1 of 60

PETUNJUK PELAKSANAAN

DEMPLOT/TRIAL PADI

2 of 60

Pendahuluan

Tujuan:

    • Mengevaluasi performa agronomis, hasil, dan kualitas pascapanen beberapa kandidat varietas padi hibrida.
    • Mendukung seleksi varietas unggul adaptif di beberapa jenis lahan

Desain percobaan:

  • RAKL (Rancangan Acak Kelompok Lengkap), 2 atau 3 ulangan, tiap petak berisi satu varietas.

Parameter utama:

    • Pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah anakan, umur berbunga, umur panen, ketahanan hama penyakit dll)
    • Komponen hasil (jumlah malai, panjang malai, jumlah bulir isi, bobot 1.000 butir dan lain lain)
    • Hasil gabah, milling recovery, dan eating quality.

3 of 60

Persyaratan Lokasi

  1. Tipe lahan:
  2. Sawah beririgasi baik (teknis, setengah teknis, atau pompanisasi).

2. Riwayat lahan:

  • Jika memungkinkan lahan tidak ditanami padi lebih dari dua musim berturut-turut tanpa rotasi (untuk menghindari penumpukan patogen).

3. Ketinggian:

  • Ketinggian lahan ideal <500 m dpl (dataran rendah – sedang).

4. pH tanah:

  • pH tanah ideal 5,5–7,0.

5. Drainase & Sumber Air:

  • Drainase baik dan mudah dikeringkan untuk panen.
  • Sumber air: Saluran irigasi, pompa, atau sumur bor.

6. Kondisi lahan:

  • Lahan homogen antar petak dan antar plot.

4 of 60

Alat-Alat

  1. Roll Meter
  2. Meteran gulung
  3. Penggaris
  4. pH meter
  5. Timbangan
  6. Pengukur kadar air biji
  7. Tali plastic
  8. Label dari Alva Board
  9. Spidol Permanent
  10. Kertas cover
  11. Ajir bambu
  12. Waring panen 40 x 60 cm
  13. Pupuk Urea, ZA dan NPK

5 of 60

Persiapan Benih

Persemaian

Persiapan Lahan

Pindah Tanam

Pengairan

Pemupukan

Perawatan

Panen

Standart Prosedur Budidaya

Prosedur budidaya meliputi beberapa tahap:

6 of 60

Persiapan Benih

  1. Metode Perendaman (Semai basah)

Untuk varietas padi hibrida dan inbrida berkulit tipis dan daya serap air cepat.

Seleksi benih:

  • Rendam benih dengan air bersih
  • Bisa ditambah garam (optional) (1 liter air + ±30–35 g garam).
  • Benih mengapung dibuang, yang tenggelam digunakan.

Perendaman awal (imbibisi):

    • Durasi: 24 jam (maksimal 36 jam).
    • Gunakan air bersih, rasio air:benih minimal 3:1.
    • Ganti air setiap 12 jam untuk menjaga oksigen.

Inkubasi:

    • tiriskan dan tutup dengan karung lembap selama 36–48 jam.
    • Jaga suhu 25–35°C.
    • Benih siap semai saat radikula muncul ±1 mm.

Pencegahan patogen:�Tambahkan fungisida sebelum semai misalnya Tricho Plus

7 of 60

  1. Metode Semai Kering (“Dry Seed Sowing”)

Dipakai untuk varietas hibrida tertentu yang memiliki lapisan perikarp tebal atau mudah rusak bila imbibisi mendadak

Karakter varietas:

  • Kulit benih keras / tidak mudah menyerap air.
  • Dormansi rendah.

Perlakuan:

  • Benih tidak direndam air; cukup diperlakukan kering (dry priming):
  • Campur dengan sedikit air (sekitar 10–15% dari berat benih) + fungisida, diinkubasi 6–8 jam dalam kantong tertutup, kemudian langsung disebar di persemaian lembap.

Tujuan:

  • Menghindari benih busuk karena over-imbibisi.
  • Lebih aman untuk varietas yang sensitif terhadap anoxia (kekurangan oksigen) selama perendaman.
  • Cocok untuk sistem persemaian kering atau tray plastik di rumah semai.

