Imron Rosyadi
2
ir120@ums.ac.id
081.329.378.952
3
AGAMA ISLAM MENURUT MUHAMMADIYAH
Dr. Imron Rosyadi, M.Ag
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Surakarta
Materi Kuliah Umum
Menurut M. Djindar Tamimy:
Berdirinya Muhammadiyah didorong oleh paham agama.
Dengan menghayati agama, mengamalkan agama, memperjuangkan agama, lalu terbentuk identitas Muhammadiyah.
Jadi, bentuk identitas Muhammadiyah adalah agama Islam.
5
Menurut Djindar Tamimy:
Lahirnya Muhammadiyah, dari tiada menjadi ada, didorong oleh paham almarhum KH Ahmad Dahlan tentang “Apakah Agama Islam itu?”
Maka untuk dapat memahami Muhammadiyah yang sebenarnya harus dimulai dari memahami Islam yang sebenarnya. Sanggup menghayati Islam yang sebenarnya dan bersemangat untuk memperjuangkan Islam yang sebenarnya.
6
Kalau orang hendak memahami Muhammadiyah akan tetapi tidak berangkat dari pemahaman yang semacam itu, maka ia hanya akan menemukan Muhammadiyah sebagai organisasi. Tidak bakal mengenali idealismenya.
Muhammadiyah, sebenarnya, adalah wujud pemahaman tentang agama dan wujud pengamalan agama itu sendiri. Dari sinilah bahwa Muhammadiyah itu menyebut dirinya sebagai gerakan Islam.
7
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104)
Wahai kaum Mukmin, hendaklah di antara kalian ada segolongan (yang diorganisir) yang mengajak manusia mengikuti Islam (dan syariatnya), menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Mereka yang melakukan demikian adalah orang-orang beruntung (QS. Ali Imron/3: 104).
8
Mengapa Muhammadiyah memperjuangkan Islam?
Dasarnya Surat Ali Imron ayat 104, dan ayat 102, Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102)
Wahai kaum Mukmin, taatlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan berpegang teguhlah kalian pada Islam sampai mati (QS. Ali Imron/3: 102).
9
PENGERTIAN AGAMA ISLAM
Kata “Islam” diungkapkan dalam al-Qur’an sebanyak 40 kali. Kata ‘’Islam’’ diungkapkan dalam bentuk kata dasar dan kata benda.
Secara etimologi, makna Islam memiliki banyak arti: tunduk, sikap berserah diri, menyerahkan atau menyampaikan, tunduk dan patuh, tulus, taat, damai, keselamatan.
10
Secara Istilah, menurut Raghib al-Asfahani, makna Islam memiki dua pengertian, pertama, pengakuan masuk Islam secara lisan tanpa disertai dengan iman
Pengertian inilah yang dimaksud al-Qur’an dalam surat al-Hujurat/49: 14, yang redaksinya sebagai berikut:
11
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (14)
Orang-orang Arab baduwi berkata kpd Rasulullah: “Kami telah beriman.’’ Wahai Muhammad, katakanlah kpd mereka, kalian belum beriman, kalian sepatutnya berkata: kami telah Islam, sebab, hati kalian belum benar-benar beriman. Jika kalian taat kpd Allah dan Rasul-Nya, maka Allah tidak akan mengurangi pahala amal salih kalian sedikit pun. Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kpd semua makhluk-Nya (QS. Al-Hujurat/49: 14).
12
Kedua, pengakuan sikap pasrah kpd Allah dan apa yang telah ditentukan-Nya. Pengakuan seperti ini dilakukan Nabi Ibrahim as, seperti disebutkan dalam surat al-Baqarah/2: 131.
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (131)
Wahai kaum Quraisy, ingatlah ketika Allah berfirman kpd Ibrahim: Wahai Ibrahim, segeralah kamu masuk Islam tanpa ragu-ragu. Ibrahim menjawab, Aku masuk Islam dengan ikhlas karena Allah, Tuhan Yang Maha Mengatur dan Menguasai alam semesta (al-Baqarah/2: 131).
13
Islam sebagai agama telah disebutkan di dalam al-Qur’an
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
Agama yang diridhai Allah hanyalah Islam. Setelah datang al-Qur’an kepada kaum Yahudi dan Nasrani, sebagian mereka beriman dan Sebagian lainnya kafir kpd Muhammad karena rasa dengki mereka kepadanya (Muhammad) (QS. Al-Imron/3: 19).
