1 of 54

Integrasi Islam dan Sains:Menggali Teori Demi Aksi

Oleh

Prof. Dr. Amril M. MA

Program Pascasarjana dan FTK UIN Suska Riau

Pekanbaru, 6 Januari 2023

1

2 of 54

Bagian I�Rasionalitas Sejarah �Integrasi Islam dan Sains

2

5/01/2023

3 of 54

Sains di Dunia Islam: Kasus Kekaisaran Osmani

  • Abad 16 merupakan dianggap titik balik kesadaran sains umat Muslim yang ditandai dengan lahirnya ilmu-ilmu pengetahuan baru: geografi, cartografy (ilmu pemetaan) dan astronomi.
  • Seydi Ali Reis and Piri Reis, laksamana AL Turki Osmani telah menghasilkan beberapa peta dan cartographic works berdasarkan pengalaman dan observations pelayaran mereka, as well as drawing on Eastern and European sources.
  • Matrakci Nasuh and Suudi Niksari, kolega mereka, telah pula menulis geografi Irak secara deskriptif dan sejarah wilayah India Barat pada waktu berikutnya

3

5/01/2023

4 of 54

Sains di Dunia Islam: Kasus Kekaisaran Osmani

  • Abad 18, Turki Osmani mendirikan “imperial engineering schools” baru in Istanbul, mengajarkan sains moderen: military, navy and medicine. bersama pelajaran agama dan bahasa Timur (Arab, Persia dan India)
  • Sekolah ini didirikan untuk menjawab pertanyaan atas kekalahan AL Osmani oleh tentara Rusia
  • Gelenbevi Ismail, a professor of mathematics, menulis buku mathematics, literature, fiqh, theology, logic, philosophy , kemudian diangkat menjadi kadi (judge), beliau didik juga di madrasah

4

5/01/2023

5 of 54

Kerjasama Timbal Balik Saintis Barat dan Islam

  • Kerjasama timbal balik antara saintis Barat dan Islam ini meskipun dalam kondisi “permusuhan” teologi, tetapi dalam persoalan sains mereka saling kerjasama
  • Comte de Marisgli, seorang bangsawan Itali, hidup dilingkari orang-orang Osmani, menggambarkan keharmonisan kerja akademik antara dua kelompok agama ini dan menceritakan dengan suka cita tentang pembelajaran sains di madrasah

5

5/01/2023

6 of 54

�������Pembelajaran Sains di Madrasah Turki Osmani

  • “In their schools, the principles of their ‘false religion’ are taught first; one learns about matters of faith and develops a capacity to judge … They take great interest in logic and other fields of ancient philosophy and especially in medicine … Alchemy is very pleasant to them … and [they] have a certain knowledge of botanics. They very seriously study geometry, astronomy, geography and ethics;

  • The Italian priest Toderini, who stayed in Istanbul half a century later, concurred , praising the medreses that he called ‘academies’: “The Ottoman scholars are knowledgeable and reliable since they do not have any uncultivated intellectual activities and they all know Arabic and Persian … From the viewpoint of scientific autonomy and other aspects they and academies [medreses] are more advanced than their counterparts in Europe.”

6

5/01/2023

7 of 54

Pematik diskusi hubungan Sains-Agama: Kasus di Dunia Islam (Kekaisaran Turki Osmani)

  • At a Sorbonne conference in 1883, the French scholar Ernest Renan mengatakan bahwa previous Muslim successes in science and philosophy were achieved despite Islam, not because of Islam, and claimed that “as European science spread, Islam would perish .” Tuduhan Renan ini diantaranya dijawab oleh al-Din al-Afghani, seorang reformis Islam ternama, Namik Kemal, the Ottoman intellectual, dan Ataullah Bayezid, Intelektual Muslim Rusia Their writings stimulated discussions about science-religion relationships in the Islamic world”

.

  • Afghani: Kritik Renan terhadap Islam seperti itu tidak benar. Islam itu harmonis dengan prinsip-prinsip saintifik yang ditemukan oleh akal, lebih dari itu agama membutuhkan. Dikatakannya juga bahwa dimanfaatkan sepenuhnya guna menginterpretasikan Qur’an, Jika terlihat ada kontradiksi antara Qur’an dengan fakta-fakta maka interpretasi simbolik yang mesti dilakukan.

This debate opened up a new area of discussion: was Islam conducive or obstructive towards progress and science?

7

5/01/2023

8 of 54

Karakteristik Integrasi Islam dan Sains abad 20 �di Dunia Islam

  • Gazi Ahmed Muhtar Pasha, astronom Turki Osmani, penerus Kudsi Baku, menerbitkan bukunya “Secrets of the Qur’an” in 1918, mengaitkan ayat-ayat al-qur’an ke temuan sains moderen pada masanya , terutama pada penciptaan alam, awalnya kehidupan, hari kiamat dan kebankitan setelah mati.

  • Pasha berdalih bahwa al-Qur’an itu abadi yang mesti disebangunkan dengan kebenaran sains, jika ada konflik dengan sains, maka ayat-ayat al-qur’an ditafsirkan secara tepat
  • The approach of Kudsi and Muhtar Pasha ini melahirkan the approach of al-i’jaz al-‘ilmi: the “scientific inimitability” of the Qur’an, al-I’jaz al-Bayani or “rhetorical inimitability.” Selanjutnya dipopulerkan oleh Maurice Bucaille, kemudian melahirkan apa yang disebut dengan al-i’jaz societies all around the Arab world
  • Said Nursi dalam merespon claim saintifik meterialistik dan anti agama , secara tegas mengatakan bahwa sains moderen itu tidak menentang agama, termasuk Islam.

8

5/01/2023

9 of 54

Karakteristik Integrasi Islam dan Sains�di Dunia Islam Abad 21

  • Di abad 21, Integrasi Islam dan Sains di dunia Muslim bergerak ke arah yang lebih pragmatis dan aplikatif terutama mengupayakan research science sesuai dengan kebutuhan Dunia Muslim
  • Mereformasi Perguruan Tinggi dan menprioritaskan sains dan teknologi yang menekankan toleransi dan pemahaman Islam yang moderat
  • Mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan: creativity and innovation, and research and development.

