1 of 24

PANDUAN PERTOLONGAN PERTAMA (P3K)

Penanganan Kegawatdaruratan Dasar

Pingsan/Sinkop • Mimisan/Epistaksis • Pelepasan Helm • Keseleo • Dislokasi • Perdarahan

Disusun berdasarkan rujukan medis & kepalangmerahan terpercaya (PMI, WHO, Kemenkes RI, dan sumber klinis lain)

1

2 of 24

DAFTAR ISI

Enam Materi Pertolongan Pertama

01

Pingsan / Sinkop

Kehilangan kesadaran sementara akibat aliran darah ke otak berkurang

02

Mimisan / Epistaksis

Perdarahan dari hidung akibat pecahnya pembuluh darah kecil

03

Pelepasan Helm

Teknik aman melepas helm korban kecelakaan lalu lintas

04

Keseleo (Sprain)

Cedera ligamen sendi akibat gerakan atau tekanan berlebih

05

Dislokasi

Pergeseran posisi tulang dari sendi yang normal

06

Perdarahan

Keluarnya darah dari pembuluh darah akibat luka/cedera

Panduan Pertolongan Pertama

2

3 of 24

SEBELUM MEMULAI

Prinsip Dasar Pertolongan Pertama

Sebelum menangani kondisi apa pun, seorang penolong wajib mengikuti alur dasar berikut agar keselamatan penolong dan korban terjaga.

D

Danger / Amankan

Pastikan lokasi aman bagi penolong, korban, dan orang sekitar sebelum bertindak.

R

Response / Respons

Periksa kesadaran korban — panggil dan sentuh dengan lembut, lihat responsnya.

S

Send for Help

Minta bantuan orang sekitar untuk menghubungi layanan darurat (118/119) atau ambulans.

A

Airway / Jalan Napas

Pastikan jalan napas korban terbuka dan tidak tersumbat.

B

Breathing / Napas

Periksa apakah korban bernapas normal.

C

Circulation / Sirkulasi

Periksa nadi dan tangani perdarahan besar bila ada.

Panduan Pertolongan Pertama

3

4 of 24

01

MATERI 1

Pingsan / Sinkop

Pingsan (sinkop) adalah hilangnya kesadaran secara tiba-tiba dan sementara akibat penurunan aliran darah dan oksigen ke otak. Umumnya berlangsung singkat, hanya beberapa detik hingga satu-dua menit.

Penyebab Umum

Dehidrasi, kelelahan, berdiri terlalu lama, stres emosional, tekanan darah rendah, atau kondisi medis tertentu.

Gejala Awal

Pusing, pandangan berkunang-kunang, keringat dingin, dan lemas sebelum kehilangan kesadaran.

Tujuan Pertolongan

Mengembalikan aliran darah ke otak, menjaga jalan napas, dan mencegah cedera akibat jatuh.

Materi 1 — Pingsan / Sinkop

4

5 of 24

PINGSAN / SINKOP

Langkah Penanganan Pingsan

01

Amankan & Tenangkan

Pindahkan korban ke tempat aman, teduh, dan berudara segar. Jauhkan kerumunan.

02

Posisi Terlentang

Baringkan korban telentang di permukaan rata. Bila pingsan saat duduk, baringkan di lantai.

03

Tinggikan Kaki

Angkat kedua kaki ± 30 cm dari lantai untuk membantu aliran darah kembali ke otak.

04

Longgarkan Pakaian

Kendurkan pakaian ketat di leher, dada, dan pinggang agar napas lebih lega.

05

Periksa Napas & Nadi

Pastikan jalan napas terbuka, periksa napas dan nadi secara berkala.

06

Minta Bantuan Medis

Minta orang lain menghubungi layanan darurat, terutama jika korban tak segera sadar.

Materi 1 — Pingsan / Sinkop

5

6 of 24

PINGSAN / SINKOP

Larangan & Kapan Harus Waspada

✕ Jangan Dilakukan

  • Jangan langsung mendudukkan atau mendirikan korban begitu sadar.
  • Jangan memberi makan/minum bila korban belum sadar penuh.
  • Jangan mengerumuni korban hingga menghalangi udara segar.
  • Jangan memercikkan air ke wajah korban secara berlebihan.
  • Jangan biarkan korban berdiri tiba-tiba setelah siuman.

