1 of 46

LEMBAGA KEUANGAN�MIKRO

M6KB1

Modul Perbankan, Lembaga Keuangan Mikro, Lembaga Keuangan Syariah

2 of 46

Muhammad Andryzal Fajar

Modul 6 KB 2

3 of 46

Pendahuluan

04

    • Pemerintah mendorong pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dan (UMKM) di perlukan dukungan yang komprehensif dari lembaga keuangan.

1

    • Kegiatan usaha LKM meliputi jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat, baik melalui pinjaman atau pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat, pengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha

2

    • LKM sebagai lembaga pembangunan adalah untuk melayani kebutuhan keuangan pasar yang belum terlayani sebagai sarana mencapai tujuan pembangunan.

3

4 of 46

Capaian Pembelajaran

Mahasiswa menguasai teori dan aplikasi pencatatan yang ada di lembaga keuangan Mikro

5 of 46

Sub Capaian Pembelajaran

04

    • Mampu konsep jenis Lembaga Keuangan Mikro

1

    • Mampu memahami produk dan jasa di Lembaga Keuangan Mikro

2

    • Mampu menerapkan pencatatan akuntansi di Lembaga Keuangan Mikro

3

6 of 46

Sejarah Lembaga Keuangan Mikro

Sejarah LKM dapat ditelusuri kembali pada tahun 1895 dimana Raden Wiriaatmadja mendirikan “Bank Priyayi Purwokerto”. Satu tahun kemudian, dalam rangka membantu para petani yang mengalami kegagalan panen

Selanjutnya pada tahun 1905 mulai didirikan Bank Desa dengan modal yang berasal dari Lumbung Desa.

Pada tahun 1908 Pemerintah Pusat mengeluarkan buku pedoman untuk mendirikan, mengatur, dan mengurus serta mengawasi BKD

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 (UU Perbankan)

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (UU LKM).

7 of 46

Jenis-jenis Lembaga Keuangan Mikro

Badan Kredit Desa (BKD)

Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP)

Lembaga Perkreditan Kecamatan (LPK)

Lumbung Pitih Nagari (LPN)

Lembaga Perkreditan Desa (LPD)

Baitul Maalwat Tanwil (BMT)

8 of 46

Tujuan Lembaga Keuangan Mikro

Untuk mengurangi kemiskinan

Untuk memberdayakan perempuan atau kelompok masyarakat yang kurang beruntung

Untuk menciptakan lapangan kerja

Untuk membantu bisnis yang ada tumbuh

Untuk mendorong pengembangan bisnis baru

9 of 46

Manfaat Lembaga Keuangan Mikro

Badan hukum dan legalitas Usaha

Pembinaan dan pengawasan LKM

Pendanaan LKM

Peningkatan kapasitas LKM

Sinergi dengan lembaga lainnya

10 of 46

Penargetan

Langsung

Tidak Langsung

Target

11 of 46

Rasio Kesehatan LKM

1

    • Rasio Likuiditas

2

    • Rasio Solvabilitas

3

    • Rasio Batas Maksimum Pemberian Pinjaman

4

    • Rasio Non Performing Loan (NPL)

5

    • Rasio Penghapusan Pinjaman (PPP)

12 of 46

Pencatatan Akuntansi

1. Biaya yang masih harus dibayar adalah biaya yang sudah terjadi dalam periode laporan keuangan namun belum dicatat atau belum dilunasi.

Contoh:

Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A meminjam uang dari Entitas B sebesar

Rp10.000.000,00 untuk masa pinjaman satu tahun dengan suku bunga 12% per tahun yang dibayarkan setiap tanggal 1 bulan berikutnya.

Maka ayat jurnal penyesuaian beban bunga yang dilakukan Entitas A pada tanggal 31 Desember 20xx adalah sebagai berikut:

Dr.Beban Bunga

Rp 100.000

Cr. Bunga yg masih harus dibayar

Rp 100.000

(Rp10.000.000,00 x 12% = Rp1.200.000,00 per tahun. Maka beban bunga per bulan adalah Rp100.000,00).

13 of 46

Pencatatan Akuntansi

2. Pendapatan yang masih harus diterima adalah pendapatan yang terjadi dalam periode laporan keuangan namun jumlah tersebut belum dilunasi pelanggan.

