1 of 27

Perencanaan Pembelajaran

pada Kurikulum Merdeka

10 April 2023

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN

RISET, DAN TEKNOLOGI

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

2 of 27

2

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

3 of 27

3

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

4 of 27

Struktur Kurikulum dibagi menjadi dua komponen utama, intrakurikuler dan projek penguatan profil pelajar Pancasila

Contoh: Struktur Kurikulum Pendidikan Anak Usía Dini (PAUD), Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

  1. Pembelajaran intrakurikuler. Kegiatan pembelajaran intrakurikuler untuk setiap mata pelajaran mengacu pada capaian pembelajaran. Pada jenjang SD/MI dapat mengorganisasikan muatan pembelajaran menggunakan pendekatan mata pelajaran atau tematik. Sementara pada SMA kelas XI-XII peserta didik diberkan kesempatan memilih mata pelajaran pilihan.
  2. Pembelajaran kokurikuler: Projek penguatan profil pelajar Pancasila. Kegiatan pembelajaran khusus yang ditujukan untuk memperkuat upaya pencapaian elemen dan subelemen pada dimensi profil pelajar Pancasila. Bobot jam pelajarannya sekitar 20-30% dari total jam pelajaran.

Struktur kurikulum terbagi dalam 6 fase dan 1 fase fondasi:

  1. Fase Fondasi (PAUD)
  2. Fase A (SD kelas 1 dan 2)
  3. Fase B (SD kelas 3 dan 4)
  4. Fase C (SD kelas 5 dan 6)
  5. Fase D (SMP kelas 7-9)
  6. Fase E (SMA/K kelas 10)
  7. Fase F (SMA/K kelas 11-12)

Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama.

Alokasi waktu untuk setiap projek penguatan profil pelajar Pancasila tidak harus sama. Satu projek dapat dilakukan dengan durasi waktu yang lebih panjang daripada projek yang lain.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

5 of 27

Fase Pondasi

Fase A

Fase B

Fase C

Fase D

Fase E

Fase F

PAUD/RA

SD/MI/Paket A Kelas 1-2

SD/MI/Paket A Kelas 3-4

SD/MI/Paket A Kelas 5-6

SMP/Mts/Paket B

Kelas 7-9

SMA/MA/Paket C

Kelas 10

SMA/MA/Paket C

Kelas 11-12

Sebelum melangkah pada strategi perencanaan dan pelaksanaan Pembelajaran dan Penilaian,

mari sejenak kita bahas Konsep Capaian Pembelajaran,

“Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase, dimulai dari Fase Fondasi pada PAUD. Untuk Pendidikan dasar dan menengah, CP disusun untuk setiap mata pelajaran.”

Konsep Capaian Pembelajaran

Pemerintah hanya menetapkan tujuan akhir per fase (CP) dan waktu tempuhnya (fase). Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan strategi dan cara atau jalur untuk mencapainya. Agar bisa menentukan strategi yang sesuai, kita perlu tau titik awal keberangkatan para peserta didik.

Pembagian

Fase

6 of 27

Dibuat dalam bentuk matriks.

Setiap elemen dipetakan menurut perkembangan peserta didik

Kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase. Dibuat dalam bentuk pernyataan yang disajikan dalam paragraf yang utuh.

Kemampuan yang perlu dicapai peserta didik setelah mempelajari mata pelajaran tersebut

  • Alasan mempelajari mapel tersebut
  • Keterkaitan antara Mapel dengan salah satu (atau lebih) Profil Pelajar Pancasila

Komponen Capaian Pembelajaran

Rasional Mata Pelajaran

Tujuan Mata Pelajaran

Karakteristik Mata Pelajaran

Capaian dalam Setiap Fase Secara Keseluruhan

Capaian dalam Setiap Fase menurut Elemen

  • Deskripsi umum tentang apa yang dipelajari dalam mata pelajaran
  • Elemen-elemen (strands) atau domain mata pelajaran serta deskripsinya

7 of 27

Prinsip penyusunan CP menggunakan pendekatan konstruktivisme yang membangun pengetahuan dan berdasarkan pengalaman nyata dan kontekstual. Menurut teori belajar konstruktivisme (constructivist learning theory), pengetahuan bukanlah kumpulan atau seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah untuk diingat.

