PETUNJUK PELAKSANAAN
DEMPLOT/TRIAL PADI
Pendahuluan
Tujuan:
Desain percobaan:
Parameter utama:
Persyaratan Lokasi
2. Riwayat lahan:
3. Ketinggian:
4. pH tanah:
5. Drainase & Sumber Air:
6. Kondisi lahan:
Alat-Alat
Persiapan Benih
Persemaian
Persiapan Lahan
Pindah Tanam
Pengairan
Pemupukan
Perawatan
Panen
Standart Prosedur Budidaya
Prosedur budidaya meliputi beberapa tahap:
Persiapan Benih
Untuk varietas padi hibrida dan inbrida berkulit tipis dan daya serap air cepat.
Seleksi benih:
Perendaman awal (imbibisi):
Inkubasi:
Pencegahan patogen:�Tambahkan fungisida sebelum semai misalnya Tricho Plus
Dipakai untuk varietas hibrida tertentu yang memiliki lapisan perikarp tebal atau mudah rusak bila imbibisi mendadak
Karakter varietas:
Perlakuan:
Tujuan:
Kelemahan:
Persemaian
Tutup bedeng semai tipis-tipis dengan tanah atau humus.
Pasang label plot agar tidak tertukar tanaman antar plot saat pindah tanam
Persemaian
100 gr Tricho Plus
20 kg Pupuk kandang
Sebagai Agen Antagonis (Biological Control Agent)
Mekanisme kerja antagonisnya:
Aplikasi Tricho Plus
Menurunkan intensitas penyakit rebah semai (seed rot, damping off), memperpanjang umur akar, dan meningkatkan vigor bibit.
Persemaian
Persiapan Lahan
tanah yang berpasir dan miskin unsur hara perlu diberi pupuk kandang sebanyak 10 ton per hektar.
Lakukan perbaikan saluran air dan galengan agar air bisa masuk dg baik dan tidak terjadi kebocoran.
Aplikasi Herbisida (optional)
Dilakukan sebelum olah tanah:
Aplikasi Rambo Gold, atau Optimus, atau Amandy
Pengolahan sebaiknya dilakukan dua kali agar diperoleh pelumpuran tanah yg baik.
Pengolahan Lahan
Pengaturan Plot
Dimensi Plot & Tata Letak Dasar
Orientasi bedengan/galengan:
Label plot:
Pindah Tanam
25 cm
25 cm
Perawatan
Komponen Utama Perawatan
Perawatan
Penyiangan gulma dengan alat manual
Perawatan dilakukan untuk:
Pengendalian Hama & Penyakit
Pemupukan
Catatan : tidak dianjurkan melakukan pemupukan melewati umur 40 hst; kebutuhan pupuk untuk setiap daerah dapat berbeda, tergantung dari ketersediaan hara ditanah dapat disesuaikan menurut rekomendasi Dinas Pertanian setempat.
Pemupukan
DOSIS PEMUPUKAN PADI HIBRIDA | |||
SAWAH IRIGASI per Hektar | |||
FERTILIZER | Dosis | WAKTU PEMAKAIAN | |
NPK 15-15-15 | 300 | kg | Pupuk dasar (7-10 hst) |
ZA | 150 | kg | |
| |||
NPK 15-15-15 | 150 | kg | Pupuk susulan 1 (18-21 hst) |
UREA | 300 | kg | |
| |||
NPK 15-15-15 | 250 | kg | Pupuk Susulan 2 (31-35 hst) |
ZA | 200 | kg | |
Ringkasan pemupukan
Pemupukan
Fungsi unsur N :
Menambah tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah bulir per malai, jumlah bulir isi per malai dan meningkatkan kandungan protein dalam biji. Dengan demikian unsur N mempengaruhi semua parameter pendukung hasil produksi tanaman.
Fungsi unsur P :
Menambah jumlah anakan, perkembangan akar, memper-cepat pembungaan dan pemasakan.
