2. MORFOLOGI TANAH
Pendahuluan
Orang pertama yang menggunakan cara morfologi dalam mempelajari tanah menurut Zakharov,(1927) adalah Ruprecht (Joffe, 1950).
Morfologi bukan suatu ilmu melainkan sarana sesuatu ilmu, merupakan cara yang digunakan dalam penyelidikan-penyelidikan ilmiah.
Tujuan morfologi tanah adalah suatu uraian pelukisan, sehingga yang dimaksud Morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang.
Pendahuluan
Pengamatan sebaiknya dilakukan pada profil tanah yang baru dibuat.
Pengamatan di lapang biasanya dimulai dengan membedakan lapisan-lapisan tanah atau horizon-horison.
Horison adalah lapisan dalam tanah lebih kurang sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk karena proses pembentukan tanah.
Di lapang masing-masing horizon diamati sifat–sifatnya yang meliputi : warna, tekstur, konsistensi, struktur, kutan, konkresi dan nodul, pori-pori tanah (void), pH (metode lapang), batas-batas horizon.
Pendahuluan
Tanah yg dklasifikasikan dlm taksonomi tanah adh
Batas tanah yg dklasifikasi :
Pendahuluan
2.1. Profil Tanah, Pedon dan Polipedon�
Pengertian-pengertian berikut ini disitir dari USDA, 1975; Buol et al (1980) dan Hardjowigeno (1993).
2.1. Profil Tanah, Pedon dan Polipedon�
2.1. Profil Tanah, Pedon dan Polipedon�
2.1. Profil Tanah, Pedon dan Polipedon�
2.1. Profil Tanah, Pedon dan Polipedon�
2.2.Ciri-Ciri Morfologi Tanah
Pengamatan di lapang biasanya dimulai dengan membedakan lapisan-lapisan tanah atau horison-horison.
Horison tanah adalah lapisan dalam tanah lebih kurang sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk karena proses pembentukan tanah.
Masing-masing horison diamati ciri-cirinya antara lain : warna, tektur, strukutur, konsistensi, pH tanah, kutan, konkresi dan nodul, pori-pori, dan batas-batas horison.
�2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan�
Horizon yang diberi simbol adalah horizon genetik yaitu lapisan-lapisan di dalam tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk sebagai akibat dari proses pembentukan tanah.
Horison genetik tidak setara dengan horison penciri.
Horison genetik mencerminkan jenis perubahan sifat tanah yang telah terjadi akibat dari proses pembentukan tanah.
Horison penciri adalah horison yang mungkin terdiri dari beberapa horison genetik yang sifat-sifatnya dinyatakan secara kuantitatif dan digunakan sebagai penciri dalam klasifikasi tanah.
�2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan�
Ada enam horison (dan lapisan) utama dalam tanah yang masing-masing diberi simbol dengan satu huruf besar yaitu (dari atas ke bawah): O, A, E, B, C dan R. (Soil Survey Staff, 1975, 1990; 1994, 1998).
Horison atau lapisan yang didominasi oleh bahan organik, baik yang selalu jenuh air, yang drainasenya telah diperbaiki, ataupun yang tidak pernah jenuh air.
2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan
Horison mineral di permukaan tanah atau di bawah horison O dan mempunyai salah satu atau kedua sifat berikut:
Ap horizon
Contoh deskripsi Ap:
Ap -- 0 - 12 inch; coklat tua (10YR 3/3) Lempung liat berdebu; struktur gumpal-bersudut , halus, kuat; remah, agak lekat dan plastis; banyak akar; banyak pori halus dan medium; sangat masam (pH 4.8); batas horison abrupt smooth. (tebalnya 10 - 13 inch).
2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan
Horison mineral dengan sifat utama terjadi pencucian liat silikat, besi, alumunium, atau kombinasinya, bahan oraganik, dan lain-lain sehingga tertinggal pasir dan debu, umumnya berwarna pucat. Warna tersebut lebih terang daripada horison A di atasnya atau horison B dibawahnya.
