1 of 39

Asuhan Keperawatan Respirasi Kegawatdaruratan

Saktya Yudha Ardhi Utama, S.Kep.,Ns.,CWCCA

2 of 39

PNEUMOTHORAX

3 of 39

Definisi

  • Pneumothorax: adanya gas dalam cavum pleura
    • Traumatik
    • Iatrogenik : trakeostomi, anastesi dgn intubasi
    • Spontan
      • Sekunder
      • Idiopatik
    • Menurut hubungan dengan udara luar : tertutup, terbuka, tension

4 of 39

Epidemiologi

Pneumothorax Spontan Sekunder

  • COPD 26 per 100,000 per tahun
  • 5% to 8% dari pasien dengan cystic fibrosis
  • 2% to 6% dari HIV patients (PCP)

Pneumothorax Spontan Idiopatik

  • 4.3 kasus per 100,000 pasien-tahun
  • Insiden puncak antara 20-30 tahun dengan rasio pria: wanita 5:1. Pasien sering berpostur tinggi, kurus dan perokok.
  • Jarang, pada wanita hamil (41 kasus dilaporkan sampai 2002)

�Staton GW, Ingram R. Disorders of the Pleura, Hila, and Mediastinum: Pneumothorax.ACP Medicine Online, 2002�Gorospe, Puente S, et al. Spontaneous Pneumothorax During Pregnancy .South Med J 95(5):555-558, 2002.

5 of 39

Pneumothorax : Patofisiologi

  • Kerusakan pleura parietal dan atau viseral
  • Masuknya gas dari struktur yang berdekatan atau berada dalam cavum thorax ke dalam cavum pleura

6 of 39

Komplikasi Trakeostomi

Durbin CG. Early complications of tracheostomy.Respiratory Care,April 2005 Vol 50 no 4

7 of 39

Diagnosis

  • Keluhan : nyeri dada dan dispneu
  • Anamnesis : Penyakit dasar, karakteristik nyeri, perjalanan penyakit
  • Pemeriksaan fisik : takipneu, takikardia, deviasi trakea, penurunan suara nafas, hiperresonans, penurunan vocal fremitus (Tension pneumothorax : deviasi trakea, penurunan suara nafas, hipotensi)

Staton GW, Ingram R. Disorders of the Pleura, Hila, and Mediastinum: Pneumothorax.ACP Medicine Online, 2002

Way LW, Doherty GM. Current Surgical Diagnosis and Management ed.2004. Lange,2004

8 of 39

Terapi

  • Pneumothorax <20-25% stabil, tanpa keluhan : konservatif, absorbsi gas sekitar 1-1,25% per hari
  • Pneumothorax > 30% : chest tube (8-20F), Heimlich valve atau Continous Suction
  • Indikasi pleurodesis atau surgical management
    • Lebih dari 7 hari,
    • kegagalan expansi paru,
    • pekerjaan resiko tinggi,
    • bullae besar,
    • fungsi paru yang buruk,
    • Rekurens
    • Bilateral

Way LW, Doherty GM. Current Surgical Diagnosis and Management ed.2004. Lange,2004

9 of 39

Kriteria Pencabutan Drainase Thorax

  • Sekret serous : Dewasa <100 cc/24 jam, anak kurang dari 50 cc/24 jam
  • Paru mengembang
  • Pada trauma, langsung di cabut
  • Pada torakotomi :
    • Infeksi : klem 24 jam untuk cegah resufflasi
    • Post op : langsung cabut
    • Post pneumektomi : hari ketiga

Wibowo S, Puruhito, Basuki S. Pedoman teknik operasi. Airlangga University Press, 1987

10 of 39

Pengkajian fungsi respirasi

Interview pengkajian kesehatan

  • Interview untuk menentukan masalah pada sistem respirasi
  • Interview diarahkan pada keluhan utama (mis. Sesak nafas) → onset,karakteristik, severity, precipitating and relieving factors, gejala2 yg menyertai, waktu kejadian, mis ;
  • Kesulitan bernafas→ pada saat baring terlentang, nyeri saat bernafas.
  • Sejak kapan batuk, apakah batuk disertai keluarnya lendir, warna lendir.
  • Apakah mengalami mimisan, kapan

11 of 39

  • Selama interview perhatikan bunyi nafas, suara, batuk.
  • Tanyakan → status kes. Saat ini, medical history, family health history, faktor risiko.
  • Adakan nyeri dirasakan pada hidung, tenggorokan, atau dada.→jenis, severity, lokasi nyeri.
  • Info tentang batuk → jenis, kapan terjadi, dan bgm mengurangi.
  • Tanyakan sputum.
  • Dyspnea, adakah berhub. Dg tingkat aktifitas, dan saat mana terjadi.

12 of 39

  • Tanyakan penggunaan obat2an, inhalasi/aerosol, penggunaan O2.
  • Riwayat kes. Yg lalu→ allergi, asthma, bronkhitis,emphysema,pneumonia, tuberculosis,dan CHF.
  • Riwayat pembedahan atau trauma, peny.kronik (kanker, peny.ginjal, peny.jantung).
  • Riwayat kel→ allergi, TBC, emphysema, kanker.
  • Pola hidup klien, lingkungan, pekerjaan → masalah kes.
  • Tanyakan riwayat merokok, terpajan oleh lingkungan kimiawi, debu, binatang, asbes,dll.
  • Faktor kebiasaan, kegemukan, alkohol, narkoba.