Kelemahan:

  • Perkecambahan lebih lambat dibanding semai basah.
  • Kurang cocok untuk tanah berlumpur (karena benih sulit menembus lapisan anaerob)

8 of 60

  1. Kerapatan persemaian ideal adalah 25gr/m² dengan minimal 50gr/m² benih atau setara dengan luas lahan persemaian minimal 300 m² untuk 15 kg benih (1 hektar).
  2. Olah tanah dengan baik dan tebari dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 0,5 kg/m².
  3. Sebarkan benih padi secara merata dan hindari tumpang tindih.

Persemaian

9 of 60

Tutup bedeng semai tipis-tipis dengan tanah atau humus.

Pasang label plot agar tidak tertukar tanaman antar plot saat pindah tanam

Persemaian

10 of 60

100 gr Tricho Plus

20 kg Pupuk kandang

Sebagai Agen Antagonis (Biological Control Agent)

Mekanisme kerja antagonisnya:

  1. Mikoparasitisme: Trichoderma menempel dan melilit hifa patogen, kemudian mengeluarkan enzim kitinase & glukanase untuk menghancurkan dinding sel jamur patogen.
  2. Kompetisi ruang & nutrisi: Trichoderma tumbuh cepat di sekitar akar muda dan menekan pertumbuhan jamur lain.
  3. Produksi antibiotik alami: menghasilkan senyawa volatil seperti gliotoxin, viridin, dan trichodermin yang menghambat patogen.

Aplikasi Tricho Plus

Menurunkan intensitas penyakit rebah semai (seed rot, damping off), memperpanjang umur akar, dan meningkatkan vigor bibit.

11 of 60

  • Agar diperoleh bibit yang sehat, sebarkan Wingran 0,5G sebanyak 4 gram/m² bersamaan dengan penyebaran benih. Taburkan pupuk NPK sebanyak 10 gram/m² pada waktu bibit berumur 6 dan 14 hari. Semprot dengan insektisida Trisula 450SL 3 hari sebelum pindah tanam untuk mencegah serangan sundep.
  • Lakukan pengairan sebatas menjaga kelembaban bedeng semai.

Persemaian

12 of 60

Persiapan Lahan

tanah yang berpasir dan miskin unsur hara perlu diberi pupuk kandang sebanyak 10 ton per hektar.

Lakukan perbaikan saluran air dan galengan agar air bisa masuk dg baik dan tidak terjadi kebocoran.

13 of 60

Aplikasi Herbisida (optional)

Dilakukan sebelum olah tanah:

Aplikasi Rambo Gold, atau Optimus, atau Amandy

14 of 60

Pengolahan sebaiknya dilakukan dua kali agar diperoleh pelumpuran tanah yg baik.

Pengolahan Lahan

15 of 60

Pengaturan Plot

Dimensi Plot & Tata Letak Dasar

  • Luas plot (gross plot): 50 m².
  • Rekomendasi dimensi baku: 5 m × 10 m (mudah ditarik garis & dibagi jadi net plot).

Orientasi bedengan/galengan:

  • Sejajar arah aliran air dan sebisa mungkin Utara–Selatan untuk meminimalkan efek bayangan antar petak.
  • Jarak antar plot 50 cm, jika dalam 1 petak, Jarak antar ulangan 1 meter

Label plot:

  • papan keras tahan air (kode Lokasi–Blok–Plot–Varietas + QR jika ada).

16 of 60

Pindah Tanam

  • Jarak tanam ideal 20 x 20 cm dg toleransi jarak tanam maksimal 25 x 25 cm, atau jika lokasi merupakan endemik hama penyakit bisa menggunakan jajar legowo 2 : 1 (60 X 30 X 20 cm).
  • Penyulaman sebaiknya dilakukan sekitar satu minggu setelah tanam dengan sisa bibit yang masih ada.

25 cm

25 cm

  • Pindah tanam dilakukan saat bibit berumur 15-18 hari agar pembentukan anakan jadi lebih optimal atau saat bibit sudah mempunyai 2-3 helai daun.
  • Jumlah bibit yang ditanam yaitu 2-3 bibit per lubang.

17 of 60

Perawatan

Komponen Utama Perawatan

  1. Penyiangan Gulma (Weeding)
  2. Pengendalian Hama dan Penyakit (PHT)
  3. Pemeliharaan Air dan Drainase
  4. Pemupukan Susulan & Mikronutrien (top dressing)
  5. Koreksi Kekurangan Unsur dan Gangguan Fisiologis

18 of 60

Perawatan

Penyiangan gulma dengan alat manual

Perawatan dilakukan untuk:

  • Menjamin pertumbuhan optimal setiap varietas uji.
  • Mengurangi gangguan biotik (gulma, hama, penyakit).
  • Menyamakan kondisi antar ulangan agar hasil evaluasi varietas valid secara agronomis.