14
2. أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ (83)
Wahai manusia, apakah kalian mengikuti agama selain Islam? Padahal semua yang ada di langit dan di bumi tunduk kepada Allah dengan sukarela atau terpaksa. Semua manusia hanya akan dikembalikan kepada Allah (QS. Ali Imron/3: 83).
Ayat ini menegaskan bhw aneh kalau ada org masih enggan memilih Islam sebagai agama, yang jelas-jelas agama Islam itu diturunkan dari Allah.
15
3
. وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85)
Siapa saja yang memilih agama selain agama Islam, Allah tidak akan menerima amalnya. Kelak di akhirat, orang semacam itu termasuk orang-orang yang celaka nasibnya (QS. Ali Imron/3: 85)
16
Agama Islam Menurut Muhammadiyah
17
Agama Islam Menurut Muhammadiyah
18
Menurut Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah, Islam yang dipahami Muhammadiyah memiliki pengertian sebagai berikut:
Pertama, Islam sebagai agama Allah sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad Saw.
Kedua, Islam mengandung makna keselamatan, artinya siapa pun yang beragama Islam dan mempelajari Islam, ia harus yakin menjadi orang-orang yang selamat dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat
19
Ketiga, Islam memiliki arti kedamaian berdasarkan QS. Al-Anfal/8: 61
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (61)
Wahai Muhammad, jika kaum kafir menginginkan perdamaian, maka hendaklah engkau menerima keinginan mereka itu, dan bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui keinginan mereka (QS. Al-Anfal/8: 61).
20
Berdasarkan ayat tesbut, Ketika kita sedang belajar Islam, meyakini Islam, mengamalkan Islam, maka kita sedang menyebarluaskan nilai-nilai yang membawa kepada kedamaian dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Ya Allah, Engkaulah As-salam (keselamatan, keberkahan, kemulian, ketenangan, kedamaian), dari-Mu keselamatan, kedamaian, Maha Suci Engkau, Wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan”
21
Keempat, Islam bermakna bersih dan suci, sebagaimana termaktup dalam Surat asy-Syuara/26: 89
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
Kecuali bagi orang-orang Kembali kepada Allah dengan hati yang bersih dan suci (QS. Asy-Syuara/26: 89).
22
Dalam ber-Islam, kita harus menjadi orang-orang yang suci dan bersih dalam hati, pikiran, dan tindakan. Tetapi jangan merasa diri paling suci dan menganggap orang lain kotor dan sesat, kata Haedar.
Tanggal kelahiran Muhammadiyah, tanggal 8 Dzul Hijah, adalah melambangkan bahwa masuk Muhammadiyah itu harus bersih dan suci, yang dilambangkan berpakaian ihram.
Empat nilai dimaksud harus menjadi ruh, alam pikiran, dan orientasi tindakan dalam kehidupan dalam bermuhammadiyah
23
Nama agama para Nabi dan Rasul Allah
Menurut Muhammadiyah, Allah menurunkan agama untuk hamba-hamba-Nya tidak mungkin dengan aneka nama agama, Dia menurunkan dengan satu nama agama, yaitu Islam.
Agama Nabi Adam, ya Islam. Agama Nabi Ibrahim ya Islam. Agama Nabi Musa ya Islam. Agama Nabi Isa ya Islam. Agama Nabi Muhammad ya Islam. Dengan kata lain, nama agama yang dibawa oleh nabi-nabi dan utusan Allah, sejak nabi Adam sampai Muhammad adalah agama Islam.
24
Yang membedakan dari Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Adam dan sesudahnya adalah syariah-Nya. Perbedaan ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا (48)
Wahai para Nabi, setiap orang dari kalian telah Kami berikan syariat dan petunjuk penerapannya (QS. al-Maidah/5: 48)
25
Ada tiga agama di dunia ini, menurut sebuah buku Tiga Agama Satu Tuhan, yang diterbitkan Mizan Bandung, yang ketiganya mengklaim mengikuti dan mewarisi agama Nabi Ibrahim.
Tiga agama dimaksud adalah agama Yahudi, agama Kristen, dan agama Islam (yang dibawa Nabi Muhammad Saw). Yang dimaksud Tuhan dalam buku tersebut adalah Tuhannya Nabi Ibrahim.
26
Pertanyaanya, apakah benar klaim mereka (menurut Kristen, Yahudi, dan Islam? Mana klaim yang benar di antara ketiga agama tersebut yang mengikuti dan mewarisi agama Nabi Ibrahim as.?