✓ Segera Bawa ke Faskes Bila

  • Korban tidak sadar lebih dari 1–2 menit.
  • Disertai cedera kepala, kejang, atau nyeri dada.
  • Korban sedang hamil atau memiliki riwayat jantung.
  • Muncul gejala bicara pelo, penglihatan buram, atau demam tinggi.
  • Pingsan berulang dalam waktu singkat.

Materi 1 — Pingsan / Sinkop

6

7 of 24

02

MATERI 2

Mimisan / Epistaksis

Epistaksis adalah perdarahan yang keluar dari hidung, umumnya berasal dari pembuluh darah kecil di bagian depan rongga hidung (anterior) yang letaknya dekat permukaan sehingga mudah pecah.

Penyebab Umum

Udara kering, mengorek/meniup hidung terlalu keras, cedera ringan, alergi, infeksi, atau tekanan darah tinggi.

Jenis

Anterior (depan, lebih ringan, mudah ditangani) dan posterior (belakang, lebih jarang namun lebih serius).

Prinsip Penanganan

Menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi, dan mencegah mimisan berulang.

Materi 2 — Mimisan / Epistaksis

7

8 of 24

MIMISAN / EPISTAKSIS

Langkah Penanganan Mimisan

01

Tetap Tenang

Jangan panik — rasa panik dapat meningkatkan tekanan darah dan memperparah perdarahan.

02

Duduk & Condongkan ke Depan

Duduk tegak, condongkan kepala sedikit ke depan agar darah tidak tertelan atau masuk saluran napas.

03

Jepit Cuping Hidung

Jepit bagian lunak hidung dengan ibu jari & telunjuk selama 10–15 menit tanpa dilepas-lepas, bernapas lewat mulut.

04

Kompres Dingin

Tempelkan kompres dingin (dibungkus kain) pada pangkal hidung untuk membantu menyempitkan pembuluh darah.

05

Jangan Berbaring

Tetap posisi duduk tegak, jangan menengadah atau berbaring agar darah tidak mengalir ke tenggorokan.

06

Evaluasi & Rujuk

Bila perdarahan tidak berhenti setelah 15-20 menit atau berulang, segera cari bantuan medis.

Materi 2 — Mimisan / Epistaksis

8

9 of 24

MIMISAN / EPISTAKSIS

Larangan & Kapan ke Dokter

✕ Jangan Dilakukan

  • Jangan menengadahkan kepala ke belakang — darah bisa tertelan/tersedak.
  • Jangan mengorek atau membersihkan hidung setelah perdarahan berhenti.
  • Jangan meniup hidung terlalu keras selama beberapa jam setelahnya.
  • Jangan melepas jepitan hidung sebelum waktu penekanan cukup (10–15 menit).
  • Jangan berbaring selama perdarahan masih berlangsung.

✓ Segera ke Dokter Bila

  • Perdarahan tidak berhenti setelah 20 menit penekanan.
  • Mimisan terjadi setelah benturan/cedera kepala yang cukup keras.
  • Mimisan sering berulang atau disertai mudah memar.
  • Korban mengonsumsi obat pengencer darah (aspirin, warfarin).
  • Volume darah yang keluar sangat banyak atau korban lemas.

Materi 2 — Mimisan / Epistaksis

9

10 of 24

03

MATERI 3

Pelepasan Helm Korban Kecelakaan

Pada korban kecelakaan sepeda motor, kemungkinan cedera tulang leher/tulang belakang belum bisa dipastikan. Karena itu pelepasan helm tidak boleh dilakukan sembarangan atau tergesa-gesa oleh satu orang.

Kenapa Hati-hati?

Menarik helm secara asal dapat menggerakkan leher dan memperparah cedera tulang leher yang belum terlihat.

Wajib 2 Penolong

Prosedur berdasarkan panduan WHO & Kemenkes RI ini mengharuskan kerja sama dua orang penolong.

Prinsip Utama

Kepala dan leher korban harus selalu distabilkan dalam satu garis lurus selama proses berlangsung.

