1 of 23

Muhammad Aliyuddin S. Ag.,M.H.

Administrasi Peradilan

ADMINISTRASI DAN PERSIDANGAN PERKARA JINAYAT

2 of 23

ADMINISTRASI DAN �PERSIDANGAN PERKARA JINAYAT

  1. Administrasi Perkara Jinayat

  • Administrasi Persidangan Perkara Jinayat

3 of 23

  1. Administrasi Perkara Jinayat
  1. Mahkamah Syar'iyah

  • Mahkamah Syar'iyah Aceh

4 of 23

1. a Mahkamah Syar'iyah

  1. Penerimaan Perkara Tingkat Pertama.
  2. Permohonan Banding
  3. Permohonan Kasasi
  4. Permohonan Peninjauan Kembali
  5. Permohonan Grasi
  6. Pemberkasan Perkara Upaya Hukum
  7. Buku Register Perkara Jinayat
  8. Laporan Perkara Jinayat
  9. Pengarsipan Berkas Perkara Jinayat

5 of 23

Penerimaan Perkara Tingkat Pertama

  1. Petugas Pendaftaran (Meja I)
  2. Penerimaan Secara Manual
  3. Penerimaan secara e-Court

  1. Petugas Register (Meja II)

6 of 23

  1. Penerimaan Secara Manual
  1. Menerima pelimpahan berkas perkara dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) disertai dengan Surat Permohonan pemeriksaan perkara dari Kepala Kejaksaan Negeri dilengkapi dengan surat dakwaan dan hasil pemeriksaan kepolisian (penyidik), kemudian mendaftarnya ke dalam register perkara jinayat dan dicatat ke dalam SIPP.
  2. Terhadap perkara yang Terdakwanya ditahan, petugas segera melaporkan kepada Ketua Mahkamah Syar'iyah, petugas segera membuat penetapan penahanan yang ditandatangani oleh Hakim yang ditunjuk oleh Ketua Mahkamah Syar'iyah dan menyampaikannya kepada Kejaksaan Negeri, Lembaga Pemasyarakatan dimana Terdakwa ditahan, Terdakwa dan Keluarga Terdakwa.
  3. Berkas perkara dimaksud dalam poin a meliputi pula barang bukti yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum, baik yang sudah dilampirkan dalam berkas perkara maupun yang kemudian diajukan di persidangan. Barang-barang bukti tersebut didaftarkan dalam register barang bukti dan dicatat dalam SIPP.
  4. Bagian penerimaan perkara memeriksa kelengkapan berkas. Kelengkapan dan kekurangan berkas dimaksud diberitahukan kepada Panitera Muda Jinayat.
  5. Dalam hal berkas perkara dimaksud belum lengkap, Panitera Muda Jinayat meminta kepada Kejaksaan untuk melengkapi berkas dimaksud sebelum diregister.
  6. Pendaftaran perkara jinayat dalam register induk dilaksanakan dengan mencatat nomor perkara sesuai dengan urutan dalam buku register tersebut.
  7. Petugas buku register harus mencatat dengan cermat, semua kegiatan yang berkenaan dengan perkara dan pelaksanaan putusan ke dalam register induk jinayat.
  8. Pelaksanaan tugas administrasi (Meja I) merupakan tanggung jawab Panitera Muda Jinayat, di bawah koordinasi Panitera.

7 of 23

  1. Penerimaan secara e-Court
  1. Jaksa Penuntut Umum (JPU) melimpahkan berkas perkara melalui Pos Elektronik (pos-el), kemudian petugas Mahkamah
  2. Dalam setiap pelimpahan perkara, Jaksa Penuntut Umum
  3. Terdakwalkesatuan Terdakwa dan/atau Penasihat Hukum. (c) Barang bukti tetap berada di Kantor Jaksa Penuntut Umum (JPU).
  4. Kepaniteraan Mahkamah Syar'iyah yang menerima pelimpahan berkas perkara melalui Pos Elektronik (pos-el) harus memeriksa kelengkapan berkas perkara sebelum mencetak dokumen yang dikirim secara elektronik.
  5. Jika terdakwa ditahan, petugas melalui Panitera Muda Jinayat melaporkan ke Ketua Mahkamah Syar'iyah dan Ketua Mahkamah Syar'iyah menunjuk Hakim untuk melakukan penahanan terhadap terdakwa.
  6. Kepaniteraan Mahkamah Syar'iyah mencetak semua dokumen dan melakukan penomoran serta pemberkasan sesuai dengan ketentuan Hukum Acara.
  7. Ketua Mahkamah Syar'iyah menetapkan Hakim/Majelis Hakim untuk melakukan pemeriksaan perkara dan Hakim/Majelis Hakim menetapkan hari sidang yang memuat hari, tanggal, jam, dan tempat pelaksanaan sidang elektronik dan disampaikan oleh Panitera Muda Jinayat kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) secara elektronik.
  8. Dalam hal Terdakwa berada dalam tahanan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyampaikan panggilan sidang kepada Terdakwa melalui domisili elektronik.
  9. Dalam hal Terdakwa tidak ditahan, panggilan sidang disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) kepada Terdakwa melalui domisili elektronik.
  10. Dalam hal Terdakwa tidak memiliki domisili elektronik, panggilan disampaikan melalui surat tercatat ke alamat tempat tinggal Terdakwa dengan tembusan kepada Kepala Desa/Lurah tempat domisili/tempat tinggal Terdakwa.
  11. Panggilan sidang sebagaimana dimaksud dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum hari sidang.

