1 of 51

2. MORFOLOGI TANAH

2 of 51

Pendahuluan

Orang pertama yang menggunakan cara morfologi dalam mempelajari tanah menurut Zakharov,(1927) adalah Ruprecht (Joffe, 1950).

Morfologi bukan suatu ilmu melainkan sarana sesuatu ilmu, merupakan cara yang digunakan dalam penyelidikan-penyelidikan ilmiah.

Tujuan morfologi tanah adalah suatu uraian pelukisan, sehingga yang dimaksud Morfologi tanah adalah sifat-sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari di lapang.

3 of 51

Pendahuluan

Pengamatan sebaiknya dilakukan pada profil tanah yang baru dibuat.

Pengamatan di lapang biasanya dimulai dengan membedakan lapisan-lapisan tanah atau horizon-horison.

Horison adalah lapisan dalam tanah lebih kurang sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk karena proses pembentukan tanah.

Di lapang masing-masing horizon diamati sifat–sifatnya yang meliputi : warna, tekstur, konsistensi, struktur, kutan, konkresi dan nodul, pori-pori tanah (void), pH (metode lapang), batas-batas horizon.

4 of 51

Pendahuluan

Tanah yg dklasifikasikan dlm taksonomi tanah adh

  1. Tanah yg telah mpy horison2 tanah sbg hasil dr proses pembentukan tanah
  2. Tanah-tanah yg blm mpy horison2 tanah asalkan mampu menopang pertumbuhan tanaman yg dtunjukkan oleh adanya kegiatan biologis spt adanya perakaran tanaman dll.

Batas tanah yg dklasifikasi :

  • Batas atas tanah adh batas antara :
    • Tanah dg udara
    • Tanah dg bahan organik yg blm terlapuk (segar)
    • Tanah dg air yg dangkal (≤ 2,5 m)

5 of 51

Pendahuluan

    • Batas bawah tanah adh :
      • Batas dmn sudah tdk lg ditemukan aktivitas biologi
      • Batas dmn proses pedogenik mulai tdk dtemukan
      • Bila proses pedogenik atau aktivitas biologi dtemukan samapi kedalaman > 200cm, mk tanah yg diklasifikasikan hanya sampai 200 cm saja.
      • Tanah di daerah tropika basah srg tdk menunjukkan perubahan sifat tanah & aktivitas biologi yg jelas sampai kedalaman brp meter, shg tanah yg dklasifikasikan sampai 200 cm.
      • Di daerah rawa2 yg terus-menerus tgenang, hanya ada horizon A, sedangkan bahan tanah dibawahnya sampai bbrp meter sifatnya seragam, warna abu2 kebiru2-an, tdk tlihat horison2 tanah & aktivitas biologi, shg diklasifikasikn sampi 200 cm.
      • Tanah dg kontak densik, litik, paralitik atau petroferik, tanah yg dklasifikasikn hanya dr permukaan sampai kontak tsb.

6 of 51

2.1. Profil Tanah, Pedon dan Polipedon

Pengertian-pengertian berikut ini disitir dari USDA, 1975; Buol et al (1980) dan Hardjowigeno (1993).

  • Profil tanah adalah penampang melintang (vertikal) tanah yang terdiri dari lapisan tanah (solum) dan lapisan bahan induk.
  • Solum tanah adalah bagian dari profil tanah yang terbentuk akibat proses pembentukan tanah (horison A dan B).
  • Sifat tanah berubah baik ke arah vertikal maupun lateral. Perubahan vertikal ditunjukkan oleh perubahan susunan horison dalam profil tanah. Perubahan lateral adalah perubahan sifat-sifat tanah ke arah tanah lain yang berbeda.
  • Control section adalah bagian dari profil tanah yang sifat-sifatnya digunakan sebagai penciri dalam klasifikasi tanah, misalnya bagian tanah pada kedalaman 25 – 100 cm, 50 cm teratas dari horison argilik dan sebagainya .