Contoh :

Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A menyewakan ruangan kepada Entitas B dengan pembayaran sewa bulanan sebesar Rp1.000.000,00 yang dibayarkan

setiap tanggal 1 buan berikutnya. Maka ayat jurnal penyesuaian pendapatan sewa yang dilakukan Entitas A pada tanggal 31 Desember 20x8 adalah

sebagai berikut:

Dr.Piutang Sewa

Rp 100.000

Cr.Pendapatan bunga

Rp 100.000

14 of 46

Pencatatan Akuntansi

3. Jika pembayaran atas pembelian barang atau jasa telah dilakukan entitas sebelum

manfaatnya dinikmati oleh entitas, maka entitas dapat mencatat pembayaran tersebut

sebagai beban dibayar di muka (aset) (Alternatif-1) atau sebagai beban (Alternatif-2).

Contoh :

Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A membayar tunai premi asuransi

Kendaraan sebesar Rp1.200.000,00 untuk periode 1 Desember 20xx

sampai 30 November 20Xx.

Dr.Asuransi dibayar dimuka

Rp 1.200.000

Cr.Kas

Rp 1.200.000

Alternatif 1 : Dicatat sebagai beban dibayar dimuka ( 1 Desember 20x8)

15 of 46

Pencatatan Akuntansi

Dr.Beban Asuransi

Rp 1.200.000

Cr.Kas

Rp 1.200.000

Alternatif 2 : Dicatat sebagai beban ( 1 Desember 20x8)

16 of 46

Pencatatan Akuntansi

4. Jika pendapatan telah diterima secara tunai sebelum entitas

memenuhi kewajibannya kepada pelanggan, maka entitas mencatat penerimaan tersebut sebagai pendapatan diterima di muka

(liabilitas) (Alternatif-1) atau sebagai pendapatan (Alternatif-2).

Contoh :

Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A menerima tunai

pembayaran untuk jasa konsultasi selama periode 1 Desember 20xx sampai 31 Mei 20xx senilai Rp6.000.000,00.

17 of 46

Pencatatan Akuntansi

Dr.Kas

Rp 6.000.000

Cr.Pendapatan diterima dimuka

Rp 6.000.000

Alternatif 1 : Dicatat sebagai pendapatan diterima dimuka ( 1 Desember 20x8)

Dr.Kas

Rp 6.000.000

Cr.Pendapatan

Rp 6.000.000

Alternatif 2 : Dicatat sebagai pendapatan ( 1 Desember 20x8)

18 of 46

Pencatatan Akuntansi

5. Pembebanan persediaan barang dagang oleh entitas dapat dilakukan saat penjualan

(metode perpetual) atau saat akhir periode pelaporan (metode periodik). Entitas dapat memilih rumus biaya masuk-pertama keluar -pertama (MPKP) atau rata-rata

tertimbang untuk menentukan nilai persediaan akhir dan harga pokok penjualan (HPP).

Contoh :

Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A tidak memiliki saldo persediaan.

Pada tanggal 5 Desember 20xx, Entitas A membeli 1.000 unit persediaan pada biaya

perolehan Rp1.000,00 per unit. Pada tanggal 10 Desember 20xx, Entitas A membeli 1.000

unit persediaan pada biaya perolehan Rp1.100,00 per unit.

Pada tanggal 15 Desember 20xx, Entitas A menjual 1.000 unit persediaan dengan

harga jual Rp1.500,00 per unit secara tunai.

19 of 46

Metode MPKP - Perpetual

Metode ini mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli

akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam

persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian, serta HPP dicatat saat transaksi penjualan. Pencatatan saat terjadi penjualan:

Dr.Kas

Rp 1.500.000

Cr.Penjualan

Rp 1.500.000

Dr.HPP

Rp 1.000.000

Cr.Persediaan

Rp 1.000.000

20 of 46

Metode Rata-rata Tertimbang (Perpetual)

Metode ini mengasumsikan biaya setiap barang ditentukan berdasarkan biaya

rata-rata tertimbang persediaan awal periode dan persediaan yang dibeli atau diproduksi selama periode, serta HPP dicatat saat transaksi penjualan.