13 of 39

Physical assessment

  • Pengkajian fisik → inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
  • LOC, warna bibir, tenggorokan, thoraks, kuku, hidung, telinga, dan lidah→ tanda2 gg pernafasan.
  • Alat2 yang diperlukan : tongue blade, penlight, nasal speculum,stestoskop.
  • Ruangan sejuk dan cukup pencahayaan.
  • Baju dibuka, wanita→ diberikan pakaian RS yg digunakan selama pemeriksaan

14 of 39

  • Siapkan alat dg lengkap, dan klien diberi penjelasan (informed consent).
  • 3 bunyi nafas yg berbeda → vesicular, bronchovesikular, dan bronchial.

​

Normal breath sounds

1. Bunyi nafas Vesicular :

  • lembut, didengar diatas area paru tidak terdengar pada area bronkhus utama
  • Ratio 3 : 1 (inspirasi > panjang dari ekspirasi)

15 of 39

2. Bunyi nafas Brochovesicular :

  • bunyi sedang.
  • ratio 1 : 1 (inspirasi sama panjang dg ekspirasi)
  • didengar pada bagian depan diatas bronkhus utama kiri/kanan sternum, pada bagian belakang antara skapula

​

3. Bunyi nafas Bronchial :

  • bunyi keras
  • terpisah antara inspirasi dan ekspirasi
  • ratio : 2 : 3 (ekspirasi > panjang dari inspirasi)
  • didengan diatas manubrium

16 of 39

​

  • Inspeksi nasal cavity→ deviasi septum, mukosa kemerahan→ infeksi, sekret purulen→infeksi sinus, sekret encer→alergi, polip→alergi lama.
  • Kaji kemampuan membedakan bau → kerusakan saraf olfaktori atau inflamasi kronik pada hidung
  • Kaji frekuensi nafas (toraks) : takipnea → atelektasis(kollaps jar. Paru yg diikuti obstruksi bronchus dan bronchiolus), pneumonia, asthma, pleural effusion, pneumothorax, dan CHF. Kerusakan batang otak/ head injury → takipnea atau bradipnea.

​

17 of 39

  • Bradipnea → gg sirkulasi, gg paru2 akibat pengobatan,respon nyeri, atau fraktur iga.
  • Apnea → stroke atau head injury, pengaruh pengobatan, obstruksi jalan nafas.
  • Inspeksi diameter dada anteroposterior lebih pendek dari diameter transversal→normal = 1 : 2 – 5 : 7. Apabila sama → barrel chest → emphysema.

18 of 39

  • Inspeksi retraksi interkostal : retraksi ruang interkostal → asthma, penonjolan ruang interkostal → pneumothorax.
  • Inspeksi/palpasi ekspansi dada : ekspansi menurun → atelektasis, pneumonia, pneumothorax, pleural effusion. Bila dirasakan kiri dan kanan dada → emphysema.
  • Palpasi tactile fremitus : menurun → atelektasis, emphysema, asthma, pleural effusion dan pneumothorax. Meningkat pada pneumonia

19 of 39

  • Perkusi area paru : redup pada klien atelektasis, pneumonia lobaris, pleural effusion. Hiperresonan → asthma kronik, pneumothorax.

​

  • Auskultasi paru : bunyi nafas bronchial (ekspirasi > inspirasi) dan bunyi nafas bronchovesicular (inspirasi = ekspirasi)→ menurun pada atelektasis, emphysema, asthma, pleural effusion. Meningkat pada pneumonia lobaris. Bunyi nafas akan hilang pada kollaps paru, pleural effusion, obstruksi bronchus utama.

20 of 39

  • Auskultasi : crackles, wheezing, dan frriction rub : Crackles/rales (pendek, gemercik)→ pneumonia, bronchitis, CHF. Wheezing → bronchitis, emphysema, asthma. Friction rub→ inflamasi pleura.
  • Voice sound : menurun/hilang pada atelektasis, asthma, pleural effusion, dan pneumothoraks. Meningkat pada pneumonia lobaris.

21 of 39

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  • Ketidakefektifan pola nafas b.d ekspansi paru yang tidak maksimal
  • Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan sekresi sekret
  • Nyeri akut b.d trauma jaringan

22 of 39

GAGAL NAFAS

23 of 39

DEFINISI

  • Gagal nafas adalah  ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan tekanan parsial normal O2 dan atau CO2 didalam darah.

​

  • Gagal nafas adalah suatu kegawatan yang disebabkan oleh gangguan pertukaran oksigen dan karbondioksida, sehingga sistem pernafasan tidak mampu memenuhi metabolisme tubuh.

​

24 of 39

ETIOLOGI

  • 1. Depresi Sistem saraf pusat.
  • 2. Kelainan neurologis primer.
  • 3. Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks.
  • 4. Trauma.
  • 5. Penyakit akut paru.

