PEMBANGUNAN KEHUTANAN BERBASIS 4.0
UNTUK MITIGASI PERUBAHAN IKLIM DAN MEWUJUDKAN EKONOMI HIJAU
Seminar Nasional
Jakarta, 24 Maret 2022
1
MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
REPUBLIK INDONESIA
2
Pengantar
Sumber :
Tantangan Industri 4.0
Pasca Covid-19 :
Build Back Better
3
President of RI Joko Widodo
COP21/CMP11, Paris-France, 2015
Minister of Environment and Forestry.
High-level Signature Ceremony of the Paris Agreement. New York, USA, 2016. 2016
Ratification of the Paris Agreement
(UU No. 16/2016)
The First NDC (Nov, 2016)
NDC Roadmaps (2019)
The Updated NDC (July, 2021)
LTS-LCCR 2050 (July, 2021)
PARIS AGREEMENT
The First NDC Indonesia, Updated NDC, LTS-LCCR 2050
4
Menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar :
SASARAN
melalui upaya aksi penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya
497 MTonCO2e
pada areal seluas 30.471.000 Ha
650 MTonCO2e
pada areal seluas 29.520.000 Ha
Skenario (CM1)
Skenario (CM2)
5
SEKTOR HUTAN DAN PENGGUNAAN LAHAN
TULANG PUNGGUNG
DALAM PENGENDALIAN PERUBAHAN IKLIM 2030
6
AKSI MITIGASI
SEKTOR FOLU
PENGURANGAN LAJU DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN
PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI
PENGELOLAAN HUTAN LESTARI
REHABILITASI HUTAN
PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT DAN MANGROVE
KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI
7
FOLU Net Sink 2030
Upaya menjaga hutan secara lestari dalam rangka pengurangan emisi Gas Rumah Kaca di tahun 2030
8
KLHK telah menetapkan Keputusan Menteri LHK Nomor SK.168/MENLHK/PKTL/PLA.1/2/2022 tentang INDONESIA’S FORESTRY AND OTHER LAND USE (FOLU) NET SINK 2030 UNTUK PENGENDALIAN PERUBAHAN IKLIM
Langkah-langkah korektif sektor kehutanan
(dalam kurun 7 tahun terakhir)
8. Dengan diundangkannya UU Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UUCK), semakin jelas kebijakan tentang keharusan aktualisasi keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan.
10
Mendetailkan target NDC ke dalam rencana aksi penurunan emisi GRK sektor kehutanan dan lahan
Menentukan penanggungjawab rencana aksi penurunan emisi GRK sektor kehutanan dan lahan
Merumuskan tahapan evaluasi terhadap detil rencana aksi penurunan emisi gas rumah kaca sektor kehutanan dan lahan
Menetapkan rencana operasional aksi penurunan emisi gas rumah kaca sektor kehutanan dan lahan
1
2
3
4
TUJUAN RENCANA OPERASIONAL INDONESIA FOLU 2030
11
NDC SEKTOR KEHUTANAN
Penurunan Emisi dari Deforestasi
dan Degradasi Hutan
Pengurangan Laju Deforestasi (Mineral/Gambut)
Pengurangan Laju Degradasi Hutan (Mineral/Gambut)
Pembangunan Hutan Tanaman
Penanaman di Hutan Tanaman Industri
Sustainable Management of Forest
RIL (Reduced Impact Logging)-C
Enhanced Natural Regeneration (ENR)
Rehabilitasi Hutan
Rehabilitasi Dengan Rotasi
Rehabilitasi Non Rotasi
Pengelolaan Lahan Gambut
Restorasi Gambut
Perbaikan Tata Air Gambut
Diagram Aksi Road Map Mitigasi NDC
12
Pendanaan untuk mencapai target net-sink FOLU 2030
13
KPHK
KPHP
KPHL
PASAR EKSPOR
Transformasi “Timber Management” menjadi “Forest Landscape Management”
Modalitas untuk Net Sink FOLU 2030
PERANAN KAWASAN KONSERVASI SEBAGAI BASIS MENJAGA PERUBAHAN IKLIM
14
Ketahanan Pangan & Sumber Penghidupan
.