Konsep “Memahami” dalam CP dalam konstruktivisme adalah proses membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata. Pemahaman tidak bersifat statis, tetapi berevolusi dan berubah secara konstan sepanjang siswa mengonstruksikan pengalaman-pengalaman baru yang memodifikasi pemahaman sebelumnya.

Perlu diketahui

Bentuk “Pemahaman” dalam CP

Apabila merujuk pada Taksonomi Bloom, pemahaman dianggap sebagai proses berpikir tahap yang rendah (C2). Namun demikian, konteks Taksonomi Bloom sebenarnya digunakan untuk perancangan pembelajaran dan asesmen kelas yang lebih operasional, bukan untuk CP yang lebih abstrak dan umum. Taksonomi Bloom lebih sesuai digunakan untuk menurunkan/menerjemahkan CP ke tujuan pembelajaran yang lebih konkret.

8 of 27

Setiap CP suatu mata pelajaran memiliki beberapa elemen atau kelompok kompetensi esensial yang berlaku sama untuk semua fase pada mata pelajaran tersebut.

Masing-masing elemen tersebut memiliki capaian per fasenya sendiri yang saling menunjang untuk mencapai pemahaman yang dituju.

Elemen sebuah mata pelajaran mungkin saja sama atau berbeda dengan mata pelajaran lainnya, hal tersebut disesuaikan dengan karakteristik pada masing-masing mata pelajaran.

Perlu diketahui

Arti “Elemen” dalam CP

Contoh:

  • Dalam CP Matematika terdapat elemen Bilangan, Aljabar, Pengukuran, Geometri, dan Analisis Data dan Peluang
  • Dalam CP IPA terdapat elemen Pemahaman IPA dan Keterampilan Proses
  • Dalam CP Bahasa Indonesia terdapat elemen Menyimak, Membaca dan Memirsa, Berbicara dan Mempresentasikan, Menulis

9 of 27

Pada akhir fase D, peserta didik mampu melakukan klasifikasi makhluk hidup dan benda berdasarkan karakteristik yang diamati, mengidentifikasi sifat dan karakteristik zat, membedakan perubahan fisik dan kimia serta memisahkan campuran sederhana.

Peserta didik dapat mendeskripsikan atom dan senyawa sebagai unit terkecil penyusun materi serta sel sebagai unit terkecil penyusun makhluk hidup, mengidentifikasi sistem organisasi kehidupan serta melakukan analisis untuk menemukan keterkaitan sistem organ dengan fungsinya serta kelainan atau gangguan yang muncul pada sistem organ tertentu (sistem pencernaan, sistem peredaran darah, sistem pernafasan dan sistem reproduksi). Peserta didik mengidentifikasi interaksi antar makhluk hidup dan lingkungannya, serta dapat merancang upaya-upaya mencegah dan mengatasi pencemaran dan perubahan iklim. Peserta didik mengidentifikasi pewarisan sifat dan penerapan bioteknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta didik mampu melakukan pengukuran terhadap aspek fisis yang mereka temui dan memanfaatkan ragam gerak dan gaya (force), memahami hubungan konsep usaha dan energi, mengukur besaran suhu yang diakibatkan oleh energi kalor yang diberikan, sekaligus dapat membedakan isolator dan konduktor kalor.

Peserta didik memahami gerak, gaya dan tekanan, termasuk pesawat sederhana. Peserta didik memahami getaran dan gelombang, pemantulan dan pembiasan cahaya termasuk alat- alat optik sederhana yang sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta didik dapat membuat rangkaian listrik sederhana, memahami gejala kemagnetan dan kelistrikan untuk menyelesaikan tantangan atau masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta didik mengelaborasikan pemahamannya tentang posisi relatif bumi-bulan-matahari dalam sistem tata surya dan memahami struktur lapisan bumi untuk menjelaskan fenomena alam yang terjadi dalam rangka mitigasi bencana.

Peserta didik mengenal pH sebagai ukuran sifat keasaman suatu zat serta menggunakannya untuk mengelompokkan materi (asam-basa berdasarkan pH nya). Dengan pemahaman ini peserta didik mengenali sifat fisika dan kimia tanah serta hubungannya dengan organisme serta pelestarian lingkungan.

