Olivier Maron Sahetapy, drg., Sp.BMM
MANAJEMEN INFEKSI PADA PROSEDUR BEDAH MULUT
PROTOKOL PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN TERBARU
DENTAL NUSANTARA
Dalam lingkungan perawatan gigi, pencegahan dan pengendalian infeksi bertujuan untuk meminimalkan infeksi silang antara praktisi perawatan gigi dan pasien. Khususnya dalam lingkungan perawatan gigi, praktisi sering terpapar sehubungan kontak dengan pasien, darah dan cairan tubuh.
penggunaan instrumen tajam secara signifikan meningkatkan risiko paparan infeksi, dan karena perawatan gigi adalah jenis rawat jalan, perawatan invasif, kontrol yang efektif untuk infeksi yang diturunkan dari pasien rawat jalan sangat penting.
Pengendalian Infeksi
HELLO!
PENGENDALIAN INFEKSI
RANTAI INFEKSI
MANAJEMEN INFEKSI PADA BEDAH MULUT
Salah satu masalah yang kompleks di bidang kedokteran gigi ialah penatalaksanaan infeksi oromaksilofasial. Infeksi ini berkisar dari derajat rendah sampai derajat tinggi, dan dapat mengancam nyawa
Infeksi odontogenik pada regio maksilofasial sampai saat ini nasih menduduki peringkat atas di antara kelainan-kelainan pada regio tersebut Sebagai seorang dokter gigi, kasus-kasus infeksi merupakan kasus sehari-hari yang ditemui, baik infeksi ringan sampai infeksi serius yang dapat berakibat fatal
SKEMA PENYEBARAN INFEKSI OROMAKSILOFASIAL
Mikoorganisme yang tersering dijumpai pada infeksi oromaksilofasial ialab bakteri gam positif aerob (cocci), gram positif anaerob (coccr, seta gram negatif anaerob (,'odr)
Lokasi infeki pada gigi tertentu ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu ketebalan tulang ydrg menutupi apeks gigi dan hubmgan dari rempat tulang yang mengalami perfomsi d€ngan perlekatan otot pada maksila dan ma ib la
PROTOKOL MANAJEMEN INFEKSI OROMAKSILOFASIAL
ANAMNESA
PEMERIKSAAN KLINIS
PEMERIKSAAN RADIOLOGI
DURASI, NYERI, RIWAYAT PENYAKIT DLL
EKSTRA ORAL, INTRA ORAL, VITAL SIGN
PANORAMIK, PERIAPIKAL, CT-SCAN
PEMERIKSAAN LABORATORIS
DARAH LENGKAP, GDA, SERUM ELEKTROLIT, ALBUMIN , KULTUR DARAH DAN PUS
PENATALAKSANAAN INFEKSI OROMAKSILOFASIAL
01
02
MEDIKAMENTOSA
PEMBEDAHAN
PERAWATAN GIGI PENYEBAB
Pemberian antibiotik yang efektif pada infeksi oromaksilofasial seperti penisilin, eritromisin klindmisin, Cefadroxil, tetrasiklina. Perlu juga diberikan rerapisuponil seperti penberian roborantia dan makanan yang tinggi kalod dan tinggi protein untuk meningkatkan daya tahan tubu
. Pengeluaran pus dengan cara insisi dan drainase, merupakan tindakan yang sangat penting dalam perawatan abses oromaksilofasial. hal ini dapat mengurangi rasa sakit dan mempercepat proses penyembulan. Insisi dapat dilakukan bila pus telah terlokalisir di daerah permukaan, sudah ada fluktuasi
Gigi penyebab perlu dilakukan ekstraksi bila tidak munekin lagi dirawat secara endodonsia. Ekstraksi gigi dilakukan setelah tanda tanda infeksi reda, karena bila dilakukan pada saat fase akut, maka dikhawatirkan akan terjadi penyebaran infeksi, selain itu anestesi lokal menjadi kurang efektif
03
ANTIBIOTIK
Agen antimikroba yang melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri (Katzung, 2007).
