Konsep Dasar Konseling
PERTEMUAN 1
01
''Konseling adalah aplikasi berseni dari pengetahuan dan teknikpsikologis yang diturunkan secara ilmiah untuk tujuan mengubah perilaku manusia'' (Burke, 1989, hal. 12).
02
''Konseling terdiri dari aktivitas etis apa pun yang dilakukan konselor dalam upaya untuk membantu konseli terlibat dalam jenis perilaku yang akan mengarah pada penyelesaian masalah konseli'' (Krumboltz, 1965, hlm. 3).
03
''[Konseling adalah] aktivitas ... untuk bekerja dengan individu yang berfungsi relatif normal yang mengalami masalah perkembangan atau penyesuaian'' (Kottler & Brown, 1996, hlm. 7).
04
Konseling umumnya dicirikan oleh adanya kesepakatan yang jelas antara seorang konselor dengan klien (konseli) untuk bertemu dalam suasana pribadi, pada waktu tertentu, dan dalamkondisi kerahasiaan yang ketat, dengan parameter etik, waktu yang disepakati, dan untuk tujuan yang ditentukan (Palmer, 2000)
05
Konseling sebagai hubungan yang berupa bantuan satu-satu yang berfokus kepada pertumbuhan dan penyesuaian pribadi dan memenuhi kebutuhan akan penyelesaian problem dan kebutuhan pengambilan keputusan (Gibson & Mitchel, 2011).
06
Konseling bukan hanya sebuaah peristiwa yang terjadai diantara dua individu. Konseling juga merupakan intitusi social yang tertanam dalam kultur masyaraka modern. Konseling merupakan suatu hubungan profesioanl dalam bentuk pertolongan dengan menekankan ekspolrasi dan pemahaman serta proses penentuan diri (Mcleod, 2010)
07
Konseling merupakan hubungan profesional yang mem berikan kesempatan pada individu, keluarga, maupun kelompok yang berbeda-beda untuk tercapainya tujuan kesehatan mental, kehidupan yang lebihbaik, tujuan dalam bidang pendidikan, dan karier (ACA dalam Dahir, 2012). Secara lebih khusus, dalam setting pendidikan formal, konseling adalah proses pemberian bantuan bagi siswa untuk membantu mereka menata tujuan dan mencapai perubahan perilaku ke arah yang lebih positif (ASCA dalam Dahir, 2012).
Empat Elemen Penciri Konseling
Konseling sebagai suatu hubungan
Konseling sebagai repertoar intervens
Konseling sebagai proses psikologis
Tujuan Konseling
Keterampilan Dasar Konselor Profesional
Keterampilan Dasar Konselor Profesional
TEORI/ PENDEKATAN KONSELING
KETERAMPILAN BERPIKIR (MIND-SKILL
KETERAMPILAN DASAR KOMUNIKASI
Berikut dikemukakan beberapahal yang secara umum disepakati sebagai konseling, dan beberapa hal lainnya tidak/bukan konseling.
Konseling ADALAH:
Konseling BUKANLAH:
Pengertian Keterampilan Dasar Konseling
Keterampilan dapat dimaknai dari beberapa sisi, meliputi: jenis Keterampilan, tingkat penguasaan, dan pengetahuan akan Keterampilan itu sendiri. Dilihat dari jenis Keterampilan di antaranya Keterampilan mendengarkan atau keterampilan merespons. Dari sisi tingkat penguasaan dapat dibedakan menjadi terampil, kurang terampil atau tidak terampil.
Nelson-Jones (2005) menjelaskan bahwa keterampilan konselor memegang nilai-nilai humanistik. Nilai-nilai ini termasuk menghormati setiap individu, pengakuan ketidaksempurnaan manusia, kepercayaan manusia yang bisa dididik, keyakinan akan potensi manusia untuk alasan dan kehidupan sosial, dan keinginan yang tulus untuk dunia yang lebih baik. Selanjutnya keterampilan konselor berhubungan dengan kerangka teoritis yang mengintegrasikan unsur psikologi eksistensial-humanistik dan cognitive-behavioural.
