1 of 38

Bertumbuh

Penugasan

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Pola Pikir

2 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

PENUGASAN

NO

PENUGASAN

P1

Merangkum Konsep Pola Pikir Bertumbuh dalam bentuk Peta Pikiran

P2

Membuat RPP : Penerapan Pola Pikir Bertumbuh dalam Pembelajaran Mendalam dalam bentuk Peta Pikiran

3 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

P1 : Merangkum Konsep Pola Pikir Bertumbuh

  • Berdasarkan bahan bacaan yang terkait dengan Konsep Pola Pikir Bertumbuh di halaman 7 sd 12, buatlah ringkasan atau intisari dari materi yang dianggap esensial dan aplikatif dalam bentuk Peta Pikiran.
  • Berikut beberapa petunjuk yang bisa digunakan dalam menyusun Peta Pikiran.

4 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

  1. Siapkan selembar kertas A3 dan beberapa buah spidol atau pena berwarna.
  2. Tempatkan kertas itu dalam posisi “landscape” lalu tulislah : Konsep Pola Pikir Bertumbuh di tengah-tengah kertas sebagai Central Idea dan tambahkan gambar awan di sekeliling tulisan itu

Konsep PPB

5 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Selanjutnya buatlah beberapa “Cabang Utama” di keliling Central Idea itu (minimal 4 cabang utama) diantara adalah : Apa itu PPB, Mengapa PPB dibutuhkan, Perbedaan PPB dan PPT dan Cara Berubah dari PPT ke PPB.

6 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Di setiap Cabang Utama, tuliskan informasi yang dianggap esensial dalam bentuk Kategori untuk informasi yang dianggap “selevel” (misalnya Bahasa, Matematika, Sains) atau dalam bentuk Hirarki untuk informasi yang dianggap “tidak selevel” di mana satu informasi merupakan penjelasan dari informasi sebelumnya (misalnya : Bahasa – Indonesia – Tata Bahasa).

7 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

P2 : RPP Penerapan PolaPikir Bertumbuh untuk PM

  • Penerapan PPB dalam PM merupakan tujuan utama dari modul ini, oleh karena itu Penyusun RPP nya akan sangat berguna dan kali ini RPP dibuat dalam format Peta Pikiran agar lebih menarik dan singkat dalam 1 halaman.
  • Penyusunan RPP dalam bentuk Peta Pikiran dimulai dengan Central Ideanya yaitu : RPP Pola Pikir Bertumbuh untuk PM seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini.

RPP PPB untuk PM

8 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Sesuai dengan template RPP yang ada terdapat 4 bagian yaitu : Identifikasi, Desain Pembelajaran, Pengalaman Belajar dan Asesmen yang selanjutnya akan menjadi 4 Cabang Utama dari Peta Pikiran.

9 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Selanjutnya adalah proses untuk mengisi informasi detail dari RPP di setiap Cabang Utama sesuai dengan Template yang ada.

10 of 38

Bertumbuh

Kegiatan Pembelajaran

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Pola Pikir

11 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

KEGIATAN PEMBELAJARAN

No

Kegiatan Pembelajaran

KP1

Pemetaan Profil Pola Pikir

KP2

Dari Pola Pikir Tetap menjadi Pola Pikir Bertumbuh

KP3

Intervensi Pola Pikir

KP4

Integrasi Karakter ke dalam Akademik

KP5

Merancang Proyek Inovasi

12 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

KP1 : Pemetaan Profil Pola Pikir

Materi ini bertujuan untuk Memetakan Profil Pola Pikir yang ada di sekolah atau di kelas sebab sebagai KS/PS maupun Guru, data hasil pementaan ini akan sangat berguna untuk merancang program yang diperlukan untuk mendorong perubahan PPT menjadi PPB baik untuk guru maupun murid.