“Antibiotik bukan perupakan alternatif perawatan di bidang kedokteran gigi, antibiotik adalah terapi tambahan. Antibiotik diberikan ketika terdapat gejala klinis yang menunjukkan adanya infeksi”
BUKAN TERAPI UTAMA
PRINSIP PEMILIHAN ANTIBIOTIK
01
05
02
06
03
07
IDENTIFIKASI ORGANISME BAKTERI DENGAN CARA KULTUR (BAKTERI AEROB / BAKTERI ANAEROB).
MENGETAHUI RIWAYAT PENGGUNAAN OBAT DARI PASIEN UNTUK MENGANTISIPASI KEMUNGKINAN ADANYA REAKSI ALERGI.
DETERMINASI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK.
CENDERUNG MENGGUNAKAN ANTIBIOTIK BAKTERISIDAL DARIPADA BAKTERIOSTATIK. KEUNTUNGAN MENGGUNAKAN ANTIBIOTIK BAKTERISIDAL: JARANG MENIMBULKAN RESISTENSI PADA HOST
PENGGUNAAN SPESIFIK ANTIBIOTIK (NARROW SPECTRUM) UNTUK MENCEGAH ADANYA RESISTENSI ANTIBIOTIK.
MEMILIH ANTIBIOTIK YANG SUDAH TERBUKTI BERHASIL (EMPIRIS)
04
08
MENGGUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN TOKSISITAS MINIMAL.
MENDORONG PASIEN AGAR MENGIKUTI ATURAN PEMAKAIAN ANTIBIOTIK DAN SESUAI DENGAN KEADAAN EKONOMI PASIEN
MENGHAMBAT SINTESIS DINDING SEL MIKROBA
MENGHAMBAT SINTESIS PROTEIN SEL MIKROBA.
MEKANISME KERJA ANTIBIOTIK
ANTIBIOTIK BERDASARKAN SIFAT
ANTIBIOTIK BERDASARKAN SPEKTRUM
PEMILIHAN REGIMEN ANTIBIOTIK PADA INFEKSI ODONTOGEN
REAKSI ANTIBIOTIK
ERADIKASI INFEKSI
HIPERSENSITIVITAS
Terjadi 24 – 48 jam setelah pemberian, tanda – tanda yang menunjukkan adalah tanda perbaikan adanya suhu tubuh yang menurun, pembengkakan dan nyeri berkurang, serta berkurangnya trismus (bila ada).
Eradikasi infeksi biasanya dicapai pada hari ke-3, umumnya untuk mencapai efek maximal antibiotik diperpanjang hingga 5 – 7 hari.
Bila pada hari ke-2 dan ke-3 tidak ada perbaikan, pasien harus di re-evaluasi.
Waspada terhadap reaksi hipersensitivitas.
PERKEMBANGAN
MONITORING PASIEN
PEMILIHAN REGIMEN SINGLE-DOSE PROPILAKSIS PADA PROSEDUR KEDOKTERAN GIGI
KONDISI KARDIOLOGI YANG MEMBUTUHKAN ANTIBIOTIK PROPILAKSIS
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI DI TEMPAT PRAKTEK
PENANGANAN LIMBAH
KEBERSIHAN TANGAN
ETIKA BATUK
ALAT PELINDUNG DIRI
KEWASPADAAN
STANDAR
KEAMANAN BENDA TAJAM
KEWASPADAAN BERBASIS TRANSMISI
01
02
KEWASPADAAN DROPLET
KEWASPADAAN KONTAK
PASIEN YANG DIKETAHUI ATAU DIDUGA TERINFEKSI MIKROORGANISME YANG DITULARKAN DALAM JARAK PENDEK OLEH DROPLET PERNAPASAN YANG BESAR
CONTOH : SARS-COV2, INFLUENZA
PASIEN YANG MEMILIKI DRAINASE LUKA YANG TIDAK TERKONTROL ATAU SINDROM LAIN YANG MENUNJUKKAN PENINGKATAN RISIKO PENULARAN MELALUI KONTAK. PENEGAKAN KEWASPADAAN STANDAR YANG KETAT,
CONTOH : HEPATITIS B
ASEPSIS DAN MANAJEMEN BEDAH
TEKNIK ASEPTIK
Teknik aseptik melindungi pasien selama prosedur klinis invasif dengan menggunakan
tindakan IPC yang sedapat mungkin meminimalkan keberadaan mikroorganisme patogen.