8 of 23

  1. Petugas Register (Meja II)
  1. Menerima pernyataan banding, kasasi, peninjauan kembali, grasi dan menginput ke dalam aplikasi SIPP.
  2. Mencatat Nomor perkara sesuai dengan urutan dalam buku register induk dan menginput ke dalam aplikasi SIPP.
  3. Mencatat semua kegiatan yang berkenaan dengan penyelesaian perkara dan pelaksanaan putusan ke dalam register induk yang bersangkutan dan SIPP.
  4. Menerima dan memberikan tanda terima atas:
  5. Memori banding.
  6. Kontra memori banding.
  7. Memori kasasi.
  8. Kontra memori kasasi.
  9. Alasan peninjauan kembali.
  10. Jawaban/tanggapan peninjauan kembali.
  11. Permohonan grasi.
  12. Penangguhan pelaksanaan putusan.
  13. Pelaksanaan tugas administrasi (Meja II) di bawah tanggung jawab Panitera Muda Jinayat yang dikoordinir oleh Panitera.

9 of 23

  1. Permohonan Banding
  1. Apabila putusan Mahkamah Syar'iyah dinyatakan banding dan terdakwanya dalam tahanan, maka Ketua Mahkamah Syar'iyah pada hari pernyataan banding itu juga mengirim surat pemberitahuan banding kepada Ketua Mahkamah Syar'iyah Aceh melalui email, yang lengkap dengan data-data sebagai berikut:
  2. Nomor dan tanggal putusan yang dibanding;
  3. Pembanding, dilengkapi dengan identitas lengkap Terdakwa dan/atau Jaksa Penuntut Umum (JPU);
  4. Amar putusan;
  5. Terdakwa ditahan di Lembaga Pemasyarakatan apa dan kapan berakhir masa tahanan;
  6. Perintah penetapan penahanan disebut secara lengkap sejak dari penyidik sampai kepada penahanan Hakim Mahkamah Syar'iyah dan perpanjangan penahanan dengan mencantumkan nomor, tanggal dan sejak dimulai penahanan sampai berakhir penahanan;
  7. Panitera membuat:
  8. Akta permohonan pikir-pikir bagi terdakwa.
  9. Akta permintaan banding.
  10. Akta terlambat mengajukan permintaan banding
  11. Akta pencabutan banding.
  12. Permintaan banding yang diajukan dicatat dalam register induk perkara jinayat dan register banding oleh petugas register dan dicatat di dalam SIPP.
  13. Permintaan banding diajukan paling lama dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender sesudah putusan dijatuhkan, atau 7 (tujuh) hari kalender setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir dalam pengucapan putusan, kecuali perkara yang uqubatnya 12 (dua belas) bulan penjara atau yang setara dengan itu, pernyataan banding harus dinyatakan langsung setelah putusan dibacakan.
  14. Waktu penyerahan memori banding paling lama 7 (tujuh) hari kalender setelah dinyatakan banding, sedangkan yang uqubatnya paling lama 12 (dua belas) bulan, penyerahan memori banding paling lama 3 (tiga) hari kalender setelah dinyatakan banding.
  15. Permintaan banding yang diajukan melampaui tenggang waktu tersebut di atas tetap dapat diterima dan dicatat dengan membuat Surat Keterangan Panitera bahwa permintaan banding telah lewat tenggang waktu dan harus dilampirkan dalam berkas perkara.
  16. Dalam hal Pemohon tidak datang menghadap, hal ini harus dicatat oleh Panitera dengan disertai alasannya dan catatan tersebut harus dilampirkan dalam berkas perkara.
  17. Panitera wajib memberitahukan permintaan banding dari pihak yang satu kepada pihak yang lain.
  18. Tanggal penerimaan memori dan kontra memori banding dicatat dalam register dan salinan memori serta kontra memori disampaikan kepada pihak yang lain, dengan relaas pemberitahuan.
  19. Selama 7 (tujuh) hari kalender sebelum pengiriman berkas perkara kepada Mahkamah Syar'iyah Aceh, Pemohon wajib diberi kesempatan kepada kedua belah pihak untuk mempelajari/memeriksa berkas perkara (inzage) tersebut di Mahkamah Syar'iyah.
  20. Jika kesempatan mempelajari berkas diminta oleh Pemohon dilakukan di Mahkamah Syar'iyah Aceh maka Pemohon harus mengajukan secara tegas dan tertulis kepada Ketua Mahkamah Syar'iyah pengaju dan waktu mempelajari berkas di Mahkamah Syar'iyah Aceh paling lama 7 (tujuh) hari kalender terhitung sejak tanggal berkas perkara diterima di Mahkamah Syar'iyah Aceh.
  21. Berkas perkara banding berupa bundel A dan bundel B dalam waktu paling lama 25 (dua puluh lima) hari kalender sejak permintaan banding diajukan, harus sudah dikirim ke Mahkamah Syar'iyah Aceh.
  22. Selama perkara banding belum diputus oleh Mahkamah Syar'iyah Aceh, permohonan banding dapat dicabut sewaktu-waktu, Panitera membuat Akta Pencabutan Banding yang ditandatangani oleh Panitera, pihak yang mencabut dan diketahui oleh Ketua Mahkamah Syar'iyah. Akta tersebut dikirim ke Mahkamah Syar'iyah Aceh.
  23. Salinan putusan Mahkamah Syar'iyah Aceh yang telah diterima oleh Mahkamah Syar'iyah, harus diberitahukan kepada Terdakwa dan Penuntut Umum dengan membuat Akta Pemberitahuan Putusan.
  24. Petugas register harus mencatat semua kegiatan yang berkenaan dengan perkara banding dan pelaksanaan putusan ke dalam buku register banding.
  25. Pelaksanaan tugas pada Meja II jinayat merupakan tanggung jawab Panitera Muda Jinayat dan di bawah koordinasi Panitera