19 of 60

  1. Menjaga pertumbuhan tanaman optimal
  2. Mencegah kehilangan hasil akibat gangguan hama dan penyakit
  3. Menjaga keseragaman plot penelitian
  4. serangan hama/penyakit bisa menyebabkan data bias.
  5. Penyemprotan membantu agar perbedaan antar plot yang diamati murni akibat faktor tanaman, bukan karena perbedaan tekanan hama/penyakit.
  6. Menjamin validitas hasil riset
  7. Dengan perlakuan pengendalian yang baik, peneliti dapat memperoleh data yang representatif dan dapat dibandingkan antar lokasi.

Pengendalian Hama & Penyakit

20 of 60

Pemupukan

  • Penambahan pupuk Nitrogen sebanyak 10Kg (Setara 22 Kg Urea atau 31 Kg Za) dari dosis pupuk normal atau kebiasaan petani dapat meningkatkan 213 kg GKG; pemberian pupuk dilakukan secara proporsional yaitu dengan membaginya menjadi 3 waktu aplikasi pupuk dasar 30% : susulan I 40%: susulan II 30%.
  • Dosis maksimal N yang dapat diberikan yaitu setara dengan 322 Kg N atau 700 Kg Urea atau 1.006 Kg Za per hektar.

Catatan : tidak dianjurkan melakukan pemupukan melewati umur 40 hst; kebutuhan pupuk untuk setiap daerah dapat berbeda, tergantung dari ketersediaan hara ditanah dapat disesuaikan menurut rekomendasi Dinas Pertanian setempat.

21 of 60

Pemupukan

  • Berikan pupuk dasar NPK 15:15:15 sebanyak 300 kg/Ha + ZA 150 kg/Ha, dicampur dengan insektisida Wingran 0,5G dosis 8 kg/ha atau Ventura 3GR dosis 20 kg/ha yang diberikan pada 7 HST
  • Pupuk susulan I diberikan pada 20 HST menggunakan Urea 300 kg/ha dan NPK 15:15:15 150 kg/ha.
  • Pupuk susulan II diberikan pada 35 HST menggunakan NPK 15:15:15 dengan dosis 250 kg/ha dan ZA 200 kg/Ha

22 of 60

DOSIS PEMUPUKAN PADI HIBRIDA

SAWAH IRIGASI per Hektar

FERTILIZER

Dosis

WAKTU PEMAKAIAN

NPK 15-15-15

300

kg

Pupuk dasar (7-10 hst)

ZA

150

kg

 

NPK 15-15-15

150

kg

Pupuk susulan 1 (18-21 hst)

UREA

300

kg

 

NPK 15-15-15

250

kg

Pupuk Susulan 2 (31-35 hst)

ZA

200

kg

  • Ini adalah dosis maksimal rata rata di lahan sawah
  • Kebutuhan pupuk per plot 50 M² menyesuaikan dengan rekomendasi ini

Ringkasan pemupukan

23 of 60

Pemupukan

Fungsi unsur N :

Menambah tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah bulir per malai, jumlah bulir isi per malai dan meningkatkan kandungan protein dalam biji. Dengan demikian unsur N mempengaruhi semua parameter pendukung hasil produksi tanaman.

Fungsi unsur P :

Menambah jumlah anakan, perkembangan akar, memper-cepat pembungaan dan pemasakan.

Fungsi unsur K :

Meningkatkan jumlah bulir per malai, meningkatkan persentase bulir bernas dan menambah bobot 1000 butir

Sumber : IRRI

24 of 60

Pengairan

Lakukan pengairan dengan pola Irigasi Berselang/Intermittent (ada fase basah dan ada fase kering pada lahan).

