PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Dalam kegiatan belajar mengajar dosen dihadapkan pada mahasiswa.
Mahasiswa yang dihadapi oleh dosen rata-rata satu kelas yang terdiri dari
empat puluhan orang. Kemungkinan dapat terjadi seorang dosen harus
menghadapi sejumlah ratusan mahasiswa. Hal ini menunjukkan betapa
pentingnya keterampilan mengorganisasi mahasiswa agar belajar. Dosen
juga mengahadapi bahan pengetahuan dari buku teks, kehidupan, sumber
informasi lain atau kenyataan di sekitar kampus. Hal ini menunjukkan
betapa pentingnya keterampilan mengolah pesan. Pembelajaran juga
meningkatkan kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, psikomotor
mahasiswa.
Dosen membagi tugas individu di laboratorium komputer untuk
mengerjakan MySql, topik membuat tabel (i) mahasiswa mencatat
hal-hal yang sulit cara mengerjakan tabel, (ii) setiap mahasiswa
diminta mengemukakan bagian yang sulit untuk dikerjakan
Kemudian dosen berkeliling melakukan monitoring dan membantu
mahasiswa mengerjakan tabel MySql.
Oleh karena itu perilaku mengajar itu menggambarkan
pengorganisasian mahasiswa belajar karena pembelajaran tersebut
mempunyai tujuan, prinsip, dan tekanan utama yang berbeda-beda.
Pembelajatan secara individual adalah kegiatan mengajar dosen
yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada
masing-masing individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada
masi dan belajar juga diketemukan pada pembelajaran klasikal, tetapi prinsipnya berbeda. Pada pembelajaran individual dosen memberi bantuan pada masing-masing pribadi. Sedangkan pada
pembelajaran klasikal dosen memberi bantuan individual secara
umum, Ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran individual dapat ditinjau dari segi (i) tujuan pembelajaran, (ii) mahasiswa sebagai subjek yang belajar, (iii) dosen sebagai pembelajar, (iv) program pembelajaran, serta (v) orientasi dan tekanan utama dalam pelaksanaan pembelajaran.
Perilaku belajar mengajar di kampus yang menganut sistem
klasikal tampak serupa. Dalam kelas terdapat mahasiswa yang rata-rata berjumlah empat puluhan orang. Dosen membantu mahasiswa yang mengahadapi kesukaran. Adapun tujuan pengejaran yang menonjol adalah (1) Pemberian kesempatan dan keleluasaan mahasiswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri dalam pembelajaran klasikal dosen menggunakan ukuran kemampuan rata-rata kelas. Dalam pengajaran individual awal pelajaran berdasarkan kemamapuan rata-rata kelas. Mahasiswa menyesuaikan diri dengan kemampuan rata-rata kelas. (2) Pengembangan kemampuan setiap individu secara optimal dan memiliki paket belajar sendiri-sendiri yang sesuai dengan tujuan belajarnya secar individual juga.
b. Mahasiswa Dalam Pembelajaran Secara individual
c. Dosen Dalam Pembelajaran Secara Individual
d. Program Pembelajaran Dalam Pembelajaran Individual
b. Mahasiswa Dalam Pembelajaran Secara individual
Kedudukan mahasiswa dalam pembelajaran individu bersifat sentral.
Pebelajar merupakan pusat layanan pengajaran. Berbeda dengan
pengajaran klasikal maka mahasiswa memiliki keluasaan berupa
(i) keluasaan belajar berdasarkan kemamapuan sendiri, (ii) kebebasan
menggunakan waktu belajar, dalam hal ini mahasiswa bertanggung
jawab atas semua kegiatan yang dilakukannya, (iii) keleluasaan
dalam mengontrol kegiatan, kecepatan, dan intensitas belajar dalam
rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan, (iv) mahasiswa
melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar, (v) mahasiswa
mengetahui kemampuan dan hasil belajar sendiri, serta (vi) mahasiswa
memiliki kesempatan untuk menyusun program belajarnya sendiri.