2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan
Horison yang terbentuk di bawah horison A, E, atau O dan mempunyai salah satu atau lebih sifat berikut:
Horison Btg
Horison Btg
Contoh deskripsi Horison Bt:
B21 -- 12 - 22 inch; coklat tua (7.5YR 3/2) lempung liat berdebu; struktur prismatik medium moderat yang bercampur dengan struktur gumpal bersudut halus mdeium moderat; keras, gembur, agak lekat, plastis dan licin-moderat; banyak akar; banyak pori halus dan sangat halus; banyak selimut berbutir halus pada pori dan pada ped; sangat masam (pH 5.5); batas horison clear smooth. (tebal 10 - 12 inch)
2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan
Perkembangan warna atau struktur secara Non-illuvial
“w” dapat = “weak”
Biasanya digunakan dnegan Horison B (mis. Bw.)
Bw
2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan
Horison atau lapisan, tidak termasuk batuan keras, yang sedikit dipengaruhi oleh proses pedogenik, dan tidak mempunyai sifat horison O, A, E, atau B, bahan lapisan C dapat serupa ataupun tidak serupa dengan bahan yang membentuk solum di atasnya.
Termasuk lapisan C adalah bahan endapan, saprolit, batuan yang tidak padu (unconsilidated) dan bahan geologi yang agak keras tetapi pcahan kering udara atau lebih kering dfapat hancur bila direndam dalam air selama 24 jam, sedangkan bila lembab dapat digali dengan cangkul.
2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan
lapisan batuan yang keras, pecahan kering udara atau lebih kering tidak dapat hancur bila bila direndam dalam air selama 24 jam, dan batuan yang lembab tidak dapat digali dengan cangkul. Batuan ini mungkin pecah-pecah tetapi jumlah retakan sedikit sehingga hanya sedikit akar yang dapat menembus lewat retakan.
HORISON UTAMA = Master Horizons
A horizon
E horizon
Eluviasi)
O horizon
B horizon
(lluviasi)
C horizon
R horizon
B horizon
Simbol Tambahan�
Simbol untuk menunjukkan sifat-sifat khusus horison utama atau lapisan, adalah berupa huruf kecil yang dituliskan dibelakang simbol horison atau lapisan yang bersangkutan.
a – bahan organik dengan pelapukan lanjut (saprik). Simbol tambahan untuk horison atau lapisan O.
b – horison genetik yang tertimbun. Hanya untuk horison mineral. Tidak digunakan untuk tanah organik maupun membedakan lapisan organik dengan mineral.
c – konkresi atau nodul dengan bahan utama besi, mangan, aluminium, atau titanium. Tidak digunakan untuk konkresi atau nodul dolomit, kalsit, atau garam lain yang lebih mudah larut.
d – lapisan yang memadat (pembatas perakaran) sehingga tidak dapat ditembus akar tanaman, misalnya lapisan tapak bajak.
Simbol Tambahan
e – bahan organik dengan tingkat pelapukan sedang (hemik). Hanya untuk horison atau lapisan organik.
f – tanah yang membeku. Horison yang mengandung es permanen, bukan hanya pada waktu musim dingin.
g – gleisasi kuat. Gleisasi kuat ditunjukka oleh warna tanah dengan kroma rendah dan banyak yang berkarat. Tidak untuk bahan induk yang aslinya memang berkroma rendah seperti serpih (shale) ataupun horison E, kecuali bila proses gleisasi benar terjadi. Simbul”g” digunakan untuk horison B hanya jika kecuali gleisasi, ada perubahan pedogenik lain. Jika hanya gleisasi yang terjadi maka horison tersebut diberi simbol Cg.
h – akumulasi iluvial bahan organik. Untuk horison B dengan iluviasi kompleks organik-seskuioksida terutama Al tetapi jumlahnya sedikit . Bila seskuioksida cukup banyak tetapi warna tanahnya gelap (bahan organik tinggi) dengan value dan kroma 3 atau kurang maka diberi simbul Bhs.
Simbol Tambahan
i– bahan organik kasar (fibrik). Digunakan untuk horison O
k – Akumulasi karbonat, biasanya kalsium karbonat.
m – pemadasan yang kontinyu, dan lebih dari 90 persen memadas. Tidak dapat ditembus akar kecuali melalui bidang-bidang patahan. Bila digabungkan dengan bahan perekatnya maka dituliskan sebagai berikut:
km – padas dengan bahan perekat karbonat
qm – padas dengan perekat silika
sm – padas dengan perekat besi
ym – padas dengan perekat gipsum
kqm – padas dengan perekat kapur dan silika
zm – padas dengan perekat garam yang lebih mudah larut dari pada gipsum.
