1 of 63

2 of 63

Berdasarkan gambar di samping, manakah pernyataan yang Benar berdasarkan analisis subduksi lempeng yang terjadi di Indonesia?

  1. Gempa tektonik di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan selatan Jawa terjadi akibat tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
  2. Zona subduksi di selatan Pulau Jawa dan Nusa Tenggara menunjukkan potensi tsunami tinggi.
  3. Wilayah Kalimantan relatif tidak aman dari aktivitas tektonik karena dekat dari batas lempeng aktif.

NOMOR 21

PETA PERTEMUAN LEMPENG TEKTONIK INDONESIA

Sumber: Eric Gaba (Sting - fr:Sting) derivative work: Mikenorton (talk) - Tectonic_plates_boundaries_detailed-en.svg, CC BY 2.5, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=8357551

3 of 63

  1. Pernyataan A (BENAR): Gempa tektonik di sepanjang barat Sumatera (termasuk Aceh dan Sumatera Barat) hingga selatan Jawa dipicu oleh konvergensi/tumbukan penunjaman (subduksi) antara Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia (Blok Sunda/SU). Peta dengan jelas menunjukkan batas Sunda megathrust di zona penunjaman tersebut.
  2. Pernyataan B (BENAR): Zona subduksi di sepanjang selatan Jawa hingga Nusa Tenggara merupakan zona megathrust aktif yang berpotensi memicu gempa dangkal ber-magnitudo besar dengan pergeseran vertikal dasar laut, sehingga memiliki potensi ancaman tsunami yang tinggi.
  3. Pernyataan C (SALAH): Kalimatan berada di interior Lempeng Eurasia (Sunda Plate) yang jauh dari batas interaksi lempeng aktif (intraplate region). Oleh karena itu, Kalimantan secara geologi relatif aman dari aktivitas tektonik utama, bukan "relatif tidak aman".

ANALISIS JAWABAN 21

4 of 63

Windy.com adalah sebuah aplikasi berbasis peta yang sangat populer, dirancang untuk memvisualisasikan data cuaca dan angin secara global. Pengguna dapat melihat pola angin, suhu, curah hujan, tekanan atmosfer, gelombang laut, dan berbagai parameter meteorologi lainnya dalam bentuk animasi yang menarik.

​

NOMOR 22

Data untuk Windy dikumpulkan dari berbagai model prakiraan cuaca global (seperti GFS, ECMWF) dan observasi satelit cuaca. Dengan Windy, pengguna dapat memprediksi kondisi cuaca di lokasi tertentu, merencanakan aktivitas yang bergantung pada cuaca (misalnya pelayaran, penerbangan, atau pendakian), serta memahami fenomena atmosfer secara visual dan intuitif.

Aplikasi tersebut dapat berperan untuk ….

  1. Mengelola basis data historis tentang peristiwa bencana alam dan dampaknya.
  2. Menyediakan informasi spasial dan temporal tentang kondisi atmosfer secara visual.
  3. Mengembangkan instrumen pengukuran cuaca baru yang lebih akurat dan canggih.
  4. Menganalisis perilaku sosial manusia dalam menghadapi perubahan iklim global.
  5. Memfasilitasi komunikasi langsung antara ahli meteorologi dan masyarakat umum.

5 of 63

�Aplikasi Windy.com berfungsi untuk menyediakan informasi spasial dan temporal tentang kondisi atmosfer secara visual.

Spasial (Keruangan): Menampilkan parameter meteorologi (suhu, angin, curah hujan, gelombang) berbasis koordinat dan peta wilayah global hingga lokal.

Temporal (Waktu): Menyediakan prakiraan cuaca secara real-time serta prediksi pergerakan sistem cuaca ke depan dalam rentang waktu tertentu.

Visual: Data numerik dari model prakiraan (seperti ECMWF dan GFS) divisualisasikan dalam bentuk animasi lapisan (overlay) yang mudah dipahami.

Analisis Pilihan Lain (Opsi Penggecoh)

  1. A (Salah): Pengelolaan basis data historis bencana lebih tepat dilakukan oleh lembaga penanggulangan bencana (seperti BPBD/BNPB) atau sistem GIS historis, bukan fokus utama aplikasi pemantauan cuaca real-time.
  2. C (Salah): Windy adalah pengguna/penyaji data (data visualizer) dari model numerik dan satelit, bukan pengembang instrumen hardware/sensor pengukuran cuaca.
  3. D (Salah): Aplikasi ini berfokus pada dinamika fisik atmosfer, bukan analisis perilaku sosial manusia.
  4. E (Salah): Windy tidak menyediakan fitur obrolan atau saluran komunikasi interaktif langsung antara meteorolog dan pengguna umum.

