1 of 11

Melangkah Bersama:

Menumbuhkan Empati dan Inklusi dalam Dunia Anak Berkebutuhan Khusus

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog

2025

2 of 11

Mengenal ABK

01

FROM STIGMA TO REALITY

Stigma terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah pandangan atau keyakinan negatif, stereotip, dan prasangka yang menyebabkan diskriminasi, isolasi sosial, dan hambatan dalam pemenuhan hak-hak mereka, terutama dalam pendidikan inklusif, yang bersumber dari kurangnya pemahaman masyarakat, asumsi keliru, hingga pandangan magis, namun bisa diatasi melalui edukasi, dukungan kebijakan, pelatihan guru, dan kolaborasi semua pihak agar ABK bisa berkembang optimal.

Stigma negatif muncul dikarenakan pendidikan dan kurikulum yang tepat untuk ABK belum diterapkan secara merata di Indonesia, sehingga abnormalitas masih sering dianggap “AIB”.

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog

2025

3 of 11

Penyebab Stigma Negatif

02

Anak Berkebutuhan Khusus

01

02

Kurangnya Pemahaman: Masyarakat tidak mengerti karakteristik dan kebutuhan ABK.

Asumsi Keliru: Menganggap ABK selalu memiliki kemampuan kognitif rendah atau hanya sebagai masalah.

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog

2025

03

Pandangan Budaya/Magis: Menghubungkan ABK dengan takdir Tuhan atau gangguan roh halus.

04

Perilaku Sulit Diprediksi: Perilaku ABK yang terkadang tidak terkontrol menimbulkan ketakutan atau ketidaknyamanan.

4 of 11

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog

2025

03

Dampak Stigma

  • Menghambat akses pendidikan, layanan, dan partisipasi sosial ABK.
  • Menurunkan rasa percaya diri dan harga diri ABK (rendah diri).
  • Menyebabkan isolasi sosial, perasaan tidak berharga, dan buruknya kesehatan mental.
  • Menambah beban psikologis bagi orang tua.
  • Edukasi & Advokasi: Meningkatkan kesadaran masyarakat melalui media sosial dan program edukasi.
  • Pendidikan Inklusif: Menerapkan sekolah inklusif yang menerima ABK belajar bersama anak lain.
  • Pelatihan Guru: Meningkatkan kompetensi guru dalam mendampingi ABK.
  • Dukungan Kebijakan: Pemerintah memperkuat regulasi yang mendukung hak-hak ABK.
  • Kolaborasi: Kerjasama antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat.
  • Fasilitas: Penyediaan sarana prasarana yang ramah disabilitas.

Cara Mengatasi Stigma

5 of 11

Berempati pada ABK

04

Untuk menumbuhkan empati pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan anak lainnya, fokus pada pemahaman emosi, memberikan contoh langsung, menciptakan interaksi sosial inklusif, mengajarkan mengenali dan mengelola emosi, serta membangun lingkungan yang mendukung, seperti melalui kegiatan bersama ABK untuk membangun rasa peduli dan toleransi. Kunci utamanya adalah mencontohkan empati dalam interaksi sehari-hari dan menyediakan lingkungan yang aman bagi ABK untuk berekspresi dan terintegrasi.

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog

2025

6 of 11

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog

2025

05

Strategi untuk Guru & Orang Tua:

01

02

03

04

dalam Menumbuhkan Empati

Fokus pada Kekuatan dan Kebutuhan Individu:

Pahami kebutuhan unik ABK dan sesuaikan pendekatan.

Fokus pada kekuatan mereka untuk membangun rasa percaya diri.

Ciptakan Interaksi Inklusif:

Libatkan ABK dalam aktivitas bersama anak lain; ini membantu semua anak memahami dan menghargai perbedaan.

Gunakan permainan peran atau aktivitas yang menempatkan anak pada posisi ABK untuk merasakan apa yang mereka rasakan.

Modelkan Empati (Berikan Contoh):

Tunjukkan perhatian pada perasaan ABK dan anak lain; anak akan belajar dengan meniru orang dewasa.

Dengarkan secara aktif, tawarkan bantuan dan validasi emosi mereka.

Ajarkan Pengenalan dan Pengelolaan Emosi:

Bantu ABK (dan anak lain) memberi nama pada perasaan mereka (marah, sedih, frustrasi) dan ajarkan cara mengelola emosi negatif secara positif.

7 of 11

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog

2025

06

Strategi untuk Guru & Orang Tua:

dalam Menumbuhkan Empati

5. Bangun Komunikasi Terbuka:

Ciptakan lingkungan di rumah dan sekolah yang aman bagi ABK untuk mengungkapkan diri tanpa dihakimi.

6. Gunakan Metode Pembelajaran Empati:

Contohnya, lagu "Aku Sayang Teman" yang dimodifikasi untuk menyebut nama ABK dan mendiskusikan kesulitan mereka.

8 of 11

07

Inklusi bagi ABK

Inklusi pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah sistem pendidikan di mana ABK belajar bersama anak reguler di sekolah umum (inklusif) dengan dukungan khusus, bertujuan memberikan hak pendidikan yang sama, meningkatkan keterampilan sosial dan kepercayaan diri mereka, serta menumbuhkan toleransi dan empati di lingkungan belajar yang terbuka dan menerima perbedaan, bukan memisahkan mereka.

Namun, tidak semua ABK bisa mendapat Pendidikan Inklusi, ada kriteria tertentu untuk ABK yang mampu berada di kelas Inklusi.

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog

2025

9 of 11

Manfaat Inklusi

08

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog

2025

BAGI ABK

1

3

2

4

Keterampilan Sosial: Interaksi dengan teman sebaya yang beragam membantu pengembangan komunikasi dan sosial.

Persiapan Hidup: Membantu ABK mandiri dan beradaptasi di masyarakat dewasa.

Kepercayaan Diri: Merasa diterima meningkatkan harga diri dan motivasi untuk belajar.

Peningkatan Potensi: Dukungan yang tepat memungkinkan ABK mencapai prestasi akademik.

10 of 11

09

Kesimpulan

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan anak yang memiliki kondisi berbeda dari anak-anak pada umumnya, dimana perbedaan ini bisa mempengaruhi fisik, kognitif, emosi dan perilaku anak.

Sehingga penting bagi para pendidik untuk bisa memahami lebih dalam tentang ABK agar bisa menumbuhkan empati serta membantu peserta didik lainnya di kelas inklusi menerima teman-temannya yang ABK.

Karena kondisi ABK masih sering memunculkan stigma negatif di kalangan masyarakat maka penting edukasi yang tepat dimulai dari guru-guru di sekolah dan berlanjut ke masyarakat secara umum.

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog

2025

11 of 11

THANK YOU

SEMOGA

BERMANFAAT

Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog