Disampaikan Pada Musrenbang RKPD Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2022
ARAH KEBIJAKAN PERCEPATAN DAN PENURUNAN STUNTING DI PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN 2023
DR. (H.C). Dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG (K)
Kepala Badan Kependudukan & Keluarga Berencana Nasional
Jakarta, 30 Maret 2022
Our Mision
ULTIMATE POWERPOINT PRESENTATION
Sistematika
1. Pendahuluan
Sumber: Data Kemkes dan Riskesdas 2018 & - SSGBI 2019
Tren dan target penurunan stunting di Indonesia
Sumber: Peraturan Presiden 18/2020 ttg RPJMN 2020-2024
2021: 24,4%
Laju penurunan stunting per tahun menuju 14% tahun 2024=3,4%
37.8
33.8
33.2
31.4
30.2
30.0
29.8
29.7
29.5
29.0
28.7
27.5
27.5
27.4
27.4
26.2
25.8
24.8
24.5
24.5
23.5
23.3
22.8
22.4
22.3
22.1
21.6
20.9
18.6
18.5
17.6
17.3
16.8
10.9
24.4
0.0
5.0
10.0
15.0
20.0
25.0
30.0
35.0
40.0
NUSA TENGGARA TIMUR
SULAWESI BARAT
ACEH
NUSA TENGGARA BARAT
SULAWESI TENGGARA
KALIMANTAN SELATAN
KALIMANTAN BARAT
SULAWESI TENGAH
PAPUA
GORONTALO
MALUKU
KALIMANTAN UTARA
MALUKU UTARA
KALIMANTAN TENGAH
SULAWESI SELATAN
PAPUA BARAT
SUMATERA UTARA
SUMATERA SELATAN
JAWA BARAT
BANTEN
JAWA TIMUR
SUMATERA BARAT
KALIMANTAN TIMUR
JAMBI
R I A U
BENGKULU
SULAWESI UTARA
JAWA TENGAH
KEP. BANGKA BELITUNG
LAMPUNG
KEPULAUAN RIAU
D.I YOGYAKARTA
D K I JAKARTA
B A L I
INDONESIA
PREVALENSI BALITA STUNTED (TINGGI BADAN MENURUT UMUR BERDASARKAN PROVINSI, SSGI 2021)
INDONESIA, 2021
12 Provinsi prioritas:
7 provinsi dengan prevalensi tertinggi + 5 provinsi besar (Jateng, Jabar, Jatim, Sumut & Banten)
Prioritas pada 12 provinsi, 2022
Catin (Pra-konsepsi)
Ibu Hamil
Anak 0-23 Bulan
Anak 24-59 Bulan
65,8% Ibu hamil= 3,4 juta
65,9% Baduta= 6,2 juta
66,2% Balita=14 juta
7 provinsi tertinggi: 1). NTT; 2). Sulbar; 3). Aceh; 4). NTB; 5). Sultra; 6). Kalsel; 7). Kalbar
5 Provinsi padat penduduk: 1). Jabar; 2). Jateng; 3) Jatim; 4). Sumut dan 5). Banten
Demografi
Ʃ penduduk 270.203.917
Ʃ kelahiran hidup/th 4.762.294
Ʃ balita 22.072.497 (8%)
Ʃ baduta 4.917.356 (2%)
Data belum tersedia
30, 99% Kab/Kota mengalami kenaikan angka stunting
69, 01% Kab/Kota mengalami penurunan angka stunting
Sumber
Data 2019 : BPS-Kemenkes, Integrasi Susenas Maret 2019 dan SSGBI Tahun 2019
Data 2021 : Tinggi Badan Menurut Umur, SSGI Tahun 2021
Tidak termasuk Kabupaten Deiyai (Papua)
Provinsi Sulawesi Tenggara mengalami penurunan -1.2% selama 2019-2021.
4 kabupaten dan kota mengalami peningkatan yaitu: 1). Wakatobi; 2). Muna; 3). Konawe Utara dan 4). Buton Tengah.