Maka mahasiswa dididik memiliki rasa tanggung jawab dalam belajar
sendiri (Monks, Knoers, Siti Rahayu Hadinoto, 2000).
c. Dosen Dalam Pembelajaran Secara Individual
Kedudukan dosen dalam pembelajaran individual bersifat membantu.
bantuan dosen berkenaan dengan komponen pembelajaran berupa
(i) Perencanaan kegiatan belajar (ii) pengorganisasian kegiatan
belajar (iii) penciptaan pendekatan terbuka antara dosen dan
mahasiswa, dan (iv) fasilitas yang mempermudah belajar
Peranan dosen dalam merencanakan kegiatan belajar sebagai berikut:
(i) Membantu merencanakan kegiatan belajar mahasiswa, dengan
musyawarah dosen membantu mahasiswa menetapkan tujuan belajar,
membuat program belajar sesuai kemampuan mahasiswa,
(ii) membicarakan pelaksanaan belajar, mengemukakan kriteria
keberhasilan belajar, menentukan waktu dan kondisi belajar,
(iii) berperan sebagai penasihat atau pembimbing, (iv) membantu
mahasiswa dalam penilaian hasil belajar dan kemajuan sendiri
Sebagai ilustrasi dosen membantu memilih program belajar dengan
suatu modul (Tjipto, Utomo & Kees, Ruijers, 2000:69-83)
Peranan dosen dalam pengorganisasian kegiatan belajar adalah mengatur
dan memonitor kegiatan belajar sejak awal sampai akhir. Peranan dosen
sebagai berikut: (i) memberikan orientasi umum sehubungan dengan
belajar topik tertentu, (ii) membuat variasi kegiatan belajar agar tidak
terjadi kebosanan, (iii) mengkoordinasikan kegiatan dengan
memperhatikan kemajuan, materi, media, dan sumber, (iv) membagi
perhatian pada sejumlah pebelajar, menurut tugas dan kebutuhan
pebelajar, dan (v) memberikan balikan terhadap setiap pebelajar,
(vi) mengakhiri kegiatan belajar dalam suatu unjuk hasil belajar tersebut
umumnya diakhiri dengan evaluasi kemajuan belajar.
Peranan dosen dalam penciptaan hubungan terbuka dengan mahasiswa
bertujuan menimbulkan perasaan bebas belajar. Hubungan terbuka
tersebut dilakukan dengan cara-cara (i) membuat hubungan akrab dan
peka terhadap kebutuhan mahasiswa, (ii) mendengarkan secara simpatik
terhadap segala ungkapan jiwa mahasiswa, (iii) tanggap dan memberikan
reaksi positif pada mahasiswa, (iv) membina hubungan saling
mempercayai (v) kesiapan membantu mahasiswa, (vi) membina suasana
aman sehingga mahasiswa leluasa bereksplorasi memberi kemungkinan
penemuan-penemuan dan mendorong terjadinya emansipasi dengan
penuh tanggung jawab.
Perilaku dosen dalam hubungan terbuka tersebut tetap mengacu pada
kemandirian mahasiswa yang bertanggung jawab hal ini perlu dijaga
jangan terjerumus pada pemanjaan mahasiswa.
Peranan dosen yang sangat penting adalah menjadi fasilitator belajar.
Tujuannya adalah mempermudah proses belajar. Cara yang dilakukan
dosen antara lain adalah (i) membimbing mahasiswa belajar komputer
(ii) Menyediakan media dan sumber belajar, (iii) memberi penguatan
belajar, (iv) menjadi teman dalam mengevaluasi pelaksanaan, cara, dan
hasil belajar komputer, serta (v) memberi kesempatan mahasiswa untuk
memperbaiki diri
d. Program Pembelajaran dalam Pembelajaran Individual
Program pembelajaran individual merupakan usaha memperbaiki
kelemahan pengajaran klasikal. Dari segi kebutuhan pebelajar
program pembelajaran individual lebih efektif, sebab mahasiswa
belajar sesuai dengan programnya sendiri. Program pembelajaran
individual dapat dilaksanakan secara efektif bila mempertimbangkan
hal-hal berikut (i) sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan
mahasiswa, (ii) tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti oleh
mahasiswa, (iii) prosedur dan cara kerja dimengerti oleh mahasiswa,
(iv) kriteria keberhasilan dimengerti oleh mahasiswa, (v) keterlibatan
dosen dalam evaluasi dimengerti mahasiswa
e. Orientaasi dan Tekanan Utama Pelaksanaan
Progran pembelajaran individual berorientasi pada pemberian
bantuan kepada setiap mahasiswa agar ia dapat secara mandiri.
