SUBTANSI DALAM PENELITIAN
Oleh:
Nur Syarifuddin
Maret 2023
PEDAHULUAN
Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam sebuah penelitian teori yang digunakan harus sudah jelas karena fungsi teori dalam sebuah penelitian menurut Sugiyono (2012:57) adalah sebagai berikut: “Teori digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti, untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrumen penelitian, Memprediksi dan membantu menemukan fakta tentang sesuatu hal yang hendak diteliti”.
BAB I
KONTEKS PENELITIAN
Konteks penelitian merupakan langkah awal dalam melihat lebih jauh dan komprehensif untuk menentukan tema, dan fokus penelitian, serta pemilihan teori-teori yang tepat, yang nantinya akan dijadikan landasan maupun pisau analisis dalam penelitian tersebut.
Contoh; KONTEKS PENELITIAN
Bagimana kontruksi budaya panganten dalam masyarakat Bawean Desa Telukjatidawang Tambak.?
Fokus Penelitian I
Bagaimana tipologi masyarakat Bawean Telukjatidawang dalam mengkonstruk budaya panganten?
Fokus Penelitian II
Bagaimana dialektika nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam kontruksi panganten masyarakat Bawean Desa Telukjatidawang?
Fokus Penelitian II
Praktek kebudayaan yang berbeda-beda antara daerah satu dengan yang lainya yang ada di Pulau Bawean, dalam segi geografis Pulau Bawean masuk wilayah administratif Kabupaten Gresik, akan tetapi budaya yang ada di sana lebih cenderung mirip dengan budaya Melayu yang mana tidak terdapat di pulau Jawa khususnya Jawa Timur. Disamping itu, praktek kebudayaan yang berbeda-beda antara daerah satu dengan yang lainya yang ada di Pulau Bawean, serta dealektika yang berbeda disetiap Desa bahkan Dusun, seperti Bahasa Bawean dialek Ponggo, dialek Daun, Padangjambu, Dedawang, Kumalasa, dan lain sebagainya.
Fenomena I
Masyarakat Bawean Telukjatidawang merupakan masyarakat yang heterogen, yakni berasal dari beberapa etnis. Masyarakat desa Teluk jatidawang merupakan masyarakat yang terbentuk dari percampuran dari beberapa etnis baik dalam tatanan sosial maupun budaya yang ada serta juga letak geografis yang berbeda masing-masing pedukuhan,
Bahasa dalam masyarakat Telukjatidawang tergolong cukup unik, yang mana disetiap masing-masing pedukuhan memiliki logat atau aksen bahasa yang khas tersendiri yang tak sama dengan pedukuhan yang lainnya. Bahkan ada beberapa kosakata yang berbeda yang digunakan disetiap pedukuhan.
Fenomena II
Budaya Panganten Masyarakat Bawean Telukjatidawang menjadi moment harmonisasi Islam dan tradisi lokal, dimana budaya Panganten sendiri merupakan hasil dari adanya interseksi perbedaan latar belakang budaya dan suku yang bertemu dan bertumpu pada titik persamaan keyakinan yaitu Islam. Disamping itu, panganten juga dikonstruk dari beberapa tradisi yang ada dan juga melalui legitimasi elit lokal yang berlangsung secara kontinew dan sejak dini
Fenomena III
Fenomena –fenomena yang ada sebagaimana yang telah diuraikan di atas, merupakan langkah awal dalam melihat lebih jauh dan komprehensif konstruksi tersebut. Kemudian secara teoritis dialektika nilai pendidikan Islam multicultural dalam budaya tersebut dapat didekonstruksi menjadi suatu formula atau model yang dapat menjadi salah satu solusi untuk menghadapi segala permasalahan bangsa, terutama masalah intoleran dalam hal perbedaan pemahaman keagamaan, perbedaan pilihan politik, masalah radikalisme terorisme, dan masalah sosial lainnya.
Penelitian ini hadir untuk menggali nilai Pendidikan Islam Multikultural dan proses dialektikanya dalam konstruksi sebuah budaya yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat agar dapat diserap menjadi landasan sosiologis- antropologis bagi pendidikan Islam yang berbasis multikultural. Fenomena tersebut merupakan suatu kajian yang menarik untuk mendapatkan gambaran yang bersifat integratif dan komprehensif sehingga menjadi suatu model Pendidikan Islam Multikultural. Dengan merumuskan tema penelitian, “Dialektika Nilai-nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Kontruksi Budaya Panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang Tambak Gresik Jawa Timur”.
Kajian Empirik
Kajian empirik merupakan kajian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian, dimana hal tersebut diperlukan untuk mengetahui sisi perbedaan dan persamaan dengan penelitian yang akan peneliti lakukan. Dengan begitu, akan mempermudah untuk menentukan fokus yang akan dikaji
BAB II
Kajian Teori
Fokus I; Konstruksi Budaya Panganten Masyarakat Bawean Telukjatidawang
Fokus II; Tipologi masyarakat Bawean Telukjatidawang dalam mengkonstruk budaya panganten
Fokus III; Dialektika Nilai-nilai pendidikan Islam multicultural dalam kontruksi budaya panganten masyarakat Bawean Desa Telukjatidawang
Pengembang Teori
Wujud budaya merupakan keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan yang bersumber dari masyarakat dan sekaligus akan menjadi milik masyarakat yang hidup dalam dimensi-dimensi dan realitas objektif yang dikonstruk melalui momen eksternalisasi dan objektivasi dan dimensi subjektif yang dibangun melalui momen internalisasi. Baik momen eksternalisasi, objektivasi maupun internasliasi tersebut akan selalu berproses secara dialektik dalam masyarakat. Berger, (1991: 32-35). Horton & Chester (1996); 2) Cikusin (2006), 3)Poerwanto (2000;51), 4) Berger dan Luckman (1991: 32), Kahmad, (2002: 53), Tiscgler, 1990: 380), Geertz (1960; 18), Vredenbregt (1996: 14).