9

5/01/2023

10 of 54

Bagian II�Integrasi Islam dan Sains: �Beragam Pendekatan/Aliran

10

5/01/2023

11 of 54

11

5/01/2023

Relasi Islam dan Sains dalam Pemikiran Islam

The ‘Sacred Science’ school

(Nasr)

The “Universal Science” school

(Abdus Salam)

The “ethical science” approach or the Ijmali (Sardar)

The Qur’anic Miracles approach:

Miraculous Scientific Content of the Qur’an

(Nursi- Bucaille)

The New Generation’s Reconciliast school

(Golshani - Guessoum)

Jaringan Laba-Laba

(M. Amin Abdullah)

“Islamic” Science school /Islamisation of Knowledge (Al-Faruqi & Al-Attas)

12 of 54

��1. The “Sacred Science” School

  • Sains moderen mengejar Objektivitas mis keakuratan, komfirmasi yang dapat diulang
  • Berfikir Saintifik Islam: alam jagad raya sebagai sesuatu yang sakral sedemikian rupa memberi prioritas pada values; tujuan makna dan kemanfaatan illahiyah, kemanusiaan dan alam jagad raya

  • Islamizaiton of Knowledge adalah the Islamic worldview, rational and philosophical, mengarah kepada Zat Esa Allah, karena tujuan tertingginya diantaranya adalah to integrate the world of multiplicity in the light of that Unity. Spirituality in Islam is inseparable from the awareness of the One, of Allah, and a life lived according to His Will.

  • Tugas aliran ini; berambisi menciptakan pemikiran filosofis baru yang ditarik dari pesan-pesan pembelajaran ayat-ayat al-qur’an dan sunnah daripada berusaha merekonsiliasi sains moderen dengan isu-isu utama keyakinan Islam

In essence, therefore, Nasr’s project is meant to be more of a critique of ‘modern science’ than an attempt to embrace reconcile it with Islamic faith

12

5/01/2023

13 of 54

The ‘Sacred Science’ school

Prinsip Dasar Sains Islam :

  1. Islam sebagai paradigma / worldview Sains Islam. Tidak hanya pada kontennya bermuatan value tetapi juga prinsip-prinsip, metoda, teori dan konsep-konsep yang semuanya benar-benar Islami

1. Semua ilmu pengetahuan itu adalah suci

2. Menempatkan pengetahuan tentang Tuhan di atas pengetahuan tentang ciptaan-Nya

3. Interrelasi semua tatanan realitas di alam ini

4. Dominasi tujuan vertical dalam hal ini the Devine Will terhadap semua tujuan horizontal dengan tanpa menegasikan tujuan-tujuan sekunder

5. Islamisasi Ilmu tidak menolak semua sains moderen tetapi berusaha sebisa mungkin menemukan dan mengangkat akar-akar penemuan ilmu dalam Islam

6. Menolak semua preposisi Barat yang menegasikan agama dari a world view ilmu pengetahuan sebaliknya membangun a total framework of knowledge bases on the Qur’an and Sunna dan menghidupkan kembali Ijtihad.

7. Akses untuk ilmu pengetahuan seperti ini dapat diraih dengan beragam instrumen; wahyu, sufi, ilmu pengetahuan empris dan sensual.(Nasr, 1968; Nasr, 1976)

13

5/01/2023

14 of 54

2. “IslamicScience school: Latar Belakang

  • Al-Faruqi dan Al-Attas diantara sekian banyak sarjana Muslim abad 21 yang intens membincangkan Islamisasi Ilmu Pengetahuan (IIP)
  • Fokus utama IIP diantaranya secara internal membenahi the crisis of thought di dunia Muslim sehingga kondisi umat Muslim tetap berada dalam ketertinggalan meskipun telah diupayakan peningkatan kondisi umat Muslim ini oleh para reformis akhir abad 19 dan awal abad 20 sebelumnya; Jamaluddin al-Afgani (w. 1897 M), al Kawabi (w. 1902 M), Muhammad Abduh (w.1935 M) dan Rasyd Ridha (w.1935M) dan Ahmad Khan
  • Secara eksternal karena begitu masifnya dominasi sains dan teknologi Barat sekuler di dunia Islam, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan Islam; terdikhotominya ilmu agama dan ilmu umum

14

5/01/2023

15 of 54

“Islamic” Science school: Latar Belakang

  • Kondisi umat Islam yang tidak menguntungkan ini akhirnya memunculkan kesadaran diantara tokoh-tokoh muda Muslim di universitas –universitas USA berkumpul mengevaluasi dan mengasismen pergerakan-pergerakan yang telah berlangsung di bebrapa dunia Islam. Kesimpulan yang mereka ambil adalah menprioritaskan reformasi pada the thought and the integration of Western achievements in methodology with Islamic values and beliefs.
  • The founding of the Association of Muslim Social Scientists was a step in this direction. It was established in 1382 A.H. / 1972 A.D.7 The Association addressed itself to the intellectual problems facing Islamic thought and contacted a number of Muslim activists as well as contemporary Muslim scholars and reformers. Kemudian diikuti beragam petemuan dan seminar-seminar dalam rangka sharing ide dan pemikiran .8

15

5/01/2023

16 of 54

IIP dari Komperensi I AMSS di Switzeland, IIIT al-Faruqi di USA dan Mengglobal

  • Pada 1397A.H./ 1977 A.D., AMSS melaksanakan seminar internasional di Switzerland in Europe yang dihadiri oleh pemimpin pergerakan Islam yang berbeda-beda dari dunia Islam
  • Peserta menyimpulkan bahwa the Muslim thought process and methodology needed to be given priority in the effort to achieve reform and that a specialized body needed to be established to conduct research into these areas. 9
  • Kesepakatan bersama yang dilahirkan pada seminar ini diantaranya adalah pentingnya usaha bersama untuk membentuk institusi yang bekerja secara khusus menyelesaikan krisis di dunia Islam yang tengah dihadapi. 10
  • Puncak usha ASMM ini melahirkan apa yang dikenal dengan the International Institute of Islamic Thought (IIIT) under the leadership of Isma‘il Razi Al Faruqi. The Institute was officially incorporated in the United States of America at the beginning of the fifteenth Hijri century (1401 AH/ 1981 AC), 11 and it immediately addressed itself to the issue of Islamic thought and Islamization of knowledge as whole.
  • Konprensi kedua di Islamabad Pakistan, bekerjasama dengan the Islamic University Pakistan in 1402/1982. Temanya adalah the Islamization of Knowledge, ketiga di Kuala Lumpur Malaysia, Juli 24 1984. Scholars and researchers dari berbagai disiplin ilmu seperti Economics, Sociology, Psychology, Anthropology, Political Science and Internaional Relations, and Philosophy dalam kerangka Islamisasi Ilmu Pengetahuan . Keempat di Khartoum, Sudan January 1987 M, bekerjasama dengan the University of Khartoum. Dengan tema “Methodology of Islamic Thought and Islamization of the Behavioral Sciences.”