Fungsi unsur K :
Meningkatkan jumlah bulir per malai, meningkatkan persentase bulir bernas dan menambah bobot 1000 butir
Sumber : IRRI
Pengairan
Lakukan pengairan dengan pola Irigasi Berselang/Intermittent (ada fase basah dan ada fase kering pada lahan).
kering
kering
kering
6-10 cm
4-5 cm
2-3 cm
tanam
basah
basah
basah
basah
kering
Pengairan
Tujuan dilakukan pengairan dg pola Irigasi Berselang adalah:
5-10 cm
Panen
Penentuan waktu panen merupakan salah satu faktor penting terhadap hasil gabah yang dihasilkan.
Pemanenan gabah yang ideal dilakukan bila sudah 90% masak fisiologis, artinya 90% gabah telah berubah warna dari hijau menjadi kuning, bila dihitung dari masa berbunga, telah mencapai 30-35 hari.
PENGENDALIAN
HAMA DAN PENYAKIT
Pengendalian Gulma
Fimbristylis miliacea (Babawangan)
Cyperus difformis (papayungan)
Batang segitiga, daun sempit, ujung runcing, cepat membentuk rumpun padat. Fase Dominan: 15–50 HST
Daun lebih halus dari Cyperus, tumbuh pada air dangkal, malai halus. Fase dominan 15–45 HS
Cyperus rotundus (Rumput Teki)
Batang segitiga, membentuk umbi kecil di bawah tanah, sangat sulit diberantas. Fase dominan sepanjang musim
Golongan Teki
Genjer Air (Monochoria vaginalis)
Genjer Sawah (Limnocharis flava)
Kayu Apu Air (Ludwigia octovalvis)
Semanggi Air (Marsilea crenata).
Fase dominan 20–60 HST
Fase dominan 30–70 HST
Fase dominan 25–60 HST
Fase dominan 30–70 HST
Echinochloa crus-galli
(Rumput Belulang / Jajagoan)
fase dominan 10–40 HST
Timunan (Leptochloa chinensis)
Rumput Beberutan
(Echinochloa colona)
Grinting (Digitaria ciliaris)
Gulma daun lebar
Gulma daun sempit
Logran (Triasulfuron)
BenFuron (Methyl Bensulfuron)
BenPlus (Etil Klorimuron + Metil Metsulfuron + 2,4-D Natrium)
Aplikasi Herbisida pada Padi
1-3 hari pra tanam
6- 10 hst
10- 14 hst
Hama Utama Tanaman Padi
Adalah hama yang menyerang tanaman padi pada stadia pembibitan sampai fase masak susu. Gejala yang ditimbulkan, tanaman menguning dan cepat kering, umumnya gejala terlihat pada satu lokasi tetapi penyebarannya sangat cepat.
Pengendalian :
Insektisida sistemik Winder 100EC (0,25-0,5 ml/L),
Winder 25WP (0,125-0,5 g/L), WinGran 0,5EC ditaburkan merata, atau Trisula 450SL (0,5-1,5 ml/L) atau promectin 18EC (1-2 ml/L). Vialli Top 30/30 WG dosis 1 gr/liter
Wereng Coklat (Nilavarpata lugens)
Fase: vegetatif
Gejala:
Gejala tungro pada tanaman padi, daun menguning, jumlah anakan berkurang(A); Wereng hijau (B); Gejala tungro dalam populasi (C); Ruas batang padi memendek (D)
Wereng Hijau Nephotettix virescens.
A
B
C
D
Pengendalian :
Insektisida sistemik Winder 100 (0,25-0,5 ml/L),
Winder 25WP (0,125-0,5 g/L), WinGran 0,5EC ditaburkan merata, atau Trisula 450SL (0,5-1,5 ml/L) atau promectin 18EC (1-2 ml/L). Vialli Top 30/30 WG dosis 1 gr/liter
Adalah hama yang menimbulkan kerusakan dan menurunkan hasil panen secara nyata. Serangan berawal saat tanaman di pembibitan sampai pembentukan malai. Mengakibatkan anakan padi kerdil dan mati. Salah satu penyebab terjadinya bulir hampa adalah serangan penggerek batang ini.
Sundep fase vetetative (dead heart)
Beluk di fase generative (white head)
Penggerek Batang (Scirpophaga incertulas, Tryporiza sp.)
