LEMBAGA KEUANGAN�MIKRO
M6KB1
Modul Perbankan, Lembaga Keuangan Mikro, Lembaga Keuangan Syariah
Muhammad Andryzal Fajar
Modul 6 KB 2
Pendahuluan
04
1
2
3
Capaian Pembelajaran
Mahasiswa menguasai teori dan aplikasi pencatatan yang ada di lembaga keuangan Mikro
Sub Capaian Pembelajaran
04
1
2
3
Sejarah Lembaga Keuangan Mikro
Sejarah LKM dapat ditelusuri kembali pada tahun 1895 dimana Raden Wiriaatmadja mendirikan “Bank Priyayi Purwokerto”. Satu tahun kemudian, dalam rangka membantu para petani yang mengalami kegagalan panen
Selanjutnya pada tahun 1905 mulai didirikan Bank Desa dengan modal yang berasal dari Lumbung Desa.
Pada tahun 1908 Pemerintah Pusat mengeluarkan buku pedoman untuk mendirikan, mengatur, dan mengurus serta mengawasi BKD
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 (UU Perbankan)
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (UU LKM).
Jenis-jenis Lembaga Keuangan Mikro
Badan Kredit Desa (BKD)
Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP)
Lembaga Perkreditan Kecamatan (LPK)
Lumbung Pitih Nagari (LPN)
Lembaga Perkreditan Desa (LPD)
Baitul Maalwat Tanwil (BMT)
Tujuan Lembaga Keuangan Mikro
Untuk mengurangi kemiskinan
Untuk memberdayakan perempuan atau kelompok masyarakat yang kurang beruntung
Untuk menciptakan lapangan kerja
Untuk membantu bisnis yang ada tumbuh
Untuk mendorong pengembangan bisnis baru
Manfaat Lembaga Keuangan Mikro
Badan hukum dan legalitas Usaha
Pembinaan dan pengawasan LKM
Pendanaan LKM
Peningkatan kapasitas LKM
Sinergi dengan lembaga lainnya
Penargetan
Langsung
Tidak Langsung
Target
Rasio Kesehatan LKM
1
2
3
4
5
Pencatatan Akuntansi
1. Biaya yang masih harus dibayar adalah biaya yang sudah terjadi dalam periode laporan keuangan namun belum dicatat atau belum dilunasi.
Contoh:
Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A meminjam uang dari Entitas B sebesar
Rp10.000.000,00 untuk masa pinjaman satu tahun dengan suku bunga 12% per tahun yang dibayarkan setiap tanggal 1 bulan berikutnya.
Maka ayat jurnal penyesuaian beban bunga yang dilakukan Entitas A pada tanggal 31 Desember 20xx adalah sebagai berikut:
Dr.Beban Bunga | Rp 100.000 | |
Cr. Bunga yg masih harus dibayar | | Rp 100.000 |
(Rp10.000.000,00 x 12% = Rp1.200.000,00 per tahun. Maka beban bunga per bulan adalah Rp100.000,00).
Pencatatan Akuntansi
2. Pendapatan yang masih harus diterima adalah pendapatan yang terjadi dalam periode laporan keuangan namun jumlah tersebut belum dilunasi pelanggan.
Contoh :
Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A menyewakan ruangan kepada Entitas B dengan pembayaran sewa bulanan sebesar Rp1.000.000,00 yang dibayarkan
setiap tanggal 1 buan berikutnya. Maka ayat jurnal penyesuaian pendapatan sewa yang dilakukan Entitas A pada tanggal 31 Desember 20x8 adalah
sebagai berikut:
Dr.Piutang Sewa | Rp 100.000 | |
Cr.Pendapatan bunga | | Rp 100.000 |
Pencatatan Akuntansi
3. Jika pembayaran atas pembelian barang atau jasa telah dilakukan entitas sebelum
manfaatnya dinikmati oleh entitas, maka entitas dapat mencatat pembayaran tersebut
sebagai beban dibayar di muka (aset) (Alternatif-1) atau sebagai beban (Alternatif-2).