Teknik aseptik bertujuan untuk mencegah masuknya mikroorganisme dari tangan, permukaan
dan peralatan ke tempat steril yang rentan.
ASEPSIS DAN MANAJEMEN BEDAH
TEKNIK ASEPTIK STANDAR
Prosedur klinis yang dikelola dengan teknik aseptik standar secara teknis sederhana
dan berdurasi pendek (kurang lebih <20 menit).
TEKNIK ASEPTIK BEDAH
Teknik aseptik bedah diperlukan ketika prosedur secara teknis rumit, dan durasinya
lebih lama. Sebuah area aseptik kritis utama dan sarung tangan steril dan penghalang
pelindung (misalnya drape) diperlukan
PROSEDUR OPERASI
Prinsip-prinsip teknik aseptik steril harus diterapkan pada semua prosedur pembedahan di mana pemasukan ke dalam jaringan steril dilakukan termasuk insisi ke dalam
jaringan lunak mukosa, penetrasi bedah tulang atau peninggian flap mukoperiosteal
Prosedur kebersihan tangan bedah (surgical scrub) diperlukan sebelum tugas atau prosedur aseptik. Persiapan tangan bedah mengurangi pelepasan bakteri kulit dari tangan tim bedah selama prosedur; menghilangkan flora transien dan mengurangi flora residen
LANGKAH-LANGKAH SEBELUM MEMULAI PERSIAPAN CUCI TANGAN BEDAH
01
02
03
JAGA AGAR KUKU TETAP PENDEK DAN PERHATIKAN SAAT MENCUCI TANGAN
JAGA AGAR KUKU TETAP PENDEK DAN PERHATIKAN SAAT MENCUCI TANGAN
LEPASKAN SEMUA PERHIASAN
04
LAKUKAN CUCI SCRUB BEDAH ATAU HANDRUB BEDAH
LINGKUNGAN UNIT LAYANAN GIGI
ZONA BERSIH
Zona bersih dari praktik gigi adalah di mana tidak ada kegiatan perawatan pasien yaitu.
ruang staf, area kantor, area tunggu dan resepsionis, area persediaan penyimpanan dan
instrumen dan peralatan yang disterilkan
ZONA TERKONTAMINASI
Di dalam area operasi gigi, zona yang terkontaminasi harus didefinisikan dengan jelas karena hal ini berimplikasi pada manajemen permukaan dan penempatan peralatan. Tujuan selama perawatan gigi adalah untuk membatasi dan menahan kontaminasi di dalam zona ini
Selama perawatan gigi, semua permukaan dan benda-benda di dalam zona yang terkontaminasi dianggap terkontaminasi. Pembersihan dan desinfeksi menyeluruh harus dilakukan termasuk permukaan yang tampaknya tidak terkontaminasi.
MENGELOLA LIMBAH KLINIS
Pengelolaan limbah medis dan limbah yang terkait, disebut juga dengan limbah terkontaminasi. harus sesuai dengan peraturan nasional dan institusi.
GIGI YANG DICABUT DAN TUMPAHAN DARAH
Gigi yang dicabut tidak diklasifikasikan sebagai limbah biomedis dan harus ditangani secara berbeda. Gigi yang dicabut dapat dikembalikan kepada pasien tanpa pertimbangan khusus, selain pembersihan sederhana dari darah yang terlihat dan debris kotor
Jika darah tumpah, baik dari wadah atau sebagai akibat dari prosedur operasi, tumpahan harus ditangani sesegera mungkin. Darah yang tumpah harus ditutup seluruhnya dengan handuk sekali pakai, yang kemudian diolah dengan larutan natrium hipoklorit 10.000 ppm atau dengan butiran natrium dikloroisosianurat
IRIGASI AREA BEDAH
prosedur bedah mulut sebagai prosedur yang melibatkan sayatan, eksisi, atau refleksi jaringan yang memperlihatkan area rongga mulut yang biasanya steril. Ini termasuk prosedur seperti gingivektomi, ekstraksi molar ketiga yang impaksi, biopsi jaringan lunak, dan pembentukan kembali tulang
Gunakan hanya air steril atau saline steril saat mengairi lokasi bedah yang terbuka dan setiap kali tulang dipotong selama prosedur bedah invasif. Ini mengurangi risiko infeksi lokal atau sistemik.
