Integrasi Islam dan Sains:�Menggali Teori Demi Aksi
Oleh
Prof. Dr. Amril M. MA
Program Pascasarjana dan FTK UIN Suska Riau
Pekanbaru, 6 Januari 2023
1
Bagian I�Rasionalitas Sejarah �Integrasi Islam dan Sains�
2
5/01/2023
Sains di Dunia Islam: Kasus Kekaisaran Osmani
3
5/01/2023
Sains di Dunia Islam: Kasus Kekaisaran Osmani
4
5/01/2023
Kerjasama Timbal Balik Saintis Barat dan Islam
5
5/01/2023
���������Pembelajaran Sains di Madrasah Turki Osmani
6
5/01/2023
Pematik diskusi hubungan Sains-Agama: Kasus di Dunia Islam (Kekaisaran Turki Osmani)
.
This debate opened up a new area of discussion: was Islam conducive or obstructive towards progress and science?
7
5/01/2023
Karakteristik Integrasi Islam dan Sains abad 20 �di Dunia Islam
8
5/01/2023
�Karakteristik Integrasi Islam dan Sains�di Dunia Islam Abad 21
9
5/01/2023
Bagian II�Integrasi Islam dan Sains: �Beragam Pendekatan/Aliran
10
5/01/2023
11
5/01/2023
Relasi Islam dan Sains dalam Pemikiran Islam
The ‘Sacred Science’ school
(Nasr)
The “Universal Science” school
(Abdus Salam)�
The “ethical science” approach or the Ijmali (Sardar)
The Qur’anic Miracles approach:
Miraculous Scientific Content of the Qur’an
(Nursi- Bucaille)
The New Generation’s Reconciliast school
(Golshani - Guessoum)
Jaringan Laba-Laba
(M. Amin Abdullah)
“Islamic” Science school /Islamisation of Knowledge (Al-Faruqi & Al-Attas)
���1. The “Sacred Science” School
In essence, therefore, Nasr’s project is meant to be more of a critique of ‘modern science’ than an attempt to embrace reconcile it with Islamic faith
12
5/01/2023
�The ‘Sacred Science’ school�
Prinsip Dasar Sains Islam :
1. Semua ilmu pengetahuan itu adalah suci
2. Menempatkan pengetahuan tentang Tuhan di atas pengetahuan tentang ciptaan-Nya
3. Interrelasi semua tatanan realitas di alam ini
4. Dominasi tujuan vertical dalam hal ini the Devine Will terhadap semua tujuan horizontal dengan tanpa menegasikan tujuan-tujuan sekunder
5. Islamisasi Ilmu tidak menolak semua sains moderen tetapi berusaha sebisa mungkin menemukan dan mengangkat akar-akar penemuan ilmu dalam Islam
6. Menolak semua preposisi Barat yang menegasikan agama dari a world view ilmu pengetahuan sebaliknya membangun a total framework of knowledge bases on the Qur’an and Sunna dan menghidupkan kembali Ijtihad.
7. Akses untuk ilmu pengetahuan seperti ini dapat diraih dengan beragam instrumen; wahyu, sufi, ilmu pengetahuan empris dan sensual.(Nasr, 1968; Nasr, 1976)
13
5/01/2023
2. “Islamic” Science school: Latar Belakang
14
5/01/2023
“Islamic” Science school: Latar Belakang
15
5/01/2023
IIP dari Komperensi I AMSS di Switzeland, IIIT al-Faruqi di USA dan Mengglobal
16
5/01/2023
2. “Islamic” Science school: Tugas IIP ?
Tugas Islamisasi Ilmu Pengetahuan: menuangkan kembali seluruh legacy ilmu pengetahuan manusia dari sudut pandang Islam; to redefine and reorder the data, to rethink the reasoning and relating of the data, to re-evaluate the conclusions, to re-project the goals, sehingga menjadikan ilmu pengetahuan seperti ini kaya misi dan tujuan yang Islami (al-Faruqi, 1982: 15)
17
5/01/2023
“Islamic” Science school: Apa IIP ?
18
5/01/2023
The Process of Islamization of Knowledge
19
5/01/2023
The Process of….