  1. Setelah pindah tanam pertahankan lahan dalam kondisi macak-macak lalu airi lahan setinggi 2-3 cm selama 10 hari untuk menekan pertumbuhan gulma.
  2. Hentikan pengairan hingga tanah lapisan atas (top soil) retak, lalu airi lagi.
  1. Ulangi kegiatan pengeringan dan penggenangan hingga tanaman masuk fase pembungaan.

kering

kering

kering

6-10 cm

4-5 cm

2-3 cm

tanam

basah

basah

basah

basah

kering

25 of 60

Pengairan

  1. Menjelang fase generatif (masa pembungaan dan pengisian bulir) lakukan penggenangan air setinggi 5-10 cm hingga 10 hari menjelang panen. Kekurangan air pada masa ini berakibat pada pengisian bulir yang minim sehingga akan menurunkan hasil panen.
  2. 7 hari sebelum panen lahan dikeringkan untuk pemerataan pemasakan dan memudahkan panen.
  • Tanaman memperoleh oksigen yang cukup banyak untuk kebutuhan akar, agar mampu menembus ke lapisan tanah yang lebih dalam sehingga diperoleh banyak hara dan air.
  • Mengurangi kerebahan.
  • Memudahkan pengendalian serangan OPT

Tujuan dilakukan pengairan dg pola Irigasi Berselang adalah:

5-10 cm

26 of 60

Panen

Penentuan waktu panen merupakan salah satu faktor penting terhadap hasil gabah yang dihasilkan.

Pemanenan gabah yang ideal dilakukan bila sudah 90% masak fisiologis, artinya 90% gabah telah berubah warna dari hijau menjadi kuning, bila dihitung dari masa berbunga, telah mencapai 30-35 hari.

27 of 60

PENGENDALIAN

HAMA DAN PENYAKIT

28 of 60

Pengendalian Gulma

Fimbristylis miliacea (Babawangan)

Cyperus difformis (papayungan)

Batang segitiga, daun sempit, ujung runcing, cepat membentuk rumpun padat. Fase Dominan: 15–50 HST

Daun lebih halus dari Cyperus, tumbuh pada air dangkal, malai halus. Fase dominan 15–45 HS

Cyperus rotundus (Rumput Teki)

Batang segitiga, membentuk umbi kecil di bawah tanah, sangat sulit diberantas. Fase dominan sepanjang musim

Golongan Teki

29 of 60

Genjer Air (Monochoria vaginalis)

Genjer Sawah (Limnocharis flava)

Kayu Apu Air (Ludwigia octovalvis)

Semanggi Air (Marsilea crenata).

Fase dominan 20–60 HST

Fase dominan 30–70 HST

Fase dominan 25–60 HST

Fase dominan 30–70 HST

Echinochloa crus-galli

(Rumput Belulang / Jajagoan)

fase dominan 10–40 HST

Timunan (Leptochloa chinensis)

Rumput Beberutan

(Echinochloa colona)

Grinting (Digitaria ciliaris)

Gulma daun lebar

Gulma daun sempit

30 of 60

Logran (Triasulfuron)

  • Untuk Pra-Tumbuh / Sebelum Tanam
  • Tujuan: menekan biji gulma sebelum sempat tumbuh.
  • Dosis: 15 g/ha (10 pcs × 1,5 g).
  • Waktu aplikasi: 3–1 hari sebelum pindah tanam.
  • Kondisi lahan: macak-macak (tanah lembap tapi tidak tergenang).

BenFuron (Methyl Bensulfuron)

  • Untuk Gulma Teki & Gulma Daun Sempit
  • Dosis: 175 g/ha (7 pcs × 25 g).
  • Waktu aplikasi: saat gulma berdaun 2–3 helai (6–10 HST).
  • Cara: semprot merata menggunakan nozel kipas agar droplet halus dan menyebar rata.

BenPlus (Etil Klorimuron + Metil Metsulfuron + 2,4-D Natrium)

  • Untuk Gulma Daun Lebar & CampuranDosis: 280 g/ha (7 pcs × 40 g).
  • Waktu aplikasi: saat gulma berdaun 2–3 helai (10–14 HST).
  • Cara: airi petakan 1–2 hari setelah aplikasi, genangan 3–5 hari

Aplikasi Herbisida pada Padi

1-3 hari pra tanam

6- 10 hst

10- 14 hst

31 of 60

Hama Utama Tanaman Padi

32 of 60

Adalah hama yang menyerang tanaman padi pada stadia pembibitan sampai fase masak susu. Gejala yang ditimbulkan, tanaman menguning dan cepat kering, umumnya gejala terlihat pada satu lokasi tetapi penyebarannya sangat cepat.

