1 of 35

ASESMEN PEMBELAJARAN MENDALAM

.

Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua

Di kompilasi Oleh :

HARTSA JAMILA ROCHI, S.Pd,MM

2 of 35

LATAR BELAKANG

3 of 35

Konsep Asesmen Pembelajaran Mendalam

4 of 35

DESAIN MERENCANAKAN PEMBELAJARAN DAN ASESMEN

5 of 35

MITOS ATAU FAKTA

  • Selama ini Asesmen hanya dilakukan di akhir pembelajaran?
  • Tujuan utama Asesmen adalah memberi nilai rapor?
  • Refleksi murid tentang apa yang mereka pahami bisa disebut asesmen?
  • Jawaban salah murid tidak punya nilai untuk asesmen?
  • Asesmen formatif lebih penting daripada asesmen sumatif dalam pembelajaran mendalam?

6 of 35

BERKEADILAN

OBJEKTIF

EDUKATIF

PRINSIP ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN

7 of 35

PRINSIP ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN

BERKEADILAN

Asesmen hasil belajar murid dilakukan sesuai dengan tujuan asesmen secara berkeadilan. Pendidik melakukan asesmen yang tidak bias oleh latar belakang, identitas, atau kebutuhan khusus murid

(Panduan Pembelajaran dan Asesmen – Edisi Revisi tahun 2025)

8 of 35

PRINSIP ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN

OBJEKTIF

Asesmen hasil belajar murid dilakukan sesuai dengan tujuan asesmen secara objektif. Pendidik melakukan asesmen berdasarkan pada informasi faktual atas pencapaian perkembangan atau hasil belajar murid. Asesmen dilakukan secara konsisten dan berdasarkan kriteria ketercapaian yang jelas serta disepakati, bukan berdasarkan persepsi pribadi atau faktor subjektif lainnya. Asesmen fokus pada kompetensi yang ingin dicapai, dengan prosedur dan instrumen asesmen yang sahih dan reliable

9 of 35

PRINSIP ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN

EDUKATIF

Asesmen hasil belajar murid dilakukan sesuai dengan tujuan asesmen secara edukatif. Pendidik melakukan asesmen yang hasilnya digunakan sebagai umpan balik bagi pendidik, murid, dan orang tua untuk meningkatkan proses pembelajaran dan hasil belajar yang membangun, mendorong perbaikan, dan memotivasi murid untuk terus belajar. Asesmen tidak hanya menghakimi hasil, tetapi memperkuat proses belajar

10 of 35

ASESMEN PADA PEMBELAJARAN MENDALAM

Asesmen Formatif

yaitu asesmen yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi pendidik dan murid untuk memperbaiki proses belajar.

Asesmen Sumatif

yaitu asesmen yang dilakukan untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran.

Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, asesmen ini bertujuan untuk menilai pencapaian hasil belajar murid sebagai dasar penentuan:

  1. kenaikan kelas; dan
  2. kelulusan dari satuan pendidikan.

Asesmen formatif berupa:

  1. Asesmen di awal pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui kesiapan murid untuk mempelajari materi ajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan.
  2. Asesmen di dalam proses pembelajaran yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan murid dan sekaligus pemberian umpan balik yang cepat.

Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam

  • Menekankan keautentikan (tugas dan konteks nyata kehidupan murid).
  • Menggunakan beragam bukti belajar: produk, performa, diskusi, refleksi.
  • Membantu guru memahami perkembangan kompetensi murid secara menyeluruh.
  • Mendorong pembelajaran berpusat pada murid.
  • Berorientasi pada pemaknaan, bukan sekadar nilai akhir.

11 of 35

Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam (PM)

  • Menerapkan asesmen formatif dan sumatif.
  • Menekankan asesmen autentik dan holistik.
  • Asesmen formatif: memberi umpan balik selama proses belajar.
  • Asesmen sumatif: menilai capaian pembelajaran secara menyeluruh.
  • Asesmen bertujuan mencari bukti ketercapaian tujuan pembelajaran.
  • Bukti belajar dapat berupa:
  • Catatan kemajuan belajar murid.
  • Performa atau hasil karya.
  • Nilai atau skor hasil belajar.