20
5/01/2023
The Process of…. Al-Attas
Al-Attas: Ada dua langkah proses IIP yaitu
21
5/01/2023
Kritik ke IIP
22
5/01/2023
Tawhid
Tawhid merupakan prinsip yang sangat mendasar dalam kehidupan umat Muslim, tidak terkecuali dalam kehidupan berilmu pengetahuan Dalam berilmu pengetahuan Tawhid diturunkan dalam empat bentuk yaitu.
Of these, only the first two are directly concerned with Islamic science.
Islamic philosophers of science operating from the tawhidic approach are divided into two schools of thought.
One branch of Islamic science championed by Nasr and his most prominent adherent, Osman Bakar, attaches great importance to the Unity of Truth and Knowledge.
Another movement in Islamic Science, gives greater emphasis to the Unity of Life.
23
5/01/2023
The Tawhidic doctrine of Unity of Truth and Knowledge
The school of Islamic thought which promotes the tawhidic doctrine of Unity of Truth and Knowledge dalam sains, mengidentifikasi ada dua jenis ilmu pengetahuan (ilm).
1. absolute and infallible knowledge as revealed by the Qur’ân ‘which belongs to God wherein there is total yaqin (certainty) and no question of zann (conjecture); 2. rational knowledge ‘that is validated by a process progressing from zann to yaqin’.
The basic tenet of Nasr’s approach is the belief that human intellect has a dual structure, one rational (aql-i juz’i) and the other intuitive (aql-i kulli) (Nasr 1972).
The limitation of the former is that it cannot go beyond external (zahir) analysis. On the other hand, the latter is a potential tool for looking into the internal (batin) meaning of cosmic reality. The empowerment of this primordial faculty is made possible by the illumination of the human intellect by the Divine Spirit.
Nasr sees the Qur’ân as an inspiration for gaining scientific truth. Truth can only be found through the realization of the true potential of the human mind. This is made possible by subsuming the rational faculty under the intuitive intellect (Nasr 1982):
Kerjasama aqal juz’I dan aqal kulli untuk mengungkap kebenaran sains dalam al-quran
24
5/01/2023
Unity of Truth and Knowledge
Islamic science based on the Unity of Truth and Knowledge is conceptually flawed (cacat). Science, as practised universally, is materialistic in its philosophical approach.
In contrast, Nasrism takes a dualistic philosophical stance. Scientists, in general, confine (mengikat) themselves to using a quantitative approach to study problems having the properties of physical matter or physical life.
On the other hand, Islamic scholars of science operating from the perspective of the Unity of Truth and Knowledge, go beyond the boundaries of science. Can spiritualism and materialism co-exist in a comfortable relationship?
25
5/01/2023
3. The “ethical science” approach
26
5/01/2023
Islamic values?
Sardar menawarkan solusi yaitu meredinisikan kembali bahwa sains demi kepentingan semua umat manusia berdasarkan prinsip-prinsip dan values Islam; tawhid, khilafah, ‘ilm, ‘adl dan maslaha.
Sardar: It is not Islam which needs to be made relevant to modern knowledge, it is modern knowledge which needs to be made relevant to Islam
27
5/01/2023
4. The “Universal Science” school
Abdus Salam dan Pervez Hoodbhoy: Sains itu sendiri adalah universal dan tidak ada problema “metaphisical” yang serius atau problema konseptual tetapi pada terapannya dipengaruhi oleh faktor budaya dan lingkungan sosial yang meniscayakan lahirnya problema.
Pervez dalam bukunya “Science and Islam”, mengajukan autonomy of science from control by Islamic religious authority
28
5/01/2023
The Scientific Autonomy Approach: Bukti sejarah�Pervez Hoodbhoy
29
5/01/2023
Abdus Salam
30
5/01/2023
Abdus Salam
31
5/01/2023
5. The Qur’anic Miracles approach: �Miraculous Scientific Content of the Qur’an
Pendekatan i‘jâz al-‘ilm (mukjizat ilmiah) Alquran telah berkembang pesat saat ini, khususnya wilayah Arab. Banyak buku ditulis dengan pendekatan ini, yang isinya untuk menunjukkan bahwa Alquran telah meramalkan, misalnya, penemuan telepon, telegram, radio, televisi, faximil, e-mail, laser, lubang hitam dan seterusnya. Beberapa kali juga dilakukan konferensi internasional untuk mengokohkan pendekatan i‘jâz (Guessoum 2011, 148).