16

5/01/2023

17 of 54

2. “IslamicScience school: Tugas IIP ?

Tugas Islamisasi Ilmu Pengetahuan: menuangkan kembali seluruh legacy ilmu pengetahuan manusia dari sudut pandang Islam; to redefine and reorder the data, to rethink the reasoning and relating of the data, to re-evaluate the conclusions, to re-project the goals, sehingga menjadikan ilmu pengetahuan seperti ini kaya misi dan tujuan yang Islami (al-Faruqi, 1982: 15)

17

5/01/2023

18 of 54

IslamicScience school: Apa IIP ?

  • Abdul Hamid A. Sulayman: IIP terkait dengan thought, ideology …, karena “Islamization” itu adalam a framework for human life, civilization and human transformation. It determines the purpose of every activity, struggle, action and Islamic social organization. 30
  • Al-Alwani: IIP lebih dekat to a methodology rather than an ideology, intended to identify and articulate the relationship between revelation and the real existential, … a methodology for dealing with knowledge and its sources,
  • Al-Attas: Terkait dengan ilmu pengetahuan saat ini Islamization means “the deliverance of knowledge from its interpretations based on secular ideology and from meanings and expressions of the secular”. 35

18

5/01/2023

19 of 54

The Process of Islamization of Knowledge

  • Al Faruqi : Proses IIP didasarkan pada lima prinsip universal Islam, yaitu: 1. the unity of Allah, of creation, 3. of truth and knowledge, 4. of life and 5. of humanity. Lima prinsip ini disebutnya juga sebagai “epistemological foundation of an Islamic methodology.” 38
  • Langkah kerja IIP: 1. menguasai disiplin ilmu-ilmu sains sosial, 2. menguasai keilmuan Islam yang terkait dalam lapangan ini, 3. menetapkan relevansi Islam ke disiplin ilmu moderen 4. melakukan sintesis kreativ nilai (values) dan legacy Islam dengan sains sosial 5. memunculkan pemikiran keilmuan Islam sesuai dengan pola-pola yang diinginkan Allah. Pada masa selanjutnya lima pola ini diperluas dan revisi oleh kelompok kerja IIIT
  • Langkah kerja ini dilakukan dalam bentuk as a double movement of integration as it requires rebuilding of both modern and traditional Islamic knowledge.

19

5/01/2023

20 of 54

The Process of….

  • Taha Jabir al-Alwani sebagai direktur IIIT menggantikan Abu Sulayman in 1995 M. He considers Islamization as not simply a grafting exercise of relevant Qur’anic verses onto the sciences for Islamization. The task should instead involve a methodological rearrangement of the sciences and their principles. 44
  • Untuk kepentingan ini, diperlukan: (1) articulating the Islamic paradigm of knowledge, (2) developing a Qur’anic methodology, (3) a methodology of dealing with the Qur’an, (4) a methodology for dealing with the sunnah , (5) reexamining the Islamic intellectual heritage and (6) dealing with the western intellectual heritage.

20

5/01/2023

21 of 54

The Process of…. Al-Attas

Al-Attas: Ada dua langkah proses IIP yaitu

  • The first is the isolation process. Ilmu pengetahuan terlebih dahulu dibebaskan dari elemen-elemen Barat sekuler diantaranya konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat Sekuler
  • The infusion process; setelah proses pertama, ilmu pengetahuan tersebutbe infused with Islamic elements and key concepts that inherently upholds the fitrah, or Man’s natural function and purpose of life in accordance to Islam.
  • Dua langkah IIP ini hanya dapat dilakukan oleh sarjana who have a “profound grasp of the nature, spirit and attributes of Islam as a religion, culture and civilization as well as western culture and civilization.” 48

21

5/01/2023

22 of 54

Kritik ke IIP

  • Sardar : Epistemologi Sains Barat itu yang harus disingkirkan, bukan sains Baratnya, karena epistemologi Barat ini yang melahirkan sains Barat itu. Karenya mengislamisasikan sains Barat ini tidak relevan bagi Umat Muslim tetapi yang dibutuhkan Umat Muslim adalah mengembangkan paradigma dan menginovasi ilmu-ilmu yang tepat di dunia Muslim
  • al-Bati : Dibutuhkan ssat ini adalah pertama, menata kembali metoda kajian yang telah ada yang lebih responsif kebutuhan – kebutuhan saat ini, Kedua menata kembali sains Islam perspektif metoda saat ini dapat berfungsi kembali menuntun kajian bagi umat Muslim
  • Rahman : Usaha yang lebih besar dan lebih dibutuhkan saat ini adalah bukan membangun preposisi-preposisi dan konsep-konsep sains Islam tetapi membangun “mind” sarjana saintis Muslim .59
  • Umar Hassan: IIP terlalu fokus ke penyebab eksternal , khususnya pengaruh Barat yang menyebabkan kemunduran Umat Islam, tetapi semestinya pada crisis berfikir umat Islam yang tidak lagi adabtif dengan tantangan masa kini . 20

  • According to Ziauddin Sardar: rediscovering the contemporary epistemology of Islam can begin by developing two types of paradigm. One is knowledge paradigms, which are focused on the main principles, concepts, and Islamic values that pertain to particular fields of study. The other is behavioral paradigms, which determine the ethical boundaries within which scholars and scientists can freely operate.

22

5/01/2023

23 of 54

Tawhid

Tawhid merupakan prinsip yang sangat mendasar dalam kehidupan umat Muslim, tidak terkecuali dalam kehidupan berilmu pengetahuan Dalam berilmu pengetahuan Tawhid diturunkan dalam empat bentuk yaitu.

  1. the Unity of Truth and Knowledge; ,
  2. the Unity of Life,
  3. the Unity of Creation and
  4. the Unity of Humanity (Abusulayman 1989).

Of these, only the first two are directly concerned with Islamic science.

Islamic philosophers of science operating from the tawhidic approach are divided into two schools of thought.