Materi 3 — Pelepasan Helm

10

11 of 24

PELEPASAN HELM

Langkah-Langkah Pelepasan Helm (2 Penolong)

PENOLONG PERTAMA

  • Berlutut di sisi atas kepala korban, jaga kepala & leher agar tidak bergerak.
  • Letakkan kedua tangan di sisi kepala/leher korban, jari-jari menahan rahang bawah, tangan masuk ke celah helm.
  • Pertahankan posisi ini agar helm tidak bergeser saat tali dilepas.

PENOLONG KEDUA

  • Melepas tali pengikat helm dari kaitnya; bila sulit, gunting talinya.
  • Memegang sudut rahang korban (ibu jari satu sisi, jari lain di sisi lain) untuk mengambil alih penahanan kepala.

PROSES MELEPAS HELM

  • Setelah penolong kedua menahan rahang, penolong pertama menarik helm perlahan dan hati-hati.
  • Lebarkan sisi helm sedikit agar tidak menyangkut telinga dan hidung saat ditarik.
  • Tarik helm lurus ke arah belakang, ikuti kelengkungan kepala, jangan memutar atau menyentak.
  • Setelah helm terlepas, penolong pertama segera mengambil alih dan menstabilkan kepala-leher kembali dengan kedua tangan sejajar garis tubuh.
  • Pertahankan posisi ini hingga bantuan medis/tim evakuasi datang.

Materi 3 — Pelepasan Helm

11

12 of 24

PELEPASAN HELM

Hal Penting yang Harus Diperhatikan

✕ Jangan Dilakukan

  • Jangan melepas helm sendirian atau dengan satu tangan.
  • Jangan menarik helm dengan cepat/menyentak tanpa menjaga leher.
  • Jangan memindahkan atau menggerakkan tubuh korban secara sembarangan.
  • Jangan memutar kepala korban saat helm ditarik.
  • Jangan lepas helm bila korban tidak dalam bahaya (mis. kebakaran, lalu lintas) — tunggu tenaga medis bila memungkinkan.

✓ Yang Harus Diperhatikan

  • Baringkan korban di alas datar dan keras setelah helm terlepas.
  • Pastikan jalan napas tetap terbuka dan pernapasan korban terpantau.
  • Jaga kepala, leher, dan tulang belakang tetap segaris selama evakuasi.
  • Segera hubungi ambulans / layanan gawat darurat (119).
  • Jika korban sadar, minta ia untuk tidak menggerakkan kepala/leher sendiri.

Materi 3 — Pelepasan Helm

12

13 of 24

04

MATERI 4

Keseleo (Sprain)

Keseleo terjadi ketika ligamen — jaringan penghubung antar tulang di sendi — meregang berlebihan atau robek akibat gerakan tiba-tiba, salah posisi mendarat, atau tekanan berlebih pada sendi.

Lokasi Umum

Pergelangan kaki, pergelangan tangan, dan lutut adalah area yang paling sering mengalami keseleo.

Gejala

Nyeri, bengkak, memar, dan keterbatasan gerak pada sendi yang cedera.

Metode Utama

Penanganan awal menggunakan metode RICE dalam 48–72 jam pertama sejak cedera terjadi.

Materi 4 — Keseleo

13

14 of 24

KESELEO (SPRAIN)

Metode RICE — Penanganan 48-72 Jam Pertama

01

Rest (Istirahat)

Hentikan aktivitas dan istirahatkan bagian yang cedera. Hindari membebani sendi yang keseleo.

02

Ice (Kompres Es)

Kompres dingin (dibungkus kain) 15–20 menit setiap 2–3 jam untuk meredakan bengkak & nyeri.

03

Compression (Balut Tekan)

Balut dengan perban elastis untuk menahan pembengkakan — jangan terlalu kencang.

04

Elevation (Ditinggikan)

Angkat bagian yang cedera lebih tinggi dari posisi jantung untuk mengurangi bengkak.

Bila nyeri atau bengkak tidak membaik setelah 48 jam, konsultasikan ke dokter spesialis untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Materi 4 — Keseleo

14

15 of 24

KESELEO (SPRAIN)

Larangan & Kapan ke Dokter

✕ Jangan Dilakukan

  • Jangan memijat area yang keseleo — dapat memperburuk pembengkakan.
  • Jangan memaksakan sendi tetap bergerak/beraktivitas berat.
  • Jangan mengompres dengan es langsung tanpa pelapis kain.
  • Jangan membalut terlalu kencang hingga menghambat sirkulasi darah.
  • Jangan mengompres air panas pada 48 jam pertama.

