Melangkah Bersama:
Menumbuhkan Empati dan Inklusi dalam Dunia Anak Berkebutuhan Khusus
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog
2025
Mengenal ABK
01
FROM STIGMA TO REALITY
Stigma terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah pandangan atau keyakinan negatif, stereotip, dan prasangka yang menyebabkan diskriminasi, isolasi sosial, dan hambatan dalam pemenuhan hak-hak mereka, terutama dalam pendidikan inklusif, yang bersumber dari kurangnya pemahaman masyarakat, asumsi keliru, hingga pandangan magis, namun bisa diatasi melalui edukasi, dukungan kebijakan, pelatihan guru, dan kolaborasi semua pihak agar ABK bisa berkembang optimal.
Stigma negatif muncul dikarenakan pendidikan dan kurikulum yang tepat untuk ABK belum diterapkan secara merata di Indonesia, sehingga abnormalitas masih sering dianggap “AIB”.
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog
2025
Penyebab Stigma Negatif
02
Anak Berkebutuhan Khusus
01
02
Kurangnya Pemahaman: Masyarakat tidak mengerti karakteristik dan kebutuhan ABK.
Asumsi Keliru: Menganggap ABK selalu memiliki kemampuan kognitif rendah atau hanya sebagai masalah.
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog
2025
03
Pandangan Budaya/Magis: Menghubungkan ABK dengan takdir Tuhan atau gangguan roh halus.
04
Perilaku Sulit Diprediksi: Perilaku ABK yang terkadang tidak terkontrol menimbulkan ketakutan atau ketidaknyamanan.
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog
2025
03
Dampak Stigma
Cara Mengatasi Stigma
Berempati pada ABK
04
Untuk menumbuhkan empati pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan anak lainnya, fokus pada pemahaman emosi, memberikan contoh langsung, menciptakan interaksi sosial inklusif, mengajarkan mengenali dan mengelola emosi, serta membangun lingkungan yang mendukung, seperti melalui kegiatan bersama ABK untuk membangun rasa peduli dan toleransi. Kunci utamanya adalah mencontohkan empati dalam interaksi sehari-hari dan menyediakan lingkungan yang aman bagi ABK untuk berekspresi dan terintegrasi.
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog
2025
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog
2025
05
Strategi untuk Guru & Orang Tua:
01
02
03
04
dalam Menumbuhkan Empati
Fokus pada Kekuatan dan Kebutuhan Individu:
Pahami kebutuhan unik ABK dan sesuaikan pendekatan.
Fokus pada kekuatan mereka untuk membangun rasa percaya diri.
Ciptakan Interaksi Inklusif:
Libatkan ABK dalam aktivitas bersama anak lain; ini membantu semua anak memahami dan menghargai perbedaan.
Gunakan permainan peran atau aktivitas yang menempatkan anak pada posisi ABK untuk merasakan apa yang mereka rasakan.
Modelkan Empati (Berikan Contoh):
Tunjukkan perhatian pada perasaan ABK dan anak lain; anak akan belajar dengan meniru orang dewasa.
Dengarkan secara aktif, tawarkan bantuan dan validasi emosi mereka.
Ajarkan Pengenalan dan Pengelolaan Emosi:
Bantu ABK (dan anak lain) memberi nama pada perasaan mereka (marah, sedih, frustrasi) dan ajarkan cara mengelola emosi negatif secara positif.
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog
2025
06
Strategi untuk Guru & Orang Tua:
dalam Menumbuhkan Empati
5. Bangun Komunikasi Terbuka:
Ciptakan lingkungan di rumah dan sekolah yang aman bagi ABK untuk mengungkapkan diri tanpa dihakimi.
6. Gunakan Metode Pembelajaran Empati:
Contohnya, lagu "Aku Sayang Teman" yang dimodifikasi untuk menyebut nama ABK dan mendiskusikan kesulitan mereka.
07
Inklusi bagi ABK
Inklusi pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah sistem pendidikan di mana ABK belajar bersama anak reguler di sekolah umum (inklusif) dengan dukungan khusus, bertujuan memberikan hak pendidikan yang sama, meningkatkan keterampilan sosial dan kepercayaan diri mereka, serta menumbuhkan toleransi dan empati di lingkungan belajar yang terbuka dan menerima perbedaan, bukan memisahkan mereka.
Namun, tidak semua ABK bisa mendapat Pendidikan Inklusi, ada kriteria tertentu untuk ABK yang mampu berada di kelas Inklusi.
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog
2025
Manfaat Inklusi
08
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog
2025
BAGI ABK
1
3
2
4
Keterampilan Sosial: Interaksi dengan teman sebaya yang beragam membantu pengembangan komunikasi dan sosial.
Persiapan Hidup: Membantu ABK mandiri dan beradaptasi di masyarakat dewasa.
Kepercayaan Diri: Merasa diterima meningkatkan harga diri dan motivasi untuk belajar.
Peningkatan Potensi: Dukungan yang tepat memungkinkan ABK mencapai prestasi akademik.
09
Kesimpulan
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan anak yang memiliki kondisi berbeda dari anak-anak pada umumnya, dimana perbedaan ini bisa mempengaruhi fisik, kognitif, emosi dan perilaku anak.
Sehingga penting bagi para pendidik untuk bisa memahami lebih dalam tentang ABK agar bisa menumbuhkan empati serta membantu peserta didik lainnya di kelas inklusi menerima teman-temannya yang ABK.
Karena kondisi ABK masih sering memunculkan stigma negatif di kalangan masyarakat maka penting edukasi yang tepat dimulai dari guru-guru di sekolah dan berlanjut ke masyarakat secara umum.
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog
2025
THANK YOU
SEMOGA
BERMANFAAT
Hardiyanti Rahmah, M.Psi., Psikolog