7 of 51

2.1. Profil Tanah, Pedon dan Polipedon

  • Pedon adalah volume terkecil yang dapat disebut tanah. Pedon mempunyai ukuran tiga dimensi. Batas bawah antara tanah dengan bukan tanah sedang batas lateralnya (panjang dan lebar) cukup luas untuk mempelajari sifat-sifat horison tanah yang ada. Luasnya berkisar antara 1 – 10 m2 tergantung dari keragaman horison.

  • Polipedon adalah kumpulan lebih dari satu pedon yang sama atau hampir sama yaitu semuanya mempunyai sifat yang memenuhi syarat untuk dikelompokkan kedalam satu seri tanah. Luas polipedon minimum 2 m2 (dua pedon) sedang lusa maksimum tidak terbatas.

8 of 51

2.1. Profil Tanah, Pedon dan Polipedon

9 of 51

2.1. Profil Tanah, Pedon dan Polipedon

10 of 51

2.1. Profil Tanah, Pedon dan Polipedon

11 of 51

2.2.Ciri-Ciri Morfologi Tanah

Pengamatan di lapang biasanya dimulai dengan membedakan lapisan-lapisan tanah atau horison-horison.

Horison tanah adalah lapisan dalam tanah lebih kurang sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk karena proses pembentukan tanah.

Masing-masing horison diamati ciri-cirinya antara lain : warna, tektur, strukutur, konsistensi, pH tanah, kutan, konkresi dan nodul, pori-pori, dan batas-batas horison.

12 of 51

�2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan

Horizon yang diberi simbol adalah horizon genetik yaitu lapisan-lapisan di dalam tanah yang kurang lebih sejajar dengan permukaan tanah dan terbentuk sebagai akibat dari proses pembentukan tanah.

Horison genetik tidak setara dengan horison penciri.

Horison genetik mencerminkan jenis perubahan sifat tanah yang telah terjadi akibat dari proses pembentukan tanah.

Horison penciri adalah horison yang mungkin terdiri dari beberapa horison genetik yang sifat-sifatnya dinyatakan secara kuantitatif dan digunakan sebagai penciri dalam klasifikasi tanah.

13 of 51

�2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan

Ada enam horison (dan lapisan) utama dalam tanah yang masing-masing diberi simbol dengan satu huruf besar yaitu (dari atas ke bawah): O, A, E, B, C dan R. (Soil Survey Staff, 1975, 1990; 1994, 1998).

  • Horison atau lapisan O( Nama lama Ao; Aoo)

Horison atau lapisan yang didominasi oleh bahan organik, baik yang selalu jenuh air, yang drainasenya telah diperbaiki, ataupun yang tidak pernah jenuh air.

14 of 51

2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan

  • Horison A (Nama lama A1)

Horison mineral di permukaan tanah atau di bawah horison O dan mempunyai salah satu atau kedua sifat berikut:

  1. merupakan akumulasi bahan organik halus yang tercampur dengan bahan mineral dan tidak didominasi oleh sifat horison E atau B.
  2. menunjukkan sifat sebagai hasil pengolahan tanah dan atau penggembalaan

Ap horizon

Contoh deskripsi Ap:

Ap -- 0 - 12 inch; coklat tua (10YR 3/3) Lempung liat berdebu; struktur gumpal-bersudut , halus, kuat; remah, agak lekat dan plastis; banyak akar; banyak pori halus dan medium; sangat masam (pH 4.8); batas horison abrupt smooth. (tebalnya 10 - 13 inch).

15 of 51

2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan

  • Horison E (Nama lama A2)

Horison mineral dengan sifat utama terjadi pencucian liat silikat, besi, alumunium, atau kombinasinya, bahan oraganik, dan lain-lain sehingga tertinggal pasir dan debu, umumnya berwarna pucat. Warna tersebut lebih terang daripada horison A di atasnya atau horison B dibawahnya.