One branch of Islamic science championed by Nasr and his most prominent adherent, Osman Bakar, attaches great importance to the Unity of Truth and Knowledge.

Another movement in Islamic Science, gives greater emphasis to the Unity of Life.

23

5/01/2023

24 of 54

The Tawhidic doctrine of Unity of Truth and Knowledge

The school of Islamic thought which promotes the tawhidic doctrine of Unity of Truth and Knowledge dalam sains, mengidentifikasi ada dua jenis ilmu pengetahuan (ilm).

1. absolute and infallible knowledge as revealed by the Qur’ân ‘which belongs to God wherein there is total yaqin (certainty) and no question of zann (conjecture); 2. rational knowledge ‘that is validated by a process progressing from zann to yaqin’.

The basic tenet of Nasr’s approach is the belief that human intellect has a dual structure, one rational (aql-i juz’i) and the other intuitive (aql-i kulli) (Nasr 1972).

The limitation of the former is that it cannot go beyond external (zahir) analysis. On the other hand, the latter is a potential tool for looking into the internal (batin) meaning of cosmic reality. The empowerment of this primordial faculty is made possible by the illumination of the human intellect by the Divine Spirit.

Nasr sees the Qur’ân as an inspiration for gaining scientific truth. Truth can only be found through the realization of the true potential of the human mind. This is made possible by subsuming the rational faculty under the intuitive intellect (Nasr 1982):

Kerjasama aqal juz’I dan aqal kulli untuk mengungkap kebenaran sains dalam al-quran

24

5/01/2023

25 of 54

Unity of Truth and Knowledge

Islamic science based on the Unity of Truth and Knowledge is conceptually flawed (cacat). Science, as practised universally, is materialistic in its philosophical approach.

In contrast, Nasrism takes a dualistic philosophical stance. Scientists, in general, confine (mengikat) themselves to using a quantitative approach to study problems having the properties of physical matter or physical life.

On the other hand, Islamic scholars of science operating from the perspective of the Unity of Truth and Knowledge, go beyond the boundaries of science. Can spiritualism and materialism co-exist in a comfortable relationship?

25

5/01/2023

26 of 54

3. The “ethical science” approach

  • Aliran ini lebih menekankan restorasi etik dan values pada sains sekuler barat yang selama ini ditenggarai meninggalkan the ethical thinking
  • Sains Islam itu adalah sains yang proses dan metodologinya dimuati oleh the spirit of Islamic values (Sardar 1989).
  • Sains barat sekuler merupakan perusak dan berbahaya dari sisi ‘metaphysical’ bases and its social effects, sehingga hanya membawa kerusakan kehidupan umat manusia dan alam jagad raya
  • Untuk itu umat Islam tidak perlu menolak sains Barat . Tetapi menginternaslisasikan sains barat dengan Islamic value-system, sedemikian rupa sains itu dapat diterapkan sesuai dengan nilai Islam sehingga menguntungkan bagi kemanusiaan.

26

5/01/2023

27 of 54

Islamic values?

Sardar menawarkan solusi yaitu meredinisikan kembali bahwa sains demi kepentingan semua umat manusia berdasarkan prinsip-prinsip dan values Islam; tawhid, khilafah, ‘ilm, ‘adl dan maslaha.

Sardar: It is not Islam which needs to be made relevant to modern knowledge, it is modern knowledge which needs to be made relevant to Islam

27

5/01/2023

28 of 54

4. The “Universal Science” school

Abdus Salam dan Pervez Hoodbhoy: Sains itu sendiri adalah universal dan tidak ada problema “metaphisical” yang serius atau problema konseptual tetapi pada terapannya dipengaruhi oleh faktor budaya dan lingkungan sosial yang meniscayakan lahirnya problema.

Pervez dalam bukunya “Science and Islam”, mengajukan autonomy of science from control by Islamic religious authority

28

5/01/2023

29 of 54

The Scientific Autonomy Approach: Bukti sejarah�Pervez Hoodbhoy

  • Bagi Pervez: Ketertinggalan umat Islam dibidang sains dan teknologi bukan dikarenakan bahwa sain itu tidak Islam , atau tidak respek dengan Islam, tetapi problema itu lebih dikarenakan keterbelakangan Muslim dalam penguasaan sains dan teknologi
  • Pendekatan ini mengajak akan sebuah pengakuan bahwa moderen itu bersifat internasional dan universal, sains kolaboratif dengan menghargai isu-isu politik seperti adanya jurang penguasaan sains antara negara maju dan berkembang.
  • Pervez sangat respek ke teologi rasional Muktazilah karena tidak mempertentangkan antara sains dan Islam yang melahirkan peradaban Islam itu menjadi unggul.

29

5/01/2023

30 of 54

Abdus Salam

  • Bagi Salam, sains itu merupakan ekspresi utama dari humanisme masyarakat Muslim. Karenanya sainstis itu merupakan kekuatan untuk mengangkat martabat manusia. Salam itu sendiri keberatan menggunakan terma “sains Islam” seperti yang diupayakan oleh kelompok IIP
  • Pidatonya disaat menerima penghargaan nobel dalam bidang fisika tahun 1079, dia mengatakan bahwa sains itu merupakan warisan seluruh umat manusia

30

5/01/2023

31 of 54

Abdus Salam

  • Salam: Meskipun agama dan sains saling melengkapi dan tidak kontradiksi satu dengan yang lain, namun batasan yang jelas antara keduanya mesti ada pemisahan yang jelas antara domain agama dan sains.
  • Sains itu bekerja pada wilayah nalar yang terorganisir dalam memahami alam jagad raya yang bersifat materi.
  • Agama itu bekerja di wilayah nalar yang ditinggalkan oleh sains, misalnya mencari tahu dari pertanyaan tentang “Kenapa alam jagad raya ini ada ?”, “Apa tujuan hidup ?” .Sebalikny sain mencari tahu pertanyaan semisal “ Bagaimana menata alam dan kehidupan ini ?”
  • Sesungguhnya tidak ada konflik antara sain dan agama kecuali pada domain-domain yang disebabkan over lap (p. 137)

31

5/01/2023

32 of 54

5. The Qur’anic Miracles approach: �Miraculous Scientific Content of the Qur’an

Pendekatan i‘jâz al-‘ilm (mukjizat ilmiah) Alquran telah berkembang pesat saat ini, khususnya wilayah Arab. Banyak buku ditulis dengan pendekatan ini, yang isinya untuk menunjukkan bahwa Alquran telah meramalkan, misalnya, penemuan telepon, telegram, radio, televisi, faximil, e-mail, laser, lubang hitam dan seterusnya. Beberapa kali juga dilakukan konferensi internasional untuk mengokohkan pendekatan i‘jâz (Guessoum 2011, 148).