PENANGANAN DAN PEMROSESAN ULANG INSTRUMEN
01
02
Sesuai dengan Pedoman APSIC untuk Disinfeksi dan Sterilisasi Instrumen
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan 2017, prosedur yang tepat harus tersedia untuk
menampung, mengangkut dan menangani instrumen dan peralatan yang mungkin
terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh.
INSTRUMEN KRITIS
INSTRUMEN SEMI KRITIS
INSTRUMEN TIDAK KRITIS
instrumen bedah dan skaler periodontal, adalah yang
digunakan untuk menembus jaringan lunak atau tulang. Mereka memiliki risiko
terbesar dalam menularkan infeksi dan harus selalu disterilkan menggunakan panas
Instrumen (kaca mulut, kondensor amalgam dll) yang bersentuhan dengan
selaput lendir atau kulit yang tidak utuh (misalnya, kulit terbuka yang pecah-pecah,
terkikis, atau memiliki dermatitis). Barang-barang ini memiliki risiko penularan yang
lebih rendah
Instrumen (manset Tekanan darah, cone radiologi dkk) item yang hanya mengenai kulit utuh. Barang-barang
ini menimbulkan risiko penularan infeksi yang paling kecil. Jika barang-barang ini
dapat dilindungi oleh penghalang sekali pakai, hal tersebut yang biasanya disarankan.
03
METODE PEMBERSIHAN INSTRUMEN GIGI YANG DAPAT DIGUNAKAN KEMBALI
01
02
Peralatan pembersih otomatis (misalnya, pembersih ultrasonik, mesin cuci disinfektan)
harus digunakan untuk menghilangkan kotoran untuk meningkatkan efektivitas pembersihan
dan mengurangi paparan pekerja terhadap darah
WASHER-DISINFECTORS
PEMBERSIHAN ULTRASONIK
PEMBERSIHAN MANUAL
alternatif yang lebih baik karena proses pembersihan
dapat divalidasi dan instrumen dapat dianggap sebagai didesinfeksi pada akhir siklus
Pembersih ultrasonik dapat digunakan untuk pembersihan pra-sterilisasi. Praktik
semacam itu mengurangi kebutuhan akan pemrosesan secara manual dan meminimalkan
kemungkinan kerusakan oleh instrumen atau benda tajam yang terkontaminasi
Ini hanya boleh dilakukan jika tidak ada washer-disinfectors atau pembersih ultrasonik
yang tersedia. Pembersihan manual harus dilakukan di area tertutup, jauh dari area klinis.
Instrumen yang telah dibersihkan harus dibilas secara menyeluruh dengan air hangat
untuk menghilangkan semua bahan pembersih yang tersisa
03
DENTAL UNIT
01
02
WATERLINE HANDPIECE
ALAT-ALAT YANG MELEKAT
DENTAL UNIT DAN SEKITARNYA
Dijalankan dulu selama 20 – 30 detik sebelum digunakan pada pasien
Bila memungkinkan dibungkus sehingga mudah diganti atau dibersihkan minimal dengan ‘intermediate-level disinfectant’
Dibersihkan dengan Intermediate level disenfectant
03
Perlu dilakukan pengendalian pada mikroba yang menempel pada dental unit dan alat-alat yang menempel di sekitar nya
STERILISASI
METODE
TAHAPAN
PANAS
WASH
KIMIA
CLEANING
STERILISASI
STERILISASI
KERING / BASAH
GAS OZON, GAS FORMALDEHYDE, GAS ETHYLEN OXIDE
RADIASI
STERILIZATION
PROSES MEMBUNUH SEMUA MIKROORGANISME TERMASUK SPORA BAKTERI.
PENYIMPANAN BARANG YANG DISTERIL
Sterilitas barang yang dibungkus dapat dipertahankan
dengan batas waktu kecuali suatu kejadian (misalnya pembungkus yang sobek atau basah) menyebabkan kontaminasi. Instrumen dengan pembungkus yang rusak harus segera dibersihkan, dikemas ulang dan disterilkan ulang.
Penting untuk dicatat bahwa indikator fisik dan kimia tidak menjamin sterilisasi; namun, mereka membantu mendeteksi kesalahan prosedural dan malfungsi peralatan
KASIH
TERIMA