Pendekatan ini sangat familiar di dunia Muslim dari tahun 1976 ketika Maurice Bucaille, seorang dokter gigi bangsa Perancis menerbitkan bukunya ” ‘The Bible, Qur’an, and Science’
Buku ini menguji secara sistematis pada dua kitab suci ; Bible dan al-Qur’an yang memuat informasi saintifik. Bucaille menyimpulkan bahwa kesalahan-kesalahan saintifik ditemukan di Bible, sebaliknya al-Quran nyaris tidak ditemukan sebuah preposisi pun di dalamnya yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan (sains) moderen saat ini
Buku ini diterima dengan sangat baik di hampir seluruh dunia Muslim sebagai bukti yang amat kuat bahwa al-Qur’an memiliki akar ketuhanan dan memuat pengetahuan (sains) yang datang secara langsung dari Tuhan (God)
32
5/01/2023
���5. The Qur’anic Miracles approach: Miraculous Scientific Content of the Qur’an (Nursi- Bucaille)
1. Dimulai dengan mencari kesesuaian antara hasil saintifik dan pernyataan-pernyataan al-Qura’an dan mengutip ayat-ayat yang terpisah-pisah itu dengan menandai maknanya yang sesuai dengan ide-ide saintifik atau ide-ide saintifik dijadikan sebagai premis dasar bahwa pengetahuan saintifik (baru) terus menerus lebih diarahkan untuk memperkuat pembenaran wahyu dari pada penyangkalannya
2. Menghadirkan bukti keluarbiasaan al-qur’an sebagai sumber yang agung (transendent) (Yunus D Telleil, 2009)
3. I‘jâz al-‘ilm adalah pemikiran yang menyatakan bahwa ayat-ayat Alquran jika dibaca dan ditafsirkan secara ilmiah akan secara eksplisit mengungkapkan sebagian kebenaran ilmiah, karena Alquran berisi segala jenis pengetahuan dari zaman kuno sampai modern (the Qur’an contains all knowledge of the ancients and the moderns). Gagasan ini salah satunya dijustifikasi oleh ayat “Tiada Kami alpakan sesuatu apapun di dalam al-Kitab” (Q.S. al-An‘âm [6]: 38) (Guessoum 2011, 147).
33
5/01/2023
“The Qur’anic Miracles approach” ?
34
5/01/2023
The Qur’anic Miracles approach:� Kritik The New Generation’s Reconciliast School
35
5/01/2023
�������Model I‘jâz al-‘Ilm: Rambu-Rambu ?�
al-Najjâr (l. 1933 M), tokoh pendekatan i‘jâz mematok 10 prinsip:
(3) Menghimpun berbagai ayat yang berkaitan dengan tema umum sebelum dilakukan penafsiran baru;
(4) Menghindari penafsiran yang berlebihan dan tidak “memperkosa ayat”
(5) Menjauhi isu- isu yang tidak terlihat (unseen), seperti persoalan gaib;
(6) Fokus pada sebuah tema secara khusus ketika menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan topik tertentu;
(7) Mempertahankan ketepatan dan kejujuran akademik ketika berhadapan dengan pernyataan Ilahi;
(8) Menggunakan fakta-fakta ilmiah yang telah mapan, bukan teori yang belum pasti atau sekedar dugaan, kecuali hal-hal yang terkait dengan proses penciptaan semesta dan kehidupan manusia, karena topik-topik tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan observasi, sehingga pengetahuan manusia dalam masalah ini hanya bersifat dugaan (zann); (al-Najjâr 2003, 20-22).
36
5/01/2023
Model I‘jâz al-‘Ilm: Rambu-Rambu ?�
9) Prinsip kerja i‘jâz al-‘ilm harus dibedakan dari tafsîr al-‘ilm. Dalam tafsîr al-‘ilm memungkinkan untuk menerima dan menggunakan teori atau fakta yang belum bisa dipastikan, sehingga jika terbukti salah, maka kesalahan dilimpahkan kepada penafsir. Sebaliknya, dalam i‘jâz al-‘ilm, penafsir harus menggunakan fakta ilmiah yang telah mapan. Dengan hanya menggunakan fakta ilmiah yang telah mapan, seseorang tidak akan jatuh pada klaim kemukjizatan Alquran atau sunah atas sesuatu pernyataan yang kelak ternyata terbukti salah;
(10) Menghormati upaya ulama sebelumnya dalam hal yang terkait (al-Najjâr 2003, 20-22).