Pertimbangan dalam Perencanaan Asesmen

  • Dimulai dengan menentukan tujuan asesmen:
  • Fokus pada proses pembelajaran, dan/atau
  • Ketercapaian tujuan pembelajaran.
  • Setelah tujuan ditetapkan, guru memilih atau mengembangkan instrument asesmen.
  • Pertimbangan dalam memilih/mengembangkan instrumen:
  • Karakteristik murid.
  • Kesesuaian dengan tujuan pembelajaran dan asesmen.
  • Kemudahan penggunaan untuk memberi umpan balik bagi guru dan murid

12 of 35

1. ASESMEN FORMATIF

  • Bertujuan memberi informasi dan umpan balik bagi guru dan murid untuk memperbaiki proses belajar.
  • Dilakukan untuk membantu proses pembelajaran, bukan untuk nilai rapor.
  • Jenis Asesmen Formatif:
  • Di awal pembelajaran
    1. Untuk mengetahui kesiapan murid terhadap materi dan tujuan pembelajaran.
    2. Membantu guru merancang dan menyesuaikan pembelajaran.
  • Selama proses pembelajaran
    • Untuk memantau perkembangan belajar murid.
    • Memberikan umpan balik cepat agar perbaikan bisa segera dilakukan.
    • Dapat dilakukan sepanjang, di tengah, atau di akhir langkah pembelajaran.

13 of 35

Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Merancang Asesmen Formatif

  • Tidak berisiko tinggi (low stakes) — tidak untuk nilai rapor, kenaikan kelas, atau kelulusan.
  • Gunakan beragam teknik/instrumen — observasi, asesmen diri, dan asesmen antarteman.
  • Dilaksanakan bersamaan dengan proses belajar — asesmen dan pembelajaran berjalan selaras.
  • Asesmen awal tahun bersifat opsional — yang utama adalah asesmen awal sebelum pembelajaran.
  • Gunakan metode sederhana agar umpan balik cepat diperoleh dan langsung bisa digunakan.

Asesmen Formatif di Awal Pembelajaran

  • Memberikan informasi tentang kesiapan belajar murid.
  • Guru dapat menyesuaikan atau memodifikasi rencana pembelajaran.
  • Dapat digunakan untuk melakukan diferensiasi pembelajaran sesuai kebutuhan murid.
  • Instrumen asesmen harus mengungkap:
    • Kekuatan murid,
    • Aspek yang perlu ditingkatkan,
    • Cara memperbaiki kualitas karya atau performa.
  • Hasil asesmen bukan sekadar angka, tetapi bahan umpan balik yang bermakna.

14 of 35

CONTOH PELAKSANAAN ASESMEN FORMATIF

  • Permainan untuk menilai kemampuan dasar murid

(motorik kasar, halus, taktil, bahasa, dan komunikasi) — cocok untuk PAUD dan Fase A.

  • Pertanyaan awal pertemuan

untuk mengaitkan konsep/topik sebelumnya dengan pembelajaran baru.

  • Refleksi 3-2-1
    • 3 hal yang sudah dipelajari,
    • 2 hal yang ingin diperdalam,
    • 1 hal yang belum dipahami.
  • Percobaan dan diskusi hasilnya

diakhiri dengan umpan balik pendidik terhadap pemahaman murid.

  • Pemantauan progres belajar murid
    • Berdasarkan hasil kerja dan rubrik asesmen yang disepakati.
    • Menggunakan penilaian diri, antarteman, umpan balik, dan refleksi.
  • Pendidikan khusus (asesmen diagnostik)
    • Menentukan fase belajar murid sesuai kemampuan aktual.
    • Jika tidak ada tenaga ahli, guru dapat melakukan asesmen fungsional.

