KHOTBAH MINGGU
20 FEBRUARI 2022
“CARA MENJAGA KESATUAN
DI DALAM GEREJA”
(Mazmur 133:1)
PENGANTAR
1. “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” (Mazmur 133:1). Mempertahankan kesatuan dan kerukunan di dalam gereja adalah tugas mulia yang sulit dilakukan. Mengapa?
Akibatnya kesatuan dan kerukunan di dalam gereja dapat menjadi sangat rapuh sehingga kesalahan kecil pun dapat dengan mudah merusaknya.
Dalam pelajaran ini ada lima cara kita dapat menjaga dan memelihara kesatuan dan kerukunan di dalam gereja Tuhan.
1. JANGAN BERSIKAP EMOSIONAL
Emosi sangat efektif dalam mengaburkan pikiran kita dan menipu kita. Oleh karena emosional, kita sering merespons sesuatu secara cepat tanpa berpikir hingga akhirnya kita menyesali apa yang telah kita katakan atau lakukan (bdk. Mat. 26:31-33).
Dalam keadaan emosional perkataan kita lebih sering menghancurkan hubungan baik kita dengan satu sama lain tanpa kita sadari. Ingatlah nasihat ini:
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yak. 1:19).
Saat perasaan kita dilukai kita cenderung merespons berdasarkan apa yang kita rasakan, tetapi kita perlu mengendalikan emosi kita. Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah:
Untuk merespons dengan kata-kata yang penuh kasih dan jangan hambar (lihat Kol. 4:6) ingatlah nasihat Salomo: “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32).
2. JANGAN MEMIHAK BERDASARKAN PRASANGKA
Prasangka adalah pendapat atau anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui atau menyaksikan atau menyelidiki sendiri (KBBI). Kita sering dengan mudah memihak dan menyimpulkan sesuatu tanpa benar-benar mendengarkan argumen dari kedua sisi atau pihak. Penulis Amsal mengingatkan kita :
Betapa bodohnya mengambil keputusan sebelum mengetahui duduk perkara-nya.… Segala sesuatu yang disampaikan oleh satu pihak seolah-olah benar sampai kita mendengar dari pihak lainnya (Amsal 18:13, 17; FAYH).
Salah satu hal terburuk yang dapat kita lakukan adalah memihak kepada satu pihak ketika kita bahkan tidak memiliki semua fakta.
Jika kita pernah mendengar cerita dari satu sisi dan segera membuat keputusan, maka hal itu pada akhirnya akan mempermalukan kita.
Nikodemus berkata benar saat rekan-rekannya orang Farisi ingin menangkap Yesus:
“Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebe-lum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” (Yoh. 7:51; bdk. 1Tim. 5:19).
Sungguh bijaksana bagi kita untuk tidak membuat pernyataan yang memihak ketika kita benar-benar tidak mengetahui keseluruhan suatu perkara.
3. JANGAN MENYEBARKAN GOSIP
Gosip adalah obrolan tentang orang lain; cerita negatif tentang seseorang; pergunjingan (KBBI). Gosip adalah salah satu alat paling mematikan yang Iblis gunakan untuk meng-hancurkan gereja. Reputasi seorang anggota bisa selamanya hancur oleh gosip seder-hana yang telah menyebar ke seluruh jemaat. (Bdk. Kel. 23:1; Ima. 19:16).
Umumnya, gosip adalah tuduhan tanpa dasar dan setengah benar. Kita perlu menyadari bahwa gosip menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Tugas kita adalah tidak menjadi sumber gossip dan tidak boleh ikut bergosip meski hanya sebagai pendengar.
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”
Jika Anda mendengar gosip, tanggung jawab Anda adalah menghentikannya! Jangan menyebarkannya lagi. Jika Anda tidak memiliki fakta dan hanya memiliki desas-desus, Anda akan menjadi agen Iblis penghancur gereja ketika menyebarkan desas-desus itu.