​

25 of 39

TANDA DAN GEJALA

​

  1. Tanda
  2. Gagal nafas total
  3. Aliran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.
  4. Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikuladan sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi.
  5. Adanya kesulitasn inflasi parudalam usaha memberikan ventilasi buatan

​

26 of 39

  • Gagal nafas parsial
  • Terdenganr suara nafas tambahan gargling, snoring, Growing dan whizing.
  • Ada retraksi dada

​

b. Gejala

  • Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2).
  • Hipoksemia yaitu takikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun)

​

27 of 39

PATOFISIOLOGI

  • Terdapat 2 mekanisme dasar yang mengakibatkan kegagalan pernafasan yaitu obstruksi saluran nafas dan konsolidasi atau kolaps alveolus. Apabila seorang anak menderita infeksi saluran nafas maka akan terjadi :
  • Sekresi trakeobronkial bertambah
  • Proses peradangan dan sumbatan jalan nafas
  • Aliran darah pulmonal bertambah
  • ‘metabolic rate’ bertambah

​

28 of 39

  • Akibat edema mukosa, lendir yang tebal dan spasme otot polos maka lumen saluran nafas berkurang dengan hebat. Hal ini mengakibatkan terperangkapnya udara dibagian distal sumbatan yang akan menyebabkan gangguan oksigenasi dan ventilasi. Gangguan difusi dan retensi CO2 menimbulkan hipoksemia dan hipercapnea, kedua hal ini disertai kerja pernafasan yang bertambah sehingga menimbulkan kelelahan dan timbulnya asidosis. Hipoksia dan hipercapnea akan menyebabkan ventilasi alveolus terganggu sehingga terjadi depresi pernafasan, bila berlanjut akan menyebabkan kegagalan pernafasan dan akirnya kematian.

​

29 of 39

  • Hipoksemia akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah pulmonal yang menyebabkan tahanan alveolus bertambah, akibatnya jantung akan bekerja lebih berat, beban jantung bertambah dan akirnya menyebabkan gagal jantung.
  • Akibat bertambahnya aliran darah paru, hipoksemia yang mengakibatkan permiabilitas kapiler bertambah, retensi CO2 yang mengakibatkan bronkokontriksi dan ‘metabolic rate’ yang bertambah, terjadinya edema paru. Dengan terjadinya edema paru juga terjadinya gangguan ventilasi dan oksigenisasi yang akhirnya dapat menimbulkan gagal nafas.

​

30 of 39

Diagnosa keperawatan

  • Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret.
  • Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan sekresi tertahan, proses penyakit, pengesetan ventilator yang tidak tepat.
  • Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan kelelahan,pengesetan ventilator yang tidak tepat,peningkatan sekresi, dan obstruksi ETT.

31 of 39

HIPERTENSI PARU

32 of 39

DEFINISI

  • Kondisi yang tidak terlihat secara klinis sampai pada tahap lanjut kemajuan penyakitnya.
  • Penyakit ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah arteri paru-paru yang menyebabkan sesak nafas, pusing dan pingsan pada saat melakukan aktivitas

33 of 39

ETIOLOGI

  • Gagal jantung kiri

​

  • Penyakit autoimun, HIV

​

  • PPOK

34 of 39

MANIFESTASI KLINIS

  • Sesak napas yang timbul bertahap

​

  • Edema paru atau penumpukan cairan di paru

​

  • Edema perifer atau pembengkakan pada tungkai terutama tumit dan kaki

​

  • Kelemahan, batuk tidak produktif

35 of 39

PATOFISIOLOGI

  • Hipertensi pulmonal dapat menyebabkan pengerasan pembuluh darah pada dan di dalam paru. Hal ini memperberat kerja jantung dalam memompa darah ke paru.
  • Lama-kelamaan pembuluh darah yang terkena akan menjadi kaku dan menebal hal ini akan menyebabkan tekanan dalam pembuluh darah meningkat dan aliran darah juga terganggu.
  • Hal ini akan menyebabkan bilik jantung kanan membesar sehingga menyebabkan suplai darah dari jantung ke paru berkurang sehigga terjadi suatu keadaan yang disebut dengan gagal jantung kanan.
  • Sejalan dengan hal tersebut maka aliran darah ke jantung kiri juga menurun sehingga darah membawa kandungan oksigen yang kurang dari normal untuk mencukupi kebutuhan tubuh.

36 of 39

Pemeriksaan

  • Elektrokardiograf
  • Radiologi
  • MRI
  • Angiografi -> kateterisasi jantung

37 of 39

PENATALAKSANAAN

  • Terapi bedah

a.Atrial septosotomi

b. Thromboenarterectomy pulmonary

​

  • Transplantasi Paru

38 of 39

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  • Gangguan pertukaran gas b.d kerusakan jaringan paru
  • Nyeri akut b.d kerusakan jaringan paru
  • Kelebihan volume cairan b.d edema perifer
  • Penurunan curah jantung b.d kerusakan ventricular
  • Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik.

​

39 of 39

Terima kasih