Pengendalian :

Insektisida sistemik Winder 100EC (0,25-0,5 ml/L),

Winder 25WP (0,125-0,5 g/L), WinGran 0,5EC ditaburkan merata, atau Trisula 450SL (0,5-1,5 ml/L) atau promectin 18EC (1-2 ml/L). Vialli Top 30/30 WG dosis 1 gr/liter

Wereng Coklat (Nilavarpata lugens)

33 of 60

    • Vektor penyakit Rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV).

Fase: vegetatif

Gejala:

    • tanaman kerdil, berkurangnya jumlah anakan,
    • daun menguning hingga berwarna oranye atau kecoklatan dan menggulung/ terpelintir.
    • pemendekan ruas batang padi, sehingga mengakibatkan pertumbuhan daun seperti kipas

Gejala tungro pada tanaman padi, daun menguning, jumlah anakan berkurang(A); Wereng hijau (B); Gejala tungro dalam populasi (C); Ruas batang padi memendek (D)

Wereng Hijau Nephotettix virescens.

A

B

C

D

Pengendalian :

Insektisida sistemik Winder 100 (0,25-0,5 ml/L),

Winder 25WP (0,125-0,5 g/L), WinGran 0,5EC ditaburkan merata, atau Trisula 450SL (0,5-1,5 ml/L) atau promectin 18EC (1-2 ml/L). Vialli Top 30/30 WG dosis 1 gr/liter

34 of 60

Adalah hama yang menimbulkan kerusakan dan menurunkan hasil panen secara nyata. Serangan berawal saat tanaman di pembibitan sampai pembentukan malai. Mengakibatkan anakan padi kerdil dan mati. Salah satu penyebab terjadinya bulir hampa adalah serangan penggerek batang ini.

Sundep fase vetetative (dead heart)

Beluk di fase generative (white head)

Penggerek Batang (Scirpophaga incertulas, Tryporiza sp.)

Pengendalian prefentif:

Ventura: 0 - 7 hst, trisula: 7 – 14 hst, Promectin 25 – 30 hst, Minecto Xtra: 40 – 45 hst

35 of 60

Tikus (Rat)

Tikus merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan dan dapat menyebabkan kerusakan besar jika serangan terjadi setelah pembentukan primordia, tikus memakan titik tumbuh atau memotong pangkal batang untuk memakan butir gabah.

Pengendalian dilakukan secara terorganisir dalam skala luas oleh kelompok tani mulai pengolahan lahan sampai menjelang panen dengan cara penggropyokan. Menggunakan Rodentisida BRODIRAT 0,005BB dengan cara memberikan 1-2 umpan pada jalur tikus atau di depan lubang tikus.

36 of 60

Walang sangit menyerang tanaman padi dg cara menghisap cairan pada bulir-bulir padi yang baru terisi (masak susu) sehingga bulir gabah menjadi berwarna coklat dan isinya hampa (kosong).

Walang Sangit (Leptocorisa oratorius.)

Pengendalian:

Dengan Greeta 500EC 1 – 2 ml/L, Wingreat 400EC : 1,5 ml/L, atau Cyperban 590EC: 1 – 1,5 ml/L

37 of 60

Siput Murbei (Pomacea cannaliculata)

Siput murbei merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang di pertanaman.

Pengendalian dilakukan dengan cara membuat caren didalam dan disekeliling petakan sawah baik dimusim hujan dan musim kemarau, sehingga siput mencari air menuju caren dan memudahkan mengambil siput.

Gunakan Moluskisida ROMERO 50WP, semprotkan secara merata pada permukaan air dimana siput-siput mengambang dengan dosis formulasi 0,75 – 1 kg/Ha dengan volume semprot 500 liter per hektar.

38 of 60

Penyakit Utama Tanaman Padi

39 of 60

Hawar Daun Bakteri (BLB) (Xanthomonas Compestris pv oryzae)

Pada BLB (Bacterial Light Blight), daun yang sakit berubah menjadi hijau kelabu, mengering, helaian daunnya melengkung, diikuti melipatnya helaian daun sepanjang ibu tulang daun. Sumber infeksi dapat berasal dari jerami yang terinfeksi, singgang tanaman terinfeksi dan gulma inang.

Pengendaliannya adalah dengan menggunakan varietas tahan dan pemupukan yang seimbang, mengatur pengairan (hindari penggenangan terus menerus), semprot dengan menggunakan Copcide 77WP (0,5-1 g/L).