Simbol Tambahan
n – akumulasi natrium dapat ditukar.
o – akumulasi residual seskuoksida
p – pengolahan tanah. untuk tanah-tanah yang diolah baik tanah organik (Op) maupun tanah mineral (Ap), horison E, B, atau C yang muncul dipermukaan kemudian diolah, semuanya diberi simbol Ap.
q– akumulasi silika sekunder.
r – batuan melapuk atau lunak. Simbol tambahan untuk horison C, misalnya batuan beku yang melapuk batu pasir, batu debu, atau serpihan lunak yang sebagaian memadu. Akar tanaman tidak dapat menembus, kecuali lewat bidang patahan. Dapat digali denan cangkul.
s – akumulasi iluvial seskuoksida dan bahan organik. Digunakan untuk horison B dengan iluviasi kompleks seskuoksida bahan oprganik, dan mempunyai warna dengan value serta kroma 3 atau kurang, maka simbolnya adalah “Bhs”.
Simbol Tambahan
ss – terdapat bidang kilir. Ditemukan pada tanah yang mempunyai sifat mengembang kalau basah dan mengkerut kalau kering.
t – akumulasi liat silikat, baik akibat iluviasi atau pembentukan dan pemindahan dalam horison yang bersangkutan (insitu), atau kedua-duanya. Liat dapat ditemukan dalam bentuk selaput liat di permukaan butir struktur tanah, dalam pori-pori lamela, atau sebagai penghubung butir-butir mineral tanah.
v – plintit. Digunakan untuk horison yang banyak menngandung bahan berwarna merah, kaya besi, miskin humus, teguh atau sangat teguh bila lembab dan mengeras tidak balik bila terbuka di udara dan mengalami basah dan kering berulang-ulang.
w – ada perkembangan warna atau struktur. Digunakan untuk horison B yang baru ada perkembangan warna atau struktur, atau kedua-duanya, dengan sedikit atau tanpa akumulasi iluviasi bahan tanah tertentu. Tidak digunakan untuk horison peralihan
Simbol Tambahan
x – fragipan. Menunjukkan adanya pelapisan padas (kerapatan lindak tinggi), teguh tetapi rapuh.
y – akumulasi gipsum (CaSO4).
z – akumulasi garam yang lebih mudah larut daripada gipsum.
Aturan Penggunaan simbol Tambahan�
1.simbol tambahan ditulis langsung di belakang simbol horison atau lapisan utama.
2.Umumnya tidak lebih dari tiga simbol.
3.Horison permukaan yang diolah hanya diberi simbol tambahan “p”, kecuali ada akumulasi kalsium karbonat (kp), kalsium sulfat (py), atau garam mudah lartut (pz).catatan: di susun menurut abjad, sesuai petunjuk nomor 9.
4.Bila diperlukan lebih dari satu simbol tambahan, maka huruf-huruf berikut harus ditulis paling dulu; a, d, e, h, I, r, s, t, dan w. Kombinasi huruf-huruf tersebut hanya dapat dilakukan untuk Bhs atau Crt.
5.Bila diperlukan lebih dari satu simbol tambahan dan bukan merupakan horison tertimbun, maka huruf-huruf berikut harus ditulis paling akhir; c, f, g, m, v, dan x. Misalnya: Btc, Bkm, Bsv.
Aturan Penggunaan simbol Tambahan
6. Untuk horison tertimbun, huruf “b” harus ditulis paling akhir. Huruf “b” hanya digunakan untuk tanah mineral yang tertimbun.
7. Horison B yang mempunyai akumulasi liat tinggi (t) dan juga menunjukkan perkembangan warna atau struktur, atau kedua-duanya (w) diberi simbol Bt. (“t” di utamakan terhadap “w”, “s”, dan “h”). untuk horison B yang mempunyai sifat g, k, n, q, y, z atau o, dan juga mempunyai akumulasi liat, (t), maka huruf “t” harus ditulis lebih dulu. Misalnya; Bto, Btg, dan sebagainya.
8. Simbol “h, s,dan w” tidak dapat digunakan bersama-sama dengan simbol g, k, n, q, y, z, atau o, kecuai hanya untuk tujuan penjelasan.