Ketahanan Ekonomi
.
Ketahanan Ekosistem & lanskap
15
MENGURANGI LAJU PENYUSUTAN HUTAN
Laju Deforestasi Indonesia
Komitmen mengurangi laju deforestasi dan degradasi hutan, terutama dari kebakaran hutan dan lahan serta pembalakan liar.
16
TATA KELOLA GAMBUT
Kegiatan restorasi gambut melalui program pembangunan sekat kanal bersama dengan masyarakat
Restorasi
Pengaturan tinggi muka air dan
pencegahan drainase berlebih adalah
salah satu upaya untuk menjaga
kestabilan lahan gambut
Pemantauan Tinggi Muka Air Gambut
penyekatan saluran dan parit serta
reforestasi untuk menjaga lahan gambut tetap basah.
Tata Air Gambut
Setelah disekat, aliran air tertahan dan meningkatkan tinggi muka air tanah pada lahan
Masyarakat secara sadar merawat sekat kanal untuk menjaga Kesehatan lahan gambut
17
PENAMBAHAN LUAS TUTUPAN HUTAN DAN LAHAN
Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Rehabilitasi Mangrove
18
Integrasi Lintas Sektor Pengelolaan Hasil Hutan:
Ekosistem bisnis baru berdaya saing dan berkelanjutan
LIMA PILAR PENGELOLAAN HUTAN BERKELANJUTAN
19
0
2
0
5
0
3
0
4
0
1
KEPASTIAN
KAWASAN
JAMINAN BERUSAHA
PRODUKTIVITAS
DIVERSITAS PRODUK
DAYA SAING
Memberi kepastian pengelolaan kawasan hutan
URGENSI �MULTI USAHA KEHUTANAN
20
FILOSOFIS
bahwa sumberdaya hutan yang dikuasai oleh negara, seharusnya dapat dipergunakan sebesar- sebesarnya untuk kemakmuran rakyat
SOSIOLOGIS
bahwa seluruh kawasan hutan seharusnya berhutan, dengan produktifitas yang tinggi dan memberikan manfaat sosial, ekonomi dan ekologi bagi masyarakat secara optimal
YURIDIS
bahwa perlunya satu izin untuk semua jenis kegiatan dalam kawasan hutan yang terintegrasi dalam satu rencana kerja
PERIZINAN BERUSAHA PEMANFAATAN HUTAN (PBPH)�BERBASIS MULTIUSAHA KEHUTANAN
21
IUPJL
IUPHHBK
IUPHHK-HTI
IUPHHK-HA
/RE
PEMUNGUTAN HASIL HUTAN KAYU DAN/ATAU BUKAN KAYU
Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan
Pemanfaatan Kawasan
Pemanfaatan
Jasa Lingkungan
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu
Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu
Pemungutan Hasil Hutan Kayu Dan/Atau Bukan Kayu
MULTI USAHA
PEMANFAATAN HUTAN LINDUNG DAN HUTAN PRODUKSI
22
Perizinan Berusaha Melalui Multiusaha Kehutanan Di HUTAN LINDUNG
Perizinan Berusaha Melalui Multiusaha Kehutanan Di HUTAN PRODUKSI
PENGELOLAAN HUTAN LESTARI HULU, HILIR & PASAR
23
Hulu
Hilir
Pasar
Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan
Usaha Pemanfaatan Hutan
PNBP
Pemanfaatan Hutan
Penatausahaan Hasil
Hutan (PUHH)
Tata Hutan dan Rencana Pengelolaan Kawasan Hutan
Pengolahan Hasil Hutan
Pemasaran Hasil Hutan (Penjaminan Legalitas Hasil Hutan)
BINDALWAS dan Sanksi
administratif
1
2
3
4
5
1
2
1
Integrasi kebijakan antar sektor
Kementerian Kehutanan
KLHK; KemenPerin, KemenDag
KemenDag
24
PENGOLAHAN HASIL HUTAN TERINTEGRASI
Memudahkan dalam proses pasca panen
SI RPHJP
SIGANIS
SICAKAP
SIPUHH
RPBBI
SI PNBP
SILK
PENGELOLAAN HUTAN LESTARI
DATA
PENGELOLAAN HUTAN LESTARI
PRODUKSI KAYU BULAT PER PROVINSI �TW IV 2021 TOTAL 55.513.461 m3
33
Persentase produksi kayu bulat di Indonesia tertinggi di regional Sumatera (75,42%), diikuti oleh regional Kalimantan (19.04%) dan regional Papua (2,63%).