Teori ini dikonstruk dari beberapa teori (grand theory, midle theory, dan subtansi teori) agar dapat memudahkan bagi peneliti secara operasional menggunakan teori tersebut.
Pendidikan Islam Multikultural adalah pendidikan yang menghargai kemajemukan budaya, kultur, ras, dan bahasa yang berbasis pada multikulturalisme dalam Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadist Nabi Saw. Blum (2001), Banks (2002: 14), Tilaar (2002:59), Kemendikbud, 2005), Tilaar (2004: 185-190), al-Attas dalam Badauddin (2009; 24-26), Hasan (2016;51&64). al-Qur’an dan Hadist dalam Hasan ( 2017), Aly (2011: 109), Yakin (2005), Sidded, dkk (2009; X), Shihab (1999: 364)).
Teori tersebut dikonstruk dari beberapa teori yang ada agar dapat memudahkan bagi peneliti secara operasional menggunakan dan menemukan konsep dari PAI multicultural.
Nilai budaya; yaitu suatu keyakinan abadi yang menjadi rujukan bagi cara bertingkah laku dalam masyarakat yang mempunyai karakter religius, ilmiah, humanis, estetis, politis, dan juga ekonomis. Kluckhon dan Strodberck (1961), Hasan (1987:5), Savater dalam Zubaidi (2005).
Nilai PAI Multikultural; yaitu kesetaraan (al-musawa), keadilan (al-’adalah), persamaan (equality), persatuan (al-ittihad), inklusif, egaliter/persamaan derajat, demokratis, humanis, ta’aruf, kebersamaan, tolong-menolong, toleransi, moderat, humanis, dan kedamaian. Quraish Shihab (1999: 364), al-Qur’an dan Hadist Nabi; dalam Hasan ( 2017), Aly (2011: 109).
Teori ini menjadi pedoman dalam menemukan dialektika nilai Pendidikan Islam multicultural dengan nilai budaya dalam konstruksi budaya Panganten.
Thoretical framework
Istilah kerangka pikir dalam peneltian memiliki beberapa istilah seperti; Spektrum penelitian atau theoretical framework. Kerangka berpikir adalah sebuah pemahaman yang melandasi pemahaman-pemahaman yang lainnya, sebuah pemahaman yang paling mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran selanjutnya. Theoretical framework merupakan model konseptual dari suatu teory atau sesuatu yang logik dari hubungan di antara faktor-faktor yang diidentifikasi penting pada masalah penelitian. Kerangka teori mengalir logis dari dokumentasi riset sebelumnya dalam bidang riset terkait. Selain itu juga untuk dapat memudahkan pembaca memahami alur kerja teori sesuai dengan judul sebuah penelitian. Maka teori tersebut disusun sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan yang hendak dijawab pada fokus penelitian.
Kerangka berpikir (Theoretical Framework) merupakan output atau hasil dari kegiatan tinjauan pustaka (literature review). Tinjauan literatur umumnya dilakukan di bab 2 setelah perumusan masalah. Sekaran (2003), mendefinisikan Theoretical Framework sebagai sebuah model konseptual tentang bagaimana seorang peneliti berteori mengenai keterkaitan antara faktor-faktor yang telah teridentifikasi sebagai hal-hal yang penting bagi masalah. Faktor-faktor tersebut didapatkan dari berbagai literatur atau penelitian sebelumnya, observasi, maupun wawancara. Menurut Creswell (1998), manfaat landasan teori dalam penelitian kualitatif adalah perlunya memahami tata cara penggunaan perspektif teori di dalam kajiannya. Faktor-faktor tersebut didapatkan dari berbagai literatur atau penelitian sebelumnya, observasi, maupun wawancara. Sehingga mempunyai landasan teori yang jelas untuk mendapatkan sebuah pemahaman seperti apa tata cara penggunaan perspektif teori di dalam sebuah kajiannya.
Thoretical framework
Dalam penelitian “Pendidikan Islam Multikultural dan Budaya Lokal (Kajian Etnografi dalam Kontruksi Budaya Panganten Masyarakat Bawean Telukjatidawang)”, dimaksudkan untuk dapat menganalisis, mendeskripsikan dan menginterpretasikan budaya Panganten dalam kajian etnografi ini berbentuk siklus (sesuai dengan teori konstruksi sosial) yang memiliki keterkaitan antara teori yang satu dengan teori lainnya. Penelitian ini dibutuhkan tiga teori pokok, yaitu; teori tentang Pendidikan Islam Multikultural, teori budaya, dan teori konstruksi sosial. Adapun langkah-langkah atau tahap-tahap secara operasional dari theoretical framework dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Langkah pertama adalah teori Pendidikan Islam Multikultural yang berpijak dari nilai multikulturalisme Islam atau orientasi nilai sebagaimana dirumuskan Hasan (2016&2017), bahwa Pendidikan Islam Multikultural adalah pendidikan yang menempatkan multikulturalisme sebagai salah satu visi pendidikan, namun tetap kokoh pada nilai-nilai spritual dan keyakinan berdasarkan al-Qur’an dan al Sunnah, dengan karakter utama yang bersifat, inklusif, egaliter/persamaan derajat, demokratis, humanis, kebersamaan, kedamaian. Quraish Shihab (1999: 364), esensi ajaran Islam meliputi kesetaraan (al-musawa), keadilan (al-’adalah), persamaan (equality), persatuan (al-ittihad), harkat dan martabat manusia (al-karamah al-insaniyah). 7) al-Qur’an dan Hadist Nabi; Aly (2011: 109), merumuskan bahwa setidaknya ada beberapa poin yang dapat disimpulkan menjadi nilai-nilai pendidikan Islam Multikultural, yaitu; Pendidikan Islam multikultural berprinsip pada demokrasi, kesetaraan, dan keadilan, pendidikan Islam berorientasi pada kemanusian, kebersamaan dan perdamaian, pendidikan Islam multikultural mengembangkan sikap mengakui, menerima, dan menghargai keragaman budaya. Teori-teori tersebut menjadi landasan atau pijakan utama untuk mengidentifikasi nilai Pendidikan Islam Multikultural serta dialektikanya dalam budaya Panganten.