Kemamdirian belajar tersebut merupakan tuntutan perkembangan
individu. Dalam menciptakan pembelajaran individual, rencana
dosen berbeda dengan pengajaran klasikal. Dalam pelaksanaan
dosen berperan sebagai fasilitator, pembimbing, pendiagnosis
kesukaran belajar dan rekan diskusi. Dosen berperan sebagai
pendidik bukan sebagai instruktur.
2. Pembelajaran Secara kelompok
Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas adakalanya dosen
membentuk kelompok kecil. Kelompok itu terdiri dari 3-8 orang
mahasiswa dan dosen memberi bantuan atau bimbingan kepada
tiap anggota kelompok lebih intensif, sebab (i) hubungan antar
dosen-mahasiswa menjadi lebih sehat dan akrab, (ii) mahasiswa
memperoleh bantuan, kesempatan sesuai dengan kebutuhan,
kemampuan, minat serta (iii) mahasiswa dilibatkan dalam
penentuan tujuan belajar, cara belajar, kriteria keberhasilan.
Ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran secara berkelompok dapat
ditinjau dari segi (i) tujuan pengajaran, (ii) pebelajar, (iii) dosen sebagai
pembelajar, (iv) program pembelajaran, dan (v) orientasi dan tekanan
utama pelaksanaan pembelajaran. Uraian selanjutnya di bawah ini:
Pembelajaran kelompok kecil merupakan perbaaikan dari
kelemahan pengajaran klasikal. Adapun tujuan pengajaran pada
pembelajaran kelompok kecil adalah (i) memberi kesempatan
kepada setipa mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan
memecaahkan masalah secara rasional, (ii) mengembangkan sikap
sosial dan semangat bergotong royong dalam kehidupan,
(iii) mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga tiap
anggota merasa diri sebagai begian kelompok yang bertanggung
jawab, (iv) mengembangkan kemampuan kepemimpinan-
kepemimpinan pada setiap anggota kelompok dalam pemecahan
masalah kelompok.
mahasiswa dalam kelompok kecil adalah anggota kelompok yang
belajar untuk memecahkan masalah kelompok. Kelompok kecil
merupakan satuan kerja yang kompak dan kohesif. Ciri-ciri
kelompok kecil yang menonjol sebagai berikuit: (i) tiap mahasiswa
merasa sadar diri sebagai anggota kelompok, (ii) tiap mahasiswa
merasa diri memiliki tujuan bersama berupa tujuan kelompok,
(iii) memiliki rasa saling membutuhkan dan saling tergantung,
(iv) ada interaksi dan komunikasi antara anggota, serta (iv) ada
tindakan bersama sebagai perwujudan tanggung jawab kelompok
Mahasiswa dalam kelompok kecil berperan serta dalam tugas-tugas
kelompok. Agar kelompok kecil berperan konstruktif dan produktif
diharapkan (i) anggota kelompok sadar diri menjadi anggota
kelompok, (ii) mahasiswa sebagai anggota kelompok memiliki rasa
tanggung jawab, (iii) tiap anggota kelompok membina hubungan
akrab yang mendorong timbulnya semangat tim, (iv) kelompok
mewujudkan dalam satuan kerja yang kohesif.
