampaknya manusia modern awal telah ada sejak 45.000 tahun yang lalu di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara.
  • Dalam perkembangannya, kehidupan manusia modern ini dapat dikelompokkan dalam tiga tahap :
  • Tahap pertama, kehidupan manusia modern awal yang kehadirannya hingga akhir zaman es (sekitar 12.000 tahun lalu)
  • Tahap kedua, kehidupan manusia modern yang lebih kemudian, dan berdasarkan karakter fisiknya dikenal sebagai ras Australomelanesid.
  • Tahap ketiga, sekitar 4.000 tahun lalu, muncul penghuni baru di Kepulauan Indonesia yang dikenal sebagai penutur bahasa Austronesia yang berdasarkan karakter fisiknya tergolong dalam ras Mongolid.
  • Sekitar 5.000 tahun yang lalu kedua ras tersebut melakukan pencampuran genetis sehingga menghasilkan manusia Indonesia saat ini

11 of 24

EVOLUSI MANUSIA :

12 of 24

PENELITIAN TENTANG PENUTUR AUSTRONESIA DI INDONESIA – NUSA TENGGARA TIMUR

  • Awal tahun 2000 : Penelitian yang fokus pada studi Austronesia di Indonesia mulai dilakukan
  • Tahun 2012 : Penelitian tentang penutur Austronesia di wilayah NTT (Flores Timur)
  • 2015 : Penelitian di Pulau Sumbawa – NTB
  • 2016 & 2018 : Penelitian di Pulau Sumba – NTT, terkait dengan hasil penelitian arkeologi di Situs Melolo pada tahun 1972 dan 1990-an
  • Kesimpulan : Sejak sekitar 3.000 tahun yang lalu, wilayah NTT telah dihuni oleh penutur Austronesia dengan budaya Neolitik-nya. Melalui ketrampilan berlayar, mereka menyebar ke seluruh wilayah Nusantara melalui sungai hingga ke hulu dan kemudian tinggal menetap di dekat Sungai

13 of 24

NENEK MOYANG ORANG NTT(TEFU & KARWUR, 2017)

  • Tahun 1965 : Penelitian Th. Verhoeven di Pulau Flores
  • Tahun 2001 : Tim Arkeologi Nasional menemukan fosil manusia Homo Floresiensis dan fosil fauna dan artefak batu yang memperkirakan sudah ada manusia hidup di Pulau Flores 750.000 tahun yang lalu
  • Temuan lainnya menunjukkan budaya di Indonesia Timur memiliki keterkaitan dengan budaya Pasifik, namun bahasa yang digunakan di NTT terbagi menjadi dua rumpun, yaitu rumpun Austronesia dan Non-Austronesia
  • Berdasarkan uji kromosom Y, dalam darah orang NTT saat ini mengalir campuran tujuh garis keturunan, yaitu gen dari ras sebagai berikut; Asia Timur, Taiwan, Asia Tenggara, Arab, Jepang, Eropa, dan Papua/Melanesia
  • Di Pulau Sumba ada keunikan, Sumba bagian barat ada kawasan yang genetikanya mayoritas bertipe Melanesia. Sedangkan di Sumba bagian Timur, mayoritas bertipe Austronesia

14 of 24

PENELITIAN ARKEOLOGI DI SUMBA

  • Tahun 1956 : Penelitian oleh Van Heekeren di Melolo
  • Tahun 1978 : Penelitian lanjutan oleh Puslit Arkenas
  • Tahun 2016 – 2018 : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) yang dipimpin Dr. Retno Handini
  • Tujuan : mengetahui posisi Lambanapu dalam persebaran dan perkembangan leluhur Austronesia dan budayanya di Sumba.
  • Metode : survei, ekskavasi, analisis, dan interprestasi

15 of 24

HASIL PENELITIAN DI SITUS LAMBANAPU

  • Salah satu situs kubur dari masa prasejarah di Sumba Timur dengan hunian di sekitarnya yang ditunjukkan oleh temuan rangka manusia, kubur tempayan, artefak gerabah, perhiasan manik-manik, dan alat batu
  • Dari hasil pertanggalan, Situs Lambanapu menunjukkan bahwa daerah penemuan sudah dihuni manusia sejak kurang lebih 2.000 tahun yang lalu
  • Bentang alam Sumba pada masa purba berbeda dari bentang alam Sumba masa kini karena secara teori, manusia penghuni awal Situs Lambanapu hidup dekat pantai dan muara Sungai Kambaniru purba