Pengendalian prefentif:
Ventura: 0 - 7 hst, trisula: 7 – 14 hst, Promectin 25 – 30 hst, Minecto Xtra: 40 – 45 hst
Tikus (Rat)
Tikus merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan dan dapat menyebabkan kerusakan besar jika serangan terjadi setelah pembentukan primordia, tikus memakan titik tumbuh atau memotong pangkal batang untuk memakan butir gabah.
Pengendalian dilakukan secara terorganisir dalam skala luas oleh kelompok tani mulai pengolahan lahan sampai menjelang panen dengan cara penggropyokan. Menggunakan Rodentisida BRODIRAT 0,005BB dengan cara memberikan 1-2 umpan pada jalur tikus atau di depan lubang tikus.
Walang sangit menyerang tanaman padi dg cara menghisap cairan pada bulir-bulir padi yang baru terisi (masak susu) sehingga bulir gabah menjadi berwarna coklat dan isinya hampa (kosong).
Walang Sangit (Leptocorisa oratorius.)
Pengendalian:
Dengan Greeta 500EC 1 – 2 ml/L, Wingreat 400EC : 1,5 ml/L, atau Cyperban 590EC: 1 – 1,5 ml/L
Siput Murbei (Pomacea cannaliculata)
Siput murbei merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang di pertanaman.
Pengendalian dilakukan dengan cara membuat caren didalam dan disekeliling petakan sawah baik dimusim hujan dan musim kemarau, sehingga siput mencari air menuju caren dan memudahkan mengambil siput.
Gunakan Moluskisida ROMERO 50WP, semprotkan secara merata pada permukaan air dimana siput-siput mengambang dengan dosis formulasi 0,75 – 1 kg/Ha dengan volume semprot 500 liter per hektar.
Penyakit Utama Tanaman Padi
Hawar Daun Bakteri (BLB) (Xanthomonas Compestris pv oryzae)
Pada BLB (Bacterial Light Blight), daun yang sakit berubah menjadi hijau kelabu, mengering, helaian daunnya melengkung, diikuti melipatnya helaian daun sepanjang ibu tulang daun. Sumber infeksi dapat berasal dari jerami yang terinfeksi, singgang tanaman terinfeksi dan gulma inang.
Pengendaliannya adalah dengan menggunakan varietas tahan dan pemupukan yang seimbang, mengatur pengairan (hindari penggenangan terus menerus), semprot dengan menggunakan Copcide 77WP (0,5-1 g/L).
Bakteri Daun Bergaris (BLS) (Xanthomonas Compestris pv oryzicola)
Infeksi penyakit ini biasanya terbatas pada helaian daun saja. Gejala yang timbul berupa bercak sempit berwarna hijau gelap yang lama-kelamaan membesar berwarna kuning dan tembus cahaya di antara pembuluh daun kemudian berubah menjadi berwarna coklat dan berkembang menyamping melampaui pembuluh daun yang besar. Seluruh daun varietas yang rentan bisa berubah warna menjadi coklat dan mati.
Pengendaliannya adalah dengan menggunakan varietas yang tahan, pemupukan N yang tidak berlebihan dan mengatur jarak tanam, semprot dengan menggunakan Copcide 77WP (0,5-1 g/L).
Stadia tanaman yang paling rentan adalah dari fase anakan sampai stadia pematangan. Pada infeksi yang berat, kehilangan hasil dapat mencapai 30%.
BLAST (Pyricularia oryzae )
Blast daun, terbentuk bercak coklat kehitaman berbentuk belah ketupat dengan pusat bercak berwarna putih.
Blast leher, berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang mengakibatkan leher malai patah sehingga menyebabkan gabah hampa.
Pengendalianya, hindari pemupukan nitrogen yang berlebihan, sanitasi lahan dengan memus-nahkan sisa tanaman dan gulma, gunakan fungisida Recor 300EC (0,5-0,75 ml/L) atau dg menggunakan BOOM PADI saat memasuki fase promordia.
Bercak Coklat Cercospora (Cercospora janseana)
Penyakit ini merusak tanaman padi di lahan dengan sistem drainase yang buruk atau lahan yang kekurangan unsur hara, terutama kalium (K).
Serangan patogen menimbulkan gejala lurus sempit berwarna kecoklatan pada helaian daun bendera, juga dapat terjadi pada pelepah dan kulit gabah sehingga gabah terlihat kotor dan coklat.