Peserta didik memiliki keteguhan dalam mengambil keputusan yang benar untuk menghindari zat aditif dan adiktif yang membahayakan dirinya dan lingkungan.

Ada dua elemen utama dalam pendidikan IPA yakni pemahaman IPA dan keterampilan proses (inkuiri) untuk menerapkan sains dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap elemen berlaku untuk empat cakupan konten yaitu makhluk hidup, zat dan sifatnya, energi dan perubahannya, serta bumi dan antariksa.

Capaian Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Fase D SMP/MTs/Paket B

Karakteristik Mata Pelajaran

Pemahaman IPA

Capaian Pembelajaran

Elemen CP

CP ditulis dalam paragraf yang utuh dan mudah dipahami sebagai satu kesatuan.

10 of 27

Capaian Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Fase D SMP/MTs/Paket B

Keterampilan Proses

Capaian Pembelajaran

Elemen CP

1. Mengamati

Menggunakan berbagai alat bantu dalam melakukan pengukuran dan pengamatan. Memperhatikan detail yang relevan dari objek yang diamati.

2. Mempertanyakan dan memprediksi

Secara mandiri, peserta didik dapat mengajukan pertanyaan lebih lanjut untuk memperjelas hasil pengamatan dan membuat prediksi tentang penyelidikan ilmiah.

3. Merencanakan dan melakukan penyelidikan

Peserta didik merencanakan dan melakukan langkah-langkah operasional berdasarkan referensi yang benar untuk menjawab pertanyaan. Dalam penyelidikan, peserta didik menggunakan berbagai jenis variabel untuk membuktikan prediksi.

4. Memproses, menganalisis data dan informasi

Menyajikan data dalam bentuk tabel, grafik, dan model serta menjelaskan hasil pengamatan dan pola atau hubungan pada data secara digital atau non digital. Mengumpulkan data dari penyelidikan yang dilakukannya, menggunakan data sekunder, serta menggunakan pemahaman sains untuk mengidentifikasi hubungan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti ilmiah.

5. Mengevaluasi dan refleksi

Mengevaluasi kesimpulan melalui perbandingan dengan teori yang ada. Menunjukkan kelebihan dan kekurangan proses penyelidikan dan efeknya pada data. Menunjukkan permasalahan pada metodologi.

6. Mengomunikasikan hasil

Mengomunikasikan hasil penyelidikan secara utuh yang ditunjang dengan argumen, bahasa serta konvensi sains yang sesuai konteks penyelidikan. Menunjukkan pola berpikir sistematis sesuai format yang ditentukan.

CP ditulis dalam paragraf yang utuh dan mudah dipahami sebagai satu kesatuan.

11 of 27

Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran dan Penilaian (Asesmen)

Memahami Capaian Pembelajaran (CP)

1

Menganalisis Capaian Pembelajaran (CP) untuk Menyusun Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran

2

Merencanakan Pembelajaran dan Penilaian (Asesmen)

3

Melaksanakan Pembelajaran dan Penilaian (Asesmen)

4

12 of 27

Secara strategis, Proses Perancangan Kegiatan Pembelajaran dapat dipahami melalui skema berikut:

Memahami Capaian Pembelajaran

Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran

Merancang Pembelajaran

Pemerintah menetapkan Capaian Pembelajaran (CP) sebagai kompetensi yang ditargetkan. Namun demikian, CP tidak cukup konkret untuk memandu kegiatan pembelajaran sehari-hari.

CP perlu diurai menjadi tujuan-tujuan pembelajaran yang lebih operasional dan konkret, yang dicapai satu persatu oleh peserta didik hingga mereka mencapai akhir fase

Dalam merancang pembelajaran pendidik dapat

(3) menggunakan contoh yang disediakan.

(1) mengembangkan sepenuhnya alur tujuan pembelajaran dan/atau perencanaan pembelajaran,

(2) mengembangkan alur tujuan pembelajaran dan/atau rencana pembelajaran berdasarkan contoh-contoh yang disediakan Pemerintah

Pendidik menentukan pilihan tersebut berdasarkan kemampuan masing-masing

13 of 27

Kompetensi

kemampuan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dapat didemonstrasikan oleh peserta didik yang menunjukkan telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran.