Sedang teori budaya berpijak dari nilai budaya atau orientasi nilai budaya (Kluckhohn & Strodtbeck (1961), Horton & Chester (1996), dan Cikusin (2006), “Suatu hal yang paling tinggi nilainya dalam setiap kehidupan manusia minimal ada lima hal, yaitu; human nature, man nature, time, activity, dan relation, yang merupakan keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan yang bersumber dari masyarakat dan sekaligus akan menjadi milik masyarakat”. Adapun budaya lokal berpijak pada teori Kenny (1997; 191) dan Rice, dalam Prabowo (2008;11), “identitas budaya merupakan cerminan dari adanya kesamaan sejarah dan kode-kode budaya yang membentuk sekelompok orang menjadi satu, serta jumlah keseluruhan dari perasaan seseorang atau anggota kelompok terhadap simbol-simbol, nilai-nilai dan sejarah umum yang membuat mereka dikenal sebagai kelompok yang tampak dari luar berbeda”. Dari sini dapat dipahami bahwa identitas budaya lebih menekankan kepada seberapa besar seseorang merasa sebagai bagian dari sebuah kelompok budaya tertentu dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi perasaan, persepsi dan perilakunya. Dengan landasan teori tersebut akan menjadi pisau pembedah dalam melihat fenomena yang terjadi dalam lokus penelitian.
Langkah kedua, teori konstruksi sosial; teori ini dimaksudkan untuk membedah proses konstruksi budaya Panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang dengan berpijak pada teori bahwa masyarakat hidup dalam dimensi-dimensi dan realitas objektif yang dikonstruk melalui momen eksternalisasi dan objektivasi dan dimensi subjektif yang dibangun melalui momen internalisasi. Baik momen eksternalisasi, objektivasi maupun internasliasi tersebut akan selalu berproses secara dialektik dalam masyarakat (Berger, 1991: 32-35).
Adapun Nursyam (2005: 37). (Kahmad, 2002: 53), Vredenbregt (1996: 14), dan teori-teori lainnya yang relevan sebagai teori pendukung; bahwa Konstruksi sosial masyarakat Bawean dibangun melalui pendefinisian realitas dan pengetahuan, serta sesuatu yang intersubjektif yang menjadi tatalaku masyarakat yang bersumber dari dalam, yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran agama yang menginternalisasi sebelumnya yang terbentuk dari konstruksi serta persentuhan Islam dengan berbagai macam kebudayaan dan etnis yang hidup di Bawean. Selanjutnya, akhir dari penelitian ini adalah melahirkan suatu model bangunan teori Pendidikan Islam mutikultural berbasis pemecahan masalah masyarakat multicultural dan penanaman nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam membentuk masyarakat yang inklusif, moderat, toleran, dan humanis
Thoretical framework
Pendidikan Islam Multikultural dalam Budaya Lokal Masyarakat Bawean Telukjatidawang
Teori P.I Multikultural
Menurut Quraish Shihab (1999), esensi ajaran Islam meliputi kesetaraan (al-musawa), keadilan (al-’adalah), persamaan (equality), persatuan (al-ittihad), harkat dan martabat manusia (al-karamah al-insaniyah).
al-Qur’an dan Hadist Nabi;dalam Hasan ( 2017), diantaranya nilai inklusif, egaliter/persamaan derajat, demokratis, humanis, kebersamaan, kedamaian .
Aly (2011), beberapa poin nilai-nilai pendidikan Islam Multikultural, yaitu; demokrasi, kesetaraan, keadilan, humanis, kebersamaan, perdamaian, sikap saling mengakui, menerima, dan menghargai keragaman budaya.
Teori Budaya Lokal
Kluckhohn & Strodtbeck (1961), Suatu hal yang paling tinggi nilainya dalam setiap kehidupan manusia minimal ada lima hal, yaitu; human nature, man nature, time, activity, dan relation.
Kenny (1997), identitas budaya merupakan cerminan dari adanya kesamaan sejarah dan kode-kode budaya yang membentuk sekelompok orang menjadi satu, walaupun dari luar mereka tampak berbeda.
Cikusin (2006), budaya merupakan hasil dari masyarakat dan sekaligus akan menjadi milik masyarakat.
Eksternalisasi
Proses konstruksi sosial
Teori konstruksi sosial
Berger (1991: 32-35)realitas objektif yang dikonstruk melalui momen eksternalisasi dan objektivasi dan dimensi subjektif yang dibangun melalui momen internalisasi
Nursyam (2005: 37). Konstruksi sosial dibangun melalui pendefinisian realitas dan pengetahuan, serta sesuatu yang intersubjektif.