37
5/01/2023
��Kritik Nidhal Guessoum Pada Model I‘jâz al-‘Ilm
Nidhal mengkritik 10 prinsip-prinsip kerja i‘jâz :
Pertama, prinsip-prinsip i‘jâz di atas sangat normatif, tidak fundamental. Prinsip yang ditawarkan tidak berbeda dengan aturan metodologis akademik yang berlaku di kampus pada umumnya.
Kedua, pedoman nomor delapan (8), terkait dengan penggunaan fakta-fakta yang sudah mapan. Apa dasar kita menilai bahwa sebuah gagasan tertentu telah menjadi fakta atau teori yang telah mapan? Apakah pendukung i‘jâz misalnya akan menganggap bahwa teori gravitasi Isaac Newton (1643-1727 M)adalah fakta alam yang sudah mapan? Padahal, Albert Einstein (1879-1955 M) yang punya teori gravitasi. Apakah teori Einstein juga mapan? Mana yang dipilih dan atas dasar apa? Ketiga, masih ke pedoman nomor delapan (8). Jika pemilihan atau penetapan kemapanan sebuah fakta atau teori dikaitkan dengan ayat Alquran, berarti al-Najjâr telah membiarkan atau bahkan mendorong para peneliti untuk menggunakan ayat Alquran guna mengunggulkan teori sains tertentu atas teori yang lain. Misalnya, mengunggulkan teori Einstein atas teori Newton. Tidakkah ini berarti sebuah kesalahan yang luar biasa besar
38
5/01/2023
Kritik Nidhal Guessoum Pada Model I‘jâz al-‘Ilm
Keempat, masih soal fakta ilmiah. Klaim kelompok i‘jâz bahwa seseorang dapat mengidentifikasi fakta ilmiah untuk kemudian membandingkannya dengan pernyataan yang jelas dalam Alquran menunjukkan kesalahpahaman yang nyata terhadap sifat sains. Dengan mengutip pendapat Jules Henri Poincare (1854-1912 M), Nidhal menyatakan bahwa “sains bukan hanya sekumpulan fakta seperti halnya sebuah rumah bukan sekedar sekumpulan batu bata”
Kelima, secara konten, kelompok i‘jâz berpijak pada prinsip yang tidak benar, yaitu (a) klaim bahwa penafsiran ayat Alquran bersifat tunggal dan pasti, sehingga dapat dibandingkan dengan hasil dan pernyataan ilmiah, (b) sains bersifat sederhana dan jelas, yang berisi fakta definitif yang mudah dibedakan dari teori.
Keenam, kenyataannya, prinsip-prinsip metodologis di atas jarang sekali digunakan dalam praktik analisisnya. Dengan merujuk pada banyak data dan makalah i‘jâz sendiri, Nidhal menunjukkan adanya ketidak-konsitensian antara pedoman metodologis dengan praktik analisis di lapangan.
Berdasarkan analisis dan kritiknya tersebut, Nidhal menilai bahwa pendekatan i‘jâz al-‘ilm mengandung cacat metodologis, sehingga juga tidak dapat digunakan untuk melakukan integrasi agama dan sains di masa depan (Guessoum 2011, 161).
39
5/01/2023
Integrasi Sains dan Islam : �Pendekatan Kuantum Nidhal Guessoum
Pendekatan kuantum yang ditawarkan Nidhal Guessoum untuk integrasi agama dan sains adalah pola gerakan bolak-balik yang didasarkan atas tiga prinsip, yaitu
40
5/01/2023
��Prinsip Tidak Bertentangan
Pertama: pendekatan kuantum adalah prinsip bahwa agama, filsafat, dan sains modern tidak akan pernah bisa bertentangan satu sama lainnya karena ketiganya adalah “saudara sepersusuan” (bosom sisters)
(Guessoum 2011, 61).
Prinsip ini didasarkan atas pandangan Ibn Rushd
(1126-1198 M) bahwa ajaran agama, filsafat, dan sains adalah selaras, tidak bertentangan. Ajaran keselarasan Ibn Rushd ini terjadi pada aspek sumber, tujuan, metode, dan konten.