(Schein, 2000:205209/
Pembelajaran kelompok bermaksud menimbulkan dinamika
kelompok agar kualitas belajar meningkat. Dalam pembelajaran
kelompok jumlah mahasiswa yang bermutu diharapkan menjadi
lebih banyak. Peranan dosen dalam pembelajaran terdiri dari:
(i) pembentukan kelompok, (ii) perencanaan tugas kelompok,
(iii) pelaksanaan, dan (iv) evaluasi hasil belajar kelompok
Program pembelajaran berkelompok memberikan tekanan utama
pada peningkatan kemampuan individu sebagai anggota kelompok
Pembelajaran kelompok dapat ditempuh dosen dengan cara:
(i) membagi kelas dalam kelompok kecil, (ii) membagi kelas dengan
memberi kesempatan untuk belajar perorangan dan berkelompok
kecil, dalam hal ini dosen perlu mencegah terjadinya perilaku
mahasiswa sebagai parasit belajar, dan ketidakmampuan kerja
kelompok. Maka pada pembelajaran kelompok, orientasi dan
tekanan utama pelaksanaan adalah peningkatan kemampuan kerja
kelompok. Kerja kelompok berarti belajar kepemimpinan dan
keterpemimpinan
3. Pembelajaran Secara klasikal
Pembelajaran klasikal merupakan kemampuan dosen yang utama. Hal ini disebabkan oleh pengajaran klasikal merupakan kegiatan mengajar yang tergolong efisien. Secara ekonomis pembiayaan kelas lebih murah. Dan jumlah mahasiswa dikelas berkisar dari
10-45 orang
Dengan jumlah tersebut seorang dosen masih dapat membelajarkan mahasiswa secara berhasil. Pembelajaran kelas berarti melaksanakan dua kegiatan sekaligus, yaitu (i) pengelolaan kelas dan (ii) pengelolaan pembelajaran.
Pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Dalam pengelolaan kelas dapat terjadi masalah yang bersumber dari (i) kondisi tempat belajar, (ii) mahasiswa yang terlibat dalam belajar.
Gangguan belajar di kelas dapat berasal dari seorang mahasiswa atau sekelompok mahasiswa.
Pengelolaan pembelajaran bertujuan mencapai tujuan belajar. Peran
dosen dalam pembelajaran secara individual dan kelompok kecil
Berlaku dalam pembelajaran secara klasikal. Tekanan utama
pembelajaran adalah seluruh anggota kelas. Disamping penyusunan
desain instruksional yang dibuat, maka pembelajaran kelasdapat
dilakukan dengan tindakan sebagai berikut: (i) penciptaan tertib belajar
di kelas, (ii) penciptaan suasana senang dalam belajar, (iii) pemusatan
perhatian, (iv) mengikutsertakan mahasiswa belajar aktif,
(v) Penggorganisasian belajar sesuai dengan kondisi mahasiswa.
Dalam pembelajaran di kelas dosen dapat mengajar seorang diri atau
bertindak sebagai tim pembelajar. Bila dosen menjadi tim pembelajar
maka asas tim pembelajar harus dipatuhi. Tim pembelajar perlu
menyusun desain pembelajaran kelas secara baik.
B. Posisi Dosen Mahasiswa Dalam Pengolahan Pesan
Dalam kegiatan belajar mengajar dosen berusaha menyapaikan sesuatu hal yang disebut “pesan”, sebaliknya dalam kegiatan belajar mahasiswa berusaha mmeperoleh sesuatu hal. Pesan sesuatu hal tersebut dapat berupa pengetahuan, wawasan, keterampilan, atau isi ajaran yang lain seperti kesenian, kesusilaan, dan agama.
Dalam desain pengajaran dirumuskan tujuan instruksional khusus, ,maka diuraikan suatu pengajaran yang direncanakan pengajaran tentang pengertian konsumsi, pengelauaran rumah tangga, dan skala
kebutuhan rumah tangga. Dosen telah menyiapkan media pengajaran yang berupa rumusan pengertian, contoh-contoh pertimbangan pembuatan multimedia pembelajaran. Setelah selesai pemberian informasi, dosen mengadakan tanya jawab yang berkenaan dengan pembuatan multimedia pembelajaran.