10 of 23

  1. Permohonan Kasasi
  1. Apabila Putusan Mahkamah Syar'iyah Aceh dinyatakan kasasi dan terdakwanya dalam tahanan, maka Ketua Mahkamah Syar'iyah pengaju pada hari pernyataan kasasi itu juga mengirim Surat Pemberitahuan Kasasi kepada Ketua Kamar Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia yang berisi data lengkap, sebagai berikut:
  2. Nomor dan tanggal putusan yang dikasasi;
  3. Pemohon Kasasi, dilengkapi dengan identitas lengkap Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum;
  4. Amar Putusan Mahkamah Syar'iyah pengaju dan amar Putusan Mahkamah Syar'iyah Aceh;
  5. Terdakwa ditahan di Lembaga Pemasyarakaat apa dan kapan berakhir masa tahanan;
  6. Perintah penetapan penahanan disebut secara lengkap sejak dari penyidik sampai kepada penahanan Hakim Mahkamah Syar'iyah Aceh dan perpanjangan penahanan dengan mencantumkan nomor, tanggal dan sejak dimulai penahanan sampai berakhir penahanan;
  7. Permohonan kasasi diajukan oleh Perno hon kepada Panitera selambat• lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender sesudah putusan Mahkamah Syar'iyah Aceh diberitahukan kepada Terdakwa/Penuntut Umum dan selanjutnya dibuatkan Akta Permohonan Kasasi oleh Panitera.
  8. Permohonan kasasi yang melewati tenggang waktu tersebut, tidak dapat diterima, selanjutnya Panitera membuat Akta Terlambat Mengajukan Permohonan Kasasi yang diketahui oleh Ketua Mahkamah Syar'iyah.
  9. Dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari kalender setelah permohonan kasasi diajukan, Pemohon Kasasi harus sudah menyerahkan memori kasasi dan tambahan memori kasasi (jika ada). Untuk itu petugas membuat Akta tanda terima memori/tambahan memori.
  10. Dalam hal Terdakwa selaku Pemohon Kasasi yang kurang memahami hukum, Panitera pada waktu menerima permohonan kasasi wajib menanyakan dan mencatat alasan ia mengajukan permohonan tersebut dan untuk itu Panitera membuatkan Memori Kasasinya.
  11. Panitera memberitahukan dan menyerahkan tembusan Memori Kasasi/tambahan Memori Kasasi kepada pihak lain, untuk itu panitera membuat tanda terima.
  12. Termohon Kasasi dapat mengajukan Kontra Memori Kasasi, untuk itu Panitera membuat dan memberikan Surat Tanda Terima Kontra Memori Kasasi.
  13. Dalam hal Pemohon Kasasi tidak menyerahkan memori kasasi dan atau terlambat menyerahkan Memori Kasasi, untuk itu Panitera membuat Akta.
  14. Apabila Pemohon Kasasi tidak menyerahkan Memori Kasasi dan atau terlambat menyerahkan Memori Kasasi, berkas perkara tidak dikirim ke Mahkamah Agung untuk itu Ketua Mahkamah Syar'iyah mengeluarkan Surat Keterangan yang disampaikan kepada Pemohon Kasasi dan Mahkamah Agung (SEMA Nomor 7 Tahun 2005).
  15. Terhadap perkara Jinayat yang diancam dengan uqubat penjara paling lama 12 (dua belas) bulan atau uqubat lain yang setara dengan itu, tidak dapat diajukan kasasi sesuai Pasal 236 ayat (2) Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat (QHAJ).
  16. Permohonan kasasi yang telah memenuhi syarat formal selambat• lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender setelah tenggang waktu mengajukan memori kasasi berakhir, berkas perkara kasasi berupa berkas A dan B harus sudah dikirim ke Mahkamah Agung.
  17. Selama perkara kasasi belum diputus oleh Mahkamah Agung, permohonan kasasi dapat dicabut oleh Pemohon Kasasi. Dalam hal pencabutan dilakukan oleh kuasa hukum Terdakwa, harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Terdakwa.
  18. Atas pencabutan tersebut, Panitera membuat Akta Pencabutan Kasasi yang ditandatangani oleh Panitera, pihak yang mencabut dan diketahui oleh Ketua Mahkamah Syar'iyah selanjutnya Akta tersebut dikirim ke Mahkamah Agung.
  19. Untuk perkara kasasi yang Terdakwanya ditahan, Panitera Mahkamah Syar'iyah wajib melampirkan penetapan penahanan dimaksud dalam berkas perkara.
  20. Dalam hal perkara telah diputus oleh Mahkamah Agung, salinan putusan dikirim kepada Mahkamah Syar'iyah untuk diberitahukan
  21. Fotocopy relaas pemberitahuan putusan kasasi, segera dikirim ke Mahkamah Agung RI.
  22. Petugas buku register harus mencatat dengan cermat dalam register terkait semua kegiatan yang berkenaan dengan perkara kasasi dan pelaksanaan putusan.

