� � �Organisasi Profesi Kedokteran Pada Masa Kolonial Hingga Awal Kemerdekaan: Sebuah Tinjauan Historis
oleh:
Baha Uddin
Mahasiswa S3 Prodi Ilmu-Ilmu Humaniora FIB UGM
Latar Belakang
dibagi menjadi :
1. Sebelum Politik Etis
2. Sesudah Politik Etis
OSVIA, Kweekschool, Sekolah Dokter Jawa
STOVIA. Landbouwschool, Cultuurschool, Rechtsschool, De Indische Technische Hoogeschool,
Latar Belakang
Perubahan dari
Sekolah Dokter Djawa
STOVIA (1902)
Kurikulum
Masa Studi
Gelar
Inklusif dan asal siswa lebih beragam
Perkembangan Pendidikan dokter
Geneeskundige Hogeschool
di Batavia (1927)
Nederlandsch Indische Artsen School
NIAS di Surabaya (1913)
Latar Belakang
Pembukaan rumah sakit perusahaan
Perkebunan
Pertambangan
Banyaknya permintaan akan tenaga dokter Eropa (Belanda, Jerman, Swiss, Austria, Denmark)
Aktivitas Keagamaan Zending dan Missi
Pendirian rumah sakit berbasis keagamaan
Pengiriman dokter-dokter Eropa yang berafiliasi dengan organisasi zending dan missi (Belanda dan Jerman)
Latar Belakang
Dokter Eropa
Belanda (80 orang)
Dokter Bumiputera
Eropa lainnya (20 orang)
Dokter Djawa
Indisch Arts Lulusan STOVIA
Indisch Arts Lulusan NIAS
+ 120 orang
Latar Belakang
Sifat kebijakan kesehatan di negara kolonial: rasialis, diskriminatif dan dualistis
Passion dan integritas dalam menjalankan profesi
Dokter Eropa bekerja atas dasar kontrak
Colonial Medicine: akses pelayanan kesehatan, gelar dokter, gaji, organisasi profesi dokter (Eropa dan bumiputera)
Selain kontrak, dokter bumiputera bekerja juga atas dasar empati, kepedulian terhadap kesehatan masyarakat pribumi
Pendirian Organisasi Profesi Kedokteran
Pada 1902 di Surabaya
Bond van Geneesheeren in Nederlandsch Indie (BGNI)
Pada 1911 di Batavia
Dokter Pribumi
Vereniging van lnlandsche Geneeskundigen (VIG)
Dokter Eropa
Berijasah Eropa
Bergelar Arts
J. Schülein (ketua) dan W. van Gorkom (wakil)
Berijasah Dokter Djawa, STOVIA, NIAS
Bergelar Indisch Arts
Tehupeiroy (ketua), Kayadoe (wakil)
Bond van Geneesheeren in Nederlandsch Indie (BGNI)
Vereniging van lnlandsche Geneeskundigen (VIG)
Perlakuan diskriminatif dokter Eropa dan pemerintah kolonial
Kesetaraan dengan dokter Eropa (gaji, jam kerja, beban kerja)
Penyebaran ide-ide modernisasi di kalangan masyarakat (Pendidikan, kebersihan)
Mempromosikan kepentingan intelektual dan sosial serta mengembangkan pelayanan kesehatan
Memperjuangkan posisi dokter pribumi dalam sistem kesehatan
Organisasi Profesi Dokter Pribumi
Aktivitas politik anggota VIG
Program dan Capaian VIG
Memperjuangkan kepentingan anggota (gaji, dana pensiun, dana janda, dan studiefond)
Memperjuangkan pendirian Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoogeschool)
Memproduksi pengetahuan kedokteran melalui jurnal Medische Berichten
Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pribumi
Organisasi Profesi Dokter Pribumi
dokter bumiputera yang menjadikannya dasar menjalankan profesi kemudian berkembang menjadi kesadaran akan kebangsaan dan kemanusiaan (profesional sosialis)
Cipto Mangunkusumo
Jacob Bernandus Sitanala
Soesilo Soewignyo
Koedijat
Abdul Rivai
R. Moechtar
Latumeten
M. Sardjito
D. Asikin
Abdul Rasyid
Kawilarang
Boentaran
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
Otoritas Kewenangan Kesehatan Negara Kolonial
Direktur Departement van Onderwijs, Eeredienst en Nijverheid