ANALISIS JAWABAN 22

Jawaban B

6 of 63

�dan menampilkan interaksi kompleks antara daratan dan lautan, menunjukkan area perkotaan, lahan pertanian, serta berbagai bentuk pemanfaatan wilayah pesisir. Amati perbedaan warna dan pola yang mengindikasikan jenis tutupan lahan, kondisi perairan, dan aktivitas manusia di sepanjang garis pantai.

Untuk tujuan perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan wilayah pesisir Semarang, informasi spasial esensial apa yang dapat diekstraksi dan divisualisasikan menjadi peta tematik yang paling tepat dari pengolahan citra satelit sumber daya seperti yang disajikan di atas?

  1. Peta kepadatan penduduk serta persebaran fasilitas umum perkotaan.
  2. Peta jalur migrasi hewan laut dan identifikasi vegetasi alami ekosistem pesisir.
  3. Peta tutupan lahan, indeks kekeruhan perairan, serta perubahan garis pantai.
  4. Peta persebaran jenis batuan dan potensi kandungan mineral di bawah permukaan laut.
  5. Peta jaringan transportasi darat dan laut serta analisis aksesibilitas pusat-pusat ekonomi.

NOMOR 23

Perhatikan dengan seksama citra satelit wilayah pesisir Semarang, Indonesia, yang disajikan di bawah ini. Citra ini diambil oleh satelit Copernicus Sentinel-2B

Perhatikan gambar citra satelit wilayah demak dan sekitarnya berikut ini!

Source: Copernicus Sentinel-2B satellite imagery

7 of 63

  1. (SALAH) Kepadatan penduduk dan fasilitas umum merupakan data demografi/sosial yang tidak dapat diekstrak secara langsung dari citra satelit optik (membutuhkan data sekunder/sensus).
  2. (SALAH) Jalur migrasi hewan laut tidak dapat direkam oleh citra satelit optik permukaan.
  3. (BENAR) Citra satelit optik Sentinel-2B merekam kenampakan fisik permukaan bumi (fisik daratan dan perairan) secara spasial. Informasi spasial esensial yang paling tepat diekstrak dari citra tersebut untuk wilayah pesisir Semarang-Demak meliputi peta tutupan lahan, indeks kekeruhan perairan, dan perubahan garis pantai
  4. (SALAH) Jenis batuan dan potensi mineral di bawah permukaan laut tidak dapat ditembus oleh gelombang spektral satelit Sentinel-2.
  5. (SALAH) Analisis aksesibilitas pusat ekonomi memerlukan data jaringan jalan yang detail serta analisis spasial ekonometri, bukan sekadar ekstraksi langsung dari citra.

​

ANALISIS JAWABAN 23

8 of 63

Gambar di samping merupakan citra satelit yang menunjukkan tingkat polusi udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya selama periode April 2018 hingga April 2021. Warna-warna pada peta menunjukkan konsentrasi Nitrogen Dioksida (NO2), dengan legenda sebagai berikut:

  • Merah/Gelap : Konsentrasi NO2 Tinggi
  • Kuning : Konsentrasi NO2 Sedang
  • Hijau/Abu-abu: Konsentrasi NO2 Rendah

Peta ini dapat digunakan untuk menganalisis dampak pencemaran udara terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, serta mengidentifikasi sumber-sumber polusi berdasarkan ciri visual pada  citra satelit.

Berdasarkan pola distribusi konsentrasi NO2 dalam  citra satelit, tentukan pernyataan yang Benar dari dampak lingkungan dan sosial yang dapat terjadi di wilayah yang menunjukkan konsentrasi tinggi!

  1. Penurunan kualitas vegetasi akibat paparan polusi udara jangka panjang.
  2. Terjadinya hujan asam yang berdampak pada kualitas tanah dan air.
  3. Polusi udara menurunkan curah hujan dan mengakibatkan kekeringan total.