16 of 24

BENTANG ALAM PULAU SUMBA

  • Empat bentuk bentang alam di Sumba; berundak, perbukitan, karts, dan pegunungan
  • Pulau Sumba terbentuk karena pengangkatan, bukan tumbukan lempengan seperti umumnya pulau-pulau lain di bagian Selatan Indonesia
  • Dengan kecepatan pengangkatan 0,5 mm setiap tahun, maka bisa dihitung bahwa Pulau Sumba terangkat 5 meter setiap 1.000 tahun

17 of 24

TEMUAN DI SITUS LAMBANAPU

  • Di dalam Situs Lambanapu di Sumba Timur ditemukan sebuah kotak yang berisi tulang belulang manusia dan hewan, tempayan kubur dari tanah liat, mangkok dari perunggu yang menjadi wadah kubur, manik-manik,dan gelang dari kerang
  • Terdapat enam kotak ekskavasi dengan puluhan tempayan kubur milik orang-orang yang pernah hidup pada sekitar 2.800 tahun lalu. Kubur itu terdiri atas tiga susun, padahal biasanya kuburan orang-orang Sumba di wilayah ini hanya terdiri dua susun saja. Melalui sistem penguburan ini diketahui bahwa dahulu mereka telah mengenal konsepsi kepercayaan.

18 of 24

PECAHAN GERABAH

19 of 24

PERHIASAN

Manik-manik (muti)

Gelang dari kerang

20 of 24

KERANGKA MANUSIA

21 of 24

KESIMPULAN :

  • Terkait dengan teori Out of Taiwan tentang persebaran leluhur Austronesia ke Indonesia, Situs Lambanapu menujukkan sudah ada manusia yang menghuni Pulau Sumba sejak 3.000 – 2.500 tahun yang lalu
  • Hasil analisis rangka di Situs Lambanapu menunjukkan adanya campuran antara dua ras, yaitu Ras Mongoloid dan Ras Australomelanesoid, dimana dalam Ras Mongoloid menunjukkan adanya campuran antara penutur Austronesia dan Austroasiatik
  • Data arkeologi, genetika, dan bahasa yang diperoleh di Situs Lambanapu menunjukkan leluhur Orang Sumba merupakan campuran antara dua ras, kurang lebih sama dengan populasi yang menghuni zona Wallacea pada umumnya

22 of 24

LESSON LEARNED :

  • Percampuran genetika terjadi melalui beberapa gelombang migrasi manusia di Nusantara :
  • Gelombang pertama terjadi sekitar 60.000 tahun yang lalu oleh Homo Sapiens. Di akhir zaman es (sekitar 12.000 tahun yang lalu) keturunan lanjut mencirikan karakter khas yang disebut Ras Australomelanesid
  • Gelombang berikutnya dilakukan oleh Ras Mongoloid yang bertutur Austroasiatik dari Asia Tenggara daratan dan Austronesia Taiwan

23 of 24

REFERENSI

  • Arif, Ahmad (2016) Ketika Mitos dan Genetik Bertemu di Wunga, Kompas
  • Handini, R., Truman Simanjuntak, Harry Octavianus Sofyan, Bagyo Prasetyo, Myrtati Dyah Artaria, Unggul Prasetyo Wibowo, I Made Geria (2018) Situs Lambanapu : Diaspora Austronesia di Sumba Timur, Amerta : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, Vol. 36, No. 2, halaman 1 – 14
  • Lansing, J.S., M.P.Cox, S.S. Downey, B.M. Gabler, B. Hallmark, T.M. Karafet, P. Norquest, J.W. Schoenfelder, H. Sudoyo, J.C. Watkins, and M.F. Hammer (2007) Coevolution of languages and genes on the island of Sumba, eastern Indonesia, PNAS, Vo. 104, No. 41, pp. 16022 - 16026
  • Simanjuntak, T., M. Ruly Fauzi, J.C. Galipaud, Fadhila A.Aziz, Hallie Buckley (2012) Prasejarah Austronesia di Nusa Tenggara Timur ; Sebuah Pandangan Awal, Amerta : Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, Vol. 30, No. 2, halaman 75 – 89
  • Tefu, Meti O.F.I, F.F. Karwur (2017) Pitarah Manusia Nusa Tenggara Timur Berdasarkan Cerita Kromosom Y, Scientiae Educatia : Jurnal Pendidikan Sains, Vol. 6 (2), halaman 144 – 165

24 of 24

TERIMA KASIH !