41
5/01/2023
Prinsip Tidak …
Kedua, aspek tujuan. Meski bahasa yang digunakan berbeda, wilayah kajian bisa tidak sama, tetapi tujuan yang ingin dicapai adalah satu, yaitu bahwa masing-masing ingin mencapai kebenaran puncak, kebenaran Allah SWT Wahyu, Akal, Alam tertinggi. Dalam agama, tujuan akhir adalah mengabdi Yang Maha Agung, Allah SWT; tujuan akhir dalam fisafat adalah memahami Realitas Sejati,
Allah SWT; tujuan akhir dalam sains adalah menemukan kekuatan agung yang menciptakan dan memelihara alam semesta, Allah SWT.
Ketiga, aspek metode. Menurut al-Farabî (870-950 M), metode filsafat tidak sama dengan metode ilmu agama. Filsafat menggunakan metode demonstratif (burhânî) sedang ilmu agama menggunakan metode dialektis (jadâlî); metode demonstratif dinilai lebih valid dari dialektis,
sehingga ilmu filosofis yang dihasilkannya dinilai lebih unggul dibanding ilmu agama yang dihasilkan dari dialektis (Soleh 2010, 111-115).
42
5/01/2023
2. Prinsip Penafsiran Berlapis
Maksudnya, penafsiran terhadap ayat-ayat Alquran harus dilakukan secara berlapis, berjenjang, sesuai dengan tingkat penalaran seseorang, sehingga tidak ada penafsiran tunggal. Alasan
Pertama, secara historis, seperti ditulis Sachiko Murata (l. 1943 M) dan William Chittick (l. 1943 M), munculnya keragaman pemahaman atas ayat-ayat Alquran inilah justru yang telah menjadi sumber kekayaan intelektual dalam sejarah keemasan Islam (Guessoum 2011, 50).Masa keemasan Islam terjadi justru karena adanya keragaman penafsiran dan pemahaman yang diberikan oleh para akademisi muslim saat itu.
43
5/01/2023
Prinsip Penafsiran …
Kedua, adanya kekayaan kosa kata Alquran. Mengikuti pendapat Fahd ‘Abd al-Rah}mân al-Rûmî, guru besar tafsir di Riyadh, Alquran mempunyai kekayaan kosa kata yang luar biasa. Keragamaan maknanya bisa mencapai lima kali dari bahasa Arab biasa.
Alquran juga mempunyai kekhasan dalam nada dan irama yang efektif untuk orang awam dan elit, juga cocok untuk semua usia dan zaman; mempunyai keseimbangan dalam menyentuh hati dan pikiran dengan menggunakan gaya sastra dan ilmiah;
Mempunyai tingkat keringkasan dalam ekspresi tetapi sarat arti; mempunyai keluasan dalam penggunaan imajinasi dan metafora (Guessoum 2011, 48).
44
5/01/2023
Prinsip Penafsiran…..
Ketiga, pernyataan Alquran sendiri yang menunjukkan adanya ragam pemahaman dan pemaknaan atas sebuah teks, dan perlunya melakukan itu demi memberikan pemahaman kepada masyarakat yang berbeda (Q.S. Âli ‘Imrân [3]: 7). M Asad (1900-1992 M), mufassir modern penulis tafsir The Massege of the Qur’an, menyatakan bahwa ayat 7 dari surah Âli ‘Imrân tersebut menunjukkan adanya banyak bagian dan ekspresi dalam Alquran yang tidak dapat dipahami secara tekstual melainkan harus dalam arti alegoris, agar dapat dipahami lapisan masyarakat yang berbeda (Asad n.d.)
.
Keempat, mengikuti pendapat Sachiko Murata (l. 1943 M) dan William Chittick (l. 1943 M) yang mengutip sabda Rasul bahwa setiap ayat Alquran mengandung tujuh arti, mulai makna tekstual sampai makna ketujuh, makna terdalam yang hanya diketahui Allah sendiri. Pendapat ini dikuatkan oleh Muh}ammad T{âlbî (1921-2017 M), sejarawan Muslim asal Tunisia, bahwa ada banyak kunci untuk membaca Alquran, tidak hanya satu kunci. Kunci-kunci tersebut pada waktu yang sama bisa jadi objektif dan bisa jadi subjektif (Guessoum 2011, 50).