Pengendaliannya dengan pemupukan yang seimbang, Lakukan pengeringan sawah beberapa hari pada saat anakan maksimum, dan lakukan rotasi tanaman. Dengan fungisida Recor 300EC (0,5-0,75 ml/L) atau Pyroxa 250SC 1 – 2 ml/L
Gosong Palsu (Ustilaginoidea virens)
Penyakit ini merusak bulir padi sebagai gejala bulir-bulir padi berubah menjadi gumpalan spora yang berukuran 1cm. Gumpalan spora tersebut mula-mula berwarna kuning sampai oranye kemudian menjadi hijau gelap. Penyebab penyakit ini adalah cendawan Ustilaginoidea virens.
Cendawan ini terutama merusak pada kondisi yang lembab, banyak hujan, mendung pada masa pembungaan, dan pupuk N yang berlebih. Pengendaliannya dengan pemupukan yang berimbang. Gunakan Filimax 650 SC (0.5-1 ml/L).
Gejala tungro pada tanaman padi, daun menguning, jumlah anakan berkurang(A); Ruas batang padi memendek (B); Gejala tungro dalam populasi (C); Wereng hijau (D).
Penyakit Tungro
Pengendalian dengan mengendalikan vektornya
A
B
C
Gejala kerdil hampa pada daun dan bulir padi yang tidak terisi (A,B); Gejala kerdil rumput (C); Wereng batang cokelat (D).
D
Penyakit Kerdil Hampa dan Kerdil Rumput
Pengendalian dengan mengendalikan vektornya
Grain Rice Rot – Busuk Gabah oleh Fusarium moniliforme
(sinonim modern: Fusarium verticillioides).
Gejala khas:�Gabah tampak seperti “berdebu putih”, ringan, dan mudah hancur bila diremas. Bila kelembapan tinggi, dapat muncul jamur merah muda pucat (fase sporulasi Fusarium).
Pengendaliannya dengan pemupukan yang berimbang. Gunakan Filimax 650 SC (0.5-1 ml/L) atau Boom Padi
Pengambilan Data Lapang
Tahapan Pengamatan
Deskripsi Komponen Pengamatan Trial Padi
Form pengamatan
PENGAMATAN 6 (80 - 90 HST) | PENGAMATAN 8 (90 - 110 HST) | ||||||||||||||||||||||
Hawar Daun Bakteri (BLB) (%) | Potong Leher (Blas) (%) | Ustilago (False Smut) (%) | Kerdil Hampa (RSSV) (%) | Penggerek Batang (RSB) (%) | Wereng Cokelat (BPH) (%) | Tanaman Rebah (%) | Tanggal 85% malai masak fisiologis | Tinggi Tanaman (5 rumpun sample) (cm) | Jumlah Malai per rumpun (5 rumpun sample) | Rata -Rata panjang Malai (cm) | |||||||||||||
Rumpun 1 | Rumpun 2 | Rumpun 3 | Rumpun 4 | Rumpun 5 | rata-rata | ||||||||||||||||||
1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
PENGAMATAN 9 (Panen) | PENGAMATAN 10 (Pasca Panen) VTE | PENGAMATAN NASI (tidak wajib) | |||||||||||||||
Jumlah gabah dalam 1 malai | Luas Plot Panen/Ubinan | Kadar Air Panen (%) | Berat Gabah Panen (Kg) | berat Kering Giling (GKG) KA 14% (kg/ha) | Milling Quality (skala 1 = jelek, 5 = baik) | Bentuk Gabah | Eating Quality (1 - 5) | ||||||||||
Ulangan 1 | Ulangan 2 | Ulangan 3 | Rata-rata | Panjang (m) | Lebar (m) | Luas (m²) | Keterisian gabah (1 - 5) | Keseragaman gabah (1-5) | Kejernihan Beras (1: jernih - 5: kusam) | Ukuran Gabah ( 1: pendek - 5: panjang) | pilih: ramping, sedang, gemuk, bulat) | texture (1: keras, 5 : lembut) | Aroma (1:wangi, 5: Netral) | Penampakan (1: kusam- 5: putih bersih)) | |||
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - | 0 | 0 | 0 | 0 |
| 0 | 0 | 0 |
|
|
| - |
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| - |
|