Tujuan pembelajaran yang dikembangkan perlu dicapai peserta didik dalam satu atau lebih jam pelajaran, hingga akhirnya pada penghujung Fase mereka dapat mencapai CP. Oleh karena itu, untuk CP dalam satu fase, pendidik perlu mengembangkan beberapa tujuan pembelajaran.

Merupakan rangkaian tujuan pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan logis menurut urutan dari awal hingga akhir fase.

Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Pendidik dan satuan pendidikan dapat menggunakan berbagai strategi untuk menyusun tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran.

Harus dipastikan tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran yang dipetakan memenuhi kriteria berikut ini:

Tujuan Pembelajaran (TP)

terdiri atas:

Lingkup materi

ilmu pengetahuan inti atau konsep utama yang perlu dipahami di akhir satu unit pembelajaran

Kriteria

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Menggambarkan urutan pengembangan kompetensi yang harus dikuasai secara utuh dalam satu fase.

ATP menggambarkan cakupan dan tahapan pembelajaran yang linear dari awal hingga akhir fase.

ATP menggambarkan cakupan dan tahapan pembelajaran yang menggambarkan tahapan perkembangan kompetensi dalam satu fase

14 of 27

Perlu diketahui

Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Pendidik diberikan keleluasaan dalam menggunakan rujukan teori untuk merumuskan tujuan pembelajaran, diantaranya:

Taksonomi Bloom versi Revisi Anderson dan Krathwohl (2001)

6 Aspek Pemahaman

yang dikembangkan oleh

Tighe dan Wiggins

(2005)

6 Level Taksonomi Marzano (2000)

Pendidik diharapkan untuk tidak fokus pada satu teori saja, melainkan dapat menggunakan teori atau pendekatan lain dalam merancang tujuan pembelajaran, selama teori tersebut dinilai relevan dengan karakteristik mata pelajaran serta konsep/topik yang dipelajari, karakteristik peserta didik, serta konteks lingkungan pembelajaran.

15 of 27

mengingat kembali informasi yang telah dipelajari, termasuk definisi, fakta-fakta, daftar urutan, atau menyebutkan kembali suatu materi yang pernah diajarkan kepadanya.

menjelaskan ide atau konsep seperti menjelaskan suatu konsep menggunakan kalimat sendiri, menginterpretasikan suatu informasi, menyimpulkan, atau membuat parafrasa dari suatu bacaan.

menggunakan konsep, pengetahuan, atau informasi yang telah dipelajarinya pada situasi berbeda dan relevan

kemampuan untuk membuat keputusan, penilaian, mengajukan kritik dan rekomendasi yang sistematis

merangkaikan berbagai

elemen menjadi satu hal baru yang utuh, melalui proses pencarian ide, evaluasi

terhadap hal/ide/benda yang ada sehingga

kreasi yang diciptakan menjadi salah satu solusi terhadap masalah yang ada. termasuk memberikan nilai tambah terhadap suatu produk yang sudah ada.

Anderson dan Krathwohl mengelompokkan kemampuan kognitif menjadi tahapan-tahapan berikut ini, dengan urutan dari kemampuan yang paling dasar ke yang paling tinggi sebagai berikut:

Perlu diketahui

Taksonomi Bloom versi Revisi

Anderson dan Krathwohl

(2001)

(C1)

Mengingat

(C2)

Memahami

(C3) Mengaplikasikan

(C4)

Menganalisis

(C5)

Mengevaluasi

(C6)

Menciptakan

memecah-mecah informasi menjadi beberapa bagian, kemampuan untuk mengeksplorasi hubungan/korelasi atau membandingkan antara dua hal atau lebih, menentukan keterkaitan antar konsep, atau mengorganisasikan beberapa ide dan/atau konsep.

16 of 27

6 Aspek/Facet Pemahaman ini merupakan modal untuk menentukan Tujuan Pembelajaran (TP), menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), menentukan asesmen, dan instruksi yang tepat.

Perlu diketahui

6 Aspek/Facet Pemahaman merupakan cara untuk mengkonfirmasi pemahaman peserta didik atas apa yang telah mereka pelajari dan tidak hirarkis/bukan merupakan siklus.

Jika peserta didik melakukan salah satu dari keenam Aspek/Facet Pemahaman (mampu menjelaskan, menginterpretasi, menerapkan/mengaplikasikan, berempati, memiliki sebuah sudut pandang, atau memiliki pengenalan diri), berarti mereka telah mendemonstrasikan sebuah tingkat pemahaman.

