Bertumbuh
Penugasan
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Pola Pikir
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
PENUGASAN
NO | PENUGASAN |
P1 | Merangkum Konsep Pola Pikir Bertumbuh dalam bentuk Peta Pikiran |
P2 | Membuat RPP : Penerapan Pola Pikir Bertumbuh dalam Pembelajaran Mendalam dalam bentuk Peta Pikiran |
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
P1 : Merangkum Konsep Pola Pikir Bertumbuh
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Konsep PPB
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Selanjutnya buatlah beberapa “Cabang Utama” di keliling Central Idea itu (minimal 4 cabang utama) diantara adalah : Apa itu PPB, Mengapa PPB dibutuhkan, Perbedaan PPB dan PPT dan Cara Berubah dari PPT ke PPB.
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Di setiap Cabang Utama, tuliskan informasi yang dianggap esensial dalam bentuk Kategori untuk informasi yang dianggap “selevel” (misalnya Bahasa, Matematika, Sains) atau dalam bentuk Hirarki untuk informasi yang dianggap “tidak selevel” di mana satu informasi merupakan penjelasan dari informasi sebelumnya (misalnya : Bahasa – Indonesia – Tata Bahasa).
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
P2 : RPP Penerapan PolaPikir Bertumbuh untuk PM
RPP PPB untuk PM
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Sesuai dengan template RPP yang ada terdapat 4 bagian yaitu : Identifikasi, Desain Pembelajaran, Pengalaman Belajar dan Asesmen yang selanjutnya akan menjadi 4 Cabang Utama dari Peta Pikiran.
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Selanjutnya adalah proses untuk mengisi informasi detail dari RPP di setiap Cabang Utama sesuai dengan Template yang ada.
Bertumbuh
Kegiatan Pembelajaran
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Pola Pikir
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
KEGIATAN PEMBELAJARAN
No | Kegiatan Pembelajaran |
KP1 | Pemetaan Profil Pola Pikir |
KP2 | Dari Pola Pikir Tetap menjadi Pola Pikir Bertumbuh |
KP3 | Intervensi Pola Pikir |
KP4 | Integrasi Karakter ke dalam Akademik |
KP5 | Merancang Proyek Inovasi |
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
KP1 : Pemetaan Profil Pola Pikir
Materi ini bertujuan untuk Memetakan Profil Pola Pikir yang ada di sekolah atau di kelas sebab sebagai KS/PS maupun Guru, data hasil pementaan ini akan sangat berguna untuk merancang program yang diperlukan untuk mendorong perubahan PPT menjadi PPB baik untuk guru maupun murid.
Seperti telah disampaikan dalam Bahan Bacaan bahwa :
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Reflesi Awal
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Aktivitas Pelatihan
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Reflesi Akhir
Setelah melakukan Aktivitas Pelatihan mari kita melaksanakan refleksi sebagai penutup kegiatan dengan menjawab pertanyaan berikut,
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
KP2 : Dari PPT menjadi PPB
Seperti yang telah diuraikan dalam Bahan Bacaan (bagian : Dari PPT jadi PPB), orientasi pola pikir seseroang ditentukan oleh jenis Suara yang diikutinya. Suara PPT adalah suara menimbulkan “kekhawatiran” bila berhadapan dengan berbagai kendala sebaliknya Suara PPB memunculkan rasa “optimisme” saat berhadapan dengan tantangan dan kesulitan. Oleh karena itu, ketrampilan untuk mengajarkan cara mengubah Suara PPT menjadi Suara PPB menjadi sangat penting bagi Kepala Sekolah/Pengawas Sekolah serta Guru. Dalam Kegiatan Pembelajaran II ini, kita akan membahas 4 langkah cara berubah dari PPT menjadi PPB yang disusun oleh Prof Dweck dengan fokus utama pad acara mengubah Suara PPT menjadi Suara PPB.