16 of 51

2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan

  • Horison B (Nama lama B2)

Horison yang terbentuk di bawah horison A, E, atau O dan mempunyai salah satu atau lebih sifat berikut:

  1. terdapat penimbunan (illuviasi) liat, besi, alumunium, humus, karbonat, gipsum atau silika (salah satu atau kombinasinya);
  2. ada bukti terjadinya pemindahan karbonat;
  3. penimbunan relatif (rsidual seskuioksida Fe2O3 dan Al2O3) akibat pencucian silika;
  4. selaput seskuosida sehingga mempunyai warna dengan value lebih rendah, kroma lebih tinggi dan hue lebih merah daripada horison di atas atau di bawahnya, tanpa adanya iluviasi besi;
  5. perubahan (alterasi) yang menghasilkan liat, atau membebaskan oksida atau kedua-duanya dan yang mempunyai bentuk struktur granuler, gumpal, atau prismatik bila perubahan volume menyertai perubahan kelembaban tanah; atau
  6. mudah hancur atau rapuh (brittle) dan mempunyai bukti alterasi lain seperti struktur prismatik atau ada akumulasi liat iluviasi.

Horison Btg

Horison Btg

Contoh deskripsi Horison Bt:

B21 -- 12 - 22 inch; coklat tua (7.5YR 3/2) lempung liat berdebu; struktur prismatik medium moderat yang bercampur dengan struktur gumpal bersudut halus mdeium moderat; keras, gembur, agak lekat, plastis dan licin-moderat; banyak akar; banyak pori halus dan sangat halus; banyak selimut berbutir halus pada pori dan pada ped; sangat masam (pH 5.5); batas horison clear smooth. (tebal 10 - 12 inch)

17 of 51

2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan

Perkembangan warna atau struktur secara Non-illuvial

“w” dapat = “weak”

Biasanya digunakan dnegan Horison B (mis. Bw.)

Bw

18 of 51

2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan

  • Horison atau lapisan C (Nama lama C)

Horison atau lapisan, tidak termasuk batuan keras, yang sedikit dipengaruhi oleh proses pedogenik, dan tidak mempunyai sifat horison O, A, E, atau B, bahan lapisan C dapat serupa ataupun tidak serupa dengan bahan yang membentuk solum di atasnya.

Termasuk lapisan C adalah bahan endapan, saprolit, batuan yang tidak padu (unconsilidated) dan bahan geologi yang agak keras tetapi pcahan kering udara atau lebih kering dfapat hancur bila direndam dalam air selama 24 jam, sedangkan bila lembab dapat digali dengan cangkul.

19 of 51

2.2.1. Nama Horizon dan Lapisan

  • Lapisan R: Batuan keras (Nama lama R atau D)

lapisan batuan yang keras, pecahan kering udara atau lebih kering tidak dapat hancur bila bila direndam dalam air selama 24 jam, dan batuan yang lembab tidak dapat digali dengan cangkul. Batuan ini mungkin pecah-pecah tetapi jumlah retakan sedikit sehingga hanya sedikit akar yang dapat menembus lewat retakan.

20 of 51

HORISON UTAMA = Master Horizons

A horizon

E horizon

Eluviasi)

O horizon

B horizon

(lluviasi)

C horizon

R horizon

B horizon

21 of 51

22 of 51

Simbol Tambahan�

Simbol untuk menunjukkan sifat-sifat khusus horison utama atau lapisan, adalah berupa huruf kecil yang dituliskan dibelakang simbol horison atau lapisan yang bersangkutan.

a – bahan organik dengan pelapukan lanjut (saprik). Simbol tambahan untuk horison atau lapisan O.

b – horison genetik yang tertimbun. Hanya untuk horison mineral. Tidak digunakan untuk tanah organik maupun membedakan lapisan organik dengan mineral.

c – konkresi atau nodul dengan bahan utama besi, mangan, aluminium, atau titanium. Tidak digunakan untuk konkresi atau nodul dolomit, kalsit, atau garam lain yang lebih mudah larut.

d – lapisan yang memadat (pembatas perakaran) sehingga tidak dapat ditembus akar tanaman, misalnya lapisan tapak bajak.

