MATA KULIAH �BAHASA INDONESIA�
Dosen Pengampu:
Sajidin Muttaqin Putra, M.Pd.
TUJUAN UMUM DAN KHUSUS �KULIAH BAHASA INDONESIA
TUJUAN UMUM
Agar para mahasiswa memiliki sikap bahasa yang positif terhadap bahasa Indonesia
TUJUAN KHUSUS
Agar para mahasiswa terampil menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar secara lisan dan terutama secara tertulis
PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA �DAN PETUNJUK PERKEMBANGAN
1. BAHASA INDONESIA BERASAL DARI BAHASA MELAYU
2. KAPAN BAHASA MELAYU MULAI DIJADIKAN ALAT KOMUNIKASI:
�
PERESMIAN NAMA BAHASA INDONESIA
TANGGAL 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda)
ALASAN BAHASA MELAYU DIANGKAT SEBAGAI BAHASA INDONESIA
Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
1. Bahasa Nasional
Tercantum pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928
Fungsi sebagai bahasa nasional:
lanjutan
2. Sebagai bahasa Negara�Tercantum di dalam UUD 1945 Bab XV, pasal 36)
Fungsi sebagai bahasa negara:
dan teknologi
RAGAM BAHASA INDONESIA
1. TULIS
* Terikat struktur dan ejaan
* Ragam tulis lebih pada pengembangan
akademik dan ilmiah
2. LISAN (Retorika)
* Menghendaki orang lain sebagai lawan bicara
* Membutuhkan mimik, gerak, pandangan,
dan intonasi
3. BAKU
* Ditulis untuk kepentingan komunikasi tulis.
* Diakui sebagai bahasa resmi (KBBI)
CABANG ILMU BAHASA
FONOLOGI
Berkaitan dengan bunyi bahasa
MORFOLOGI
Berkaitan dengan pembentukan kata
SINTAKSIS
Berkaitan dengan penyusunan kalimat
SEMANTIK
Berkaitan dengan pemahaman dan pengembangan makna
TANDA BACA
A. Tanda Titik (.)
1. mengakhiri kalimat
contoh: (A.), (1.)
3. memisahkan angka jam, menit, dan detik
contoh: 13.15.25
4. menulis daftar pustaka
contoh: Hirata, Andrea. 2006. Laskar Pelangi. Yogyakarta: Bentang.
5. menulis bilangan ribuan dan kelipatannya
contoh: 3.000.000
6. menulis gelar akademik/nonakademik
contoh: (S.E.), (S.H.), (S.Pd.), (Dr.), (Prof.), (Hj.)
7. menulis singkatan
contoh: (No.), (Yth.), (Jend.), (s.d.)
B. Tanda Koma (,)
1. menulis rincian atau pembilangan
Cth: - Kami membutuhkan air, makanan, pakaian, dan tempat singgah.
- Merah, biru, kuning, ataupun putih merupakan warna dasar.
cth: (Jadi, …), (Oleh karena itu,…), (Dengan demikian,…)
cth: Mereka berkata, “ Kami membutuhkan bantuan media.”
4. memisahkan nama, alamat, dan tempat tinggal
cth: Jaka Permana, Jalan Merdeka, Jakarta
5. memisahkan kata ekspresi atau emosi
cth: (Amboi,…), (Wah, …), (Astaga, …)
C. Tanda Koma (,)
cth: (Faizal Akbar, S.H.), (Erni Fitria, S.E.), (Permana, S.Si.)
cth: (13,5), (10,5)
cth: Di sekolah kami, misalnya, masih banyak siswa yang sakit.
9. memisahkan anak kalimat dan induk kalimat jika anak kalimat berada di depan
cth: Ketika hujan deras, semua buruh berteduh di tepi bangunan.
10. memisahkan antara bagian-bagian nama dalam daftar pustaka dan catatan kaki
cth: (Ismail, Taufik. …), (Yogyakarta: Bentang. 2006), halm. 3
D. Tanda titik dua (:)
cth: Kami membawa alat tulis: pensil, penggaris, dan pena.
cth: hari, tanggal: Senin, 21 Maret 2011
tempat : Lab. Bahasa
cth: Surya : “Wah, indah sekali pantai ini!”
