1 of 54

WORKSHOP KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

KURIKULUM BERBASIS CINTA (KBC)di madrasah berdasarkan kepdirjen no. 6077 tahun 2025

Syamsuddin Rasyid

Sekjen Pokjawasmad Nasional

2 of 54

3 of 54

WARMING UP

  • Apa yang terbayang ketika mendengar kata “KBC”?
  • Apa itu KBC?
  • Apakah KBC menggantikan kurmer?
  • Mengapa guru mengajar/seluruh aktivitas harus didasari dengan CINTA?

4 of 54

  1. Latar Belakang
  2. Maksud dan Tujuan
  3. Pengguna Panduan
  4. Ruang Lingkup
  5. Pengertian Umum
  6. Cara Penggunaan Panduan

5 of 54

6 of 54

7 of 54

8 of 54

9 of 54

10 of 54

11 of 54

12 of 54

13 of 54

  • A. Konsep Cinta
  • Cinta dalam Perspektif Bangunan Ilmu (Ontologis, epistemology dan Aksiologi)
  • Realita dan Tantangan Dunia Defisit Cinta

14 of 54

15 of 54

16 of 54

  1. Cinta Dalam Perspektif Bangunan Ilmu
  1. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) adalah sebuah bangunan ilmu yang menawarkan perspektif holistik dan transformatif dalam pendidikan, berlandaskan pada prinsip cinta sebagai kekuatan fundamental yang mengikat seluruh eksistensi. Landasan filosofis KBC terbagi dalam tiga pilar utama, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi
  1. Tuhan, manusia, dan alam semesta (secara ontologis) merupakan satu kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan. Ketiganya saling mencerminkan dan manunggal (mushmat) dalam esensinya. Dalam kesatuan ini, beroperasi sebuah mekanisme fundamental yang disebut sympathea— saling cinta (‘isyq/hubb)—sebagai pondasi bagi terciptanya keserasian dan keseimbangan kehidupan

17 of 54

Cara mempelajari dan memahami realitas (Epistemologis)

Berdasarkan perspektif epistemologis, seluruh unsur alam semesta (maa siwaa Allaah) dan kehidupan adalah wadah bagi tanda-tanda kebesaran Allah (tajalli Al-Haqq). Setiap elemen, dari yang terkecil hingga yang terbesar, mengandung kebenaran dan kebaikan dalam keselarasan yang sempurna. Kesemuanya terikat dalam kesatuan manunggal oleh ikatan cinta

Penerapan serta etika (Aksiologis)

Secara aksiologis, manusia harus menjalani hidupnya dengan menjunjung tinggi etika dan akhlak luhur serta mengembangkan apresiasi mendalam terhadap keindahan yang berbasis cinta kepada semua unsur alam semesta.

Meskipun Al-Qur’an menggunakan istilah sakh-khara yang terkait dengan posisi dan fungsi alam terhadap manusia, istilah ini sama sekali tidak boleh diartikan sebagai izin bagi manusia untuk bersikap sewenang-wenang. Sebaliknya, sakh-khara harus dipahami sebagai pernyataan bahwa alam telah diciptakan untuk melayani kebutuhan manusia dalam konteks penghargaan yang mendalam terhadap alam sebagai bagian integral dari diri manusia

18 of 54

Realita dan Tantangan Dunia Defisit Cinta

Kesalahan cara pandang (Masalah Ontologis)

Pada level ontologis, masalah utama yang terjadi adalah hilangnya kesadaran akan hakikat realitas yang tunggal dan saling terhubung. Dunia modern cenderung melihat segala sesuatu terpisah.

Kesalahan Cara Menyerap Pengetahuan (Epistimologi) Tanpa landasan cinta yang menghubungkan, pengetahuan cenderung menjadi terkotak-kotak (atomistik). Seseorang hanya fokus pada detail-detail terpisah tanpa mampu melihat gambaran besar atau keterkaitan antarbagian.