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Reflesi Awal
Bapak/Ibu sebelum memulai kegiatan mari kita bersama-sama mencermati beberapa hal berikut ini :
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Aktivitas Pelatihan
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Kejadian | Suara PPT | Suara PPB |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Reflesi Akhir
Setelah melakukan aktivitas pelatihan ini, mari kita melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan berikut,
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
KP3 : Intervensi Pola Pikir
Kali ini kita akan mempelajari sebuah “ketrampilan utama” yang perlu Bapak/Ibu kuasai agar bisa digunakan pada saat berhadapan dengan orang yang menunjukkan orientasi PPT. Intervensi Pola Pikir yang diteliti oleh PERTS di Universitas Stanford dan terbukti memberikan hasil yang baik sehingga banyak diadopsi oleh banyak kalangan khususnya dalam pendidikan. Intervensi Pola Pikir ibarat “senjata andalan” bagi Bapak/Ibu dalam upaya untuk mengatasi orang yang berorientasi PPT lewat kemampuan “komunikasi efektif” seperti yang dibahas oleh Brock dan Hundley dalam bukunya In Other Words: Pharases for Growth Mindset (2018). Pada Bagian Tiga buku itu, kedua penulis menegaskan kekuatan dari pujian proses serta strategi untuk membangun hubungan yang kuat antara guru dan murid.
Sebelum memulai aktivitas pelatihan ini, ada baiknya kita lihat kembali prosedur Intervensi Pola Pikir yang ada dalam Bahan Bacaan.
Prosedur Intervensi Pola Pikir
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Saat melihat ada murid yang mau menyerah ketika menemui tantangan atau kesulitan, segera dorong dia untuk mencoba lagi.
Pada saat murid mau mencoba lagi segera beri "pujian proses" karena telah mau berusaha.
Lalu jelaskan kepada murid tsb tentang PPT dan PPB dan perbedaan utamanya pada saat menghadapi tantangan dalam belajar.
Jelaskan kepada murid bahwa berbuat salah merupakan cara otak untuk belajar dan berkembang.
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Reflesi Awal
Sebelum melakukan aktivitas kelompok, Bapak/Ibu mari kita melakukan refleksi awal dengan memikirkan beberapa hal berikut ini :
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Aktivitas Pelatihan
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Reflesi Akhir
Setelah Bapak/Ibu merancang prosedur dan berlatih untuk melakukan Intervensi Pola Pikir, mari kita melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan berikut:
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
KP4 : Integrasi Karakter ke dalam Akademik
Seperti kita ketahui bahwa dalam Pengalaman Belajar terdapat tiga macam pengetahuan yang akan dikembangkan pada tahap Memahami yaitu : Pengetahuan Esensial, Pengetahuan Aplikatif dan Pengetahuan Nilai dan Karakter. Berdasarkan pengalaman selama ini, seringkali Pengetahuan Nilai dan Karakter terabaikan khususnya dalam mapel di luar Agama dan PPKn karena dianggap bukan bagian dari mapel tersebut. Hal ini telah menimbulkan adanya “gap” antara mapel Bapak/Ibu sebelum memulai aktivitas pelatihan, mari kita melakukan brainstorming terlebih dahulu. Pernahkah Bapak/Ibu menghadapi murid yang dapat mengingat teori dengan baik tetapi kesulitan saat harus menerapkannya dalam kehidupan nyata? Atau murid yang dapat mengerjakan soal dengan benar, tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa jawaban tersebut benar? Fenomena ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang terjadi masih sebatas hafalan, bukan pemahaman yang mendalam. Akibatnya, murid hanya berorientasi pada nilai dan ujian tanpa benar-benar memahami konsep yang mereka pelajari. Dalam dunia pendidikan yang semakin menuntut pemecahan masalah nyata dan pemikiran kritis, bagaimana kita bisa memastikan bahwa murid tidak hanya sekadar mengingat informasi, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan mereka secara bermakna dalam berbagai situasi kehidupan?
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Reflesi Awal
Sebelum memulai kegiatan pembelajarn ini mari kita melakukan refleksi sejenak, Mengapa Pendidikan Karakter di sekolah terkesan “gagal” sehingga membuat banyak murid yang memiliki sikap yang kurang baik yang terlihat dalam sikapnya terhadap guru atau orang yang lebih tua. Sekolah terkesan hanya menjadi tempat untuk mengajar dan bukan menjadi tempat untuk “mendidik” sebab aktivitas utama di dalam kelas hanyalah menyampaikan materi pelajaran lalu mengadakan ujian. Apakah ini sudah sesuai dengan tujuan utama dari pendidikan yaitu : membuat murid menjadi cerdas dan berkarakter?