Reza : “Di sini juga tempat penjualan ikan.”
cth: Yusuf: 15, (2006: 12), (Nurdiansyah,2011: 35)
E. Tanda titik koma (;)
cth: Hari sudah hampir pagi; tugas ini belum selesai.
cth: Mereka mengerjakan tugas di kelas; kami mencari bahan materi di perpustakaan.
F. Tanda hubung (-)
cth: Tima SAR sedang mencari kor-
ban bencana tsunami.
cth: se-Jawa, se-Bali, se-Indonesia
3. memisahkan (singkatan, kata asing dan imbuhan)
cth: KTP-nya, di-smash
4. memisahkan imbuhan dan angka
Cth: ke-17, 90-an
Cth: dua puluh lima-ribuan (20 5000)
anak-istri saya (anak dan istri saya)
Cth: makan-makan, jalan-jalan
G. Tanda pisah (–)
cth: Jogja–Solo, 2010–2011
cth: Kesuksesan itu –mereka yakin– akan dapat diraih.
H. Tanda Kurung ((…))
cth: DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta)
2. membuat perincian
cth: Faktor pendidikan menyangkut masalah (a) sarana, (b) pendidik, dan (c) peserta didik
cth: Keterangan itu (lihat Tabel 13) menunjukkan faktor prestasi anak di pengaruhi oleh motivasi
I. Tanda Petik (“…”)
cth: “Kami sudah menunggu,” kata Rini, “Ya, tunggu sebentar!”
cth: Kami sudah menonton “Sang Pemimpi”.
Kalian sudah membaca buku “Pedoman Umum EYD”?
3. mengapit istilah atau kata yang mempunyai arti khusus
cth: Ia sedang “sakau” hingga pingsan.
cth: Ia disebut sebagai pendekar “Si Pitung” dari Betawi.
J. Tanda Garis Miring (/)
cth: No. :3/UR/007/03/2011
cth: mahasiswa/mahasiswi, Bapak/Ibu
Rp 500,00/lembar
�HURUF, HURUF KAPITAL, DAN HURUF MIRING
a. ai, au, oi (diftong huruf vokal)
di awal : aula, ain
di tengah : syaitan, saudara, boikot
di akhir : pandai, harimau, amboi
b. kh, ng, ny, sy (diftong huruf konsonan)
di awal : khusus, ngilu, nyata, syarat
di tengah : akhir, bangun, hanyut, isyarat
di akhir : tarikh, senang
B. Pemenggalan Kata
a. jika ada vokal berurutan
cth: au-la, sau-dara,
b. jika ada huruf vokal dan konsonan di tengah
cth: ba-pak, de-ngan, mu-ta-khir
c. jika ada dua huruf konsonan yang beruntun
cth: man-di, som-bong, bang-sa
d. jika ada tiga atau lebih konsonan
cth: in-stru-men, in-fra, bang-krut, ikh-las
Lanjutan …
cth: minum-an, mem-bawa, ambil-lah
catatan:
1. imbuhan –i tidak dipenggal (mak-nai)
2. pemenggalan imbuhan sisipan dipisah (te-lun-juk, ge-ri-gi, ge-me-tar)
3. Jika satu kata terdiri dari satu unsur atau lebih (foto-grafi: fo-to-gra-fi, introspeksi: in-tro-spek-si)
�C. Huruf Kapital atau Huruf Besar �
cth: Kami tertidur.
2. dipakai pada huruf pertama petikan langsung
cth: Ibu bertanya, “Kapan kamu pulang?”
cth: Allah, Isa, Budha, Al-Quran
cth: Sri Sultan Hamengku Buwono, Haji Ahmad Yusuf
Cth: Presiden Indonesia, Gubernur Sulawesi Selatan
lanjutan
cth: Usman Hanafi
cth: suku Dayak, negara Indonesia, bahasa Mandarin
8. menulis nama hari, bulan, tahun
cth: Senin, Maret, Masehi
9. menulis nama letak geografi (jika diikuti nama tempatnya)
cth: Danau Toba, Selat Sunda, Jalan Proklamasi
Cth: Majelis Permusyawaratan Rakyat, Keputusan Presiden
lanjutan
cth: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kedaulatan Rakyat
cth: Bom buku “Yahudi Militan”
cth: Prof., Dr., S.H.