15 of 35

2. ASESMEN SUMATIF

  • Penilaian Pencapaian Hasil Belajar

Menilai hasil belajar murid sebagai dasar kenaikan kelas dan/atau kelulusan, dengan cara membandingkan capaian murid terhadap kriteria tujuan pembelajaran.

  • Fungsi Asesmen Sumatif
  • Menilai capaian hasil belajar murid pada periode tertentu.
  • Membandingkan capaian dengan kriteria yang ditetapkan.
  • Menjadi dasar keputusan kelanjutan belajar murid (kelas/jenjang berikutnya).

  • Pelaksanaan Asesmen Sumatif
  • Jika data asesmen selama semester belum cukup, guru dapat melakukan asesmen tambahan di akhir semester.
  • Jika data sudah lengkap, tidak perlu asesmen akhir semester.
  • Asesmen sumatif dapat menggunakan beragam teknik dan instrumen, seperti:
    • Tes tertulis,
    • Observasi,
    • Performa (praktik, produk, proyek).

16 of 35

  • Asesmen Formatif Autentik & Holistik
  • Dilakukan berkala selama pembelajaran.
  • Fokus pada proses, bukan hasil akhir.
  • Mendorong refleksi dan keterlibatan aktif murid.
  • Kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata.
  • Contoh: jurnal reflektif, penilaian diri, penilaian antarteman, peta konsep, observasi kinerja.
  • Asesmen Sumatif menekankan pada asesmen Autentik & Holistik
  • Dilakukan di akhir topik/tujuan pembelajaran.
  • Menilai hasil belajar akhir dan kompetensi secara menyeluruh.
  • Mengukur berpikir tingkat tinggi serta pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara terpadu.
  • Contoh: projek tematik, portofolio, studi kasus, presentasi interdisipliner

17 of 35

  • Jenis Asesmen dalam Pembelajaran Mendalam
  • Dua jenis utama: formatif dan sumatif, dengan fokus pada autentik dan holistik.
  • Asesmen Autentik
  • Berdasarkan konteks nyata kehidupan murid.
  • Menilai proses dan produk belajar yang bermakna.
  • Mengukur kompetensi nyata: berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah.
  • Asesmen Holistik
  • Melihat murid secara utuh (pengetahuan, keterampilan, sikap).
  • Terpadu dalam berbagai dimensi pembelajaran.
  • Memberi gambaran komprehensif perkembangan murid.

18 of 35

Asesmen Formatif

FUNSI UTAMA ASESMEN

Asesmen Sumatif

Assessment as Learning

Asesmen untuk merefleksi diri murid dan refleksi proses pembelajaran.

Contoh:

  • Jurnal reflektif
  • Penilaian diri: mengevaluasi sendiri hasil dari proses belajar mereka berdasarkan kriteria tertentu
  • Penilaian antar teman: menilai pekerjaan atau performa temen (menggunakan rubrik yang disepakati).
  • Check list kemajuan belajar

Assessment for Learning

Asesmen untuk perbaikan proses pembelajaran.

Contoh:

  • Peta konsep
  • Umpan balik
  • Observasi: mengamati langsung perilaku atau aktivitas murid dalam proses pembelajaran

Assessment of Learning

Asesmen mengukur capaian pembelajaran murid pada akhir pembelajaran.

Contoh:

  • Tes lisan: menilai pemahaman murid secara langsung melalui komunikasi verbal
  • Ter tertulis: menilai pemahaman konsep melalui soal tertulis (pilihan ganda, isian, atau uraian)
  • Laporan: penilaian proyek
  • Portofolio: Kumpulan dokumen/karya murid yang menunjukkan perkembangan belajar dalam kurun waktu tertentu

19 of 35

MENGAPA KITA PERLU MENGUTAMAKAN ASESMEN FORMATIF �(Assement as Learning dan Assement for Learning) �dalam pembelajaran mendalam?