Vredenbregt (1996: 14),tradisi tidak bisa dipisahkan dengan konstruksi serta persentuhan Islam dengan berbagai macam kebudayaan dan etnis yang hidup di Bawean
Out put:
Model bangunan teori Pendidikan Islam mutikultural berbasis pemecahan masalah masyarakat multicultural dan penanaman nilai P.I Multikultural dalam membentuk masyarakat yang inklusif, moderat, toleran, dan humanis.
Internalisasiternalisasi
Objektivasi
Keretangan:
: Instruktif
: Konsultatif
: Interaktif
BAB III
Metodelogi
METODE PENELITIAN
Teknik Analisis Data
Teknik Pengumpulan data
Pengamatan peran serta (participant obcervation); wawancara mendalam (indepth interview); dan dokumentasi.
Pendekatan Penelitian
Kemudian jenis kualitatif yang digunakan adalah etnografi realis-auto
etnografi hasil teori yang dikembangkan Creswell dan teori Gay, et al,. Etnografi
realis oleh Creswell yang digunakan karena akan mendeskripsikan bangunan budaya Panganten sesuai dengan fenomena-fenomena di lapang secara valid dengan peneliti bertindak sebagai orang ketiga (realis), sedang etnografi auto-etnografi dimaksudkan untuk merefleksikan fenomena budaya tersebut sebagai refleksi dari budaya peneliti (autoetnografi). Cikusin (2006: 92) menjelaskan bahwa esensi etnografi adalah usaha untuk memahami secara mendalam proses dan makna dari sebuah praktik sosial dalam lingkungan sosial budaya yang melingkupinya
Jenis Penelitian
Jenis penelitian lapangan yang bersifat kualitatif, karena akan mendeskripsikan fenomena-fenomena yang terkait dengan nilai Pendidikan Islam Multikultural serta dialektikaya dalam budaya Panganten dan proses terjadinya kotruksi budaya Panganten berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang dapat diamati. Metode ini berdasar dari teori Bogdan & Biklen (1992:21-22) bahwa metode kualitatif merupakan proses penelitian yang menghasilkan data yang bersifat deskriptif.
langkah-langkah METODE PENELITIAN
Pengecekan Keabsahan Data
Kehadiran Peneliti
Kehadiran Peneliti sebagai instrumen kunci (key instrumen) untuk mendeskripsikan hasil, menemukan makna, mengklarifikasi, menyajikan dan menvisualisasikan data, dibantu alat lain sebagai pendukung
Lokus, Subjek, dan Informan Penelitian
Masyarakat Bawean Desa Telukjatidawang Kec. Tambak, Kab. Gresik Jawa Timur, subjek dan informan penelitian terlampir
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis etnografi realis-autoetnografi yang dikembangkan dari teori Creswell (2007: 69-70) dan teori yang dikembangkan oleh Gay, att.all. (2009: 407). Sedang pendekatan utama yang digunakan adalah sosial-atropologi, filhosofis dan spritual.
Tehnik Analisis Data
Tehnik Pengumpulan Data
BAB IV
Paparan Data
Paparan singkat data masing-masing fokus
Makna masjid dan langgar dalam tradisi panganten
Peran elit lokal dalam tradisi panganten
Pelembagaan budaya panganten
Panganten; realitas ganda masyarakat Telukjatidawang
Fokus I: Kontruksi budaya panganten dalam masyarakat Bawean Telukjatidawang Tambak.
Symbol-simbol dalam tradisi panganten
Panganten sebagai identitas budaya Islam lokal
Panganten sebagai media pendidikan islam multikultural
Nilai-nilai P I. Multicultural dalam budaya panganten
Kesimpulan Fokus I
Budaya panganten yang dikonstruksi dengan beragam bentuk tradisi dan bermacam kekeben seperti tebu, kembang manyang, belo, kue bhekar, dan lain sebagainya, sejatinya merupakan visualisasi dari masyarakat Telukjatidawang Bawean yang agamis dan humanis. Panganten dimaknai bukan hanya sekedar ritual dan tradisi keagamaan semata, tapi merupakan identitas budaya yang mengekspresikan karakter, prinsip, sikap sosial dan keagamaan masyarakat Telukjatidawang Bawean, seperti sikap inklusif, egaliter, humanis, dermawan, suka tolong-menolong dan riligius.
Disamping itu, pembudayaan dan pelembagaan panganten dilakukan melalui pembiasaan (habitualiasasi) sejak dini melalui langgar, masjid, dan medan budaya yang lain. Hal tersebut berjalan bukan hanya karena habitualisasi semata, tapi juga didukung dengan ligitimasi elit lokal, dan sakralitas budaya.
Negosiasi Islam dengan Tradisi Lokal
Harmonisasi Islam dan tradisi lokal
Keterlibatan masyarakat dalam moment tradisi panganten
Fokus II: Tipologi masyarakat Bawean Telukjatidawang dalam mengkonstruk budaya panganten.
Kesimpulan Fokus II
Tipologi masyarakat Bawean Telukjatidawang tentang fenomena agama dan budaya sangat akulturatif, sehingga budaya panganten menjadi momentum dari adanya harmonisasi dan negosiasi Islam dan tradisi lokal yang ada, melalui proses habitualisasi sejak dini dan didukung dengan ligitimasi elit lokal, serta sakralitas budaya.
Objektivasi nilai
Eksternalisasi nilai
Internalisasi nilai
Fokus III: Dialektika nilai-nilai PAI multikultural dalam konstruksi budaya panganten masyarakat Bawean Desa Telukjatidawang.