cth: Bapak, Ibu, Saudara, Anda, Paman, Nenek
cth: KPK, BNN
Singkatan dan Akronim
cth: (S.H.), (PT), ((s.d.), (d.a.), (dsb.), (Yth.), (dst.)), (H2O)
a. akronim nama diri
cth: ABRI (Akademi Bersenjata Republik Indonesia)
SIM (Surat Izin Mengemudi)
b. akronim nama diri berupa gabungan suku kata
cth: Bapenas (Badan Perencana Pembangunan Nasional)
Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia)
c. akronim nama diri berupa gabungan huruf
cth: pemilu (pemilihan umum), rudal (peluru kendali)
tilang (bukti pelanggaran)
D. HURUF MIRING
cth: buku Cermat Berbahasa Indonesia
majalah Tempo
harian Kompas
cth: Kami akan menipu, tetapi tertipu.
cth: oryza sativa (nama latin padi), aurellia (nama latin cacing)
Imbuhan
Imbuhan Asli
Pengembangan imbuhan
Imbuhan meN:
men: menulis, menunjuk, menanyakan
mem: membawa, membuka, memberi
meng: mengambil, menghukum, mengukur
meny: menyapu, menyangka, menyuplai
menge: mengecat, mengebom, mengebor
Imbuhan peN:
pen: penulis, penolong
pem: pembajak, pemukul, pembasmi
peng: penghasil, pengawal, penghalus
peny: penyapu, penyabar, penyesalan
penge: pengebor, pengecat, pengebom
Pengembangan Imbuhan
Gabungan imbuhan di-i
di + tempat (dipisah) 🡪 di + ungkapan/idiom (digabung)
di meja 🡪 dimejahijaukan
di rumah 🡪 dirumahkan
di Indonesia 🡪 diindonesiakan
di dalam 🡪 didalami
di belakang 🡪 dibelakangi
di + tempat (dipisah) 🡪 di + kerja (digabung)
di jalan 🡪 dijalankan
di kantor 🡪 diambil
di sungai 🡪 dibuang
Makna Imbuhan meN-
membaca, merundingkan
Proses Peluluhan
Pada awalan meN dan peN dapat mengalami proses peluluhan
jika kedua imbuhan tersebut bertemu dengan kata yang
berawalan huruf (K, T, S, P) cth: pukul, kurang, satu, tunjuk
Jadi: me+ tunjuk= menunjuk, me+kurang= mengurang
me+ pukul= memukul, me+satu = menyatu
Kecuali: imbuhan tersebut tidak meluluhkan kata yang diawali
dengan huruf (K, T, S, P) jika terdapat klaster, tetapi tetap.
Klaster: kata yang diawalai dengan dua konsonan
cth: praktik, traktir, sponsor, kritik
Jadi: me+protes= memprotes, me+traktir= mentraktir
me+kritik = mengkritik, me+sponsor+i= mensponsori
Imbuhan Asing
lanjutan
Bahasa Arab
2. if: sportif 5. al: musikal
3. ik: heroik
Imbuhan Daerah
Kata dan Kalimat
Kata sebagai unsur pembentuk kata memiliki berbagai jenis fungsi dan makna untuk membentuk kalimat.
Jenis kata:
Gabungan Kata: Frasa
Frasa: gabungan kata yang menduduki satu fungsi atau unsur dalam kalimat
Jenis Frasa:
cth: di kebun, ke pasar, dari kampus, pada malam
- frasa koordinatif: frasa yang unsurnya tidak dapat diganti oleh unsur lain dan hanya dapat disisipi oleh unsur (dan) atau (atau)
- frasa atributif: frasa yang terdiri dari unsur inti dan tambahan (atribut)
- frasa apositif: frasa yang berupa istilah dan tidak bisa digantikan dengan unsur lain
Jenis Frasa
Gabungan Kata (bukan Frasa)
cth: duta besar, kambing hitam, kereta api, kelinci percobaan, orang tua, tangan kanan, memeras keringat, banting tulang
cth: acapkali, adakalanya, barangkali, bilamana, beasiswa, belasungkawa, bumiputra, daripada, darmabakti, kacamata, olahraga, radioaktif, saputangan, saripati, segitiga, sekalipun, sukacita, sukarela, peribahasa,
Kata Baku
Apotek Atlet Analisis Aktif Aktivitas Kreatif Kreativitas Sportif Sportivitas Jadwal Kualitas Kuantitas Produktif Produktivitas | Hakikat Formal Provinsi Ijazah Zaman Sistem Nasihat Teknik Terampil Ekstrem Praktik Izin November Teoretis | Pikir Napas Risiko Sangsi Sanksi Pingsan Konkret Jumat Quran Doa Saksama Hikmat Mantap Sabtu Negeri |
Klausa
Klausa ada struktur atau gabungan kata
yang memiliki struktur unsur kalimat tetapi
belum menjadi kalimat.