9. Kecuali yang disebutkan diatas, maka simbol horison tambahan dituliskan menurut abjad.
2.2.2. Batas Horizon/Lapisan�
Batas horizon dinyatakan dalam kejelasan dan batas topografi:
Abrupt : sangat jelas, lebar peralihan < 2 cm.
Clear : jelas, lebar peralihan 2-5 cm.
Gradual : berangsur, lebar peralihan 5-12 cm.
Diffuse : baur, lebar peralihan > 12 cm.
2.2.2. Batas Horizon/Lapisan�
Bentuk topografi:
Smooth : rata, lurus teratur.
Wavy : berombak, berbentuk kantong.
Irreguler : tidak teratur
Broken : terputus, batas horizon tidak dapat disambungkan dalam satu bidang datar.
2.2.3. Warna�
Warna tanah merupakan cerminan kondisi tanah. Warna gelap mencerminkan kandungan bahan organik tinggi. Warna kelabu mencerminkan drainase buruk, warna merah mencerminkan drainase baik. warna tanah ditentukan dengan sistem Munsell yang meliputi Hue, value, chroma. Misalnya 10 YR 3/2. Warna-warna yang dicatat meliputi:
Warna matriks
Warna karatan, konkresi.
Warna plintit
Dalam mementukan warna tanah harus diperhatikan:
2.2.3. Warna�
Warna tanah merupakan pernyataan : (a) jenis dan kadar bahan organik, (b) keadaan drainase dan aerasi tanah dalam hubungan dengan hidrasi, oxidasi dan proses pelindian, (c) tingkat perkembangan tanah, (d) kadar air tanah termasuk pula dalamnya permukaan air taah, dan atau (e) adanya bahan-bahan tertentu.
Pada umumnya bahan organik memberikan warna kelam pada tanah, artinya jika tanah asalnya berwarna kuning atau coklat muda, kandungan bahan organik menyebabkan warnanya lebih cenderung ke arah coklat-kelam. Makin stabil bahan organik makin tua warnanya, sedang makin segar makin cerah warna tanah,dan humus yang berwarna hitam.
Cara menentukan warna tanah adalah dengan membandingkan warna tanah dengan warna pembanding dealam kartu Munsell Soil Color Chart, dengan mendekatkan contoh tanah atau memasukkan contoh tanah ke dalam lubang yang telah tersedia di dekat masing-masing kertas warna pembanding. Penulisan warna ditulis menurut urutan hue,value, chroma, misalnya 10 YR ¾ (coklat).
2.2.3. Warna�
2.2.4. Tekstur�
Kelas Tekstur
Pasir |
|
Pasir berlempung |
|
Lempung berpasir |
|
Lempung |
|
Kelas Tekstur
Lempung berdebu |
|
debu |
|
Lempung liat berpasir |
|
Lempung liat berdebu |
|
Kelas Tekstur
Lempung berliat |
|
Liat berpasir |
|
Liat berdebu |
|
Liat |
|
Liat berat |
|
2.2.5. Struktur�
2.2.5. Struktur
2.2.5. Struktur
Ukuran struktur: tergantung pada bentuk struktur seperti pada tabel berikut:
Kelas Ukuran | Lempeng | Prisma dan Tiang | Kubus, Sudut dan Gumpal | Butir dan Remah |
Sangat halus | , 1 mm | < 10 mm | < 5 mm | <1 mm |
Halus | 1 –2 mm | 10 – 20 mm | 5 – 10 mm | 1 – 2 mm |
Sedang | 2 – 5 mm | 20 – 50 mm | 10 – 20 mm | 2 – 5 mm |
Kasar | 5 – 10 mm | 50 – 100 mm | 20 – 50 mm | 5 – 10 mm |
Sangat kasar | > 10 mm | > 100 mm | > 50 mm | > 10 mm |
2.2.5. Struktur
0 : tidak berstruktur (masive atau butir tunggal)
1: lemah, kalau diremas jadi butir-butir.
2: cukup, bentuk jelas, kalau diremas bentuknya satuan sebagian besar tetap.
3: kuat, bentuk jelas,kalau diremas bentuknya tetap.