23 of 51

Simbol Tambahan

e – bahan organik dengan tingkat pelapukan sedang (hemik). Hanya untuk horison atau lapisan organik.

f – tanah yang membeku. Horison yang mengandung es permanen, bukan hanya pada waktu musim dingin.

g – gleisasi kuat. Gleisasi kuat ditunjukka oleh warna tanah dengan kroma rendah dan banyak yang berkarat. Tidak untuk bahan induk yang aslinya memang berkroma rendah seperti serpih (shale) ataupun horison E, kecuali bila proses gleisasi benar terjadi. Simbul”g” digunakan untuk horison B hanya jika kecuali gleisasi, ada perubahan pedogenik lain. Jika hanya gleisasi yang terjadi maka horison tersebut diberi simbol Cg.

h – akumulasi iluvial bahan organik. Untuk horison B dengan iluviasi kompleks organik-seskuioksida terutama Al tetapi jumlahnya sedikit . Bila seskuioksida cukup banyak tetapi warna tanahnya gelap (bahan organik tinggi) dengan value dan kroma 3 atau kurang maka diberi simbul Bhs.

24 of 51

Simbol Tambahan

i– bahan organik kasar (fibrik). Digunakan untuk horison O

k – Akumulasi karbonat, biasanya kalsium karbonat.

m – pemadasan yang kontinyu, dan lebih dari 90 persen memadas. Tidak dapat ditembus akar kecuali melalui bidang-bidang patahan. Bila digabungkan dengan bahan perekatnya maka dituliskan sebagai berikut:

km – padas dengan bahan perekat karbonat

qm – padas dengan perekat silika

sm – padas dengan perekat besi

ym – padas dengan perekat gipsum

kqm – padas dengan perekat kapur dan silika

zm – padas dengan perekat garam yang lebih mudah larut dari pada gipsum.

25 of 51

Simbol Tambahan

n – akumulasi natrium dapat ditukar.

o – akumulasi residual seskuoksida

p – pengolahan tanah. untuk tanah-tanah yang diolah baik tanah organik (Op) maupun tanah mineral (Ap), horison E, B, atau C yang muncul dipermukaan kemudian diolah, semuanya diberi simbol Ap.

q– akumulasi silika sekunder.

r – batuan melapuk atau lunak. Simbol tambahan untuk horison C, misalnya batuan beku yang melapuk batu pasir, batu debu, atau serpihan lunak yang sebagaian memadu. Akar tanaman tidak dapat menembus, kecuali lewat bidang patahan. Dapat digali denan cangkul.

s – akumulasi iluvial seskuoksida dan bahan organik. Digunakan untuk horison B dengan iluviasi kompleks seskuoksida bahan oprganik, dan mempunyai warna dengan value serta kroma 3 atau kurang, maka simbolnya adalah “Bhs”.

26 of 51

Simbol Tambahan

ss – terdapat bidang kilir. Ditemukan pada tanah yang mempunyai sifat mengembang kalau basah dan mengkerut kalau kering.

t – akumulasi liat silikat, baik akibat iluviasi atau pembentukan dan pemindahan dalam horison yang bersangkutan (insitu), atau kedua-duanya. Liat dapat ditemukan dalam bentuk selaput liat di permukaan butir struktur tanah, dalam pori-pori lamela, atau sebagai penghubung butir-butir mineral tanah.

v – plintit. Digunakan untuk horison yang banyak menngandung bahan berwarna merah, kaya besi, miskin humus, teguh atau sangat teguh bila lembab dan mengeras tidak balik bila terbuka di udara dan mengalami basah dan kering berulang-ulang.

w – ada perkembangan warna atau struktur. Digunakan untuk horison B yang baru ada perkembangan warna atau struktur, atau kedua-duanya, dengan sedikit atau tanpa akumulasi iluviasi bahan tanah tertentu. Tidak digunakan untuk horison peralihan

27 of 51

Simbol Tambahan

x – fragipan. Menunjukkan adanya pelapisan padas (kerapatan lindak tinggi), teguh tetapi rapuh.

y – akumulasi gipsum (CaSO4).

z – akumulasi garam yang lebih mudah larut daripada gipsum.