Capaian IKU Program Bangga Kencana �Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2021
Sumber :
Keterangan :
* Target Nasional
Indikator Kinerja Utama: | Satuan | Target 2021 | Capaian 2021 | Persentase pencapaian | |
1 | TFR | Rata-rata anak per wanita | 2,28 | 2,71 | 84,13% |
2 | ASFR 15-19 | Kelahiran per 1000 wanita usia 15-19 | 43 | 30,7 | 140,06% |
3 | mCPR | Persen | 55,97 | 48,0 | 85,76% |
4 | Unmet Need | Persen | 12,97 | 24,0 | 54,04% |
5 | MKJP | Persen | 25,93 * | 23,6 | 91,01% |
6 | IBangga | Indeks | 52,47 | 52,36 | 99,79% |
7 | MUKP | Tahun | 21 | 20,5 | 97,62% |
8 | Tingkat putus pakai pemakaian kontrasepsi | Persen | 24,5* | 27,5 | 89,09% |
9 | Masyarakat yang terjangkau program Bangga Kencana | Persen | 60 * | 74,82 | 124,7% |
TFR menurut provinsi 2021
ASFR 15-19 tahun menurut provinsi 2021
mCPR menurut provinsi2019 dan 2021
2. Strategi nasional percepatan penurunan stunting
: 1000 HPK� periode patologi yang dapat dicegah atau dikoreksi. Intervensi gizi pada perempuan yang stunted saat prekonsepsi dapat meningkatkan birth outcomes.�� : periode anak usia 2 tahun-remaja �Pertumbuhan linear mungkin dapat dipercepat namun perbaikan fungsi kognitif dan imunitas belum jelas.�� : intervensi stunting tidak berdampak.�
Sumber: Andrew J. Prendergast & Jean H. Humphrey (2014) The stunting syndrome in developing countries, Paediatrics and International Child Health, 34:4, 250-265,.
Memutus rantai stunting
Note: EED: environmental enteric dysfunction
1000 HPK
Prekonsepsi
ARAH KEBIJAKAN NASIONAL PENURUNAN STUNTING (1)
01
02
03
04
1. Pengelolaan Sumber Daya Ekonomi
Pengelolaan sumber daya pangan difokuskan pada:
2. Pemenuhan Layanan Dasar
Percepatan perbaikan gizi masyarakat untuk pencegahan dan penanggulangan permasalahan gizi ganda, mencakup:
c) percepatan penurunan stunting dengan peningkatan efektivitas intervensi spesifik, perluasan dan penajaman intervensi sensitif secara terintegrasi;
3. Penyediaan Akses Air Minum dan Sanitasi Layak dan Aman
4. Arah Kebijakan Dana Transfer ke Daerah dan Dana Desa:
Mendukung pemerintah daerah mencapai tujuan dan sasaran prioritas nasional seperti peningkatan kemandirian dan keberdayaan masyarakat desa, pertumbuhan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, pengurangan kemiskinan, pengurangan kesenjangan, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pengurangan angka stunting, penyediaan air bersih dan sanitasi, peningkatan mutu sumber daya manusia siap kerja, pengurangan emisi karbon, pengelolaan kawasan hutan dan daerah konservasi, dan pengurangan risiko bencana; kawasan ekonomi strategis; serta pencapaian tujuan pembangunan global (SDGs);
Sumber: Perpes 18/2020 ttg RPJMN 2020-2024
ARAH KEBIJAKAN NASIONAL PENURUNAN STUNTING (2): �3 MAJOR PROJECT
15. Percepatan Penurunan Kematian Ibu dan Stunting
Menurunnya prevalensi stunting pada balita hingga 14 persen di 2024
32. Akses Sanitasi (Air Limbah Domestik) Layak dan Aman (90% Rumah Tangga
Menurunkan angka stunting akibat akses sanitasi buruk menjadi kurang dari 10% di 2024
33. Akses Air Minum Perpipaan (10 Juta Sambungan Rumah)
Meningkatkan penyediaan akses air minum layak dan aman dengan kontribusi sebesar 70% dalam penanganan stunting
2018: rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak masih mencapai 74,58% termasuk akses sanitasi aman hanya mencapai 7,42%.