| - |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Komponen | Cara Pengamatan |
Serangan Keong (%) | Hitung persentase rumpun rusak akibat keong pada 1 petak (contoh: 10 rumpun rusak dari 100 rumpun = 10%). |
Serangan Tikus (%) | Catat jumlah rumpun patah/mati karena gigitan tikus dibanding total rumpun di plot. |
Hawar Daun Bergaris (BLS) | Hitung daun bergejala bercak bergaris per 10 rumpun contoh, ubah ke %. |
Rice Orange Disease | Amati daun oranye kekuningan khas virus, catat % tanaman terinfeksi. |
Hawar Daun Bakteri (BLB) | Hitung berapa % daun kering akibat BLB |
Potong Leher (Blas) | Hitung jumlah malai patah atau kering pada leher malai (% malai terserang). |
Ustilago (False Smut) | Hitung bola hijau-oranye pada malai (% malai terinfeksi). |
Kerdil Hampa (RSSV) | Catat tanaman kerdil abnormal tanpa malai (% rumpun terserang). |
Penggerek Batang (RSB) | Hitung % batang mati pucuk atau malai putih akibat larva. |
Wereng Cokelat (BPH) | Catat % rumpun dengan gejala menguning/mati (hopper burn). |
Pengamatan Hama & Penyakit
v
v
MONITORING HAMA DAN PENYAKIT
Pertumbuhan & Fisiologi
Komponen | Cara Pengamatan |
Jumlah Anakan Vegetatif | Hitung total anakan per rumpun pada 5 rumpun contoh umur 25–30 HST. |
Jumlah Anakan Produktif | Hitung anakan yang menghasilkan malai pada fase generatif (5 rumpun contoh). |
50% Keluar Bunga | Catat tanggal ketika 50% rumpun di plot mulai keluar malai. |
Kerebahan Tanaman (%) | Hitung jumlah rumpun rebah dibanding total rumpun ×100%. |
Tinggi Tanaman (cm) | Ukur tinggi dari permukaan tanah ke ujung malai dari 5 rumpun contoh. |
Jumlah Malai/Rumpun | Hitung jumlah malai per rumpun (5 sampel). |
Panjang Malai (cm) | Ukur panjang malai dari pangkal ke ujung 5 malai contoh. |
Jumlah Gabah/Malai | Hitung total gabah (isi + hampa) pada 5 malai contoh. |
Tanggal 85% Malai Masak | Catat tanggal saat 85% malai berwarna kuning emas (fisiologis matang). |
Pengukuran panjang malai
Pengukuran tinggi tanaman
Menghitung bulir per malai
Menghitung jumlah anakan
Panen & Pascapanen
Komponen | Cara Pengamatan |
Luas Plot Panen | Panen semua tanaman tiap plot (misal ukuran plot 50 m²). |
Kadar Air Panen (%) | Ukur dengan moisture meter |
Berat Gabah Panen (kg) | Timbang total hasil panen plot. |
Berat Kering Giling (GKG 14%) | Koreksi hasil panen ke kadar air 14% dengan rumus standar. |
Milling Quality (1–5) | Skor hasil penggilingan: utuh, pecah, derajat putih. |
Bentuk Gabah | Amati bentuk fisik: ramping, sedang, gemuk. |
Eating Quality (1–5) | Tes organoleptik nasi: rasa, aroma, tekstur. |
Panen
Mengukur KA panen
Kualitas Gabah & Beras
Komponen | Cara Pengamatan |
Keterisian Gabah (1–5) | Nilai visual persentase gabah isi penuh. |
Keseragaman Gabah (1–5) | Bandingkan ukuran dan bentuk gabah antar sampel. |
Kejernihan Beras (1–5) | Nilai warna dan kebersihan beras hasil giling. |
Ukuran & Bentuk Gabah (1–5) | Panjang-pendek dan bentuk (ramping–bulat). |
Tekstur (1–5) | Nilai kelembutan nasi setelah masak. |
Aroma (1–5) | Nilai intensitas aroma wangi atau netral. |
Penampakan (1–5) | Nilai kilau dan warna nasi (kusam–putih cerah). |
SELESAI
Type Sedang
Type bulat
Type ramping/slim