28 of 51

Aturan Penggunaan simbol Tambahan

  • Horison atau lapisan utama dapat mempunyai satu atau lebih simbol tambahan dengan aturan sebagai berikut:

1.simbol tambahan ditulis langsung di belakang simbol horison atau lapisan utama.

2.Umumnya tidak lebih dari tiga simbol.

3.Horison permukaan yang diolah hanya diberi simbol tambahan “p”, kecuali ada akumulasi kalsium karbonat (kp), kalsium sulfat (py), atau garam mudah lartut (pz).catatan: di susun menurut abjad, sesuai petunjuk nomor 9.

4.Bila diperlukan lebih dari satu simbol tambahan, maka huruf-huruf berikut harus ditulis paling dulu; a, d, e, h, I, r, s, t, dan w. Kombinasi huruf-huruf tersebut hanya dapat dilakukan untuk Bhs atau Crt.

5.Bila diperlukan lebih dari satu simbol tambahan dan bukan merupakan horison tertimbun, maka huruf-huruf berikut harus ditulis paling akhir; c, f, g, m, v, dan x. Misalnya: Btc, Bkm, Bsv.

29 of 51

Aturan Penggunaan simbol Tambahan

6. Untuk horison tertimbun, huruf “b” harus ditulis paling akhir. Huruf “b” hanya digunakan untuk tanah mineral yang tertimbun.

7. Horison B yang mempunyai akumulasi liat tinggi (t) dan juga menunjukkan perkembangan warna atau struktur, atau kedua-duanya (w) diberi simbol Bt. (“t” di utamakan terhadap “w”, “s”, dan “h”). untuk horison B yang mempunyai sifat g, k, n, q, y, z atau o, dan juga mempunyai akumulasi liat, (t), maka huruf “t” harus ditulis lebih dulu. Misalnya; Bto, Btg, dan sebagainya.

8. Simbol “h, s,dan w” tidak dapat digunakan bersama-sama dengan simbol g, k, n, q, y, z, atau o, kecuai hanya untuk tujuan penjelasan.

9. Kecuali yang disebutkan diatas, maka simbol horison tambahan dituliskan menurut abjad.

30 of 51

2.2.2. Batas Horizon/Lapisan

Batas horizon dinyatakan dalam kejelasan dan batas topografi:

  • Kejelasan:

Abrupt : sangat jelas, lebar peralihan < 2 cm.

Clear : jelas, lebar peralihan 2-5 cm.

Gradual : berangsur, lebar peralihan 5-12 cm.

Diffuse : baur, lebar peralihan > 12 cm.

31 of 51

2.2.2. Batas Horizon/Lapisan

Bentuk topografi:

Smooth : rata, lurus teratur.

Wavy : berombak, berbentuk kantong.

Irreguler : tidak teratur

Broken : terputus, batas horizon tidak dapat disambungkan dalam satu bidang datar.

32 of 51

2.2.3. Warna

Warna tanah merupakan cerminan kondisi tanah. Warna gelap mencerminkan kandungan bahan organik tinggi. Warna kelabu mencerminkan drainase buruk, warna merah mencerminkan drainase baik. warna tanah ditentukan dengan sistem Munsell yang meliputi Hue, value, chroma. Misalnya 10 YR 3/2. Warna-warna yang dicatat meliputi:

Warna matriks

Warna karatan, konkresi.

Warna plintit

Dalam mementukan warna tanah harus diperhatikan:

  • Tanah dalam keadaan lembab.
  • Terlindung dari matahari langsung dan intensitas matahari cukup kuat.
  • Tanah tidak boleh mengkilap akibat cungkilan.

