Yan Parhas
PEMBERDAYAAN ATAU KEBERDAYAAN?
Imajinasi tentang masa depan yang ditawarkan dari luar
VS
Tatapan atas masa lalu dan masa kini yang membentuk imajinasi tentang masa depan diri sendiri
Dalam membicarakan pemberdayaan vs keberdayaan akan bersentuhan dengan ketegangan-ketegangan politis tertentu dalam dimensi waktu masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang, yang setidaknya menyangkut:
Ketegangan yang sering dijumpai
Pemberdayaan itu seperti mengajak anak-anak mewarnai gambar sektsa tertentu yang sudah ada dengan menggunakan pensil warna yang sudah disediakan pula.
Subyek diajak untuk “mewarnai gambar tertentu” tentang masa depan yg sudah ditentukan, agar mendekati realitas dalam versi yang dibayangkan oleh inisiator program pemberdayaan.
Inisiator pemberdayaan memiliki potensi besar untuk melakukan penundukkan atas versi realitas yang sebelumnya sudah ada pada diri subyek.
Ketika penundukan terjadi, posisi subyek bergeser menjadi obyek, sehingga imajinasi subyek atas masa depan versi diri mereka sendiri menjadi tertutup, dan versi liyan mendominasi.
Dalam praktik-praktik pemberdayaan masyarakat sering dijumpai versi masa depan sebuah masyarakat sudah digambar oleh berbagai entitas dari kalangan pemerintah, korporasi, CSO, donor, akademi, partai politik maupun entitas agama.
Pemberdayaan
Keberdayaan dimulai dengan membebaskan imajinasi atas masa depan yang dibayangkan versi subyek itu sendiri.
Sementara itu, imajinasi masa depan yang dibayangkan oleh subyek dibentuk oleh pengalaman yang didapat dan dirasakannya secara langsung maupun dari pengetahuan yang didapat dari luar dirinya (liyan).
Dalam proses menuju keberdayaan, subyek akan mengalami clash of knowledge yang meletakkan subyek dalam persimpangan antara melindungi tatanan sosial yang telah ada atau mewujudkan imajinasi subyek yang potensial terealisasi dalam tatanan sosial tersebut.
Keberdayaan pada umumnya terjadi secara dialektis antara melindungi tatanan sosial yang telah ada dan melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan agar imajinasi subyek dapat terwujud.
Ketika yang menjadi subyek adalah sebuah kelompok masyarakat, tantangannya adalah bagaimana membangun konsolidasi sosial ketika clash of knowledge di tingkat antar individu sudah terlanjur acak adul dengan rezim kebenaran masing-masing.
Keberdayaan
Jika kami sudah memiliki imajinasi tentang masa depan kami sendiri, mengapa kami harus menerima imajinasi yang dibuat orang lain tentang masa depan kami?
Kekuatan imajinasi subyek atas masa depan mereka sendiri menjadi penting dalam keberdayaan.
Penciptaan kultur baru oleh subyek tidak hanya dimungkinkan, tapi itu juga akan membuat kehidupan yang berkelanjutan terutama menghadapi tantangan dunia kini dan nanti.
Peluang dekolonisasi
Tantangan
Perkara kolonial dan warisan-warisannya itu perkara yang sistemik sehingga memerlukan pendekatan yang komprehensif untuk memahami dan mengurainya.
Terimakasih :)