1 of 51

Anastesi Lokal

& Manajemen Nyeri

drg. Irmi Fitria, MDSc

untuk Prosedur Emergency

2 of 51

drg. Irmi Fitria, MDSc

Nursindo Training Center�Email: drg.irmifitria@gmail.com

HP: 085288421817

3 of 51

Hasil Belajar

Setelah mengikuti materi ini,�peserta mampu memahami manajemen nyeri dan anestesi lokal dalam kedokteran gigi.

4 of 51

Indikator Hasil Belajar

Menjelaskan manajemen nyeri pada kasus emergency

Menjelaskan prosedur anestesi lokal dalam kedokteran gigi

5 of 51

Materi Pokok

Manajemen nyeri pada kasus emergency

Prosedur anestesi lokal dalam kedokteran gigi

6 of 51

Never treat

a stranger!

7 of 51

Manajemen

Nyeri

8 of 51

“Nyeri adalah suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian yang digambarkan dengan istilah kerusakan.”

― Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI)

9 of 51

“Nyeri adalah sensasi yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang terkait dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial yang digambarkan berupa kerusakan.”

― International Association for the Study of Pain (IASP)

10 of 51

“Nyeri memiliki tingkat keparahan, kualitas, durasi, dan berbagai penyebab patofisiologis.”

11 of 51

Jenis Nyeri

12 of 51

Nyeri Odontogenik

Involving hard tissue

Involving soft tissue

Dental caries involving enamel/dentin/cementum

Pulpitis

Dentin hypersensitivy

Gingivitis

Dry socket

Periodontitis

Osteomyelitis

Pericoronitis

13 of 51

Prinsip Manajemen Nyeri

Diagnosis

Dental Treatment

Drugs

Manajemen nyeri dalam praktik kedokteran gigi mengikuti prinsip “Three-Dimensional” (3-D) yang meliputi:

14 of 51

How To?

Prinsip SOCRATES

Site – Lokasi nyeri?

01

15 of 51

How To?

Prinsip SOCRATES

Onset – Kapan mulai terjadi?

02

16 of 51

How To?

Prinsip SOCRATES

Character – Gambaran nyeri?

03

17 of 51

How To?

Prinsip SOCRATES

Radiation – Apakah menyebar?

04

18 of 51

How To?

Prinsip SOCRATES

Associations – Apakah nyeri mengganggu aktivitas lainnya?

05

19 of 51

How To?

Prinsip SOCRATES

Time course – Apakah dikuti nyeri yang lain?

06

20 of 51

How To?

Prinsip SOCRATES

Exacerbating or relieving factors – Apakah nyeri berkurang atau semakin memburuk?

07

21 of 51

How To?

Prinsip SOCRATES

Severity – Seberapa parah nyerinya?

08

22 of 51

Visual Analog Scale

23 of 51

Manajemen Nyeri Pulpitis

  • Asepsis
  • Anestesi infiltrasi atau blok mandibula
  • Isolasi dengan rubber dam
  • Preparasi akses
  • Ekstirpasi pulpa
  • Jika pasien masih sakit, tambahkan anestesi intraligamen atau intrapulpa
  • Lakukan perawatan saluran akar
  • Evaluasi

24 of 51

Manajemen Nyeri Dentoalveolar Abses Akut

  • Asepsis
  • Anestesi infiltrasi atau blok mandibula
  • Insisi drainase pada abses
  • Irigasi dengan larutan saline
  • Medikamen intrakanal
  • Biarkan terbuka dan tutup dengan kapas (saat makan)
  • Resepkan antibiotik dan analgesik
  • Evaluasi 1 minggu kemudian

25 of 51

Manajemen Nyeri Abses Periodontal

  • Meliputi dua tahapan:
    • (1) Menghilangkan nyeri pada fase akut dan
    • (2) penanganan gejala yang menyertai
  • Jika gigi tidak bisa dipertahankan → ekstraksi
  • Jika gigi masih bisa dipertahankan dilakukan perawatan lanjutan
  • Lakukan drainase melalui poket atau insisi eksternal
  • Lakukan debridement dengan saline
  • Lakukan OA jika diperlukan
  • Pemberian antibiotik

26 of 51

Manajemen Nyeri Perikoronitis

  • Asepsis
  • Anestesi
  • Operkulum dibuka dan lakukan irigasi debris
  • Lakukan operkulektomi jika diperlukan
  • Pemberian antibiotik (jika terindikasi ada penyebaran infeksi)