Kesimpulan Fokus III
Terjadi proses dialektika nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam kontruksi budaya panganten yang terjadi melalui momen ekternalisasi, objektivasi, dan juga internalisasi.
Temuan simpulan data masing-masing fokus
Fokus I: Kontruksi budaya panganten dalam masyarakat Bawean Telukjatidawang Tambak.
Fokus II: Tipologi masyarakat Bawean Telukjatidawang dalam mengkonstruk budaya panganten.
Ditemukan 3 pokok tipologi masyarakat Bawean Telukjatidawang dalam mengkonstruk budaya panganten:
Fokus III: Dialektika nilai-nilai PAI multikultural dalam konstruksi budaya panganten masyarakat Bawean Desa Telukjatidawang
Dialektika nilai-nilai PAI multikultural dalam konstruksi budaya panganten terjadi melalui momen;
Existing Model Dialektika Nilai-nilai P.I Multikultural dalam Konstruksi Budaya Panganten
Model dialektika nilai-nilai keIslaman yang berbasis Pendidikan Islam Multikultural dalam budaya Panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang terkonstruk dalam sebuah sistem yang tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang, dimana disitu ada dimensi pendidikan, agama, sosial dan juga budaya. Berikut gambaran yang terpotret dari model dialektika nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam budaya panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang.
Dalam budaya panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang ini pada setiap tradisi di dalamnya dapat peneliti identifikasi setidaknya ada delapan nilai yang menjadi landasan nilai Pendidikan Islam Multikultural, nilai tersebut yaitu; 1) Ta’aruf (membangun relasi), 2) Harmoni, 3) Demokratis, 4) Toleransi, 5) Kebersamaan, 6)Moderat, 7) Ta’awun (tolong-menolong), dan 8) Humanis.
Selanjutnya dalam pelembagaan budaya panganten terjadi proses dialektika dari nilai-nilai tersebut diatas melalui proses penanaman nilai dengan habitulasi atau pembiasaan sejak dini, legitimasi elit lokal, serta sakralitas budaya. Proses dialektika tersebut terjadi dalam berbagai medan budaya seperti masjid, langgar, serta rumah warga/masyarakat. Sehingga terkonstruk budaya panganten yang ada ditengah-tengah masyarakat Bawean Telukjatidawang.
Tahap selanjutnya pengetahuan tentang nilai-nilai keIslaman yang menjadi landasan nilai Pendidikan Islam Multikultural tersebut menjadi sebuah values atau sistem nilai yangdipegang oleh masyarakat, yang seolah-olah nilai tersebut disepakati dan menjadi pegangan bagi masyarakat sebagai sesuatu yang berharga yang harus diamalkan.Selanjutnya nilai-nilai tersebut menjadi acuan tata-laku bagi masyarakat Bawean Telukjatidawang, sehingga menjadi identitas lokalitas yang wujud dalam budaya panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang. Secara ringkas model dialektika nilai dalam konstruksi budaya panganten dapat dilihat dalam bagan berikut:
Bagan Existing Model Dialektika Nilai-nilai P.I Multikultural dalam Konstruksi Budaya Panganten
Nilai-nilai
P.I Multikultural
Pelembagaan Budaya Panganten
Proses pembudayaan
Medan Budaya
Nilai KeIslaman
Output;
Masyarakat Rukun dan Toleran
Konstruksi Budaya
Panganten
BAB V
Analisis Data
Dialogis antara teoritik dan empirik perfokus kajian penelitian
Contoh; Dialogis antara teoritik dan empirik perfokus kajian penelitian
Fokus I: Kontruksi budaya panganten dalam masyarakat Bawean Telukjatidawang Tambak.
Secara teoritik dapat disimpulkan bahwa wujud budaya merupakan keseluruhan dari pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan semua kemampuan dan kebiasaan yang bersumber dari masyarakat dan sekaligus akan menjadi milik masyarakat yang hidup dalam dimensi-dimensi dan realitas objektif yang dikonstruk melalui momen eksternalisasi dan objektivasi dan dimensi subjektif yang dibangun melalui momen internalisasi. Baik momen eksternalisasi, objektivasi maupun internasliasi tersebut akan selalu berproses secara dialektik dalam masyarakat Berger, (1991: 32-35). Horton & Chester (1996); 2) Cikusin (2006), 3)Poerwanto (2000;51), 4)Berger dan Luckman (1991: 32), Kahmad, (2002: 53), Tiscgler, 1990: 380), Geertz (1960; 18), Vredenbregt (1996: 14).
Berangkat dari pemahaman diatas, kemudian dapat disimpulkan bahwa budaya panganten yang dikonstuksi dengan beragam bentuk tradisi dan bermacam kekeben seperti tebu, kembang manyang, belo, kue bhekar, dan lain sebagainya, sejatinya merupakan visualisasi dari masyarakat Telukjatidawang Bawean yang agamis dan humanis. Disamping itu, pembudayaan dan pelembagaan panganten masyarakat Telukjatidawang Bawean, dilakukan melalui pembiasaan (habitualiasasi) sejak dini melalui langgar, masjid, dan medan budaya yang lain. Hal tersebut berjalan bukan hanya karena habitualisasi semata, tapi juga didukung dengan ligitimasi elit lokal, dan sakralitas budaya. Bagi masyarakat Telukjatidawang, panganten bukan hanya sekedar ritual dan tradisi keagamaan semata, tapi merupakan identitas budaya yang mengekspresikan karakter, prinsip, sikap sosial dan keagamaan masyarakat Telukjatidawang Bawean, seperti sikap inklusif, egaliter, humanis, dermawan, suka tolong-menolong dan riligius. Dari adanya proses pelembagaan panganten tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa terjadi proses dialektika nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam kontruksi budaya panganten yang terjadi melalui momen ekternalisasi, objektivasi, dan juga internalisasi.