Contoh :
Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A membayar tunai premi asuransi
Kendaraan sebesar Rp1.200.000,00 untuk periode 1 Desember 20xx
sampai 30 November 20Xx.
Dr.Asuransi dibayar dimuka | Rp 1.200.000 | |
Cr.Kas | | Rp 1.200.000 |
Alternatif 1 : Dicatat sebagai beban dibayar dimuka ( 1 Desember 20x8)
Pencatatan Akuntansi
Dr.Beban Asuransi | Rp 1.200.000 | |
Cr.Kas | | Rp 1.200.000 |
Alternatif 2 : Dicatat sebagai beban ( 1 Desember 20x8)
Pencatatan Akuntansi
4. Jika pendapatan telah diterima secara tunai sebelum entitas
memenuhi kewajibannya kepada pelanggan, maka entitas mencatat penerimaan tersebut sebagai pendapatan diterima di muka
(liabilitas) (Alternatif-1) atau sebagai pendapatan (Alternatif-2).
Contoh :
Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A menerima tunai
pembayaran untuk jasa konsultasi selama periode 1 Desember 20xx sampai 31 Mei 20xx senilai Rp6.000.000,00.
Pencatatan Akuntansi
Dr.Kas | Rp 6.000.000 | |
Cr.Pendapatan diterima dimuka | | Rp 6.000.000 |
Alternatif 1 : Dicatat sebagai pendapatan diterima dimuka ( 1 Desember 20x8)
Dr.Kas | Rp 6.000.000 | |
Cr.Pendapatan | | Rp 6.000.000 |
Alternatif 2 : Dicatat sebagai pendapatan ( 1 Desember 20x8)
Pencatatan Akuntansi
5. Pembebanan persediaan barang dagang oleh entitas dapat dilakukan saat penjualan
(metode perpetual) atau saat akhir periode pelaporan (metode periodik). Entitas dapat memilih rumus biaya masuk-pertama keluar -pertama (MPKP) atau rata-rata
tertimbang untuk menentukan nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan (HPP).
Contoh :
Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A tidak memiliki saldo persediaan.
Pada tanggal 5 Desember 20xx, Entitas A membeli 1.000 unit persediaan pada biaya
perolehan Rp1.000,00 per unit. Pada tanggal 10 Desember 20xx, Entitas A membeli 1.000
unit persediaan pada biaya perolehan Rp1.100,00 per unit.
Pada tanggal 15 Desember 20xx, Entitas A menjual 1.000 unit persediaan dengan
harga jual Rp1.500,00 per unit secara tunai.
Metode MPKP - Perpetual
Metode ini mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli
akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam
persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian, serta HPP dicatat saat transaksi penjualan. Pencatatan saat terjadi penjualan:
Dr.Kas | Rp 1.500.000 | |
Cr.Penjualan | | Rp 1.500.000 |
Dr.HPP | Rp 1.000.000 | |
Cr.Persediaan | | Rp 1.000.000 |
Metode Rata-rata Tertimbang (Perpetual)
Metode ini mengasumsikan biaya setiap barang ditentukan berdasarkan biaya
rata-rata tertimbang persediaan awal periode dan persediaan yang dibeli atau diproduksi selama periode, serta HPP dicatat saat transaksi penjualan.