Secara logika, tidak mungkin tiga-tiganya benar semua. Dalam realitasnya, ketiga agama tersebut berbeda, paling tidak dalam dua hal, yaitu dari aspek nama agama dan konsep tuhan (nama dan jumlah tuhan).
27
Nama agama
Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam menjawab klaim mereka:
28
29
Konsep Tuhan
Agama Yahudi menyebut tuhan mereka dengan nama Yahweh. Kristen menyebut tuhan mereka dengan trinitas, salah satunya tuhan Yesus.
Dari aspek nama tuhan, dengan jelas bahwa kedua agama tersebut tidak mengikuti nama Tuhannya Nabi Ibrahim. Nama Tuhannya Ibrahim, seperti disebut dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 132 di atas adalah Allah.
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَابَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (2: 132)
Ibrahim dan Yakqub berpesan kpd putra2nya. Ibrahim berkata: Wahai putra2ku tersayang, sungguh Allah telah memilihkan Islam sebagai agama kalian, krn itu berpegang teguhlah kalian pd Islam sampai mati (QS. 2: 132).
30
Konsep Tuhan
Nama Tuhan dari agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah Allah. Nama Allah ini, misalnya dapat dilihat dalam lafad syahadat.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Jadi, Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah yang konsisten mengikuti nama Tuhan yang dipegangi Nabi Ibrahim.
31
Jumlah tuhan
Agama Yahudi, jumlah tuhannya satu, yaitu Yahweh. Jumlah tuhan Kristen tiga, yaitu trinitas. Adapun Tuhan dalam Islam adalah Tuhan Esa (satu). Bagaimana dengan Tuhannya Nabi Ibrahim?
Tuhan Ibrahim adalah Satu, Esa. Ibrahim menolak tuhan selain Allah. Tuhan ibrahim bukan tuhan yang berserikat, lebih dari satu. Al-Quran, misalnya, Surat al-Baqarah/2: 132, 135, Ali Imron/3: 67, 95, dan al-An’am/6: 161, an-Nahl/16: 123, dengan jelas bahwa tuhannya Ibrahim bukan tuhan yang berserikat, tetapi tuhan Ibtahim adalah Satu, Tuhan Yang Esa.
32
Konsep tuhan yang berserikat inilah yang dipraktikkan manusia pada saat Nabi Ibrahim diutus oleh Allah sebagai Nabi dan utusan-Nya. Ibrahim berdakwah dengan sekuat tenaga kepada kaumnya, agar meninggalkan konsep tuhan yang berserikat.
Dalam dakwahnya, Nabi Ibrahim memberikan pengertian konsep tuhan yang benar, yaitu Tuhan itu satu, Tuhan yang Esa, sampai-sampai Ibrahim dibakar oleh kaumnya. Namun, Allah menyelamat nabi Ibrahim.
Meski dibakar, bukan surut dakwah Ibrahim, beliau tetap istiqamah memegangi konsep Tuhan yang Esa.
33
34
Dari Surat al-Ikhlas ini, paling tidak ada empat hal yang bisa dicatat, yaitu (1) Allah itu satu, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. Dengan penegasan ini, agama Islam meniadakan tuhan lainnya, apapun namanya. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Islam tidak mengenal Tuhan berserikat.
35
(2) Perbuatan Allah sebagai Tuhan, yaitu menjamin segala kebutuhan. Salah satunya adalah menciptakan segala hal yang ada di dunia. Contoh penciptaan langit dan bumi adalah murni perbuatan Allah tanpa kontribusi tuhan lain yang diyakini agama lain.
36
Dengan pernyataan Allah menjamin segala kebutuhan manusia berarti Allah dalam Islam itu tidak membutuhkan atau terikat orang lain. Dalam Surat al-Maidah/5: 75 Allah menegaskan:
مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75)
Al-Masih bin Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelum itu telah diutus beberapa rasul. Ibunya seorang perempuan yang sangat jujur. Wahai manusia, al-Masih dan Maryam memakan makanan yang biasa kalian makan. Wahai Muhammad, pikirkanlah bagaimana Kami menjelaskan tentang al-Masih dan Maryam itu kepada kaum Nasrani. Kemudian pikirkanlah bagaimana kaum Nasrani menjadi sesat karena dosa-dosan mereka (QS. Al-Maidah/5: 75).