11 of 23

  1. Permohonan Peninjauan Kembali
  1. Terhadap putusan jinayat yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap yang merupakan putusan pemidanaan, Terpidana atau ahli warisnya dapat mengajukan permohonan peninjauan kembali, dan dapat dikuasakan kepada penasihat hukumnya.
  2. Permohonan peninjauan kembali diajukan kepada Panitera Mahkamah Syar'iyah yang telah memutus perkaranya dalam tingkat pertama dengan menyebutkan secara jelas alasannya.
  3. Permohonan peninjauan kembali tidak dibatasi jangka waktu.
  4. Petugas menerima berkas perkara jinayat permohonan peninjauan kembali, lengkap dengan surat-surat yang berhubungan dengan perkara tersebut, dan memberikan tanda terima.
  5. Permohonan peninjauan kembali dari Terpidana atau ahli warisnya atau penasihat hukumnya beserta alasan-alasannya, diterima oleh Panitera dan ditulis dalam suatu surat keterangan yang ditandatangani oleh Panitera dan Pemohon.
  6. Dalam hal Terpidana selaku Pemohon Peninjauan Kembali kurang memahami hukum, Panitera wajib menanyakan dan mencatat alasan• alasan secara jelas dengan membuatkan Surat Permohonan Peninjauan Kembali.
  7. Dalam hal Mahkamah Syar'iyah menerima permohonan peninjauan kembali, wajib memberitahukan permintaan permohonan peninjauan kembali tersebut kepada Jaksa.
  8. Dalam tenggang waktu 14 (empat belas) hari kalender setelah permohonan peninjauan kembali diterima Mahkamah Syar'iyah, Ketua Mahkamah Syar'iyah menunjuk Majelis Hakim yang tidak memeriksa perkara semula, untuk memeriksa dan memberikan pendapat apakah alasan permohonan peninjauan kembali telah sesuai dengan ketentuan undang-undang.
  9. Dalam pemeriksaan peninjauan kembali Terpidana atau ahli warisnya dapat didampingi oleh penasehat hukum dan jaksa yang dalam hal ini bukan dalam kapasitasnya sebagai Penuntut Umum ikut hadir dan dapat menyampaikan pendapatnya.
  10. Dalam hal permohonan peninjauan kembali diajukan oleh Terpidana yang sedang menjalani pidananya, Hakim menerbitkan penetapan yang memerintahkan kepada Kepala Lembaga Pemasyarakatan dimana Terpidana menjalani pidana untuk menghadirkan Terpidana ke persidangan Mahkamah Syar'iyah.
  11. Panitera wajib membuat berita acara pemeriksaan peninjauan kembali yang ditanda tangani oleh Hakim, Jaksa, Pemohon dan Panitera, berdasarkan berita acara pemeriksaan tersebut dibuat berita acara pendapat yang ditanda tangani oleh Majelis Hakim dan Panitera.
  12. Permohonan peninjauan kembali tidak menangguhkan maupun menghentikan pelaksanaan putusan.
  13. Permohonan peninjauan kembali yang Terpidananya berada di luar wilayah Mahkamah Syar'iyah yang telah memutus dalam tingkat pertama:
  14. Diajukan kepada Mahkamah Syar'iyah yang memutus dalam tingkat pertama.
  15. Hakim dari Mahkamah Syar'iyah yang memutus dalam tingkat pertama dengan penetapan dapat meminta bantuan pemeriksaan kepada Mahkamah Syar'iyah tempat permohonan peninjauan kembali berada.
  16. Berita Acara Pemeriksaan dikirim ke Mahkamah Syar'iyah yang meminta bantuan pemeriksaan.
  17. Berita Acara Pendapat dibuat oleh Mahkamah Syar'iyah yang telah memutus pada tingkat pertama.
  18. Dalam pemeriksaan persidangan dapat diajukan surat-surat dan saksi• saksi yang sebelumnya tidak pernah diajukan pada persidangan Mahkamah Syar'iyah di tingkat pertama.
  19. Dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kalender, setelah pemeriksaan persidangan selesai Panitera harus segera mengirimkan tembusan surat pengantarnya disampaikan kepada Pemohon dan Jaksa.
  20. Dalam hal suatu perkara yang dimintakan peninjauan kembali adalah putusan Mahkamah Syar'iyah Aceh, maka tembusan surat pengantar tersebut harus dilampirkan tembusan berita acara pemeriksaan serta berita acara pendapat dan disampaikan kepada Mahkamah Syar'iyah Aceh dan yang bersangkutan.
  21. Fotocopy relaas pemberitahuan putusan Mahkamah Agung yang telah disahkan oleh Panitera dikirimkan ke Mahkamah Agung.
  22. Permohonan peninjauan kembali hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali saja sesuai Pasal 240 ayat (2) Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat.