6 Aspek Pemahaman

Tighe dan Wiggins

(2005)

17 of 27

6 Aspek Pemahaman (6 facet of understanding) (Wiggins and Tighe, 2005)

Merupakan bentuk-bentuk pemahaman yang digunakan dalam CP. Tidak harus hirarkis.

Perlu diketahui

Penjelasan

Explanation

Mendeskripsikan suatu ide dengan kata-kata sendiri, membangun hubungan antar topik, mendemonstrasikan hasil kerja, menjelaskan alasan/cara/prosedur , menjelaskan sebuah teori menggunakan data, berargumen dan mempertahankan pendapatnya.

Interpretasi

Interpretation

Menerjemahkan cerita, karya seni, atau situasi. Interpretasi juga berarti memaknai sebuah ide, perasaan atau sebuah hasil karya dari satu media ke media lain, dapat membuat analogi, anekdot, dan model. Melihat makna dari apa yang telah dipelajari dan relevansi dengan dirinya.

Aplikasi

Application

Menggunakan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman mengenai suatu dalam situasi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari atau sebuah simulasi (menyerupai kenyataan)

Perspektif

Perspective

Melihat suatu hal dari sudut pandang yang berbeda, siswa dapat menjelaskan sisi lain dari sebuah situasi, melihat gambaran besar, melihat asumsi yang mendasari suatu hal dan memberikan kritik.

Empati

Empathy

Menaruh diri di posisi orang lain. Merasakan emosi yang dialami oleh pihak lain dan/atau memahami pikiran yang berbeda dengan dirinya. Menemukan nilai (value) dari sesuatu

Pengenalan diri

Self-Knowledge

Memahami diri sendiri; yang menjadi kekuatan, area yang perlu dikembangkan serta proses berpikir dan emosi yang terjadi secara internal.

18 of 27

Contoh Bentuk Pemahaman Dalam CP Bahasa Indonesia Fase D elemen Menyimak

Perlu diketahui

Peserta didik memahami informasi berupa gagasan, pikiran, pandangan, arahan atau pesan dari teks deskripsi, narasi, puisi, eksplanasi dan eksposisi dari teks visual dan audiovisual untuk menemukan makna yang tersurat dan tersirat.

Interpretasi

Interpretation

Mendeskripsikan makna dari puisi serta emosi yang ditangkap dari puisi tersebut

Aplikasi

Application

Membacakan/mendeklamasikan atau membuat karya untuk merespons puisi

Perspektif

Perspective

Melakukan bedah puisi melalui diskusi dari sudut pandang yang berbeda.

Empati

Empathy

Menaruh diri di posisi penulis puisi dan mencoba merasakan emosi yang dirasakan penulis dan dituangkan dalam media yang berbeda.

19 of 27

Tingkat 5:

metakognisi

Marzano menggunakan tiga sistem dalam domain pengetahuan yaitu sistem kognitif, sistem metakognitif, dan sistem diri (self-system). Terdapat 6 level taksonomi yaitu:

mengingat kembali

(retrieval) informasi dalam batas

mengidentifikasi sebuah informasi secara

umum.

Perlu diketahui

6 Level Taksonomi Marzano

(2000)

Tingkat 1: mengenali dan mengingat kembali (retrieval)

Pemahaman yang dimaksud melibatkan dua proses

yang saling berkaitan yaitu integrasikan dan

simbolisasi.

Tingkat 2: pemahaman

Cakupan analisis disini berupa kemampuan menggenerasi informasi baru yang belum diproses oleh seseorang.

Ada lima proses analisis:

(1) mencocokan,

(2) mengklasifikasikan, (3) menganalisis kesalahan,

(4) menyamaratakan (5) menspesifikasikan.

Tingkat 3:

analisis

Pemanfaatan pengetahuan

digunakan saat seseorang ingin

menyelesaikan tugas tertentu.

Ada empat kategori umum pemanfaatan

pengetahuan:

(1) pengambilan keputusan,

(2) penyelesaian masalah,

(3) percobaan,

(4) penyelidikan.