37
(3) Tuhan telah ada sebelum adanya alam dan Tuhan tidak memiliki keturunan. Tidak ada tuhan baru.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (3)
Allah lah yang ada sebelum yang lain ada, yang tetap kekal setelah yang lain musnah, yang tampak ciptaan-Nya, dan yang tidak tampak Dzat-Nya. Allah Maha Mengetahui apa saja (QS. Al-Hadid/57: 3)
38
(4) Tidak ada sesuatu makhluk di dunia ini yang dapat menyamai Allah sebagai Tuhan dari berbagai sisi dan sudut pandang.
Misalnya, QS. Al-Baqara/2: 22
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (29)
Allah lah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kepentingan kalian. Kemudian Allah naik ke atas, lalu menciptakan tujuh langit dengan sempurna. Allah Maha Mengetahui apa saja (QS. Al-Baqarah/2: 29)
39
Konsep Tuhan seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim tersebut didakwahkan Nabi Muhammad Saw kepada masyarakat Arab.
Saat mendakwahkan kepada masyarakaat Arab tentang konsep Tuhan Yang Esa ini, Nabi Muhammad mendapat tantangan yang sengit dan vulgar dari tokoh-tokoh masyarakat jahiliyah.
Mereka merasa gelisah dengan konsep Tuhan yang Esa. Mengapa mereka gelisah dan menentang?
40
Karena konsep tuhan mereka berserikat yang berbeda dengan konsep Tuhan yang diajarkan oleh Ibrahim dan Nabi Muhammad.
Surat al-Kafirun dengan jelas menggambarkan kegelisahan tokoh-tokoh Quraisy terhadap konsep Ketuhanan yang didakwahkan Nabi Muhammad, konsep Tuhan yang tidak berserikat.
Seperti diketahui bahwa turunnya Surat al-Kafirun ini karena empat pentolan Quraisy melobi Nabi Muhammad untuk berdamai dengan konsep Tuhan yang Esa, seperti yang diajarkan Allah. Mereka minta konsep ketuhanan yang berserikat itu diakomodasi.
41
Melalui QS. Al-Kafirun ini, Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk menolaknya, konsep Tuhan Yang Esa adalah harga mati.
قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)
Wahai Muhammad, katakanlah kpd kaum kafir Quraisy: wahai orang-orang kafir Quraisy, aku tidak akan menyembah tuhan yang kalian sembah, dan kalian pun tidak menyembah Tuhan yang aku sembah, aku tidak akan mau menyembah dengan cara-cara kalian menyembah tuhan kalian, kalian pun tidak menyembah tuhan kalian dengan cara-cara aku menyembah Tuhanku, untuk kalian agama dengan konsep berserikat, dan untuk agamaku konsep Tuhan Tauhid (QS. Al-Kafirun/1-5).
42
Surat al-Kafirun ini menolak dua hal terkait dengan konsep ketuhanan orang-orang Quraisy. Pertama, menolak ajakan untuk menyembah tuhan yang berserikat yang diyakini orang-orang Quraisy. Sebab, konsep Tuhan Yang Esa adalah harga mati.
Kedua, menolak cara menyembah tuhan yang berserikat. Islam memiliki konsep sendiri, bagaimana cara beribadah, cara taat kepada Allah, Tuhan yang Esa. Cara beribadah dan taat kepada Allah adala adalah harga mati.
43
44
45
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ (4)
Wahai orang-orang Mukmin, pada diri Nabi Ibrahim dan para pengikutnya, ada teladan yang baik bagi kalian. Ingatlah Ketika mereka berkata kepada kaumnya, sungguh kami berlepas diri dari kalian dan semua tuhan yang kalian sembah selain Allah (QS. Al-Mumtahanah/60: 4)
46
Memperhatikan konsep Tuhan seperti diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ibrahim, konsep Ketuhanan dalam Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah sudah benar dan benar ditempatkan pada sila pertama.
Beberapa bulan yang lalu, ada sekelompok orang yang gelisah dengan konsep ketuhanan dalam sila pertama. Mereka mencoba untuk merumuskan ulang konsep tersebut, baik pengertian maupun posisinya dalam struktur Pancasila.
47
Agama Islam yang diyakini Muhammadiyah
Oleh karena itu, agama yang diyakini oleh Muhammadiyah sebagai agama terakhir adalah agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
اَلدِّيْنُ الإِسْلَامِىُّ هُوَ: اَلَّذِى جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ ص هُوَ مَا أَنْزَلَهُ اللهُ فِى الْقُرَانِ وَمَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الْمَقْبُوْلَةُ مِنَ اْلأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِى وَالإِرْشَادَاتِ لِصَلَاحِ الْعِبَادِ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ
“Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah agama Islam yang diturunkan Allah di dalam al-Quran dan yang tersebut dalam Sunnah Sahihah berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebaikan hamba-Nya di dunia dan akhirat.”