40 of 60

Bakteri Daun Bergaris (BLS) (Xanthomonas Compestris pv oryzicola)

Infeksi penyakit ini biasanya terbatas pada helaian daun saja. Gejala yang timbul berupa bercak sempit berwarna hijau gelap yang lama-kelamaan membesar berwarna kuning dan tembus cahaya di antara pembuluh daun kemudian berubah menjadi berwarna coklat dan berkembang menyamping melampaui pembuluh daun yang besar. Seluruh daun varietas yang rentan bisa berubah warna menjadi coklat dan mati.

Pengendaliannya adalah dengan menggunakan varietas yang tahan, pemupukan N yang tidak berlebihan dan mengatur jarak tanam, semprot dengan menggunakan Copcide 77WP (0,5-1 g/L).

Stadia tanaman yang paling rentan adalah dari fase anakan sampai stadia pematangan. Pada infeksi yang berat, kehilangan hasil dapat mencapai 30%.

41 of 60

BLAST (Pyricularia oryzae )

Blast daun, terbentuk bercak coklat kehitaman berbentuk belah ketupat dengan pusat bercak berwarna putih.

Blast leher, berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang mengakibatkan leher malai patah sehingga menyebabkan gabah hampa.

Pengendalianya, hindari pemupukan nitrogen yang berlebihan, sanitasi lahan dengan memus-nahkan sisa tanaman dan gulma, gunakan fungisida Recor 300EC (0,5-0,75 ml/L) atau dg menggunakan BOOM PADI saat memasuki fase promordia.

42 of 60

Bercak Coklat Cercospora (Cercospora janseana)

Penyakit ini merusak tanaman padi di lahan dengan sistem drainase yang buruk atau lahan yang kekurangan unsur hara, terutama kalium (K).

Serangan patogen menimbulkan gejala lurus sempit berwarna kecoklatan pada helaian daun bendera, juga dapat terjadi pada pelepah dan kulit gabah sehingga gabah terlihat kotor dan coklat.

Pengendaliannya dengan pemupukan yang seimbang, Lakukan pengeringan sawah beberapa hari pada saat anakan maksimum, dan lakukan rotasi tanaman. Dengan fungisida Recor 300EC (0,5-0,75 ml/L) atau Pyroxa 250SC 1 – 2 ml/L

43 of 60

Gosong Palsu (Ustilaginoidea virens)

Penyakit ini merusak bulir padi sebagai gejala bulir-bulir padi berubah menjadi gumpalan spora yang berukuran 1cm. Gumpalan spora tersebut mula-mula berwarna kuning sampai oranye kemudian menjadi hijau gelap. Penyebab penyakit ini adalah cendawan Ustilaginoidea virens.

Cendawan ini terutama merusak pada kondisi yang lembab, banyak hujan, mendung pada masa pembungaan, dan pupuk N yang berlebih. Pengendaliannya dengan pemupukan yang berimbang. Gunakan Filimax 650 SC (0.5-1 ml/L).

44 of 60

    • Disebabkan oleh dua virus yaitu Rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV).
    • Ditularkan oleh serangga vektor yakni wereng hijau Nephotettix virescens.
    • Menyerang tanaman padi pada fase vegetatif yang menyebabkan gejala khas tanaman kerdil, berkurangnya jumlah anakan, serta daun menguning hingga berwarna oranye ataupun kecoklatan dan menggulung/ terpelintir. Terjadi pemendekan ruas batang padi, sehingga mengakibatkan pertumbuhan daun seperti kipas.Gejala serangan dimulai dari daun bagian bawah yang selanjutnya berkembang pada daun di atasnya.

Gejala tungro pada tanaman padi, daun menguning, jumlah anakan berkurang(A); Ruas batang padi memendek (B); Gejala tungro dalam populasi (C); Wereng hijau (D).

Penyakit Tungro

Pengendalian dengan mengendalikan vektornya

45 of 60

    • Penyakit kerdil hampa disebabkan oleh infeksi Rice ragged stunt virus (RRSV), sedangkan penyakit kerdil rumput disebabkan oleh infeksi Rice grassy stunt virus (RGSV).
    • Keduanya ditularkan oleh serangga vektor yakni wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens).
    • Di lapangan, dua virus tersebut ditemukan pada tanaman padi secara bersamaan.

A

B

C

Gejala kerdil hampa pada daun dan bulir padi yang tidak terisi (A,B); Gejala kerdil rumput (C); Wereng batang cokelat (D).