±70%

±30%

20 of 35

4 CARA MENETAPKAN KKTP

  1. Deskripsi Kriteria
  1. Rubrik
  1. Skala (Interval Nilai)
  1. Skala Interval Yang Diolah dari Rubrik

KRITERIA KETERCAPAIAN PEMBELAJARAN (KKTP)

Guru dapat menentukan capaian murid dengan cara:

Atau dengan pendekatan lain sesuai kebutuhan dan kesiapan guru

21 of 35

CONTOH

Kriteria

Belum Tercapai

Tercapai

Laporan menunjukkan kemampuan

penulisan teks eksplanasi dengan runtut.

Laporan menunjukkan hasil pengamatan

berdasarkan data yang terkumpul.

Laporan menceritakan pengalaman secara

terstruktur.

Laporan menjelaskan hubungan kausalitas

yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca.

Kesimpulan:

Murid dianggap mencapai tujuan pembelajaran jika minimal 3 kriteria tercapai. Pada contoh ini, hanya ada dua kriteria yang tercapai sehingga murid masuk kategori belum mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, perlu dilakukan intervensi pembelajaran agar pencapaian murid dapat diperbaiki.

salah satu tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia Fase C:

Murid mampu menulis laporan hasil pengamatan dan wawancara"

Pendekatan 1

Menggunakan Deskripsi Kriteria

Tujuan Pembelajaran:

Murid mampu menulis laporan dari gagasan, hasil pengamatan, pengalaman, dan imajinasi.

22 of 35

PENDEKATAN 2: MENGGUNAKAN RUBRIK

 Eviden

Baru berkembang

Layak

Cakap

Mahir

Isi laporan

Belum mampu menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan, dan pengalaman belum jelas tertuang dalam tulisan. Ide

dan informasi dalam laporan tercampur dan hubungan antara paragraf tidak berhubungan.

Mampu menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan,

dan pengalaman secara jelas.

Laporan menunjukkan hubungan yang jelas di sebagian paragraf.

Mampu menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan,

dan pengalaman secara jelas.

Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca.

Mampu menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan,

dan pengalaman secara jelas.

Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca serta ada fakta-fakta pendukung yang relevan.

Penulisan (tanda baca dan huruf kapital)

Belum menggunakan tanda baca dan huruf kapital atau sebagian besar tidak digunakan secara tepat.

Sebagian tanda baca dan huruf kapital

digunakan secara tepat.

Sebagian besar tanda baca dan huruf kapital digunakan secara tepat.

Semua tanda baca dan huruf kapital

digunakan secara tepat.

Kesimpulan:

Murid dianggap sudah mencapai tujuan pembelajaran jika kedua kriteria/bukti kinerja di atas MINIMAL mencapai tahap cakap.

23 of 35

Aspek yang Dinilai

Mulai memahami

Memahami

Sangat memahami

Mengenal sifat bilangan

Dapat mengidentifikasi informasi dari soal, tetapi kesulitan dalam memilih sifat bilangan berpangkat yang tepat untuk digunakan

Dapat memilih sifat bilangan pangkat dan menggunakannya untuk menyelesaikan permasalahan

Dapat memilih sifat bilangan pangkat dan menggunakannya untuk menyelesaikan permasalahan kompleks tanpa kesalahan

Aspek yang Dinilai

Mulai memahami

Memahami

Sangat memahami

Menerapkan sifat

Menyelesaikan soal

Menyelesaikan soal

Menyelesaikan soal

bilangan berpangkat

sederhana (1 sifat)

dengan dua sifat bilangan

campuran termasuk

dengan bantuan dan/

berpangkat dan/atau

bilangan berpangkat

atau jawaban akhir

menunjukan proses

pecahan dengan benar,

tidak logis atau tidak selesai

pengerjaan yang logis

dapat menjelaskan secara logis

Menyimpulkan pola

Menyebutkan hasil

Mengidentifikasi

Menjelaskan pola

dan generalisasi

tanpa menyimpulkan

pola operasi bilangan

dan sifat bilangan

pola

berpangkat

berpangkat yang ditemukan

Pemecahan masalah

Menyelesaikan soal

Menyelesaikan soal

Menyelesaikan soal

kontekstual

kontekstual dengan

kontekstual dengan

kontekstual dengan

Menggunakan

1 - 2 sifat bilangan

beberapa sifat bilangan

satu sifat bilangan berpangkat

berpangkat

berpangkat

Kesimpulan: Murid dianggap sudah mencapai tujuan pembelajaran jika semua aspek 1 sd 3 mencapai minimal tahap memahami, aspek 4 minimal tahap mulai memahami.