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Aktivitas Pelatihan
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Reflesi Akhir
Setelah mempelajari cara “mengintegrasikan” nilai-nilai karakter dalam setiap mata pelajaran, mari kita melakukan refleksi dengan menjawab pertanyaan berikut
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
KP5 : Rancangan Proyek Inovasi
Seperti yang disampaikan oleh Mehta dan Fine dalam bukunya In Search of Deeper Learning (2019), Pembelajaran Mendalam adalah kombinasi dari tiga komponen yaitu : mastery, identity dan creativity. Khusus untuk creativity, kedua penulis mempertegasnya dengan istilah “innovative thinking”. Kreativitas dan Inovasi adalah dua aktivitas yang akan selalu bersama sebab ada sebuah formula yang menunjukkan keterkaitannya : Innovation = Creativity + Implementation. Tepat sekali, inovasi adalah kreativitas yang diimplementasikan jadi tidak bakal ada inovasi tanpa kreativitas. Dalam pelatihan ini, kita akan belajar bagaimana melakukan inovasi di tempat kerja kita secara sederhana namun efektif dan tidak perlu harus mencari ke luar (outside the box) tapi cukup dengan melakukan pengamatan di area kerja kita sendiri (inside the box).
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Reflesi Awal
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Aktivitas Pelatihan
Pertanyaan Pemantik | Bila ada, tulis penjelasannya |
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang membutuhkan waktu yang lama? |
|
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang melibatkan banyak pihak/orang? |
|
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang membutuhkan biaya yang besar? |
|
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang sering menimbulkan masalah? |
|
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang sering terhambat oleh SOP atau Aturan? |
|
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
2. Selanjutnya fokus kepada kolom yang di jawab “ada” lalu buat pemetaan dari tahap demi tahap yang ada dalam proses kerja atau proses pembelajaran itu untuk mencari “proses kerja kritisnya” yang akan dijadikan objek dari Proyek Inovasi.
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
3. Setelah menemukan proses kerja kritis yaitu proses kerja yang menjadi “akar masalah” maka selanjutnya adalah proses pengembangan ide, solusi atau alternative dengan menggunakan metode CREATE dengan mengisi Tabel berikut ini.
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “digabungkan”, misalnya dari A dan B menjadi AB? |
|
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “dibalik”, misalnya dari A – B menjadi B - A? |
|
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “dihilangkan” (seluruhnya atau cuma sebagian), misalnya AB menjadi A sedangkan B dihilangkan atau menjadi Ab (dengan B diperkecil menjadi b)? |
|
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “diganti” misalnya dari manual ke digital atau dari luring menjadi daring? |
|
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “diputar” misalnya dari A – B – C menjadi A – C – B agar lebih efisien? |
|
Apakah ada proses kerja atau proses pembelajaran yang bisa “diurai” menjadi beberapa proses yang baru, misalnya dari P1 diurai menjadi P11 dan P12? |
|
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
4. Tahap akhir adalah tahap analisis dan evaluasi dari kolom yang di jawab “ada” saja, bandingkan ide yang satu dengan ide yang lain untuk mencari ide mana yang paling tepat untuk diimplementasikan dengan mempertimbangkan sarana dan prasarana yang tersedia serta aturan yang berlaku saat ini. Seringkali “ide terpilih” bukanlah yang terbaik tapi yang paling mungkin untuk dilaksanakan dalam kondisi yang ada.
5. Aktifitas Pelatihan hari ini bertujuan untuk mempelajari cara yang sederhana tapi efektif dalam merangcang Proyek Inovasi di tempat kerja atau tempat belajar
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Reflesi Akhir
Setelah berlatih mengerjakan Proyek Inovasi yang terdiri dari 4 tahap yaitu :
Kementerian Pendidikan
Dasar dan Menengah
Berdasarkan 4 (empat) tahap kegiatan di atas, mari melakukan refleksi dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.