Selanjutnya, sebagaimana yang diutarakan Shihab (1999: 364) bahwa esensi ajaran Islam meliputi kesetaraan (al-musawa), keadilan (al-’adalah), persamaan (equality), persatuan (al-ittihad), harkat dan martabat manusia (al-karamah al-insaniyah). Serta Nilai-nilai pendidikan Islam yang ada dalam al-Qur’an dan Hadist Nabi yaitu; nilai inklusif, egaliter/persamaan derajat, demokratis, humanis, kebersamaan, kedamaian. sebagaimana juga yang terdapat dalam Hasan ( 2017). Setelah diidentifikasi nilai-nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam budaya panganten masyarakat Telukjatidawang Bawean mengandung nilai inklusif, ta’aruf, harmoni, demokratis, toleransi, kebersamaan, moderat, ta’awun, dan juga humanis. Nilai-nilai tersebut yang ada dalam budaya Panganten bersifat aplikatif menjadi sikap dan karakter masyarakat, sedang rumusan Hasan masih bersifat konsep dan nilainya bersifat umum.
Fokus II: Tipologi masyarakat Bawean Telukjatidawang dalam mengkonstruk budaya panganten.
Ada tiga hal yang terkait dengan tipologi masyarakat Bawean dalam mengkonstruk budaya panganten, yaitu;
Fokus III: Dialektika nilai-nilai PAI multikultural dalam konstruksi budaya panganten masyarakat Bawean Desa Telukjatidawang
Terkait dengan moment dialektika nilai-nilai PAI multikultural dalam konstruksi budaya panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang, Ada tiga hal sebagaimana berikut ini;
Pengembangan bangunan teori sebagai temuan penelitian
Teori tentang trikotomi Islam santri, abangan, dan priyai dalam masyarakat Jawa oleh Geert, dan Islam pesisir dari Nursyam sulit ditemukan relevansinya dalam masyarakat Bawean Telukjatidawang secara khusus, dan masyarakat pulau Bawean pada umumnya yang merupakan kepulauan.
Teori tentang interaksi sosial masyarakat yang ada akan melahirkan kolaborasi nila-nilai agama dan budaya, sebagaimana menurut Vredenbregt (1996: 14), tradisi yang ada tidak bisa dipisahkan dengan konstruksi serta persentuhan Islam dengan berbagai macam kebudayaan dan etnis yang hidup di Bawean.
Dalam masyarakat Bawean Telukjatidawang interaksi sosial masyarakat yang ada tidak hanya melahirkan kolaborasi nila-nilai agama dan budaya, akan tapi kolaborasi merupakan kelanjutan dari hasil interseksi perbedaan latar belakang budaya dan suku yang bertemu dan bertumpu pada titik persamaan keyakinan yaitu Islam, yang kemudian melahirkan tradisi panganten.
Sebagaimana diungkapkan Cikusin (2006), bahwa budaya merupakan hasil dari masyarakat dan sekaligus akan menjadi milik masyarakat. Dan Koentjoroningrat (2009: 115-118) menjelaskan bahwa kontinuitas merupakan kesatuan masyarakat yang memiliki keempat ciri yaitu: Interaksi antar warga-warganya, adat istiadat, kontinuitas waktu, rasa identitas kuat yang mengikat semua warga. Dan Berger (1991: 32-35) mengatakan bahwa konstruksi sosial merupakan realitas objektif yang dikonstruk melalui momen eksternalisasi dan objektivasi dan dimensi subjektif yang dibangun melalui momen internalisasi.
Maka, seagaimana dalam masyarakat Bawean Telukjatidawang, dalam membentuk sebuah masyarakat yang humanis, toleran, dan guyub rukun, diperlukan adanya penanaman nilai-nilai PAI multicultural sejak dini sehingga menjadi karakter yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat.
Temuan Proposisi dalam Penelitian
Fokus III: Dialektika nilai-nilai PAI multikultural dalam konstruksi budaya panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang
Jika dialektika nilai P.I Multicultural dalam setiap medan budaya dan momentum dialektika dilakukan dengan habitualisasi sejak dini, dan didukung dengan ligitimasi elit lokal serta sakralitas budaya. Maka akan terbentuk karakter masyarakat yang inklusif (humanis, toleran, dan guyub rukun).
Fokus II: Tipologi masyarakat Bawean Telukjatidawang dalam mengkonstruk budaya panganten
Jika sebuah tradisi dapat mengakomodir sebuah keyakinan dan budaya. Maka akan melahirkan pemahaman dan sikap keagamaan masyarakat yang sangat inklusif (akulturatif dan juga dialogis).
Fokus I; Kontruksi budaya panganten dalam masyarakat Bawean Telukjatidawang Tambak.
Jika interaksi masyarakat dapat membentuk hubungan relasi kekuasaan, cultural, dan kekeluargaan. Maka hal tersebut akan menjadi sumber kekuatan kultur masyarakat dalam mengkonstruk sebuah budaya dalam membentuk karakter masyarakat yang toleran.
Pengembangan Model Dialektika Nilai-nilai P.I Multikultural dalam Konstruksi Budaya Panganten Masyarakat Bawean Telukjatidawang
Model dialektika nilai-nilai keIslaman yang berbasis Pendidikan Islam Multikultural dalam budaya Panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang terkonstruk dalam sebuah sistem yang tidak hanya dilihat dari satu sudut pandang, dimana disitu ada dimensi pendidikan, agama, sosial dan juga budaya. Berikut gambaran dari model dialektika nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam budaya panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang.