✓ Segera ke Dokter Bila

  • Sendi tampak berubah bentuk (curiga dislokasi/patah tulang).
  • Tidak dapat menahan beban atau menggerakkan sendi sama sekali.
  • Bengkak dan nyeri hebat tidak membaik setelah 48 jam.
  • Terdengar bunyi 'pop' saat cedera terjadi disertai nyeri hebat.
  • Muncul mati rasa atau kesemutan pada area cedera.

Materi 4 — Keseleo

15

16 of 24

05

MATERI 5

Dislokasi Sendi

Dislokasi terjadi ketika ujung tulang yang membentuk suatu sendi bergeser keluar dari posisi normalnya, biasanya akibat benturan keras, jatuh, atau tarikan mendadak pada ligamen sendi.

Lokasi Tersering

Bahu dan siku adalah sendi yang paling sering mengalami dislokasi, diikuti jari dan lutut.

Gejala

Nyeri hebat, sendi tampak berubah bentuk/menonjol, bengkak, dan sulit digerakkan.

Prinsip Penting

JANGAN pernah mencoba mengembalikan posisi tulang sendiri — tindakan ini hanya boleh oleh tenaga medis.

Materi 5 — Dislokasi

16

17 of 24

DISLOKASI SENDI

Langkah Penanganan Dislokasi

01

Jangan Digerakkan

Cegah pergerakan tambahan pada sendi yang mengalami dislokasi. Biarkan korban pada posisi senyaman mungkin.

02

Beri Penyangga

Sangga atau ikat area yang cedera dengan kain/bidai pada posisi ditemukan — jangan diluruskan paksa.

03

Kompres Dingin

Kompres es (dibungkus kain) pada area sendi untuk mengurangi bengkak dan nyeri.

04

Pantau Sirkulasi

Periksa warna kulit, kehangatan, dan denyut nadi di bagian ujung anggota tubuh yang cedera.

05

Hindari Beban

Jangan biarkan korban menahan beban atau menggunakan anggota tubuh yang dislokasi.

06

Rujuk Segera

Segera bawa ke fasilitas kesehatan / hubungi layanan darurat untuk penanganan medis definitif.

Materi 5 — Dislokasi

17

18 of 24

DISLOKASI SENDI

JANGAN Lakukan Ini pada Dislokasi

✕ Jangan Dilakukan

  • Jangan mencoba mengembalikan (mereposisi) tulang sendiri — berisiko merusak pembuluh darah/saraf.
  • Jangan memaksa meluruskan sendi yang bengkok/menonjol.
  • Jangan memijat atau menekan area sendi yang cedera.
  • Jangan memberi makan/minum bila kemungkinan perlu tindakan bius di rumah sakit.
  • Jangan menunda mencari pertolongan medis.

✓ Segera ke IGD Bila

  • Sendi tampak jelas berubah bentuk atau menonjol tidak normal.
  • Nyeri sangat hebat dan tidak tertahankan.
  • Anggota tubuh di bawah sendi terasa mati rasa, dingin, atau pucat.
  • Terjadi bersamaan dengan luka terbuka di sekitar sendi.
  • Dislokasi berulang pada sendi yang sama.

Materi 5 — Dislokasi

18

19 of 24

06

MATERI 6

Penanganan Perdarahan

Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah akibat luka atau cedera. Perdarahan dapat bersifat luar (terlihat) atau dalam (tidak terlihat), dan tingkat keparahannya bervariasi dari ringan hingga mengancam nyawa.

Perdarahan Ringan

Darah menetes/mengalir pelan, umumnya berhenti dengan tekanan langsung dan penutup luka.

Perdarahan Berat

Darah memancar/mengalir deras (biasanya dari arteri) — kondisi gawat darurat yang perlu tindakan cepat.

Perdarahan Dalam

Tidak terlihat dari luar, dicurigai dari memar luas, muntah/batuk darah, atau nyeri hebat pada tubuh.

Materi 6 — Perdarahan

19

20 of 24

PENANGANAN PERDARAHAN

Langkah Dasar Menghentikan Perdarahan Luar

01

Lindungi Diri

Gunakan sarung tangan atau alat pelindung agar tidak kontak langsung dengan darah korban.