Pendekatan ini sangat familiar di dunia Muslim dari tahun 1976 ketika Maurice Bucaille, seorang dokter gigi bangsa Perancis menerbitkan bukunya ” ‘The Bible, Qur’an, and Science’

Buku ini menguji secara sistematis pada dua kitab suci ; Bible dan al-Qur’an yang memuat informasi saintifik. Bucaille menyimpulkan bahwa kesalahan-kesalahan saintifik ditemukan di Bible, sebaliknya al-Quran nyaris tidak ditemukan sebuah preposisi pun di dalamnya yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan (sains) moderen saat ini

Buku ini diterima dengan sangat baik di hampir seluruh dunia Muslim sebagai bukti yang amat kuat bahwa al-Qur’an memiliki akar ketuhanan dan memuat pengetahuan (sains) yang datang secara langsung dari Tuhan (God)

32

5/01/2023

33 of 54

��5. The Qur’anic Miracles approach: Miraculous Scientific Content of the Qur’an (Nursi- Bucaille)

1. Dimulai dengan mencari kesesuaian antara hasil saintifik dan pernyataan-pernyataan al-Qura’an dan mengutip ayat-ayat yang terpisah-pisah itu dengan menandai maknanya yang sesuai dengan ide-ide saintifik atau ide-ide saintifik dijadikan sebagai premis dasar bahwa pengetahuan saintifik (baru) terus menerus lebih diarahkan untuk memperkuat pembenaran wahyu dari pada penyangkalannya

2. Menghadirkan bukti keluarbiasaan al-qur’an sebagai sumber yang agung (transendent) (Yunus D Telleil, 2009)

3. I‘jâz al-‘ilm adalah pemikiran yang menyatakan bahwa ayat-ayat Alquran jika dibaca dan ditafsirkan secara ilmiah akan secara eksplisit mengungkapkan sebagian kebenaran ilmiah, karena Alquran berisi segala jenis pengetahuan dari zaman kuno sampai modern (the Qur’an contains all knowledge of the ancients and the moderns). Gagasan ini salah satunya dijustifikasi oleh ayat “Tiada Kami alpakan sesuatu apapun di dalam al-Kitab” (Q.S. al-An‘âm [6]: 38) (Guessoum 2011, 147).

33

5/01/2023

34 of 54

The Qur’anic Miracles approach” ?

  • The Qur’anic Miracles approach” adalah sebuah penafsiran ayat-ayat al-quran dengan bantuan temuan-temuan saintifik atau sebaliknya
  • Menjawab bahwa al-Qur’an dan Hadis tidak bertentangan dengan temuan-temuan sains
  • Sebagai usaha penandaan bahwa keharmonisan antara al-Quran dan pengetahuan saintifik, bahkan al-quran itu melebihi temuan-temuan sainstifik dan teknologik praktis
  • Membantu semakin memperkuat keimanan kepada Allah dan mahami tujuan penciptaan dan hukum-hukum penciptaannya melalui penafsiran ayat-ayat al-quran

34

5/01/2023

35 of 54

The Qur’anic Miracles approach:� Kritik The New Generation’s Reconciliast School

  • Pemaknaan ayat-ayat al-Qur’an menjadi literal
  • Pemahaman makna ayat teraksentuasi kepada temuan sains saat ini
  • Pemaknaan allegoris dan poetic ayat-ayat alquran cenderung terabaikan
  • Mengeliminasi makna ambigous (mutasyabihah) sebagai bagian dari makna ayat dalam al-Qur’an
  • Al-Qur’an terkesan hanya sebagai kitab saintifik
  • Dalam sejarah para saintis Muslim tidak pernah meng[kutkan ayat-ayat al-Qur’an dalam pemikiran saintifik mereka

35

5/01/2023

36 of 54

�������Model I‘jâz al-‘Ilm: Rambu-Rambu ?

al-Najjâr (l. 1933 M), tokoh pendekatan i‘jâz mematok 10 prinsip:

  1. Memahami teks bahasa Arab dengan baik;
  2. Mempertimbangkan ‘ulûm al-Qur’ân dan penjelasan hadis-hadis yang terkait;

(3) Menghimpun berbagai ayat yang berkaitan dengan tema umum sebelum dilakukan penafsiran baru;

(4) Menghindari penafsiran yang berlebihan dan tidak “memperkosa ayat”

(5) Menjauhi isu- isu yang tidak terlihat (unseen), seperti persoalan gaib;

(6) Fokus pada sebuah tema secara khusus ketika menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu;

(7) Mempertahankan ketepatan dan kejujuran akademik ketika berhadapan dengan pernyataan Ilahi;

(8) Menggunakan fakta-fakta ilmiah yang telah mapan, bukan teori yang belum pasti atau sekedar dugaan, kecuali hal-hal yang terkait dengan proses penciptaan semesta dan kehidupan manusia, karena topik-topik tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan observasi, sehingga pengetahuan manusia dalam masalah ini hanya bersifat dugaan (zann); (al-Najjâr 2003, 20-22).

36

5/01/2023

37 of 54

Model I‘jâz al-‘Ilm: Rambu-Rambu ?

9) Prinsip kerja i‘jâz al-‘ilm harus dibedakan dari tafsîr al-‘ilm. Dalam tafsîr al-‘ilm memungkinkan untuk menerima dan menggunakan teori atau fakta yang belum bisa dipastikan, sehingga jika terbukti salah, maka kesalahan dilimpahkan kepada penafsir. Sebaliknya, dalam i‘jâz al-‘ilm, penafsir harus menggunakan fakta ilmiah yang telah mapan. Dengan hanya menggunakan fakta ilmiah yang telah mapan, seseorang tidak akan jatuh pada klaim kemukjizatan Alquran atau sunah atas sesuatu pernyataan yang kelak ternyata terbukti salah;

(10) Menghormati upaya ulama sebelumnya dalam hal yang terkait (al-Najjâr 2003, 20-22).

