�
REKOLEKSI DPP PAROKI St. PAULUS, LABUH BARU, 10 .09.2025
+ Vitus Rubianto Solichin
SPIRITUALITAS PELAYANAN DALAM BERJALAN BERSAMA
KOSA KATA SINODALITAS: BERJALAN BERSAMA!
Keluarga Kudus dari Nazaret, Yesus, Maria dan Yusuf
pun adalah orang-orang yang selalu dalam PERJALANAN.
SINODALITAS GEREJA
Gereja yang berjalan itu... Gereja yang bergerak, bukan sendirian, bukan secara kebetulan tetapi secara terorganisasi,
Gereja yang mendengar dan berdialog
Gereja yang dekat dan hadir untuk melayani menyembuhkan dan menghibur
ARAH DASAR TIGA TAHUN 2022-2025
2022-2023
Keluarga sebagai Gereja Domestik
2023-2024
Komunitas Basis Gerejawi sebagai Wujud Pelayanan dan Solidaritas
2024-2025
Gereja Paroki
yang Dinamis Transformatif
Barangkali ada pihak yang merasa bahwa visi tentang sebuah masyarakat yang berakar pada belaskasih adalah idealisme tanpa harapan atau kebaikan yang berlebihan. Tetapi Paus Fransiskus mengingatkan kembali pengalaman kita yang pertama tentang relasi, di dalam keluarga. Orangtua kita mengasihi kita dan menghargai kita karena siapa kita dan bukan karena kemampuan dan prestasi kita. Rumah keluarga adalah salah satu tempat di mana kita selalu diterima (bdk. Luk 15:11-32).
BERJALAN BERSAMA �PARA PEZIARAH PENG-HARAPAN �DI TAHUN YUBILEUM 2025
CORAK PENGHARAPAN KRISTIANI
Adalah pengharapan sebagai harapan yang melawan segala harapan (Rom 4:18). Maksudnya, orang kristiani mau tetap berharap walaupun tidak ada dasar untuk berharap, kecuali pada kesetiaan Allah yang telah membangkitkan Yesus.
Harapan
Tanpa harapan
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.“ (Rom. 4:18)
Bapa orang beriman
19 Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. 20 Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, 21 dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. 22 Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. (Rom. 4:19-22)
Itulah yang disebut pengharapan, yaitu dinamika yang menggerakkan hidup dengan daya gerak karya keselamatan Allah, sehingga manusia sanggup keluar dari diria sendiri menuju kepada Allah, kepenuhan hidupnya.
Beriman dalam pengharapan semacam itu berarti “meloncat” keluar menuju Allah meskipun dalam kegelapan, karena percaya bahwa penyerahan diri sepenuhnya itu akan disambut oleh Allah.
PROSES PEMBATINAN IMAN KITA
SG PRAPASKAH 2025: Panggilan Pertobatan dalam Ziarah Pengharapan
BUAH PERTOBATAN DALAM GAYA HIDUP SINODAL
Sinode merupakan pengalaman untuk mendengar anggota umat yang lebih luas: semua Umat Beriman Allah yang Kudus.
PERTOBATAN: DARI PRIBADI KE INSTITUSI...
Pengalaman akan Allah membuahkan transformasi pribadi yang pada gilirannya (kalau pribadi tersebut memimpin suatu institusi) transformasi pribadi itu akan berbuah pada transformasi institusi. Transformasi seperti inilah yang sedang terjadi di dalam Gereja Katolik.
SINODALITAS SEBAGAI TEMPAT LATIHAN MENDENGAR
Untuk dapat benar-benar mendengarkan kita butuh keberanian dan kebebasan hati, keterbukaan tanpa prasangka.
Saat ini ketika seluruh Gereja diundang untuk mendengarkan dan untuk belajar menjadi Gereja yang “sinodal”, yang berjalan bersama, kita semua diundang untuk menemukan kembali seni mendengar sebagai hal yang penting untuk satu komunikasi yang baik
BETAPA SULITNYA (INDAHNYA) MENDENGARKAN
Dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-56 itu, Bapa Suci mengutip Santo Agustinus yang selalu mendorong orang untuk mendengarkan dengan hati (corde audire) untuk menerima kata-kata tidak hanya secara lahiriah melalui telinga, tetapi secara rohani dalam hati kita: “Jangan menaruh hatimu di telinga, tetapi taruhlah telinga di dalam hatimu.” (nolite habere cor in auribus, sed aures in corde, Sermone 380,1).
PERTANYAAN
SIAPAKAH GEREJA ITU?
KONSTATASI (PENYADARAN DIRI) YANG TERLAMBAT?
Instruksi tentang Pertobatan Pastoral itu hendak menarik perhatian kita mengenai evolusi dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat dalam beberapa dekade terakhir, mengenai peran serta bentuk paroki dalam konteks yang baru ini.