Tingkat 4:

pemanfaatan pengetahuan

Sistem metakognisi

berfungsi untuk memantau, mengevaluasi

dan mengatur fungsi dari semua jenis

pemikiran lainnya.

Ada empat fungsi dari metakognisi:

(1) menetapkan tujuan, (2) memantau proses,

(3) memantau kejelasan, (4) memantau ketepatan.

Tingkat 6:

sistem diri

Menentukan apakah seseorang akan

melakukan atau tidak melakukan sesuatu

tugas.

Ada empat jenis dari sistem diri:

(1) memeriksa kepentingan,

(2) memeriksa kemanjuran,

(3) memeriksa respon emosional,

(4) memeriksa motivasi secara keseluruhan.

20 of 27

Merumuskan TP Lintas Elemen CP

Merumuskan TP dengan Menganalisis ‘Kompetensi’ dan ‘Lingkup Materi’ pada CP.

Merumuskan tujuan pembelajaran secara langsung dari CP

Pendidik harus melakukan analisis Capaian Pembelajaran (CP) untuk kemudian disusun menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (TP). Merumuskan tujuan pembelajaran dari CP dapat dilakukan melalui beberapa teknik:

Bagaimana strategi menyusun tujuan pembelajaran dalam alur tujuan pembelajaran yang efektif?

Teknik 1

Teknik 2

Teknik 3

21 of 27

Bagaimana cara menyusun alur tujuan pembelajaran yang efektif?

Pendidik yang merancang alur tujuan pembelajarannya sendiri, tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya akan disusun sebagai satu alur (sequence) yang berurutan secara sistematis, dan logis awal hingga akhir fase.

Dalam menyusun alur tujuan pembelajaran, pendidik dapat mengacu pada berbagai cara yang diuraikan pada tabel di bawah ini:

Pengurutan dari yang Konkret ke yang Abstrak

Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke konten yang lebih abstrak dan simbolis. Contoh : memulai pengajaran dengan menjelaskan tentang benda geometris (konkret) terlebih dahulu sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak).

Pengurutan Deduktif

Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik. Contoh : mengajarkan konsep database terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang tipe database, seperti hierarki atau relasional.

Pengurutan dari Mudah ke yang lebih Sulit

Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit. Contoh: mengajarkan cara mengeja kata-kata pendek dalam kelas bahasa sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang.

Pengurutan Hierarki

Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan komponen konten yang lebih mudah terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks. Contoh : siswa perlu belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian.

Pengurutan Prosedural

Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama dari sebuah prosedur, kemudian membantu siswa untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya. Contoh : dalam mengajarkan cara menggunakan t-test dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap prosedur yang harus dilalui, seperti menulis hipotesis, menentukan tipe tes yang akan digunakan, memeriksa asumsi, dan menjalankan tes dalam sebuah perangkat lunak statistik.

Scaffolding

Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa sekaligus mengurangi bantuan secara bertahap. Contoh : dalam mengajarkan berenang, guru perlu menunjukkan cara mengapung, dan ketika siswa mencobanya, guru hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang diberikan akan berkurang secara bertahap. Pada akhirnya, siswa dapat berenang sendiri.

(Creating Learning Materials for Open and Distance Learning, 2005; Doolittle, 2001; Morrison, Ross, & Kemp, 2007; Reigeluth & Keller, 2009)

22 of 27

Alur Tujuan Pembelajaran

23 of 27

Perencanaan Pembelajaran

Setiap pendidik perlu memiliki rencana pembelajaran untuk membantu mengarahkan proses pembelajaran mencapai Capaian Pembelajaran.

Rencana pembelajaran ini dapat berupa: (1) rencana pelaksanaan pembelajaran atau yang dikenal sebagai RPP atau (2) dalam bentuk modul ajar.

Apabila pendidik menggunakan modul ajar, maka ia tidak perlu membuat RPP karena komponen-komponen dalam modul ajar meliputi komponen-komponen dalam RPP atau lebih lengkap daripada RPP

24 of 27

25 of 27

Modul Ajar Versi lengkap

26 of 27

Referensi untuk kebijakan, panduan, serta informasi lainnya di luar PMM dapat diakses di Sistem Informasi Kurikulum Nasional

( https://kurikulum.kemdikbud.go.id/ )

27 of 27

Terima Kasih

27