9,36% rumah tangga masih mempraktikan buang air besar sembarangan (BABS) di tempat terbuka.
Major Project
Latar belakang
Tujuan
Masih tingginya prevalensi stunting di Indonesia: 27,7% tahun 2019
2018: Capaian akses air minum layak: 87,75%, yang terdiri dari akses air minum jaringan perpipaan sebesar 20,14% dan bukan jaringan perpipaan sebesar 67,61%.
Sumber: Perpes 18/2020 ttg RPJMN 2020-2024
Perpres 72/2021: Percepatan Penurunan Stunting
Pilar: Target tujuan pembangunan berkelanjutan pada tahun 2030
Tujuan
Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting menjadi acuan bagi kementerian/lembaga, Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah kabupaten/kota, Pemerintah Desa, dan Pemangku Kepentingan dalam rangka menyelenggarakan Percepatan Penurunan Stunting.
1. menurunkan prevalensi Stunting
2. meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga
3. menjamin pemenuhan asupan gizi
4. memperbaiki pola asuh
5. meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan
6. meningkatkan akses air minum dan sanitasi
2. peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat;
3. peningkatan konvergensi Intervensi Spesifik dan Intervensi Sensitif di kementerian/lembaga, Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah kabupaten/kota, dan Pemerintah Desa;
4. peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat;
5. penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset, dan inovasi
Rencana Aksi Nasional: pendekatan keluarga berisiko
penyediaan data keluarga berisiko Stunting
pendampingan keluarga berisiko Stunting
pendampingan semua calon pengantin/calon PUS;
surveilans keluarga berisiko Stunting
audit kasus Stunting
RAN PASTI
RENCANA AKSI NASIONAL PERCEPATAN PENURUNAN ANGKA STUNTING INDONESIA TAHUN 2021-2024�(RAN PASTI)
1. penyediaan data keluarga berisiko Stunting
2. pendampingan keluarga berisiko Stunting
3.pendampingan semua calon pengantin/calon PUS;
4. surveilans keluarga berisiko Stunting
5. audit kasus Stunting
Pemantauan, Evaluasi, dan pelaporan
(pasal 26)
Mekanisme dan Tata Kerja
(pasal 19, ayat 4)
BAB III MEKANISME DAN TATA KERJA
Rencana Aksi Nasional
(pasal 8 ayat 2)
BAB IV PEMANTAUAN, EVALUASI, DAN PELAPORAN
BAB II Rencana Aksi Nasional
1. penyediaan data keluarga berisiko Stunting
2. pendampingan keluarga berisiko Stunting
3.pendampingan semua calon pengantin/calon PUS;
4. surveilans keluarga berisiko Stunting
5. audit kasus Stunting
6. perencanan dan penganggaran
7. pengawasan dan pembinaan akuntabilitas
8. pemantauan, evaluasi & pelaporan
Kluster data presisi
Kluster operasional
Kluster manajerial
Peraturan Presiden No 72/2021
Peraturan BKKBN No 12/2022
PENDEKATAN RAN PASTI
INTERVENSI HULU
Pendekatan PENTAHELIX
Menyediakan platform Kerjasama antara pemerintah dan unsur pemangku kepentingan (dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat dan media)
INTERVENSI SPESIFIK DAN SENSITIF
Fokus pada program INKUBASI yang memperhatikan kesehatan dan kecukupan gizi:
3 bulan CATIN+ IBU HAMIL+ IBU MASA INTERVAL +BADUTA/BALITA yang didukung dengan penyediaan sanitasi, akses air bersih serta bansos.
Kluster data presisi
Kluster manajerial
Kluster operasional
KONVERGENSI
LAYANAN TINGKAT KELUARGA
Kluster data presisi
Penyediaan data:
Sistem Manajemen Data dan Informasi
Penentuan wilayah sasaran
Penyediaan data sasaran
1.
2.
3.