Produksi kayu bulat per provinsi di Indonesia tertinggi di Provinsi Riau senilai 24,23 juta m3, di ikuti Provinsi Sumatera Selatan 10,32 juta m3, Provinsi Jambi 5,3
juta m3, Provinsi Kalimantan Timur 4,8 m3, dan Provinsi Kalimantan Tengah 3,3 juta m3.
PRODUKSI HASI HUTAN BUKAN KAYU PER PROVINSI �TW IV 2021 TOTAL 681.201,28 ton
34
Persentase produksi hasil hutan bukan kayu di Indonesia tertinggi di regional Jawa (49,85%),
diikuti oleh regional Sumatera
(29,7%) dan regional Sulawesi (4,29%).
Produksi hasil hutan bukan kayu
per provinsi di Indonesia tertinggi di Provinsi Jawa Timur senilai 194,26 ribu ton, di ikuti Provinsi Lampung 120,67 ribu ton, Provinsi Jawa Tengah 106,19 ribu ton, Provinsi Sulawesi Barat 65,98 ribu ton, dan Provinsi Sumatera Utara 46,78 ribu ton.
KINERJA EKSPOR HASIL HUTAN KE BEBERAPA NEGARA
35
USA
+50,40%
CHINA
+24,51%
UNI EROPA
+26,10%
KOREA
+110,81%
JAPAN
+20,80%
S.D TW IV 2021: UNI EROPA MENINGKAT 48,31%
No | Tujuan Negara | Nilai Ekspor (USD) | |
Desember-20 | Desember-21 | ||
AMERICA
OF KOREA
UNION
1 U. S. 1.618.729.583,59 | 2.434.591.597,10 |
2 CHINA 3.187.759.282,24 | 3.969.094.308,09 |
3 REPUBLIC 689.673.734,89 | 764.253.192,36 |
4 JAPAN 1.151.610.126,53 | 1.391.127.890,40 |
5 EUROPEAN 999.797.360,46 | 1.260.747.142,79 |
sumber : phl.menlhk.go.id
CAPAIAN HASIL HUTAN PRODUKSI
36
2015 2016 2017 2018 2019 2020 *2021
sumber : phl.menlhk.go.id
2015
2016
2017
2018
2019
2020 *2021
S.D TW IV 2021: KAYU BULAT 55,51 juta m3 dan HHBK 681,20 ribu ton
Produksi hasil hutan bukan kayu (ribu ton)
Produksi kayu bulat (juta m3)
217
301
316
358
474
558
681,2
YoY (JAN-DES
2020)
22,1%
38,31
38,32
40,01
48,73
48,75
52,2
55,51
YoY (JAN-DES
2020)
6,34
TREN KINERJA EKSPOR HASIL HUTAN INDONESIA
JAN 2020 s.d DES 2021
37
2,1% 2,3%
-1,9% -4,3%
-8,4%
-5,0%
-6,0%
-6,9%
-4,2%
-3,6%
-4,9%
6,3%
9,1%
13,6%
21,6%
25,0%
19,9%
23,7%
19,4% 20,55%
24,75%
32,38%
-4,7%
32,66%
Jan-20 Feb-20 Mar-20 Apr-20 May-20 Jun-20 Jul-20 Aug-20 Sep-20 Oct-20 Nov-20 Dec-20
Jan-21 Feb-21 Mar-21 Apr-21 May-21 Jun-21 Jul-21 Aug-21 Sep-21 Oct-21 Nov-21 Dec-21
No | Produk | Nilai Ekspor (USD) | Perubahan | Keterangan |
| Desember-20 Desember-21 | |||
| | | | |||
| | Tren kinerja Positif ekspor hasil hutan | ||||
1 | Bangunan Prefabrikasi | 2.030.294,56 | 2.075.753,89 | 2,24% | Naik | membangkitkan ekonomi di masa pandemi, |
2 | Woodchip (Serpih Kayu) | 50.450.382,16 | 99.032.121,08 | 96,30% | Naik | pada Desember 2021 nilai ekspor hasil |
3 | Furnitur Kayu | 1.537.711.563,88 | 2.137.978.799,24 | 39,04% | Naik | hutan sebesar 14,68 Miliar USD, jika |
4 | Kerajinan | 86.513.718,22 | 109.411.331,20 | 26,47% | Naik | dibandingkan dengan capaian pada bulan |