37

5/01/2023

38 of 54

��Kritik Nidhal Guessoum Pada Model I‘jâz al-‘Ilm

Nidhal mengkritik 10 prinsip-prinsip kerja i‘jâz :

Pertama, prinsip-prinsip i‘jâz di atas sangat normatif, tidak fundamental. Prinsip yang ditawarkan tidak berbeda dengan aturan metodologis akademik yang berlaku di kampus pada umumnya.

Kedua, pedoman nomor delapan (8), terkait dengan penggunaan fakta-fakta yang sudah mapan. Apa dasar kita menilai bahwa sebuah gagasan tertentu telah menjadi fakta atau teori yang telah mapan? Apakah pendukung i‘jâz misalnya akan menganggap bahwa teori gravitasi Isaac Newton (1643-1727 M)adalah fakta alam yang sudah mapan? Padahal, Albert Einstein (1879-1955 M) yang punya teori gravitasi. Apakah teori Einstein juga mapan? Mana yang dipilih dan atas dasar apa? Ketiga, masih ke pedoman nomor delapan (8). Jika pemilihan atau penetapan kemapanan sebuah fakta atau teori dikaitkan dengan ayat Alquran, berarti al-Najjâr telah membiarkan atau bahkan mendorong para peneliti untuk menggunakan ayat Alquran guna mengunggulkan teori sains tertentu atas teori yang lain. Misalnya, mengunggulkan teori Einstein atas teori Newton. Tidakkah ini berarti sebuah kesalahan yang luar biasa besar

38

5/01/2023

39 of 54

Kritik Nidhal Guessoum Pada Model I‘jâz al-‘Ilm

Keempat, masih soal fakta ilmiah. Klaim kelompok i‘jâz bahwa seseorang dapat mengidentifikasi fakta ilmiah untuk kemudian membandingkannya dengan pernyataan yang jelas dalam Alquran menunjukkan kesalahpahaman yang nyata terhadap sifat sains. Dengan mengutip pendapat Jules Henri Poincare (1854-1912 M), Nidhal menyatakan bahwa “sains bukan hanya sekumpulan fakta seperti halnya sebuah rumah bukan sekedar sekumpulan batu bata”

Kelima, secara konten, kelompok i‘jâz berpijak pada prinsip yang tidak benar, yaitu (a) klaim bahwa penafsiran ayat Alquran bersifat tunggal dan pasti, sehingga dapat dibandingkan dengan hasil dan pernyataan ilmiah, (b) sains bersifat sederhana dan jelas, yang berisi fakta definitif yang mudah dibedakan dari teori.

Keenam, kenyataannya, prinsip-prinsip metodologis di atas jarang sekali digunakan dalam praktik analisisnya. Dengan merujuk pada banyak data dan makalah i‘jâz sendiri, Nidhal menunjukkan adanya ketidak-konsitensian antara pedoman metodologis dengan praktik analisis di lapangan.

Berdasarkan analisis dan kritiknya tersebut, Nidhal menilai bahwa pendekatan i‘jâz al-‘ilm mengandung cacat metodologis, sehingga juga tidak dapat digunakan untuk melakukan integrasi agama dan sains di masa depan (Guessoum 2011, 161).

39

5/01/2023

40 of 54

Integrasi Sains dan Islam : �Pendekatan Kuantum Nidhal Guessoum

Pendekatan kuantum yang ditawarkan Nidhal Guessoum untuk integrasi agama dan sains adalah pola gerakan bolak-balik yang didasarkan atas tiga prinsip, yaitu

  • prinsip tidak bertentangan,
  • penafsiran berlapis, dan
  • falsifikatif teistik.

40

5/01/2023

41 of 54

Prinsip Tidak Bertentangan

Pertama: pendekatan kuantum adalah prinsip bahwa agama, filsafat, dan sains modern tidak akan pernah bisa bertentangan satu sama lainnya karena ketiganya adalah “saudara sepersusuan” (bosom sisters)

(Guessoum 2011, 61).

Prinsip ini didasarkan atas pandangan Ibn Rushd

(1126-1198 M) bahwa ajaran agama, filsafat, dan sains adalah selaras, tidak bertentangan. Ajaran keselarasan Ibn Rushd ini terjadi pada aspek sumber, tujuan, metode, dan konten.

41

5/01/2023

42 of 54

Prinsip Tidak …

Kedua, aspek tujuan. Meski bahasa yang digunakan berbeda, wilayah kajian bisa tidak sama, tetapi tujuan yang ingin dicapai adalah satu, yaitu bahwa masing-masing ingin mencapai kebenaran puncak, kebenaran Allah SWT Wahyu, Akal, Alam tertinggi. Dalam agama, tujuan akhir adalah mengabdi Yang Maha Agung, Allah SWT; tujuan akhir dalam fisafat adalah memahami Realitas Sejati,

Allah SWT; tujuan akhir dalam sains adalah menemukan kekuatan agung yang menciptakan dan memelihara alam semesta, Allah SWT.

Ketiga, aspek metode. Menurut al-Farabî (870-950 M), metode filsafat tidak sama dengan metode ilmu agama. Filsafat menggunakan metode demonstratif (burhânî) sedang ilmu agama menggunakan metode dialektis (jadâlî); metode demonstratif dinilai lebih valid dari dialektis,

sehingga ilmu filosofis yang dihasilkannya dinilai lebih unggul dibanding ilmu agama yang dihasilkan dari dialektis (Soleh 2010, 111-115).

42

5/01/2023

43 of 54

2. Prinsip Penafsiran Berlapis

Maksudnya, penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran harus dilakukan secara berlapis, berjenjang, sesuai dengan tingkat penalaran seseorang, sehingga tidak ada penafsiran tunggal. Alasan

Pertama, secara historis, seperti ditulis Sachiko Murata (l. 1943 M) dan William Chittick (l. 1943 M), munculnya keragaman pemahaman atas ayat-ayat Alquran inilah justru yang telah menjadi sumber kekayaan intelektual dalam sejarah keemasan Islam (Guessoum 2011, 50).Masa keemasan Islam terjadi justru karena adanya keragaman penafsiran dan pemahaman yang diberikan oleh para akademisi muslim saat itu.

43

5/01/2023

44 of 54

Prinsip Penafsiran …

Kedua, adanya kekayaan kosa kata Alquran. Mengikuti pendapat Fahd ‘Abd al-Rah}mân al-Rûmî, guru besar tafsir di Riyadh, Alquran mempunyai kekayaan kosa kata yang luar biasa. Keragamaan maknanya bisa mencapai lima kali dari bahasa Arab biasa.