Manajemen data & informasi:
Kegiatan prioritas: 13. Melakukan surveilans keluarga berisiko stunting
Dilakukan secara realtime dengan meningkatkan cakupan dan pemutakhiran cakupan pencatatan dan pelaporan melalui aplikasi Elsimil dan E-ppgbm
Wilayah sasaran
12. Menentukan desa prioritas Stunting
Gunakan Pendataan Keluarga 2021 sebagai baseline dan e ppgbm
Catin (Pra-konsepsi)
Ibu Hamil
Ibu Pasca Persalinan
Anak 0-23 Bulan
Anak 24-59 Bulan
Catin 3 bulan sebelum menikah
Tidak/belum menggunakan KB pasca persalinan
Elektronik siap nikah siap hamil (ELSIMIL)
Elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat
(e-ppgbm) dan elsimil
Penyediaan data keluarga berisiko stunting
Variabel kesehatan dan gizi pada kelompok sasaran:
Baseline
Keluarga berisiko stunting yang bersumber dari Pendataan Keluarga (PK) 2021
(dilakukan pemutakhiran PK setiap tahun)
220.038.950 penduduk
38.408.597 Pasangan Usia Subur
66.206.546 keluarga
*Variabel ibu hamil dan bayi baru lahir dalam elsimil berdasarkan rekomendasi POGI. Variabel yang sederhana namun menentukan pemetaan risiko.
Persentase Keluarga Sasaran Beresiko Stunting
Sumber Air Minum Tidak Layak
Sumber air minum TIDAK LAYAK
Jika tidak termasuk salah satu
kriteria berikut :
Jumlah Keluarga Sasaran Beresiko Stunting
Sumber Air Minum Tidak Layak
*Keluarga sasaran= keluarga dengan PUS/PUS hamil/
anak usia 0-23 bln/24-59 bln
PROV | SUMBER AIR MINUM UTAMA TIDAK LAYAK |
SULAWESI TENGGARA | 38,716 |
% THD KLG SASARAN BERESIKO | 10.30 |
Persentase Keluarga Sasaran Beresiko Stunting
Jamban Tidak Layak
JAMBAN TIDAK LAYAK
Jumlah Keluarga Sasaran Beresiko Stunting
Jamban Tidak Layak
*Keluarga sasaran= keluarga dengan PUS/PUS hamil/
anak usia 0-23 bln/24-59 bln
PROV | JAMBAN TIDAK LAYAK |
SULAWESI TENGGARA | 68,724 |
% THD KLG SASARAN BERESIKO | 18.05 |
RUMAH TIDAK LAYAK HUNI
Persentase Keluarga Sasaran Beresiko Stunting
Rumah Tidak Layak Huni
Jumlah Keluarga Sasaran Beresiko Stunting
Rumah Tidak Layak Huni
*Keluarga sasaran= keluarga dengan PUS/PUS hamil/
anak usia 0-23 bln/24-59 bln
Kluster operasional
Pendampingan keluarga berisiko
stunting
Audit kasus stunting
Pendaftaran dan pendampingan
calon pengantin
1.
2.
3.
Kegiatan prioritas:
B. Audit Kasus Stunting
Dapat ditambah kegiatan yang dipandang perlu
Kluster manajerial (1)
Mekanisme Perencanaan dan
Penganggaran
1.
2.
Perencanaan & Penganggaran
Surat Kesepakatan Bersama (SKB) antara Menteri Dalam Negeri, Menteri Kesehatan, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional dan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Nomor: 441.1/5234.A/SJ; HK.02.01/Menkes/6434/2021; 31/KSM/G2/2021 dan MoU-6/K/D3/2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting di Daerah.
Ruang lingkup SKB termasuk pembinaan dan pengawasan terkait dengan percepatan penurunan stunting di daerah.
Pengawasan dan Pembinaan
Akuntabilitas
Pengawasan dan pembinaan akuntabilitas bertujuan agar tidak ada temuan hasil pemeriksaan atas perencanaan dan penyelenggaraan kegiatan Percepatan Penurunan Stunting
Pemantauan, Evaluasi,
dan Pelaporan
3.