Dalam budaya panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang, peneliti mengidentifikasi setidaknya ada delapan nilai yang menjadi landasan nilai Pendidikan Islam Multikultural, nilai tersebut yaitu; 1) Ta’aruf (membangun relasi), 2) Harmoni, 3) Demokratis, 4) Toleransi, 5) Kebersamaan, 6) Moderat, 7) Ta’awun (tolong-menolong), dan 8) Humanis. Dapat dipahami bahwa dialektika nilai-nilai pendidikan Islam multikultural dalam budaya lokal (panganten) terjadi diberbagai lokus dan simbol budaya Islam sebagaimana dijelaskan diatas. Disana terjadi penyesuaian dan identifikasi diri yang melahirkan sebuah konsepsi bahwa panganten merupakan perilaku yang tidak terpisahkan dalam ajaran Islam itu sendiri. Tradisi panganten sendiri sudah merata disemua lapisan masyarakat.
Terserapnya nilai-nilai Pendidikan Islam Multikultural tersebut tidak lepas dari adanya legitimasi elit lokal dalam mensosialisasikan tradisi tersebut melalui penanaman nilai dan pembiasaan perilaku keagamaan sejak dini di berbagai medan budaya yang ada seperti masjid, langgar, serta rumah warga/masyarakat, serta sakralitas budaya. Disamping hal tersebut, dialektika nilai-nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam budaya Panganten terjadi pada tiga momentum dialektik yaitu dalam momen externalisasi, objektivasi dan juga internalisasi. Sehingga terkonstruk budaya panganten yang ada ditengah-tengah masyarakat Bawean Telukjatidawang.
Tahap selanjutnya pengetahuan tentang nilai-nilai keIslaman yang menjadi landasan nilai Pendidikan Islam Multikultural tersebut menjadi sebuah values atau sistem nilai yang dipegang oleh masyarakat, yang seolah-olah nilai tersebut disepakati dan menjadi pegangan bagi masyarakat sebagai sesuatu yang berharga yang harus diamalkan, dimana nilai-nilai tersebut kemudian menjadi acuan tata-laku bagi masyarakat Bawean Telukjatidawang yang rukun dan toleran, serta menjadi identitas lokalitas yang melekat yang wujud dalam budaya panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang itu sendiri.
Berikut Pengembangan model dialektika nilai dalam konstruksi budaya panganten dapat dilihat dalam bagan berikut;
Bagan Pengembangan Model Dialektika Nilai-nilai P.I Multikultural dalam Konstruksi Budaya Panganten
Nilai-nilai
P.I Multikultural
Dialektika Nilai-nilai P.I Multikultural
Proses Dialektik
Medan Dialektik
Nilai KeIslaman
Output;
Masyarakat Rukun dan Toleran
Konstruksi Budaya
Panganten
Moment Dialektik
BAB VI
Kesimpulan
Contoh
Kesimpulan
Fokus I; Kontruksi budaya panganten dalam masyarakat Bawean Telukjatidawang Tambak.
Budaya panganten mejadi identitas Islam lokal bagi masyarakat Telukjatidawang sejatinya merupakan aktifitas ritual keagamaan yang sudah menjadi budaya. Bagi masyarakat Telukjatidawang, agama sudah bukan lagi hanya sekedar norma, akan tetapi agama merupakan tatalaku yang sudah membudaya yang diwariskan dari generasi kegenerasi. Makna ritual dalam upacara budaya panganten ditampilkan dengan pengabdian dan ibadah yang ditujukan agar mendapatkan pahala dengan cara bersyukur atas dipertemukannya dua sejoli dalam ikatan suci pernikahan.
Sedangkan makna sosialnya adalah saling membantu dan tolong menolong dengan sesama anggota masyarakat. Sementara bentuk tradisi yang ada saat ini adalah hasil karya budaya mayarakat yang diciptakan dari berbagai unsur nilai-nilai budaya lokal dan Islam yangmerupakan identitas budaya yang mengekspresikan karakter, prinsip, sikap sosial dan keagamaan masyarakat Telukjatidawang itu sendiri. Sedangkan nilai-nilai pendidikan Islam multicultural yang ada dalam budaya panganten ada 9 yaitu; nilai inklusif, ta’aruf (membangun relasi), harmoni, demokratis, toleransi, kebersamaan, moderat, tolong-menolong, dan juga humanis.