Cth: kami sedang mengamen
mereka membutuhkan makanan
Jenis Klausa:
1. Klausa atasan/inti: induk kalimat
2. Klausa bawahan/: anak kalimat
Kalimat
Kalimat yang memiliki satu inti kalimat (klausa)
contoh:
Kami selalu menunggu hujan emas setiap hari.
Kami berlibur ke Paris.
lanjutan
2. Kalimat Majemuk
kalimat yang memiliki unsur klausa atau inti kalimat lebih dari satu.
Cth: Ia tidak sekolah karena ia sakit
Kami tetap berangkat walaupun hari ini hujan lebat.
Mereka tetap akan mendaki gunung meskipun di antara mereka ada yang tidak dapat ikut.
lanjutan
1. Kalimat Majemuk Setara
Konjungsi: dan, atau, kemudian, lalu,
Pemuda itu membawa patung dan benda kerajinan di dalam mobilnya.
lanjutan
2. Kalimat Majemuk bertingkat:
Pemuda yang duduk di dekat pohon itu akan menyeberang dan membeli makanan ringan
Petani itu membajak sawah dengan alat tradisional yang dibantu oleh kerbau.
3. Kalimat majemuk campuran:
Mereka membawa surat dan mereka membawa hadiah ketika kami sedang rapat membahas lomba futsal di kampus.
Para karyawan mengajukan gugatan kenaikan gaji dan perpanjangan kontrak ketika perusahaan sedang mengalami kenaikan pendapatan bulan ini.
lanjutan
Konjungsi Korelasi
Bukan … melainkan.
Contoh:
Bukan hanya mahasiswa yang menginginkan presiden mundur melainkan masyarakat DIY juga menginginkan hal yang sama.
lanjutan
Tidak (hanya)… tetapi.
Tidak hanya di Surabaya dan Jakarta tetapi di DIY juga sedang terserang wabah ulat bulu.
Baik … maupun
Baik siswa maupun guru semua harap menuju ke aula untuk menyaksikan pementasan drama dari siswa kelas IX.
lanjutan
Antara … dengan/dan
Antara persepakbolaan Indonesia dengan Amerika latin memiliki tipe dan gaya permainan yang sama karena sebagian pemain asing di Indonesia berasal dari Amerika latin.
lanjutan
Kalimat Aktif dan Pasif
Kalimat Aktif: melakukan aktivitas
Contoh Kalimat aktif:
lanjutan
Kalimat pasif: dikenai aktivitas
Boneka itu dibuat oleh perajin di desa wisata. (Perajin itu membuat boneka di desa wisata = aktif.)
Mobil itu diparkir di halaman kantor.
Anak itu terjatuh dari sepeda.
Saya tertidur.
lanjutan
Kalimat Efektif
Kalimat Efektif: Kalimat yang tidak berlebihan
Para mahasiswa berkumpul bersama di aula.
2. Mereka membicarakan (tentang=tidak perlu) permasalahan keuangan organisasi.
3. Kami berbicara tentang tujuan dan visi organisasi.
4. Wanita itu sangat cantik.
5. (Di mana= tidak penting) mereka cenderung menyanyikan lagu tersebut.
Paragraf
Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan/menjelaskan gagasan atau topik tertentu.
Syarat-syarat paragraf
Dalam satu paragraf hanya terdiri dari satu pokok pikiran. Kalimat-kalimat harus disusun secara cermat agar tidak menyimpang dari topik.
Kalimat yang ditulis logis dan ada hubungan antarkalimat
Kata Penghubung Antaparagraf
- hubungan tambahan: selanjutnya, lebih lagi, di samping itu, lalu, berikutnya, demikian pula, begitu juga, lagi pula
- hubungan pertentangan: akan tetapi, namun, bagaimanapun, walaupun demikian, sebaliknya, meskipun begitu, lain halnya.
lanjutan
lanjutan
Jenis Paragraf �Berdasar Letak Kalimat Utamanya
Jenis Paragraf Berdasar Isinya
Pengembangan Paragraf
Karya Tulis Ilmiah
Karya tulis atau karangan ilmiah adalah karangan yang menyajikan gagasan atau argumen keilmuwan berdasarkan fakta.