Pencatatan saat terjadi penjualan:
Dr.Kas | Rp 1.500.000 | |
Cr.Penjualan | | Rp 1.500.000 |
Dr.HPP | Rp 1.050.000 | |
Cr.Persediaan | | Rp 1.050.000 |
Metode Periodik
Dengan metode periodik, HPP dihitung dan dicatat entitas pada akhir periode pelaporan.Untuk persediaan barang dagang, HPP dihitung dengan formula
sebagai berikut:
Persediaan awal xxx
(+) Pembelian xxx
(-) Persediaan akhir (xxx)
(=) HPP xxx
Dengan rumus MPKP maka nilai persediaan akhir diasumsikan adalah nilai
pembelian terakhir. Sementara itu dengan rumus rata-rata, nilai persediaan akhir adalah nilai pembelian rata-rata. Pada contoh di atas sebagai berikut:
Rumus Biaya MPKP – Periodik |
Persediaan awal (+) Pembelian Rp2.100.000,00 (-) Persediaan akhir (Rp1.100.000,00) (=) HPP Rp1.000.000,00
Ayat jurnal penyesuaian (31 Desember 20xx): Dr. HPP Rp1.000.000,00 Cr. Persediaan Rp1.000.000,00 |
Metode Rata-Rata Tertimbang – Periodik |
Persediaan awal - (+) Pembelian Rp2.100.000,00 (-) Persediaan akhir (Rp1.050.000,00) (=) HPP Rp1.050.000,00
Ayat jurnal penyesuaian (31 Desember 20xx): Dr. HPP Rp1.050.000,00 Cr. Persediaan Rp1.050.000,00 |
Pencatatan Akuntansi
6. Entitas yang menerapkan ED SAK EMKM dapat memilih metode penyusutan tetap (a) garis lurus, atau (b) saldo menurun. Umur penyusutan mengikuti peraturan perpajakan yang berlaku.
Contoh :
Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A membeli sebuah furnitur kayu yang dicatat sebagai aset tetap. Biaya perolehan aset adalah Rp4.800.000,00.
Umur penyusutan furnitur kayu tersebut menurut ketentuan perpajakan di
Indonesia adalah 4 tahun (48 bulan).
Metode Garis lurus
Alternatif-1. Metode garis lurus
Tarif penyusutan tahun ke-1 =
100% / 4 tahun = 25%
Beban penyusutan tahun ke-1 =
Rp4.800.000,00 x 25% = Rp1.200.000,00
Beban penyusutan bulan Desember 20xx =
1/12 x Rp1.200.000,00 = Rp100.000,00
Ayat jurnal penyesuaian untuk Alternatif-1 (31 Desember 20xx)
Dr.Beban penyusutan furnitur Rp100.000,00
Cr.Akumulasi penyusutan furnitur Rp100.000,00
Metode Saldo Menurun
Alternatif-2. Metode Saldo Menurun
Tarif penyusutan tahun ke-1 =
100% / 4 tahun = 25% x 2 = 50%
Beban penyusutan tahun ke-1 =
Rp4.800.000,00 x 50% = Rp2.400.000
Beban penyusutan bulan Desember 20xx =
1/12 x Rp2.400.000,00= Rp200.000,00
Ayat jurnal penyesuaian untuk Alternatif-2 (31 Desember 20xx)
Dr.Beban penyusutan furnitur Rp200.000,00
Cr.Akumulasi penyusutan furnitur Rp200.000,00
Pencatatan Akuntansi
7. Aset tak berwujud yang perolehannya tidak dapat dipisahkan dengan perolehan aset tetap.
Contoh :
Entitas membeli perangkat komputer, termasuk lisensi penggunaan perangkat
lunak(software) untuk 4 tahun. Biaya perolehan komputer dan perangkat lunak tersebutmasing-masing Rp1.800.000 dan Rp200.000.
Umur manfaat perangkat komputer ditetapkan entitas adalah 4 tahun.
Pencatatan Akuntansi
Perlakuan akuntansi – pengakuan awal:
Entitas mencatat perangkat lunak sebagai bagian dari aset tetap dengan
biaya perolehan aset tetap sebesar Rp2.000.000,00
(Rp1.800.000,00 ditambahkan dengan Rp200.000,00).
Perlakuan akuntansi – pengukuran setelah pengakuan awal:
Aset tetap disusutkan berdasarkan umur manfaat dan metode penyusutan
perangkat komputer.
Pencatatan Akuntansi
8. Aset berwujud yang diperoleh secara terpisah
Contoh :
Entitas telah memiliki perangkat komputer. Seiring dengan perkembangan usaha,
entitas membeli lisensi perangkat lunak akuntansi dengan harga perolehan sebesar
Rp500.000,00 yang dapat digunakan selama 5 tahun.