Pencatatan saat terjadi penjualan:

Dr.Kas

Rp 1.500.000

Cr.Penjualan

Rp 1.500.000

Dr.HPP

Rp 1.050.000

Cr.Persediaan

Rp 1.050.000

21 of 46

Metode Periodik

Dengan metode periodik, HPP dihitung dan dicatat entitas pada akhir periode pelaporan.Untuk persediaan barang dagang, HPP dihitung dengan formula

sebagai berikut:

Persediaan awal xxx

(+) Pembelian xxx

(-) Persediaan akhir (xxx)

(=) HPP xxx

Dengan rumus MPKP maka nilai persediaan akhir diasumsikan adalah nilai

pembelian terakhir. Sementara itu dengan rumus rata-rata, nilai persediaan akhir adalah nilai pembelian rata-rata. Pada contoh di atas sebagai berikut:

22 of 46

Rumus Biaya MPKP – Periodik

Persediaan awal

(+) Pembelian Rp2.100.000,00

(-) Persediaan akhir (Rp1.100.000,00)

(=) HPP Rp1.000.000,00

 

Ayat jurnal penyesuaian (31 Desember 20xx):

Dr. HPP Rp1.000.000,00

Cr. Persediaan Rp1.000.000,00

Metode Rata-Rata Tertimbang – Periodik

Persediaan awal -

(+) Pembelian Rp2.100.000,00

(-) Persediaan akhir (Rp1.050.000,00)

(=) HPP Rp1.050.000,00

 

Ayat jurnal penyesuaian (31 Desember 20xx):

Dr. HPP Rp1.050.000,00

Cr. Persediaan Rp1.050.000,00

23 of 46

Pencatatan Akuntansi

6. Entitas yang menerapkan ED SAK EMKM dapat memilih metode penyusutan tetap (a) garis lurus, atau (b) saldo menurun. Umur penyusutan mengikuti peraturan perpajakan yang berlaku.

Contoh :

Pada tanggal 1 Desember 20xx, Entitas A membeli sebuah furnitur kayu yang dicatat sebagai aset tetap. Biaya perolehan aset adalah Rp4.800.000,00.

Umur penyusutan furnitur kayu tersebut menurut ketentuan perpajakan di

Indonesia adalah 4 tahun (48 bulan).

24 of 46

Metode Garis lurus

Alternatif-1. Metode garis lurus

Tarif penyusutan tahun ke-1 =

100% / 4 tahun = 25%

 

Beban penyusutan tahun ke-1 =

Rp4.800.000,00 x 25% = Rp1.200.000,00

Beban penyusutan bulan Desember 20xx =

1/12 x Rp1.200.000,00 = Rp100.000,00

 

Ayat jurnal penyesuaian untuk Alternatif-1 (31 Desember 20xx)

Dr.Beban penyusutan furnitur Rp100.000,00

Cr.Akumulasi penyusutan furnitur Rp100.000,00

25 of 46

Metode Saldo Menurun

Alternatif-2. Metode Saldo Menurun

Tarif penyusutan tahun ke-1 =

100% / 4 tahun = 25% x 2 = 50%

Beban penyusutan tahun ke-1 =

Rp4.800.000,00 x 50% = Rp2.400.000

Beban penyusutan bulan Desember 20xx =

1/12 x Rp2.400.000,00= Rp200.000,00

 

Ayat jurnal penyesuaian untuk Alternatif-2 (31 Desember 20xx)

Dr.Beban penyusutan furnitur Rp200.000,00

Cr.Akumulasi penyusutan furnitur Rp200.000,00

26 of 46

Pencatatan Akuntansi

7. Aset tak berwujud yang perolehannya tidak dapat dipisahkan dengan perolehan aset tetap.

Contoh :

Entitas membeli perangkat komputer, termasuk lisensi penggunaan perangkat

lunak(software) untuk 4 tahun. Biaya perolehan komputer dan perangkat lunak tersebutmasing-masing Rp1.800.000 dan Rp200.000.

Umur manfaat perangkat komputer ditetapkan entitas adalah 4 tahun.

27 of 46

Pencatatan Akuntansi

Perlakuan akuntansi – pengakuan awal:

Entitas mencatat perangkat lunak sebagai bagian dari aset tetap dengan

biaya perolehan aset tetap sebesar Rp2.000.000,00

(Rp1.800.000,00 ditambahkan dengan Rp200.000,00).

Perlakuan akuntansi – pengukuran setelah pengakuan awal:

Aset tetap disusutkan berdasarkan umur manfaat dan metode penyusutan

perangkat komputer.

28 of 46

Pencatatan Akuntansi

8. Aset berwujud yang diperoleh secara terpisah

Contoh :

Entitas telah memiliki perangkat komputer. Seiring dengan perkembangan usaha,

entitas membeli lisensi perangkat lunak akuntansi dengan harga perolehan sebesar

Rp500.000,00 yang dapat digunakan selama 5 tahun.