27 of 51

Manajemen Nyeri Dry Socket

  • Lakukan pengambilan foto radiograf untuk memastikan tidak ada fragmen gigi yang tertinggal (opsional)
  • Lakukan irigasi pada soket dengan CHX hangat 0,12% (anestesi lokal mungkin dibutuhkan)
  • Aplikasikan dressing (ex: Alvogyl) untuk mencegah masuknya debris dan kotoran
  • Jika tidak ada Alvogyl, edukasi pasien untuk irigasi mandiri menggunakan monoject syringe
  • Pada kasus yang parah dapat diberikan analgesik
  • Evaluasi

28 of 51

Pendekatan Farmakologis

Dua obat yang digunakan dalam kedokteran gigi untuk manajemen nyeri akut adalah obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dan opioid.

Analgesik oral atau parenteral pra operasi atau pasca operasi bagian integral dari manajemen nyeri dalam kedokteran gigi

29 of 51

Pendekatan Farmakologis

Kortikosteroid juga telah digunakan secara sporadis untuk manajemen nyeri dalam kedokteran gigi.

Tiga obat yang paling sering digunakan dalam kedokteran gigi adalah aspirin, ibuprofen, dan parasetamol.

30 of 51

Anastesi

Lokal

31 of 51

“Anestesi lokal didefinisikan sebagai hilangnya sensasi sementara pada area tubuh tertentu yang disebabkan oleh penghambatan ujung saraf atau penghambatan proses konduksi di saraf perifer”

― Malamed, 2020

32 of 51

“Penerapan anestesi lokal dalam kedokteran gigi biasanya dilakukan secara topikal atau melalui blok injeksi.”

33 of 51

“Anestesi topikal biasanya digunakan dalam kondisi ringan, seperti sariawan ringan, untuk mengurangi rasa sakit dan ketidaknyamanan akibat suntikan, atau dalam prosedur invasif.”

34 of 51

Jenis Anastesi Lokal

Amida

degradasi enzimatis di hati → contohnya :

lidokain dan bupivakain.

Ester→ Metabolisme oleh enzim pseudokolinesterase di plasma → cenderung lebih alergi → contohnya: prokain.

Secara kimiawi, anestesi lokal dibagi menjadi 2:

35 of 51

Kapan dibutuhkan?

36 of 51

Armamentarium

Cartridges

Needle

Syringe

37 of 51

Cartridges

38 of 51

Needle

39 of 51

Syringe

40 of 51

Teknik

Teknik anestesi lokal berdasarkan cara pemberian

Infiltrasi

Fieldbloc

Blok saraf

41 of 51

Teknik

Teknik anestesi lokal berdasarkan lokasi pemberian

Anestesi topikal

Intraosseus

Intraligamen

42 of 51

Prosedur

  1. Oleskan anestesi topikal
  2. Masukkan jarum ke mukosa
  3. Aspirasi
  4. Deponir larutan anestetikum
  5. Keluarkan jarum dengan hati-hati
  6. Observasi
  1. Gunakan jarum yang steril atau disposable syringe
  2. Cek cairan anestetikum
  3. Posisikan pasien pada posisi supine
  4. Keringkan mukosa
  5. Asepsis

43 of 51

Posisi Operator & Pasien

44 of 51

Teknik Fisher

45 of 51

Teknik Fisher

46 of 51

Teknik Fisher

47 of 51

Komplikasi

  1. Gangguan sensitivitas yang persisten
  2. Blanching ‘kulit menjadi pucat’
  3. Nekrosis jaringan
  4. Hematoma
  5. Trismus
  6. Infeksi
  1. Instrumen patah
  2. Nyeri selama prosedur berlangsung
  3. Anestesi yang tidak tepat
  4. Deponir anestetikum berlebihan
  5. Kerusakan jaringan lunak
  6. Jaringan tidak teranestesi sempurna

48 of 51

Pendekatan Non Farmakologis

  1. Manajemen perilaku (mengacu pada teori nyeri) → manfaatnya dapat mengurangi kecemasan
  2. Tell-Show-Do (TSD)
  3. Terapi musik mengurangi stress
  4. Latihan pernapasan

49 of 51

Kesimpulan

  • Prosedur emergency dalam kedokteran gigi dapat ditangani melalui pendekatan farmakologis dan non-farmakologis
  • Dokter gigi perlu melakukan anamnesa yang tepat guna tegaknya diagnosis dan perawatan yang tepat
  • Anestesi lokal merupakan salah satu metode untuk menghilangkan nyeri pada prosedur emergency

50 of 51

We were created

to create

beautiful smiles.

51 of 51

Terima Kasih