Seperti telah disampaikan dalam Bahan Bacaan bahwa :

  • Berdasarkan Survei Profil Pola Pikir dalam PISA 2018, Indonesia termasuk dalam 6 negara dengan % murid yang memiliki PPB paling rendah dari 79 negara peserta.
  • 2 dari 3 murid kita menjawab : Setuju dan Sangat Setuju pada Pernyataan : Kecerdasan adalah sesuatu tentang diri Anda yang tidak bisa banyak diubah.
  • Analisis dari hasil Survei Pola Pikir menunjukkan bahwa : terdapat korelasi yang kuat antara persentase murid dengan PPB dengan nilai akademik di suatu negara. Negara dengan persentase murid yang PBB tinggi akan memiliki nilai akademis yang tinggi pula dan sebaliknya.
  • OECD menyimpulkan bahwa Profil Pola Pikir murid sangat dipengaruhi oleh pola pikir guru.

13 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Reflesi Awal

  1. Bagaimana Profil Pola Pikir dari sekolah atau kelas yang saya pimpin ?
  2. Apa yang harus dilakukan bilamana hasil Pementaan Pola Pikir menunjukkan lebih banyak yang PPT dari pada yang PPB?
  3. Apa masalah yang sering terjadi di sekolah atau di kelas sebagai dampak dari PPT?

14 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Aktivitas Pelatihan

  1. Bapak/Ibu mari kita persiapan materi yang akan digunakan dalam Pemetaan Profil Pola Pikir. Paket 20 soal untuk Guru dan murid SMA dengan 4 opsi jawaban serta Paket 10 soal untuk murid SD dan SMP dengan 2 opsi jawaban (Benar – Salah).
  2. Bila semuanya sudah siap, kegiatan Pementaan Profil Pola Pikir bisa dimulai dengan durasi : 20 menit untuk paket 20 soal dan 10 menit untuk paket 10 soal.
  3. Selama Pemetaan berlangsung, Bapak/Ibu boleh memberi penjelasan bila ada peserta yang kurang paham terhadap butir-butir soal yang diberikan.
  4. Setelah waktu habis, kumpulkan seluruh lembar jawaban dan langsung diperiksa. Untuk paket 20 soal, berdasarkan angka yang diperoleh setiap peserta maka akan terbentuk 4 kelompok yaitu : FF (Tetap), FG (Tetap bertumbuh), GF (Bertumbuh Tetap) dan GG (Bertumbuh) sedangkan untuk paket 10 soal akan terbentuk 2 kelompok yaitu F (Tetap), F/G (Campuran) dan G (Bertumbuh).
  5. Selanjutnya dilakukan analisa mikro per individu untuk setiap item soal yang dijawab dengan orientasi PPT.
  6. Selanjutnya memaparkan hasil Pementaan Profil Pola Pikir secara global sedangkan hasil pemetaan mikro per individu dapat diberikan secara langsung kepada ybs dan terbuka untuk proses diskusi terutama untuk item-item soal yang dijawab dengan orientasi PPT.

15 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Reflesi Akhir

Setelah melakukan Aktivitas Pelatihan mari kita melaksanakan refleksi sebagai penutup kegiatan dengan menjawab pertanyaan berikut,

  1. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu terhadap hasil Pemetaan Profil Pola Pikir?
  2. Apakah profil yang diperoleh menunjukkan sekolah atau kelas beroritensi pada PPT atau PBB?
  3. Apa yang harus dilakukan bilamana orientasi sekolah atau kelas adalah PTT?
  4. Khusus bagi guru atau murid yang terindikasi PTT, apa yang harus dilakukan agar bisa didorong menjadi PPB?

16 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

KP2 : Dari PPT menjadi PPB

Seperti yang telah diuraikan dalam Bahan Bacaan (bagian : Dari PPT jadi PPB), orientasi pola pikir seseroang ditentukan oleh jenis Suara yang diikutinya. Suara PPT adalah suara menimbulkan “kekhawatiran” bila berhadapan dengan berbagai kendala sebaliknya Suara PPB memunculkan rasa “optimisme” saat berhadapan dengan tantangan dan kesulitan. Oleh karena itu, ketrampilan untuk mengajarkan cara mengubah Suara PPT menjadi Suara PPB menjadi sangat penting bagi Kepala Sekolah/Pengawas Sekolah serta Guru. Dalam Kegiatan Pembelajaran II ini, kita akan membahas 4 langkah cara berubah dari PPT menjadi PPB yang disusun oleh Prof Dweck dengan fokus utama pad acara mengubah Suara PPT menjadi Suara PPB.