12 of 23

  1. Permohonan Grasi
  1. Terhadap Putusan jinayat yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dapat diajukan Permohonan Grasi ke Presiden secara tertulis oleh:
  2. Terpidana dan atau Kuasa Hukumnya.
  3. Keluarga Terpidana dengan persetujuan Terpidana.
  4. Putusan jinayat yang dapat diajukan grasi adalah putusan dengan uqubat minimal 2 (dua) tahun penjara atau yang setara dengan itu.
  5. Permohonan grasi hanya dapat diajukan 1 (satu) kali dan diajukan paling lama 1 (satu) tahun sejak putusan memperoleh kekuatan hukum tetap.
  6. Permohonan grasi diajukan kepada Presiden melalui Ketua Mahkamah Syar'iyah yang memutus perkara pada tingkat pertama dan atau terakhir untuk diteruskan ke Mahkamah Agung.
  7. Dalam hal permohonan grasi diajukan oleh Terpidana yang sedang menjalani pidana, permohonan dan salinannya disampaikan melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan (LP) untuk diteruskan kepada Ketua Mahkamah Syar'iyah yang memutus perkara tersebut dan paling lambat 7 (tujuh) hari kalender sejak diterimanya permohonan dan salinannya, berkas perkara Terpidana dikirim kepada Mahkamah Agung.
  8. Panitera wajib membuat Akta Penerimaan Salinan Permohonan Grasi, selanjutnya berkas perkara beserta permohonan grasi dikirimkan kepada Mahkamah Agung. Apabila permohonan grasi tidak memenuhi persyaratan, Panitera membuat Akta Penolakan Grasi.
  9. Dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) hari kalender sejak tanggal penerimaan salinan permohonan grasi, Mahkamah Syar'iyah mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara kepada Mahkamah Agung.
  10. Salinan Keputusan Presiden yang diterima oleh Mahkamah Syar'iyah yang memutus perkara tingkat pertama, dicatat oleh Petugas dalam buku register induk, dan diberitahukan oleh Panitera kepada Terpidana dengan membuat Akta Pemberitahuan Keputusan Grasi.
  11. Berkas perkara yang diajukan kepada Presiden harus dilengkapi dengan surat-surat sebagai berikut:
  12. Surat pengantar.
  13. Daftar isi berkas perkara.
  14. Akta berkekuatan hukum tetap.
  15. Permohonan grasi dan Akta Penerimaan Permohonan Grasi.
  16. Salinan Permohonan grasi dari Terpidana dan Akta Penerimaan salinan permohonan grasi.
  17. Surat kuasa dari Terpidana untuk kuasanya atau surat persetujuan untuk keluarga dari Terpidana (jika ada).
  18. Berita Acara Sidang.
  19. Putusan Mahkamah Syar'iyah.
  20. Putusan Mahkamah Syar'iyah Aceh (jika ada).
  21. Putusan Mahkamah Agung dalam tingkat Kasasi (jika ada).
  22. Surat Dakwaan.
  23. Eksepsi, dan putusan sela (jika ada).
  24. Surat tuntutan.
  25. Pembelaan, Replik, Duplik (jika ada).
  26. Surat penetapan penunjukkan Hakim.
  27. urat penetapan hari sidang.
  28. Berita Acara Pemeriksaan pendahuluan.
  29. Surat-surat lain yang berhubungan dengan berkas perkara.

Dalam hal permohonan grasi diajukan dalam waktu bersamaan dengan permohonan peninjauan kembali atau jangka waktu antara kedua permohonan tersebut tidak terlalu lama, maka permohonan peninjauan kembali dikirim terlebih dahulu.

13 of 23

  1. Pemberkasan Perkara Upaya Hukum
  1. Berkas perkara terdiri dari Bundel Adan Bundel B. Bundel A merupakan himpunan surat-surat yang terdiri dari:
  2. Berkas perkara penyidik.
  3. Pelimpahan perkara dari Jaksa penuntut Umum.
  4. Penetapan penunjukan Majelis Hakim serta Panitera Pengganti.
  5. Penetapan hari sidang.
  6. Relaas Panggilan.
  7. Perintah/penetapan penahanan.
  8. Penetapan izin/persetujuan penyitaan (bila ada).
  9. Penetapan izin/persetujuan pengeledahan (bila ada).
  10. Surat Kuasa Penasehat Hukum.
  11. Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum.
  12. Berita acara sidang
  13. Tuntutan Jaksa Penuntut Umum.
  14. Pembelaan, replik, dan duplik.
  15. Surat-surat bukti yang diajukan dalam persidangan (bila ada).
  16. Dokumen elektronik.
  17. Surat-surat lainnya.
  18. "Bundel A" tersebut disimpan oleh Mahkamah Syar'iyah dan menjadi arsip di Panitera Muda Hukum.
  19. Dalam hal ada upaya hukum banding, Panitera menyiapkan "Bundel berkas" yang disebut Bundel B. Bundel B merupakan himpunan surat• surat yang terdiri dari:
  20. Surat permohonan banding.
  21. Akta permohonan banding.
  22. Akta pemberitahuan permohonan banding.
  23. Memori banding.
  24. Akta pemberitahuan dan penyerahan memori banding.
  25. Kontra memori banding.
  26. Akta pemberitahuan dan penyerahan kontra memori banding.
  27. Surat pemberitahuan mempelajari berkas perkara
  28. Akta memeriksa berkas perkara (inzage).
  29. Salinan putusan.
  30. Dokumen elektronik.
  31. urat-surat lainnya.
  32. Bundel B atas upaya hukum banding disimpan dan menjadi arsip di Panitera Muda Hukum Mahkamah Syar'iyah Aceh.
  33. Dalam hal ada upaya hukum kasasi, Panitera Mahkamah Syar'iyah menyiapkan bundel B. Bundel B merupakan himpunan surat-surat yang terdiri dari:
  34. Daftar isi dan Surat pengantar.
  35. Akta pemberitahuan putusan tingkat banding.
  36. Akta pemberitahuan permohonan kasasi kepada Termohon Kasasi.
  37. Memori Kasasi/tambahan Memori Kasasi.