5 | Panel | 2.168.383.296,93 | 4.036.366.799,00 | 86,15% | Naik | yang sama di tahun sebelumnya, mengalami |
6 | Paper | 3.534.744.822,60 | 3.735.788.290,77 | 5,69% | Naik | peningkatan sebesar 32,66%. Produk |
7 | Pulp | 2.530.485.645,99 | 3.250.974.756,55 | 28,47% | Naik | woodchip, veneer dan panel menjadi jenis |
8 | Veneer | 80.780.666,41 | 117.391.307,60 | 45,32% | Naik | dengan peningkatan produksi tertinggi. |
9 | Woodworking | 1.076.061.289,30 | 1.192.172.838,82 | 10,79% | Naik | |
| Total | 11.067.161.680,03 | 14.681.191.998,11 | 32,66% | Naik | sumber : phl.menlhk.go.id (16 Januari 2022) |
Nilai Ekspor Kayu Per Jenis
No
Produk
Nilai Ekspor (USD)
Desember-20
Desember-21
Perubahan
Kategori
CAPAIAN EKSPOR KAYU OLAHAN
38
9,84
9,27
10,98
12,18
11,63
11,06
14,68
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021
sumber : phl.menlhk.go.id
MILYAR USD
S.D TW IV 2021 14,68 Milyar USD
Perkembangan Nilai Ekspor 2021 per bulan
Perkembangan Nilai Ekspor per Tahun
960,94
993,83
1.159,39
1.046,38
1.069,17
1.246,15
1.514,13
2.034,82
1.331,41
3,42%
14,39%
1,99%
-9,75%
2,18%
3,85%
-2,26%
14,83%
-34,57%
JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DES
JUTA USD
YoY (JAN-DES
2020)
32,66%
21,50%
34,39%
1.136,81
1.085,19
1.110,28
DASAR HUKUM KEBIJAKAN PERDAGANGAN LUAR NEGERI
39
Di Bidang Ekspor Produk Industri Kehutanan
Penyelenggaraan Bidang Perdagangan
PP NO. 29 Tahun 2021
Klasifikasi Barang dilarang Ekspor dan Barang dilarang Impor
Permendag 18/2021
Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Rasiko
PP NO. 5 Tahun 2011
Kebijakan dan Pengaturan Ekspor
Permendag 19/2021
Barang Bebas Ekspor
Diluar yang diatur Permendag 18/2021 & Permendag 19/2021
40
196.71 Juta Jiwa Pengguna Internet dari 266,91 Juta Jiwa Penduduk Indonesia atau 73,7%
Sumber: APJII tahun 2020
49%
Milenial
19-34 Tahun
34%
Generasi X
35-54 Tahun
17%
Generasi Z
13-18 Tahun
73,7%
Pengguna Internet Berdasarkan Generasi
Potensi Pasar Start Up Indonesia
Penggunaan E-Commerce Indonesia Tertinggi di Dunia
41
10 Negara dengan Persentase Penggunaan E-Commerce Tertinggi di Dunia (April 2021)
Sumber: Katadata (We Are Social,21 April 2021)
Proyeksi Peluang Usaha ke depan
42
Eco-wisata
Makanan dan Minuman berbasis bahan alami
Watu Patung – Limpakuwus – Air Berik – Sungai Buluh
Madu Kelulut – Madu Dorsata – Kopi – Coklat
43
PEMANFAATAN
HASIL HUTAN
Mempromosikan Produk Hasil Hutan melalui e-commerce
44
DIGITAL MARKETING MELALUI BURSA KOPI NUSANTARA icoffeex.id
DIGITAL MARKETING MELALUI usahahutan.id
DIGITAL MARKETING MELALUI PLATFORM E-COMMERCE
Meningkatkan produktifitas pendapatan usaha masyarakat kecil dan menengah, dan menjangkau lebih banyak konsumen dan pelaku bisnis.