NOMOR 24

Sumber gambar: https://www.greenpeace.org/indonesia/siaran-pers-2/45007/setahun-setelah-periode-awal-penguncian-dan-pembatasan-sosial- covid-19-gambar-satelit-mengungkapkan-peningkatan-polusi-udara-global/

9 of 63

  1. Pernyataan A (BENAR): Paparan Nitrogen Dioksida (NO2) dan polutan udara secara terus-menerus dapat merusak jaringan klorofil tanaman, mengganggu proses fotosintesis, serta memicu nekrosis sel tumbuhan yang berujung pada penurunan kualitas vegetasi.
  2. Pernyataan B (BENAR): NO2 di atmosfer bereaksi dengan uap air (H2O) dan oksigen (O2) membentuk asam nitrat (HNO3). Senyawa ini jatuh bersama presipitasi sebagai hujan asam, yang menurunkan pH tanah serta mengkontaminasi badan air permukaan.
  3. Pernyataan C (SALAH): Konsentrasi polusi NO2 tidak secara langsung menurunkan curah hujan hingga mengakibatkan "kekeringan total". Kekeringan merupakan fenomena iklim berskala makro yang dipengaruhi oleh sirkulasi atmosfer (seperti El Niño/DIP) dan ketersediaan uap air, bukan dampak langsung lokal dari polusi NO2

ANALISIS JAWABAN 24

10 of 63

Warna gelap pada aliran sungai menunjukkan tingkat pencemaran yang tinggi akibat limbah industri dan domestik.

Berdasarkan citra satelit , tentukan pernyataan yang Benar mengenai interpretasi visual dari citra? .

  1. Warna gelap pada aliran sungai menunjukkan tingkat pencemaran yang tinggi.
  2. Pola aliran sungai yang berkelok-kelok menunjukkan wilayah cenderung landai.
  3. Tekstur kasar pada citra menunjukkan area dengan vegetasi lebat.
  4. Bentuk persegi dengan rona gelap menunjukkan area persawahan.
  5. Bayangan pada citra satelit tidak memberikan informasi penting dalam interpretasi pencemaran air.

�

NOMOR 25

Gambar berikut menunjukkan citra satelit yang menampilkan kondisi pencemaran air sungai di Pekalongan, Jawa Tengah

Citra satelit Pencemaran Sungai di Pekalongan

Sumber gambar: google earth

11 of 63

  1. BENAR Warna gelap pada aliran sungai menunjukkan tingkat pencemaran yang tinggi.

Air yang tercemar pekat oleh limbah industri menyerap sinar matahari lebih banyak, sehingga menghasilkan rona yang sangat gelap pada citra satelit optik dibanding air jernih.

​

  1. BENAR Pola aliran sungai yang berkelok-kelok menunjukkan wilayah cenderung landai.

Pola meander merupakan kenampakan geomorfologi khas zona hilir yang landau hingga datar

​

  1. SALAH Tekstur kasar pada citra menunjukkan area dengan vegetasi lebat.

Pada citra wilayah pesisir perkotaan tersebut, tekstur kasar dan pola bintik heterogen dibentuk oleh kawasan permukiman/lahan terbangun (akibat susunan atap bangunan dan bayangan gedung yang bervariasi). Sementara area vegetasi pertanian atau tambak di lokasi tersebut cenderung bertekstur lebih halus hingga sedang.

​

  1. BENAR Bentuk persegi dengan rona gelap menunjukkan area persawahan.

Poligon teratur berbentuk persegi/persegi panjang dengan rona gelap menandakan petakan sawah basah (tergenang air) atau tambak. Air yang menggenangi petakan lahan menyerap sinar matahari sehingga tampak gelap pada citra.

​

  1. BENAR Bayangan pada citra satelit tidak memberikan informasi penting dalam interpretasi pencemaran air.

Unsur interpretasi berupa bayangan (shadow) digunakan untuk mengenali ketinggian dan profil objek tegak (seperti gedung tinggi atau pohon), sehingga tidak relevan maupun tidak memberikan informasi langsung mengenai parameter kualitas/pencemaran air sungai.