Keterampilan eksternal dan internal dalam
Keterampilan dasar konseling
Tindakan pada dasarnya berasal dari pikiran individu. Apa yang terjadi dalam pikiran mereka akan berpengaruh terhadap perilakunya. Bisa dikatakan bahwa tindakan atau perilaku individu sebenarnya merupakan konsekuensi dari apa yang mereka pikirkan dan bagaimana mereka mengelola pikiran tersebut (Jones, 2003). Dengan demikian, keterampilan berpikir dapat dipilah menjadi dua garis besar, yaitu: keterampilan eksternal (external skills) dan Keterampilan internal (internal skills).
Keterampilan Eksternal dalam Konseling
Verbal
Vokal
Bahasa Tubuh
Keterampilan verbal dapat diamati dalam beberapa dimensi di antaranya: bahasa yang digunakan, konten atau topik yang dibicarakan, pengaturan jumlah percakapan, serta penggunaan kata sapaan “aku”, “kamu”, “anda” atau “saudara”.
Pesan vokal yang disampaikan oleh individu dapat menjelasakan perasaan yang sebenarnya dirasakan, dan bagaimana kemauan mereka untuk mendengarkan atau memahami perasaan orang lain. Indikator vokal dimensinya meliputi: volume suara, artikulasi, intonasi, penekanan, dan pengaturan tempo suara
Proses konseling tidak lepas dari bahasa tubuh yang disampaikan oleh konselor. Ketika konselor mendengarkan atau berbicara keseluruhan, bahasa tubuhnya dapat diamati dengan baik. Adapun sejumlah dimensi dari bahasa tubuh meliputi: ekspresi wajah, fokus pandangan, kontak mata, gerakan, posisi tubuh, kedekatan (jarak), pakaian, dan penampilan.
Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya bahwa keterampilan eksternal muncul sebagai konsekuensi dari keterampilan internal (mind-skills). Keterampilan berpikir (mind-skills/internal skills) merupakan keterampilan yang berhubungan dengan proses mental konselor saat melakukan layanan konseling (Jones, 2005). Mind skills dijabarkan menjadi enam komponen, meliputi:
Keterampilan Internal dalam Konseling
01
menciptakanperaturan yang membantu
02
menciptakan persepsi yang membantu
03
menciptakan wicara diri yang membantu
04
menciptakan citra visual yang membantu
05
menciptakan penjelasan yang membantu
06
menciptakan pengharapan yang membantu
Apabila konselor dapat memenuhi keenam komponen dan di internalisasi dalam dirinya, maka akan keluar dalam bentuk keterampilan eksternal yang dapat diamati pada pola komunikasi dan perilakunya seperti yang diulas sebelumnya
Karakteristik Utama Konselor sebagai Helper
Kondisi pertama disebu tempati, terkadang disebut sebagai kerangka acuan. Konselor mencoba memahami pikiran dan perasaan yang dialami klien, kadang-kadang disebut sebagai 'berjalan di posisi orang lain'.
Cobalah eksperimen ini: bersama seorang teman, lihatlah objek yang sama atau pemandangan keluar jendela. Apakah Anda melihat hal yang sama? Mungkin tidak , Alasannya adalah kita semua mempunyai persepsi masing-masing terhadap dunia.
Empati (Empathy)
Kondisi kedua dikenal sebagai kongruensi. Artinya konselor itu asli dan nyata. Kondisi ini penting karena memungkinkan konseli membangun hubungan saling percaya dengan konselor. Kesesuaian konselor juga dapat membantu mengalahkan sikap negatif atau kondisi berharga yang mungkin diberikan orang lain pada konseli. Pendekatan konselor yang hangat dan tulus membuat konseli merasa dihargai . Hal ini pada gilirannya membangun harga diri dan kepercayaan terhadap penilaian mereka sendiri.
Jujur saja, apakah Anda ingin membicarakan masalah Anda dengan seseorang yang bertindak salah?
Bisa jadi Tidak.
Kongruensi (Congruence)
Penghargaan Positif Tanpa Syarat (Unconditional Positive Regard)
Kondisi ketiga dikenal sebagai hal positif tanpa syarat. Penghargaan positif tanpa syarat memungkinkan konseli untuk terbuka dan berbicara tentang kesulitannya tanpa takut dikritik atau dihakimi. Bagi seorang konseli, membicarakan masalah merekatan pada yang berkata, 'Mengapa Anda melakukan ini?' bisa melegakan. atau 'Apakah menurut Anda itu ide yang bagus?'
THANK YOU