1 of 15

2 of 15

Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 dinyatakan Bahwa Indonesia adalah Negara Hukum

Hukum akan sangat menentukan dalam pelaksanaan kenegaraan dan pemerintahan. Segala sesuatu di Indonesia harus senantiasa berdasarkan pada hukum

Roscoe Pounds

3 of 15

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYUSUNAN PER-UU-AN

  • Kualitas SDM;
  • Politik;
  • Dominasi Kelompok;
  • Improvisasi;
  • Kontrol.

4 of 15

1. ASAS TINGKAT HIERARKI

  1. Peraturan Per-UUan yang rendah derajatnya, tdk dpt mengubah menyampingkan ketentuan-ketentuan perat. per-uu-an yg lebih tinggi.
  2. Perat. Per-UUan hanya dpt dicabut, diubah atau ditambah oleh atau dgn perat per-UU-an yg sedrajat atau lebih tinggi.
  3. Ketentuan-ketentuan perat per-UU-an yg lebih rendah tingkatannya tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak mengikat sekaligus tidak boleh bertentangan dgn perat per-uu-an yg lebih tinggi tingkatannya.
  4. Materi yg seharusnya diatur oleh perat per-uu-an yg lebih tinggi tingkatannya tdk dapat diatur oleh perat per-uu-an yg lebih rendah.

2. UU TDK DPT DIGANGGU GUGAT

  1. Hak menguji secara materiil.
  2. Hak menguji secara formal.

3. LEX SPECIALIS DEROGAT LEX GENERALIS

5 of 15

MATERI MUATAN

Materi muatan UU :

  • HAM;
  • Hak dan kewajiban warga negara;
  • Pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan wilayah;
  • Wilayah negara dan pembagian daerah;
  • Kewarganegaraan dan kependudukan;
  • Keuangan negara.
  • Putusan MK

Materi muatan UU juga bisa berasal dari suatu UU untuk diatur dengan UU.

6 of 15

LANDASAN PEMBENTUKAN

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

1. LANDASAN YURIDIS

FORMAL

MATERIAL

L. FORMAL

BAGI PRESIDEN

Ps. 5 ayat (1) UUD. NRI 1945

Ps. 5 ayat (2) UUD. NRI 1945

2. LANDASAN FILOSOFIS

3. LANDASAN SOSIOLOGIS

7 of 15

CONTOH :

UU NO. ... TAHUN .... TENTANG ......

PASAL ....

SUAMI ISTRI WAJIB SALING CINTA MENCINTAI HORMAT MENGHORMATI, SETIA DAN MEMBERI BANTUAN LAHIR BATIN YANG SATU KEPADA YANG LAIN.

RUMUSAN YANG LEBIH BAIK :

SUAMI ISTRI WAJIB SALING MENCINTAI, MENGHORMATI, SETIA DAN MEMBERI BANTUAN LAHIR BATIN.

8 of 15

UU NOMOR 13 TAHUN 2022

KERANGKA

JUDUL

PEMBUKAAN

PENUTUP

BTG TBH

PENJELASAN

LAMPIRAN

JIKA DIPERLUKAN

PEMBENTK PERATURAN PER-UU-AN

9 of 15

DASAR PEMBENTUKAN�PERATURAN PER-UU-AN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 12 TAHUN 2011 Jo UU No 25 Thn 2019 jo UU No. 13 Th 2022

TENTANG

PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

* JENIS DAN HIERARKI :

  1. UUD NRI TH. 1945.
  2. TAP MPR
  3. UU / PERPU.
  4. PP.
  5. PERATURAN PRESIDEN.
  6. PERATURAN DAERAH.

* JENIS PERATURAN PER-UU-AN SELAIN TSB DI ATAS DIAKUI KEBERADAANNYA DAN MEMP. KEKT. HK. IKAT SEPANJANG DIPERINTAHKAN OLEH PERAT. PR-UU-AN YG LEBIH TINGGI.

10 of 15

BAHASA PERUNDANG-UNDANGAN

  • PEMBENTUKAN KATA
  • PENYUSUNAN KALIMAT
  • PENGEJAAN
  • TEKNIK PENULISAN

ADALAH BHS INDONESIA YG TUNDUK PADA KAIDAH BHS INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR.

BERCIRIKAN :

  • KEJERNIHAN PENGERTIAN
  • KELUGASAN
  • KEBAKUAN
  • KESERASIAN

11 of 15

SISTEMATIKA TEHNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. JUDUL

B. PEMBUKAAN

1. Frase dengan Tuhan Yang Maha Esa

2. Jabatan pembentukan peraturan peruu-an

3. Konsiderans

4. Dasar hukum

5. Diktum

C. BATANG TUBUH

1. Ketentuan Umum

2. Materi Pokok yang Diatur

3. Ketentuan Pidana(jika diperlukan)

4. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan)

5. Ketentuan Penutup

D. PENUTUP

E. PENJELASAN (Jika diperlukan)

F. LAMPIRAN (Jika diperlukan)

BAB II HAL-HAL KHUSUS

A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN

B. PENYIDIKAN

C. PENCABUTAN

D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-

UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG

F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL

12 of 15

Lanjutan

BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANG

A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH

C. TEHNIK PENGACUAN

BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. BR UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA

B. BENTUK RANCANGAN UU PENETAPAN PP PENGANTI UU

MENJADI UU

C. BR UU PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK

MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA RESMI

D. BR UU PERUBAHAN UU

E. BR UU PENCABUTAN UU

F. BR UU PENCABUTAN PP PENGGANTI UU

G. BR PP PENGGANTI UU

H. BR PP

I. BR PERATURAN PRSIDEN

J. BR PERATURAN DAERAH

(Pedoman teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan ke dalam angka 1 sampai angka 2470

13 of 15

Pembukaan perat PER-UU-AN terdiri atas :

  • Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa ;

  • Pada pembukaan tiap jenis peraturan perundangan-undangan sebelum nama jabatan pembentuk peraturan perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakan ditengah marjin.

  • Jabatan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan ;

  • Jabatan pembentuk peraturan perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma.

PEMBUKAAN

CONTOH :

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA TEGAL

14 of 15

Konsideran diawali dengan kata Menimbang ;

Konsideran memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan peraturan perundang-undangan ;

Pokok-pokok pikiran pada konsideran PERDA memuat unsur filosofi, yuridis dan sosiologis yang melatarbelakang pembuatannya ;

Jika konsideran memuat lebih dari satu pokok pikiran, tiap-tiap pokokpikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian ;

Tiap-tiap pikiran diawal dengan huruf abjad, dan dirumuskan dalam satu kalimat yg diawali dng kata bahwa & diakhiri dng tanda baca titik koma

Konsideran

15 of 15

TERIMA KASIH