Mengenal karya tulis ilmiah
Kekhususan karya tulis ilmiah
Pengguna Karya Tulis Ilmiah
Semua pihak yang terlibat dan mengembangkan karya tulis ilmiah seharusnya memiliki kemampuan menyusun karya tulis ilmiah
Karya tulis ilmiah dan nonilmiah
Karya Tulis Ilmiah | Karya Tulis Nonilmiah |
Fakta umum | Fakta pribadi |
Metodologi penulis ilmiah (prosedural) | Model penulisan beragam |
Kebenaran dapat dibuktikan (objektif) | Bersifat subjektif |
Jenis Karya Tulis
Karya Tulis Ilmiah | Karya Tulis Nonilmiah |
Makalah | Artikel/ opini (nonfiksi) |
Laporan penelitian | Berita/ features (nonfiksi) |
Skripsi | Cerpen (fiksi) |
Diktat | Novel (fiksi) |
Buku teks | Puisi (fiksi) |
Karakteristik Karya Tulis Ilmiah
KARANGAN ILMIAH
Laporan.�
Makalah
Kertas kerja
Skripsi
Tesis
Disertasi
Karya ilmiah
Manfaat tulisan ilmiah
Tujuh macam sikap ilmiah
LANGKAH PENULISAN KARYA ILMIAH
PILIH TOPIK
Pokok bhsn tertentu & tent ruang lingkup
Pilih
TENTUKAN JUDUL
OUTLINE
KUMPUL DATA
ORGANISASIR
EDITING
Judul menarik dan terbatas
Bentuk & jenis krgn dgn metode penulisan
Studi pustaka, wawancara, observasi
Data lalu susun jadi wacana
Kaidah bahasa, ejaan, diksi, alinea
tetapkan
Sesuaikan
laksanakan
Klasifikasikan
Suntinglah
PENULISAN AKHIR
PEMILIHAN TOPIK/ MASALAH
Topik adalah pokok permasalahan, apa yang akan ditulis
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan topik
Pembatasan topik
Penentuan Judul
Melontarkan pertanyaan
Masalah apa?
Mengapa?
Judul harus dalam bentuk Frasa
Judul harus dalam bentuk frasa, dapat pula berupa kata kerja asal bukan merupakan kalimat
Di mana?
Kapan?
Untuk apa/ siapa?
Pembatasan dan penjelasan dengan pemberian anak judul �Antara Judul dan Anak judul dipisahkan dengan :
Pembatasan Topik
Indonesia ----🡪 Jawa ---🡪 Jawa Tengah --🡪 Semarang ----🡪 Tembalang
Pulau Jawa Sebelum Indonesia Merdeka --🡪 Semarang sebelum Indonesia Merdeka
Kebudayaan Indonesia --🡪 Seni Patung di Zaman Kerajaan Hindu
Dekadensi Moral di Kalangan Remaja --🡪 Pokok Pangkal Timbulnya Dekadensi Moral di Kalangan Remaja
Ruang Lingkup
Kesehatan ---🡪 Rumah Sakit ---🡪 Perawat
Agama ----🡪 Islam ----🡪 Syariat ---🡪 Puasa
Aspek Khusus – Umum, Individual – Kolektif
Pengaruh Siaran TV terhadap Masyarakat Jawa Tengah ---🡪 Pengaruh Siaran Televisi bagi Perkembangan Anak di Jawa Tengah
Objek material dan objek formal
Keluarga Berencana Ditinjau dari Segi Agama
TEMA
Struktur Karya Tulis Ilmiah
Struktur Utama KTI
Struktur KTI (Makalah)
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan dan Maksud Penulisan
(dapat ditambahkan asumsi dasar dalam makalah)
Bab II Landasan Teori
(Berisi argumen yang diperkuat oleh teori yang berhubungan dengan topik yang dibahas)
Bab III Metode Penulisan
Metode dan Prosedur Kajian
Bab IV Pembahasan
Hasil analisis dan pembahasan
Bab V Simpulan dan Saran
(disajikan simpulan untuk menjawab rumusan permasalahan dan membuktikan kajian yang dilakukan)
Struktur KTI (Skripsi)�
Bab I. Pendahuluan
Lanjutan (format Skripsi)
Bab II. Landasan Teori
(Berisi argumen yang diperkuat oleh teori yang berhubungan dengan topik yang dibahas)
Bab III. Metode Penelitian
Lanjutan (format Skripsi)
Bab IV Pembahasan
Lanjutan (format Skripsi)
Bab V Simpulan dan Saran
(berisi simpulan untuk menjawab rumusan masalah atau membuktikan argumen berdasarkan kajian yang dilakukan dan diikuti dengan rekomendasi yang disajikan
FORMAT PENULISAN KARYA ILMIAH
Komponen-komponen karya ilmiah yang berupa skripsi, tesis, dan disertasi pada prinsipnya hampir sama. Komponen-komponen tersebut disusun dengan urutan sebagai berikut.