Kegiatan prioritas:
Tengah dilakukan penyusunan metadata terhadap indicator percepatan penurunan stunting bersama K/L
Telah disusun metadata 64 indicator yang menjadi acuan dalam implementasi 8 aksi konvergensi
..\Metadata indikator stunting-kemendagri17022022.xlsx
Kluster manajerial (2)
3. Konvergensi pelayanan tingkat keluarga�
Kaitan RAN PASTI dan 8 aksi konvergensi
Jan
Feb
Mar
Aprl
Mei
Juni
Juli
Ags
Sept
Okt
Nov
Des
#1. Analisis situasi
Koordinator: Bappeda
#2, Menyusun rencana kegiatan
Koordinator: Bappeda
Memasikan rekomendasi program & kegiatan hasil analisis situasi dituangkan ke dalam dokumen perencanaan dan penganggaran kabupaten/kota dan OPD
#3. Rembuk Stunting Kabupaten/Kota
Koordinator: Sekretaris Daerah
Komitmen rencana aksi menjawab upaya pencapaian 64 indicator untuk dimuat dalam RKPD/Renja OPD tahun berikutnya.
#4. Perbup/perwali ttg kewenangan desa
Koordinator: Pemrakarsa/delegasi Berdasarkan hasil analisis situasi, min 10% APBDes, peran camat, penguatan kelembagaan (TPK, posyandu, BKB), capaian konvergensi layanan berbasis keluarga berisiko stunting*
*Sedang diusulan paket layanan di desa dengan merujuk pada perpres dan RAN PASTI kepada Kemendes, PDT & Transmigrasi
#5. Pembinaan kader
Koordinator: Delegasi OPD
#6. Manajemen data
Koordinator: Bappeda
#7. Pengukuran & publikasi
Koordinator: Dinas Kesehatan
KKA menjadi parameter gangguan perkembangan baduta/balita stunting.
#7. Pengukuran & publikasi
#8 reviu tahunan
Koordinator: Sekretaris Daerah dan Bappeda
Fokus pada konvergensi tingkat keluarga dan rencana percepatan ke depan.
PAKET LAYANAN | NO | INDIKATOR PEMANTAUAN |
CALON PENGANTIN | 1 | Remaja/calon pengantin/calon PUS menerima layanan pemeriksaan status anemia (hemoglobin) |
2 | Remaja/calon pengantin/calon PUS (Pasangan Usia Subur) menerima tablet tambah darah (TTD) | |
3 | Remaja/calon pengantin/calon PUS mendapatkan tata laksana kesehatan dan gizi | |
KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA) | 4 | Ibu hamil diperiksa oleh bidan, minimal 6 kali pemeriksaan selama masa kehamilan sesuai trimester kehamilan |
5 | Ibu hamil mengonsumsi minimal 90 butir pil Fe (tablet tambah darah) sejak pertama kali diketahui hamil | |
6 | Ibu yang melahirkan (termasuk bayinya) mendapatkan perawatan nifas dari bidan atau dokter, minimal 3 kali perawatan dalam waktu 42 hari setelah proses persalinan dan menggunakan kontrasepsi | |
7 | Ibu hamil dan balita menerima pendampingan | |
8 | Anak usia 0-12 bulan mendapatkan pemberian imunisasi dasar lengkap | |
9 | Anak usia 0-23 bulan diukur berat badannya setiap bulan | |
10 | Anak usia 0-23 bulan diukur panjang/tinggi badannya oleh kader/tenaga kesehatan terlatih minimal 2 kali dalam setahun | |
11 | Anak usia 0-23 bulan dipantau perkembanganya dengan menggunakan Kartu Kembang Anak setiap bulan | |