  • Contoh Kriteria Ketercapaian

(Matematika Fase E)

Tujuan Pembelajaran:

Menggeneralisasi sifat bilangan berpangkat (termasuk pangkat pecahan) dan menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.

Rubrik Penilaian:

  • Sangat Baik: Menjelaskan dan menerapkan sifat bilangan berpangkat dalam berbagai konteks masalah.
  • Baik: Memahami dan menggunakan sifat bilangan berpangkat untuk menyelesaikan soal rutin.
  • Cukup: Menyebutkan sifat bilangan berpangkat, namun masih keliru dalam penerapan.
  • Perlu Bimbingan: Belum memahami konsep bilangan berpangkat dengan benar.

24 of 35

Interval

Kriteria

Intervensi

0 – 20 %

Belum Mencapai Tujuan

Remedial Di Seluruh Bagian

21 – 40 %

Belum Mencapai Tujuan

Remedial Di Sebagian Besar Kriteria

41 – 60%

Hampir Mencapai Tujuan

Remedial di Kriteria yang diperlukan

61 – 80 %

Sudah Mencapai Tujuan

Belum Perlu Pengayaan

81 – 100 %

Sudah Mencapai Tujuan

Perlu Pengayaan Atau Tantangan Lebih

KKTP : 61 – 80%

PENDEKATAN 3: INTERVAL NILAI

Contoh: Jumlah IKTP (Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran) dari sebuah Pokok Bahasan sejumlah 20 indikator.

Misalkan murid telah mencapai ketercapaian pembelajaran sebanyak 15 indikator, maka murid tersbut telah mencapai ketercapaian pembelajaran (15 : 20) x 100% = 75%.. Sehingga murid tersebut telah mencapai Interval 61 – 80% Sudah mencapai Tujuan namun belum perlu mendapat pengayaan

25 of 35

PENDEKATAN 4: MENGGUNAKAN INTERVAL NILAI DIOLAH DARI RUBRIK

Terdapat empat kriteria ketercapaian—keruntutan teks, kejelasan hasil pengamatan, kejelasan pengalaman, dan logika hubungan kausalitas.

Masing-masing dinilai dengan skala 1–5.

 Skala Kriteria

Belum

Muncul pada seluruh bagian

Muncul pada salah satu unsur

Sudah Muncul pada Sebagian Kecil

Sudah Muncul pada Sebagian Besar

Terlihat Pada Keseluruhan

Bobot

1

2

3

4

5

1. Menunjukkan kemampuan penulisan teks eksplanasi dengan runtut

 

 

 

2. Laporan menunjukkan hasil pengamatan yang jelas

 

 

 

3. Laporan menceritakan pengalaman secara jelas.

 

 

 

4. Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca.

 

 

 

26 of 35

Interval

Ketercapaian dan Tindak Lanjut

0 - 20

Belum mencapai tujuan pembelajaran.

Pendidik menanyakan kepada murid tantangan apa yang mereka hadapi (perlu remedial dengan mempelajari kembali seluruh kriteria).

21 - 40

Belum mencapai tujuan pembelajaran, perlu remedial dengan mempelajari

kembali sebagian besar kriteria.

untuk menentukan ketercapaian dan tindak lanjut sesuai dengan intervalnya.

Interval

Ketercapaian dan Tindak Lanjut

41- 60

Hampir mencapai tujuan pembelajaran, perlu remedial dengan mempelajari

kembali kriteria yang diperlukan.