ANALISIS JAWABAN 25

12 of 63

13 of 63

A1

14 of 63

A2

15 of 63

A3

16 of 63

MASJID RAYA BAITURRAHMAN BANDA ACEH

17 of 63

B1

18 of 63

19 of 63

20 of 63

21 of 63

SIMPANG LIMA, PEUNAYONG

22 of 63

23 of 63

24 of 63

25 of 63

CANDI

BOROBUDUR

26 of 63

27 of 63

28 of 63

29 of 63

JAM GADANG,

SUMATERA BARAT

30 of 63

31 of 63

32 of 63

33 of 63

TERMINAL BATOH,

BANDA ACEH

34 of 63

35 of 63

36 of 63

37 of 63

DANAU TOBA,

SUMATERA UTARA

38 of 63

39 of 63

40 of 63

41 of 63

KA’BAH, MAKKAH,

SAUDI ARABIA

42 of 63

43 of 63

44 of 63

45 of 63

BULAN

46 of 63

47 of 63

48 of 63

49 of 63

BIKINI ATOL,

AMAERIKA SERIKAT

50 of 63

51 of 63

52 of 63

53 of 63

BIKINI ATOL,

AMAERIKA SERIKAT

54 of 63

Gambar menunjukkan informasi geospasial tentang potensi pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di berbagai wilayah perairan Indonesia, baik di danau, waduk, hingga area pengelolaan air buangan. Menurut data BRIN (2023), wilayah Maluku dan Papua memiliki potensi terbesar dengan pemanfaatan mencapai 99,7%, sementara PLTS terapung aktif saat ini baru terdapat di Waduk Cirata, Jawa Barat, seluas 200 ha dengan kapasitas 192 MWp dan investasi Rp1,7 triliun.

Tentukan pernyataan berikut yang Benar terkait dampak dari pembangunan PLTS terapung.

  1. PLTS terapung mengoptimalkan ruang perairan buatan tanpa mengurangi lahan pertanian atau permukiman.
  2. PLTS terapung secara langsung mengendalikan banjir dan berfungsi sebagai tanggul air.
  3. PLTS terapung berkontribusi pada pengurangan emisi karbon dan mendukung transisi energi bersih.

NOMOR 26

Pembangunan PLTS Terapung Cirata di Waduk Cirata, Jawa Barat

Sumber gambar: https://www.antaranews.com/infografik/3800178/potensi-plts-terapung-di-indonesia

55 of 63

  1. Pernyataan A (BENAR): PLTS terapung memanfaatkan permukaan badan air (seperti waduk atau danau) sehingga land footprint-nya minimal. Hal ini menghemat penggunaan lahan daratan tanpa perlu mengalihfungsikan kawasan permukiman maupun lahan pertanian produktif.
  2. Pernyataan B (SALAH): Panel surya terapung tidak berfungsi secara fisik sebagai tanggul penahan air atau struktur pengendali debit banjir. Fungsi pengendalian banjir melekat pada infrastruktur waduk/bendungan itu sendiri, bukan pada instalasi PLTS-nya.
  3. Pernyataan C (BENAR): Pembangkit listrik tenaga surya merupakan bagian dari Energi Baru Terbarukan (EBT) yang menghasilkan listrik bebas emisi operasional, sehingga berkontribusi langsung menurunkan emisi gas rumah kaca dan mereduksi ketergantungan pada energi fosil.

​

ANALISIS JAWABAN 26

56 of 63

NOMOR 27

  1. Pembangunan jalan nasional baru di wilayah pedalaman Kalimantan Tengah yang saat ini minim akses layak dilakukan karena dapat membuka isolasi daerah dan mendukung pemerataan wilayah, meskipun menghadapi tantangan morfologis dan pembiayaan.
  2. Pengembangan jaringan jalan di sekitar wilayah konsentrasi penduduk dan pusat-pusat kegiatan ekonomi seperti Balikpapan dan Samarinda memiliki kelayakan tinggi karena dapat langsung meningkatkan efisiensi logistik dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
  3. Pembangunan jalan nasional di pesisir utara Kalimantan Timur menuju perbatasan Serawak belum dapat dinilai sepenuhnya layak karena masih memerlukan kajian potensi wilayah dan fungsi strategis lintas batas.
  4. Perpanjangan jalan nasional menuju daerah terpencil di Kalimantan Utara menunjukkan tantangan kelayakan, terutama dari aspek biaya pembangunan dan aksesibilitas, namun tetap memerlukan studi potensi sumber daya wilayah.
  5. Peningkatan kapasitas jalan nasional yang sudah menghubungkan pelabuhan utama di Kalimantan dianggap lebih layak daripada membuka jalur baru, karena memaksimalkan infrastruktur yang telah ada dan menurunkan biaya distribusi.

Peta Jaringan Jalan Pulau Kalimantan

Sumber: Satker PJN Provinsi Kalimantan Barat tahun 2018

Tentukan apakah setiap pernyataan berikut yang Benar menunjukkan kelayakan pembangunan jalan nasional berdasarkan pertimbangan spasial dan keberlanjutan!

