1 of 9

PENCEGAHAN DAN PERAWATAN CEDERA (PPC)��Prodi: S1 Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar

Oleh:

Heri Yogo Prayadi, M.Or.

2 of 9

Penolong pertama adalah masyarakat awam yang sudah dibekali pengetahuan teori dan praktik bagaimana merespons dan melakukan pertolongan pertama di lokasi kejadian (Swasanti & Putra., 2014)

Kita tidak dapat selalu mengandalkan layanan ambulans atau para medik segera tiba di lokasi kejadian

Alat dan waktu yang kita miliki terbatas

3 of 9

Tujuan pertolongan pertama adalah:

menyelamatkan nyawa korban

Meringankan penderitaan korban

Mencegah cedera/penyakit menjadi lebih parah.

. Mempertahankan daya tahan korban

Mencarikan pertolongan yang lebih lanjut

Henti jantung mendadak adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia (700.000 orang/tahun). Kasus henti jantung mendadak di luar rumah sakit menunjukkan ventricular fibrillation (jantung kehilangan kemampuan untuk berkoordinasi dan berhenti memompakan darah secara efektif) (Ganthikumar, 2016)

4 of 9

Tujuan pertolongan pertama adalah:

Prinsip utama PPGD adalah menyelamatkan pasien dari kematian pada kondisi gawat darurat. Kemudian filosofi dalam PPGD adalah ”Time Saving is Life Saving”, dalam artian bahwa seluruh tindakan yang dilakukan pada saat kondisi gawat darurat haruslah benar-benar efektif dan efisien, karena pada kondisi tersebut pasien dapat kehilangan nyawa dalam hitungan menit saja (henti napas 2-3 menit dapat mengakibatkan kematian)

Langkah-langkah dasar dalam PPGD dikenal dengan singkatan A-B-C-D (Airway – Breathing – Circulation – Disability). Keempat poin-poin tersebut adalah poin-poin yang harus sangat diperhatikan dalam penanggulangan pasien dalam kondisi gawat Darurat (Nusdin, 2020).

1. Prinsip Utama

2. Langkah-langkah Dasar

5 of 9

  1. Alogaritma Dasar PPGD�
  1. Ada pasien tidak sadar
  2. Pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong
  3. Beritahukan kepada lingkungan kalau anda akan berusaha menolong
  4. Cek kesadaran pasien lakukan dengan metode AVPU
  5. A: Alert => Korban sadar, jika tidak sadar lanjut ke poin V
  6. V: Verbal => cobalah memanggil-manggil korban dengan dengan berbicara keras di telinga korban (pada tahap ini jangan sertakan dengan menggoyang atau menyentuh pasien), jika tidak merespons lanjut ke poin P
  7. P: Pain => cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang paling mudah adalah menekan bagian putih dari kuku tangan (di pangkal kuku, selain itu dapat juga dengan menekan bagian tengah tulang dada (sternum) dan juga areal di atas mata (supra orbital)
  8. U: Unresponsive => setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien masih tidak bereaksi maka pasien berada dalam keadaan unresponsive
  9. Call for Help, mintalah bantuan kepada masyarakat di sekitar untuk menelepon ambulans dengan memberitahukan:
  10. Jumlah korban
  11. Kesadaran korban (sadar atau tidak sadar)
  12. Perkiraan usia dan jenis kelamin
  13. Tempat terjadi kegawatan
  14. Bebaskan korban dari pakaian di daerah dada (buka kancing baju bagian atas korban)

6 of 9

  1. Ada pasien tidak sadar
  2. Cek apakah ada tanda-tanda berikut:
  3. Luka-luka dari bagian bawah dagu ke atas (supra calvicula)
  4. Pasien mengalami tumbukan di berbagai tempat
  5. Mempunyai cedera di tulang belakang bagian leher
  6. tanda-tanda cedera pada bagian leher sangat berbahaya karena pada bagian ini terdapat saraf-saraf yang mengatur fungsi vital manusia (pernapasan, denyut jantung)
  7. jika tidak ada tanda-tanda tersebut maka lakukanlah Head Tilt and Chin Lift

Dilakukan dengan cara menggunakan dua jari lalu mengangkat tulang dagu (bagian dagu yang keras) ke atas. Ini disertai dengan melakukan Head Tilt yaitu menahan kepala dan mempertahankan posisinya. Hal ini perlu dilakukan karena bertujuan untuk membenaskan jalan napas korban.