(1) Bagian Awal:
(a) Halaman sampul/judul.
(b) Halaman pengesahan.
(c) Kata Pengantar
(d) Daftar Isi
(e) Daftar Tabel (jika ada)
(f) Daftar Gambar (jika ada)
(g) Abstrak.
(2) Bagian Pokok/Utama:
(a) Pendahuluan (Latar belakang dan permasalahan)
(b) Kerangka teoritik dan pengajuan hipotesis (jika diperlukan)
, Tinjauan Pustaka
(c) Metode Penelitian
(d) Hasil penelitian, pengujian hipotesis, dan pembahasan
(e) Simpulan, implikasi, dan saran.
(3) Bagian Akhir:
(a) Daftar Pustaka (Kepustakaan)
(b) Lampiran-lampiran.
Komponen-komponen penting yang ada dalam sebuah makalah dapat dikemukakan secara runtut sebagai berikut.
(1) Bagian Awal:
Halaman judul (berisi judul makalah & nama penulis)
(2) Bagian Pokok/Utama:
(a) Judul makalah
(b) Nama Penulis dan institusinya
(c) Abstrak
(d) Pendahuluan
(e) Tinjauan pustaka /Dasar Teori (jika perlu)
(f) Metode Penelitian
(g) Hasil dan Pembahasan
(h) Simpulan dan Saran
(3) Bagian Akhir:
(a) Buku Rujukan (sumber)
(b) lampiran (jika perlu)
Karya Ilmiah Populer�
Tajuk rencana
Esai
Pikiran pembaca
Ulasan
A. Bahan dan Ukuran Kertas�
Bahan dan ukuran kertas yang dipakai dalam sebuah karya ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Ukuran kertas: A4 (21 x 29,7 cm).
2. Jenis kertas: HVS 80 gram.
3. Kertas doorslag berwarna (sesuai dengan warna yang telah ditentukan) dengan lambang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta .
B. Pengetikan�
Ketentuan-ketentuan dalam pengetikan sebuah karya ilmiah dirinci sbb :
1. Menggunakan software pengolah kata dengan platform Windows, seperti MS Word, Excel, dan lain-lain.
2. Jenis huruf yang digunakan adalah Times New Roman dengan ukuran 12 kecuali untuk:
b. Catatan kaki (footnotes), yang menggunakan font ukuran 10.
3. Huruf tebal (bold) digunakan untuk judul dan sub-judul (sub-bab, sub sub-bab), memberi penekanan, pembedaan, dan aejenisnya.
4...
Lanjutan : Pengetikan
4. Huruf miring (italic) digunakan untuk istilah dalam bahasa asing atau bahasa daerah, memberi penekanan, pembedaan (termasuk pembedaan sub-judul yang hirarkhinya tidak se ingkat), dan sejenisnya. Judul sub sub-sub-bab dibuat dengan mengkombinasikan huruf miring dan huruf tebal (italic-bold atau bold-italic). Judul sub sub-sub-sub-bab dan seterusnya dibuat dengan huruf miring biasa (italic).
5. Batas tepi (margin):
a. Tepi atas : 4 cm
b. Tepi bawah : 3 cm
c. Tepi kiri : 4 cm
d. Tepi kanan : 3 cm
6. Sela ketukan (indensi) selebar 1 cm. Indensi Tab dipakai pada baris pertama alinea baru. Indensi gantung digunakan untuk daftar pustaka.
Lanjutan : Pengetikan
7. Spasi bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir:
a. Bagian awal dari karya ilmiah termasuk di dalamnya adalah halaman judul, halaman pengesahan, halaman pernyataan, abstrakkata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. Spasi yang digunakan adalah:
1) Pernyataan ditulis dengan spasi tunggal (lihat Lampiran).