Kelima, mengikuti pendapat Ibn Rushd (1126-1198 M) tentang tingkat nalar manusia. yaitu : awam, menengah, dan elit. Awam yang merupakan mayoritas adalah kelompok yang hanya mampu berpikir tekstualis-retoris dan sama sekali tidak mampu berpikir rasional atau takwil. Menengah adalah kalangan yang telah menggunakan nalar rasional tetapi belum mampu tingkat kritis filosofis. Penalaran mereka menggunakan metode dialektis. Elit adalah kalangan yang mampu berpikir kritis filosofis, tidak sekedar rasional dialektis.
45
5/01/2023
Prinsip Penafsiran…..
Menurut Nidhal, penafsiran terhadap teks suci harus dilakukan secara berjenjang atau berlapis sesuai dengan tingkat nalar sang pembaca.
Penafsiran secara berlapis adalah keniscayaan karena tingkat nalar manusia memang berbeda, tidak bisa dipaksakan dengan penafsiran tunggal atau hanya dalam satu perspektif.
Dengan penafsiran secara berlapis, maka upaya untuk mempertemukan antara agama dan sains modern sangat terbuka (Guessoum 2011,62).
46
5/01/2023
3. Falsifikatif Teistik
Prinsip ini terkait dengan metodologis dan pilihan metafisis yang diikuti. Aspek ini memberi aturan main bagaimana sains harus bekerja. Secara sederhana, metode ilmiah yang dianut dalam sains dapat diartikan sebagai serangkaian tindakan yang terdiri atas beberapa tahapan:
1) Pengamatan terhadap fenomena dan merekam sebanyak mungkin data atau informasi terkait fenomena tersebut.
2) Membuat hipotesis berdasarkan pengetahuan yang ada sebelumnya terkait dengan fenomena tersebut.
3) Menguji hipotesis dibuat yang mengarah ke konsekuensi khusus atau prediksi tertentu, kemudian memeriksa dan mengujinya apakah hipotesisnya benar dan apakah prediksi yang dibuatnya terbukti.
4) Memperbaiki atau menyempurnakan hipotesis atau prediksi yang telah dibuat dan terbukti benar atau membuang hipotesis lama dan menggantinya dengan hipotesis baru jika tidak sesuai dengan hasil eksperimen dan observasi (Guessoum 2011, 72).
Secara historis, metode ilmiah sebagai suatu cara kerja sains yang digariskan di atas telah dilakukan sejak masa kejayaan Islam abad pertengahan. Para saintis muslim seperti Ibn al-Haytham (965-1040 M), al-Bîrûnî (973-1048 M), Ibn Sînâ (980-1037 M) kenyataannya sangat menekankan eksperimentasi dan observasi dalam cara kerja dan pengembangan sains mereka.
47
5/01/2023
Falsifikatif Teistik
Selain metode ilmiah yang harus bersifat falsifikatif, sains juga terkait dengan aspek metafisis atau worldview. Aspek ini menjadi prinsip dasar sebuah sains dibangun. Mengutip Kitty Ferguson (l.1941 M), Nidhal menyatakan bahwa pada abad 17 M ada prinsip-prinsip metafisika yang disepakati kaum ilmuwan:
(1) Alam semesta adalah rasional, mencerminkan kecerdasan Penciptanya; (2) Alam semesta dapat dipahami manusia; (3) Alam semesta mempunyai kontigensi, maksudnya bahwa benda-benda yang kita temukan bisa jadi berbeda dengan yang kita bayangkan, sehingga pengetahuan atasnya didapat dengan melakukan eksperimen dan observasi; (4) Ada sesuatu yang merupakan Realitas Objektif, yang itu berarti ada kebenaran di balik yang tampak yang dapat diobservasi secara inderawi; (5) Ada kesatuan di alam semesta, yang menjadi dasar segala sesuatu, yaitu satu Tuhan, satu jalinan dan satu sistem logika (Guessoum 2011, 91).