Absennya Etika (Aksiologi) Hilangnya kesadaran ontologis dan kegagalan epistemologis berujung pada tindakan-tindakan destruktif seperti kekerasan, intoleransi, kerusakan alam yang masif, serta defisit integritas dan moral lainnya. Ini semua adalah cerminan dari etika yang tidak lagi berlandaskan pada cinta, melainkan pada egoisme, ketakutan, atau ketidaktahuan

19 of 54

A. KBC Menuju Indonesia Maju tahun 2045

B. Tujuan Kurikulum Berbasis Cinta: Menuju

Madrasah Penuh Cinta

C. Paradigma Kurikulum Berbasis Cinta

20 of 54

KBC Menuju Indonesia Maju tahun 2045

  • KBC untuk Indonesia Emas 2045 adalah menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya akan empati, kasih sayang, dan kesadaran akan keterhubungan universal. KBC membayangkan sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi harmoni dan keseimbangan di mana setiap individu memahami bahwa kesejahteraan diri terikat erat dengan kesejahteraan sesama manusia dan alam semesta. Ini adalah pergeseran paradigma dari kompetisi individualistik menuju kolaborasi yang dilandasi cinta.

21 of 54

��Menuju Madrasah Penuh Cinta

1. Madrasah Ramah Anak: Lingkungan Belajar yang Aman dan Toleran

Tujuan utama KBC adalah menciptakan Madrasah Ramah Anak, yaitu lingkungan belajar yang mengutamakan keamanan dan toleransi di atas segalanya

2. Murid Sejahtera secara Mental dan Spiritual

Melalui KBC, murid dibekali dengan keterampilan sosial dan emosional (SEL) yang kuat. Hal ini dapat membekali mereka untuk mengenali dan mengelola emosi diri, memahami orang lain, serta membangun hubungan yang sehat

3. Madrasah Ramah Lingkungan: Lingkungan Belajar yang Lestari, Bersih, dan Rapi

mewujudkan Madrasah Ramah Lingkungan. Ini mencakup penciptaan lingkungan belajar yang lestari, bersih, dan rapi di mana kesadaran akan pentingnya menjaga alam tertanam kuat dalam setiap aspek kehidupan madrasah.

22 of 54

�Paradigma Kurikulum Berbasis Cinta

1. Dari Teologi yang Maskulin Menjadi Teologi Cinta

  • Paradigma lama sering kali diwarnai oleh teologi yang maskulin di mana Tuhan dipandang lebih dominan dari sifat jalaliyah-Nya, seperti Maha Menghukum. Akibatnya, wajah agama—khususnya Islam—sering ditampilkan dalam budaya yang terkesan maskulin dan identik dengan kekerasan atau ketegasan yang kaku

2. Dari Nomos-Oriented Menjadi Eros-Oriented

Paradigma lama juga cenderung nomos-oriented, yaitu beragama dengan fokus pada hukum formal. Ibadah sering dilihat semata-mata sebagai kewajiban yang berkonsekuensi pahala atau dosa sehingga memicu kepatuhan yang didasari rasa takut atau harapan imbalan.

3. Dari Antroposentris Menjadi Ekoteologi

  • Secara tradisional, pandangan antroposentris menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa alam semesta yang sering kali berujung pada eksploitasi alam secara semena-mena tanpa mempertimbangkan dampaknya

4. Dari Atomistik Menjadi Holistik

Paradigma lama cenderung atomistik, memandang realitas sebagai sesuatu yang saling terpisah. Ini menciptakan pemisahan antara “aku” dan “yang lain” (the others). Paradigma ini sering kali memicu alienasi, prasangka, dan konflik

23 of 54

  1. Kosep Kurikulum
  2. Definisi KBC
  3. Landasan Pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta
  4. Prinsip dan Metode Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta
  5. Panca Cinta: Lima Topik Kurikulum Cinta