Dalam diskusi kelas dosen membimbing mahasiswa untuk menarik rumusan tentang pengertian-pengertian multimedia sehubungan dengan pembuatan multimedia pembelajaran. Kedua perilaku tersebut merupakan contoh pengelolaan pesan
Organisasi Mahasiswa | Pembelajaran Secara Individual | Pembelajaran Secara Berkelompok | Pembelajar Secara Klasikal |
program belajar | Ahli pengajaran atau dosen | Dosen | Dosen |
2. Faedah program belajar | Untuk individu | Untuk kelompok | Untuk kelas |
3. Kegiatan belajar | Individual | Kelompok | Kelas |
4. Perilaku utama belajar | Mahasiswa secara individual | Kelompok Mahasiswa | Kelas di bawah pimpinan dosen |
5. Disipiln belajar | Individu dengan tekanan kemandirian mahasiswa | Disiplin kelompok | Disiplin kelas |
6. Waktu belajar | Sesuai dengan kemampuan individual | Menyesuaikan diri dengan kegiatan kerja kelompok | Mahasiswa menyesuaikan diri dengan program dosen |
7. Peranan guru | Sebagai failitas pembimbing belajar | Sebagai pembimbing belajar | Sebagai dosen pengajar yang mendidik |
8. Kebaikan | Mahasiswa belajar mandiri sejak dini | Mahasiswa terampil bekerja sama | Bahan perkuliahan terselesaikan |
Tabel Pengorganisasian Mahasiswa Dalam Pembelajaran
Perilaku mengajar dengan strategi ekspositori juga dinamakan model ekspositori. Model pengajaran ekspositori merupakan kegiatan mengajar terpusat pada dosen. Dosen aktif memberikan penjelasan atau informasi terperinci tentang bahan pengajaran. Tujuan utama pengajaran ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada mahasiswa. Hal yang esensial pada bahan pengajaran harus dijelaskan kepada mahasiswa.
peranan dosen yang penting adalah sebagai berikut: (i) menyusun program pembelajaran, (ii) pemberi informasi yang benar, (iii) pemberi fasilitas belajar yang baik, (iv) pembimbing mahasiswa dalam pemerolehan informasi yang benar, dan (v) penilai pemerolehan informasi.
Peranan mahasiswa yang penting adalah: (i) pencari informasi, (ii) pemakai media dan sumber yang benar, (iii) menyelesaikan tugas, sehubungan dengan penilaian dosen. Hasil belajar yang dievaluasi adalah luas dan jumlah pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang dikuasai mahasiswa
Perilaku mengajar dengan strategi inkuiri juga disebut sebagai midel inkuiri. Model inkuiri merupakan pengajaran yang mengharuskan mahasiswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai. Dalam pembelajaran ini mahasiswa menjadi aktif belajar, dengan tujuan utama model inkuiri adalah mengembangkan keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah.
Tekanan utma pembelajaran dengamn strategi inkuiri adalah (i) pengembangan kemampuan berpikir individual lewat penelitian, (ii) peningkatan kemampuan mempraktekkan metode dan teknik penelitian, ilmu tertentu, (iii) latihan keterampilan intelektual khusus, (iv) latihan menemukan sesuatu, seperti belajar bagaiman belajar sesuatu. Ada beberapa ahli yang mengembangkan model inkuiri seperti Suchman, Massialas dan Cox, dan Schwab (Joyce & Well, 2000).
Peranan dosen yang penting adalah (i) menciptakan suasana bebas
berpikir sehingga mahasiswa berani berekplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah, (ii) fasilitator dalak penelitian, (iii) rekan diskusi dalam klarifikasi dan pencarian alternatif pemecahan masalah, serta (iv) pembimbing penelitian, pendorong keberanian berpikir alternatif dalam pemecahan masalah. Sebagai pembimbing proses berpikir, dosen menyampaikan banyak pertanyaan. Peran membimbing tersebut menonjol pada strategi guided inqury, dimana kemungkinan penemuan telah diperhitungkan sebelumnya oleh dosen.
