1 of 21

Sitti Salmiyah A. Bahruddin

Pendekatan Terpadu Penanggulangan Anemia pada Ibu Hamil dan Gizi Kurang pada Balita

Disampaikan dalam Program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN)

2 of 21

Mengapa Anemia Penting untuk Kita Ketahui?

Apa Itu Anemia?

Kondisi kekurangan sel darah merah atau hemoglobin yang membuat tubuh kekurangan oksigen.

Ancaman bagi Ibu Hamil

Anemia dapat membahayakan nyawa ibu dan tumbuh kembang janin di dalam kandungan.

Risiko pada Balita

Gizi kurang dan anemia pada balita adalah pemicu utama stunting yang berdampak seumur hidup.

3 of 21

Anemia pada Ibu Hamil

Dampak Buruk

  • Risiko kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah (BBLR)
  • Perdarahan saat persalinan yang mengancam jiwa
  • Janin kekurangan oksigen, mengganggu tumbuh kembang
  • Berpotensi menyebabkan kematian janin (IUFD)

Data Prevalensi: Indonesia hasil SKI 2023 27,7%. Global: 35,5% ibu hamil anemia (WHO). Ibu anemia berisiko tinggi melahirkan bayi stunting

4 of 21

Dampak yang Harus Diwaspadai

  • Gangguan tumbuh kembang yang optimal
  • Keterlambatan perkembangan kognitif dan IQ rendah
  • Lebih rentan terhadap infeksi penyakit

Risiko Stunting: Anak stunting memiliki risiko anemia 2,3 kali lebih besar dibanding anak normal (

Kekurangan Energi Kronik (KEK) dan anemia pada ibu hamil berkontribusi signifikan terhadap stunting pada balita

5 of 21

Penyebab Utama Anemia: Apa yang Perlu Diwaspadai?

Kekurangan Zat Besi (Fe)

Penyebab paling umum — mencakup 75% kasus anemia pada kehamilan. Tubuh membutuhkan lebih banyak zat besi saat hamil.

Kekurangan Asam Folat & Vitamin B12

Keduanya sangat penting untuk pembentukan sel darah merah yang sehat dan perkembangan otak janin.

Pola Makan Tidak Seimbang

Asupan makanan bergizi rendah, terutama pada keluarga dengan keterbatasan ekonomi, memperparah risiko anemia.

Penyakit Kronis

Infeksi atau penyakit kronis mengganggu penyerapan nutrisi dan mempercepat kehilangan zat besi.

6 of 21

Tanda dan Gejala Anemia: Kenali Sejak Dini

Pada Ibu Hamil

  • Cepat lelah, lesu, dan mengantuk berlebihan
  • Pusing, pandangan berkunang-kunang
  • Sesak napas saat beraktivitas ringan
  • Kulit dan kelopak mata pucat
  • Mual yang berkepanjangan

Pada Balita

  • Wajah tampak pucat dan lesu
  • Pertumbuhan berat dan tinggi badan lambat
  • Mudah sakit dan rentan infeksi
  • Rewel, kurang aktif bermain, sulit berkonsentrasi

Segera periksakan ke bidan atau dokter jika Ibu atau balita menunjukkan tanda-tanda di atas!

7 of 21

Pendekatan Terpadu: Solusi Nyata untuk Ibu dan Balita

Gizi Seimbang

Tablet Tambah Darah

Edukasi & Skrining

Ketiga pilar ini harus dijalankan secara bersamaan untuk hasil yang optimal. Tidak cukup hanya dengan TTD saja — gizi seimbang dan pemeriksaan rutin sama pentingnya.

8 of 21

Pangan Kaya Zat Besi: Pilihan Sehari-hari untuk Ibu

Sayuran Hijau

Bayam, kangkung, brokoli — kaya zat besi dan asam folat. Konsumsi setiap hari.

Protein Hewani

Daging merah, hati ayam/sapi, ikan, dan telur — sumber zat besi yang mudah diserap tubuh.

Buah Kaya Vitamin C

Jeruk, jambu biji, tomat — membantu penyerapan zat besi lebih optimal.

Kacang-kacangan

Tahu, tempe, kacang merah, asparagus — sumber asam folat dan protein nabati yang terjangkau.

9 of 21

Diminum 1x sehari

Malam hari sebelum tidur untuk mengurangi efek samping mual.

Minum dengan air jeruk atau jus buah agar penyerapan zat besi maksimal.

Jangan dengan Teh/Kopi

Tanin dalam teh dan kopi menghambat penyerapan zat besi secara signifikan.

TTD diberikan gratis di Posyandu dan Puskesmas. Manfaatkan layanan ini!

Tablet Tambah Darah (TTD): Cara Minum yang Benar

Aturan Minum TTD yang Tepat

Bersama Vitamin C

10 of 21

Pemantauan Rutin

1

Periksa Hb Secara Rutin

Minimal 2 kali selama kehamilan (trimester I dan III) untuk deteksi dini anemia.

2

Timbang Balita di Posyandu

Setiap bulan untuk memantau pertumbuhan dan mendeteksi gizi kurang sejak awal.

3

Konsultasi Bidan/Dokter

Jangan ragu bertanya tentang asupan gizi, kondisi kehamilan, dan tumbuh kembang anak.

4

Catat Buku KIA

Buku Kesehatan Ibu dan Anak adalah panduan lengkap — isi dan bawa selalu saat periksa.

11 of 21

Ibu Sehat, Bayi Hebat,

Generasi Berkualitas!