Perlakuan akuntansi – pengakuan awal:
Entitas mencatat perolehan perangkat lunak akuntansi sebagai beban dibayar di muka
sebesar Rp500.000,00, dengan jurnal sebagai berikut:
Dr. Beban dibayar di muka Rp500.000,00
Cr.Kas Rp500.000,00
Pencatatan Akuntansi
Perlakuan akuntansi – pengukuran setelah pengakuan awal:
Amortisasi perangkat lunak akuntansi pada akhir periode tahun
pertama Adalah Rp100.000,00
(Rp500.000,00 dibagikan dengan 5 tahun) dengan jurnal sebagai berikut:
Dr Beban Amortisasi Rp100.000,00
Cr.Beban dibayar di muka Rp100.000,00
Pencatatan Akuntansi
9. Deposito
Contoh :
Entitas membuka deposito pada Bank ABC dengan setoran sebesar Rp10.000.000,00.
Entitas mencatat ayat jurnal sebagai berikut:
Dr. Deposito pada Bank ABC Rp10.000.000,00
Cr.Kas Rp10.000.000,00
Pada saat jatuh tempo, entitas mencairkan deposito tersebut dan memperoleh bunga
sebesar Rp500.000,00.
Dr.Kas Rp10.500.000,00
Cr.Penghasilan lain-lain Rp500.000,00
Cr.Deposito pada Bank ABC Rp10.000.000,00
Pencatatan Akuntansi
10. Hibah Pemerintah
Contoh :
Melalui program bantuan dana dari Pemerintah, pada tanggal 10 Oktober
entitas menerima dana hibah sebesar Rp18.000.000,00 yang akan
digunakan untuk menambah modal usaha aksesoris handphone.
Pada tanggal 10 Oktober, entitas mencatat ayat jurnal sebagai berikut:
Dr. Kas Rp18.000.000,00
Cr Penghasilan dari Hibah Pemerintah Rp18.000.000,00
Pencatatan Akuntansi pada Koperasi
koperasi.
Dr.Kas | Rp 100.000.000 | |
Cr.Simpanan Pokok | | Rp 100.000.000 |
Pencatatan Akuntansi pada Koperasi
2. Pada tanggal 6 April 2010, Koperasi Sejahtera Mandiri membeli peralatan
kantor di Toko ABC seharga Rp 22.000.000,00 dan dibayar secara tunai
Rp 7.000.000,00 dan sisanya akan dibayar kemudian.
Dr.Peralatan Kantor | Rp 22.000.000 | |
Cr.Kas | | Rp 7.000.000 |
Cr.Utang Usaha | | Rp 15.000.000 |
Pencatatan Akuntansi pada Koperasi
3. Tanggal 7 April 2010, Koperasi Sejahtera Mandiri membeli
peralatan kantor seharga Rp 2.000.000 dibayar secara tunai.
Dr.Peralatan Kantor | Rp 2.000.000 | |
Cr.Kas | | Rp 2.000.000 |
Pencatatan Akuntansi pada Koperasi
4. Tanggal 2 Mei 2010, setiap anggota koperasi menyetorkan uang
sebesar Rp 25.000,00 sebagai simpanan wajib anggota.
Dr.Kas | Rp 5.000.000 | |
Cr.Simpanan Wajib | | Rp 5.000.000 |
Pencatatan Akuntansi pada Koperasi
5. Pada tanggal 5 Mei 2010, Koperasi memperoleh kredit usaha dari Bank Mandiri sebesar Rp 60.000.000,00.
Kas | Rp 60.000.000 | |
Utang Bank | | Rp 60.000.000 |
Pencatatan Akuntansi pada Koperasi
6. Tanggal 6 Mei 2010, seorang anggota koperasi menyimpan uangnya sebesar Rp 12.000.000 di koperasi Sejahtera Mandiri.
Kas | Rp 12.000.000 | |
Simpanan Sukarela | | Rp 12.000.000 |
Pencatatan Akuntansi pada Koperasi
7. Tanggal 10 Mei 2010, koperasi “Sejahtera Mandiri” memberikan pinjaman uang kepada 24 orang anggotanya sebesar Rp 5.000.000 per orang,
dengan nilai total pinjaman sebesar Rp 120.000.000 pada suku bungan
3% per bulan.