Peranan mahasiswa yang penting adalah (i) mengambil prakarsa dalam pencarian masalah dan pemecahan masalah, (ii) pelaku aktif dalam belajar melakukan penelitian, (iii) penjelajahan tentang masalah dan metode pemecahan, dan (iv) penemu pemecahan masalah. Peranan tersebut sesuai dengan penakanan model inkuiri yang digunakan.
Evaluasi hasil belajar pada model inkuiri meliputi (i) keterampilan
Pencarian dan perumusan masalah, (ii) keterampilan pengumpulan
data atau informasi, (iii) keterampilan meneliti tentang objek, seperti
benda, sifat benda, kondisi, atau peristiwa dan pelaku, (iv) keterampilan
menarik kesimpulan, dan (v) laporan
C. Kemampuan Yang Akan Dicapai Dalam Pembelajaran
Mahasiswa yang belajar akan mengalami perubahan dan hasil belajar
tersebut meliputi ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Dan
kemampuan yang akan dicapai dalam pembelajaran adalah tujuan
pembelajaran
1
Guru
3
Kemampuan pra-belajar
2
Siswa
4
Kegiatan belajar
5
Hasil belajar
6
Dampak Pengajaran
7
Dampak Pengiring
Pengorganisasian siswa
Pengolahan pesan
Evaluasi belajar
Pembelajaran komputer
Motivasi belajar dan emansipasi sepanjang hayat
Perkembangan Kemampuan mahasiswa dalam ranah kognitif, psikomotorik,
berkat pembelajaran
dilakukan dengan pengorganisasian mahasiswa, pengolahan pesan,
dan evaluasi belajar
kemampuan tersebut berupa kemampuan-kemamapuan kognitif,
afektif, dan psikomotor
mahasiswa melakukan kegiatan belajar dan meningkatkan
kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor
telah mencapai suatu hasil belajar, wujud hasil belajar tersebut
semakin bermutunya kemampuan kognitif, afektif, psikomotor
dapat digolongkan sebagai:
Kegiatan belajar mengajar meliputi fase-fase:
pada bahan ajar
(3) Mengolah pesan, yang berarti mahasiswa mengolah informasi dan
mengambil makna tentang apa yang dipelajari
(4) Menyimpan yang berarti menyimpan dalam ingatan, perasaan, dan kemampuan morotiknya
Kegiatan belajar di kampus, menurut Briggs dan Telfer pada umumnya,
dapat dibedakan menjadi empat hal berkenaan dengan
emosi
(iii) Belajar yang berkenaan dengan isi ajaran, seperti yang ditentukan
dalam silabus semacam pokok-pokok bahasan, dan
(iv) Belajar yang berkenaan dengan proses seperti bagaimana suatu
hasil dapat diperoleh
Tujuan pengajaran | Isi | Proses |
Ranah Kognitif | Mata kuliah di kampus dan disiplin pengetahuan | Pendekatan pemerolehan seperti pemecahan masalah, penemuan, dsb |
Ranah Afektif | Pendidikan nilai dengan sengaja | Kejelasan nilai berkenaan dengan perasaan dan sikap |
Ranah Psikomotorik | Pendidikan keterampilan dengan sengaja | Kejelasan kecekatan psikomotorik dengan gerak |
(Adatapsi, Briggs dan telfer, 2000: 10-11; Utomo dan Ruijiter, 2000:30)
D. Proses Pengolahan Pesan
Pemerolehan pengalaman, peningkatan jenis ranah tiap mahasiswa tidak sama. Hal itu disebabkan oleh proses pengolahan pesan. Ada 2 jenis pesan, yakni secara deduktif dan induktif
Pengolahan pesan secara deduktif dimulai dari generalisasi atau suatu teori yang benar, pencarian data, dan uji kebenaran generalisasi atau teori tersebut.
2. Pengolahan pesan secara induktif.
pada pengolahan pesan secara induktif kegiatan bermula dari adanya fakta atau peristiwa khusus, penyusunan konsep berdasarkan fakta-fakta, kemudian disusun generalisasi atas dasar konsep-konsep.
Dalam usaha pembelajaran dosen dapat menggunakan pengolahan
pesan secara deduktif maupun induktif tergantung pada karateristik
bidang studinya