1.
Document. 1Document. 1, 2,Document. 1, 2, 3, Document. 1, 2, 3, 4, Document. 1, 2, 3, 4, 5, Document. 1, 2, 3, 4, 5, 6Document. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7
Secara formal NU lahir pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M di Surabaya oleh para ulama Ahlusunnah wal Jama'ah yang dipelopori oleh K.H. Hasyim Asy'ari Secara formal NU lahir pada tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 M di Surabaya oleh para ulama Ahlusunnah wal Jama'ah yang dipelopori oleh K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Namun pada hakekatnya ajaran dan faham yang dianut dan diperjuangkan oleh NU telah ada sejak awal masuknya Islam ke Indonesia pada permulaan abad Hijriyah
2.
Sebelum lahirnya NU K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan kawan-kawannya telah mendirikan organisasi yang merupakan embrio Jam'iyah Nahdlatul Ulama ini yaitu : Nahdlatul Wathon yang berarti Kebangkitan Nasional (1916), Syirkah Inan Murabahah (Koperasi), Nahdlatut Tujjar yang artinya Kebangkitan para pedagang (1918), Tashwirul Aflkar atau potret pemikiran (1919) dan Komite Hijaz (Januari 1926).
3.
Akhirnya dengan motivasi pemurnian ajaran Islam Aswaja, Ukhuwwah Islamiyyah, Ukhuwwah Wathoniyyah (Nasionalisme) dan tanggung jawab terhadap perkembangan dunia Islam (Internasionalisme) maka lahirlah Nahdlatul Ulama.
SEJARAH PERJUANGAN �NAHDLATUL ULAMA
Mengenai sejarah perjuangan organisasi sangat penting sekali, karena dengan mengetahui sejarah perjuangan itu dapat menanamkan rasa harga diri dan bangga terhadap organisasi yang pada gilirannya akan mampu membangkitkan semangat juang lewat wadah organisasi tersebut. Untuk itu disini perlu dijelaskan serba singkat sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama sebagai berikut:
4.
Pada masa penjajahan Belanda, sikap NU adalah menerapkan politik Non Cooperation (tidak mau kerja sama) dengan Belanda. Untuk menanamkan rasa benci kepada penjajah, para ulama mengharamkan segala sesuatu yang berbau Belanda sehingga semakin menumbuhkan rasa kebangsaan (Nasionalisme) dan anti penjajah.
5.
Meskipun pada zaman Belanda tidak merupakan Partai Politik akan tetapi lapangan usahanya tidak hanya bidang sosial keagamaan saja, namun menyangkut segala aspek kehidupan masyarakat, baik yang bersifat nasional maupun internasional, seperti halnya tuntutan kepada pemerintah Belanda akan adanya wakil bangsa Indonesia di Parlemen.
6.
Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,sejak berdirinya NU telah mendirikan pondok pesantren, madrasah dan sekolah yang tersebar di seluruh cabang-cabangnya di Indonesia.
7.
Setiap usaha untuk mempersatukan umat Islam NU selalu aktif mempelopori usaha tersebut seperti Kongres Al slam, MIAI, Masyumi, PPP,dsb.
8.
Pada zaman penjajah Jepang karena kegigihannya NU termasuk organisasi yang dibubarkan Jepang.
9.
Menjelang kemerdekaan NU turut aktif didalam BPUPKI, bahkan K.H. Abdul Wahab Hasyim turut aktif sebagai panitia kecil yang merumuskan Pancasila dan UUD 1945.
10.
Setelah Proklamasi kemerdekaan, Belanda masih tetap ingin menjajah Indonesia kembali, maka NU tampil kedepan dengan Resolusi Jihadnya (Fatwal Jihad) pada tanggal 20 Oktober 1945 yang isinya fardlu ain hukumnya melawan penjajah Belanda manakala kembali menjajah�Negara Rl pada waktu Belanda mendaratkan tentaranya di Surabaya dengan kedok tentara Sekutu, maka lahirlah perlawanan arek-arek Surabaya pada tanggal 10 Nopember 1945, yang terkenal sebagai hari Pahlawan.
11.
Semenjak terbentuknya kabinet Syahrir ketiga (1946) sampai dengan Kabinet Pembangunan pertama (1973), NU selalu diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai menteri-menteri.
12.
Ketika terjadi Affair Madiun/PKI (1948) dengan laskar Hizbullah yang dipimpin oleh K.H. Zainul Arifin dan Sabilillah yang dipimpin oleh K.H. Masykur, aktif menumpas PKI.
13.
Sejak tahun 1952 (Muktamar Palembang), NU menjadi Partai Politik, peranannya semakin nyata dalam segala aktifitas kehidupan berbangsa baik yang bersifat politik kenegaraan maupun sosial keagamaan.
14.
Pada waktu terjadi G 30 S/PKI (30 September 1965) NU tampil yang terdepan (pertama kali) menuntut kepada Presiden RI agar PKI dan segenap neven organisasinya untuk dibubarkan (5 Oktober 1965).