Gubernur Jenderal
Dienst der Volksgezondheid (Dinas Kesehatan Rakyat)
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
Perangkat Hukum Layanan Kesehatan
Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 97 Tahun 1882 tentang Peraturan Layanan Medis
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
Aspek Kesehatan dibawah Pengawasan Pemerintah
Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 97 Tahun 1882 tentang Peraturan Layanan Medis
Pejabat pemerintah yang bertanggung jawab terhadap pengawasan medis negara
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
Aspek Kesehatan dibawah Pengawasan Pemerintah
Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 97 Tahun 1882 tentang Peraturan Layanan Medis
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
Aspek Kesehatan dibawah Pengawasan Pemerintah
Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 97 Tahun 1882 tentang Peraturan Layanan Medis
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
Praktik Kedokteran
Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 97 Tahun 1882 tentang Peraturan Layanan Medis
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
Praktik Kedokteran
Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 97 Tahun 1882 tentang Peraturan Layanan Medis
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
Praktik Kedokteran dan Izin
Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 97 Tahun 1882 tentang Peraturan Layanan Medis
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
Praktik Kedokteran dan Izin
Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 97 Tahun 1882 tentang Peraturan Layanan Medis
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
Praktik Kedokteran
Staatsblad van Nederlandsch Indie No. 97 Tahun 1882 tentang Peraturan Layanan Medis
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
BGNI
Reglement op de uitoefening der particuliere praktijk door Gediplomeerde Europeesche Geneesheeren atau (Peraturan tentang pelaksanaan praktek swasta oleh lulusan dokter Eropa) 1903
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
VIG
Kedudukan Organisasi Profesi Dokter Dalam Sistem Kesehatan Negara Kolonial
VIG
Perkembangan Organisasi Profesi Kedokteran Pasca Kemerdekaan RI
Masa Pendudukan Jepang VIG dibubarkan dan diganti Jawa Izi Hooko Kai
Pasca Proklamasi Kemerdekaan terdapat kesulitan membentuk organisasi profesi dokter karena keberadaan dokter tersebar di wilayah diduduki oleh Belanda dan wilayah RI
Terdapat 3 golongan dokter, yaitu Dokter Jawa lulusan Sekolah Dokter Djawa, Indische Arts lulusan STOVIA dan NIAS, dan Arts lulusan Geneeskundige Hogeschool (GHS).
Pada 1948 didirikan Perkumpulan Dokter Indonesia (PDI) yang dimotori kalangan dokter muda dibawah pimpinan dr. Darmasetiawan Notohadmojo. Dokter anggotanya sebagian besar lulusan GHS.
Perkembangan Organisasi Profesi Kedokteran Pasca Kemerdekaan RI
Pendirian PDI berdasarkan kehendak situasi dan tuntutan zaman yang berkembang pasca kemerdekaan yang membawa semangat yang baru di kalangan dokter
PDI berfungsi pula sebagai badan perjuangan pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia
Hampir bersamaan waktunya, didirikan juga Persatuan Thabib Indonesia (Perthabin) di Yogyakarta. Dokter anggotanya sebagian besar lulusan STOVIA dan NIAS.