57 of 63

  1. (BENAR) Pembangunan di wilayah pedalaman didasarkan pada Prinsip Pemerataan Wilayah (Spatial Equity). Pembukaan isolasi wilayah tertinggal penting untuk mengurangi ketimpangan antarwilayah, meskipun biaya konstruksi dan kendala fisik (morfologi) cukup tinggi.
  2. (BENAR) Efisiensi & Kutub Pertumbuhan. Kawasan Balikpapan–Samarinda berfokus sebagai Kutub Pertumbuhan (Growth Pole). Peningkatan kapasitas jalan di zona ini memiliki tingkat kelayakan ekonomi (economic feasibility) paling cepat karena aglomerasi penduduk dan aktivitas industri yang padat.
  3. (SALAH) Pesisir Kalimantan Timur membentang di bagian timur Pulau Kalimantan yang menghadap langsung ke Selat Makassar, bukan pesisir utara yang mengarah ke Sarawak.
  4. (BENAR) Analisis Aksesibilitas. Penjangkauan ke daerah terpencil di Kalimantan Utara memerlukan analisis potensi sumber daya secara cermat agar investasi biaya pembangunan yang besar berbanding lurus dengan manfaat sosial-ekonomi masyarakat lokal.
  5. (BENAR) Pembangunan Berkelanjutan. Dalam konsep Infrastruktur Berkelanjutan, memprioritaskan pemeliharaan dan peningkatan jalan eksisting (upgrading) ke simpul transportasi (pelabuhan) lebih ramah lingkungan dibanding membuka jalur baru (greenfield), karena menekan tingkat deforestasi hutan dan menghemat anggaran logistik.

ANALISIS JAWABAN 27

58 of 63

�Gambar di atas merupakan peta kawasan hutan dan kontur di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kawasan hutan tersebut diklasifikasikan menjadi hutan lindung, hutan produksi, dan hutan produksi terbatas. Informasi ini penting untuk perencanaan infrastruktur, konservasi lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam di wilayah tersebut.

Berdasarkan distribusi kawasan hutan dan kontur wilayah pada peta, pilih pernyataan yang Benar tentang infrastruktur pendukung yang paling tepat direncanakan untuk menunjang keberlanjutan wilayah pada wilayah tersebut!

  1. Pembangunan jalan konservasi yang mengikuti kontur untuk meminimalisir erosi tanah.
  2. Pembukaan jalur tambang terbuka di dalam kawasan hutan lindung.
  3. Pembangunan menara pemantau kebakaran hutan di wilayah hutan produksi terbatas

NOMOR 28

Peta Jaringan Jalan Pulau Kalimantan

sumber gambar: https://kphropang.wordpress.com/2017/01/20/peta-kawasan-hutan/

59 of 63

  1. Pernyataan A (BENAR - Teknik Konservasi Tanah dan Air)�Peta menunjukkan kerapatan garis kontur yang menandakan wilayah berrelief curam/berbukit. Pembangunan jaringan jalan yang memotong atau tegak lurus garis kontur akan memicu pemotongan lereng (cut and fill) berlebih yang rawan erosi dan tanah longsor. Jalur jalan konservasi yang dirancang mengikuti garis kontur (contour alignment) efektif menekan laju limpasan permukaan (surface run-off) dan menjaga stabilitas lereng.
  2. Pernyataan B (SALAH - Aturan Fungsi Kawasan Hutan)�Sesuai UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Hutan Lindung memiliki fungsi pokok melindungi sistem penyangga kehidupan (pengaturan tata air, pencegahan banjir, mengendalikan erosi, dan memelihara kesuburan tanah). Kegiatan tambang terbuka (open-pit mining) dilarang keras di kawasan hutan lindung karena merusak total struktur tanah dan fungsi hidrologis kawasan.
  3. Pernyataan C (BENAR - Infrastruktur Mitigasi Bencana/Karhutla)�Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) memiliki kerentanan terhadap kebakaran hutan akibat tingginya dinamika aktivitas pemanfaatan kayu dan eksploitasi terencana. Pembangunan menara pemantau (fire lookout tower) merupakan bentuk infrastruktur mitigasi non-ekstraktif yang sangat tepat untuk deteksi dini Karhutla guna menjaga kelestarian fungsi produksi dan ekologi.