33 of 51

2.2.3. Warna

Warna tanah merupakan pernyataan : (a) jenis dan kadar bahan organik, (b) keadaan drainase dan aerasi tanah dalam hubungan dengan hidrasi, oxidasi dan proses pelindian, (c) tingkat perkembangan tanah, (d) kadar air tanah termasuk pula dalamnya permukaan air taah, dan atau (e) adanya bahan-bahan tertentu.

Pada umumnya bahan organik memberikan warna kelam pada tanah, artinya jika tanah asalnya berwarna kuning atau coklat muda, kandungan bahan organik menyebabkan warnanya lebih cenderung ke arah coklat-kelam. Makin stabil bahan organik makin tua warnanya, sedang makin segar makin cerah warna tanah,dan humus yang berwarna hitam.

Cara menentukan warna tanah adalah dengan membandingkan warna tanah dengan warna pembanding dealam kartu Munsell Soil Color Chart, dengan mendekatkan contoh tanah atau memasukkan contoh tanah ke dalam lubang yang telah tersedia di dekat masing-masing kertas warna pembanding. Penulisan warna ditulis menurut urutan hue,value, chroma, misalnya 10 YR ¾ (coklat).

34 of 51

2.2.3. Warna

35 of 51

2.2.4. Tekstur

  • Tekstur merupakan perbandingan relatif antara fraksi-fraksi tanah berdiameter < 2 mm.
  • Fraksi-fraksi tanah tersebut menurut USDA adalah pasir (sand), debu (silt) dan liat (clay).

  • Penentuan tekstur tanah dapat dilakukan di lapangan (secara perasaan) dan di laboratorium (metode pipet dan hydrometer).
  • Penetapan tekstur di lapangan dilakukan dengan cara : 1) masa tanah kering atau lembab dibasahi, kemudian dipijat diantara ibu jari dan telunjuk sehingga membentuk pita lembab, sambil dirasakan adanya rasa kasar, licin dan lengket; 2) tanah tersebut dibuat bola, digulung dan diamati adanya daya tahan terhadap tekanan dan kelekatan massa tanah sewaktu telunjuk dan ibu jari diregangkan. Bdsr rasa kasar, licin, licin, pirisan, gulungan dan kelekatannya dapatlah ditentukan klas tekstur lapang.

36 of 51

Kelas Tekstur

Pasir

  • rasa kasar sangat jelas
  • tidak membentuk bola dan gulungan
  • tidak melekat

Pasir berlempung

  • rasa kasar jelas
  • membentuk bola yang mudah sekali dihancurkan.
  • sedikit sekali melekat.

Lempung berpasir

  • rasa kasar agak jelas
  • membuat bola agak keras, mudah hancur.
  • sedikit lekat.

Lempung

  • rasa tidak kasar dan tidak licin.
  • membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat.
  • agak melekat.

37 of 51

Kelas Tekstur

Lempung berdebu

  • rasa licin.
  • agak melekat.
  • dapat dibentuk bola agak teguh, gulungan dengan permukaan mengkilat.
  • rasa licin sekali.

debu

  • rasa licin sekali.
  • membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat.

Lempung liat berpasir

  • rasa halus dengan sedikit bagian agak kasar.
  • membentuk bola agak teguh, membentuk gulungan jika dipirit, gulungan mudah hancur.

Lempung liat berdebu

  • rasa halus agak licin.
  • membentuk bola teguh, gulungan mengkilat
  • melekat.

38 of 51

Kelas Tekstur

Lempung berliat

  • rasa agak licin.
  • membentk bola agak teguh, membentuk gulungan bila di[pirit, gulungan mudah hancur.
  • agak melekat.