48
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ (13)
Wahai manusia, Allah telah memilihkan Islam sbg agama utk kalian, sebagaimana sebelumnya Allah telah mewasiatkan Islam kpd Nuh. Wahai Muhammad, Islam telah Kami wahyukan kpdmu, juga telah Kami wasiatkan kpd Ibrahim, Musa, dan Isa, agar kalian semua memurnikan akidah tauhid. Sungguh amat berat bagi kaum musyrik utk menerima seruan tauhid yang kamu sampaikan kpd mereka. Siapa saja yang menjauhi kesyirikan, Allah mudahkan dia masuk Islam sesuai kehendak-Nya. Allah akan memberi hidayah Islam kpd siapa saja yang mau bertaibat (QS. Asy-Syura/43: 13).
49
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (3)
50
Muhammadiyah meyakini bahwa agama Islam itu disyariatkan untuk kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Karena untuk kebaikan manusia, maka Muhammadiyah berjuang sedemikian rupa untuk menyebarkan dan menjadikannya sebagai basis membangun Indonesia.
Merujuk pada keyakinan tersebut, maka bermuhammadiyah itu bukan berorganisasi semata, tapi bermuhammadiyah yang hakiki adalah berjuang menegakan ajaran Islam di bumi Indonesia.
51
Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat kepada umat manusia sepanjang masa dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spiritual, duniawi dan ukhrawi
52
53
54
As-Sunnah Maqbulah sebagai bayan terhadap al-Qur’an dapat berupa bayan Takkid (menguatkan) apa yang sudah disebutkan dalam al-Qur’an, bayan tafsil (menjelaskan, memerinci) ajaran al-Qur’an, dan bayan tasyri’ (membuat hukum baru yang belum disebut di dalam al-Qur’an).
Contoh as-Sunnah al-Maqbulah bayan takkid, misalnya , ayat tentang shalat, zakat, shaum Ramadhan, dan haji. Ayat-ayat ini dikuatkan oleh as-Sunnah al-Maqbulah sebagai berikut:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «الْإِسْلَامُ: أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا (مسلم)
55
56
Sedang untuk mencari cara dan dalam melaksanakan ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasul dalam mengatur dunia guna memakmurkannya, akal pikiran yang dinamis dan progresif mempunyai peranan yang sangat penting dan luas.
Begitu pula akal pikiran bisa untuk mempertimbangkan seberapa jauh pengaruh keadaan dan waktu terhadap penerapan suatu ketentuan hukum dalam batas maksud-maksud pokok ajaran agama
57
Muhammadiyah berpendirian bahwa pintu ijtihad senantiasa terbuka. Muhammadiyah berpendirian bahwa orang dalam beragama hendaklah berdasarkan pengertian yang benar, dengan ijtihad atau ittiba’.
Muhammadiyah dalam menetapkan tuntunan yang berhubugan dengan masalah agama, baik bagi kehidupan perseorangan ataupun bagi kehidupan gerakan, adalah (1) dengan dasar-dasar seperti tersebut, yaityu al-Quran dan hadis;
58
(2) dilakukan dalam musyawarah oleh para ahlinya, dengan cara yang sudah lazim disebut “tarjih”, yaitu (1) membanding-banding pendapat dalam musyawarah dan kemudian mengambil mana yang mempunyai alasan yang lebih kuat sesuai jiwa al-Quran dan Sunnah (2) Melakukan ijtihad terhadap masalah baru yang belum ada pendapat sebelumnya.
Dengan kata lain, tarjih menurut Muhammadiyah adalah sama dengan ijtihad.
59
Muhammadiyah dalam memaknai tajdid mengandung pengertian pemurnian (purifikasi) dan pembaruan (dinamisasi). Tajdid ini merupakan suatu keniscayaan, seperti disebut dalam hadis berikut:
عن أبي هريرة -فيما أَعْلَمُ- عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إنَّ اللهَ يَبْعَثُ لهذه الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مائَةِ سَنَةٍ مَنْ ُيجَدِّدُ لَهَا دِيْنهَا (رواه أبوداود)
Abu Huraira meriwayatkan apa yang ia ketahui dari Rasululah, beliau bersabda: sesungguhnya Allahmengutus setiap serratus tahun seorang ynag melakukan tajdid untuk agamanya (HR. Abu Daud).