D

Penyakit Kerdil Hampa dan Kerdil Rumput

Pengendalian dengan mengendalikan vektornya

46 of 60

Grain Rice Rot – Busuk Gabah oleh Fusarium moniliforme

(sinonim modern: Fusarium verticillioides).

  • Termasuk kelompok jamur tular benih (seed-borne pathogen) dan tular tanah (soil-borne).
  • Jamur berkembang baik pada kondisi, suhu hangat (25–30°C), kelembapan tinggi, lingkungan sawah dengan aerasi buruk menjelang panen.
  • Sering menginfeksi melalui malai atau leher malai yang luka, atau melalui gabah yang masih muda.

Gejala khas:�Gabah tampak seperti “berdebu putih”, ringan, dan mudah hancur bila diremas. Bila kelembapan tinggi, dapat muncul jamur merah muda pucat (fase sporulasi Fusarium).

Pengendaliannya dengan pemupukan yang berimbang. Gunakan Filimax 650 SC (0.5-1 ml/L) atau Boom Padi

47 of 60

Pengambilan Data Lapang

48 of 60

Tahapan Pengamatan

  1. PENGAMATAN 1 (7–15 HST) Awal fase vegetatif. Fokus pada serangan awal hama dan penyakit serta jumlah anakan awal.
  2. PENGAMATAN 2 (18–23 HST) Fase pertumbuhan aktif. Pantau perkembangan anakan dan potensi gangguan hama.
  3. PENGAMATAN 3 (24–55 HST) Fase vegetatif penuh. Evaluasi jumlah anakan, serangan penyakit, dan gejala fisiologis.
  4. PENGAMATAN 4 (55–70 HST) Transisi ke fase generatif. Identifikasi awal pembungaan dan penyakit generatif.
  5. PENGAMATAN 5 (70–80 HST) Fase pembentukan malai. Fokus pada penyakit malai dan kerebahan.
  6. PENGAMATAN 6 (80–90 HST) Fase pengisian gabah. Pantau perkembangan malai dan penyakit yang menyerang gabah.
  7. PENGAMATAN 8 (90–110 HST) Fase pematangan. Evaluasi kerebahan, tinggi tanaman, dan kematangan malai.
  8. PENGAMATAN 9 (Panen) Pengukuran hasil panen dan kualitas gabah.
  9. PENGAMATAN 10 (Pasca Panen VTE) Evaluasi kualitas beras dan karakteristik konsumsi.
  10. PENGAMATAN NASI (tidak wajib) Uji organoleptik nasi: rasa, aroma, tekstur, dan penampakan.

Deskripsi Komponen Pengamatan Trial Padi

49 of 60

Form pengamatan

50 of 60

PENGAMATAN 6 (80 - 90 HST)

PENGAMATAN 8 (90 - 110 HST)

Hawar Daun Bakteri (BLB) (%)

Potong Leher (Blas) (%)

Ustilago (False Smut) (%)

Kerdil Hampa (RSSV) (%)

Penggerek Batang (RSB) (%)

Wereng Cokelat (BPH) (%)

Tanaman Rebah (%)

Tanggal 85% malai masak fisiologis

Tinggi Tanaman (5 rumpun sample) (cm)

Jumlah Malai per rumpun (5 rumpun sample)

Rata -Rata panjang Malai (cm)

Rumpun 1

Rumpun 2

Rumpun 3

Rumpun 4

Rumpun 5

rata-rata

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

51 of 60

PENGAMATAN 9 (Panen)

PENGAMATAN 10 (Pasca Panen) VTE

PENGAMATAN NASI (tidak wajib)

Jumlah gabah dalam 1 malai

Luas Plot Panen/Ubinan

Kadar Air Panen (%)

Berat Gabah Panen (Kg)

berat Kering Giling (GKG) KA 14% (kg/ha)

Milling Quality (skala 1 = jelek, 5 = baik)

Bentuk Gabah

Eating Quality (1 - 5)

Ulangan 1

Ulangan 2

Ulangan 3

Rata-rata

Panjang (m)

Lebar (m)

Luas (m²)

Keterisian gabah (1 - 5)

Keseragaman gabah (1-5)

Kejernihan Beras (1: jernih - 5: kusam)

Ukuran Gabah ( 1: pendek - 5: panjang)

pilih: ramping, sedang, gemuk, bulat)

texture (1: keras, 5 : lembut)

Aroma (1:wangi, 5: Netral)

Penampakan (1: kusam- 5: putih bersih))

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

0

0

0

0

 

0

0

0

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-

 

 

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

52 of 60

Komponen

Cara Pengamatan

Serangan Keong (%)

Hitung persentase rumpun rusak akibat keong pada 1 petak (contoh: 10 rumpun rusak dari 100 rumpun = 10%).