Liat berpasir

  • rasa halus, berat, tertapi terasa sedkit kasar.
  • membentuk bola, mudah digulung
  • melekat sekali

Liat berdebu

  • rasa halus, berat, agak licin
  • membentuk bola, mudah digulung
  • sangat lekat

Liat

  • rasa berat
  • membentuk bola dengan baik
  • sangat lekat

Liat berat

  • rasa berat sekali
  • membentuk bola dengan baik
  • sangat lekat

39 of 51

2.2.5. Struktur

  • Struktur tanah merupakan susunan butir tanah secara alami membentuk agregat, antara agregat-agregat tersebut dibatasi oleh suatu bidang belah alami. Struktur tersebut meliputi bentuk, ukuran dan perkembangan.
  • Bentuk-bentuk struktur tanah:
  • Lempeng (platy): sumbu bidang horizontal lebih panjang dari sumbu vertikal.
  • Prisma (prismatic): sumbu vertikal lebih panjang dari sumbu horizontal, bidang-bidang membentuk sudut.
  • Tiang (columnar): seperti prisma, namun bidang-bidang membentuk sudut membulat.

40 of 51

2.2.5. Struktur

  • Gumpal bersudut (angular blocky): sumbu vertikal sama panjang dengan sumbu horinzontal, batas dua bidang membentuk sudut lancip.
  • Kubus (blocky): seperti sudut, namun batas dua bidang membentuk sudut tegak lurus
  • Gumpal (sub-angular blocky): seperti kubus, batas bidang-bidang membentuk sudut membulat
  • Butir (granular): seperti bola, sedikit berpori
  • Remah (crumb): seperti bola dengan ukuran agak besar, sangat berpori.

41 of 51

42 of 51

2.2.5. Struktur

Ukuran struktur: tergantung pada bentuk struktur seperti pada tabel berikut:

Kelas Ukuran

Lempeng

Prisma dan Tiang

Kubus, Sudut dan Gumpal

Butir dan Remah

Sangat halus

, 1 mm

< 10 mm

< 5 mm

<1 mm

Halus

1 –2 mm

10 – 20 mm

5 – 10 mm

1 – 2 mm

Sedang

2 – 5 mm

20 – 50 mm

10 – 20 mm

2 – 5 mm

Kasar

5 – 10 mm

50 – 100 mm

20 – 50 mm

5 – 10 mm

Sangat kasar

> 10 mm

> 100 mm

> 50 mm

> 10 mm

43 of 51

2.2.5. Struktur

  • Tingkat perkembangan struktur:

0 : tidak berstruktur (masive atau butir tunggal)

1: lemah, kalau diremas jadi butir-butir.

2: cukup, bentuk jelas, kalau diremas bentuknya satuan sebagian besar tetap.

3: kuat, bentuk jelas,kalau diremas bentuknya tetap.

44 of 51

2.2.6. Konsistensi

  • Konsistensi tanah merupakan manesfestasi gaya adhesi dan kohesi yang bekerja pada masa tanah pada kondisi basah, lembab maupun kering yang diamati dengan cara meremas, memijat atau memirid dengan tangan.

  • Konsistensi dalam keadaan basah (kadar air lebih dari kapasitas lapang) ditunjukan oleh adanya kelekatan (derajat adhesi) dan plastisitas (derajat kohesi) yang ditentukan dengan memijit atau memirid tanah diantara ibu jari dan telunjuk.

45 of 51

2.2.6. Konsistensi

  • Derajat kelekatan

Tidak lekat : Tidak ada tanah tertinggal

Agak lekat : Tanah tertinggal pada salah satu jari

Lekat : Tanah tertinggal pada kedua jari

Sangat lekat : sukar untuk melepaskan kedua belah jari

  • Plastisitas

Tidak plastis : Tidak dapat terbentuk gelintir tanah, masa tanah mudah berubah bentuk

Agak plastis : terbentuk gelintir tanah, masa tanah mudah berubah bentuk

Sangat plastis: dapat terbentuk grlintir tanah, tahan terhadap tekanan

46 of 51

2.2.6. Konsistensi

  • Konsistensi dalam keadaan lembab (kadar air sekitar kapasitas lapang) ditentukan dengan meremas masa tanah dengan telapak tangan

Lepas : butir-butir tanah tidak terikat, melekat bila ditahan

Sangat gembur : dengan sedikit tekanan bisa bercerai, bila digenggam mudah bergumpal, meleket bila ditekan