Penjelasan Kitty tersebut menunjukkan bahwa pada abad 17 M, prinsip-prinsip metafisika teistik masih ada, berjalan dan diakui oleh para saintis Barat. Kepercayaan kepada Tuhan, keinginan untuk melihat kebesaran-Nya dalam semesta, dan perintah kitab suci agar manusia menjelajahi jagat raya memberi peran penting dalam pengembangan sains di Barat. Pernyataan ini juga bisa dilihat, antara lain, dari salah satu surat Johannes Kepler (1571-1630 M) kepada Galileo Galilei (1564-1642 M) yang menyatakan, “dari perbendaraan Yahuwe Sang Pencipta yang belum terungkap, Dia ungkap satu persatu kepada kita” (Alexander 2001, 83).
48
5/01/2023
Falsifikatif Teistik
Dengan mengutip Alfred North Whitehead (1861-1947 M), terkait dengan tampilnya sains teistik abad 17, Guessoum mengatakan bahwa keimanan terhadap Tuhan dalam pandangan sains adalah mendahului teori ilmiah modern dan merupakan turunan dari ajaran teologi abad tengah (Islam), malangnya konsep ini telah bergeser bahkan hilang dari konsep sains modern.
Semua referensi mengenai Tuhan atau Sang Maha Pencipta dihapuskan dari worldview sains modern, sehingga sains modern kemudian berubah menjadi sains yang materialistik (any reference to God or a Creator is deleted... (Guessoum2011, 92).
49
5/01/2023
Falsifikatif Teistik
Agama dan sains moder bertemu bagi Nidhal atas dasar worldview teistik. dengan alasan
Pertama, teisme bukan sekedar kepercayaan kepada Tuhan sebagai pencipta semesta, tetapi juga penopangnya, Lebih dari itu, teisme juga meyakini Tuhan senantiasa berinteraksi dengan semesta. Ini berbeda dengan paham deisme, Tuhan hanya sebagai pencipta tetapi tidak sebagai pemelihara. Tugas Tuhan selesai begitu alam semesta sudah tercipta.
Kedua, keyakinan teistik merupakan model yang tampak lebih sesuai dengan sifat dunia yang kita amati. Sedemikian, sehingga problem dunia yang kompleks dan jalinan relasi yang rumit yang membingungkan Albert Einstain (1879-1955 M) misalnya, juga keindahan semesta yang telah menuntun para fisikawan modern, seperti Paul Dirac (1902-1984 M), Erwin Schrodinger (1887-1961 M), dan Alvin Martin Wainberg (1915-2006 M) untuk mempercayai kebenaran Sang Maha Kuasa akan lebih cocok jika dibingkai dalam pandangan teistik.
Ketiga, keyakinan teistik akan mendorong seseorang untuk terus menggali data dan informasi yang tidak sekedar dari realitas empirik, sehingga mereka menjadi lebih kaya dan mampu memberikan deskripsi lebih lengkap tentang semesta. Kenyataannya, banyak realitas lain di dunia yang tidak bisa kita pahami dan tidak bisa kita akses, sehingga kita harus mengadopsi pandangan dunia (worldview) yang lebih luas dibanding pandangan dunia yang diyakini kaum sekuler.
Keempat, keyakinan teistik akan lebih memberikan kepuasan material, spiritual, dan moral
Kelima, dari perspektif kesadaran dan pengalaman keagamaan, keyakinan teistik lebih sesuai dibanding yang lain, seperti materialistik, deistik apalagi ateistik (Guessoum 2011, 97). Walhasil, pada prinsip teistik ini, secara metodologis pengembangan sains modern harus didasarkan atas metode ilmiah yang ketat, yaitu falsifikasi, tetapi pada aspek metafisikanya didasarkan atas worldview teistik, sehingga gabungan keduanya menjadi falsifikatif-teistik.
50
5/01/2023
7. Integrasi-Interkoneksi Jaringan Laba-Laba M. Amin Abdullah
51
5/01/2023
7. Integrasi-Interkoneksi…
Jaringan Laba-laba Keilmuan: Integrasi-Interkoneksi Islam dan Sains
52
5/01/2023
Pemahaman yang diambil diantaranya
Piranti Pendekatan Berfikir Integrasi-Interkoneksi ?
53
5/01/2023
Hadharat an-nas (Budaya Teks: Q,H dan T)
Hadharat al-’Ilm (Budaya temuan ilmu pengetahuan)
Hadharat al-Falasafah (Budaya berfikir reflektif-etis, transformatif-emansipatoris)
Sekian, semoga bermanfaat�Pekanbaru, 5 Januari 2023
54
5/01/2023