60
Aspek-aspek ajaran Islam
Dengan dasar dan cara memahami agama seperti di atas, Muhammadiyah berpendirian bahwa ajaran Islam merupakan “kesatuan ajaran” yang tidak boleh dipisah-pisah dan meliputi:
1). ‘Aqidah: ajaran yang berhubungan dengan kepercayaan,
2). Akhlaq: ajaran yang berhubungan dengan pembentukan mental
3). Ibadah (mahdlah): ajaran yang berhubungan dengan peraturan dan tatacara hubungan manusia dengan Tuhan
4). Mu’amalat Duniawiyat: ajaran yang berhubungan dengan pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat. Semuanya itu bertumpu dan untuk mencerminkan kepercayaan ”Tauhid” dalam hidup dan kehidupan manusia, dalam wujud dan bentuk hidup dan kehidupan yang sematamata untuk beribadah kepada Allah SWT.
61
Perintah Taat kpd Allah dan Rasul
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59)
Wahai kaum Mukmin, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, serta para ulama/pemimpin yang menegakkan syariat Islam dari golongan kalian. Jika kalian, rakyat atau ulama berbeda pendapat tentang sesuatu hal, maka selesaikan persoalan kalian sesuai ketentuan Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Penyelesaian demian itu lebih baik dan cara terbaik bagi kalian (QS.an-Nisak/4: 59).
62
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ (54)
Wahai Muhammad, katakana kepada orang-orang munafik, “Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kalian enggan, sesungguhnya Rasul Allah itu hanya menanggung dosa atas kesalahan yang kalian lakukan. Kalian pun akan menanggung dosa yang kalian lakukan. Jika kalian mentaati Rasul Allah, kalian akan mendapatkan hidayah. Rasul hanya seorang yang menyampaikan wahyu Tuhannya dengan sejelas-jelasnya (QS. An-Nur/24: 54).
63
Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang :
64
Dalam Bidang Aqidah Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid’ah dan churafat, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip toleransi menurut ajaran Islam
65
Dalam Bidang Akhlaq Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlaq mulia dengan berpedoman kepada ajaran
Ajaran alqur’an dan sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia
إنَّما بُعثتُ لأتمِّمَ مكارمَ الأخلاقِ
Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak (HR. Imam Malik).�
66
Dalam Bidang Ibadah Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW tanpa tambahan dan perubahan dari manusia
67
العِبَادَةُ هِىَ التَّقَرَّبُ إِلَى اللهِ بِإِمْتِثَالِ اَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ وَالْعَمَلُ بِمَا أَذِنَ بِهِ الشَّارِعُ وَهِىَ عَامَّةٌ وَخَاصَّةُ فَالْعَامَّةُ كُلُّ عَمَلٍ أَذِنَ بِهِ الشَّارِعُ وَالْخَاصَّةُ مَاحَدَّدَهُ الشَّارِعُ فِيْهَا بِجُزُئِيَّاتٍ وَهَيْئَاتٍ وَكَيْفِيَّاتٍ مَخْصُوْصَةٍ
Ibadah ialah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, dengan menaati perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya, dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah. Ibadah itu ada yang umum dan ada yang khusus:
68
Dalam Bidang Mu’amalat Duniawiyat Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu’amalat duniawiyat (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadikan semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.
69
MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH
70
IMRON ROSYADI
Pengertian Manhaj Tarjih
Ada dua istilah dalam kata Manhaj Tarjih:
Menurut Usul Fikih, tarjih itu memiliki makna menguatkan salah satu dari dua atau lebih atas dalil, qaul, dan riwayat untuk diamalkan setelah dilakukan kajian yang mendalam.
Menurut Muhammadiyah, tarjih adalah setiap aktifitas intelektual untuk merespons permasalahan sosial dan kemanusiaan dari sudut pandang agama Islam. Dari sini, tarjih dalam pengertian usul fikih adalah bagian dari aktifitas intelektual bertarjih menurut Muhammadiyah.
71
Banyak kalangan, termasuk internal Muhammadiyah, masih mengartikan kata tarjih dalam Muhammadiyah, itu seperti pengertian usul fikih, yaitu sebatas membandingkan dalil, kaul ulama, dan riwayat pemikiran ulama tentang suatu masalah.
Pengertian seperti itu kurang benar, yang benar, makna tarjih dalam Muhammadiyah sama dengan ijtihad.