ANALISIS JAWABAN 28

60 of 63

Manakah pernyataan berikut yang menunjukkan interpretasi citra yang Sesuai dengan karakteristik wilayah pada citra dan elevasi tersebut?

  1. Lokasi A menunjukkan kawasan hutan kota.
  2. Lokasi C menunjukkan kawasan hutan.
  3. Lokasi B menunjukkan kawasan permukiman.

NOMOR 29

sumber gambar: https://kphropang.wordpress.com/2017/01/20/peta-kawasan-hutan/

Citra dan Elevasi Kawasan Hutan Kota Bogor

61 of 63

  1. Lokasi A (BENAR): Objek ditandai oleh rona hijau tua/gelap dengan tekstur kasar akibat variasi tinggi tajuk pepohonan yang rapat. Kenampakan visual ini merupakan ciri khas dari tutupan vegetasi Hutan Kota/Kebun Raya. Hutan Kota
  2. Lokasi C (SALAH): Lokasi C berada di atas objek tubuh air (danau/kolam) yang memiliki rona gelap homogen dan tekstur sangat halus karena menyerap spektrum gelombang tampak secara merata, bukan kawasan hutan. Tubuh Air / Danau
  3. Lokasi B (BENAR): Objek ditandai oleh susunan poligon kecil berstruktur rapat dengan rona merah/cokelat (atap bangunan) dan tekstur heterogen. Karakteristik pola spasial tersebut menunjukkan kawasan permukiman penduduk. Permukiman

ANALISIS JAWABAN 29

62 of 63

Selain itu, pembangunan jalan di kawasan ini juga meningkatkan aktivitas perburuan liar terhadap satwa di wilayah tersebut.

Bagaimana dampak fenomena tersebut terhadap lingkungannya?

  1. Hilangnya tutupan hutan primer di kawasan taman nasional akibat deforestasi membuat hutan ini tidak memiliki umur yang panjang.
  2.  Deforestasi hutan primer berakibat penurunan suhu lokal di kawasan karena perkebunan kelapa sawit lebih efektif menaungi tanah.
  3. Proses penyerapan karbon dioksida pada hutan primer di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo kini tidak terjadi lagi secara signifikan.
  4. Deforestasi di hutan primer menyebabkan percepatan peningkatan emisi karbon, sehingga berkontribusi pada pemanasan global.
  5. Kawasan hutan primer Taman Nasional Tesso Nilo yang di alih fungsikan tidak dapat dipulihkan dalam jangka waktu yang cepat.�

NOMOR 30

Perhatikan citra satelit Berikut!

Sumber: Mongabay (2024)

Citra Satelit dari kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo pada Oktober 2020 dan Oktober 2024 memperlihatkan adanya deforestasi yang signifikan di kawasan tersebut. Data menunjukkan bahwa antara tahun 2009 hingga 2023, Taman Nasional Tesso Nilo telah kehilangan sekitar 78% tutupan hutan primer akibat aktivitas pembukaan lahan.

​

Pada tahun 2024, deforestasi masih terus berlangsung di sisa hutan yang ada, dengan penyebab utama adalah ekspansi perkebunan kelapa sawit.

63 of 63

  1. SALAH. Penggunaan frasa "tidak memiliki umur yang panjang" kurang tepat dan tidak menggambarkan dampak ekologis secara ilmiah.

​

  • SALAH. Deforestasi justru meningkatkan suhu lokal (microclimate warming) karena berkurangnya evapotranspirasi tanaman dan hilangnya naungan kanopi.

​

  • SALAH. hanya berfokus pada hilangnya fungsi penyerapan, sedangkan dampak deforestasi jauh lebih masif karena mencakup pelepasan emisi karbon yang tersimpan secara besar-besaran.

​

  • BENAR. Hutan sebagai "Spons Karbon“. Pohon-pohon di hutan primer berfungsi menyerap gas karbon dioksida (CO2) dari udara lalu menyimpannya di dalam batang, akar, dan tanah. Saat hutan ditebang atau dibakar, umlah pohon yang bertugas menyerap CO2 berkurang drastis. Karbon yang sudah tersimpan di dalam pohon selama puluhan tahun akan terlepas kembali ke udara. Gas CO2 menumpuk di atmosfer, mempertebal lapisan efek rumah kaca, dan memicu pemanasan global.

​

  • SALAH. Pemulihan hutan sekunder menjadi hutan primer membutuhkan waktu sangat lama (ratusan tahun)

ANALISIS JAWABAN 30