7 of 9

  1. jika ada tanda-tanda tersebut, maka beralihlah ke bagian atas pasien, jepit kepala pasien dengan paha, usahakan agar kepalanya tidak bergerak-gerak lagi (imobilisasi) dan lakukanlah Jaw Thrust

Gerakan ini dilakukan untuk menghindari adanya cedera lebih lanjut pada tulang belakang bagian leher korban

  1. sambil melakukan a atau b diatas, lakukanlah pemeriksaan kondisi Airway (jalan napas) dan Breathing (Pernapasan) korban.
  2. metode pengecekan menggunakan metode Look, Listen, and Feel
  3. Look: Lihat apakah ada gerakan dada (gerakan bernapas), apakah gerakan tersebut simetris ?
  4. Listen: Dengarkan apakah ada suara napas normal, dan apakah ada suara napas tambahan yang abnormal (bisa timbul karena ada hambatan sebagian)
  5. Feel: Rasakan dengan pipi apakah ada hawa napas dari korban.

8 of 9

  1. Jika ternyata pasien masih bernapas, maka hitunglah berapa frekuensi pernapasan korban dalam 1 menit (normalnya 12-20 kali per menit)
  2. Jika frekuensi napas normal, pantau terus kondisi korban dengan tetap melakukan look listen and feel. Jika frekuensi napas.
  3. Jika korban mengalami henti napas berikan napas buatan (detail tentang napas buatan dibawah)
  4. Setelah diberikan napas buatan maka lakukan pengecekan nadi carotis yang terletak di leher, ceklah dengan 2 jari, letakkan jari di tonjolan di tengah tenggorokan, lalu gerakanlah jari ke samping sampai terhambat oleh otot leher (sternocleidomastoideus), rasakan denyut nadi carotis selama 10 detik
  1. Jika tidak ada denyut nadi lakukanlah Pijat Jantung, diikuti dengan napas buatan, ulang sampai 6 kali siklus pijat jantungnapas buatan yang diakhiri dengan pijat jantung
  2. Cek lagi nadi karotis selama 10 detik, jika teraba lakukan Look Listen and Feel (kembali ke poin 11) lagi. Jika tidak teraba ulangi poin nomor
  3. Pijat jantung dan napas buatan dihentikan jika:
  4. Penolong kelelahan dan sudah tidak kuat lagi
  5. Pasien sudah menunjukkan tanda-tanda kematian (kaku mayat)
  6. Bantuan sudah datang
  7. Teraba denyut nadi karotis

9 of 9

  1. Setelah berhasil mengamankan kondisi di atas, periksalah tandatanda syok pada korban
  2. Denyut nadi > 100 kali permenit
  3. Telapak tangan basah dingin dan pucat
  4. Capilarry Refill Time > 2 detik (CRT dapat diperiksa dengan cara menekan ujung kuku pasien dengan kuku pemeriksa selama 5 detik, lalu lepaskan, cek berapa lama waktu yang dibutuhkan agar warna ujung kuku merah lagi)
  5. Jika korban syok, lakukan Syok Position pada pasien yaitu dengan mengangkat kaki korban setinggi 45 derajat dengan harapan sirkulasi darah akan lebih banyak ke jantung.
  1. pertahankan posisi syok sampai bantuan datang atau tandatanda syok menghilang
  2. Jika ada pendarahan pada korban, cobalah menghentikan pendarahan dengan menekan atau membebat luka (membebat jangan terlalu erat karena dapat menyebabkan jaringan yang dibebat mati)
  3. Setelah kondisi pasien stabil, tetap monitor selalu kondisi korban dengan look listen and feel, karena korban sewaktu-waktu dapat memburuk secara tiba-tiba