Dengan kata lain, bertarjih artinya sama atau hampir sama dengan melakukan ijtihad mengenai suatu permasalahan dilihat dari perspektif Islam.
72
Pengertian Manhaj Tarjih
Manhaj tarjih dapat didefinisikan sebagai “suatu sistem yang memuat seperangkat wawasan (atau semangat/perspektif), sumber, pendekatan, dan metode penetapan yang menjadi pegangan dalam kegiatan ketarjihan.
Ada 5 Wawasan/perspektif tarjih itu meliputi :
73
1. Wawasan paham agama
Paham agama yang dimaksudkan adalah wawasan paham agama meliputi unsur-unsur:
(a) Pengertian agama Islam menurut Muhammadiyha:
اَلدِّيْنُ الإِسْلَامِىُّ هُوَ: اَلَّذِى جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ ص هُوَ مَا أَنْزَلَهُ اللهُ فِى الْقُرَانِ وَمَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الْمَقْبُوْلَةُ مِنَ اْلأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِى وَالإِرْشَادَاتِ لِصَلَاحِ الْعِبَادِ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ
74
1. Wawasan paham agama
(b) kesadaran Imani (kesadaran atas keberadaan, kehadiran dan keberhadapan dengan Allah Yang Maha Melihat dan Mendengar lagi Maha Mengetahui),
(c) Norma-norma syariah sebagai kerangka rujukan, dan
(d) Manifestasi yang berupa amal shalih.
75
2. Wawasan Tajdid
Yang dimaksud wawasan tajdid dalam kaitan dengan manhaj tarjih adalah tajdid sebagai orientasi dari kegiatan tarjih dan corak produk ketarjihan. Tajdid mempunyai dua arti:
76
3. Wawasan Toleransi
Toleransi artinya bahwa putusan Tarjih tidak menganggap dirinya saja yang benar, sementara yang lain tidak benar.
Artinya Tarjih Muhammadiyah tidak menegasikan pendapat lain apalagi menyatakannya tidak benar.
Tarjih Muhammadiyah memandang keputusan-keputusan yang diambilnya adalah suatu capaian maksimal yang mampu diraih saat mengambil keputusan itu
77
4. Wawasan Keterbukaan
Keterbukaan artinya bahwa segala yang diputuskan oleh Tarjih dapat dikritik dalam rangka melakukan perbaikan, di mana apabila ditemukan dalil dan argumen lebih kuat, maka Majelis Tarjih akan membahasnya dan mengoreksi dalil dan argumen yang dinilai kurang kuat.
Jadi, keterbukaan terhadap penemuan baru adalah prinsip dalam wawasan ketarjihan Muhammadiyah.
78
5. Wawasan Tidak Berafiliasi kpd Mazhab
Memahami agama dalam perspektif tarjih dilakukan langsung dari sumber-sumber pokoknya, al-Quran dan Sunnah melalui proses ijtihad dengan metode-metode ijtihad yang ada.
Ini berarti Muhammadiyah tidak berafiliasi kepada mazhab tertentu. Namun ini tidak berarti menafikan berbagai pendapat fukaha yang ada.
Pendapat-pendapat mereka itu sangat penting dan dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan diktum norma/ajaran yang lebih sesuai dengan semangat di mana kita hidup.
79
Sumber Ajaran Islam
Sumber Agama Islam dalam Manhaj tarjih al-Quran dan as-Sunnah al-Maqbulah.
Di dalam beristidlal, dasar utamanya adalah al-Quran dan as-Sunnah ash-Shahihah. Ijtihad dan istinbath atas dasar ‘illah terhadap hal-hal yang tidak terdapat di dalam nash dapat dilakukan, sepanjang tidak menyangkut bidang ta’abudi, dan memang merupakan hal yang dihajatkan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.
80
Pendekatan
Sesuai hasil Munas Tarjih tahun 2000, pendekatan dalam bertarjih ada tiga, Bayani, Burhani, dan Irfani.
81
82
Pendekatan irfani.
Kata irfani berasal dari kata arafa–irfanan yang secara tradisional dimaknai sebagai ma’rifah atau pengetahuan, juga dimaknai sebagai kasyf atau pengetahuan yang diraih melalui latihan bathin.
Dalam bertarjih, pendekatan irfan dimaknai sebagai ihsan, kemaslahatan dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (kesadaran imani).
Jadi, majelis Tarjih telah menggeser makna pendekatan irfani, dari makna asli ke makna lain.