Perthabin dianggap sebagai kelanjutan dari VIG pada masa kolonial Belanda dan Jawa Izi Hooko Kai pada masa pendudukan Jepang. Ketuanya dr. Abdul Rasyid
Proses Pendirian IDI
Kondisi ini menyulitkan para dokter Indonesia karena tidak mungkin organisasi PDI dan Perthabin sekaligus menjadi wadah bagi dokter Indonesia
Pada 1950 mulai ada pemikiran untuk membuat wadah satu organisasi profesi dokter Indonesia baru yang sesuai dengan pikiran dan jiwa kemerdekaan para dokter Indonesia
Jiwa dan spirit persatuan untuk memajukan dokter Indonesia dan mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia
Mulai ada gagasan untuk menyatukan 2 organisasi profesi ini, salah satu tokohnya Dr. R. Soeharto dan bersepakat membentuk Dokter Warga Negara Indonesia.
Proses Pendirian IDI
Atas usul dr. Seno Sastroamidjojo dibentuklah suatu panitia penyelenggara Muktamar Dokter Warga Negara Indonesia (PMDWNI) yang diketuai oleh dr. Bahder Djohan
Panitia ini diberi tugas untuk menyelenggarakan Muktamar Dokter Warga Negara Indonesia dari tanggal 23– 25 September 1950
Tujuannya mendirikan suatu perkumpulan dokter warga negara Indonesia yang baru dan merupakan representasi dunia dokter dan kedokteran Indonesia
Muktamar dokter warga negara Indonesia akhirnya dilaksanakan di Derca Park, yang dihadiri oleh 181 dokter WNI, 62 diantaranya datang dari luar Jakarta
Proses Pendirian IDI
Dalam muktamar disepakati lahirnya perkumpulan dokter yang baru bernama Ikatan Dokter Indonesia dan Prof. Sarwono Prawirohardjo terpilih menjadi Ketua Umum IDI yang pertama
Dalam muktamar itu juga diputuskan bahwa IDI juga akan mempunyai program kerjasama luar negeri
IDI akan mengupayakan hubungan dan kerjasama yang erat dengan organisasi kedokteran di luar negeri.
IDI akan berusaha meningkatkan kesehatan dan kemakmuran penduduk Indonesia, dan kemanusiaan, terwujudnya perdamaian dunia dan akan melaksanakan tugasnya dengan keberanian dan kemauan baru berdasarkan Pancasila dan UUD 1945
Proses Pendirian IDI
Dalam Anggaran Dasarnya pada tahun 1952, IDI berkedudukan sedapat-dapatnya di ibukota propinsi Indonesia dan didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan
Kata “Ikatan” bagi nama depan perkumpulan ini merupakan usul yang dikemukakan oleh Dr. R. Soeharto pada rapat yang kemudian diterima secara bulat
Dr. R. Soeharto sengaja memilih nama Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bukan Perkumpulan Dokter Indonesia (PDI) untuk menghilangkan kesan bahwa Pertabhin-lah yang dilebur ke dalam PDI
Dalam rapat pendirian IDI, Dr. R. Soeharto mengusulkan supaya Prof. Sarwono yang menjadi ketua, dengan pertimbangan psikologis karena Prof. Sarwono merupakan lulusan STOVIA sekaligus GHS.
Anggaran Dasar IDI 1950: Tujuan
Memperjuangkan hak pokok tiap-tiap manusia untuk memperoleh kesehatan jasmani dan rohani sesuai dengan paham keadilan sosial
Mempertinggi derajat kesehatan rakyat
Mempertinggi derajat ilmu Kesehatan dan ilmu-ilmu lain yang berhubungan dengan itu
Anggaran Dasar IDI 1950: Usaha
Berikhtiar agar supaya semua dokter di Indonesia tergabung didalam perkumpulan
Mengadakan penyelidikan di lapangan ilmu kedokteran dan kesehatan
Mendidik rakyat untuk memeliharan dan memperbaiki kesehatan
Berikhtiar supaya dibentuk Dewan Pelindung Susila Kedokteran
Berikhtiar ikut serta menentukan politik Kesehatan pemerintah
Membangkitkan berbagai dana untuk keperluan usaha perkumpulan dan melaksanakan kedudukan layak bagi anggotanya
Terima Kasih