Serangan Tikus (%)

Catat jumlah rumpun patah/mati karena gigitan tikus dibanding total rumpun di plot.

Hawar Daun Bergaris (BLS)

Hitung daun bergejala bercak bergaris per 10 rumpun contoh, ubah ke %.

Rice Orange Disease

Amati daun oranye kekuningan khas virus, catat % tanaman terinfeksi.

Hawar Daun Bakteri (BLB)

Hitung berapa % daun kering akibat BLB

Potong Leher (Blas)

Hitung jumlah malai patah atau kering pada leher malai (% malai terserang).

Ustilago (False Smut)

Hitung bola hijau-oranye pada malai (% malai terinfeksi).

Kerdil Hampa (RSSV)

Catat tanaman kerdil abnormal tanpa malai (% rumpun terserang).

Penggerek Batang (RSB)

Hitung % batang mati pucuk atau malai putih akibat larva.

Wereng Cokelat (BPH)

Catat % rumpun dengan gejala menguning/mati (hopper burn).

Pengamatan Hama & Penyakit

53 of 60

v

v

MONITORING HAMA DAN PENYAKIT

54 of 60

Pertumbuhan & Fisiologi

Komponen

Cara Pengamatan

Jumlah Anakan Vegetatif

Hitung total anakan per rumpun pada 5 rumpun contoh umur 25–30 HST.

Jumlah Anakan Produktif

Hitung anakan yang menghasilkan malai pada fase generatif (5 rumpun contoh).

50% Keluar Bunga

Catat tanggal ketika 50% rumpun di plot mulai keluar malai.

Kerebahan Tanaman (%)

Hitung jumlah rumpun rebah dibanding total rumpun ×100%.

Tinggi Tanaman (cm)

Ukur tinggi dari permukaan tanah ke ujung malai dari 5 rumpun contoh.

Jumlah Malai/Rumpun

Hitung jumlah malai per rumpun (5 sampel).

Panjang Malai (cm)

Ukur panjang malai dari pangkal ke ujung 5 malai contoh.

Jumlah Gabah/Malai

Hitung total gabah (isi + hampa) pada 5 malai contoh.

Tanggal 85% Malai Masak

Catat tanggal saat 85% malai berwarna kuning emas (fisiologis matang).

55 of 60

Pengukuran panjang malai

Pengukuran tinggi tanaman

Menghitung bulir per malai

Menghitung jumlah anakan

56 of 60

Panen & Pascapanen

Komponen

Cara Pengamatan

Luas Plot Panen

Panen semua tanaman tiap plot (misal ukuran plot 50 m²).

Kadar Air Panen (%)

Ukur dengan moisture meter

Berat Gabah Panen (kg)

Timbang total hasil panen plot.

Berat Kering Giling (GKG 14%)

Koreksi hasil panen ke kadar air 14% dengan rumus standar.

Milling Quality (1–5)

Skor hasil penggilingan: utuh, pecah, derajat putih.

Bentuk Gabah

Amati bentuk fisik: ramping, sedang, gemuk.

Eating Quality (1–5)

Tes organoleptik nasi: rasa, aroma, tekstur.

57 of 60

Panen

58 of 60

Mengukur KA panen

59 of 60

Kualitas Gabah & Beras

Komponen

Cara Pengamatan

Keterisian Gabah (1–5)

Nilai visual persentase gabah isi penuh.

Keseragaman Gabah (1–5)

Bandingkan ukuran dan bentuk gabah antar sampel.

Kejernihan Beras (1–5)

Nilai warna dan kebersihan beras hasil giling.

Ukuran & Bentuk Gabah (1–5)

Panjang-pendek dan bentuk (ramping–bulat).

Tekstur (1–5)

Nilai kelembutan nasi setelah masak.

Aroma (1–5)

Nilai intensitas aroma wangi atau netral.

Penampakan (1–5)

Nilai kilau dan warna nasi (kusam–putih cerah).

60 of 60

SELESAI

Type Sedang

Type bulat

Type ramping/slim