61 - 80

Sudah mencapai tujuan pembelajaran

81-100

Sudah mencapai tujuan pembelajaran, perlu tantangan lebih (pengayaan).

Sebagai contoh: Didi memperoleh 3 kriteria pada bobot 4, dan satu kriteria berada pada bobot 2.

Oleh karena itu, pendidik dapat menghitung 3x4 = 12, ditambah 2x1 = 2. Jadi, 12+2 = 14. Karena kriterianya ada 4 dan skalanya ada 5 sehingga jumlah pembagi adalah 20. Jadi, 14:20 x100 = 70. Dengan demikian, murid mendapat nilai 70. Dengan menggunakan interval nilai di atas, Didi berada pada interval 61- 80.

27 of 35

ALTERNATIF: PENDEKATAN PERSENTASE

Pendekatan ini menilai capaian belajar murid berdasarkan persentase ketercapaian indikator pembelajaran.

  • Contoh:
  • Dalam satu fase ada 20 indikator.
  • Murid A mencapai 15 indikator → 75% tercapai.
  • Murid B mencapai 18 indikator → 90% tercapai.

  • Makna:
  • Pendidik menilai sejauh mana tujuan pembelajaran dikuasai murid.
  • Penilaian tidak hanya lewat tes, tetapi juga observasi, performa, produk, projek, dan portofolio.
  • Hasilnya membantu guru memberi umpan balik dan menyesuaikan pembelajaran.
  • Satuan pendidikan berwenang menentukan cara dan kebutuhan asesmen.

28 of 35

ALTERNATIF: PENCAPAIAN DITINJAU DARI TAKSONOMI BLOOM (REVISI ANDERSON)

Dilakukan dengan memperhatikan kompetensi yang ada dalam tujuan pembelajaran misalnya kemampuan “Menganalisis”(C4).

Maka guru membuat tes berjenjang yaitu C1, C2, C3 dan C4. Siswa yang telah dapat mengerjakan tes sampai soal yang berasal dari C4 maka dikatakan telah mencapai tujuan pembelajaran

29 of 35

CONTOH PERENCANAAN PENILAIAN FORMATIF DAN SUMATIF

No

Tujuan Pembelajaran

Indikator Capaian/ Kinerja/Performa

Bentuk Penilaian

Instrumen

KKTP

1.

TP. 1

  • Refleksi
  • Esai
  • Jurnal
  • Poster
  • Tes tertulis
  • Diskusi Kelas
  • Produk
  • Presentasi
  • Tes lisan
  • Tes tertulis
  • Port Folio
  • Praktik
  • Unjuk Kerja
  • Portfolio
  • Rubrik
  • Tes tertulis
  • Catatan Anekdotal
  • Grafik perkembangan (kontinum)
  • Observasi
  • Proyek
  • Kinerja
  • Tes lisan
  •  dll

  • Deskripsi Kriteria
  • Rubrik
  • Interval nilai
  • Interval Nilai dari Rubrik
  • Bentuk lainnya

 

 

 

 

 

 

 

2.

TP. 2

3.

TP. 3

4.

TP. 4

5.

TP. 5

6.

TP. 6

7.

TP. 7

8.

TP. 8

9.

TP. 9

10.

TP. 10

30 of 35

CATATAN PENTING ASESMEN

  • Asesmen formatif & sumatif tidak harus berupa tes tertulis; bisa observasi, proyek, portofolio, atau praktik.
  • Asesmen sumatif dilakukan sesuai kebutuhan, tidak wajib di tengah atau akhir semester.
  • Remedial bertujuan meningkatkan capaian belajar, bukan sekadar memperbaiki nilai — dilakukan dengan pendampingan dan pembelajaran ulang pada kriteria yang belum tercapai.
  • Pengayaan diberikan untuk murid yang sudah menguasai materi dengan tantangan lebih kompleks, bukan sekadar soal sulit, tetapi memperluas dan memperdalam pemahaman.