Mempromosikan Produk Hasil Hutan melalui Website Katalog Hutan Sosial
45
Meningkatkan informasi produk hasil hutan agar konsumen semakin tertarik untuk membeli atau menjalin Kerjasama bisnis (mitra bisnis) dengan masyarakat.
46
47
48
49
HASIL PEMANFAATAN
ECO-WISATA
Mempromosikan Ekowisata melalui website dan katalog wisata
50
Meningkatkan jangkauan wisatawan tentang informasi wisata alam, dan menghubungkannya dengan pelaku usaha wisata alam
51
WANA WISATA WATU PAYUNG
Hasta Apsari
Tujuh bidadari dalam legenda kisah Jaka Tarub
Manara Mercusuar
Ikon yang menjadi simbol penerang bagi rakyat dan sebagai bukti kerja nyata masyarakat yang dilakukan bersama
Andum Tuntum
Andum Tuntum berarti tumbuh kembali yang juga dipercaya sebagai simbol tumbuhnya perekonomian rakyat
Wana Wisata Watu Payung merupakan objek wisata yang dikelola oleh HKm Sido Mulyo III dengan izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan melalui Surat Keputusan Bupati Gunung Kidul Nomor 225/KPTS/2007 seluas ±17,4 Ha pada kawasan Hutan Lindung. Wana wisata ini memadukan aspek lingkungan dan karya seni. Geoforest Watu Payung sendiri masuk kedalam site Geopark UNESCO dengan ikon berupa batu berbentuk payung. Legenda yang ada dimulai dari seorang pertapa putra pangeran Raden Patah yang melakukan pengembaraan ke wilayah hutan di Gunung Kidul dan legenda Jaka Tarub serta Tujuh Bidadari. Wana Wisata Watu Payung sendiri memiliki 3 view environmental art, yakni Hasta Apsari, Menara Mercusuar dan Andum Tuntum.
50 PeSoNa Ekowisata
Contoh Informasi dalam katalog 50 Pesona Ekowisata
52
Berada di Jorong Ladang Nagari Kamang Hilia Kec. Kamang Magek Kab. Agam Prov. Sumatera Barat, kawasan wisata yang di kelola oleh Hutan Nagari Kamang Hilia ini menawarkan pesona bentang alam yang sangat indah.
Anda dapat menikmati berbagai macam wisata seperti jelajah hutan, offroad trail wisata, camping, rock climbing, sepeda gunung serta wisata yang memacu adrenalin dengan penawaran keindahan Nagari Kamang Hilia melalui wisata paralayang
HUTAN NAGARI KEMANG HILIA
50 PeSoNa Ekowisata
Contoh Informasi dalam katalog 50 Pesona Ekowisata
53
ARSEL COMMUNITY
Arsel Community mengelola HKm Bukit peramun yang asal katanya
Peramuan, muncul dari tradisi masyarakat jaman dulu secara
turun temurun menjadikan bukit peramun sebagai tempat tumbuhnya beranekaragam tumbuhan lokal yang bermanfaat untuk meramu obat- obatan herbal tradisional. kemudian dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata baru dengan harapan bisa mensejahterakan anggota khususnya dan masyarakat sekitar.
50 PeSoNa Ekowisat
Contoh Informasi dalam katalog 50 Pesona Ekowisata
TN Gn Merapi : Tugu Garuda �Kec. Srumbung, Magelang : dari penambang pasir ke ekowisata
54
55
TN Bromo Tengger Semeru
Role Model Desa Wonokitri, Kec Tosari, Kab Pasuruhan ini, Edelweis dibudidayakan di setiap pekarangan rumah dan menjadi atraksi selfie dan bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.
56
Catatan Penutup
Integrasi kebijakan antar sektor menjadi bagian dari upaya untuk mengantarkan peran Kementerian LHK untuk mendorong transformasi ekonomi menuju Indonesia Maju Indonesia Tangguh
57
TERIMAKASIH