83
Pendekatan irfani dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan kepekaan nurani dan ketajaman intuisi batin, sehingga suatu keputusan tidak hanya didasarkan kepada kecanggihan otak belaka, tetapi juga didasarkan atas adanya kepekaan nurani untuk menginsafi berbagai masalah dan keputusan yang diambil mengenainya dan mendapatkan petunjuk dari Yang Maha Tinggi.
84
Prosedur Tehnis (Metode)
Perosedur Teknis ini didasarkan kpd dua asumsi:
1. Asumsi Metode. Metode adalah langkah-langkah prosedural dalam proses pemanfaatan sumber guna menemukan suatu petunjuk agama.
Metode tarjih didasarkan kepada dua asumsi pokok, yaitu
85
Prosedur Tehnis (Metode)
Asumsi integralistik mepostulasikan teori keabsahan koroboratif tentang norma, yakni suatu asumsi yang memandang adanya koroborasi dan saling mendukung di antara berbagai elemen sumber guna melahirkan suatu norma.
Untuk merumuskan norma diperlukan kajian secara induktif dari berbagai sumber.
86
Asumsi hirarkis adalah suatu anggapan bahwa norma itu berjenjang dari norma yang paling bawah hingga norma paling atas.
87
Nilai-nilai dasar (al-qiyam al-asasiyah)
Al-Usul al-Kulliyah
Al-Qawaid al-Fiqhiyah an-Nazariyah al-Fiqhiyah
Al-Hukm al-Islami
88
Ragam Metode
Untuk menemukan norma konkret (al-aḥkām al-far’iyyah/al-hkum al-Islami) terdapat tiga ragam metode yang secara tidak langsung dipraktikkan dalam pengambilan keputusan atau fatwa tarjih.
Ragam metode dimaksud adalah
89
Metode
90
91
Dengan kata lain, metode bayani adalah sebentuk epistemologi yang menjadikan teks tertulis al-Quran dan hadis sebagai sumber utama pembentukan atau perumusan pengetahuan hukum.
Dalam perumusannya, pendekatan bayani menggunakan aspek makna bahasa dari lafad-lafad yang ada dalam teks sebagai sumber kebenaran
92
93
94
Jika terjadi ta‘āruḍ, diselesaikan dengan urutan cara-cara sebagai berikut:
95
c. An-naskh, yakni mengamalkan dalil yang munculnya lebih akhir.
d. At-tawaqquf, yakni menghentikan penelitian terhadap dalil yang dipakai dengan cara mencari dalil baru.
96
Kaidah Perubahan Hukum
Dalam fikih telah diterima asas kebolehan terjadinya perubahan hukum. Bahkan ini telah dirumuskan dalam kaidah fikih dan diterima oleh para fukaha, yaitu kaidah
لا ينكر تغَير الأحكام بتغَير الأزمنة والأمكنة والأحوال
Tidak diingkari perubahan hukum karena perubahan zaman, tempat dan keadaan.
97
Dalam Ketarjihan Muhammadiyah secara praktik telah diakui adanya perubahan ketentuan hukum, bahkan bukan hanya ketentuan hukum ijtihadiah, tetapi juga ketentuan hukum yang ditegaskan dalam nas.
Contohnya tentang masalah kepemimpinan wanita yang dalam hadis dilarang, tetapi dalam putusan dan fatwa Tarjih dibolehkan.
Begitu pula hukum melakukan rukyat yang diperintahkan dalam hadis, tetapi Tarjih tidak lagi mengamalkan hadis itu, melainkan menggunakan hisab.
Oleh karena itu kaidah tersebut telah diterima dalam Muhammadiyah.
98
Hukum tentu tidak boleh asal berubah, tetapi harus ada syarat-syarat untuk dapat diubah. Menurut Syamsul Anwar, ada empat syarat yang harus dipebuhi untuk suatu hukum dapat berubah, yaitu:
99
c) hukum itu ada yang tidak bersifat qat’i . Apabila hukum itu qat’i, maka tidak dapat diubah seperti ketentuan larangan riba, makan harta sesama dengan jalan batil, larangan membunuh, larangan berzina, wajibnya puasa Ramadan, wajibnya salat lima waktu, dan sebagainya
d) perubahan baru dari hukum itu harus berlandaskan kepada suatu dalil syar’i juga, sehingga perubahan hukum itu tidak lain adalah perpindahan dari suatu dalil kepada dalil yang lain.
100