17 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Reflesi Awal

Bapak/Ibu sebelum memulai kegiatan mari kita bersama-sama mencermati beberapa hal berikut ini :

  1. Mengapa ada orang yang lebih cendrung untuk mengikuti Suara PPTnya ?
  2. Mengapa banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka selalu punya “pilihan” selain dari Suara PPT ?
  3. Mengapa Suara PPT terkesan lebih “dominan” dari Suara PPB?

18 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Aktivitas Pelatihan

  1. Minta beberapa orang peserta untuk menceritakan pengalaman mereka pada saat berhadapan dengan berbagai tantangan, hambatan dan kesulitan.
  2. Selanjutnya minta mereka menjelaskan tentang tindakan apa yang mereka lakukan untuk mengatasi berbagai kendala itu.
  3. Lalu siapakan Kertas Kerja dalam bentuk Tabel seperti di halaman berikut ini.
  4. Isi kolom kejadian berdasarkan cerita dari pengalaman beberapa peserta di awal kegiatan lalu isi juga tindakan yang telah mereka lakukan untuk mengatasinya di kolom yang sesuai yaitu Kolom Suara PPT (bilamana tindakan yang mereka lakukan lebih berorientasi pada PPT) atau Kolom Suara PPB (bilamana tindakan itu berorientasi pada PPB).
  5. Selanjutnya fokus pada Kolom Suara PPT yang terisi dan diskusikan dalam kelompok tentang bagaimana mengubah Suara PPT itu menjadi Suara PPB.
  6. Minta setiap kelompok untuk memaparkan Suara PPB yang mereka susun sebagai pengganti Suara PPT di kolom yang terisi.

19 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Kejadian

Suara PPT

Suara PPB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Reflesi Akhir

Setelah melakukan aktivitas pelatihan ini, mari kita melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan berikut,

  1. Dari 4 tahap untuk berubah dari PPT menjadi PBB, langkah mana yang paling penting?
  2. Suara PPT dan Suara PPB akan selalu ada dalam diri seseorang, bagaimana cara yang bisa dilakukan agar kita bisa “lebih sering” mengikuti Suara PPB dari pada mengikuti Suara PPT?
  3. Bagaimana rencana tindak lanjut untuk meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan Suara PPB agar dapat menekan munculnya Suara PPT bila terjadi sebuah peristiwa?

21 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

KP3 : Intervensi Pola Pikir

Kali ini kita akan mempelajari sebuah “ketrampilan utama” yang perlu Bapak/Ibu kuasai agar bisa digunakan pada saat berhadapan dengan orang yang menunjukkan orientasi PPT. Intervensi Pola Pikir yang diteliti oleh PERTS di Universitas Stanford dan terbukti memberikan hasil yang baik sehingga banyak diadopsi oleh banyak kalangan khususnya dalam pendidikan. Intervensi Pola Pikir ibarat “senjata andalan” bagi Bapak/Ibu dalam upaya untuk mengatasi orang yang berorientasi PPT lewat kemampuan “komunikasi efektif” seperti yang dibahas oleh Brock dan Hundley dalam bukunya In Other Words: Pharases for Growth Mindset (2018). Pada Bagian Tiga buku itu, kedua penulis menegaskan kekuatan dari pujian proses serta strategi untuk membangun hubungan yang kuat antara guru dan murid.

Sebelum memulai aktivitas pelatihan ini, ada baiknya kita lihat kembali prosedur Intervensi Pola Pikir yang ada dalam Bahan Bacaan.

22 of 38

Prosedur Intervensi Pola Pikir

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Saat melihat ada murid yang mau menyerah ketika menemui tantangan atau kesulitan, segera dorong dia untuk mencoba lagi.

Pada saat murid mau mencoba lagi segera beri "pujian proses" karena telah mau berusaha.

Lalu jelaskan kepada murid tsb tentang PPT dan PPB dan perbedaan utamanya pada saat menghadapi tantangan dalam belajar.

Jelaskan kepada murid bahwa berbuat salah merupakan cara otak untuk belajar dan berkembang.

