HUKUM ACARA PERDATA PERADILAN SYARIAT ISLAM DI NANGGORO ACEH DARUSALAM
Oleh: Dr. Gemala Dewi, SH., LL.M
Keberlakuan Syariat Islam di Indonesia
1). Tahkim
2). Ahlul Hilli wal Aqdi
3). Tauliyah�
SEJARAH PA DI INDONESIA
SEJARAH PA DI INDONESIA
Masa Pemerintahan Hindia Belanda II (Theorie Receptie): Stbl 1907 No.204= “diberlakukan”=> “diikuti”, Stb. 1919 No.286= “diikuti” => “memperhatikan”. Stb 1919 no.621= + Ps 75 ayat 6 = berlaku Hukum Perdata Th 1925 = RR => IS, Stbl 1925 No. 415 jo 447: Ps 78 RR => Ps 134 IS. Stb 1929 No 221=> isi Ps 134 (2) IS diubah menjadi Teori Receptie.
+ S.1937 No. 116 => Raad Agama & S. 1937 No. 610 => MIT di Jawa & Madura, S.1937 No. 638 & 639 KQ 7 KQB di Kalimantan Selatan & Timur. => kew kewarisan dihapus.
PERADILAN AGAMA
UU NO. 7/ 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA
UU NO. 3/2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UU NO. 7/1989 TENTANG PERADILAN AGAMA Jo. UU No, 50/2009.
Hal-hal yang diamandemen:
Cont’d
NAMA, STRUKTUR, DAN KEWENANGAN�PERADILAN AGAMA DI INDONESIA
| Di Jawa dan Madura | Di Kalsel dan Kaltim | Diluar Jawa dan Kalimantan (PP No.45/1957) | Sesudah UU No.7 Tahun 1989 | Sebelum UU No.3 Tahun 2006 |
Nama dan Struktur | Mahkamah Islam Tinggi(stbl 1937 No.116) Priester Raad (stbl 1882 No.152 & 1937 No.610) | Kerapatan Qadi Besar (stbl 1937 No.639) Kerapatan Qadi (stbl 1937 No.638) | Mahkamah Syariah Tingkat Provinsi Mahkamah Syariah | P.T.A P.A. | M.A. PTA MSP P.A. M.S. |
Kewenangan | Tidak termasuk kewarisan dan perwakafan | Tidak termasuk kewarisan dan perwakafan | Termasuk kewarisan dan perwakafan | Perkawinan, kewarisan, hibah, wasiat, sadaqah & perwakafan | Perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, sedekah dan ekonomi syariah |
Dasar Berlakunya Peradilan Syariah
PELIMPAHAN KEWENANGAN
QANUN Prov.NAD No.10/2002 tentang Peradilan Syariat Islam (PSI)
Peradilan Syariat Islam (PSI)
Peradilan Syariat Islam (PSI)
Peradilan Syariat Islam (PSI)
Perkembangan Hukum acara perdata di Aceh
Hukum acara perdata sejauh ini tidak ada masalah, karena dapat menggunakan hukum acara perdata yang berlaku bagi lingkungan peradilan umum untuk hal-hal yang belum diatur secara khusus dalam UU Nomor 7 Tahun 1989 dan peraturan perundang-undangan lainnya. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan dalam pasal 54 UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama
Pasal 132 (2) UU No. 11 Tahun 2006 (TTg Pemerintahan Aceh)
Pasal 58 (2) Qonun NAD No. 10 Tahun 2002 (ttg Peradilan Syariat Islam) �
Kewenangan bidang muamalah (Perdata) di Aceh meliputi kebendaan dan perikatan seperti:�
1) jual beli, hutang piutang
2) qiradh (permodalan)
3) musaqah, muzara’ah, mukhabarah (bagi hasil pertanian)
4) wakilah (kuasa), syirkah (perkongsian)
5) ariyah (pinjam meminjam), hajru (penyitaan harta), syuf’ah (hak langgeh), rahnu (gadai)
6) ihya’u al-mawat (pembukaan tanah), ma’adin (tambang), luqathah (barang temuan)
7) perbankan, ijarah (sewa menyewa), takaful
8) perburuhan
9) harta rampasan
10) waqaf, hibah, sadaqah, dan hadiah.
Kekuasaan & Wewenang PSI�(Pasal 49 Qonun No. 10/2002):
Qanun
Qanun Jinayat (Pidana)
Tantangan Penerapan syariat Islam di Aceh�
Aceh merupakan daerah yang mendapat legitimasi untuk menerapkan syariat Islam, sehingga membuat hukuman pidana Islam ditetapkan bukan sekedar simbolis saja, seperti hudud, qishah, dan ta’zir terhadap pelaku maksiat dan kriminalitas. Namun yang menjadi tantangan selanjutnya bagi masyarakat Aceh dalam mempertahankan syariat Islam adalah berlakunya hukum barat di Indonesia, serta kurangnya minat para ulama dan ahli hukum di Indonesia dalam mengkaji secara mendalam dan terarah mengenai syariat Islam dan keberlakuannya di dalam tatanan hukum nasional Indonesia pada umumnya serta di dalam hukum Aceh pada khususnya.