Perlakuan akuntansi – pengakuan awal:

Entitas mencatat perolehan perangkat lunak akuntansi sebagai beban dibayar di muka

sebesar Rp500.000,00, dengan jurnal sebagai berikut:

Dr. Beban dibayar di muka Rp500.000,00

Cr.Kas Rp500.000,00

29 of 46

Pencatatan Akuntansi

Perlakuan akuntansi – pengukuran setelah pengakuan awal:

Amortisasi perangkat lunak akuntansi pada akhir periode tahun

pertama Adalah Rp100.000,00

(Rp500.000,00 dibagikan dengan 5 tahun) dengan jurnal sebagai berikut:

 

Dr Beban Amortisasi Rp100.000,00

Cr.Beban dibayar di muka Rp100.000,00

30 of 46

Pencatatan Akuntansi

9. Deposito

Contoh :

Entitas membuka deposito pada Bank ABC dengan setoran sebesar Rp10.000.000,00.

Entitas mencatat ayat jurnal sebagai berikut:

Dr. Deposito pada Bank ABC Rp10.000.000,00

Cr.Kas Rp10.000.000,00

Pada saat jatuh tempo, entitas mencairkan deposito tersebut dan memperoleh bunga

sebesar Rp500.000,00.

Dr.Kas Rp10.500.000,00

Cr.Penghasilan lain-lain Rp500.000,00

Cr.Deposito pada Bank ABC Rp10.000.000,00

31 of 46

Pencatatan Akuntansi

10. Hibah Pemerintah

Contoh :

Melalui program bantuan dana dari Pemerintah, pada tanggal 10 Oktober

entitas menerima dana hibah sebesar Rp18.000.000,00 yang akan

digunakan untuk menambah modal usaha aksesoris handphone.

Pada tanggal 10 Oktober, entitas mencatat ayat jurnal sebagai berikut:

Dr. Kas Rp18.000.000,00

Cr Penghasilan dari Hibah Pemerintah Rp18.000.000,00

32 of 46

Pencatatan Akuntansi pada Koperasi

  1. Pada tanggal 2 April 2010, 200 orang karyawan PT. Duta Niaga menyerahkan uang sebesar Rp 500.000,00 per orang sebagai simpanan pokok anggota

koperasi.

Dr.Kas

Rp 100.000.000

Cr.Simpanan Pokok

Rp 100.000.000

33 of 46

Pencatatan Akuntansi pada Koperasi

2. Pada tanggal 6 April 2010, Koperasi Sejahtera Mandiri membeli peralatan

kantor di Toko ABC seharga Rp 22.000.000,00 dan dibayar secara tunai

Rp 7.000.000,00 dan sisanya akan dibayar kemudian.

Dr.Peralatan Kantor

Rp 22.000.000

Cr.Kas

Rp 7.000.000

Cr.Utang Usaha

Rp 15.000.000

34 of 46

Pencatatan Akuntansi pada Koperasi

3. Tanggal 7 April 2010, Koperasi Sejahtera Mandiri membeli

peralatan kantor seharga Rp 2.000.000 dibayar secara tunai.

Dr.Peralatan Kantor

Rp 2.000.000

Cr.Kas

Rp 2.000.000

35 of 46

Pencatatan Akuntansi pada Koperasi

4. Tanggal 2 Mei 2010, setiap anggota koperasi menyetorkan uang

sebesar Rp 25.000,00 sebagai simpanan wajib anggota.

Dr.Kas

Rp 5.000.000

Cr.Simpanan Wajib

Rp 5.000.000

36 of 46

Pencatatan Akuntansi pada Koperasi

5. Pada tanggal 5 Mei 2010, Koperasi memperoleh kredit usaha dari Bank Mandiri sebesar Rp 60.000.000,00.

Kas

Rp 60.000.000

Utang Bank

Rp 60.000.000

37 of 46

Pencatatan Akuntansi pada Koperasi

6. Tanggal 6 Mei 2010, seorang anggota koperasi menyimpan uangnya sebesar Rp 12.000.000 di koperasi Sejahtera Mandiri.

Kas

Rp 12.000.000

Simpanan Sukarela

Rp 12.000.000

38 of 46

Pencatatan Akuntansi pada Koperasi

7. Tanggal 10 Mei 2010, koperasi “Sejahtera Mandiri” memberikan pinjaman uang kepada 24 orang anggotanya sebesar Rp 5.000.000 per orang,

dengan nilai total pinjaman sebesar Rp 120.000.000 pada suku bungan

3% per bulan.