  1. Akta penerimaan Memori Kasasi/Tambahan Memori Kasasi:
  2. Akta terlambat mengajukan Permohonan Kasasi;
  3. Akta tidak mengajukan memori kasasi;
  4. Akta terlambat mengajukan Memori Kasasi yang dibuat dan ditanda tangani oleh Panitera.
  5. Akta Pemberitahuan/Penyerahan memori kasasi/tambahan memori kasasi kepada Termohon Kasasi.
  6. Kontra Memori Kasasi/Tambahan Kontra Memori Kasasi.
  7. Akta Pemberitahuan/Penyerahan Kontra Memori/Tambahan Kontra memberi Kasasi kepada Pemohon Kasasi.
  8. Surat pemberitahuan mempelajari berkas perkara.
  9. Akta memeriksa berkas perkara (inzage)
  10. Dua eksemplar salinan resmi putusan tingkat pertama.
  11. Dua eksemplar salinan resmi putusan tingkat banding.
  12. Surat kuasa khusus untuk mengajukan kasasi dari Terdakwa.
  13. Dokumen elektronik.
  14. Surat-surat lainnya.

  1. Bundel B atas upaya hukum kasasi disimpan dan menjadi arsip Mahkamah Agung.
  2. Dalam hal ada upaya hukum Peninjauan kembali Panitera Mahkamah Syar'iyah menyiapkan Bundel B. Bundel B yang berkaitan dengan adanya permohonan peninjauan kembali terdiri dari:
  3. Surat Keterangan Permohonan Peninjauan Kembali yang ditandatangani oleh Panitera dan pemohon.
  4. Surat permohonan Peninjauan Kembali disertai alasan-alasannya.
  5. Salinan Putusan Mahkamah Syar'iyah.
  6. Salinan Putusan Mahkamah Syar'iyah Aceh (bila ada).
  7. Salinan Putusan Mahkamah Agung (bila ada).
  8. Berita Acara pemeriksaan dan Berita Acara pendapat Hakim.
  9. Dokumen elektronik.
  10. Surat-surat lainnya.
  11. Bundel Batas upaya hukum peninjauan kembali disimpan dan menjadi arsip Mahkamah Agung.

14 of 23

  1. Buku Register Perkara jinayat
  1. Register dalam perkara jinayat terdiri dari:
  2. Register lnduk Perkara Jinayat.
  3. Register Permohonan Banding Perkara Jinayat.
  4. Register Permohonan Kasasi Perkara Jinayat.
  5. Register Permohonan Peninjauan Kembali (PK) Perkara Jinayat.
  6. Register lnduk Perkara Jinayat Anak.
  7. Register Permohonan Banding Perkara Jinayat Anak.
  8. Register Permohonan Kasasi Perkara Jinayat Anak.
  9. Register Permohonan Peninjauan Kembali (PK) Perkara JinayatAnak.
  10. Register Perkara Jinayat Cepat.
  11. Register Perkara Jinayat Singkat.
  12. Register Praperadilan.
  13. Register lzin/Persetujuan Penggeledahan.
  14. Register lzin/Persetujuan Penyitaan.
  15. Register Pena ha nan Anak.
  16. Register Penahanan Mahkamah Syar'iyah.
  17. Register Permohonan Grasi.
  18. Register Kesepakatan Diversi.
  19. Register Barang Bukti.

  1. Buku register setiap tahun harus diganti dan tidak boleh digabung dengan tahun sebelumnya.
  2. Register ditutup setiap akhir bulan dengan diberi nomor urut setiap bulan dimulai dari nomor 1 dan berlanjut untuk setiap tahunnya

15 of 23

  1. Laporan Perkara jinayat
  1. Panitera Mahkamah Syar'iyah wajib membuat laporan keadaan perkara secara periodik setiap bulan, kwartal dan akhir tahun yang terdiri dari LIPA-1 sampai dengan LIPA-24

Dilengkapi dengan Laporan Perkara Jinayat pada Mahkamah Syar'iyah yang isi laporan jenis perkara jinayat mencakup jenis-jenis perkara dan jenis pemeriksaan (Perkara Jinayat pemeriksaan biasa, Perkara Jinayat pemeriksaan singkat, dan Perkara Jinayat pemeriksaan cepat). Selain laporan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 di atas, Mahkamah Syar'iyah juga berkewajiban membuat laporan keadaan perkara jinayat, meliputi:

  1. Laporan keadaan perkara jinayat umum (LIMS.1)
  2. Laporan keadaan perkara jinayat anak (LIMS.2)
  3. Laporan jenis perkara jinayat (LIMS.3)
  4. Laporan perkara jinayat yang telah putus sudah dieksekusi (LIMS.4)
  5. Laporan perkara jinayat yang dimohonkan banding (LIMS.5)
  6. Laporan perkara jinayat yang dimohonkan kasasi (LIMS.6)
  7. Laporan perkara jinayat yang dimohonkan peninjauan kembali (LIMS.7)
  8. Laporan perkara jinayat yang dimohonkan grasi/remisi (LIMS.8)
  9. Laporan pelaksanaan tugas hakim pengawas dan pengamat (LIMS.9)
  10. Asli laporan dikirimkan kepada Ketua Mahkamah Syar'iyah Aceh, sedangkan lembar kedua dari setiap laporan tersebut dikirimkan kepada Panitera Mahkamah Agung dan tembusannya dikirimkan kepada Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama.
  11. Laporan keadaan perkara Jinayat sudah harus diterima oleh Mahkamah Syar'iyah Aceh/Mahkamah Agung paling lambat tanggal 5 (lima) bulan berikutnya.
  12. Panitera membuat laporan tentang kegiatan Hakim dan pelaksanaan tugas Hakim Pengawas dan Pengamat setiap 6 (enam) bulan, yaitu pada akhir bulan Juni dan Desember.
  13. Laporan kegiatan Hakim berisi tentang jumlah perkara yang diterima, diputus, sisa perkara, serta jumlah perkara yang sudah maupun yang belum diminutasi.
  14. Laporan tentang keadaan perkara jinayat berisi tentang keadaan perkara sejak diterima sampai diputus dan diminutasi:
  15. Laporan perkara jinayat yang dimohonkan banding, kasasi, peninjauan kembali dan grasi memuat tanggal permohonan diajukan, penerimaan, pengiriman dan penerimaan putusan serta pemberitahuan.
  16. Dalam setiap laporan terhadap perkara yang belum dikirim, harus disebutkan alasannya dalam kolom keterangan.
  17. Pembuatan laporan dilakukan sesuai dengan formulir yang tersedia, meliputi:
  18. Laporan yang bersifat data perkara dapat digunakan dalam menentukan kelas Mahkamah Syar'iyah, penyusunan anggaran, jumlah kebutuhan dan kualitas Hakim.
  19. Laporan yang bersifat evaluasi, merupakan laporan untuk mengetahui kegiatan para pejabat peradilan secara keseluruhan baik Hakim maupun pejabat kepaniteraan yang berhubungan dengan penyelenggaraan jalannya peradilan.

16 of 23

  1. Pengarsipan Berkas Perkara jinayat
  1. Arsip perkara terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu:
  2. Berkas perkara yang masih berjalan yakni perkara yang sudah diputus dan diminutasi tetapi masih dalam tingkat banding, kasasi, peninjauan kembali dan belum dieksekusi.
  3. Berkas perkara yang sudah selesai adalah perkara yang telah berkekuatan hukum tetap dan telah dieksekusi.
  4. Berkas perkara meliputi:
  5. Berkas perkara jinayat biasa.
  6. Berkas perkara jinayat singkat.
  7. Berkas perkara jinayat cepat.
  8. Berkas perkara praperadilan.
  9. Pembenahan dan penataan arsip dilakukan dengan cara:
  10. Memisahkan berkas perkara yang masih berjalan dengan berkas perkara yang telah selesai.
  11. Berkas perkara yang masih berjalan dikelola oleh Panitera Muda Jinayat dan disimpan dalam box atau sampul yang diikat secara rapi serta ditempatkan didalam rak atau lemari dengan urutan sebagai berikut:
  12. Nomor urut box atau sampul (ditulis pada box atau sampul)
  13. Tahun perkara (ditulis pada box atau sampul)
  14. Jenis perkara (ditulis pada box atau sampul)
  15. Nomor urut perkara (ditulis pada box atau sampul)
  16. Tingkat penyelesaian (ditulis pada box atau sampul)
  17. Berkas perkara yang telah selesai dikelola oleh Panitera Muda Hukum dan disusun sebagai berikut:
  18. Nomor urut box atau sampul (ditulis pada box atau sampul)
  19. Tahun perkara (ditulis pada box atau sampul)
  20. Jenis perkara (ditulis pada box atau sampul)
  21. Nomor urut perkara (ditulis pada box atau sampul)
  22. Pengadilan juga dapat menyimpan berkas perkara dalam bentuk dokumen elektronik dan media lainnya.

17 of 23

1. b Mahkamah Syar'iyah Aceh

  1. Penerimaan Perkara.
  2. Pemberkasan Banding
  3. Register
  4. Laporan
  5. Pengarsipan

18 of 23

  1. Penerimaan Perkara
  1. Petugas menerima berkas perkara banding yang dikirimkan oleh Mahkamah Syar'iyah berikut relaas pemberitahuan/penyerahan Memori Banding atau Kontra Memori Banding.
  2. Berkas perkara dimaksud diatas meliputi pula barang-barang bukti yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum, yang sudah dilampirkan dalam berkas perkara. Barang-barang bukti tersebut dicatat dalam buku daftar barang bukti.
  3. Setelah berkas perkara lengkap petugas mencatat dalam buku register dengan mencatat sesuai dengan nomor urut dan tanggal penerimaan.
  4. Petugas mencatat dengan cermat dalam register terkait semua kegiatan yang berhubungan dengan perkara yang bersangkutan.