12 | Persentase keluarga dengan anak 6-23 bulan yang mendapatkan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) | |
KONSELING GIZI TERPADU | 13 | Orang tua/pengasuh yang memiliki anak usia 0-23 bulan mengikuti kegiatan konseling gizi setiap bulan sekali |
14 | Ibu hamil dengan kondisi resiko tinggi dan/atau Kekurangan Energi Kronik (KEK), anak usia 0-23 bulan dengan kondisi gizi buruk, gizi kurang, dan stunting mendapat kunjungan rumah secara terpadu oleh tim pendamping keluarga dan atau petugas kesehatan minimal 1 bulan sekali | |
15 | Pemberian edukasi gizi 3 bulan pra nikah bagi calon pengantin | |
SANITASI DAN AIR BERSIH | 16 | Keluarga berisiko stunting yang ada ibu hamil dan anak usia 0-23 bulan memiliki akses air minum yang layak |
17 | Keluarga berisiko stunting yang ada ibu hamil dan anak usia 0-23 bulan memiliki jamban sehat | |
PERLINDUNGAN SOSIAL | 18 | Anak usia 0-23 bulan memiliki akte kelahiran |
19 | PUS yang memiliki ibu hamil dan anak usia 0-23 bulan dengan status miskin menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI) | |
20 | Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan ibu hamil, ibu menyusui dan anak baduta yang menerima variasi bantuan pangan selain beras dan telur (karbohidrat, protein hewani, protein nabati, vitamin dan mineral dan/atau Makanan Pendaming Air Susu Ibu/MP-ASI) berbasis pangan lokal | |
21 | Keluarga beresiko stunting yang mendapatkan manfaat sumber daya pekarangan untuk meningkatkan asupan gizi | |
22 | PUS dengan status miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial yang menerima bantuan pangan non-tunai | |
23 | PUS dengan status miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial yang menerima bantuan tunai bersyarat | |
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) | 24 | Anak usia 0-23 bulan beserta orang tua/pengasuh mengikuti kegiatan kelas pengasuhan bina keluarga balita pada layanan dasar di Desa minimal sebulan sekali |
Konvergensi tingkat desa
Kelompok sasaran
mendapat pelayanan keluarga berencana pasca melahirkan
Catin/CaPUS/
remaja
Ibu hamil
Ibu masa interval/pasca persalinan
Balita (0-59 bulan)
KONVERGENSI LAYANAN TINGKAT KELUARGA
Balita 0-23 bulan
Balita 24-59 bulan
4. Perencanaan & Penganggaran 2023
Arah kebijakan dan strategi� Perencanaan dan penganggaran percepatan penurunan stunting 2023
Penguatan kelembagaan
1.
Fokus Program
2.
SATU DATA
2.
Pemutakhiran basis data keluarga Indonesia 2022 untuk pemetaan data keluarga berisiko stunting dan perluasan jangkauan surveilans rutin melalui elsimil dan e-ppgbm
Target Prevalensi Balita Stunting 2022-2024 per Provinsi
(Berdasarkan Baseline Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021)
No | Provinsi | BASELINE (SSGI 2021) | Target | ||
2022 | 2023 | 2024 | |||
1 | ACEH | 33.2 | 28.37 | 23.69 | 19.01 |