Piutang Anggota

Rp 120.000.000

Kas

Rp 120.000.000

39 of 46

Pencatatan Akuntansi pada Koperasi

8. Tanggal 29 Mei 2010, anggota koperasi yang meminjam uang

pada koperasi membayar angsuran pokok, bunga pinjaman, dan

jasa provisi sebesar Rp 18.000.000,00. Dari jumlah tersebut sebesar

Rp 12.000.000,00 merupakan angsuran pokok pinjaman, sebesar

Rp 3.600.000,00 merupakan pembayaran bunga pinjaman, dan

sebesar Rp 2.400.000 merupakan jasa provisi.

Dr.Kas

Rp 18.000.000

Cr.PiutangAnggota

Rp 12.000.000

Cr.Partisipasi Jasa Pinjaman

Rp 3.600.000

Cr. Partisipasi Jasa Provisi

Rp 2.400.000

40 of 46

Pencatatan Akuntansi pada Koperasi

Dr.Gaji

Rp 1.200.000

Dr.Beban Bunga

Rp 900.000

Cr.Kas

Rp 2.100.000

9. Tanggal 30 Mei 2010, dibayar gaji dua orang karyawan koperasi sebesar

Rp 600.000,00 per orang. Kedua karyawan tersebut mulai bekerja tanggal 1 Mei 2010.Pada saat yang sama, koperasi membayar beban bunga

pinjaman ke Bank Mandiri sebesar Rp 900.000,00.

41 of 46

Pencatatan Akuntansi pada Koperasi

10. Tanggal 31 Mei 2010, koperasi Sejahtera Mandiri membayar

sebagian utangnya kepada Toko ABC sebesar Rp 900.000,00.

Dr.Utang Usaha

Rp 900.000.000

Cr.Kas

Rp 90.000.000

42 of 46

Pencatatan Jurnal Penyesuaian

1. Beban Pemakaian Perlengkapan

Dr.Beban Pemakaian Perlengkapan

xxx

Cr.Perlengkapan Kantor

xxx

Perlengkapan kantor yang dibeli koperasi pada suatu saat sering kali tidak

dihitung dan dicatat pemakaiannya. Pada akhir periode akuntansi, baru

dihitung sisa perlengkapan tersebut. Saldo perlengkapan pada buku besar

dikurangi dengan nilai yang diperoleh pada saat stock opname

(perhitungan fisik) perlengkapan merupakan bahan pemakaian perlengkapan.

43 of 46

Pencatatan Jurnal Penyesuaian

2. Beban Penyusutan Aktiva Tetap

Dr.Beban Penyusutan Peralatan/ Bangunan

xxx

Cr.Akumulasi Penyusutan Peralatan/Bangunan

xxx

Nilai atau harga perolehan aktiva tetap yang dibeli pada suatu saat harus

dibagi dengan jumlah periode waktu yang menikmati manfaat aktiva tetap

tersebut agar pembagian (alokasi) biaya pembelian aktiva tetap itu lebih adil

dan merata.

44 of 46

Pencatatan Jurnal Penyesuaian

3. Beban Sewa Kantor

Dr.Beban Sewa Kantor

xxx

Cr. Sewa Kantor dibayar dimuka

xxx

Sewa kantor yang dibayar pada suatu saat sering kali berlaku selama beberapa

periode akuntansi. Pada saat sewa kantor dibayarkan, hal itu belum menjadi

beban bagi periode tersebut sehingga diakui sebagai sewa kantor dibayar dimuka. Setelah suatu periode yang menikmati manfaat dari kantor yang disewa tersebut berlalu,periode tersebut harus dibebankan beban sewa kantor yang dihitung

secara proporsional dengan lamanya sewa.

45 of 46

Pencatatan Jurnal Penyesuaian

4. Utang Gaji

Dr.Gaji Pegawai

xxx

Cr.Utang Gaji

xxx

Terkadang gaji yang menjadi beban pada suatu periode tertentu dan harus dibayarkan pada periode tersebut belum dibayarkan sampai

akhir periode bersangkutan. Karenanya, hal ini menjadi utang gaji

bagi periode tersebut.

46 of 46

Thank you