15.
Di dalam penumpasan G 30 S/PKI dan penumbangan Orde Lama Di dalam penumpasan G 30 S/PKI dan penumbangan Orde Lama peran ABRI dan NU (manunggalnya ABRI dan NU), sangat menentukan. Pada waktu itu HM. Subchan ZE, menjadi ketua Kesatuan Aksi Pengganyangan G 30 S/PKI dan Front Pancasila. Gerakan pemuda Anshor dan Bansernya tampil ke depan dalam pengganyangan PKI.
16.
Pelajar NU (IPNU/IPPNU) dan Mahasiswa NU (PMII) dan GP. Anshor/ Fatayat NU turut ambil bagian terdepan di dalam KAMI/KAPPI. Untuk menurunkan Orla dan menegakkan Orba, Drs. Zamroni pada waktu itu menjadi ketua Presudium KAMI/KAPPI.
17.
Pada awal tahun 1967 H. Nuddin Lubis (Fraksi NU) bersama kawan-kawannya di DPRGR mengeluarkan memorandum yang prinsipnya mengusulkan agar Dewan mengusulkan kepada MPRS untuk mengadakan Sidang Umum Istimewa yang acara pokoknya adalah membicarakan masalah penggantian Kepala Negara. Usul resolusi itu kemudian diterima dan menjadi memorandum DPRG. Pada waktu itu yang menjadi Ketua DPRGR adalah K.H. Ahmad Syaichu (NU)
18.
Di dalam sidang Umum MPRS
H. Djamaluddin Malik (Fraksi NU) bersama kawan-kawannya minta agar SUI MPRS itu mengangkat Letjend Suharto menjadi pejabat Presiden menggantikan Presiden Soekarno.
19.
Setelah adanya Undang-undang penyederhanaan Kepartaian (1973) partai-partai Islam pada waktu itu mendirikan dan berfusi ke dalam wadah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Maka NU menyatakan diri menjadi Jam'iyah sebagaimana kelahirannya tahun 1344/1926.
20.
Di dalam era pembangunan ini partisipasi NU sebagi organisasi sosial keagamaan terhadap bangsa dan negara digarap melalui bidang : pendidikan, da'wah, sosial dan ekonomi.
21.
Sejak Muktamar NU Sejak Muktamar NU ke 27 di Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo Asembagus Situbondo tanggal 8 s/d 13 Desember 1984, NU menyatakan secara resmi kembali ke Khittoh 1926. Dengan demikian NU sepenuhnya menjadi organisasi sosial keagamaan non politik dan tidak terikat dengan organisasi sosial politik manapun.
22.
Pada era reformasi KH. Abdurrahman Wahid (Ketua umum PBNU) dipilih menjadi presiden oleh MPR RI secara demokratis.
2
HADRATUS SYEKH KH. HASYYIM ASY’ARI
2
KH. ABDUL WAHAB HASBULLAH
2
PONDOK KARTOPATEN
Merupakan pondok pesantrenya
KH. Abdul Wahab Hasbullah
2
KH. MAS ALWI ABDUL AZIZ
2
GHONAIM AL - MISHRI
2
KH. RIDWAN ABDULLAH
2
TEMPAT PENANDA TANGANAN JAMI’IYYAH NU
2
NAHDLATUL WATON
2
KANTOR PB . NU
PIMPINAN PARTAI MASYUMI
7
EMPAT TOKOH PENDIRI MIAI
7
KH. ABDUL WAHID HASYIM
10
KH. MASYKUR
13
APEL BESAR PENUMPASAN ORDE LAMA
16
KAMPANYE PPP
19
KH. R. AS’AD SAMSUL ARIFIN
21
MUNAS ALIM ULAMA 1984 DI SITUBONDO
21
HM. SUBCHAN ZE
16
PONDOK KEBON DALEM
KH. ABDUL HAMID
LAMBANG “NU”
LAMBANG “NU”
LAMBANG “NU”
GEDUNG “ONDERLINBLANG”
PENGURUS “SUBBANUL WATON” PERTAMA
HOTEL MUSLIMIN
TEMPAT MUKTAMAR “NU” I, II, III
PENGURUS NAHDLATUS SYUBBAN PERTAMA
KH. THOHIR BAKRI
KONPERENSI PERTAMA “ANO” INDONESIA
30 APRIL – 2 MEI 1936
KH. IDHAM KHALID
MU’TAMAR NU KE –XXVI
DI SEMARANG
KH. BISHRI SYANSURI
DAN
HM. YUSUF HASYIM
PAWAI AKBAR NU DI JAKARTA,
1966
MUSLIMAT NU
ISHARI
BAHTSUL MASAIL DINIYAH
MUNAS ULAMA 1982 DI KALIURANG
KH. ALI MA’SUM
KH. ANWAR MUSADDAD
KH. ALI MA’SUM
Dokumentasi