Mari kita renungkan sejenak. Apakah kita ingin menjadi orang yang diperalat Iblis untuk menghancurkan gereja Tuhan? Sudah pasti tidak! Untuk itu, mari kita semua mengingat apa yang Yesus katakan dalam Matius 12:36-37:
4. MENCINTAI HUKUM ALLAH
Merasa tersinggung adalah salah satu alasan paling umum bagi perpecahan gereja dan tindakan orang meninggalkan gereja. Namun tahukah Anda cara terbaik untuk menga-tasi perasaan mudah tersinggung? Jawabannya Mazmur 119:165.
“Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka.”
“Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya” (Matius 18:7).
Jika kita benar-benar mencintai hukum Allah, apa pun sikap orang lain tidak akan menyinggung perasaan kita; sebab kita memiliki kedamaian dan ketenangan pikiran yang tidak akan membuat kita tersandung atau tersinggung.
Jika perasaan kita tersinggung, tapi kita mencintai perintah Allah, maka hal itu bukan masalah atau sandungan bagi kita. Yesus telah mengingatkan kita untuk mengantisipasi adanya sandungan atau ketersinggungan yang bisa menyesatkan orang dari Tuhan.
Karena penyesatan merupakan bagian normal kehidupan, maka tidak ada dasar bagi kita untuk marah ketika orang menyinggung perasaan kita. Meski begitu Yesus menegaskan, “Celakalah orang yang mengadakannya.” Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati untuk tidak menjadi pengada dan penyebab kesesatan dan perpecahan di dalam gereja.
5. GUNKANLAH PRINSIP MATIUS 18:15-17
Prinsip Matius 18:15-17 adalah salah satu prinsip yang paling sulit diterapkan. Nas ini berisi ajaran Yesus Kristus dalam menangani saudara yang berbuat dosa atau orang yang telah menyakiti atau menyinggung kita. Prinsip ini menjabarkan prosedur langkah demi langkah tentang bagaimana mengatasi masalah dan perpecahan di dalam gereja.
“Jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau peni-pu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama” (1Kor. 5:11).
Jika seseorang berdosa terhadap Anda, jangan Anda menggosipkan masalah itu! Yesus berkata bahwa Anda harus memberitahu dia kesalahannya; antara Anda dan dia saja, bukan antara Anda dan orang lain. Itu harus menjadi langkah pertama. Jika saudara yang berdosa itu tidak mau mendengarkan Anda, maka itulah saatnya Anda melibatkan satu atau dua orang lain dan akhirnya, jika diperlukan, seluruh anggota gereja.
Keengganan menggunakan prinsip Matius 18 telah menyebabkan banyak perpecahan di dalam gereja. Masalah kecil akan mudah menjadi besar karena pihak-pihak yang terlibat tidak menghormati prinsip Matius 18:15-17. Bayangkan jika semua anggota gereja mau menerapkan ini, kita bisa melihat begitu banyak masalah dengan mudah diselesaikan jauh sebelum menjadi besar. Oleh sebab itu rasul Paulus menasihati kita:
KESIMPULAN
Kita harus berjuang sekuat tenaga untuk menghindari perilaku dan perkataan yang memecah kesatuan gereja. Jangan biarkan Iblis memperalat kita lewat keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:16).
“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh. 17:20-21).
Di luar sana Iblis sedang mengaum-aum ingin menghancurkan kesatuan kita dan ia akan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya (bdk. 1Ptr. 5:7). Jangan bahagia-kan Iblis lewat perbuatan dan perkataan kita yang memecah-belah tubuh Kristus.
Mari kita berdoa dan berbuat untuk kesatuan jemaat kita khususnya dan gereja Tuhan umumnya. Mari kita memohon campur tangan, belas kasihan, dan hikmat dari Tuhan untuk membantu kita melihat lebih jelas; membuat pilihan yang lebih baik, dan membantu kita menjadi lebih bijaksana dalam merawat dan menjaga kesatuan anak-anak-Nya di dalam gereja-Nya seperti yang diinginkan oleh doa Tuhan kita :
Sebagian materi ini disadur dari https://becomingchristians.com/author/joshuainfantado/