2.2.6. Konsistensi�
2.2.6. Konsistensi
Tidak lekat : Tidak ada tanah tertinggal
Agak lekat : Tanah tertinggal pada salah satu jari
Lekat : Tanah tertinggal pada kedua jari
Sangat lekat : sukar untuk melepaskan kedua belah jari
Tidak plastis : Tidak dapat terbentuk gelintir tanah, masa tanah mudah berubah bentuk
Agak plastis : terbentuk gelintir tanah, masa tanah mudah berubah bentuk
Sangat plastis: dapat terbentuk grlintir tanah, tahan terhadap tekanan
2.2.6. Konsistensi
Lepas : butir-butir tanah tidak terikat, melekat bila ditahan
Sangat gembur : dengan sedikit tekanan bisa bercerai, bila digenggam mudah bergumpal, meleket bila ditekan
Gembur : bila diremas dapat bercerai, bila digenggam masa tanah bergumpal, melekat bila ditekan
Teguh : masa tanah tahan terhadap remasan, hancur dengan tekanan besar
Sangat teguh : masa tanah tahan terhadap remasan, tidak mudah berubah bentuk
Ektrem teguh : masa tanah sangat tahan terhadap remasan, bila digenggam bentuk tidak berubah
2.2.6. Konsistensi
Lepas : butir-butir tanah lepas, satu dengan lainnya tidak terikat
Lunak : dengan sedikit tekanan tanah bercerai menjadi butir
Agak keras : agak tahan terhadap tekanan, masa tanah rapuh
Keras : tahan terhadap tekanan masa tanah dapat dipatahkan dengan tangan (tidak dengan jari)
Sangat keras : masa tanah sukar dipatahkan dengan tangan
Ektrem keras : masa tanah tidak dapat dipatahkan dengan tangan
2.2.7. Karatan�
Karatan adalah gejala kelainan warna pada tanah, akibat proses oksidasi daan reduksi. Karatan dalam penampang tanah ditentukan: jumlah, ukuran, bandingan, batas dan bentuknya.
Sedikit : < 2 % dari luas permukaan
Biasa : 2-10 %
Banyak : > 20 % matrik masih nampak jelas
Kecil : diameter < 0.5 cm
Sedang : diameter 0,5-1,5 cm
Biasa : diameter > 1,5 cm, matrik masih nampak jelas
2.2.7. Karatan�
Baur : warna matrik dan karatan hampir sama
Jelas : warna matrik dan karatan berbeda dalam hue dan kroma
Nyata : bintik-bintik karatan merupakan gejala utama dari horison
Jelas : warna beralih tiba-tiba
Sedang : warna peralihan < 2 mm
Kabur : warna peralihan > 2 mm
Bintik : hampir membulat, satu dengan yang lainnya tidak bersambungan
Bintik berganda: hampir membulat, satu dengan lainnya bersambungan
Lidah : memanjang kecil, mebujur dari atas ke bawah
Api : lebar atau besar arahnya tidak menentu
Pipa : bulat memanjang
2.2.8. Kandungan bahan kasar�
Bahan kasar adalah masa dalam tanah berukuran 0,2-2 cm, terdiri dari konkresi-konkresi, kerikil, gumpalan-gumpalan garam, yang berpengaruh terhadap penggunaan tanah dan pertumbuhan tanaman.
Kandungan bahan kasar yang perlu dicatat adalah jenis, ukuran, jumlah, kekerasan dan penyebaranya dlam penampang
Fe : konkresi besi berwarna merah, coklat, umumnya berbentuk benjol atau bulat
Mn : konkresi mangan mirip konkresi besi berwarna kehitaman
Ca : konkresi kapur, berwarna keputihan, umumnya membuih dengan HCl
B : pecahan batu
Kecil : 0,2-1 cm
Besar : 1-2 cm
2.2.8. Kandungan bahan kasar
Sedikit : < 3 %
Sedang : 3-15 %
Banyak : 15-50%
Banyak sekali : >50%
Lunak : dapat dipecah dengan ibu jari ddan telunjuk
Sedang : dapat dipecah dengan kuku, tidak pecah kalau dipijit
Keras : baru pecah kalau dipukul dengan palu
-Tersebar rata dalam penampang
-Tersebar di sebagian tempat dalam penampang
-Merupakan suatu lapisan