Gembur : bila diremas dapat bercerai, bila digenggam masa tanah bergumpal, melekat bila ditekan

Teguh : masa tanah tahan terhadap remasan, hancur dengan tekanan besar

Sangat teguh : masa tanah tahan terhadap remasan, tidak mudah berubah bentuk

Ektrem teguh : masa tanah sangat tahan terhadap remasan, bila digenggam bentuk tidak berubah

47 of 51

2.2.6. Konsistensi

  • Konsistensi dalam keadaan kering (kadar air kurang dari titik layu permanen) ditentukan dengan meremas/ menekan masa tanah dengan telapak tangan

Lepas : butir-butir tanah lepas, satu dengan lainnya tidak terikat

Lunak : dengan sedikit tekanan tanah bercerai menjadi butir

Agak keras : agak tahan terhadap tekanan, masa tanah rapuh

Keras : tahan terhadap tekanan masa tanah dapat dipatahkan dengan tangan (tidak dengan jari)

Sangat keras : masa tanah sukar dipatahkan dengan tangan

Ektrem keras : masa tanah tidak dapat dipatahkan dengan tangan

48 of 51

2.2.7. Karatan

Karatan adalah gejala kelainan warna pada tanah, akibat proses oksidasi daan reduksi. Karatan dalam penampang tanah ditentukan: jumlah, ukuran, bandingan, batas dan bentuknya.

  • Jumlah

Sedikit : < 2 % dari luas permukaan

Biasa : 2-10 %

Banyak : > 20 % matrik masih nampak jelas

  • Ukuran

Kecil : diameter < 0.5 cm

Sedang : diameter 0,5-1,5 cm

Biasa : diameter > 1,5 cm, matrik masih nampak jelas

49 of 51

2.2.7. Karatan

  • Bandingan

Baur : warna matrik dan karatan hampir sama

Jelas : warna matrik dan karatan berbeda dalam hue dan kroma

Nyata : bintik-bintik karatan merupakan gejala utama dari horison

  • Batas

Jelas : warna beralih tiba-tiba

Sedang : warna peralihan < 2 mm

Kabur : warna peralihan > 2 mm

  • Bentuk

Bintik : hampir membulat, satu dengan yang lainnya tidak bersambungan

Bintik berganda: hampir membulat, satu dengan lainnya bersambungan

Lidah : memanjang kecil, mebujur dari atas ke bawah

Api : lebar atau besar arahnya tidak menentu

Pipa : bulat memanjang

50 of 51

2.2.8. Kandungan bahan kasar

Bahan kasar adalah masa dalam tanah berukuran 0,2-2 cm, terdiri dari konkresi-konkresi, kerikil, gumpalan-gumpalan garam, yang berpengaruh terhadap penggunaan tanah dan pertumbuhan tanaman.

Kandungan bahan kasar yang perlu dicatat adalah jenis, ukuran, jumlah, kekerasan dan penyebaranya dlam penampang

  • Jenis

Fe : konkresi besi berwarna merah, coklat, umumnya berbentuk benjol atau bulat

Mn : konkresi mangan mirip konkresi besi berwarna kehitaman

Ca : konkresi kapur, berwarna keputihan, umumnya membuih dengan HCl

B : pecahan batu

  • Ukuran

Kecil : 0,2-1 cm

Besar : 1-2 cm

51 of 51

2.2.8. Kandungan bahan kasar

  • Jumlah

Sedikit : < 3 %

Sedang : 3-15 %

Banyak : 15-50%

Banyak sekali : >50%

  • Kekerasan

Lunak : dapat dipecah dengan ibu jari ddan telunjuk

Sedang : dapat dipecah dengan kuku, tidak pecah kalau dipijit

Keras : baru pecah kalau dipukul dengan palu

  • Penyebarannya

-Tersebar rata dalam penampang

-Tersebar di sebagian tempat dalam penampang

-Merupakan suatu lapisan