Alquran juga mempunyai kekhasan dalam nada dan irama yang efektif untuk orang awam dan elit, juga cocok untuk semua usia dan zaman; mempunyai keseimbangan dalam menyentuh hati dan pikiran dengan menggunakan gaya sastra dan ilmiah;

Mempunyai tingkat keringkasan dalam ekspresi tetapi sarat arti; mempunyai keluasan dalam penggunaan imajinasi dan metafora (Guessoum 2011, 48).

44

5/01/2023

45 of 54

Prinsip Penafsiran…..

Ketiga, pernyataan Alquran sendiri yang menunjukkan adanya ragam pemahaman dan pemaknaan atas sebuah teks, dan perlunya melakukan itu demi memberikan pemahaman kepada masyarakat yang berbeda (Q.S. Âli ‘Imrân [3]: 7). M Asad (1900-1992 M), mufassir modern penulis tafsir The Massege of the Qur’an, menyatakan bahwa ayat 7 dari surah Âli ‘Imrân tersebut menunjukkan adanya banyak bagian dan ekspresi dalam Alquran yang tidak dapat dipahami secara tekstual melainkan harus dalam arti alegoris, agar dapat dipahami lapisan masyarakat yang berbeda (Asad n.d.)

.

Keempat, mengikuti pendapat Sachiko Murata (l. 1943 M) dan William Chittick (l. 1943 M) yang mengutip sabda Rasul bahwa setiap ayat Alquran mengandung tujuh arti, mulai makna tekstual sampai makna ketujuh, makna terdalam yang hanya diketahui Allah sendiri. Pendapat ini dikuatkan oleh Muh}ammad T{âlbî (1921-2017 M), sejarawan Muslim asal Tunisia, bahwa ada banyak kunci untuk membaca Alquran, tidak hanya satu kunci. Kunci-kunci tersebut pada waktu yang sama bisa jadi objektif dan bisa jadi subjektif (Guessoum 2011, 50).

Kelima, mengikuti pendapat Ibn Rushd (1126-1198 M) tentang tingkat nalar manusia. yaitu : awam, menengah, dan elit. Awam yang merupakan mayoritas adalah kelompok yang hanya mampu berpikir tekstualis-retoris dan sama sekali tidak mampu berpikir rasional atau takwil. Menengah adalah kalangan yang telah menggunakan nalar rasional tetapi belum mampu tingkat kritis filosofis. Penalaran mereka menggunakan metode dialektis. Elit adalah kalangan yang mampu berpikir kritis filosofis, tidak sekedar rasional dialektis.

45

5/01/2023

46 of 54

Prinsip Penafsiran…..

Menurut Nidhal, penafsiran terhadap teks suci harus dilakukan secara berjenjang atau berlapis sesuai dengan tingkat nalar sang pembaca.

Penafsiran secara berlapis adalah keniscayaan karena tingkat nalar manusia memang berbeda, tidak bisa dipaksakan dengan penafsiran tunggal atau hanya dalam satu perspektif.

Dengan penafsiran secara berlapis, maka upaya untuk mempertemukan antara agama dan sains modern sangat terbuka (Guessoum 2011,62).

46

5/01/2023

47 of 54

3. Falsifikatif Teistik

Prinsip ini terkait dengan metodologis dan pilihan metafisis yang diikuti. Aspek ini memberi aturan main bagaimana sains harus bekerja. Secara sederhana, metode ilmiah yang dianut dalam sains dapat diartikan sebagai serangkaian tindakan yang terdiri atas beberapa tahapan:

1) Pengamatan terhadap fenomena dan merekam sebanyak mungkin data atau informasi terkait fenomena tersebut.

2) Membuat hipotesis berdasarkan pengetahuan yang ada sebelumnya terkait dengan fenomena tersebut.

3) Menguji hipotesis dibuat yang mengarah ke konsekuensi khusus atau prediksi tertentu, kemudian memeriksa dan mengujinya apakah hipotesisnya benar dan apakah prediksi yang dibuatnya terbukti.

4) Memperbaiki atau menyempurnakan hipotesis atau prediksi yang telah dibuat dan terbukti benar atau membuang hipotesis lama dan menggantinya dengan hipotesis baru jika tidak sesuai dengan hasil eksperimen dan observasi (Guessoum 2011, 72).

Secara historis, metode ilmiah sebagai suatu cara kerja sains yang digariskan di atas telah dilakukan sejak masa kejayaan Islam abad pertengahan. Para saintis muslim seperti Ibn al-Haytham (965-1040 M), al-Bîrûnî (973-1048 M), Ibn Sînâ (980-1037 M) kenyataannya sangat menekankan eksperimentasi dan observasi dalam cara kerja dan pengembangan sains mereka.

47

5/01/2023

48 of 54

Falsifikatif Teistik

Selain metode ilmiah yang harus bersifat falsifikatif, sains juga terkait dengan aspek metafisis atau worldview. Aspek ini menjadi prinsip dasar sebuah sains dibangun. Mengutip Kitty Ferguson (l.1941 M), Nidhal menyatakan bahwa pada abad 17 M ada prinsip-prinsip metafisika yang disepakati kaum ilmuwan:

(1) Alam semesta adalah rasional, mencerminkan kecerdasan Penciptanya; (2) Alam semesta dapat dipahami manusia; (3) Alam semesta mempunyai kontigensi, maksudnya bahwa benda-benda yang kita temukan bisa jadi berbeda dengan yang kita bayangkan, sehingga pengetahuan atasnya didapat dengan melakukan eksperimen dan observasi; (4) Ada sesuatu yang merupakan Realitas Objektif, yang itu berarti ada kebenaran di balik yang tampak yang dapat diobservasi secara inderawi; (5) Ada kesatuan di alam semesta, yang menjadi dasar segala sesuatu, yaitu satu Tuhan, satu jalinan dan satu sistem logika (Guessoum 2011, 91).