2 | SUMATERA UTARA | 25.8 | 22.15 | 18.55 | 14.92 |
3 | SUMATERA BARAT | 23.3 | 19.92 | 16.63 | 13.34 |
4 | RIAU | 22.3 | 18.86 | 15.59 | 12.38 |
5 | JAMBI | 22.4 | 19.11 | 15.92 | 12.74 |
6 | SUMATERA SELATAN | 24.8 | 21.27 | 17.81 | 14.33 |
7 | BENGKULU | 22.1 | 18.84 | 15.69 | 12.55 |
8 | LAMPUNG | 18.5 | 15.96 | 13.45 | 10.88 |
9 | KEP. BANGKA BELITUNG | 18.6 | 15.76 | 13.05 | 10.38 |
10 | KEPULAUAN RIAU | 17.6 | 15.14 | 12.70 | 10.20 |
11 | DKI JAKARTA | 16.8 | 14.64 | 12.47 | 10.21 |
12 | JAWA BARAT | 24.5 | 20.92 | 17.43 | 13.96 |
13 | JAWA TENGAH | 20.9 | 17.96 | 15.01 | 12.04 |
14 | DI YOGYAKARTA | 17.3 | 15.25 | 12.69 | 10.16 |
15 | JAWA TIMUR | 23.5 | 20.13 | 16.83 | 13.51 |
16 | BANTEN | 24.5 | 20.98 | 17.55 | 14.10 |
17 | BALI | 10.9 | 9.28 | 7.71 | 6.15 |
INDONESIA | 24.4 | 20.93 | 17.47 | 14.00 | |
No | Provinsi | BASELINE (SSGI 2021) | Target | ||
2022 | 2023 | 2024 | |||
18 | NUSA TENGGARA BARAT | 31.4 | 26.85 | 22.42 | 17.98 |
19 | NUSA TENGGARA TIMUR | 37.8 | 31.77 | 26.06 | 20.53 |
20 | KALIMANTAN BARAT | 29.8 | 25.49 | 21.28 | 17.07 |
21 | KALIMANTAN TENGAH | 27.4 | 23.24 | 19.30 | 15.38 |
22 | KALIMANTAN SELATAN | 30.0 | 25.71 | 21.51 | 17.27 |
23 | KALIMANTAN TIMUR | 22.8 | 19.37 | 16.08 | 12.83 |
24 | KALIMANTAN UTARA | 27.5 | 23.20 | 19.07 | 15.04 |
25 | SULAWESI UTARA | 21.5 | 18.47 | 15.42 | 12.37 |
26 | SULAWESI TENGAH | 29.7 | 25.28 | 20.99 | 16.78 |
27 | SULAWESI SELATAN | 27.4 | 23.40 | 19.52 | 15.64 |
28 | SULAWESI TENGGARA | 30.2 | 25.58 | 21.16 | 16.79 |
29 | GORONTALO | 29.0 | 24.61 | 20.34 | 16.19 |
30 | SULAWESI BARAT | 33.8 | 28.49 | 23.52 | 18.61 |
31 | MALUKU | 28.7 | 24.25 | 20.00 | 15.88 |
32 | MALUKU UTARA | 27.5 | 23.29 | 19.25 | 15.27 |
33 | PAPUA BARAT | 26.2 | 22.02 | 18.13 | 14.39 |
34 | PAPUA | 29.5 | 25.03 | 20.75 | 16.53 |
INDONESIA | 24.4 | 20.93 | 17.47 | 14.00 | |
Sumber: BKKBN, 2022
Target Prevalensi Stunting Sultra Tahun 2022-2024�Menurut Kabupaten/Kota
Kabupaten/Kota | SSGI 2021 | Target 2022 | Target 2023 | Target 2024 |
Buton | 33.0 | 29.87 | 24.88 | 19.89 |
Muna | 30.8 | 27.87 | 23.20 | 18.55 |
Konawe | 26.2 | 23.46 | 19.34 | 15.30 |
Kolaka | 26.5 | 23.92 | 19.86 | 15.84 |
Konawe Selatan | 28.3 | 25.54 | 21.21 | 16.91 |
Bombana | 26.8 | 23.92 | 19.65 | 15.49 |
Wakatobi | 26.0 | 23.80 | 20.03 | 16.19 |
Kolaka Utara | 29.1 | 26.13 | 21.60 | 17.13 |
Buton Utara | 26.8 | 24.19 | 20.09 | 16.02 |
Konawe Utara | 29.5 | 26.41 | 21.76 | 17.22 |
Kolaka Timur | 23.0 | 20.66 | 17.08 | 13.56 |
Konawe Kepulauan | 32.8 | 29.64 | 24.64 | 19.68 |
Muna Barat | 29.0 | 26.08 | 21.59 | 17.16 |
Buton Tengah | 42.7 | 38.64 | 32.17 | 25.72 |
Buton Selatan | 45.2 | 40.93 | 34.10 | 27.28 |
Kota Kendari | 24.0 | 21.33 | 17.45 | 13.70 |
Kota Baubau | 27.6 | 24.63 | 20.23 | 15.95 |
Sulawesi Tenggara | 30.2 | 25.58 | 21.16 | 16.79 |