2) Pengantar ditulis dengan spasi satu setengah
3) Abstrak, antara 150-250 kata (dalam satu halaman) ditulis dengan menggunakan spasi tunggal (lihat Lampiran).
4) Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, Daftar Lampiran disusun dengan menggunakan spasi tunggal (lihat Lampiran).
5) Lainnya, lihat Lampiran.
b. Bagian isi karya ilmiah meliputi Bab I sampai BAB V, disusun dengan menggunakan spasi satu setengah
c. Bagian akhir karya ilmiah terdiri dari Daftar Pustaka, yang daftar referensinya memakai spasi tunggal dan indensi gantung (jarak antar referensi dengan satu setengah), dan Lampiran yang ditulis dengan spasi satu setengah atau disesuaikan dengan bentuk/jenis lampiran
Lanjutan : Pengetikan
6. Judul karya ilmiah, bab, sub bab, dan lain sebagainya:
b. Judul sub-bab diketik sejajar dengan batas tepi (margin) sebelah kiri dengan menggunakan huruf A, B, C, dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
Lanjutan : Pengetikan 6.
c. Judul sub sub-bab dimulai dengan angka 1, 2, 3 dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-bab dicetak dengan huruf tebal (bold).
d. Judul sub sub-sub-bab dimulai dengan huruf a, b, c dan seterusnya. Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-bab dicetak dengan huruf tebalmiring (bold-italic).
e. Judul sub sub-sub-sub bab dimulai dengan angka 1), 2), 3) dst. (tanpa titik), dan judul sub sub-sub-sub-sub bab dimulai dengan huruf a), b), c) dst. (tanpa titik). Huruf pertama setiap kata dimulai dengan huruf besar (Title Case) kecuali kata penghubung dan kata depan, tanpa diakhiri titik. Judul sub sub-sub-sub-bab dan sub subsub- sub-sub-bab dicetak dengan huruf miring (italic).
Lanjutan : Pengetikan
f. Penulisan headings hierarchy (sub-judul)
Lanjutan : Pengetikan
Lanjutan : Pengetikan
g. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang perbedaan keduanya (headings hierarchy dan points/items hierarchy) dalam sebuah teks/tulisan, lihat contohnya pada Lampiran.
h. Sepanjang memungkinkan, hindari penggunaan hirarkhi sub-judul (headings hierarchy) yang terlalu banyak tingkatannya (sub sub-subsub- bab dan seterusnya). Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan penggunaan rincian poin-poin atau item-item (points/items hierarchy).
Lanjutan : Pengetikan
7. Bilangan dan satuan:
a. Bilangan diketik dengan angka kecuali bilangan yang terletak pada awal kalimat yang harus dieja.
Contoh:
Umur mesin 10 tahun.
Sepuluh perusahaan besar… dan seterusnya.
b. Bilangan desimal ditandai dengan koma (contoh: Rp1.150,25)
c. Satuan dinyatakan dengan singkatan resmi tanpa tanda titik (kg, cm, dan lain-lain)
Lanjutan : Pengetikan
7. Bilangan dan satuan:
a. Bilangan diketik dengan angka kecuali bilangan yang terletak pada awal kalimat yang harus dieja.
Contoh:
Umur mesin 10 tahun.
Sepuluh perusahaan besar… dan seterusnya.
b. Bilangan desimal ditandai dengan koma (contoh: Rp1.150,25)
c. Satuan dinyatakan dengan singkatan resmi tanpa tanda titik (kg, cm, dan lain-lain)
d. Pecahan yang berdiri sendiri ditulis dengan angka, sedangkan pecahan yang bergabung dengan bilangan bulat harus ditulis dengan huruf/dieja. Contoh: tiga dua pertiga.
Lanjutan : Pengetikan
C. Penomoran Halaman
Ketentuan-ketentuan dalam penomoran halaman, seperti halaman awal, halaman judul bab, halaman teks utama, dan lain sebagainya, adalah sbb :
1. Bagian awal karya ilmiah (halaman judul, halaman pengesahan, halaman pernyataan, abstrak, riwayat hidup, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran) diberi nomor halaman dengan angka romawi kecil (i, ii, iii, dan seterusnya) dan ditempatkan di tengah bagian bawah. Halaman judul tidak diberi nomor, tetapi tetap dihitung.