Penjelasan Kitty tersebut menunjukkan bahwa pada abad 17 M, prinsip-prinsip metafisika teistik masih ada, berjalan dan diakui oleh para saintis Barat. Kepercayaan kepada Tuhan, keinginan untuk melihat kebesaran-Nya dalam semesta, dan perintah kitab suci agar manusia menjelajahi jagat raya memberi peran penting dalam pengembangan sains di Barat. Pernyataan ini juga bisa dilihat, antara lain, dari salah satu surat Johannes Kepler (1571-1630 M) kepada Galileo Galilei (1564-1642 M) yang menyatakan, “dari perbendaraan Yahuwe Sang Pencipta yang belum terungkap, Dia ungkap satu persatu kepada kita” (Alexander 2001, 83).

48

5/01/2023

49 of 54

Falsifikatif Teistik

Dengan mengutip Alfred North Whitehead (1861-1947 M), terkait dengan tampilnya sains teistik abad 17, Guessoum mengatakan bahwa keimanan terhadap Tuhan dalam pandangan sains adalah mendahului teori ilmiah modern dan merupakan turunan dari ajaran teologi abad tengah (Islam), malangnya konsep ini telah bergeser bahkan hilang dari konsep sains modern.

Semua referensi mengenai Tuhan atau Sang Maha Pencipta dihapuskan dari worldview sains modern, sehingga sains modern kemudian berubah menjadi sains yang materialistik (any reference to God or a Creator is deleted... (Guessoum2011, 92).

49

5/01/2023

50 of 54

Falsifikatif Teistik

Agama dan sains moder bertemu bagi Nidhal atas dasar worldview teistik. dengan alasan

Pertama, teisme bukan sekedar kepercayaan kepada Tuhan sebagai pencipta semesta, tetapi juga penopangnya, Lebih dari itu, teisme juga meyakini Tuhan senantiasa berinteraksi dengan semesta. Ini berbeda dengan paham deisme, Tuhan hanya sebagai pencipta tetapi tidak sebagai pemelihara. Tugas Tuhan selesai begitu alam semesta sudah tercipta.

Kedua, keyakinan teistik merupakan model yang tampak lebih sesuai dengan sifat dunia yang kita amati. Sedemikian, sehingga problem dunia yang kompleks dan jalinan relasi yang rumit yang membingungkan Albert Einstain (1879-1955 M) misalnya, juga keindahan semesta yang telah menuntun para fisikawan modern, seperti Paul Dirac (1902-1984 M), Erwin Schrodinger (1887-1961 M), dan Alvin Martin Wainberg (1915-2006 M) untuk mempercayai kebenaran Sang Maha Kuasa akan lebih cocok jika dibingkai dalam pandangan teistik.

Ketiga, keyakinan teistik akan mendorong seseorang untuk terus menggali data dan informasi yang tidak sekedar dari realitas empirik, sehingga mereka menjadi lebih kaya dan mampu memberikan deskripsi lebih lengkap tentang semesta. Kenyataannya, banyak realitas lain di dunia yang tidak bisa kita pahami dan tidak bisa kita akses, sehingga kita harus mengadopsi pandangan dunia (worldview) yang lebih luas dibanding pandangan dunia yang diyakini kaum sekuler.

Keempat, keyakinan teistik akan lebih memberikan kepuasan material, spiritual, dan moral

Kelima, dari perspektif kesadaran dan pengalaman keagamaan, keyakinan teistik lebih sesuai dibanding yang lain, seperti materialistik, deistik apalagi ateistik (Guessoum 2011, 97). Walhasil, pada prinsip teistik ini, secara metodologis pengembangan sains modern harus didasarkan atas metode ilmiah yang ketat, yaitu falsifikasi, tetapi pada aspek metafisikanya didasarkan atas worldview teistik, sehingga gabungan keduanya menjadi falsifikatif-teistik.

50

5/01/2023

51 of 54

7. Integrasi-Interkoneksi Jaringan Laba-Laba M. Amin Abdullah

  • Integrasi: sebuah paradigma keilmuan yang mengasumsikan bahwa peleburan dan pelumatan yang satu ke dalam yang lain, sisi normativitas-sakralitas keberagamaan secara menyeluruh masuk ke wilayah historisitas-profanitas atau sebaliknya tanpa reserve
  • Interkoneksi: sebuah paradigma yang diberangkatkan dari sebuah asumsi bahwa setiap bangunan keilmuan apa pun; keilmuan agama, sosial-humaniora bahkan keilmuan kealaman tidak dapat berdiri sendiri. Karenanya kerjasama, saling tegur sapa, saling membutuhkan dan saling koreksi antara disiplin keilmuan akan lebih dapat membantu manusia memahami kompleksitas kehidupan (Amin Abdullah, 2006,v-x)
  • Integrasi-Interkoneksi: sebuah pendekatan yang berkeinginan dan mengupayakan bahwa antar berbagai bidang ilmu sesungguhnya memilki keterkaitan dan sangat terbuka bekerjasama

51

5/01/2023

52 of 54

7. Integrasi-Interkoneksi…

Jaringan Laba-laba Keilmuan: Integrasi-Interkoneksi Islam dan Sains

52

5/01/2023

Pemahaman yang diambil diantaranya

  1. Lingkaran 1 Q & S menjadi pusat, sumber dan inspirasi berbagai Ilmu pengetahuan ditempatkan pada poros ilmu pengetahuan
  2. Lingkaran 2. Metoda dan pendekatan mengitri Q & S menunjukan bahwa peranan krusialnya sebagai alat melahirkan berbagai ilmu akan selalu didampingi secara dekat oleh Q&S. Bahkan pengembangan ilmu pengetahuan apapun dihasilkan dari posisi lingkar ke 2 ini.
  3. Lingkar 3. ‘Ulum ad-Din selain menjadi basis ilmu Umum, juga sebagai jembatan bagi integrasi ilmu dan sains, pada enam model di atas
  4. Ilmu-ilmu hasil integrasi Islam dan Sains, kemudian pengembangannya lebih lanjut pada prinsipnya merupakan hasil pijakan Q&S dan ‘ulum ad-Din
  5. Saling kontak-sentuh ilmu pengetahuan yang satu dengan yang lain 6.dst

53 of 54

Piranti Pendekatan Berfikir Integrasi-Interkoneksi ?

53

5/01/2023

Hadharat an-nas (Budaya Teks: Q,H dan T)

Hadharat al-’Ilm (Budaya temuan ilmu pengetahuan)

Hadharat al-Falasafah (Budaya berfikir reflektif-etis, transformatif-emansipatoris)

54 of 54

Sekian, semoga bermanfaatPekanbaru, 5 Januari 2023

54

5/01/2023