Setiap tablet yang Ibu minum, setiap sayur yang Ibu makan, dan setiap kunjungan ke Posyandu adalah investasi terbesar untuk masa depan anak Indonesia.

12 of 21

Memahami dan Mengatasi Gizi Buruk pada Balita di Indonesia

13 of 21

Gambaran Umum Masalah Gizi Balita

Apa itu "Kurang Gizi"?

Istilah kurang gizi mencakup dua kondisi utama: gizi buruk (severe) dan gizi kurang (moderate) — keduanya berdampak serius pada tumbuh kembang balita.

Dua Sisi Permasalahan

  • Faktor penyebab: kondisi yang memicu terjadinya gizi buruk
  • Konsekuensi: dampak jangka pendek dan jangka panjang bagi anak

14 of 21

Faktor Penyebab Gizi Buruk pada Balita

Tingkat Pendidikan

Rendahnya pendidikan orang tua berpengaruh pada pemahaman gizi dan pola asuh anak yang tepat.

Pola Makan Tidak Seimbang

Konsumsi makanan yang kurang beragam dan tidak memenuhi kebutuhan gizi harian anak.

Kondisi Ekonomi

Keterbatasan ekonomi keluarga menyulitkan akses terhadap bahan pangan bergizi dan layanan kesehatan.

Kesehatan Keluarga

Riwayat penyakit dalam keluarga dan sanitasi buruk meningkatkan risiko gizi buruk pada balita.

15 of 21

Konsekuensi Gizi Buruk pada Balita

🧠 Penurunan Kecerdasan

Kurang gizi pada masa emas (0–5 tahun) menghambat perkembangan otak, menurunkan kemampuan belajar dan konsentrasi anak secara permanen.

📏 Gangguan Tumbuh Kembang

Anak berisiko mengalami stunting (pendek), wasting (kurus), dan keterlambatan perkembangan motorik serta kognitif.

💼 Produktivitas Masa Depan

Gizi buruk di masa balita berkorelasi dengan rendahnya produktivitas dan pendapatan di usia dewasa, menciptakan siklus kemiskinan antargenerasi.

16 of 21

Tren Status Gizi Balita di Indonesia

37.6

30.8

21.6

Data Prevalensi Gizi Kurang Balita:

  • Nasional (2022): Angka wasted (kurus/gizi kurang) mencapai 7,7%, menunjukkan peningkatan dari 7,1% di tahun 2021.
  • Stunting/Kerdil (2022): 21,6%. (SSGI)
  • Gizi Buruk/Severe Wasting (2018): Menurut Riskesdas 3,5% atau sekitar 805.000 balita mengalami gizi buruk.
  • Global (2020): WHO mencatat prevalensi gizi kurang global pada balita mencapai 8% atau sekitar 45,4 juta anak.

17 of 21

Tren Prevalensi Overweight Balita Juga Meningkat

Prevalensi overweight (gizi lebih) dan obesitas pada balita di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang cepat dalam satu dekade terakhir. Data menunjukkan, prevalensi obesitas balita meningkat dari 3,8% pada 2020 menjadi 8,8% pada 2022 (SSGI), dengan 1 dari 5 anak Indonesia mengalami kelebihan berat badan, dipicu oleh pola makan, faktor genetik, dan kurangnya aktivitas fisik

18 of 21

Deteksi Dini dan Penanganan Balita Bermasalah Gizi

Pengukuran

BB dan TB anak

Hitung Z-score

Bandingkan dengan standar WHO

Klasifikasi

Tentukan kategori status gizi

Kategori Status Gizi (Z-score WHO)

Deteksi dini melalui posyandu dan fasilitas kesehatan menjadi kunci pencegahan stunting dan masalah gizi lainnya sebelum berkembang menjadi kondisi kronis.

Gizi Lebih

Gizi Normal

Gizi Kurang

Gizi Buruk

19 of 21

Intervensi Spesifik untuk Balita Gizi Kurang

1

PMT Pemulihan

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) memanfaatkan bahan pangan lokal bergizi tinggi yang terjangkau dan mudah diperoleh masyarakat setempat.

2

Suplemen Zat Gizi Mikro

Pemberian suplemen vitain A, Mikronutrien

3

Pemantauan Pertumbuhan dan Perkembangan

Pemantauan BB dan TB secara rutin untuk mendeteksi dini masalah gizi

4

Edukasi Gizi dan MP ASI

Edukasi kepada orang tua untuk memberikan MP-ASI yang adekuat, kaya nutrisi dan aman

5

Imunisasi Dasar Lengkap

Imunisasi untuk mencegah penyakit infeksi yang dapat menurunkan status gizi

20 of 21

Peran Ibu dan Keluarga dalam Pencegahan Gizi Buruk

ASI Eksklusif

Target 80% bayi usia di bawah 6 bulan mendapat ASI eksklusif sebagai fondasi gizi terbaik.

MP-ASI Beragam

Target 80% anak usia 6–23 bulan mendapat makanan pendamping ASI yang beragam, bergizi, dan tepat waktu.

Pemantauan Rutin

Memantau pertumbuhan dan perkembangan balita secara berkala di posyandu untuk deteksi dini masalah gizi.

21 of 21

Menuju Generasi Sehat

🤝 Kolaborasi

Pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat bersinergi menciptakan lingkungan yang mendukung gizi optimal.

📚 Edukasi Berkelanjutan

Peningkatan literasi gizi masyarakat secara konsisten sebagai investasi jangka panjang untuk generasi mendatang.

🎯 Komitmen Target

Bersama mencapai target penurunan stunting dan penanganan gizi kurang demi Indonesia yang lebih sehat dan produktif.