19 of 23

  1. Pemberkasan Banding
  1. Perkara yang telah diputus dalam tingkat banding, Panitera menyiapkan dan mengirimkan kembali bundel A dan salinan putusan kepada Mahkamah Syar'iyah. Bundel A merupakan himpunan surat-surat perkara yang diawali dengan Surat Penetapan Majelis Hakim dan semua kegiatan/proses persidangan/pemeriksaan perkara tersebut.
  2. Bundel B yang berkaitan dengan adanya permohonan banding, yang pada akhirnya menjadi arsip berkas perkara pada Mahkamah Syar'iyah Aceh, merupakan himpunan surat-surat perkara yang terdiri dari:
  3. Surat permohonan banding.
  4. Akta Pernyataan Banding.
  5. Akta Pemberitahuan Permohonan Banding.
  6. Memori Banding.
  7. Akta Pemberitahuan dan Penyerahan Memori Banding.
  8. Kontra Memori Banding.
  9. Akta Pemberitahuan dan Penyerahan Kontra Memori Banding.
  10. Surat pemberitahuan mempelajari berkas perkara.
  11. Berita acara/akta memeriksa berkas perkara.
  12. Dokumen elektronik.
  13. Surat-surat lainnya.

20 of 23

  1. Register
  1. Register Jinayat pada tingkat Banding terdiri dari:
  2. Register Buku lnduk Perkara Banding.
  3. Register Buku lnduk Perkara Anak.
  4. Register Penahanan.
  5. Buku register setiap tahun harus diganti dan tidak boleh digabung dengan tahun sebelumnya.
  6. Register banding ditutup setiap bulannya dengan diberi nomor urut setiap bulan dimulai dari nomor 1 dan berlanjut untuk setiap tahunnya dengan uraian sebagai berikut:
  7. Setiap akhir bulan register banding ditutup, ditandatangani oleh petugas register dan Panitera Muda Jinayat dengan perincian sebagai berikut:
  8. Sisa bulan lalu : ................. Perkara
  9. Masuk buIan ini : ................. Perkara
  10. Putus bulan ini : ................. Perkara
  11. Sisa bulan ini : ................. Perkara
  12. Penutupan register banding setiap akhir tahun, ditanda tangani oleh Panitera Muda Jinayat dan Panitera, serta diketahui oleh Ketua Mahkamah Syar'iyah Aceh, dengan perincian sebagai berikut:
  13. Sisa tahun lalu : ................. Perkara
  14. Masuk tahun ini : ................. Perkara
  15. Putus tahun ini : ................. Perkara
  16. Sisa tahun ini : ................. Perkara

21 of 23

  1. Laporan
  1. Mahkamah Syar'iyah Aceh wajib membuat laporan keadaan perkara setiap bulan dan laporan Kegiatan Hakim setiap 6 (enam) bulan, selambat-lambatnya sudah diterima Mahkamah Agung tanggal 5 (lima) bulan berikutnya.
  2. Macam-macam laporan:
  3. Laporan Keadaan Perkara Jinayat.
  4. Laporan Kegiatan Hakim.
  5. Mahkamah Syar'iyah Aceh membuat evaluasi atas laporan bulanan keadaan perkara yang berasal dari seluruh Mahkamah Syar'iyah di daerah hukumnya untuk disampaikan kepada Mahkamah Agung, selambat-lambatnya tanggal 10 (sepuluh) bu Ian berikutnya.
  6. Mahkamah Syar'iyah Aceh membuat rekapitulasi setiap akhir tahun atas laporan dari seluruh Mahkamah Syar'iyah didaerah hukumnya tentang keadaan perkara banding dan jenis perkara serta mengirimkan kepada Mahkamah Agung.
  7. Laporan-laporan tersebut dikirimkan ke Mahkamah Agung c.q Direktur
  8. Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI.

22 of 23

  1. Pengarsipan
  1. Berkas perkara yang telah diputus dan diminutasi dikirimkan ke Mahkamah Syar'iyah sedangkan bundel B menjadi arsip di Mahkamah Syar'iyah Aceh.
  2. Pembenahan dan penataan arsip dilakukan dengan memisahkan berkas perkara yang masih berjalan dengan berkas perkara yang telah selesai.
  3. Berkas perkara:
  4. Berkas perkara yang masih berjalan dikelola oleh Panitera Muda Jinayat.
  5. Perkara yang telah diputus, bundel A dan salinan putusan dikirimkan ke Mahkamah Syar'iyah.
  6. Terhadap berkas yang didalamnya berisi bundel B disimpan dalam box atau sampul yang diikat secara rapi dan ditempatkan diatas rak atau dalam lemari yang dikelola oleh Panitera Muda Hukum dengan diberi:
  7. Nomor urut box atau sampul (ditulis pada box atau sampul);
  8. Tahun perkara (ditulis pada box atau sampul);
  9. Jenis perkara (ditulis pada box atau sampul);
  10. Nomor urut perkara (ditulis pada box atau sampul);
  11. Tingkat penyelesaian (ditulis pada box atau sampul).
  12. Disamping pengarsipan seperti tersebut di atas Mahkamah Syar'iyah Aceh juga dapat menyimpan berkas perkara dalam bentuk dokumen elektronik atau media lainnya.

23 of 23

Muhammad Aliyuddin S. Ag.,M.H.

Administrasi Peradilan

Terima Kasih