02

Tekan Langsung

Tekan luka dengan kain/kasa bersih secara kuat dan terus-menerus selama 5–15 menit tanpa dilepas.

03

Tambah Penutup

Bila darah masih tembus, tambahkan lapisan penutup baru di atasnya — jangan lepas penutup pertama.

04

Tinggikan Anggota Tubuh

Angkat bagian tubuh yang berdarah lebih tinggi dari posisi jantung bila memungkinkan.

05

Balut & Pertahankan

Setelah darah terkendali, balut luka dengan perban untuk mempertahankan tekanan.

06

Waspadai Syok

Baringkan korban, jaga tetap hangat, dan pantau kesadaran serta pernapasannya.

Materi 6 — Perdarahan

20

21 of 24

PENANGANAN PERDARAHAN

Torniket (Tourniquet) — Pilihan Terakhir

Torniket hanya digunakan bila tekanan langsung GAGAL menghentikan perdarahan hebat pada tangan/kaki, misalnya akibat luka besar atau amputasi.

01

Posisikan di Atas Luka

Pasang torniket beberapa cm di atas luka (ke arah tubuh), pada kulit langsung — singkirkan pakaian di area tersebut.

02

Kencangkan

Kencangkan hingga perdarahan berhenti total. Torniket yang longgar justru memperparah perdarahan.

03

Catat Waktu

Catat waktu pemasangan torniket dan sampaikan kepada tenaga medis saat serah terima korban.

04

Jangan Dilepas

Jangan melepas atau mengendurkan torniket sampai tenaga medis mengambil alih penanganan.

Materi 6 — Perdarahan

21

22 of 24

PENANGANAN PERDARAHAN

Perlindungan Diri & Tanda Bahaya

✓ Perlindungan Penolong (APD)

  • Gunakan sarung tangan sebelum menyentuh darah/cairan tubuh korban.
  • Hindari menyentuh mulut, hidung, atau mata saat memberi pertolongan.
  • Cuci tangan segera setelah selesai memberikan pertolongan.
  • Buang atau dekontaminasi bahan yang terkena darah dengan aman.

✕ Waspada — Segera ke IGD Bila

  • Darah memancar/mengalir sangat deras dan sulit dikendalikan.
  • Ada luka tusuk, luka tembus dada/perut, atau benda tertancap di luka.
  • Keluar darah dari telinga/hidung tanpa sebab jelas, atau muntah/batuk darah.
  • Korban tampak pucat, lemas, berkeringat dingin (tanda syok).
  • Memar luas pada batang tubuh atau BAK/BAB berdarah.

Materi 6 — Perdarahan

22

23 of 24

RANGKUMAN

Perbandingan Cepat Enam Kondisi

Kondisi

Tindakan Kunci

Hindari

Pingsan

Baringkan, tinggikan kaki, longgarkan pakaian

Mendudukkan tiba-tiba

Mimisan

Duduk condong depan, jepit hidung 10–15 menit

Menengadahkan kepala

Pelepasan Helm

2 penolong, stabilkan kepala-leher segaris

Melepas sendirian/menyentak

Keseleo

RICE: Rest, Ice, Compression, Elevation

Memijat area cedera

Dislokasi

Sangga posisi ditemukan, kompres dingin, rujuk

Mereposisi sendiri

Perdarahan

Tekan langsung, balut, tinggikan

Melepas penutup luka pertama

Panduan Pertolongan Pertama

23

24 of 24

INGAT SELALU

Tetap Tenang, Amankan, Baru Bertindak

  • Pertolongan pertama bertujuan menstabilkan korban sebelum bantuan medis profesional tiba — bukan menggantikan penanganan dokter.
  • Bila ragu, hubungi layanan gawat darurat (119) atau bawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat.
  • Ikuti pelatihan P3K resmi dari PMI atau lembaga kesehatan untuk mengasah keterampilan praktik langsung.

Referensi: Palang Merah Indonesia (PMI), WHO & Kemenkes RI — "Jadilah Penolong Kecelakaan di Jalan", Alodokter, Halodoc, RS Pondok Indah, dan sumber medis terpercaya lainnya.

Materi Edukasi Pertolongan Pertama

24