Paus Fransiskus sangat mengharapkan bahwa komunitas kristiani mempunyai jiwa misionaris dan pewarta Kabar Gembira dalam “Gereja yang bergerak keluar.”
BANGGA MENJADI BAGIAN DARI KOMUNITAS PAROKI
Paroki adalah inkarnasi Yesus Kristus yang hidup dan aktif dalam komunitas manusiawi; itulah sebabnya menjadi penting merawat rasa memiliki di antara umatnya.
Rasa
memiliki inilah
yang membentuk ruang dan waktu dalam aksi pastoral dalam diri setiap orang kristiani.
Seseorang tidak masuk Gereja untuk “mapan” di situ, melainkan supaya diutus. Oleh karena itu sakramen Baptis, Krisma (dan Ekaristi) bersama-sama membuat orang menjadi anggota Gereja dalam arti penuh (Bdk. Iman Katolik, hlm. 428).
Memang parokilah yang menjadi tempat di mana umat menghidupi iman dan hidup kristiani mereka. Seorang Katolik menjadi anak angkat, yang merupakan bagian keluarga suatu paroki.
BUKAN PELAYANAN SAKRAMENTAL SAJA
Pentinglah digarisbawahi nilai evangelisasi sebagai tugas yang utama dan pertama, karena sampai sekarang, dan masih demikian, dalam banyak kesempatan, paroki-paroki hanyalah menjadi “gudang pelayanan sakramental.”
SEMUA DIUNDANG MENJADI PELAKU EVANGELISASI
Perlulah menyemangati umat untuk menghayati suasana rohani mereka sendiri. Perlulah membentuk anggota-anggota umat untuk menjadi pelaku-pelaku evangelisasi: menjadi murid dan misionaris.
GEREJA PAROKI YANG BERGERAK KELUAR
Paroki “harus tetap menjadi suatu tempat kreativitas, rujukan, keibuan. Dan di sana kemampuan berdaya cipta diwujudkan; dan ketika suatu paroki berlangsung seperti ini, terwujudlah apa yang sebut sebagai ‘paroki yang bergerak keluar’
(CP no.124)
MISERICORDIA MOTUS HARUS MENJADI GERAK KEUSKUPAN, NAMUN ADA TEGANGAN ANTARA PROFESIONALITAS DAN IDENTITAS PASTORAL
Barangkali masih ada juga DPP/DKP yang merasa bahwa mereka amatiran dalam semua bidang, bukan seorang profesional.
Di tengah kebingungan tersebut, mereka sering merasa tidak mampu, tersiksa oleh perasaan rendah diri, dan ragu-ragu apakah persiapan dan pembinaan mereka dapat dipakai sedemikian rupa sehingga orang-orang dapat dipakai untuk menolong secara efektif dalam tugas pelayanan.
ANTARA PROFESIONALITAS �DAN IDENTITAS PASTORAL
Hubungan dalam pelayanan pastoral tidak dapat dimengerti dalam rangka kontrak profesional. Setiap orang wajarnya menantikan ucapan terima kasih, mengharapkan keberhasilan dan merindukan adanya perubahan. Ini berlaku bagi pelayan kristiani seperti halnya bagi orang lain.
Akan tetapi Allah tidak mengadakan kontrak dengan kita, melainkan suatu perjanjian, dan menantang siapa saja yang mau menampakkan perjanjian-Nya di dunia ini, untuk tidak memakai keberhasilan manusiawi sebagai ukuran bagi cinta mereka kepada sesama.
PANGGILAN MENJADI PELAYAN�BUKAN SEKEDAR KETRAMPILAN MENGAJAR & MENJAWAB
SIMBOLISME PEMBASUHAN KAKI
ANTARA STOLA DAN CELEMEK
KONTEMPLASI IKON SIEGER KÖEDER
Di hadapan dunia, Gereja sebagaimana Tuhannya, selalu berwujud hamba. Ada di bawah.. dalam rupa pelayan.
SPIRITUALITAS PELAYANAN
DALAM BERJALAN BERSAMA
Hanya dengan melayani dan hanya dengan meyakini hal ini karya pelayanan kita dapat sungguh-sungguh menjadi berguna bagi semua,
kita ada di sini ini untuk belajar berlutut dan menyembah Tuhan dalam kerendahan hati-Nya dan bukan menjadi tuan-tuan yang lain dalam kenikmatan dan kepuasannya yang kosong.
Pelayanan berarti usaha yang terus menerus untuk menjadikan pencarian Allah yang dilakukan sendiri, dengan kepahitan dan kegembiraannya, putus asa dan harapannya, siap dipakai oleh mereka yang ingin menggabungkan diri dalam pencarian itu akan tetapi tidak tahu jalannya. Oleh karena itu pelayanan sama sekali bukanlah suatu hak istimewa. Sebaliknya pelayanan adalah inti kehidupan kristiani. Tidak seorang pun dapat disebut kristiani kalau dia bukan seorang pelayan.