23 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Reflesi Awal

Sebelum melakukan aktivitas kelompok, Bapak/Ibu mari kita melakukan refleksi awal dengan memikirkan beberapa hal berikut ini :

  1. Apa yang selama ini yang telah kita lakukan bila melihat ada murid yang mengalami kesulitan dalam belajar dan terlihat ingin menyerah ?
  2. Apakah tindakan yang dilakukan bisa memperbaiki keadaan atau sebaliknya malahan memperburuk keadaan?.
  3. Apakah ada pihak lain yang kita libatkan dalam upaya mencari solusi untuk mengatasi masalah ini seperti : guru BK atau Orangtua murid ybs?

24 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Aktivitas Pelatihan

  1. Bagi peserta menjadi beberapa kelompok dan minta mereka untuk mempelajari prosedur Intervensi Pola Pikir seperti di atas.
  2. Lalu minta setiap kelompok untuk menyusun prosedur Intervensi dengan kalimat-kalimat sendiri namun dengan tujuan yang tetap sama dengan semula lalu isikan ke Lembar Kerja di halaman berikut ini.
  3. Selanjutnya praktekkan di dalam setiap kelompok secara bergantian prosedur Intervensi Pola Pikir ini ke teman sesama kelompok sambil melihat apakah ada kata-kata yang perlu direvisi, ditambah atau dikurangi.
  4. Setelah itu, setiap kelompok memaparkan prosedur Intervensi Pola Pikir kepada seluruh kelompok lainnya dan boleh ada proses Tanya jawab atau masukan dari peserta lainnya.
  5. Inti dari aktivitas ini adalah memberikan pemahaman dasar tentang “prosedur” untuk melakakukan Intervensi Pola Pikir secara efektif.

25 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

26 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Reflesi Akhir

Setelah Bapak/Ibu merancang prosedur dan berlatih untuk melakukan Intervensi Pola Pikir, mari kita melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan berikut:

  1. Apa yang harus kita lakukan untuk meningkatkan efektivitas dari Intervensi Pola Pikir ini khususnya saat berhadapan dengan murid yang selama ini terkesan berorientasi pada PPT sehingga “mudah menyerah” pada saat mengalami kesulitan dalam belajar?
  2. Apa ada pihak lain yang perlu kita libatkan dalam Intervensi Pola Pikir ini dengan tujuan agar lebih efektif?
  3. Bagaimana cara menjaga dan meningkatkan bila kita melihat Intervensi Pola Pikir ini telah memberikan hasil yang positif yang tampak dalam perubahan sikap dari murid ybs?

27 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

KP4 : Integrasi Karakter ke dalam Akademik

Seperti kita ketahui bahwa dalam Pengalaman Belajar terdapat tiga macam pengetahuan yang akan dikembangkan pada tahap Memahami yaitu : Pengetahuan Esensial, Pengetahuan Aplikatif dan Pengetahuan Nilai dan Karakter. Berdasarkan pengalaman selama ini, seringkali Pengetahuan Nilai dan Karakter terabaikan khususnya dalam mapel di luar Agama dan PPKn karena dianggap bukan bagian dari mapel tersebut. Hal ini telah menimbulkan adanya “gap” antara mapel Bapak/Ibu sebelum memulai aktivitas pelatihan, mari kita melakukan brainstorming terlebih dahulu. Pernahkah Bapak/Ibu menghadapi murid yang dapat mengingat teori dengan baik tetapi kesulitan saat harus menerapkannya dalam kehidupan nyata? Atau murid yang dapat mengerjakan soal dengan benar, tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa jawaban tersebut benar? Fenomena ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang terjadi masih sebatas hafalan, bukan pemahaman yang mendalam. Akibatnya, murid hanya berorientasi pada nilai dan ujian tanpa benar-benar memahami konsep yang mereka pelajari. Dalam dunia pendidikan yang semakin menuntut pemecahan masalah nyata dan pemikiran kritis, bagaimana kita bisa memastikan bahwa murid tidak hanya sekadar mengingat informasi, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan mereka secara bermakna dalam berbagai situasi kehidupan?