24 of 54

25 of 54

26 of 54

27 of 54

28 of 54

29 of 54

30 of 54

31 of 54

Metode Kurikulum Berbasis Cinta

      • Pembelajaran Berbasis Pengalaman: Mengutamakan pembelajaran yang bersifat praktis dan berbasis pengalaman. Kegiatan seperti proyek sosial, pengabdian masyarakat, dan pengalaman kolaboratif akan memperkuat pemahaman murid tentang cinta dalam aksi.
      • Pembelajaran Mendalam (deep leaerning): Proses internalsissi nilai dilakukan secara berkesadaran (mindful), menekankan pada pemaknaan (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
      • Pembelajaran yang Kreatif dan Inovatif: Menggunakan metode berpikir kreatif dan inovatif dalam pemecahan masalah seperti design for change atau design thinking.
      • Dialog dan Komunikasi Terbuka: Menerapkan komunikasi welas asih (compassionate communication), yang mengutamakan koneksi sebelum koreksi. Sehingga terbangun ruang aman (safe spaces) sehingga semua orang memiliki kemerdakaan untuk menyampaikan pendapat atas dasar saling percaya dan pengertian.
      • Evaluasi Berbasis Proses: Menggunakan metode evaluasi yang tidak hanya fokus pada hasil akademis, tetapi juga pada perkembangan karakter dan penerapan nilai-nilai cinta dalam kehidupan sehari-hari.

32 of 54

33 of 54

Implementasi

Kementerian Agama RI

Cinta

Ilmu

CINTA

Cinta Diri & Sesama manusia

Cinta

Tanah Air

Cinta Lingkungan

Topik Panca CInta

Tujuan

Insersi Pengalaman Belajar

Cinta Allah dan

Rasul-Nya

Mewujudkan Cinta

dalam Ruh Pendidikan

Syamsuddin Rasyid, S.Pd., M.Pd.I

34 of 54

Panca Cinta : Lima Topik Kurikulum Cinta�

  1. Cinta Allah dan Rasul-Nya
  2. Cinta Ilmu
  3. Cinta Lingkungan
  4. Cinta Diri dan Sesama Manusia
  5. Cinta Tanah Air

Allah SWT dan Rasulnya

Cinta Ilmu

Cinta Lingkungan

Cinta Diri dan Sesama Manusia

Relasi manusia dengan diri,

dengan sesama manusia, dan

dengan negara atau bangsa

Sumber Cinta

Tanda Cinta

Tali CInta

35 of 54

1

Di dalam Kegiatan Intra Kurikuler

2

Di dalam Kegiatan Kokurikuler

3

Di dalam Kegiatan Ekstrakurikuler

4

Di dalam Kegiatan Iklim / Budaya Madrasah

IMPLEMENTASI KBC

36 of 54

Langkah-Langkah KBC dalam

Kegiatan Pembelajaran

1

2

3

Memetakan CP dan Tema KBC

Menyusun RPP / Modul. Insersi Tema KBC sesuai Pemetaan di No. 1

Menerapkan dalam proses pembelajaran

37 of 54

1. Cinta Allah dan Rasulnya

38 of 54

2. Cinta Ilmu

39 of 54

3. Cinta Diri dan Sesama Manusia

40 of 54

4. Cinta Lingkungan

41 of 54

PEMETAAN CP DAN TEMA KBC

42 of 54

43 of 54

44 of 54

45 of 54

46 of 54

47 of 54

48 of 54

49 of 54

50 of 54

  1. Alur Program
  2. Evaluasi Kurikulum Berbasis Cinta
  3. Tahapan Penyusunan dan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta
  4. Tugas dan Tanggung Jawab
  5. Monitoring dan Evaluasi Penyelenggaraan Kurikulum Berbasis Cinta
  6. Pelaporan

51 of 54

52 of 54

53 of 54

TUGAS FGD

Memetakan CP dan Tema KBC

1.

Menyusun RPP/Modul Ajar

2.

Menerapkan

3.

54 of 54

TERIMAKASIH

WASSALAM

KBC