Fokus II: Tipologi masyarakat Bawean Telukjatidawang dalam mengkonstruk budaya panganten
Adapun tipologi masyarakat Telukjatidawang dalam menkonstruk budaya panganten yaitu; Pertama, panganten menjadi momen harmonisasi Islam dan tradisi lokal, dimana terjadi perpaduan yang saling menguntungkan dan menguatkan dalam pertemuan budaya lokal dan agama Islam di Telukjatidawang. Yang mana Islam sendiri dijadikan sebagai identitas sosial untuk memperkuat identitas yang sudah ada sebelumnya. Dalam kaitannya dengan sikap atau tipologi masyarakat tentang fenomena hubungan budaya dan agama dalam masyarakat Telukjatidawang itu sendiri, hal tersebut telah melahirkan pemahaman dan sikap keagamaan masyarakat Islam Telukjatidawang yang sangat akulturatif. Mulai dari agama sebagai hal yang diyakini (sistem nilai), difahami (sistem kognisi), hingga dipraktikkan (sistem afeksi). Pentahapan tersebut tidak saja muncul pada tataran keyakinan saja, tetapi penggabungan ketiga tahapan diatas melahirkan sebuah pemahaman bahwa agama merupan sumber inspirasi dari tradisi-tadisi lokal yang ada. Sehingga budaya panganten dalam masyarakat Telukjatidawang menjadi momentum dari adanya harmonisasi Islam dan tradisi lokal
Kedua, panganten menjadi momen negosiasi Islam dengan tradisi lokal. Dimana penyesuaian interseksi antara Islam dan tradisi lokal dalam arena budaya panganten, dalam artian terjadi dalam segala aspek, seperti pada level kemasan rangkaian acara, waktu pelaksanaan, gaya komunikasi, serta tindak tanduk warga dalam merespon upacara itu sendiri. Akomodasi budaya tersebut berjalan secara alamiah mengikuti perjalanan waktu dan bergantinya zaman. Proses penyesuaian dan adaptasi nilai-nilai budaya dan agama tersebut apabila diserap dalam pendidikan Islam multikultural dapat dijadikan sebagai salah satu sumber acuan dalam pengembangan Pendidikan Islam Multikultural, karena secara empirik sosial-budaya menjadi salah satu azas yang tiadak terlepaskan dari pengembangan kurikulum pendidikan Islam multicultural.
Ketiga, dari keterlibatan masyarakat dalam tradisi panganten. Dimana setiap anggota masyarakat mempunyai peranannya masing-masing yang sangat urgen dalam kontruksi budaya panganten, baik ia sebagai elit lokal maupun anggota masyarakat umum secara dialogis dan interseksi. Dimana antara elit lokal dan anggota masyarakat umum terjadi hubungan relasi kekuasaan, cultural, dan kekeluargaan yang kemudian menjadi sumber kekuatan kultur masyarakat Telukjatidawang dalam mengkonstruk budaya panganten yang menjadi momentum dalam penanaman nilai-nilai pendidikan Islaman multikultural, serta sebagai arena aplikatip dari niali-nilai tersebut yang memiliki fungsi control sebagi tata laku dan nilai bagi kehidupan masyarakat Telukjatidawang yang agamis.
Fokus III: Dialektika nilai-nilai PAI multikultural dalam konstruksi budaya panganten masyarakat Bawean Telukjatidawang
Ada tiga tahap momen dialektika nilai yang dapat membentuk karakter masyarakat Bawean Telukjatidawang yang humanis, moderat, toleran, dan guyub rukun yaitu; Pertama; eksternalisasi. Pada tahap ini panganten menjadi momen penyesuaian nilai-nilai pendidikan Islam Multikultural yang ada dalam teks-teks suci al-Quran maupun hadist Nabi Saw.dan juga nilai-nilai agama sebagai legitimasi perayaan budaya panganten. Penyesuaian dengan teks suci dan nilai agama tersebut dilakukan oleh elit lokal dalam momentum pengajian, khutbah, pembelajaran di madrasah maupun di langgar.Selanjutnya penyesuaian dengan nilai-nilai tradisi lama.Yang mana penerimaan masyarakat Telukjatidawang Bawean terhadap panganten sebagai tradisi diwujudkan dalam bentuk partisipasi dan keterlibatan masyarakat itu sendiri dalam setiap pelaksanaan upacara tradisi panganten dalam setiap ruang budayanya (culture spare).
Kedua; ojektivasi, pada tahap ini panganten menjadi momen penyerapan nilai-nilai pendidikan Islam multicultural. Dimana Masyarakat Telukjatidawang yang merupakan muslim secara teologis dan juga normative, menerima tuntutan untuk menjalankan keyakinan agamanya. Keyakinan tersebut kemudian diobjektivasi melalui parayaan tradisi panganten. Jadi panganten disini dapat dipahami merupakan objektivasi dari eksternalisasi keyakinan teologis dan juga normatif masyarakat Telukjatidawang akan perintah agama untuk membina rumah tangga dalam ikatan suci pernikahan. Keyakinan teologis masyarakat Bawean yang tercurahkan menjadi upacara tradisi panganten, sehingga tradisi tersebut dilestarikan dan dipertahankan karena hubungannya yang fungsional antara keyakinan dan kebutuhan sosial. Keyakinan akan kebenaran Islam dan kebenaran nabi Muahmmad Saw., menghendaki adanya ketaatan menjalankan perintah agama, seperti tolong menolong, bersyukur, humanis, ta’aruf, harmoni, demokratis, toleransi, kebersamaan, dan lain sebagainya. Sosialisasi sekunder yang diadaptasi sejak dini dalam masyarakat sudah meresap dan membentuk karakter setiap warganya.
Ketiga; internalisasi; dimana dalam tahap ini panganten merupakan momen dalam pengenalan dan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam multikultural. Momentum panganten dalam masyarakat Telukjatidawang menjadi sarana untuk mencari pahala, melaksanakan kewajiban sebagai muslim, dan juga kewajiban sesama anggota masyarakat untuk saling tolong menolong sehingga kehidupan yang guyub rukun dan juga harmonis dapat terlaksana. Budaya panganten dalam masyarakat Telukjatidawang menjadi media penanaman nilai-nilai pendidikan Islam multicultural, dimana dalam budaya panganten yang dilakukan dibeberapa medan budaya seperti langgar, masjid, dan juga rumah kiyai sebagai arena pembudayaan untuk menanamkan serta mengamalkan nilai-nilai keIslaman yag mejadi ladasan Pedidikan Islam Multikultural seperti ta’aruf, ta’awun, I’tidal dan lain sebaginya.
Implikasi Hasil Penelitian
Teoritis
Praktis
Wallu a’lam bisshawab…