28 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Reflesi Awal

Sebelum memulai kegiatan pembelajarn ini mari kita melakukan refleksi sejenak, Mengapa Pendidikan Karakter di sekolah terkesan “gagal” sehingga membuat banyak murid yang memiliki sikap yang kurang baik yang terlihat dalam sikapnya terhadap guru atau orang yang lebih tua. Sekolah terkesan hanya menjadi tempat untuk mengajar dan bukan menjadi tempat untuk “mendidik” sebab aktivitas utama di dalam kelas hanyalah menyampaikan materi pelajaran lalu mengadakan ujian. Apakah ini sudah sesuai dengan tujuan utama dari pendidikan yaitu : membuat murid menjadi cerdas dan berkarakter?

29 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Aktivitas Pelatihan

  1. Mari kita awali pelatihan ini dengan meminta peserta untuk menceritakan bagaimana cara yang mereka lakukan selama ini untuk “mengintegrasikan” nilai-nilai karakter dalam materi pelajaran di dalam kelas.
  2. Lalu berdasarkan sharing dari peserta, buat catatan dari mata pelajaran apa saja terdapat materi yang berhubungan dengan karakter dan dalam mata pelajaran apa saja yang “tidak pernah” mengintegrasikan materinya dengan nilai-nilai karakter.
  3. Minta guru yang mengajarkan materi yang “tidak memiliki” materi karakternya untuk mencari “apa hubungan” materi pelajaran yang mereka ajarkan dengan kehidupan se hari-hari murid (pembelajaran Bermakna).
  4. Selanjutnya diskusikan dengan peserta tentang strategi apa yang bisa dilakukan agar seluruh mata pelajaran bisa “mengintegrasikan” nilai-nilai karakter dalam materi yang diajarkan di dalam kelas.
  5. Lalu diskusikan cara “mengkaitkan” peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat yang berhubungan dengan nilai-nilai karakter baik yang positif (kepedulian, rasa hormat, prestasi dll) maupun yang negatif (korupsi, pelecehan, kriminalitas dll).

30 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Reflesi Akhir

Setelah mempelajari cara “mengintegrasikan” nilai-nilai karakter dalam setiap mata pelajaran, mari kita melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan berikut

  1. Bagaimana mempersiapkan proses integrasi nilai-nilai karakter kedalam materi akademis agar bisa lebih efektif?
  2. Bagaimana mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh Bapak/Ibu dalam proses integrase nilai-nilai karakter yang selama ini jarang bahkan tidak pernah dilakukan?
  3. Bagaimana cara menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan se hari-hari murid agar proses integrase nilai-nilai karakter bisa dilakukan dengan baik?

31 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

KP5 : Rancangan Proyek Inovasi

Seperti yang disampaikan oleh Mehta dan Fine dalam bukunya In Search of Deeper Learning (2019), Pembelajaran Mendalam adalah kombinasi dari tiga komponen yaitu : mastery, identity dan creativity. Khusus untuk creativity, kedua penulis mempertegasnya dengan istilah “innovative thinking”. Kreativitas dan Inovasi adalah dua aktivitas yang akan selalu bersama sebab ada sebuah formula yang menunjukkan keterkaitannya : Innovation = Creativity + Implementation. Tepat sekali, inovasi adalah kreativitas yang diimplementasikan jadi tidak bakal ada inovasi tanpa kreativitas. Dalam pelatihan ini, kita akan belajar bagaimana melakukan inovasi di tempat kerja kita secara sederhana namun efektif dan tidak perlu harus mencari ke luar (outside the box) tapi cukup dengan melakukan pengamatan di area kerja kita sendiri (inside the box).

32 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Reflesi Awal

  1. Apakah suasana kerja di area kita berjalan secara monoton dan tidak tampak adanya perubahan apapun juga?
  2. Apakah ada hal-hal yang dirasakan berjalan secara “tidak sesuai” dengan yang seharusnya?
  3. Usaha dan tindakan apa yang sudah kita lakukan untuk mengatasi hal ini?
  4. Apakah usaha dan tindakan yang telah kita lakukan membawa perubahan atau tidak bahkan situasi semakin memburuk?
  5. Bagaimana reaksi dari tim di tempat kerja bila terjadi sebuah perubahan?