2. Mulai dari BAB I sampai dengan halaman terakhir pada Daftar Pustaka diberi nomor halaman dengan angka latin (1, 2, 3, dan seterusnya). Nomor halaman ditempatkan di sebelah kanan atas, kecuali bab baru yang diisi nomor halaman di tengah bawah.
3. Data yang mendukung penelitian disajikan dalam lampiran yang disajikan menurut kelompoknya tanpa diberi nomor halaman. Contoh:
Lampiran 1. Pedoman Wawancara
Lampiran 2. Peta Desa Mahak Baru
Lanjutan : Pengetikan
D. Tabel dan Gambar
Pembuatan dan penomoran Tabel dan Gambar mengikuti ketentuanketentuan sebagai berikut:
1. Tabel
a. Tabel dalam bagian isi karya ilmiah berisi ringkasan data-data penelitian yang penting. Data lengkapnya dapat disajikan pada Lampiran.
b. Tabel disajikan di tengah, simetris/sejajar dengan batas tepi kiri dan kanan pengetikan.
c. Kolom-kolom disusun dengan rapi sehingga mudah dibaca.
d. Jarak antara baris dalam tabel adalah satu spasi.
e. Garis batas tabel tidak melampaui batas tepi kertas.
f. Kolom tabel diletakkan sejajar dengan panjang kertas.
g. Tabel boleh diletakkan di tengah halaman di antara baris-baris teks. Dalam hal ini jarak tabel dan kalimat di bawahnya adalah dua spasi.
Lanjutan : Pengetikan
h. Di atas garis batas tabel dituliskan nomor dan judul tabel, dengan ketentuan:
1) Jika judul tabel terdiri dari dua baris atau lebih, maka spasi yang digunakan adalah satu spasi. Baris terakhir judul terletak dua spasi di atas garis batas atas tabel.
2) Nomor tabel terletak dua spasi di bawah baris terakhir teks.
Nomor tabel terdiri dari dua bagian, bagian pertama menunjukkan nomor bab tempat tabel itu dimuat, dan bagian kedua menunjukkan nomor urut tabel pada bab itu.
Contoh: Tabel 2.5 menunjukkan bahwa tabel itu ada di BAB II dan tabel urutan kelima pada bab itu.
Lanjutan : Pengetikan
i. Tabel yang memerlukan kertas yang lebih besar dari halaman naskah dapat diizinkan, tetapi sebaiknya hanya tabel yang jika dilipat satu kali sudah mencapai ukuran halaman naskah yang dimasukkan dalam teks.
j. Dalam setiap tabel tentang data, di bawah tabel tersebut harus dicantumkan sumbernya dengan ukuran huruf (font) 10 dengan spasi tunggal (lihat Lampiran).
Lanjutan : Pengetikan
2. Gambar
a. Yang dimaksud dengan gambar adalah bagan, grafik, peta, diagram, atau foto.
b. Garis batas gambar diletakkan sedemikian rupa sehingga garis batas tersebut tidak melampaui batas tepi kertas.
c. Untuk gambar besar, ukurannya diatur agar sejajar dengan batas tepi kiri dan kanan pengetikan; sedangkan untuk gambar kecil yang tampilannya menjadi kurang bagus kalau diperbesar, atur ukuran dan posisinya agar simetris dengan batas tepi halaman (tidak sejajar, tapi jarak ke tepi kiri dan kanan sama).
Lanjutan : Pengetikan
d. Di atas gambar disajikan nomor dan judul gambar, dengan ketentuan:
1) Jika judul gambar terdiri dari dua baris atau lebih, spasi yang digunakan adalah spasi tunggal. Baris terakhir judul terletak dua spasi di atas gambar.
2) Nomor gambar terletak dua spasi di bawah baris terakhir teks. Nomor gambar terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menunjukkan nomor bab tempat gambar itu dimuat, sedangkan bagian kedua menunjukkan nomor urut tabel pada bab itu.
Contoh: Gambar 2.1 menunjukkan bahwa gambar tersebut adalah gambar urutan pertama pada Bab II.
e. Gambar yang memerlukan halaman yang lebih besar dari halaman naskah disajikan sebagai lampiran.
f. Jika ada keterangan gambar, keterangan tersebut ditulis pada tempat kosong di bawah gambar (tidak diletakkan di halaman lain).
Banyak kan?�Pusing ndak?�Pusing ndak?�Pusing lah kan, masa nggk ya kan