Piutang Anggota | Rp 120.000.000 | |
Kas | | Rp 120.000.000 |
Pencatatan Akuntansi pada Koperasi
8. Tanggal 29 Mei 2010, anggota koperasi yang meminjam uang
pada koperasi membayar angsuran pokok, bunga pinjaman, dan
jasa provisi sebesar Rp 18.000.000,00. Dari jumlah tersebut sebesar
Rp 12.000.000,00 merupakan angsuran pokok pinjaman, sebesar
Rp 3.600.000,00 merupakan pembayaran bunga pinjaman, dan
sebesar Rp 2.400.000 merupakan jasa provisi.
Dr.Kas | Rp 18.000.000 | |
Cr.PiutangAnggota | | Rp 12.000.000 |
Cr.Partisipasi Jasa Pinjaman | | Rp 3.600.000 |
Cr. Partisipasi Jasa Provisi | | Rp 2.400.000 |
Pencatatan Akuntansi pada Koperasi
Dr.Gaji | Rp 1.200.000 | |
Dr.Beban Bunga | Rp 900.000 | |
Cr.Kas | | Rp 2.100.000 |
9. Tanggal 30 Mei 2010, dibayar gaji dua orang karyawan koperasi sebesar
Rp 600.000,00 per orang. Kedua karyawan tersebut mulai bekerja tanggal 1 Mei 2010.Pada saat yang sama, koperasi membayar beban bunga
pinjaman ke Bank Mandiri sebesar Rp 900.000,00.
Pencatatan Akuntansi pada Koperasi
10. Tanggal 31 Mei 2010, koperasi Sejahtera Mandiri membayar
sebagian utangnya kepada Toko ABC sebesar Rp 900.000,00.
Dr.Utang Usaha | Rp 900.000.000 | |
Cr.Kas | | Rp 90.000.000 |
Pencatatan Jurnal Penyesuaian
1. Beban Pemakaian Perlengkapan
Dr.Beban Pemakaian Perlengkapan | xxx | |
Cr.Perlengkapan Kantor | | xxx |
Perlengkapan kantor yang dibeli koperasi pada suatu saat sering kali tidak
dihitung dan dicatat pemakaiannya. Pada akhir periode akuntansi, baru
dihitung sisa perlengkapan tersebut. Saldo perlengkapan pada buku besar
dikurangi dengan nilai yang diperoleh pada saat stock opname
(perhitungan fisik) perlengkapan merupakan bahan pemakaian perlengkapan.
Pencatatan Jurnal Penyesuaian
2. Beban Penyusutan Aktiva Tetap
Dr.Beban Penyusutan Peralatan/ Bangunan | xxx | |
Cr.Akumulasi Penyusutan Peralatan/Bangunan | | xxx |
Nilai atau harga perolehan aktiva tetap yang dibeli pada suatu saat harus
dibagi dengan jumlah periode waktu yang menikmati manfaat aktiva tetap
tersebut agar pembagian (alokasi) biaya pembelian aktiva tetap itu lebih adil
dan merata.
Pencatatan Jurnal Penyesuaian
3. Beban Sewa Kantor
Dr.Beban Sewa Kantor | xxx | |
Cr. Sewa Kantor dibayar dimuka | | xxx |
Sewa kantor yang dibayar pada suatu saat sering kali berlaku selama beberapa
periode akuntansi. Pada saat sewa kantor dibayarkan, hal itu belum menjadi
beban bagi periode tersebut sehingga diakui sebagai sewa kantor dibayar dimuka. Setelah suatu periode yang menikmati manfaat dari kantor yang disewa tersebut berlalu,periode tersebut harus dibebankan beban sewa kantor yang dihitung
secara proporsional dengan lamanya sewa.
Pencatatan Jurnal Penyesuaian
4. Utang Gaji
Dr.Gaji Pegawai | xxx | |
Cr.Utang Gaji | | xxx |
Terkadang gaji yang menjadi beban pada suatu periode tertentu dan harus dibayarkan pada periode tersebut belum dibayarkan sampai
akhir periode bersangkutan. Karenanya, hal ini menjadi utang gaji
bagi periode tersebut.
Thank you