33 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Aktivitas Pelatihan

  1. Mari kita mulai aktivitas untuk Proyek Inovasi dengan membagi peserta menjadi beberapa kelompok lalu diawali dengan proses “identifikasi masalah” dengan tujuan “mencari objek inovasi” dengan mengisi Tabel di bawah ini.

Pertanyaan Pemantik

Bila ada, tulis penjelasannya

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang membutuhkan waktu yang lama?

 

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang melibatkan banyak pihak/orang?

 

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang membutuhkan biaya yang besar?

 

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang sering menimbulkan masalah?

 

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang sering terhambat oleh SOP atau Aturan?

 

34 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

2. Selanjutnya fokus kepada kolom yang di jawab “ada” lalu buat pemetaan dari tahap demi tahap yang ada dalam proses kerja atau proses pembelajaran itu untuk mencari “proses kerja kritisnya” yang akan dijadikan objek dari Proyek Inovasi.

35 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

3. Setelah menemukan proses kerja kritis yaitu proses kerja yang menjadi “akar masalah” maka selanjutnya adalah proses pengembangan ide, solusi atau alternative dengan menggunakan metode CREATE dengan mengisi Tabel berikut ini.

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “digabungkan”, misalnya dari A dan B menjadi AB?

 

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “dibalik”, misalnya dari A – B menjadi B - A?

 

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “dihilangkan” (seluruhnya atau cuma sebagian), misalnya AB menjadi A sedangkan B dihilangkan atau menjadi Ab (dengan B diperkecil menjadi b)?

 

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “diganti” misalnya dari manual ke digital atau dari luring menjadi daring?

 

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “diputar” misalnya dari A – B – C menjadi A – C – B agar lebih efisien?

 

Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “diurai” menjadi beberapa proses yang baru, misalnya dari P1 diurai menjadi P11 dan P12?

 

36 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

4. Tahap akhir adalah tahap analisis dan evaluasi dari kolom yang di jawab “ada” saja, bandingkan ide yang satu dengan ide yang lain untuk mencari ide mana yang paling tepat untuk diimplementasikan dengan mempertimbangkan sarana dan prasarana yang tersedia serta aturan yang berlaku saat ini. Seringkali “ide terpilih” bukanlah yang terbaik tapi yang paling mungkin untuk dilaksanakan dalam kondisi yang ada.

5. Aktifitas Pelatihan hari ini bertujuan untuk mempelajari cara yang sederhana tapi efektif dalam merangcang Proyek Inovasi di tempat kerja atau tempat belajar

37 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Reflesi Akhir

Setelah berlatih mengerjakan Proyek Inovasi yang terdiri dari 4 tahap yaitu :

  1. Identifikasi objek inovasi lewat pertanyaan pematik,
  2. Mencari “proses kerja kritis” lewat pemetaan proses kerja
  3. Mengembangkan ide, solusi atau alternatif dengan metode CREATE.
  4. Menganalisis dan mengevaluasi setiap ide, solusi atau alternatif yang ada untuk memilih yang ide, solusi atau alternatif yang “paling tepat” untuk diimplementasikan.

38 of 38

Kementerian Pendidikan

Dasar dan Menengah

Berdasarkan 4 (empat) tahap kegiatan di atas, mari melakukan refleksi dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.

  1. Tahap mana yang paling sulit atau paling menantang untuk dilakukan?
  2. Dalam tahap identifikasi masalah, bagaimana cara mengajak anggota tim untuk mau “terbuka” terhadap maslah yang ada?
  3. Bagaimana melakukan Pemetaan Proses Kerja agar tidak ada proses yang terlupakan atau sebaliknya terlalu banyak tahap proses yang masuk pemetaan sehingga menyulitkan untuk menemukan “proses kerja kritis” nya.
  4. Apa yang harus disiapkan agar Metode CREATE bisa digunakan secara efektif dan menghasilkan banyak ide, solusi dan alternatif?
  5. Tahap terakhir akan menjadi penentu ide, solusi atau alternatif mana yang akan diimplementasikan, bagaimana cara agar yang terpilih adalah yang paling realistis sehingga tidak terasa “mengusik” proses yang sudah ada?