31 of 35

Instrumen asesmen dapat dikembangkan berdasarkan teknik penilaian yang digunakan oleh pendidik

Contoh instrumen asesmen yang dapat menjadi inspirasi bagi pendidik.

Rubrik

Pedoman yang dibuat untuk menilai dan mengevaluasi kualitas capaian kinerja murid sehingga pendidik dapat menyediakan bantuan yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja. Rubrik juga dapat digunakan oleh pendidik untuk memusatkan perhatian pada kompetensi yang harus dikuasai. Capaian kinerja dituangkan dalam bentuk kriteria atau dimensi yang akan dinilai yang dibuat secara bertingkat dari kurang sampai terbaik

Ceklis

Daftar informasi, data, ciri-ciri, karakteristik, atau elemen yang dituju

Catatan Anekdot

Catatan singkat hasil observasi yang difokuskan pada performa dan perilaku yang menonjol, disertai latar belakang kejadian dan hasil analisis atas observasi yang dilakukan.

Grafik Perkembangan (Kontinum)

Grafik atau infografik yang menggambarkan tahap perkembangan belajar.

Observasi

Asesmen yang dilakukan secara berkesinambungan melalui pengamatan perilaku yang diamati secara berkala. Observasi dapat difokuskan untuk semua murid atau per individu. Observasi dapat dilakukan dalam tugas atau aktivitas rutin/harian

Kinerja

Asesmen yang ditujukan untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Asesmen kinerja dapat berupa praktik, menghasilkan produk, melakukan projek, atau membuat portofolio

Projek

Asesmen yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan, yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu.

Tes Tertulis

Tes dengan soal dan jawaban disajikan secara tertulis untuk mengukur atau memperoleh informasi tentang kemampuan murid. Tes tertulis dapat berbentuk esai, pilihan ganda, uraian, atau bentuk-bentuk tes tertulis lainnya.

Tes Lisan

Pemberian soal/pertanyaan agar murid dapat menjawab secara lisan dan diberikan ketika pembelajaran berlangsung.

Penugasan

Pemberian tugas kepada murid untuk mengukur pengetahuan dan memfasilitasi murid memperoleh atau meningkatkan pengetahuan.

Portofolio

Kumpulan dokumen hasil penilaian, penghargaan, dan karya murid dalam bidang tertentu yang mencerminkan perkembangan (reflektif-integratif) dalam kurun waktu tertentu.

Classroom Assessment Technique (CATs)

Strategi asesmen formatif yang sederhana, cepat, dan efektif untuk mengukur pemahaman murid secara langsung selama proses pembelajaran berlangsung. Contohnya: minute pьper, di akhir pelajaran murid menulis 1 hal paling penting yang dipelajari dan 2 hal yang masih membingungkan; muddiest point, murid menjawab satu pertanyaan bagian apa yang paling membingungkan dari pelajaran; one sentence summьry, murid merangkum topik dengan menjawab “siapa melakukan apa, kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa” dalam satu kalimat; bьckground knowledge probe, kuesioner singkat di awal pelajaran untuk mengetahui pengetahuan awal murid; chьin notes, murid menjawab pertanyaan di amplop yang diedarkan selama pembelajaran; atau strategi lainnya.

32 of 35

Kalau hanya menggunakan Assessment Of Learning

  • Gagal mendeteksi
  • Gagal menuntun
  • Gagal mendalam

Pembelajaran mendalam hanya mungkin dicapai kalau For & As diperkuat

33 of 35

Mengapa jarang menggunakan Asesmen Formatif?

  1. Tidak sempat
  2. Waktu mepet
  3. Belum terampil merancang formatif sederhana

34 of 35

Analogi Kuat

Dokter ke pasien:

Kalau hanya cek Kesehatan setahun sekali (Sumatif 🡪 bisa jadi pasien keburu sakit parah)

Harus ada control rutin dan beragam pengecekan 🡪 Formatif

35 of 35

TERIMA

KASIH